Kisah Kaum Yasin

KISAH HABIBUN NAJJAR-SURAH YASIN

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” Surah Yasin merupakan surah yang popular di kalangan masyarakat melayu. Surah ini sering dibaca secara tetap pada setiap malam Jumat. Surah ini juga dibaca setelah diadakan sholat hajat bila musibah menimpa kaum muslimin. 
Bila ingin memasuki rumah baru pun dibaca surah Yasin. Di dalam surah Yasin ada satu kisah yang menarik untuk dijadikan teladan dan pelajaran kepada pembacanya. Firman Allah SWT
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan- utusan datang kepada mereka.(Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian kami kuatkan dengan (utusan) ketiga,maka ketiga utusan itu berkata:
”Sesungguhnya kami adalah orang- orang yang diutus kepadamu”.Mereka menjawab:”Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”Mereka berkata:”Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. (QS Yasin : 13-17) Sesungguhnya ahli sejarah dan ahli-ahli tasir berselisih pendapat tentang penduduk negeri yang mendustakan para rasul dalam surah Yasin ini. Ahli Mufassirin juga berbeda pendapat tentang para utusan yang disebut. Ada yang berpendapat mereka adalah pembantu Nabi Isa as ( hawariyyun). Namun demikian Imam Ibn Kathir menolak kedua-dua pendapat ini. Sesungguhnya al-Quran diturunkan untuk difahami dan dihayati isi kandungan dan diambil pelajaran dari kisah di dalamnya tanpa perlu ditekankan di mana dan siapa yang terlibat sebagaimana kaedah usul al-tafsir : Pengajaran di dalam al-Quran dengan lafaz umum bukan dikhususkan dengan sebab tertentu. Pendustaan penduduk Mekah terhadap dakwah Rasulullah saw sama dengan pendustaan penduduk dalam surah ini terhadap dua orang rasul yang diutuskan. Maka Allah menguatkan dakwah mereka berdua dengan diutus seorang lagi rasul. Namun pendustaan penduduk semakin melampau dari masa ke masa. Firman Allah SWT
“Mereka menjawab:”Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan mereajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami”.Utusan-utasan itu berkata:”Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri.Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)?.Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”
 (QS Yasin : 18-19) Mereka menuduh para rasul hanya membawa sial dan musibah kepada mereka. Sekiranya sesuatu keburukan menimpa mereka semuanya akibat daripada para utusan tersebut. Padahal kesyirikan mereka yang membuat mereka berada dalam nasib malang dengan ditimpanya kesusahan dan juga nikmat terhalang. Penduduk ini juga berencana akan membunuh mereka dengan dirajam dengan batu dan akan mendapat siksaan yang pedih sekiranya mereka meneruskan dakwah tersebut. Dengan demikian dakwah para utusan ke arah mengesakan Allah dan beribadat hanya kepadaNya ditolak sama sekali. Firman Allah SWT :
”Dan datanglah dari ujung kota seorang laki- laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata:”Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu.Ikutilah orang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Ilah) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.” (QS Yasin :20 -25) Pada saat penduduk tersebut merencanakan untuk membunuh para utusan itu, tiba-tiba datang seorang lelaki dari ujung kota memberi nasihat dengan penuh hikmah kepada penduduknya agar beriman dengan risalah yang dibawa oleh para rasul. Namun demikian penduduk tidak menerima nasihatnya,malah lelaki tersebut dibunuh dengan kejam. Siapakah lelaki tersebut? Kebanyakan ulama’ tafsir berpendapat lelaki tersebut ialah Habib al-Najjar sebagaimana pendapat Ibn Abbas, Qatadah dan al- Sudiy sepertimana dinukilkan dalam tafsir Ibn Kathir. Firman Allah SWT :
“Dikatakan (kepadanya):”Masuklah ke surga”.Ia berkata:”Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabbku memberikan ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS Yasin 27-29) Dalam kisah ini Allah SWT menerangkan bahwa seseorang yang dibunuh secara kejam hanya semata-mata karena menyuruh kepada tauhid mendapat kemuliaan di sisi Tuhannya di atas keimanan dan keikhlasannya. Sebagai ganjarannya dia dimasukkan ke syurga. Apabila dia melihat kemuliaan, keampunan dan ganjaran di sisi Allah SWT dia berangan-angan alangkah baiknya sekira kaumnya mengetahui apa yang dia perolehi pada waktu itu niscaya mereka tidak akan menolak risalah para utusan. Sebagai balasan terhadap pendustaan risalah para rasulNya dan kezaliman yang dilakukan terhadap walinya,Allah SWT membinasakan kaum tersebut dengan satu teriakan yang dahsyat menyebabkan mereka semua mati bergelimpangan. Kisah ini mengandungi banyak iktibar yang bisa dijadikan pedoman hidup kita, antaranya ialah ; 1. Dakwah menegakkan kebenaran harus ditegakan walaupun mendapat tentangan dari kebanyakan orang. 2. Dakwah dilaksanakan dengan hikmah dan dengan pengajaran yang baik. 3. Kita hendaklah istiqamah dan berpegang teguh pada tauhid dan mempertahankannya walaupun menghadapi kesulitan dan kesusahan. 4. Individu dan tempat yang terdapat dalam kisah al-Quran bukan keutamaan untuk diketahui tetapi pelajaran dan iktibar yang perlu diambil untuk dijadikan pedoman hidup. 5. Siapa saja yang melakukan pengorbanan untuk mempertahankan agama akan mendapat keampunan dan kemuliaan di sisi Allah SWT. 6. Setiap pendurhakaan terhadap Allah SWT pasti akan mendapat balasan di dunia ataupun di akhirat. 7. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa ke atas segala sesuatu.
http://mochputrasagitariusc.blogspot.co.id/2013/10/kisah-habibun-najjar-surah-yasin.html

NABI-NABI YANG DIUTUS KEPADA KAUM YASIN  

Kisah Ashabul Qaryah

Allah SWT berfirman:

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab: 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata: 'Tuhan kami mengetahui bahawa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami bernasib malang kerana kamu, sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merejam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yangpedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata: 'Kemalangan kamu itu adalah kerana kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. " (QS. Yasin: 13-19)

Allah SWT menceritakan kepada kita tentang tiga nabi tanpa menyebut nama-nama mereka. Hanya saja, Al-Qur'an menyebutkan bahawa kaum yang didatangi tiga nabi tersebut mendustakan mereka. Mereka mengingkari bahawa tiga nabi itu sebagai utusan Allah. Ketika para rasul itu menunjukan bukti kebenaran mereka, kaumnya berkata bahawa kedatangan mereka justru membawa kesialan. Mereka mengancam para nabi itu dengan rajam, pembunuhan, dan siksaan yang pedih. Para nabi itu menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat tindakan yang melampui batas. Mereka justru menganiaya diri mereka sendiri.

Al-Qur'an al-Karim dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan bagaimana urusan para nabi itu. Yang ditonjolkan oleh Al-Qur'an adalah urusan seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu. Hanya dia satu- satunya yang beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini berhadapan dengan kelompok yang besar yang menentang para nabi. Laki-laki itu datang dari negeri yang jauh. Dan dalam keadaan berlari, ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk menerima kebenaran. Belum lama ia menyatakan keimanannya sehingga kemudian ia dibunuh
oleh orang-orang kafir.

Allah SWT berfirman:

"Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan- utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) ahan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidah (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maha dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.'" (QS. Yasin: 20-25)

Konteks Al-Qur'an hanya menyebutkan atau membatasi tentang proses pembunuhan itu. Belum lama orang mukmin itu atau belum sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya sehingga Allah SWT mengeluarkan perintah-Nya dan mengatakan:

"Dikatakan (kepadanya): 'Masuklah ke syurga.' Ia berkata: 'Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.'" (QS. Yasin: 26-27)

Jadi, Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan nama-nama para nabi itu dan kisah-kisah mereka, tetapi yang ditonjolkan adalah kisah lelaki mukmin di mana dalam konteks ayat tersebut nama laki-laki mukmin pun tidak disebutkan. Tentu penyebutan namanya tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi padanya. Beliau adalah seorang mukmin yang mengikuti para nabi AllahSWT.

Dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam syurga. Tentu proses penyiksaan yang diterimanya dan pembunuhannya bukan membawa suatu nilai yang besar tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahawa ia beriman dan tetap berjuang membela para nabi. Meski-pun ia mendapatkan ancaman pembunuhan, ia tetap menunjukkan keimanannya dan keimanannya tetap membara. "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku."'? 

///////////////////////////////////////////////

Dalam Tafsir Azhar, karya Prof Hamka, jilid 8 tafsir Surah Yaasin, beliau ada menceritakan keyakinan beliau terhadap hadis Nabi yang memberi saranan agar membaca Surah ini kepada manusia yang menghadapi sakaratul maut. Beliau pernah berjalan melalui suatu wad hospital pada tahun 1976, di mana seorang yang sedang nazak hanya ditangisi oleh ahli keluarga tanpa sebarang bacaan Surah Yaasin. Si pesakit nazak selama 24 jam. Beliau telah membaca Surah Yaasin kepada si pesakit sehingga pada ayat-ayat terakhir sahaja, si pesakit mulai melepaskan nafas secara lembut. Inilah kelebihan Surah Yaasin sepertimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad daripada Ma'qil Bin Yasaar.

Surah Yasin adalah sumber motivasi kepada kita.

Tahukah bahawa saban minggu kita sebenarnya mengulangi kisah sedih empat orang hamba Allah yang diseksa, dibunuh dan dipenjara oleh penduduk zalim suatu ketika di bumi Syiria hari ini. 

Allah menceritakan kepada kita dalam Surah Yaasin ayat 13 dan 14;

[13] Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, iaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;

[14] (iaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (UTUSAN) YANG KETIGA, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu".



Daripada riwayat-riwayat yang diambil dari Ibn `Abbas, Ka`b Al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih, Ibn Ishaq menceritakan bahawa kota itu adalah kota Antiakah yabng kini digelar Antioch, di mana terdapat raja bernama Anticus bin Anticus Bin Anticus (3 generasi nama yang sama) yang menyembah berhala-berhala purba. Antiokah (Antioch) pada asalnya berada dalam wilayah Turki semasa Empayar Uthmaniyah tetapi terlepas kepada Syiria semasa Perang Dunia I.

Jika anda membaca Tafsir Jamal dan Tafsir Baidhawi (Sheikh Abd Rauf Fansuri), peritiwa ini dikatakan berlaku di Rom. Hal ini perlu kifa fahami istilah Rom di sini bermakna Rom Timur iaitu wilayah Antakiyah pernah berada dalam wilayah Empayar Rom Timur sejak ia berpusat di Constantinopel.

Allah mengirim tiga utusan (Rasul), yang bernama Saiq, Saduq dan Nabi yang ketiga bernama Shalom. Terdapat juga riwayat yang mengatakan bahawa nama mereka adalah Syamu'n (Samson) dan Yohana dan pembantunya bernama Paulus. Dalam Bahasa Arab nama itu disebut Syamu'n, Juhana dan Baulush. Akan tetapi riwayat kedua ini lebih kepada khabar yang diriwayat daripada kaum Kristian yang terdapat dalam New Testement (Bible).

Dalam kitab Muqasyafatul Qulub karangan Imam Ghazali ada menceritakan bahawa Rasulullah SAW berkumpul pada bulan suci Ramadan. Di dalam usrah itu Rasulullah SAW bercerita mengenai Nabi Allah SWT bernama Syamu'n . Rasulullah SAW menggelarnya Sam'un Ghazi. Nabi Syamu'n as tidak diceritakan langsung dalam al-Quran namun nama baginda pernah diriwayatkan di dalam kitab Qisasul Anbiya'(kisah para Nabi). Dalam kitab lama tersebut menceritakan bagaimana Rasulullah SAW tiba-tiba tersenyum sehingga mengundang rasa pelik para sahabat. Lalu seorang sahabat bertanya Rasulullah SAW ; "Mengapa anda tersenyum wahai Nabi Allah?"

Rasulullah SAW segera menjawab ; Aku diperlihatkan pada hari kiamat di Padang Masyhar, seorang Nabi dengan membawa pedang yang tidak mempunyai pengikut walau seorang pun, kemudian masuk ke dalam syurga. Baginda adalah Syamu'n (Samson) .

Menurut pandangan ajaran Yahudi, Nabi Syamu'n bukanlah seorang Nabi sebaliknya hanya Qadhi (Hakim) besar mereka yang dikaitkan dengan kisah Samson and Delaila.

Menurut kajian ahli sejarah, peristiwa kehadiran Nabi ke tanah Antakiah berlaku pada 39 Masihi. Malah sejarawan Kristian yakin bahawa kehadiran utusan tersebut adalah untuk menyebarkan ajaran Nasrani yang diketuai oleh Barnabas dan Paul. Jika benar Barnabas diutuskan ke bumi Antakiyah demi menyebarkan ajaran tauhid, kemungkinan ada logiknya kerana hingga kini ajaran Barnabas dikaitkan dengan ajaran uni-tuhan iaitu ketuhanan tunggal yang mengekalkan ajaran asal Nabi Isa AS.

Namun begitu, ajaran kredibiliti Paul pula diragui kerana beliau di antara individu yang sanggup mencampur aduk ajaran Nasrani asal dengan ajaran paganisme (penyembahan berhala) sewaktu membawa Nasrani masuk ke Tamadun Rom suatu ketika dahulu. Jelas kontradiksi ajaran berlaku dan kita sebagai muslim meragui nama-nama yang Kristian nyatakan melainkan yakin bahawa ada utusan untuk menyebarkan ajaran Allah sahaja ke Antakiyah.

Sumber yang mengatakan bahawa salah seorang Rasul tersebut adalah Paul adalah daripada Ibnu Juraij (Ben Gregorius). Ibnu Juraij lahir dari sebuah keluarga dengan tradisi Kristian. Keturunannya bernama Gregorius (dalam bahasa Arab disebut Juraij) adalah bangsa Romawi yang beragama Kristian. Bapanya bernama Abdul Aziz, telah memeluk Islam dan merupakan seorang ulama. Menurut Imam Ahmad, beliau dikatakan individu pertama menulis kitab agama. Beliau banyak meriwayatkan hadis dan wafat pada 767 M. Ibnu Juraij sangat dekat dengan tradisi keilmuan Kristian kerana keturunan keluarga beliau. Mungkin pengaruh ini menyebabkan beliau menafsirkan bahawa salah satu dari ketiga utusan tersebut adalah Paul.

Bagi utusan yang bernama Barnabas pula beliau adalah Yusuf dan dipanggil Barnabas oleh para Rasul (menurut sumber Kristian). Makna Barnabas adalah "anak artis seni". Barnabas adalah orang Yahudi dari keturunan suku Lewi yang berasal dari Cyprus. Barnabas pertama kali berjumpa dengan Paul (Paulus) ketika Paul berkunjung ke Baitul Maqdis. Bersama dengan Paulus, Barnabas diutus oleh pembesar Nasrani di Antokiah untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Kemudian Yohanes (Juhana) ikut bergabung bersama mereka untuk memberitakan Injil ke Cyprus.

Berbalik kepada kisah dakwah 3 Rasul tadi, peristiwa ini dikatakan berlaku sekitar 9 tahun selepas Nabi Yahya dibunuh oleh Raja Herod II di Palestin. Raja Herod II adalah anak kepada Raja Herod Agung yang mencintai anak saudaranya sendiri iaitu anak kepada Aristobulus IV serta tidak dapat menerima fatwa larangan mengahwini anak saudara yang dikeluarkan oleh Nabi Yahya.

Perhatikan pula sikap penduduk Antakiah apabila menerima dakwah;

[18] penduduk bandar itu berkata pula: "Sesungguhnya Kami merasa nahas dan malang Dengan sebab kamu. Demi sesungguhnya, kalau kamu tidak berhenti (dari menjalankan tugas Yang kamu katakan itu), tentulah Kami akan merejam kamu dan sudah tentu kamu akan merasai dari pihak Kami azab seksa Yang tidak terperi sakitnya". (Yasin :18)

Dalam ayat ke-18 ini, jelas kita melihat sikap kaum yang menolak kebenaran akan cuba mencari 1001 alasan dan hujah untuk meletakkan kesalahan kepada para pembawa kebenaran. Hari ini juga kita melihat serba banyak kepayahan, tekanan dan fitnah yang dituduh kepada pendakwah dan pembawa kebenaran. Mereka dipulau, dituduh pemecah belah masyarakat, tuduh sebagai pengganas dan ortodoks serta bermacam-macam lagi tuduhan yang kedangkala jauh daripada akal minda yang sihat. Kaum Antakiyah menyelar para utusan Allah dengan mengaitkan kepayahan mereka (mungkin bencana alam, kerugian hasil tanaman dan sebagainya) dengan kehadiran para Nabi yang kebetulan serentak dengan musibah yang dihadapi mereka.

Bagi pandangan Prof Hamka dalam ulasannya, beliau kurang bersetuju jika Nabi yang diutuskan itu daripada kalangan pengikut Nabi Isa kerana ada kalimah 'arsalna' iaitu Kami utuskan yang merujuk kepada utusan Allah. Bermakna ia mungkin adalah Nabi yang selain pengikut Nabi Isa malah Nabi-Nabi yang tidak diketahui namanya sejajar dengan ayat Allah;

[78] dan Demi sesungguhnya! Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelummu; di antara mereka ada Yang Kami ceritakan perihalnya kepadaMu, dan ada pula di antaranya Yang tidak Kami ceritakan kepada kamu. dan tidaklah harus bagi seseorang Rasul membawa sesuatu keterangan atau menunjukkan sesuatu mukjizat melainkan Dengan izin Allah; (maka janganlah diingkari apa Yang dibawa oleh Rasul) kerana apabila datang perintah Allah (menimpakan azab) diputuskan hukum Dengan adil; pada saat itu rugilah orang-orang Yang berpegang kepada perkara Yang salah. (Mukmin : 78)

Dianggarkan bahawa Nabi dan Rasul masing-masing berjumlah 124,000 dan 312 orang. Namun, yang wajib diimani oleh umat Islam hanya seramai 25 orang sahaja. Ia dimulai dengan Nabi Adam as dan diakhiri dengan junjungan besar kita, Rasulullah SAW.

Dari Abu Zar ra bahawa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para Nabi, "(Jumlah para Nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124,000) Nabi." "Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?" Beliau menjawab, "Tiga ratus dua belas(312)" 

(Hadith riwayat At-Tarmizi)

Bagi dakwaan yang menyatakan tiga Rasul tersebut adalah hawariyun Nabi Isa as (pengikut Nabi Isa) ditolak sepenuhnya oleh Ibnu Kathir kerana bersandarkan kepada hadis Rasulullah SAW yang pernah menyatakan bahawa tiada 'Rasul' diutuskan di antara keRasulan Isa as dan baginda Rasulullah SAW. Barangkali 3 utusan yang merupakan murid Nabi Isa tersebut berlaku di Antakiyah tetapi ia bukannya merujuk kepada kisah yang diceritakan dalam Al Quran sendiri. Kemungkinan peristiwa ini berlaku di tempat lain. Bagi mengaitkan pendangan Prof Hamka dengan Ibnu Kathir sendiri, jelaslah para Rasul yang diutus ini bukanlah mengikut syariat Nabi Isa memandangkan tiada Rasul antara period masa Nabi Isa-Nabi Muhammad. Mereka adalah Rasul sebelum Nabi Isa AS.

Kemudian selepas sahaja dakwah para Nabi tersebut diejek dan dimaki oleh para penduduk Antakiyah, datang pula seorang pemuda yang menjadi saksi kepada ajaran tauhid para Nabi berkenaan. Beliau adalah seorang pemuda yang tidak berfoya-foya serta baik akhlaknya di kalangan mereka. Allah berfirman;

[20] dan (semasa Rasul-Rasul itu diancam), datanglah seorang lelaki dari hujung bandar itu Dengan berlari, lalu memberi nasihat Dengan katanya:" Wahai kaumku! Turutlah Rasul-Rasul itu (Yasin:20)

Menurut Tafsir yang disampaikan oleh Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Masu'd RA, bahawa setelah datang pemuda daripada hujung bandar (kampung) tersebut, beliau dipijak beramai-ramai sehingga terkeluar isi perutnya. Ibnu Ishaq menafsirkan kejadian ini bagi ayat Surah Yasin yang ke-26, si pemuda telah dibuka hijab sehingga nampak syurga yang dijanjikan kepadanya. Beliau berkata 'laita' yang bererti alangkah sayangnya atau alangkah ruginya kepada kaumnya sewaktu beliau hampir nazak.

Prof Hamka memetik pandangan Wahab Bin Munabbih dan Ka'bul Ahbar mengatakan bahawa nama pemuda tersebut adalah Habib dan bekerja sebagai penenun sutera. Manakala riwayat Ikrimah mengatakan pekerjaan Habib adalah tukang kayu (an najar) kerana itulah beliau terkenal dengan nama Habibun Najar.

Prof Hamka juga cuba mengaitkan kisah ini dengan kejadian letusan gunung berapi di Pompei Itali yang berlaku pada 78 M. Gunung Vesuvius dikatakan meletup dengan bunyi yang amat kuat sehingga memekakkan telinga penduduknya. Pada tahun 1748 M, masyarakat Eropah menjumpai banyak mayat-mayat mangsa dalam keadaan bersalut batu larva yang keras. Keadaan mereka cukup aib dalam keadaan melakukan hubungan sejenis lelaki dan berfoya-foya semasa kejadian berlaku. Ini menunjukkan peristiwa ini letupan kuat berlaku secara kilat dan mendadak.

[28] dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah ia (mati) sebarang pasukan tentera dari langit (untuk membinasakan mereka), dan tidak perlu Kami menurunkannya.

[29] (kebinasaan mereka) hanyalah dilakukan Dengan satu pekikan (yang dahsyat), maka Dengan serta merta mereka semua sunyi-sepi tidak hidup lagi.

Daripada ayat 28-29 Surah Yaasin ini jelas menunjukkan mereka terdengar bunyi pekikan sekali yang amat kuat (soihatan wahidatan) sehingga mati secara serentak (khamidun). Dalam beberapa tafsiran ulama' ada menyebut bunyi tersebut adalah pekikan Malaikat Jibrail AS. Walau apapun fakta sejarah yang ada, jelas bahawa Allah mampu memusnahkan sesuatu kaum hanya dengan sekali tindakan tanpa menghantar bala tentera yang ramai.

Pemuda yang melihat syurga semasa nazaknya adalah contoh kepemudaan yang perlu menjadi idola para remaja hari ini berbanding hari ini kelekaan dengan kelazatan hiburan menyebabkan jiwa pemuda menjadi barah yang bakal merosakkan ummah.
http://heavybomber.blogspot.co.id/2013/04/nabi-nabi-yang-diutus-kepada-kaum-yasin.html

 Allāh  berfirman:  Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, Yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, Maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya Kami adalah orang-orang di utus kepadamu". Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti Kami dan Allāh  yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". Mereka berkata: "Tuhan Kami mengetahui bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang yang diutus kepada kamu". Dan kewajiban Kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allāh ) dengan jelas". Mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya Kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu". Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allāh ) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; Maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku. Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke syurga". ia berkata: "Alangkah baiknya Sekiranya kamumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku Termasuk orang-orang yang dimuliakan". Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah Dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; Maka tiba-tiba mereka semuanya mati. (QS. YāsĪn: 13-29)
Pada surat ini Allāh  menguraikan satu contoh cerita tentang kisah penduduk suatu negeri. Keadaan mereka tidak jauh dengan keadaan masyarakat Makkaħ saat itu yaitu menolak risalah kenabian. Dalam konteks risalah kenabian, apada ayat ini Allāh  memerintahkan Rasūl Allāh bahwa : Dan buatlah, yakni sampaikanlah,  bagi mereka kaum musyrikin Makkaħ itu dan siapa saja yang serupa dengan mereka --sampaikanlah suatu perumpamaan-- yakni berita yang menakjubkan yang mereka dapat tarik pelajaran sehingga mendorong mereka beriman dan  takut jangan sampai serupa dengan keadaan penduduk suatu negeri ketika  utusan-utusan  kami atau utusan-utusan NabĪ ‘Īsa. Datang kepadanya, yakni kepada penduduk negeri itu, yaitu ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan agar mereka saling menguatkan, lalu tanpa lama dan banyak berfikir mereka mendustakan keduanya; maka segera Kami kuatkan  kedua utusan terdahulu dengan utusan yang ketiga, lalu mereka bertiga bersama-sama  berkata “sesungguhnya Kami kepada kamu secara khusus adalah utusan-utusan Allāh”  (Shihāb, 2002, p. 124)
Menurut ( (KaśĪr, 2010, p. 403) telah terkenal pada ulama kalangan salaf dan khalaf bahwa nama negeri tersebut bernama Anṭakiyaħ, yaitu suatu kota lama di wilayah Sūriya dewasa ini. Hal ini diriwayatkan oleh Ibn Isḥāq yang berasal dari Ibn ‘Abbās Demikian halnya yang diriwayatkan dari ‘Ikrimaħ, Qatadaħ, Az-ZuhrĪ dan lain-lainnya. Tetapi dalam (Shihāb, 2002, p. 124) pendapat ini ditolak sementara oleh beberapa ulama dengan alasan bahwa Anṭakiyaħ tidak pernah dibinasakan, baik pada masa NabĪ ‘Īsa maupun sebelumnya, sedangkan kisah negeri yang diuraikan disini menegaskan pembinaan penduduk negeri itu. Di sisi lain penduduk negeri itu dikenal sebagai penduduk pertama yang mempercayai kerasulan ‘Īsa dan disana dikenal banyak sekali pemuka-pemuka agama Kristen.
Pada permulaan abad tahun masehi Anṭakiyaħ merupakan salah satu kota yang penting sekali di Sūriya utara. Tempat ini adalah kota Yunani yang dibangun oleh Seleucus Nicator, salah seorang pengganti Iskandar Agung, sekitar 300 tahun P.M untuk mengenang ayahnya yaitu Antiochus. Letak kota itu dekat laut, dan pelabuhannya di Seleusia. Tak lama sepeninggal NabĪ ‘Īsa, murid-muridnya berhasil menyebarkan agama disana. Dan disanalah murid-murid itu disebut pertama kalinya dengan “kristen” kemudian tempat itu menjadi pusat keuskupan yang sangat penting dalam gereja kristen.  (‘AlĪ, 1994, p. 1030)
    Ibn Isḥāq berkata yang ia dapatkan dari Ibn ‘Abbās, Ka’ab Al-Aḥbār dan Wahb bahwa mereka berkata: “Dahulu mereka memiliki seorang raja yang bernama Antikus bn Antikus yang menyembah berhala. Maka Allāh  mengutus tiga orang Rasūl, yaitu: Ṣādiq, Maṣdūq,dan Syalūm. Namun mereka mendustakan ketiga Rasūl tersebut. Mereka adalah para Rasūl yang diutus oleh Allāh. Namun Qatadaħ beranggapan bahwa ketiga utusan datang dari ‘Īsa. Demikian yang hanya diungkapkan oleh Ibn JarĪr dari Wahb dari Ibn Sulaimān dari Syu’aib al-jabāĪ, ia berkata: “Nama-nama Rasūl tersebut adalah: Syam’ūn, Yohanā, dan Paulus. Sedangkan negeri tersebut bernama Anṭakiyaħ.” Namun pendapat ini sangat lemah, sebab Anṭakiyaħ adalah kota pertama yang beriman kepada ‘Īsa ketika ketiga ḥawāriyyūn tersebut diutus kepada mereka. (KaśĪr, 2010, p. 403)
    Oleh karena itu, Anṭakiyaħ adalah salah satu kota dari empat kota yang didiami oleh banyak uskup. Keempat kota tersebut ialah Anṭakiyaħ, al Quds, Iskandariyaħ, dan Romā. Setelah itu ditambah lagi kota QaṣantĪniyyaħ. Namun kota-kota tersebut tidak dihancurkan oleh Allāh. Sedangkan penduduk kota yang tertera dalam Al-Qur’ān tersebut telah dihancurkan oleh Allāh , sebagaimana yang tertera dalam akhir kisah penduduk tersebut setelah mereka membunuh ḤabĪb An-Najjār. Firman Allāh  yang artinya: “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua mati.” (QS.YāsĪn: 29) (KaśĪr, 2010, p. 405)
    Terkecuali bila dikatakan bahwa ketiga Rasūl tersebut diutus kepada penduduk Anṭakiyaħ, lalu mereka mendustakannya, kemudian Allāh  menghancurkan mereka. Setelah itu kota tersebut dibangun kembali dimasa ‘Īsa, lalu mereka beriman atas kerasūlan ‘Ῑsa, maka pendapat ini dapat dibenarkan. (KaśĪr, 2010, p. 405)
Dalam (Shihāb, 2002, p. 124) ulama juga berbeda pendapat tentang ketiga orang utusan tersebut , apakah mereka Rasūl- Rasūl yang diutus langsung oleh Allāh  atau mereka adalah utusan-utusan yang merupakan murid-murid NabĪ ‘Ῑsa, yang beliau utuskan atas perintah Allāh . Penganut pertama dikuatkan dengan dalil “ketika Kami mengutus kepada mereka ” sebagai dalil tentang pengutusan Allāh  secara langsung. Sedang penganut kedua hanya melihat pada kalimat al-mursalĪn yakni utusan-utusan. Penganut pendapat kedua agaknya terpengaruh oleh apa yang terdapat dalam Perjanjian baru, khususnya dalam Kisah Para Rasūl XIII, yang antara lain menyatakan bahwa di Anṭakiyaħ ketika itu terdapat beberapa NabĪ dan pengajar , yakni Barbanas, Simeon, Lukius, Menahem, dan Paulus.
Tetapi menurut Ibn ‘Abbās, condong berpendapat yang dimaksud dengan Rasūl- Rasūl disini ialah Rasūl- Rasūl Allāh yang dikirim untuk menguatkan syariat ‘Ῑsa, seperti Hārūn untuk menguatkan Mūsā.  (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3407)
 Ibn Kaśir mengungkapkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa kisah yang tertera dalam Al-Qur’ān diatas adalah kisah para sahabat ‘Īsa, maka pendapat ini adalah ḍa’Īf. Sebab secara redaksi Al-Qur’ān menunjukkan bahwa para Rasūl tersebut diutus oleh Allāh. (KaśĪr, 2010, p. 406)
Menurut (Shihāb, 2002, p. 124) siapapun Rasūl- Rasūl yang dimaksud oleh ayat diatas—yang pasti dan jelas adalah mereka membawa pesan-pesan Allāh agar mengakui ke-Esaannya, mempercayai risalah kenabian dan hari kebangkitan. Kata ‘azzaznā terambil dari kata ‘azza dan ya’azzu yang berarti menguatkan dan mengukuhkan. Ayat ini merupakan bukti bagi ketetapan Allāh menyangkut kebebasan beragama. Kendati Allāh telah mengukuhkan Rasūl- Rasūl guna meyakinkan masyarakat tentang kebenaran mereka, Allāh tidak memaksa mereka untuk percaya. Memang, tugas para pengajur kebaikan hanya menyampaikan, bukan pemaksaan, karena Allāh hanya menerima keimanan yang tulus sehingga setiap orang dipersilakkan memilih jalan yang dikehendakinya.
Namun penduduk negeri itu malah menolak tuntunan Allāh, mereka enggan mengakui kerasulan, enggan pula percaya bahwa ada tuntunan yang diturunkan Allāh kepada umat manusia. Ibn Asyūr menilai bahwa penduduk negeri yang menolak ini adalah kelompok orang-orang Yahudi dan penyembah berhala yang berasal dari Yunani. Penolakan kehadiran Rasūl- Rasūl itu bisa jadi datang dari para penyembah berhala karena mereka tidak percaya Tuhan mengutus manusia menyampaikan ajaran-Nya. Karena itu, tulisnya: Tersebut dalam perjanjian baru pada kisah para Rasūl bahwa, ketika sebagian penduduk Listra terlihat keluarbiasaan (yakni penyembuhan seorang yang sejak lahir telah lumpuh) yang dilakukan oleh Paulus, mereka berseru dalam bahasa Yunani (Likaonia) bahwa: dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupada manusia. Barnābās mereka anggap Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes (baca kisah para Rasūl xiv: 8-12). Boleh jadi juga penolakan itu bersumber dari orang-orang Yahudi penduduk negeri itu karena mereka menolak adanya Rasūl sesudah Mūsā. (Shihāb, 2002, p. 127)
Masih menurut Quraish Shihāb, ayat diatas menggunakan kata Ar-Raḥmān untuk menunjuk Allāh, padahal itu adalah rekaman dari ucapan orang-orang kafir penduduk negeri yang dikunjungi Rasūl tersebut. Pemilihan kata ini menenurut Ibn Asyūr, karena kata itu merupakan kata yang netral bagi penduduk disana. Penduduk Yunani mengakui bahwa Tuhan terbesar ialah Zeus yang merupakan sumber rahmat. Karena itu, mereka dapat menerima kata Ar-Rahman karena kata ini berarti Pencurah Rahmat, sedangkan orang-orang Yahudi sering menghindari penyebutan nama Allāh yang. Mereka sering kali hanya menunjuk Tuhan Yang Maha Esa dengan sifat-Nya.
    Mereka malah menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu” yaitu kami merasa sial atas apa yang kalian sampaikan kepada kami. Mereka melanjutkan: “sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami)  niscaya kami akan merajam kamu.” Ada yang mengatakan yaitu: dengan tindakan. Pendapat pertama dikuatkan dengan ucapan mereka setelah itu: “dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Mereka mengancam para Rasūl tersebut dengan pembunuhan dan penghinaan. (KaśĪr, 2010, p. 406)
Menurut (Shihāb, 2002, p. 128) penduduk negeri tersebut menyuruh untuk para Rasūl tersebut berhenti melakukan dakwah tersebut karena menurut mereka, mereka mendapatkan kesialan dari damapak dakwahnya para Rasūl tersebut dan jika para Rasūl itu tidak berhenti maka mereka akan merajamnya dengan batu hingga mati. Dalam konteks ayat ini, sementara ulama berpendapat bahwa kesialan yang mereka maksud ialah bencana, seperti wabah penyakit, paceklik, dan semacamnya.
Lalu utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah kemalangan kamu sendiri” yakni kemalangan itu akan menimpa kalian. “Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang?)” yaitu apakah dikarenakan kami telah memberi peringatan kepada kalian berupa petunjuk dan kami menyeru kalian kepada-Nya, lantas kalian mengancam akan membunuh dan menghina kami? “sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (KaśĪr, 2010, p. 407)
    Demikian sikap penduduk tersebut kepada Para Rasūlnya. Berita tentang keadaan mereka pun tersebar dimana-mana dan akhirnya datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki mukmin yang tergugah hatinya melihat sikap kaumnya menghadapi ketiga Rasūl tersebut. Ia mengunjungi tempat mereka dengan berjalan bergegas-gegas dan dengan penuh kesungguhan. Dia berkata menasehati mereka “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu dalam tuntunan-tuntunan mereka, ikutilah dengan tekun dan sungguh-sungguh walau hanya seorang Rasūl terlebih lagi mereka bertiga yang tidak seorang pun dari mereka yang meminta dari kamu imbalan walau sedikit.” Lelaki mukmin itu diduga oleh sementara pakar bernama ḤabĪb An-Najjār. Beliau menjelaskan kepada penduduk disana bahwa para Rasūl itu tulus dalam menyampaikan risalahnya  dan bersedia meluangkan waktu untk menyampaikan kebenaran tanpa mengharapkan imbalan dari makhluk. (Shihāb, 2002, p. 131)
    Ada riwayat yang menyebutkan bahwa orang itu ialah ḤabĪb An-Najjār, seorang tukang kayu yang menyembah Allāh di dalam gua. (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3407)“dan datanglah dari ujung kota....” orang itu adalah ḤabĪb An-Najjār, sahabat yāsĪn, sebagaimana dalam hadiś, orang ini telah bertahun-tahun menderita penyakit kusta, kemudian Allāh menyembuhkannya dengan perantara tangan utusan NabĪ ‘Īsa. Kemudian ia pun beriman dan masuk islam. Dia tinggal di negeri Anṭakiyaħ ia menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allāh. Namun tatkala sampai kepadanya berita bahwa penduduk kota Anṭakiyaħ ingin menyerang para utusan itu, lalu ia datang dengan bergegas untuk menolong dakwah mereka dan menyeru penduduknya untuk beriman kepada Allāh.  (al-jazāirĪ, 2009, p. 160)
    Dalam kisah dinyatakan bahwa ‘Īsa mengutus dua orang Rasul kepada mereka. Keduanya kemudian bertemu dengan orang tua renta yang sedang mengembala kambing milikinya dan dia adalah ḤabĪb An-Najjār, sahabat yāsĪn. Maka mereka mengajaknya kejalan Allāh. Dan mereka berkata: “Kami adalah utusan ‘Īsa untuk mengajakmu beribadah kepada Allāh” dia kemudian meminta mukzizat kepada keduanya, dan keduanya berkata “kami menyembuhkan orang sakit” dan kebetulan dia menemukan seorang anak laki-laki yang gila.  (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 37)
    Ibn ‘Abbās, Mujāhid, Muqātil berkata, “Dia adalahh ḤabĪb An-Najjār” dia memahat patung, dan termasuk salah seorang yang beriman kepada NabĪ Muḥammad dan jarak antara keduanya ialah 600 tahun. Sebagaimana juga banyak orang yang beriman kepada beliau, seperti Waraqah bn Naufal dan lainnya, dan tidak ada seorang pun yang beriman kepada NabĪ kecuali setelah kemunculannya. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 45)
    Wahb berkata: ḤabĪb An-Najjār berpenyakit kusta dan rumahnya terletak di salah satu ujung pintu gerbang kota. Dia telah menyembah berhala selama 70 tahundan dia menyeru mereka, barangkali mereka mengasihinya dan menyembuhkan sakitnya. Namun mereka tidak memenuhi seruannya. Ketika dia melihat utusan-utusan itu yang mengajaknya untuk menyembah Allāh, lalu dia berkata, “apakah kamu memiliki suatu bukti?” mereka menjawab, “Iya. Kami tinggal berdoa kepada Tuhan kami dan Dia menyembuhkan penyakitmu.” ḤabĪb An-Najjār berkata, “Sungguh luar biasa! Aku telah berdoa kepada Tuhan ini (berhala) selama 70 tahun dan meminta menyembuhkanku tetapi ia tidak mampu. Maka bagaimana Tuhanmu bisa menyembuhkanku dalam sekejap?” mereka menjawab, “Iya. Tuhan kami Maha Kuasa atas segala yang dikehendakinya. Sedangkan berhala ini tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula mendatangkan kemudaratan.” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 46)
    ḤabĪb An-Najjār kemudian beriman dan mereka berdoa kepada Tuhan mereka. Allāh lalu menyembuhkan penyakitnya, seolah-olah dia tidak pernah mengalami penyakit itu. Pada saat itulah dia pergi bekerja. Jika tiba waktu petang, dia bersedekah dari hasil kerjanya. Dia memberikan separuh dari penghasilannya sebagai nafkah bagi keluarganya, dan separuhnya  untuk sedekah. Ketika kaumnya ingin membunuh para utusan itu, dia dating kepada merekadan berkata, “hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu… ” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 46)
    Selanjutnya seorang laki-laki mukmin itu memerintahkan dengan tegas agar mengikuti tuntunan rasul sambil menyebut alasan-alasannya, kini secara tegas pula beliau menolak sikap kaumnya, dan dengan alasan yang tegas pula – menjadikan diri beliau sebagai contoh. Dia berkata : “Apakah layak aku memaksakan diri menentang fitrah kesucian dengan manjadikan, yakni mneyembah, selain-Nya sebagai Tuhan-Tuhan? ” jelas itu adalah sikap yang buruk lagi tercela. Jika Tuhan pelimpah kasih kepada seluruh makhluk itu menghendaki terhadap diriku atatu siapapun walaupun sedikit bencana, niscaya tidaklah berguna bagiku dan bagi siapapun syafaat mereka.—yakni berhala dan Tuhan-Tuhan selain Allāh. Maka dengarlah ucapan dan penjelasan aku ini dan ikutilah tuntunan para Rasul itu. (Shihāb, 2002, p. 135)   
    Ada yang mengatakan laki-laki itu adalah orang yang datang dari ujung kota dalam keadaan yang bergegas. Dia pun memberitahukan kabar kepada masyarakat, sehingga banyak orang yang sembuh dari sakit. Raja kemudian mengirim utusan kepada keduanya utuk mencari informasi tentang keduanya. Kedua utusan ‘Īsa itu lalu berkata: “kami berdua adalah utusan ‘Īsa” orang itu bertanya: “apa tanda yang ada pada kalian berdua?” “kami bisa menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya dan orang yang berpenyakit lepra, serta menyembuhkan orang yang sakit lainnya dengan izin Allāh, dan karena itu kami mengajak kepada kamu untuk beribadah kepada Allāh satu-satunya” Mendengar penuturan itu, raja lalu ingin memukul keduanya. Wahb berkata: Raja menahannya dan mencambuknya sebanyak seratus kali cambukan. Kabar itu lalu terdengar oleh ‘Īsa. Maka dia pun mengirimkan utusan yang ketiga. Al-Qurthubi melanjutkan bahwa ada yang mengatakan, dia adalah Syam’ūn, pemimpin para pengikut ‘Īsa, yang diutus untuk menolong keduanya. Ia bergaul baik dengan pengikut raja hingga dia berhasil mengambil hati mereka dan mereka pun tunduk kepadanya. Mereka kemudian menyapaikan pesannya kepada raja dan raja juga tunduk kepadanya, sehingga dia menunjukkan persetujuannya terhadap agamanya dan rela dengan jalan yang ditempuhnya. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 37)
    Pada suatu hari utusan ‘Īsa yang ketiga ini berkata kepada sang raja, “saya mendengar kamu menahan dua orang yang mengajakmu untuk menyembah Allāh. Bagaimana jika kamu menanyakan kepada keduanya, siapa orang yang dibelakangnya?” Raja menjawab, “kemarahan telah mengahalang antara aku dan keduanya untuk menanyakan hal itu” Utusan ‘Īsa berkata, “Bagaimana jika kamu mendatanginya?” Raja kemudian menyuruh untuk mendatangan keduanya. Syam’ūn,  lalu berkata kepada keduanya, “apa bukti dari kalian berdua atas apa yang kalian dakwahkan?” Keduanya berkata, “kami menyembuhkan orang yang buta dari lahir dan orang yang berpenyakit lepra.” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 37)
Masih dalam Al-QurṭubĪ, seorang anak yang matanya tertutup karena tonjolan di tempat itu didatangkan. Maka kedua utusan ini berdoa kepada Tuhannya, sehingga pecahlah tonjolan tersebut. Dia lalu mengambil dua gumpal tanah dan meletakkannya di pipinya. Ajaibnya, keduanya lalu menjadi mata yang dengannya dia dapat melihat. Raja merasa kagum dan berkata, “disini sesungguhnya ada seorang anak yang telah meninggal sejak tujuh hari dan aku belum menguburnya, hingga datang kedua orang tuanya, apakah Tuhan kalian berdua bisa menghidupkannya?” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 38)
Kedua utusan itu kemudian berdoa dengan suara keras. Sedangkan Syam’ūn,  berdoa dengan suara yang pelan. Tiba-tiba mayat itu berdiri dan berkata kepada semua orang, “Sesungguhnya aku telah meninggal sejak tujuh hari, dan aku mendapatkan diriku musyrik. Karena itu aku dimasukkan ke tujuh tempat di neraka. Maka aku peringatkan kepada kalian agar kalian beriman kepada Allāh. Pintu-pintu langit kemudian terbuka dan aku melihat seorang pemuda tampan meminta syafaat kepada ketiga orang itu; Syam’ūn,  dan kedua orang temannya, hingga Allāh menghidupkanku. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allāh satu-satunya dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa ‘Īsa adalah roh yang ditiupkan oleh Allāh dan diajak bicara oleh-Nya, dan bahwa mereka adalah utusan-utusan Allāh.” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 39)
Al-QurṭubĪ melanjutkan, orang-orang yang hadir berkata kepadanya, “Ini Syam’ūn,  juga bersama mereka?” dia menjawab, “Iya, dia adalah yang terbaik dari mereka” Syam’ūn,  lalu memberitahukan kepada mereka bahwa dia adalah utusan ‘Īsa kepada mereka. Perkataannya berpengaruh kepada raja, sehingga ia mengajaknya kejalan Allāh. Raja kemudian beriman ditengah banyak orang.
Al QusyairĪ mengisahkan, bahwa raja itu beriman dan kaumnya tidak beriman. JibrĪl berteriak dengan satu kali teriakan yang menyebabkan kematian orang-orang kafir yang masih hidup. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 39)
Diriwayatkan bahwa ‘Īsa ketika memerintahkan kepada mereka untuk pergi ke daerah itu, mereka berkata, “Wahai para NabĪ Allāh, sesungguhnya kami tidak tahu untuk berbicara dengan lisan dan bahasa mereka.” ‘Īsa lalu berdoa kepada Allāh untuk mereka sehingga mereka tertidur ditempatnya. Mereka bangun dari tidurnya, sedangkan malaikat telah membawa mereka ke negeri Anṭakiyaħ. Masing-masing orang dari mereka kemudian berbicara dengan bahasa kaum itu. Itulah maksud Allāh “Dan kami memperkuatnya dengan Rūhūl Quddūs” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 40)
Muqātil berkata, “mereka tertahan oleh hujan selama tiga tahun. Mereka lalu berkata, ‘nasib malang ini karena kamu’ ” Ada yang mengatakan bahwa utusan-utusan itu bermukim bersama mereka dan memberi peringatan kepada mereka selama sepuluh tahun. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 40)
Berbeda dengan pengakuan sang raja, penduduk negeri itu sangat geram dan marah mendengar kelantangan pengakuan dan nasihat ḤabĪb An-Najjār. Maka mereka melemparnya dengan batu hingga gugur sebagai syahid. Ketika iu datanglah malaikat menyambut ruhnya. Dikatakan kepadanya oleh para malaikat: “masuklah ke surga , yakni bergembiralah dengan surga yang akan engkau masuki kelak atau nikmatilah kenikmatan surgawi di alam kubur sebelum menikmati surga yang akan engkau huni” mendengar kabar tersebut, ia yang demikian suci hatinya lagi tidak menaruh dendam walau kepada para pembunuhnya berkata : “alangkah baiknya sekiranya kaumku mnegetahui ” yang sedang kau alami ini dan mengetahui pula apa yang menyebabkan Tuhan pemelihara yang selalu berbuat baik kepadaku mengampuni aku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan. Seandainya kumku mengetahuinya, tentulah mereka akan beriman dan patuh. (Shihāb, 2002, p. 137)
Menurut Qatadaħ, , umat tersebut merajam ḤabĪb An-Najjār dengan batu, sedangkan ḤabĪb An-Najjār sendiri terus mengatakan, “wahai Tuhanku, tunjukkanlah umatku, karena mereka tidak menegtahui” kaumnya tetap saja merajam dia sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya. (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3413)
Dalam (KaśĪr, 2010, p. 407) menyatakan bahwa disela-sela akhir dari kematiannya, laki-laki tersebut berbicara kepada para Rasūl sebagaimana Firman Allāh  yang artinya: “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (Qs. YāsĪn: 25)
    Ada yang menyatakan: “maka dengarlah ucapanku dan persaksikanlah hal itu dihadapan Rāb kalian”. Ada yang mengatakan makna ayat diatas: wahai kaum ku dengarlah keimananku kepada Rasūl Allāh  dengan terang-terangan ini. Saat itulah orang–orang membunuhnya. Ada yang mengatakan: orang-orang merajamnya. Ada yang mengatakan: orang-orang menyerangnya secara serempak dan membunuhnya.
Dari Ibn ‘Abbās, ia berkata: laki-laki tersebut ialah ḤabĪb An-Najjār. Ia gemar berṣadaqaħ, namun kaumnya telah membunuhnya. Oleh karenanya Allāh berfirman: “Dikatakan (kepadanya) masuklah ke surga” yakni setelah kaumnya membunuhnya, maka Allāh memasukkannya kedalam surga. Setelah ia melihat kebahagiaan dan keindahan di dalam surga, maka ia berkata: “alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan .” (QS. YāsĪn: 26-27) (KaśĪr, 2010, p. 408)
Lalu Allāh berfirman, yakni Kami tidak pelu menurunkan pasukan dari langit untuk membalas perbuatan mereka. Maka inilah yang diriwayatkan oleh Ibn Isḥāq dari sebagian sahabatnya dari Ibn Maṣ’ūd. Mujāhid dan Qatadaħ berkata: Makna: “Dan Kami tidak mengirim kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun” yakni risalah yang lain.” Ibn JarĪr  berkata: “pendapat yang pertama ialah pendapat yang benar” Aku berkata (Ibn Kaśir): Pendapat inilah yang lebih kuat. Oleh karena itu, Allāh berfirman: “dan tidak layak Kami menurunkannya” yakni kami tidak butuh untuk membalas hal ini ketika mereka mendustakan para Rasūl Kami dan membunuh para wali Kami. (KaśĪr, 2010, p. 409)
    Firman Allāh  SWT yang artinya: “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua mati.” (QS. YāsĪn: 29)
    Para ahli tafsir mengatakan: Allāh  mengutus malaikat JibrĪl untuk membuka dua daun pintu gerbang kota tersebut. Lalu ia berteriak kepada mereka dengan satu teriakan. Maka tiba-tiba mereka mati semua. Yakni suara tersebut menjadikan mereka tidak dapat bersuara dan tidak dapat bergerak. Tidak ada satu pun yang tersisa dari mereka.
Suara teriakan berasal dari JibrĪl ini pendapat para ahli tafsir. Jika pendapat ini bersumber dari Rasūl Allāh  maka kita wajib meyakini dan mengimaninya. Jika tidak bersumber dari beliau, maka hal tersebut tidak perlu diyakini. Karena bisa jadi malaikat selain JibrĪl yang melakukannya. (al-jazāirĪ, 2009, p. 163)
NabĪ Muḥammad mempersamakan sahabat beliau ‘Urwah bn mas’ūd dengan lelaki muslim tokoh kisah diatas. Urwah mengunjungi berhala yang disembah suatu kaum, yaitu al-lāt dan al-‘uzza sambil melecehkannya. Mereka marah lalu sang sahabat tersebut berseru: “Peluklah agama islam agar kalian selamat” tetapi salah seorang memanahnya dan mengenai urat nadi di lengannya sehingga beliau gugur. NabĪ bersabda “dia seperti seorang tokoh surat yasin yang berkata alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan tuhanku mengampuni aku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan’ ” (HR. AbĪ Ḥātim) (Shihāb, 2002, p. 138)
Kata AbĪ Laila: ada tiga orang yang tidak pernah kufur sekejap pun , yaitu ΆlĪ bn AbĪ Ṭālib, sahabat yāsĪn dan seorang mukmin dari keluarga Fir’aun. (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3407)    Kesemuanya  cerita diatas menunjukkan bahwa penduduk negeri ini bukan penduduk kota Anṭakiyaħ. Sebab penduduk negeri tersebut telah dihancurkan karena pendustaan mereka terhadap para Rasūl Allāh  yang diutus kepada mereka. Sedangkan penduduk Anṭakiyaħ beriman dan mengikuti utusan ‘Īsa dari kalangan ḥawāriyyūn yang diutus kepada mereka. Oleh karena itu,  dikatakan: Anṭakiyaħ adalah kota pertama yang beriman kepada ‘Īsa. (KaśĪr, 2010, p. 409)

Daftar Pustaka
‘AlĪ, A. A. (1994). Qur'an Terejmah dan Tafsirannya. Bogor: Pustaka Litera.
al-jazāirĪ, A. b. (2009). Tafsir Al Quran Al Aisar. Jakarta : Darus Sunnah.
Al-QurṭubĪ. (2009). Tafsir Al Qurthubi. Jakarta : Pustaka Azzam.
aṣ-ṣiddĪqy, T. m. (2000). Tafsir Al Quranul Majid An Nur. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.
KaśĪr, I. (2010). Kisah Para Nabi dan Rasul. Jakarta: Pustaka As-Sunnah.
Shihāb, Q. (2002). Tafsir Al Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
http://jivaagung.blogspot.co.id/2013/09/kisah-kaum-yasin-dalam-al-quran.html

KISAH KAUM YASINAlloh Subhanallahu Ta'ala berfirman
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلاً أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ {13} إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّآ إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ {14} قَالُوا مَآأَنتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَمَآأَنزَلَ الرَّحْمَنُ مِن شَىْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ تَكْذِبُونَ {15} قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّآ إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ {16} وَمَاعَلَيْنَآ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ {17} قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ {18} قَالُوا طَآئِرُكُم مَّعَكُمْ أَئِن ذُكِّرْتُم بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ {19} وَجَآءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ {20} اتَّبِعُوا مَن لاَّيَسْئَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ {21} وَمَالِيَ لآأَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {22} ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِ ءَالِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَـنُ بِضُرٍّ لاَّتُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلاَيُنقِذُونَ {23} إِنِّي إِذًا لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ {24} إِنِّي ءَامَنتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ {25} قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَالَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ {26} بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ {27} * وَمَآأَنزَلْنَا عَلَى قَوْمِهِ مِن بَعْدِهِ مِن جُندٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ {28} إِن كَانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ {29}

Dan buatlah bagi mereka
suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.(Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian kami kuatkan dengan (utusan) ketiga,maka ketiga utusan itu berkata:"Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu".Mereka menjawab:"Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka."Mereka berkata:"Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas".Mereka menjawab:"Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan mereajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami".Utusan-utasan itu berkata:"Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri.Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)?.Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata:"Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu.Ikutilah orang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Ilah) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya):"Masuklah ke surga".Ia berkata:"Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabbku memberikan ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.(QS.Yaasiin:13-29) Menurut mayoritas ulama Salaf maupan Khalaf bahwa negeri tersebut adalah Anthakiyyah. Pendapat ini sangat lemah, karena ketika al-Masih mengirimkan tiga orang utusan dari pengikutnya yang setia, mak Anthakiyyah adalah negeri yang petama kali beriman kepada al-Masih pada saat itu, Jadi, ia merupakan salah satu negeri dari empat kota di negeri tersebut, yaitu Anthakiyyah, al-Quds, Iskandariyyah, Rumiyyah,dan setelahnya al-Qasthanthiniyyah, (kostantinopel),yang mereka tidak dibinasakan. Dan penduduk negeri yang disebutkan di dalam al-Qur-an itu semuanya dibinasakan,sebagaimana yang difirmankan Allah Ta;ala paada akhir kisahnya setelah pembunuhan yang mereka lakukan terhadap seorang utusan yang jujur:

إِن كَانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ {29}

Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. (QS. Yaasiin:29)
Tetapi jika ketiga yang disebutkan di dalam al-Qur-an itu yang diutus kepada penduduk Anthakiyyah kuno, lalu mereka mendustakan dan akhrnya dibinasakan, dan setelah itu dibangun kembali hingga pada zaman al-Masih, mereka beriman kepada Rasul yang diutus kepada mereka. Maka pendapat seperti ini tidak ditolak. Wallahu a’lam.
Sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa kisah yang terdapat di dalam al-Qu-rana adalah kisah par sahabat al-Masih,maka berdasarkan keterangan di atas pendapat tersebut lemah, karena makna yang nampak dari redaksi al-Qur-an meninjukan, bahwa para Rasul itu adalah dari sisi Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman :

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلاً…{13}
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan.”(QS.Yaasiin:13)
Yakni, kepada kaummu hai Muhammmad.

إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ {13} إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ{14}
“Yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.(Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian kami kuatkan dengan (utusan) ketiga.”(QS.Yaasiin:13-14)
Maksudnya Kami perkuat mereka berdua dengn utusan yang ketiga.

فَقَالُوا إِنَّآ إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ {14}“
Maka ketiga utusan itu berkata:"Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu."(QS.Yaasiin:14)
Kemudian mereka menolak ketiganya sebagai utusan dan menganggap ketiganya sebagai manusia buasa seperti mereka, sebagaimana yang dikatakan umat-umat yang kafir kepada para Rasul mereka.Mereka menganggap bahwa Allah Ta;ala tidak mungkin mengutus manusia biasa sebagai Rasul. Kemudian para utusan itu menjawab bahwa Allah Ta’ala Mahamengetahui, bahwa mereka memang benar-benar Rasul yang Dia utus kepada kaumnya. Seandainya kami berdusta (dengan mengaku sebagai Rasul padahal bukan ),niscaya Dia akan menyiksa kami dengan siksaan yang sangat pedih.

وَمَاعَلَيْنَآ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ {17}
“Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas"(QS.Yaasiin:17) 
Maksudnya tugas kami hanyalah menyampaikan apa yang karenanya kami diutus kepada kalian. Sesungguhnya Allah yang memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan sipa saja yang Dia kehendaki pula.

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِن {18}“
Mereka menjawab:"Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu.”(QS.Yaasiin:18) 
Maksudnya, apa yang kalian bawa kepada kami itu hanya menjadikan kami itu hanya menjadikan kami bernasib malang saja.

لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ {18}
“Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu.”(QS.Yaasiin:18) 
Ada yang mengatakan:”Yaitu dengan ucapan.”Dan ada pula yang mengatakan:Yakni dengan perbuatan.”Pendapat yang itu pertama diperkuat dengan firman Allah Ta’ala:

وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ {18}
“Dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami”(QS.Yaasiin:18). 
Mereka menjanjikan pembunuhan dan kehinaan bagi kaum tersebut.

قَالُوا طَآئِرُكُم مَّعَكُمْ{19}“
.Utusan-utasan itu berkata:"Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri.”(QS.Yaasiin:19) 
Maksudnya, sebenarnya kemalangan itu akibat diri kalian sendiri.

أَئِن ذُكِّرْتُم{19}
“Apakah jika kamu diberi peringatan.”(QS.Yaasiin:19) 
Maksudnya, apakah karena kami menyampaikan petunjuk kepada kalian dan mengajak kalian kepada petunjuk itu, maka kalian mengancam kami dengan pembunuhan dan penghinaan. 
بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ {19}
“Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”(QS.Yaasiin:19) 
Yakni, mereka menolak dan tidak pula menginginkan kebenaran.

Diantara Kaum Yasin yang beriman .
Dan firman Allah Ta’ala :

وَجَآءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى{20}
“Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas” (QS. Yaasiin:20) 
Yakni,untuk membantu para Rasul dan memperlihatkan keimanan kepada mereka.

قَالَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ {20} اتَّبِعُوا مَن لاَّيَسْئَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ {21}
“Dia berkata:"Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu ikutilah orang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Yaasiin:21) 
Maksudnya, mereka menyeru kalian kepada kebenaran yang murni tanpa meeminta upah dan balasan. Kemudian utusan yang ketiga itu menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah saja, dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta melarang mereka beribadah kepada selain-Nya, sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat di dunia dan juga di akhirat
.
إِنِّي إِذًا لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ {24}
“Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yaasiin:24) 
Yakni, (aku berada dalam kesesatan) jika aku tidak beribadah kepada Allah dan bahkan beribadah kepada selain Allah.Kemudian kepada Rasul, dia mengatakan:

إِنِّي ءَامَنتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ {25}
“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.” (QS. Yaasiin:25) 
Ada yang berpendapat:”Maksudnya, dengarkanlah ucapanku dan jadilah kalian saksi bagiku di hadapan Rabb kalian.”Dan ada pula yang mengatakan :”Artinya, dengarkanlah, hai kaumku keimananku kepada Rasul-Rasul Allah secara terang-terangan.”Pada saat itu mereka membunuhnya.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Dia menasihati kaumnya semasa hidupnya dengan mengatakan:

قَالَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ {20}
”Dia berkata:"Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu” (QS. Yaasiin:20) 
Dan sepeninggalnya,dalam ucapannya:

قَالَ يَالَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ {26} بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ {27}
".Dia berkata:"Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,apa yang menyebabkan Rabbku memberikan ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".(QS.Yaasiin:27) 
Qatadah mengatakan:”Engkau tidak mendapati seorang mukmin kecuali dia itu tulus (dalam memberi nasehat),dan engkau tidak mendapatinya sebagai penipu.”Dan ketika dia melihat (dengan mataa kepalanya sendiri) apa yang Allah berikan kepadanya berupa kemuliaan dia berkata :

يَالَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ {26} بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ {27}
"Dia berkata:"Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,apa yang menyebabkan Rabbku memberikan ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".(QS.Yaasiin:27) 
Demi Allah dia sangat berharap seandainya kaumnya mengetahui apa yang dia lihat berupa kemurahan Allah Ta’ala.
Lebih lanjut, Qatadah mengemukakan:”Demi Allah, Allah tidak mencaci kaumnya setelah mereka membunuhnya.Allah berfirman:

إِن كَانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ {29}
Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.(QSYaasiin :29) 

Kebinasaan kaum Yasin. 
Dan firman Allah Ta’ala:

وَمَآأَنزَلْنَا عَلَى قَوْمِهِ مِن بَعْدِهِ مِن جُندٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ {28}
“Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.” (QS.Yaasiin:28) 
Artinya, dalam menuntut balas kepada mereka, Kami (Allah) tidak perlu menurunkan kepada mereka bala tentara dari kangit.

إِن كَانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ {29}
Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.(QSYaasiin :29) 
Para ahli tafsir mengatakan:”Allah Ta’ala mengutus kepada mereka Malaikat Jibril ‘alaihissalam, lalu dia membuka pintu gerbang negeri mereka seraya berteriak dengan satu kali teriakan, maka seketika itu juga mereka mati. Maksudnya, mereka tiada dapat bersuara dan bergerak, dan tidak seorang pun dari mereka yang tersisa.
Semuanya itu menunjukan, bahwasanya negeri itu bukanlah negeri Anthakiyyah, sebab mereka dibinasakan karena peilaku mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Allah yang diutus kepada mereka. Sedangkan penduduk Anthakiyyah itu beriman dan mengikuti para utusan Al-Masihyang berasal dari kalangan orang-orang yang setia kepadanya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa Anthakiyyah adalah kota yang pertama kali beriman kepada al-Masih.Wallahu a’lam. Anda mungkin juga meminathttp://itwonogiri.blogspot.co.id/2012/10/kisah-kaum-yasin.html

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer