Kesultanan Koto Anau Sumatera Barat

Awal Sejarah Koto Anau

Nagari Koto Anau merupakan bagian dari konfederasi Kubuang Tigo Baleh yang secara adat disebut sebagai Nagari Adik. Asal-usul nama Nagari Koto Anau berasal dari kata koto anam yang berarti enam buah koto (kampung) yaitu Anam Koto di Dalam dalam wilayah Kerajaan Koto Anau masa lalu yang meliputi Tanah Sirah, Koto Gadang, Batu Banyak, Koto Laweh, Limau Lunggo, dan Batu Bajanjang. Dalam perkembangan sejarahnya, setelah Kerajaan Koto Anau tidak eksis lagi, Batu Banyak, Koto Laweh, Limau Lunggo, dan Batu Bajanjang kemudian memisahkan diri dan membentuk nagari sendiri. Hanya Tanah Sirah dan Koto Gadang yang masih bertahan dan tetap menggunakan nama Koto Anau untuk menyebut nama nagarinya. Nama Nagari Koto Anau kadang-kadang juga disebut Koto Gadang karena pusat nagarinya berada di Koto Gadang.
Nagari Koto Anau terletak di daerah Kubuang Tigo Baleh yang setelah Indonesia merdeka merupakan bagian dari Kabupaten Solok. Bekas wilayah Kerajaan Koto Anau kemudian kemudian disebut Kecamatan Lembang Jaya yang wilayahnya di samping meliputi Anam Koto di Dalam juga mencakup Ampek Koto Kapak Redai yang merupakan bekas Kerajaan Camin Taruih dan Kerajaan Camin Talayang yang kemudian menjadi wilayah Gunung Selasih IV-Koto yang meliputi Bukik Sileh, Salayo Tanang, Kampung Batu Dalam, dan Simpang Tanjung Nan Ampek. Nagari Simpang Tanjung Nan Ampek dan Kampung Batu Dalam pada tahun 2002 memisahkan diri dari Kecamatan Lembang Jaya dan membentuk Kecamatan Danau Kembar.
Menurut Abdurrahman, seorang pemangku adat di Koto Anau, penduduk Koto Anau yang mula-mula berasal dari daerah Kerajan Melayu. Pimpinan rombongannya adalah Rajo Kaciak. Rombongan ini kemudian bertemu dengan rombongan yang datang dari Pariangan melalui Guguk. Tidak dapat diketahui waktu yang tepat mengenai kedatangan penduduk yang pertama di Koto Anau.
Dalam konfederasi Kubuang Tigo Baleh, Koto Anau dikenal sebagai adik, Guguak sebagai kakak, Solok sebagai mande (ibu), dan Selayo sebagai bapak (sumando). Sebagai mande Solok memiliki sembilan suku dan sembilan korong, Selayo sebagai bapak memiliki tiga belas suku dan tiga belas jorong, Guguk sebagai kakak memiliki enam suku dan tiga koto, dan Koto Anau sebagai adik memiliki tiga suku dan enam koto.
Menurut tradisi lisan yang disampaikan secara turun temurun di Kota Anau, diriwayatkan bahwa rombongan kakak yang datang dari Guguak mengantar rombongan adik untuk mencari daerah tempat pemukiman baru. Dalam perjalanan, mereka beristirahat di sebuah guguak (bukit kecil) untuk berunding mencari kata mufakat. Tempat tersebut kemudian dinamakan Guguak Bayua yang berarti guguak tampek baiyo (bukit kecil tempat bermusyawarah), yang terletak Jorong Kandang Jambu sekarang.
Setelah bermusyawarah, rombongan tersebut kemudian meneruskan perjalanan mereka sampai ke daerah yang sekarang bernama Panta yang maksudnya tempat mengantarkan rombongan adik. Kemudian dibuatlah pemukiman di Bancah dan Taratak Panai. Rombongan kakak yang datang dari Guguak kemudian kembali ke Guguak.
Setelah penduduk Bancah semakin banyak, disepakatilah untuk memcari daerah baru karena tanah pertanian sudah semakin sempit. Tempat yang dituju adalah daerah yangs ekarang bernama Koto Tingga dan Pakan Kamih. Dari sini pemukiman kemudian meluas ke Tanah Sirah yang disertai dengan pembukaan tanah baru untuk areal perladangan dan persawahan.
Bersamaan dengan itu, beberapa kepala kaum menuju ke daerah Ului. Sebagian di antaranya juga turun ke Bingkuang, langsung ke Pintu Raya, mendaki ke Batu Banyak, dan terus ke Simpang Tanjung Nan Ampek. Beberapa kepala kaum ada juga yang menyebar ke arah Sungai Janiah. Dari sini muncul ungkapan, Koto Nan Anam, Tanah Sirah, Sungainyo Janiah, Limau Lunggo Bajanjang Batu.
Di Nagari Koto Anau hanya terdapat tiga suku, yaitu Melayu, Caniago, dan Tanjuang. Suku Melayu terdiri dari lima korong, yaitu Melayu, Bendang, Madailiang, Panai, dam Sikuaji. Suku Caniago terdiri dari empat korong, yaitu Caniago Laweh, Caniago Sungai Dareh, Caniago Taruk Marunggai, dan Caniago Hilia (Supanjang). Suku Tanjuang terdiri dari empat korong, yaitu Tanjuang, Sikumbang, Payobada, dan Kutianyia.
Ciri khas di Nagari Koto Anau sehubungan dengan pendirian rumah gadang adalah rumah tersebut harus menghadap ke Gunung Talang yang melambangkan bahwa Gunung Talang merupakan tempat yang dihormati oleh masyarakat Koto Anau. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat pra-Islam yang menganggap bahwa puncak gunung merupakan tempat bersemayamnya dewa-dewi, sebagaimana Gunung Merapi yang sangat dihormati oleh masyarakat Luhak Tanah Datar.
Hampir semua rumah di Koto Anau memiliki atau dilalui oleh saluran air atau banda. Air ini terutama digunakan untuk mencuci dan berwudhu. Untuk mandi, sebelum memiliki kamar mandi masyarakat biasanya mandi di pincuran yang terdapat di semua surau yang ada di Koto Anau. Untuk memasak, sebelum masyarakat menggunakan air bersih dari mata air yang banyak terdapat di Nagari Koto Anau.
Di tengah-tengah Nagari Koto Anau mengalir Sungai Batang Lembang yang berhulu di Danau Dibawah dan bermuara di Danau Singkarak. Pada tahun 1978, aliran Sungai Batang Lembang yang cukup deras ini dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sebelumnya masyarakat Koto Anau juga telah mengenal listrik, yang digerakkan diesel yang dibeli dengan swadaya masyarakat. Listrik tersebut aktif tahun 1956 sampai tahun 1968.
Nagari Koto Anau memiliki luas wilayah 48 Km2 yang terdiri dari areal persawahan 1.300 Ha, tegalan/ladang 1.550 Ha, perumahan 800 Ha, dan lain-lainnya 1.550 Ha. Berdasarkan letak geografisnya, Nagari Koto Anau sebelah utara berbatasan dengan Nagari Muara Panas (Kecamatan Bukit Sundi), sebelah selatan dengan Nagari Batu Banyak dan Limau Lunggo, sebelah barat dengan Nagari Cupak (Kec. Gunung Talang) dan Sungai Janiah (Kec. Gunung Talang), sebelah timur berbatasan dengan Nagari Parambahan (Kec. Bukit Sundi).
Koto Anau dalam arti adat lama adalah suatu daerah yang wilayahnya meliputi Kecamatan Lembang Jaya dan Danau Kembar sekarang ditambah Sungai Janiah (sekarang bagian dari Kecamatan Gunung Talang). Daerah ini sebelumnya bernama Salasiah Anam Koto, gunungnya bernama Gunung Salasiah (sekarang Gunung Talang), dan di balik Gunung Salasiah terdapat Lubuak Salasiah.
Salasiah Anam Koto kemudian berubah nama menjadi Koto Nan Anam dan dalam perkembangan selanjutnya disebut Koto Anau. Sebelum tahun 1970-an, Koto Anau merupakan penghasil cengkeh yang terbesar di Minangkabau. Hasil bumi ini menyebabkan masyarakat Koto Anau hidup makmur dan berkecukupan sehingga dapat dikatakan merupakan nagari terkaya di Minangkabau pada waktu itu. Kekayaan Koto Anau ini menyebabkan banyak warga dari nagari-nagari di sekitarnya berdatangan ke Koto Anau untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Penyakit Mati Bujang dan Mati Gadis yang menyerang tanaman cengkeh di Koto Anau pada tahun 1970-an menyebabkan tanaman cengkeh banyak yang mati. Hal ini menyebabkan banyak orang Koto Anau yang kehilangan mata pencaharian sehingga banyak orang Koto Anau yang kemudian pergi merantau ke beberapa kota di Sumatera Barat dan di luar Sumatera Barat. Nagari Koto Anau yang pernah jaya dan menjadi nagari terkaya di Minangkabau pada masa lalu berkat cengkeh, sekarang tidak banyak lagi dikenal orang.
Sebagian besar perantau asal Koto Anau ini kemudian memilih profesi sebagai pedagang daging, terutama di Kota Solok, dan Padang. Profesi mereka ini menyebabkan orang Koto Anau di beberapa daerah di Sumatera Barat kemudian dikenal sebagai tukang bantai yang maksudnya tentu saja hanya untuk berolok-olok dan bercanda saja.
Generasi muda Sumatera Barat sekarang ini lebih mengenal Koto Anau sebagai nagari asal para pedagang daging yang banyak terdapat di berbagai kota di Sumatera Barat. Pasar Koto Anau yang dahulu merupakan gudang cengkeh terbesar dan sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai daerah di Sumatera Barat, sekarang sudah tidak ada lagi. Bekas pasar tersebut sekarang telah menjadi lokasi gedung SMA Negeri 1 Lembang Jaya.
rumah raja koto anau
Istana Kerajaan Koto Anau 
https://kotoanaublog.wordpress.com/awal-sejarah-koto-anau/

Kerajaan Koto Gadang Koto Anau

Koto Anau: Solok memiliki potensi wisata yang mungkin orang tidak banyak tahu, jika di Nagari Koto Anau ada sebuah kerajaan. Bahkan, kononnya kerajaan ini telah ada sejak abad 12 pada masa pemerintahan Pitalo Jombang yang menikah dengan Puti Sari Mayang yang merupakan kerabat Raja Melayu dari Jambi. Jadi berdirinya Kerajaan Koto Anau diduga, setelah keturunan Raja Melayu yang ada di Gunung Selasih (sekarang gunung Talang) turun dari tempat persembunyian tersebut.
Koto Anau
kerajaan koto gadang koto anau
Koto Anau
Namun hal yang paling menarik adalah terdapat hubungan kekerabatan dimana Raja Koto Anau dengan Raja Pagaruyuang memiliki ikatan garis keturunan berasal dari kerajaan melayu. Dalam buku ”Koto Anau dalam tinjauan historis dan wisata” karangan Zusneli Zubir terbitan BPSNT Padang tahun 2010, diceritakan bahwa bukti-bukti peninggalan Kerajaan Koto Anau antara lain rumah gadang Sembilan ruang, bekas istana raja Koto Anau yang berada di Kampung Dalam Koto Anau, Tepian Puti, tempat mandi para putrid raja, lurah atau ladang rajo, memiliki tiga balai, pandam kuburan, tombak pusaka, peralatan rumah tangga, batu angkek-angkek, lesung salirik tujuh dan ragam hias khas koleksi raja.

Potensi Wisata Koto Anau

koto anau wisata
Koto Anau
”Banyak hal dapat kita kembangkan di Koto Anau. Potensi wisata kotoanaukebudayaan juga merupakan salah satu nagari tertua  baik di kabupaten Solok maupun di Minangkabau selain Pariangan di Kabupaten Tanahdatar. Sejak zaman pra sejarah, peninggalan menhir ada sampai saat ini. Batu dakon juga ada. Istana Rajo Koto Anau juga ada. Ini akan menjadi ikon paling menjanjikan untuk pembangunan nagari Koto Anau ke depannya. Mari kita dukung untuk peduli dengan peninggalan sejarah,” jelas Dra Zusneli Zubir M Hum, salah satu pembicara dalam diskusi sejarah dan budaya Koto Anau.
Koto Anau Koto Anau

Bentuk Kerajaan Koto Anau

kerajaan koto anaudinding kerajaan koto anau
Bagian depan bangunan kerajaan koto anau ini memiliki model Surambi Aceh Bergonjong Tunggal dengan  tangga di kedua sisi. Serambi depan digunakan untuk menerima tamu bukan orang minang . Zaman dulu orang asing (bule) tidak diperbolehkan (tabu) masuk ke rumah gadang atau adat. Pesona ukiran warna-warna menjadi ciri khas rumah gadang. Motif Kuciang Lalok Jo Saik Galami menjadi ornamen daun jendela, sedangkan dindingnya bermotif Si Kumbang Manih. Serambi berlantai tegel dengan hiasan keramik warna-warni. Tepat di bawah  tulisan “Bagindo Yang Dipatuan” tertempel keramik bermotif bunga merah jambu
Koto Anau Koto Anau

Aura Mistis Kerajaan Koto Anau

misitis koto anau
Aura mistis terasa memasuki ruang tanpa sekat dengan pilar dan lantai kayu. Suasana terasa dingin meskipun cahaya matahari masuk melalui jendela. Meja dan kursi di tengah ruangan seolah telah lama menanti pemiliknya. Di sudut kiri ruangan teronggok peti dan beberapa perkakas  sisa kemasyuran Istana Koto Anau. Gong dan nampan kuningan terdiam sepi tanpa kemilau dimakan waktu. Saya tidak pernah menyangka perjalanan dan rasa penasaran menuntun ke  istana di Nagari Seribu Rumah Gadang. Sebuah mahakarya Indonesia  yang nyaris terlupakan.  Namun akhirnya membangkitkan seribu pertanyaan , membuat langkah  semakin jauh menyusuri  bumi Minang kabau
Koto Anau

Peninggalan Kerajaan Koto anau

peninggalan kerajaan koto anau keris koto anau
Koto Anau Koto Anau        Koto Anau             Koto Anau Koto Anau
Dan bukti dari peninggalan Kerajaan Koto Anau sampai saat ini masih terdapat di beberapa tempat di Nagari Koto Anau. Namun,  beberapa peninggalan sudah hancur bahkan ada yang hilang. Ini tentu harus segera diselamatkan. Karena jika tidak ada tindakan tentunya ini akan mencoret bangsa kita sendiri karena tidak menghargai sejarah dan melestarikan potensi wisatanya.
https://kotoanauno1.wordpress.com/kerajaan-koto-anau/

Kerajaan di Koto Anau, Tahukah Sanak ?

Kerajaan di Koto Anau
Kerajaan di Koto Anau, Tahukah Sanak...? Apakah anda perna ke Solok Sumatera Barat..? yang terletak di kabupaten  di Sumatera Barat terkenal akan penghasil beras terbaik. Terbukti dengan lahan sawah yang cukup luas Solok  merupakan salah satu daerah pengahasil beras di Sumatera Barat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok  beberapa waktu lalu berhasil membuktikan kepada masyarakat luas dengan meraih prestasi tingkat nasional.

Namun dibalik semua itu, seperti dilansir Ranah Urang Awak Solok juga memiliki potensi wisata yang mungkin orang tidak banyak tahu, jika di Nagari Koto Anau ada sebuah kerajaan. Bahkan, orang Koto Anau sendiri juga banyak tak tahu dengan keberadaan kerajaan Koto Anau tersebut. kononnya kerajaan ini telah ada sejak abad 12 pada masa pemerintahan Pitalo Jombang yang menikah dengan Puti Sari Mayang yang merupakan kerabat Raja Melayu dari Jambi. Jadi berdirinya Kerajaan Koto Anau diduga, setelah keturunan Raja Melayu yang ada di Gunung Selasih (sekarang gunung Talang) turun dari tempat persembunyian tersebut.

Dan setelah ia meninggal, keturunan Raja Koto Anau juga pernah menjadi wali nagari di Koto Anau. Antara lain Mohammad Saleh Dt Bagindo Yang Dipatuan (1902-1020)  dan Thaher Dt Bagindo Yang Dipatuan (1946-1948). Dan hingga saat ini ranji keturunan kerajaan Koto Anau sulit mencarinya.

Namun hal yang paling menarik yakni terdapat hubungan kekerabatan dimana Raja Koto Anau dengan Raja Pagaruyuang memiliki ikatan garis keturunan berasal dari kerajaan melayu. Dalam buku ''Koto Anau dalam tinjauan historis dan wisata'' karangan Zusneli Zubir terbitan BPSNT Padang tahun 2010, diceritakan bahwa bukti-bukti peninggalan Kerajaan Koto Anau antara lain rumah gadang Sembilan ruang, bekas istana raja Koto Anau yang berada di Kampung Dalam Koto Anau, Tepian Puti, tempat mandi para putrid raja, lurah atau ladang rajo, memiliki tiga balai, pandam kuburan, tombak pusaka, peralatan rumah tangga, batu angkek-angkek, lesung salirik tujuh juga ragam hias khas koleksi raja.

''tidak sedikit juga yang bisa kita kembangkan di Koto Anau. Potensi wisata buadayanya juga merupakan salah satu nagari tertua  baik di kabupaten Solok maupun di Minangkabau selain Pariangan di Kabupaten Tanahdatar. Sejak zaman pra sejarah, peninggalan menhir ada sampai saat ini. Batu dakon juga ada. Istana Rajo Koto Anau juga ada. Ini akan menjadi ikon paling menjanjikan untuk pembangunan nagari Koto Anau ke depannya. Mari kita dukung untuk peduli dengan peninggalan sejarah,'' jelas Dra Zusneli Zubir M Hum, salah satu pembicara dalam diskusi sejarah dan budaya Koto Anau.

Dan tentunya bisa kita lihat pula yang dapat kita saksikan dalam kegiatan ''Musyawarah Tungku Tigo Sajarangan'' di Nagari Koto Anau 17-18 Desember 2011. Kegiatan yang mendatangkan para perantau baik di Jawa maupun di Pekanbaru dibuka langsung oleh Bupati Solok Syamsu Rahim di Masjid Raya Koto Anau Sabtu 17 Desember 2011. Dengan berbagai kegiatan antara lain gelar seni anak nagari, makan bajamba, diskusi sejarah dan gerak jalan santai.

Adapun kegiatan  ini merupakan bagian dari ''Mambangkik Batang Tarandam Manaruko Maso Katibo''. Ini juga jadi tugas berat bagi masyarakat secara umum dan para cadiak pandai, alim ulama dan ninik mamak secara khusus. Lewat kegiatan ''musyarawarah tungku tigo sajarangan''  ini juga mengimpun kekuatan untuk membangun nagari dengan pendekatan budaya dan sejarah di kabupaten Solok.

Dan bukti dari peninggalan Kerajaan Koto Anau sampai saat ini masih terdapat di beberapa tempat di Nagari Koto Anau. Namun,  beberapa peninggalan sudah hancur bahkan ada yang hilang. Ini tentu harus segera diselamatkan. Karena jika tidak ada tindakan tentunya ini akan mencoret bangsa kita sendiri karena tidak menghargai sejarah dan melestarikan potensi wisatanya.
http://marathoncentral.blogspot.co.id/kerajaan-di-koto-anau-tahukah-anda.html

6 Keunikan Nagari Koto Anau

1.Geografis Koto Anau

Nagari dengan sistem pemerintahan masing-masing , dan mempunyai wilayah serta adat sendiri dalam mengatur tata kehidupan masyarakatnya.Rasa kebersamaan dalam hubungan masyarakat sangat menonjol dalam kehidupan sosial,manusia menurut sifatnya tidaklah dapat hidup sendiri dia membutuhkan pertolongan.Inilah yang menjadi dasar pergaulan hidup di Nagari Koto Anau .
Dalam kehidupan bermasyarakat timbulnya istilah barek sapikua,ringan sajinjiang,merupakan cerminan dari pola kehidupan masyarakat,dalam pergaulan tidaklah mungkin terlepas dari rasa kebersamaan.Dengan demikian,rasa kebersamaan itu merupakan kepentingan bersama dalam kehidupan yang dapat dilalui secara bersama-sama pula.

2.Istana Rajo di Koto Anau

 Nagari Koto Anau merupakan bagian dari konfederasi Kubuang Tigo Baleh yang secara adat disebut sebagai Nagari Adik. Asal-usul nama Nagari Koto Anau berasal dari kata koto anam yang berarti enam buah koto (kampung) yaitu Anam Koto di Dalam dalam wilayah Kerajaan Koto Anau masa lalu yang meliputi Tanah Sirah, Koto Gadang, Batu Banyak, Koto Laweh, Limau Lunggo, dan Batu Bajanjang. Dalam perkembangan sejarahnya, setelah Kerajaan Koto Anau tidak eksis lagi, Batu Banyak, Koto Laweh, Limau Lunggo, dan Batu Bajanjang kemudian memisahkan diri dan membentuk nagari sendiri. Hanya Tanah Sirah dan Koto Gadang yang masih bertahan dan tetap menggunakan nama Koto Anau untuk menyebut nama nagarinya. Nama Nagari Koto Anau kadang-kadang juga disebut Koto Gadang karena pusat nagarinya berada di Koto Gadang.

Nagari Koto Anau terletak di daerah Kubuang Tigo Baleh yang setelah Indonesia merdeka merupakan bagian dari Kabupaten Solok. Bekas wilayah Kerajaan Koto Anau kemudian kemudian disebut Kecamatan Lembang Jaya yang wilayahnya di samping meliputi Anam Koto di Dalam juga mencakup Ampek Koto Kapak Redai yang merupakan bekas Kerajaan Camin Taruih dan Kerajaan Camin Talayang yang kemudian menjadi wilayah Gunung Selasih IV-Koto yang meliputi Bukik Sileh, Salayo Tanang, Kampung Batu Dalam, dan Simpang Tanjung Nan Ampek. Nagari Simpang Tanjung Nan Ampek dan Kampung Batu Dalam pada tahun 2002 memisahkan diri dari Kecamatan Lembang Jaya dan membentuk Kecamatan Danau Kembar.

3.Seni Budaya Koto Anau

Tari ambek ambek
Koto Anau mempunyai beberapa tari tradisional namum pada artikel ini kita akan membahas tentang tari ambek ambek yang berasal dari daerah koto anau.
Tari Ambek-Ambek adalah tari yg berawal dari tingkah laku anak anak bermain,bergelut atau bercanda pura-pura berkelahi dengan menggunakan gerakan pencak atau merupakan olah gerak dan rasa sebagai satu bentuk materi permainan anak nagari. mungkin masih ada beberapa tari tradisional yang berasal dari koto anau

4.Kuliner Koto Anau
 
                Kalau bicara tentang kuliner Koto Anau jangan diragukan lagi kelezatannya,orang jawa bilang “MAK’NYOSS” hahahaha .
Contoh kuliner Koto Anau :
  • Rendang
Rendang Koto Anau berbeda dengan rendang pada umumnya,karena keawetannya bisa mencapai 3-6 bulan tanpa mengurangi cita rasanya.
·         Palai Ayam
  •  Asampadeh Ayam
  • Asampadeh Dagiang
  • Dendeng bakuah
  • Korma(Hati Sapi)
  • Samba Lado Cobek
5.Potensi Wisata

Seperti yang kita ketahui Pemandian Air Panas merupakan salah satu alternative liburan yang banyak dicari masyarakat. dan Pemandian Air Panas Koto Anau merupakan tempat wisata yang sangat luar biasa dan banyak di kunjungi terutama disaat liburan.
banyak tipe Pemandian Air Panas di koto anau, berikut kita telaah satu persatu tipe Pemandian Air Panas Koto Anau

A. Kolam Air Panas Atas

B. Kolam Air Panas Bawah 

6.Ekonomi Warga Masyarakat Koto Anau

                Pada umumnya ekonomi masyarakat Koto Anau adalah bertani,berdagang.Contohnya dari segi pertanian,beras Koto Anau sangat terkenal dengan rasanya yang enak.Dan hasil buminya cengkeh dan coklat,dll.Dan dari segi berdagang ,masyarakat Koto Anau banyak yang berdagang daging dan jual beli sapi.
http://desakukotooanau.blogspot.co.id/6-keunikan-nagari-koto-anau.html


Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer