Praja Mangkunegaran Surakarta Jawa Tengah

Praja Mangkunegaran

Kadipaten Mangkunegaran atau sering disebut Praja Mangkunegaran adalah sebuah kerajaan otonom yang pernah berkuasa di wilayah Surakarta sejak 1757 sampai dengan 1946. Penguasanya adalah cabang junior dari Dinasti Mataram, disebut Wangsa Mangkunegaran, yang dimulai dari Mangkunegara I (Raden Mas Said). Meskipun berstatus otonom yang sama dengan tiga kerajaan pecahan Mataram lainnya, penguasa Mangkunegaran tidak memiliki otoritas yang sama tinggi dengan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Penguasanya tidak berhak menyandang gelar "Sunan" ataupun "Sultan" tetapi "Pangeran Adipati Arya".
Hasil gambar untuk praja mangkunegaran  Hasil gambar untuk praja mangkunegaran
Bendera dan Lambang Mangkunegaran 

Pendirian dan wilayah


Satuan politik ini dibentuk berdasarkan Perjanjian Salatiga yang ditandatangani pada tanggal 17 Maret 1757 di Salatiga sebagai solusi atas perlawanan yang dilakukan Raden Mas Said terhadap Sunan Pakubuwana III, penguasa Kasunanan Surakarta yang telah terpecah akibat Perjanjian Giyanti, dua tahun sebelumnya.
Berdasarkan Perjanjian Salatiga, Raden Mas Said diberi hak untuk menguasai wilayah timur dan selatan sisa wilayah Mataram sebelah timur. Jumlah wilayah ini secara relatif adalah 49% wilayah Kasunanan Surakarta setelah tahun 1830, yaitu pada saat berakhirnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Wilayah itu kini mencakup bagian utara Kota Surakarta (Kecamatan Banjarsari, Surakarta), seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar, seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri, dan sebagian dari wilayah Kecamatan Ngawen dan Semin di Kabupaten Gunung Kidul.

Kekuasaan politik


Secara tradisional penguasanya disebut Mangkunegara (baca: 'Mangkunegoro'). Raden Mas Said merupakan Mangkunegara I. Penguasa Mangkunegaran berkedudukan di Pura Mangkunegaran, yang terletak di Kota Surakarta. Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Adipati (secara formal disebut Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Mangkunegaran merupakan Kadipaten, sehingga posisinya lebih rendah daripada Kasunanan dan Kasultanan. Status yang berbeda ini tercermin dalam beberapa tradisi yang masih berlaku hingga sekarang, seperti jumlah penari bedaya yang tujuh, bukan sembilan seperti pada Kasunanan Surakarta. Namun, berbeda dari Kadipaten pada masa-masa sebelumnya, Mangkunegaran memiliki otonomi yang sangat luas karena berhak memiliki tentara sendiri yang independen dari Kasunanan.
Setelah kemerdekaan IndonesiaMangkunegara VIII (penguasa pada waktu itu) menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada September1946. Setelah terjadi revolusi sosial di Surakarta (1945-1946), Mangkunegaran kehilangan kedaulatannya sebagai satuan politik. Walaupun demikian Pura Mangkunegaran dan Mangkunegara masih tetap menjalankan fungsinya sebagai penjaga budaya. Setelah Mangkunegara VIII mangkat ia digantikan oleh putra ke duanya yang bergelar Mangkunegara IX.
Para penguasa Mangkunegaran tidak berhak dimakamkan di Astana Imogiri melainkan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, yang terletak di lereng Gunung Lawu. Perkecualian adalah lokasi makam Mangkunegara VI, yang dimakamkan di tempat tersendiri.
Warna resmi bendera Mangkunagaran adalah hijau dan kuning emas serta dijuluki pareanom (pare muda), yang dapat dilihat pada lambang, bendera, pataka, serta samir yang dikenakan abdi dalem atau kerabat istana.

Daftar Adipati Mangkunegara

  1. Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757 - 1795) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, Pangeran Sambernyawa 
  2. Mangkunagara II (1796 - 1835) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II  "Pangeran Surya Mataram" "Pangeran Surya Mangkubumi", dan "Pangeran Adipati Prangwadana".
  3. Mangkunagara III (1835 - 1853) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III,  Bandara Raden Mas Sarengat, "Pangeran Riya" dan "Pangeran Arya Prabu Prangwadana" 
  4. Mangkunagara IV (1853 - 1881) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV,  Raden Mas Sudira
  5. Mangkunagara V (1881 - 1896) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara V, Gusti R.M. Sunita 
  6. Mangkunagara VI (1896 - 1916) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI, RM Suyitno atau KPA Dayaningrat 
  7. Mangkunagara VII (1916 -1944) K.G.P.A.A. Mangkunegara VII 
  8. Mangkunagara VIII (1944 - 1987) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VIII 
  9. Mangkunagara IX (1987 - sekarang) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX,  Mangkunegara IX, Pangeran Kusuma 

Administrasi pemerintahan


Pada awal pendiriannya, struktur pemerintahan masih sederhana, mengingat lahan yang dikuasai berstatus "tanah lungguh" (apanage) dari Kasunanan Surakarta. Ada dua jabatan Pepatih Dalem, masing-masing bertanggung jawab untuk urusan istana dan pemerintahan wilayah. Selain itu, Mangkunagara I sebagai Adipati Anom membawahi sejumlah Tumenggung (komandan satuan prajurit).
Pada masa pemerintahan Mangkunegara II, situasi politik berubah. Status kepemilikan tanah beralih dari tanah lungguh menjadi tanah vazal yang bersifat diwariskan turun-temurun. Hal ini memungkinkan otonomi yang lebih tinggi dalam pengelolaan wilayah. Perluasan wilayah juga terjadi sebanyak 1500 karya. Perubahan ini membuat diubahnya struktur jabatan langsung di bawah Adipati Anom dari dua menjadi tiga, dengan sebutan masing-masing adalah Patih Jero (Menteri utama urusan domestik istana), Patih Jaba (Menteri Utama urusan wilayah), dan Kapiten Ajudan (Menteri urusan kemiliteran).
Semenjak pemerintah Mangkunegara III, struktur pemerintahan menjadi tetap dan relatif lebih kompleks. Raja (Adipati Anom) semakin mandiri dalam hubungan dengan Kasunanan. Wilayah praja dibagi menjadi tiga Kabupaten Anom (Karanganyar, Wonogiri, dan Malangjiwan) yang masing-masing dipimpin oleh seorang Wedana Gunung. Ketiga Wedana Gunung merupakan bawahan seorang Patih. Patih bertanggung jawab kepada Adipati Anom. Di bawah setiap Kabupaten Anom terdapat sejumlah Panewuh.
Penyatuan administrasi bulan Agustus 1873 membuat pemerintahan otonom Mangkunegaran harus terintegrasi dengan pemerintahan residensial dari pemerintah Hindia Belanda. Wilayah Mangkunegaran dibagi menjadi empat Kabupaten Anom (Kota Mangkunegaran, Karanganyar, Wonogiri, dan Baturetno) yang masing-masing membawahi desa/kampung.
https://id.wikipedia.org/wiki/Praja_Mangkunegaran


Pura Mangkunagaran

Pura Mangkunagaran adalah istana tempat kediaman para Pangeran Adipati Arya Mangkunegara dan keluarganya di Surakarta. Dibangun pada tahun 1757 oleh Mangkunegara I dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil.
Secara arsitektur bangunan ini memiliki ciri yang sama dengan keraton, yaitu pada pamedanpendopopringgitandalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.
Pura ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran dan dua tahun setelah dilaksanakannya Perjanjian Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta oleh VOC (Kompeni) pada tahun 1755. Kasunanan Surakarta kembali terpecah setelah Raden Mas Said terus memberontak pada VOC, dan pemberontakannya berakhir setelah ia mengadakan perdamaian dengan VOC, Surakarta, dan Yogyakarta melalui Perjanjian Salatiga pada tahun 1757. Raden Mas Said kemudian bergelar Mangkunegara I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian Sungai Pepe (Kali Pepe), yang sekarang menjadi Kecamatan BanjarsariSurakarta.
Seperti bangunan utama di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, Pura Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan selama puncak masa pemerintahan kolonial Belanda di Jawa Tengah. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang populer saat itu.

Bagian-Bagian Bangunan

Setelah pintu gerbang utama akan tampak pamedan, yaitu lapangan perlatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Bekas pusat pasukan kuda, gedung kavaleri ada di sebelah timur pamedan. Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam tempat tempat berdirinya Pendopo Ageng yang berukuran 3.500 meter persegi. Pendopo yang dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang orang ini, selama bertahun-tahun dianggap pendopo yang terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di hutan Mangkunegaran di perbukitan Wonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku.
Warna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna pari anom yang merupakan warna khas keluarga Mangkunegaran. Hiasan langit-langit pendopo yang berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa dan di langit-langit ini tergantung deretan lampu gantung antik. Pada mulanya orang-orang yang hadir di pendopo duduk bersila di lantai. Kursi baru diperkenalkan pada akhir abad ke-19 waktu pemerintahan Mangkunegara VI. Di dalam pendopo terdapat gamelan-gamelan pusaka, antara lain gamelan Kyai Seton, gamelan Kyai Kanyut Mesem, dan gamelan Lipur Sari, yang masing-masing hanya dimainkan pada saat-saat tertentu.
Tempat di belakang pendopo terdapat sebuah beranda terbuka, yang bernama Pringgitan, yang mempunyai tangga menuju Dalem Ageng, sebuah ruangan seluas 1.000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, sekarang berfungsi sebagai museum. Selain memamerkan petanen (tempat persemayaman Dewi Sri) berlapiskan tenunan sutera yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar adipati-adipati Mangkunegaran serta berbagai benda-benda seni.
Di bagian tengah Pura Mangkunegaran di belakang Dalem Ageng, terdapat tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Tempat ini, yang masih memiliki suasana tenang seperti rumah pedesaan milik para bangsawan, sekarang digunakan oleh para keluarga keturunan pangeran adipati. Taman di bagian dalam yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbunga dan semak-semak hias, juga merupakan cagar alam dengan sangkar berisi burung, patung-patung klasik bergaya Eropa, serta kolam air mancur. Menghadap ke taman terbuka, terdapat sebuah bangunan bernama Beranda Dalem (atau sering disebut Pracimosono) yang bersudut delapan, dimana di dalam bangunan terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa yang indah. Kaca-kaca berbingkai emas terpasang berjejer di dinding. Dari beranda menuju ke dalam tampak ruang makan dengan jendela kaca berwarna yang menggambarkan pemandangan alam di Jawa, ruang ganti dan rias para putri pangeran adipati, serta kamar mandi yang indah.
Selain itu, di dalam lingkungan Pura Mangkunegaran juga terdapat Perpustakaan Rekso Pustoko yang didirikan pada tahun 1867 oleh Mangkunegara IV. Perpustakaan tersebut terletak dilantai dua, diatas Kantor Dinas Urusan Istana di sebelah kiri pamedan. Perpustakaan yang daun jendela kayunya dibuka lebar-lebar agar sinar matahari dapat masuk, sampai sekarang masih digunakan oleh para sejarawan dan pelajar. Mereka dapat menemukan manuskrip yang bersampul kulit, buku-buku berbagai bahasa terutama Bahasa Jawa, banyak koleksi-koleksi foto yang bersejarah dan data-data mengenai perkebunan dan pemilikan Mangkunegaran yang lain.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pura_Mangkunagaran

Hasil gambar untuk praja mangkunegaran
Pura Keraton Mangkunegaran 
Hasil gambar untuk praja mangkunegaran
Kavelerie Legiun (Istana Kuda) 
Hasil gambar untuk praja mangkunegaran
Masjid Al Wustho Keraton Mangkunegaran 

Legiun Mangkunegaran : Tentara Jawa Ala Prancis
Legiun Mangkunegaran adalah organisasi militer ala Eropa tepatnya Militer Perancis yang merupakan institusi modern di Asia pada zamannya yakni awal abad ke-19. Legiun Mangkunegaran muncul sebelum kekaisaran Jepang memulai Restorasi Meiji dan Kerajaan Siam memodernisasi diri dengan belajar ke mancanegara terutama ke negeri Jawa. Nama Mangkunegaran tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Praja Mangkunegaran.Cikal bakal dari Legiun Mangkunegaran ialah para anggota pasukan yang memberontak pada VOC, yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyowo. Ketangguhan tempur pasukan ini mulai terkenal sejak mereka dibawah Pangeran Sambernyowo, melakukan penyerangan pos-pos militer Belanda di daerah Salatiga, saat pemberontakan orang Cina pada tahun 1744. Setelah Pangeran Sambernyowo atau Raden Mas Said menjadi kepala Praja Mangkunegaran pada tahun 1757, pasukan tersebut merupakan bagian resmi dari Praja Mangkunegaran. Sejarah Legiun Mangkunegaran berjalan paralel dengan Praja Mangkunegaran. Nama Legiun mengadopsi organisasi militer Perancis, yang pada tahun 1808-1811 pernah menguasai Jawa dibawah kekuasaan Napoleon Bonaparte. Semasa Deandels, seragam pasukan Legiun Mangkunegaran mengadopsi busana Eropa: mengenakan topi syako, jas pendek di muka berwarna hitam, dibelakang memakai kencer dan bercelana putih

Tradisi Militer Praja Mangkunegara 
Sejarah Praja Mangkunegaran timbul seiring kemunculan pendirinya yakni Mangkunegara I yang dikenal sebagai Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Legiun Mangkunegaran tumbuh dan berakar dari pasukan-pasukan yang ada dari Praja Mangkunegaran. Kesatuan-kesatuan ini timbul semasa pemberontakan Raden Mas Said terhadap keadaan yang tidak adil di tanah Jawa masa itu. Saat itu terjadi krisis perekonomian di Batavia yang di ikuti oleh ragkaian kerusuhan di daerah pinggiran kota. Muncul pembantaian terhadap orang Tionghoa, kerusuhan dan pencurianpun berlanjut di sekitar Batavia. Akhirnya pada tahun 1740, Kompeni Belanda (VOC) di bawah Gubernur Jenderal Adrian Valckenier membantai orang Tionghoa di Batavia. Diperkirakan 10.000 orang Tionghoa dibunuh di Kota Batavia. Peristiwa itu memicu pembangkangan massal dan perlawanan bersenjata yang dikenal sebagai Perang Tjina melawan Ollanda. Orang Tionghoa dan Jawa bersatu melawan Belanda. Ibu Kota Mataram di Kartasura yang dianggap dekat dengan VOC turut diserbu pasukan Tioanghoa dan Pasukan Jawa. Komandan pasukan Tionghoa, Kapten Sie Pan Jang diketahui menjadi guru militer Raden Mas Said. Penguasa Mataram, Pakubuwana II menghadapi pilihan sulit. Kalangan Istana Mataram terpecah dalam dua kelompok yakni Fraksi Patih Natakusuma-termasuk Raden Mas Said-memilih melawan VOC dengan jalan bergabung bersama perlawanan pasukan Tionghoa. Kelompok lain yang dipimpin oleh penguasa daerah pesisir Jawa menilai VOC akan menang sehingga Raja diminta menunggu perkembangan. Tetapi Raden Mas Saidmemilih pergi meninggalkan Keraton Kartasura, menyusun kekuatan di Laroh, sekitar Wonogiri. Raden Mas Said memimpin pasukan pemberontak yang bergerilya selama 16 tahun. Pada bulan Juli 1741, pengawal Raja di Kartasura menyerang garnisun VOC di sana. Komandan VOC Kapten Johannes Van Velsen dan beberapa serdadu terluka dan 35 prajurit Eropa tewas. Garnisun VOC akhirnya menyerah bulan Agustus 1741, orang Eropa yang menyerah diberi pilihan untuk konversi agama islam dan bergabung ke Mataram atau menghadapi hukuman mati dan benteng VOC di Kartasura dihacurkan. Menurut M.C. Ricklefs, selanjutnya Pakubuwana II mengambil putusan salah dan memutuskan hubungan dengan VOC. Dia mengirim pasukan dan Artileri ke Semarang seolah-olah hendak membantu VOC. Namun, sebenarnya prajurit-prajurit Mataram bergabung dengan orang-orang Tionghoa yang sedang mengepung Kota Semarang karena Kota Semarang adalah pos terpenting VOC di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam pengepungan ini kekuatan VOC dipesisir utara Jawa Tengah nyaris jatuh. Dalam keadaan genting, Cakraningrat IVdan Laskar Madura yang dipimpinnya menyediakan bantuan kepada VOC. Pasukan VOC yang dibantu Cakraningrat mengambil alih insiatif peperangan dan mendesak lawan. Pasukan VOC-Madura memukul balik pasukan Tionghoa-Mataram yang tersisa di sekitar Semarang. Perlawanan terhadap VOC dan Hegemoni kekuasaan Mataram ketika itu membentuk munculnya Raden Mas Said yang menglami pasang surut peperangan. Lagi-lagi keberadaan pasukan Cakraningrat IV berhasil mematahkan perlawanan kelompok bangsawan Mataram. Cakraningrat IV merebut kembali Kartasura dan mengembalikan Pakubuwana II ke atas tahta. Perlawanan tetap hidup terhadap kekuasaan Mataram. Mangkunegara dan Pangeran Mangkubumi membentuk pasukan yang tangguh. Mereka berdua mendapat dukungan dari elite dan rakyat kerajaan yang tadinya menyokong Raja. Pada tahun 1748, Mangkunegara dan Mangkubumi semakin kuat posisinya dalam perlawanan tersebut dengan adanya pernikahan Mangkunegara I dengan putri Mangkubumi. Pada 28 Juli 1750 Mangkunegara dan Pangeran Singasari menyerang Ibu Kota Surakarta. Mereka berhasil memukul mundur pasukan VOC dan prajurit Jawa dari Ibu Kota. Yang mengakibatkan kehidupan masyarkat Surakarta menderita disusul dengan naiknya harga barang pokok. Bahkan petinggi VOC berfikir untuk menyerahkan Mataram ke tangan Mangkunegara. Namun konflik muncul diakhir tahun 1752, timbul perselisihan antara Mangkunegara dan Mangkubumi. Ann Kumar menafsirkan tidak seorangpun dari kedua pangeran itu mau menerima posisi nomer dua. Komandan Belanda Van Hohendorff pun mulai menyurati Mangkunegara untuk membujuk demi mengakhiri perang. Ketika itu, Mangkunegara mencoba diplomasi dengan Mangkubumi dan mengusulkan untuk membagi Mataram bagi mereka berdua. Namun, Mangkubumi menolak untuk berhubungan kembali dengan Mangkunegara. Konon sejak ituah terjadi permusuhan antara keluarga dan masyarakat dua komunitas tersebut. VOC mengabulkan permintaan Mangkubumi, Kesultanan Yogya pun muncul pada tahun 1755 sebagai bagian dari pemecahan Kerajaan Mataram menjadi dua. Kerajaan di Yogyakarta, Surakarta dan VOC sama-sama memburu Mangkunegara yang tetap bergerilya tanpa membuahkan hasil. Malahan, Mangkunegara nyaris membakar Keraton Yogyakarta yang baru berdiri. Mangkunegara juga membunuh banyak prajurit Belanda dan Komandannya Kapten Van De Poll di Hutan Blora. Situasi peperangan mengalami jalan buntu. Mangkunegara meminta diperlakukan sama dengan Pakubuwana III dan Mangkubumi dengan membagi Kerajaan Mataram menjadi tiga bagian. Namun usulan itu ditolak penguasa Yogyakarta dan Surakarta. Perjanjian damai akhirnya diraih dengan persetujuan Mangkunegara mengakui takhta Pakubuwana III dan menjadi Kawula Surkarta dengan imbalan 4000 cacah (rumah tangga) di wilayah Kasunanan Surakarta di Kaduwang, Matesih, dan daerah Gunung Kidul. Raden Mas Said alias Mangkunegara menjadi pendiri Pura Mangkunegara dengan sebutan Mangkunegara I. Pura Mangkunegara dibangun di tengah Kota Surakarta yang kini di alam modern terletak di sebelah selatan Kasunanan Surakarta dengan garis batas poros barat ke timur Kota Surakarta yang kini dikenal sebagai jalan Ignatius Slamet Riyadi.
Legiun dan Dinasti Mangkunegara 
Secara resmi, Gubernur Jenderal Deandels mengeluarkan surat keputusan pada hari jumat tanggal 29 Juli 1808 yang menetapkan keberadaan Legiun Mangkunegaran dalam pasukan gabungan Perancis-Belanda-Jawa dalam perang melawan Inggris. Semasa Mangkunegara II tercatat ada 200 prajurit jaga di Yogyakarta dan di Benteng Klaten. Sebagian pasukan turut ke Semarang memperkuat pertahanan Perancis-Belanda. Legiun Mangkunegaran sempat dibubarkan setelah Inggris berkuasa, tetapi kemudian dihidupkan kembali karena perang napoleon masih bergejolak dan Eropa masih belum stabil menyusul kembalinya Napoleon dari pengasingan di pulau Elba. Berdasarkan surat keputusan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles yang mewakili Serikat Dagang Hindia Timur Inggris tanggal 13 februari 1812, Legiun Mangkunegaran diaktifkan kembali dan diminta membantu pemerintahan sela (British Interregnum) yang berlangsung sejak 1811-1816. Di zaman pra-Indonesia merdeka, Legiun Mangkunegaran pernah terlibat dalam banyak perang. Dalam perang Diponegoro ia menjadi penjaga Yogyakarta dan Surakarta dari serangan pasukan Pangeran Diponegoro dan kemudian menghancurkan benteng terakhir Diponegoro. Tentara ini juga turut berperang menundukkan kesultanan Aceh, menumpas bajak laut di Bangka, melawan gerakan Radikal keagamaan hingga perang melawan serbuan Jepang ke Jawa pada 1942.
Posisi Legiun Mangkunegaran 
Legiun Mangkunegaran dari semula sudah berada pada posisi sebagai satuan militer yang membantu Perancis-Belanda, Inggris semasa Raffles dan Hindia Belanda. Dalam perang Napoleon, 1908-1811 Legiun Mangkunegara berada di kubu Perancis-Belandamenghadapi Inggris. Namun oleh Raffles kemudian Legiun ini dijadikan tentara yang membantu Inggris. Posisinya bukanlah sebagai tentara pengikut Diponegoro tetapi justru membantu penjajah. Menurut Asvi Warman Adam, kedudukan Legiun Mangkunegaran lebih baik tidak dilihat secara hitam putih. Tetapi dilihat dari aspek profesionalitas dan bukan hanya sekedar nasionalisme karena Nasionalisme mereka adalah Legiun itu sendiri. Sumber : Buku Buku Legiun Mangkunegaran Karya Iwan Santosa
http://www.kompasiana.com/aayudithadhitya/legiun-mangkunegaran-tentara-jawa-ala-prancis
PUNCAK KEEMASAN MANGKUNEGARAN
Mangkunegaran adalah suatu dinasti yang berasal dari dinasti Mataram yang berdiri pada 1757 oleh Pangeran Sambernyowo yang bertahta sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I. dalam kancah politik jawa, Mangkunegaran dengan penguasanya tampil dengan penguatan yang bersifat rasional, berdeda dengan dua penguasa jawa lainnya yaitu Surakarta Hadiningrat dan Jogjakarta Hadiningrat yang menempuh jalan dengan simbolik-simbolik dalam membentuk kekuasaan untuk keagungan sebuah penguasa. Mangkunegaran membentuk kemegahan kekuasaan dengan rasional dan aksi, rasionalisasi kekuasaan ini tampak dalam masa kepemimpinan Mamngkunegara IV dari 1853 - 1881 yang melanjutkan para pendahulunya. Pembangunan kekuatan ini ditempuh untuk kepentingan dan kekuatan kerajaan sehingga kemakmuran yang dicapai bisa mengalir kebawah kepada segenap kawula dan rakyatnya.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV terlahir dengan nama Raden Mas Sudiro putera dari Kanjeng Pangeran Harya Adiwijaya I dengan Raden Ajeng Sekeli yang merupakan puteri dari Mangkunegara II. Dalam karirnya RM Sudiro memang tergolong sangat pesat dalam praja mangkunegaran, pada usia relatif muda yaitu 15 tahuh beliau telah masuk menjadi kadet di legiun Mangkunegaran, setelah mendapat gelar Pangeran, namanya diubah menjadi GPH Gandakusuma dan tak lama kemudian setelah KGPAA Mangkunegara III meninggal, pada 1853, GPH Gandakusuma diangkat menjadi KGPAA Mangkunegara IV, dan setelah kurang lebih setahun bertahta beliau menikah dengan putri dalem Mangkunegara III.
Kecerdasan pola pikir KGPAA Mangkunegara IV dalam membentuk kekuatan dan kemakmuran kerajaan dan rakyat mangkunegaran yaitu dengan membangun kekuatan militer dan ekonomi yang kuat, kata Supriyanto selaku sekertaris Mondro Puro Kadipaten Mangkunegaran.
Dalam membentuk kemakmuran Kerajajan, lanjutnya, langkah pertama yang dilakukan Sri Paduka Mangkunegara IV pada masa itu adalah dengan memperkuat Industrialisasi pertanian dengan menjalankan konsep irigasi. "karena pada masa itu daerah kekuasaan Praja Mangkunegaran kususnya wilayah utara tanahnya tandus, Beliau pun mempunyai ide untuk membangun bendungan-bendungan yang digunakan sebagai pengairan lahan pertanian" cerita  Supriyanto. jadi bisa dibilang bahwa sistem irigasi yang sampai saat ini masih dijalankan pada industri pertaniaan bangsa merupakan buah karya pemikiran cerdas dari Sri Paduka Mangkunegara IV. "tambah dia"
Bukan hanya dari sektor pertanian saja yang dijalankan oleh Mangkunegara IV pada masa itu, guna memperkuat perekonomian Praja Mangkunegaran, Beliau juga mendirikan pabrik gula di Colomadu pada tahun 1861 dan kemudian pabrik gula Tasikmadu pada tahun 1863. Dari sektor industri dan pertanian inilah kemakmuran Praja Mangkunegaran maju dengan pesat.
"Keberhasilan Sri Paduka Mangkunegara IV dalam memajukan perekonomian Mangkunegaran waktu itu, Kadipaten Mangkunegaran bisa membeli tanah mardikan di Semarang dan sawah tambak di tanah Treboyo serta gudang di pelabuhan Tanjung Mas yang dijadikan sebagai sentra perdagangan yang keuntungannya murni masuk Praja Mangkunegaran," terusnya bercerita.
Bukan hanya itu, lanjut Supriyanto, banyaknya keuntungan yang masuk pada Praja Mangkunegaran, pada tahun 1866 Sri Paduka Mangkunegoro IV juga membangun pendopo Kerajaan dengan motif joglo yang lantainya terbuat dari marmer yang langsung didatangkan dari Itali, bahkan lampu yang dipakai adalah lampu dari Istana Paleis Bogor yang dibeli untuk memperindah Kadipaten Mangkunegaran, disinilah bukti bahwa keberhasilan dari Sri Paduka Mangkunegara IV dalam memajukan perekonomian dan kemegahan Praja Mangkunegaran.
Diceritakan pula bahwa setelah perekonomian Kadipaten Mangkunegaran meningkat dan dapat dirasakan oleh segenap rakyatnya, barulah system wajib pajak rakyat ke Praja Mangkunegaran diberlakukan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV.
"Inilah wujud kepedulian pemimpin kepada rakyatnya, seperti halnya Sri Paduka Mangkunegara IV yang telah berhasil menyejahterakan rakyatnya pada masa itu, jadi rakyat tidak tertekan oleh sistem wajib pajak yang ada," ungkap Supriyanto.
Supriyanto menambahkan bahwa selain sebagai seorang ahli strategi kemiliteran dan ekonomi yang cara berfikirnya lebih menonjolkan cara berfikir yang lebih modern, Sri Paduka Mangkunegara IV juga merupakan seorang sastrawan, salah satu karya sastranya yang terkenal yaitu Serat Wedatama yang mengandung falsafah sangat tinggi tentang petuah, pitutur, pitulungan dan pepadang, yang dibubuhkan dalam bentuk tembang. Sebuah karya sastra yang ditulis oleh seorang pemikir yang cerdas yang berhasil membawa Kadipaten Mangkunegaran pada puncak masa keemasan, Sri Paduka Mangkunegaran wafat pada tahun 1881 dan dikebumikan di Astana Girilayu, Kab. Karanganyar. //ipung
http://www.tabloidpamor.com/berita-238-puncak-keemasan-mangkunegaran.html



Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer