DINASTI QAJAR Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

Dinasti Qajar (1785-1925)

A.                 Latar Belakang Berdirinya
Qajars adalah sebuah suku Turkmen yang lahir di tanah leluhur Azerbaijan, yang kemudian merupakan bagian dari Iran. Kemudian mereka menjadi salah satu diantara tujuh suku besar turkmen yang mendukung syafawi awal dan mengikuti Qizil-bazz. Dengan terjadinya diintegrasi pada kekaisaran syafawiyah pada awal abad ke-18, pemimpin-pemimpin Qajar yang berambisi mulai memainkan peranan yang lebih luas dari hak otonominya (local) dalam urusan-urusan Persia. Mereka mampu menghadapi permusuhan nadir syah, dan setelah meninggalnya Nadir syah berekspansi ke Persia Utara sampai ke Azerbaija, dimana pada tahun 1170 H/ 1757 M Agha Muhammad syah di kemudian hari menjadi gubernur . Dalam upaya meraih supremasi, Qajar mengalahkan Zand Syiraz, kesultanan Persiapun ditegakkan kembali. Meski tidak lama menguasai Georgia; dan syah Rukh dai Afsyariyah hengkang dari Khurasan. (Bosworth, 1980 : 202-204)
Agha Muhammad yang kelebihannya tak diragukan lagi sebagai seorang anak lelaki dia telah berhasil mengalahkan keponakan dari Nadir seorang pemimpin dinasti zand yang bernama Muhammad kharim khan. Setelah kematian Mohammad Karim Khan, penguasa Dinasti Zand, sebelah selatan Iran, Agha Mohammad Khan, seorang pemimpin dari suku Qajar, ditetapkan untuk menyatukan kembali Iran. Agha Mohammad Khan mengalahkan banyak saingan dan membawa semua Iran di bawah aturannya untuk mendirikan dinasti Qajar.
Pada tahun 1794 dia telah menaklukkan semua saingan, termasuk Lotf 'Ali Khan, yang terakhir dari Dinasti Zand. Agha Mohammad mendirikan pemerintahan di Teheran, sebuah desa di dekat reruntuhan kota kuno Ray. Tahun 1796 ia secara resmi diangkat sebagai penguasa. Dinasti Qajar merupakan salah satu kerajaan yang pernah menguasai Persia selama kurang lebih 146 tahun (1779-1925). Pendiri Dinasti ini adalah Agha Muhammad Khan dan sejak saatnya mulai dipakai gelar kerajaan Shah In-Shah Iran. Dalam masalah keagamaan Dinasti Qajar tidak jauh berbeda dengan Dinasti Safawi, dengan demikian faham Syi'ah masih sangat mendominasi sehingga tidaklah mengherankan jika dikatakan Iran Negara Syi'ah terbesar dan terkuat di dunia serta merupakan sumber dogma Syi'ah. Nashiruddin adalah pemimpin Dinasti Qajar keempat. Ia merupakan putera dari pe`mimpin ketiga Dinasti , dan memerintah dari tahun 1848-1896 M.
Pemimpin yang pernah memerintah Dinasti Qajar, yaitu :
·                     Fath Ali Shah Khan (1133 H/ 1721 M )
·                     Muhammad Hasan Khan (1163 H/ 1750 M)
·                     Husain Quli Khan (1184 H/ 1770 M)
·                     Agha Muhammad (1193 H/ 1779 M)
·                     Fat’h Ali Syah (1212 H/ 1779M)
·                     Muhammad (1250 H/1834 M)
·                     Nashiruudi (1264 H/ 1848 M)
·                     Muzhafarrudin (1313 H/ 1896 M)
·                     Muhammad Ali (1324 H/ 1907 M)
·                     Ahmad syah pahlevi (1327-1343 H/ 1907-1924 M)

B.                 Peradabannya dinasti Qajar
Di bawah Fath Ali Shah, dinasti Qajar melakukan perluasan dari utara ke Kaukasus Mountains, sebuah kawasan bersejarah dan berpengaruh. Ketika Mohammad Shah meninggal, anaknya Nashruddin menjadi penerusnya.  Selama Nashruddin Shah pemerintahan Barat berupa ilmu pengetahuan, teknologi, dan metode pendidikan yang diperkenalkan ke Iran dan negara modernisasi telah dimulai. Nashruddin Shah mencoba memanfaatkan rasa saling curiga antara Inggris dan Rusia ke Iran. Namun, dia tidak mampu mencegah Inggris dan Rusia mempengaruhi wilayah tradisional Iran. Mirza Taghi Khan Amir Kabir, adalah pengganti Nashruddin. Dengan kematian Mohammad Shah di 1848, Mirza Taghi bertanggung jawab untuk memastikan mahkota  raja jatuh ke tangannya. Ketika Nashruddin berhasil naik takhta, dan dijuluki Amir Kabir. Salah satu prestasi besar Amir Kabir adalah bangunan Darull-Funoon, universitas modern pertama di Iran. Darul-Fonoon didirikan untuk pelatihan kader baru administrator dan akuntan dengan teknik Barat. Dia menyewa para pakar dari Barat untuk menjadi instruktur serta mengajar mata pelajaran yang berbeda seperti Bahasa, Kedokteran, Hukum, Georgrafi, Sejarah, Ekonomi, dan Teknik.
Pada bulan Oktober 1851 dia diasingkan ke Kashan, tempat di mana dia akan dibunuh. Ketika NaserruDin Shah dibunuh oleh Mirza Reza Kermani anaknya Mozaffaruddin menjadi penggantinya. Mozaffaruddin Shah adalah seorang pemimpin lemah dan tak berguna, royal dan tidak adanya penerimaan tambahan masukan dana dari sumber lain kian mempersulit masalah keuangan. Orang mulai menuntut kerajaan untuk membatasi kekuasaan dan pembentukan supremasi hukum sebagai kekhawatiran atas campur tangan asing, terutama Rusia. Namun, Mozaffaruddin's putra Mohammad Ali Shah, dengan bantuan Rusia, berusaha untuk membatalkan konstitusi meniadakannya parlemen dan 
pemerintah. (http://msrizqi.blogspot.com/dinasti-dinasti-kecil-persia.html/ 10 okto 2012)
Hubungan diplomatic yang berkesinambungan dan regular dengan kekuatan-kekuatan eropa berlangsung sejak pemerintahan Fat’h Ali Syah, ketika Persia dicoba dekati oleh Inggris disuatu pihak, dan napoleon Prancis di lain pihak, disebabkan oleh letaknya yang strategis persisnya menghadap rute-rute perdagangan kea rah timur. Hasil sampingan perhatian dari barat ini berupa masuknya pendidikan dan teknik Eropa ke tubuh tentara Persia.
Selama abad ke Sembilan belas, imperialism tsar Rusia merupakan ancaman melalui perjanjian “Turkmenchay” pad tahun 1243 H/ 1828 M, Persia tidak lagi megklaim wilayah kekuasaan di Armenia Timur dan Caucasus sebagai miliknya. Tetapi gerakan Rusia di asia tengah menimbulkan bahaya potensial lebih lanjut lagi bagi perbatasan timur laut Persia. Untuk waktu yang lama, Qajar tidak dapat melepaskan warisan daerah takhlukan di timur yang ditinggalkan Syafawiyah dan Nadir, dan perselisihan dengan afganistan mengenai masalah Heart, terus berlangsung sampai tahun 1273 H/ 1857 M.
Berkat kekuatan-kekuatan besar dan kecerdikan Nashiruddin shah Persia jauh lebih berhasil dibandingkan kekaisaran Ustmaniyah dalam mempertahankan integritas teritorialnya. Sekalipun demikian biaya perang dan kemewahan raja membuat bangsa ini menanggung untung luar negeri yang besar, sehingga semakin memperkuat cengkeraman ekonomi bangsa-bangsa kreditor Eropa. Selama pemerintahan Muzhafarrudin Shah yang lebih lemah, muncul suatu gerakan yang menuntut adanya liberalisme politik dan konstitusi, tuntutan yang terpaksa dipenuhi pada tahun 1906 M.
Selama perang dunia pertama, Persia secara resmi tetap netral. Meskipun demikian pasukan-pasukan Turki, Rusia dan inggris berperang memperebutkan tanahnya dan pada akhir perang ini bermunculan pemberontakan local dan gerakan separatism di berbagai provinsi. Karena itu, tidak sulit bagi prajurit Riza Khan (panglima tertinggi tentara) untuk mendesak siding nasional menyingkirkan Qajar pada tahun 1924 M, yang setelah ini dia sendiri berkuasa di Persia sebagai Riza Syah Pahlevi, ayahnya bernama Muhamad Ridha. Dan berakhirlah kekuasaan dinasti Qajar di Persia.
http://nilmayola.blogspot.co.id/2013/04/dinasti-qajar-1785-1925.html

DINASTI QOJAR

ASAL USUL DINASTI QOJAR
            Qojar adalah Dinasti yang berkuasa di Persia dan berpusat di Iran selama kurang lebih 150 tahun (1779 – 1924). Nenek moyang Dinasti Qojar adalah bangsa Turki. Selama abad le-14, mereka bergerak memasuki kawasan Persia, Irak dan kawasan lain di Timur Tengah. Nama Qojar sediri diambil dari nama salah seorang tokoh mereka, yaitu Qojar Noyan, putra Sertaq Noyan, yang bekerja pada Dinasti Ilkhaniyah sebagai tutor Gazan Khan. Karir Qojar Noyan berakhir dengan dengan kematiannya di tangan Raja Baidu (w. 1295), karena tuduhan bersekongkol dengan penguasa sebelumnya yaitu Gaykatu (1291 – 1295).
            Pada awal abad ke-16, suku Qojar tampil memainkan peran dalam pejalanan sejarah Islam ketika ia besama enam suku Turki lainnya bergabung dalam barisan tentara Qizilbash ikut mendirikan Dinasti Safawi. Mengiringi kejatuhan Dinasti Safawi, Persia memasuki masa panjang pergolakan politik dan sosial. Suku Bakhtiyari, Qasyqayi, Afsyari, Zand dan Qojar saling betempur memperebutkan dominasi pusat kekuasaan. Pergolakan politik dan sosial tersebut baru berakhir ketika Aga Muhammad Khan, dari suku Qojar berhasil menduduki singgasana kerajaan. Kemudian ia menggalang aliansi militer dengan suku Bakhtiyari dan Afsyari untuk menaklukkan wilayah tengah Persia. Dan dengan bantuan penguasa propinsi Syiraz, Aga Munammad Khan berhasil mengalahkan Dinasti Zand, sehingga daerah selatan Persia jatuh ke tangannya. Pada tahun 1779 Aga Muhammad Khan menjadi penguasa de facto atas hampir seluruh wilayah Persia.
PERKEMBANGAN DINASTI QOJAR
1. Agha Muhammad Khan (1779 – 1797)
               Pada masa pemerintahan Agha Muhammad Khan, banyak disibukkan dengan perluasan wilayah-wilayah kekuasaannya seperti propinsi Syiraz, Isfahan, Tabriz dan Masyhad. Dia memusatkan kekuasaannya di Teheran sebagai ibu kotanya.
Ciri-ciri pada masa kekuasaan Aga Muhammad Khan
a.    Kepemimpinan Negara didasarkan kepada adat istiadat kesukuan dengan melibatkan secara langsung pemimpin Negara untuk membangun jaringan antarsuku.
b.   Mengadakan kerjasama antarsuku guna memerangi suku lain yang menjadi saingannya, sekaligus memperkuat kekuasaannya sendiri.

2. Fath Ali Syah (1797 – 1834)
Ciri-ciri pada masa kekuasaan Fath Ali Syah
  1. Pengembangan birokrasi Negara pada seluruh level pemerintahan dengan Teheran sebagai pusat kekuasaannya.
  2. Pembangunan angkatan bersenjata yang permanen.
  3. Pemberlakuan etika kerajaan sebagaimana dipakai oleh kerajaan Persia Kino.
Perkembangan dan perubahan birokrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata tersebut berkaitan erat dengan masuknya pengaruh Eropa ke Persia pada awal abad ke-19. Namun, masuknya Negara-negara Eropa seperti Rusia dan Inggris memiliki misi tertentu untuk menguasai daerah kekuasaan Qojar Persia. Pada tahun 1813, Dinasti Qojar mengalami kekalahan perang dengan Rusia, sehingga harus menandatangani perjanjian Gulistan yang menyatakan bahwa daerah Georgia, Kaukasus dan pengawasan pelayaran Laut Kaspia menjadi daerah kekuasaan Rusia, yang sebelumnya menjadi kekuasaan Dinasti Qojar. Hal tersebut menurunkan reputasi Dinasti Qojar di mata rakyat.
Rusia memperlakukan rakyat terutama para ulama dan penduduk muslim dengan kejam di daerah Kaukasus, ini merupakan ancaman langsung terhadap eksistensi umat Islam di Persia. Melalui mimbar khotbah dan pengajian, ulama mendesak pemerintah untuk melaksanakan jihad melawan Rusia. Fath Ali Syah memenuhi tuntutan rakyat sehingga pada tahun 1826 ia menyatakan perang melawan Rusia. Namun, untuk kedua kalinya Qojar mengalami kekalahan dan harus menandatangani perjanjian Turkomanchai pada tahun 1828 yang menyatakan:
1.      Propinsi Erivan dan Nakhichevan harus diserahkan kepada Rusia
2.      Rusia mendapat konsesi tarif yang rendah di bidang perdagangan
3.      Rusia mendapatkan rampasan perang yang banyak
4.      Kebebasan memberlakukan hokum Rusia bagi orang Rusia yang berada di Kerajaan Qojar.
          Di pihak lain, perjanjian Turkomanchai ini mengakibatkan ekonomi rakyat lumpuh karena mereka terkena beban pajak dan tariff yang tinggi. Pemberontakan suku-suku timbil di mana-mana, sehingga stabilitas politik terganggu dan pusat pemerintahan Teheran menjadi lemah. Kondisi yang demikian terus berlangsung hingga Fath Ali Syah wafat pada tahun 1834.

          3. Muhammad Syah (1834 – 1848)
          Pengangkatan Muhammad Syah sebagai raja Dinasti Qojar berjalan lancar berkat keterlibatan diplomatic Inggris dan Rusia. Bahkan inggris memberikan dukungan langsung secara militer dalam rangka menindas gerakan oposisi suku-suku local terhadap tahta kekuasaan Muhammad Syah. Dan sebagai imbalannya Muhammad Syah memberikan konsesi di bidang tarif dan hak ekstra territorial pada tahun 1836 dan 1841, pimpinan Qojar menandatangani pakta perjanjian. Pakta ini menguntungkan Inggris karena memperoleh keistimewaan-kwiatimewaan sebagaimana diberikan penguasa Qojar sebelumnya kepada Rusia.
          Meningkatnya pengaruh Inggris dan Rusia menghadirkan dampak yang sangat dalam terhadap kehidupan rakyat Persia. Perkembangan industrialisasi di Eropa yang begitu pesat tidak saja membutuhkan bahan mentah untuk mekanisme industri, melainkan juga membutuhkan daerah-daerah untuk pemasaran produksi yang dihasilkan. Konsesi yang diberikan kepada Inggris dan Rusia telah menghasilkan perdagangan bebas di Persia dan mengakibatkan ekonomi Eropa semakin menusuk jantung perekonomian masyarakat Persia. Barang yang diproduksi oleh berbagai pabrik di Inggris dan Rusia dengan harga murah dan tarif import yang rendah mulai membanjiri Persia. Sebaliknya, para pedagang local menjadi lemah karena kualitas barangnya lebih rendah dan harus membayar pajak yang tinggi.
          Cengkraman kekuatan asing terhadap berbagai aspek kehidupan, terutama ekonomi perdagangan, yang menyebabkan kelumpuhan ekonomi rakyat, telah menumbuhkan kebencian dan perlawanan terhadap kekuatan asing tersebut. Diantara gerakan perlawanan terpenting pada masa Muhammad Syah adalah perlawanan kelompok masyarakat Syi’ah Ismailiyah di bawah pimpinan Aga Khan, di wilayah Iran tengah dan selatan. Namun, Dinasti Qojar dengan bantuan militer Inggris dapat memukul mundur perlawanan tersebut. Di samping itu juga ada gerakan perlawanan yang dikenal dengan gerakan Mesiah, Pendiri gerakan ini adalah Sayid Ali Muhammad yang lahir di kota Syiraz pada tahun 1819. dalam waktu yang relative singkat (1844 -1850), gerakan ini telah menjadi gerakan perlawanan yang bersifat nasional dan telah menggoncang stabilitas politik Dinasti Qojar dan kepentingan asing di dalam negeri Qojar. Di tengah situasi seprti ini, Muhammad Syah meninggal dunia pada tahun 1848.

          4. Nasiruddin Syah (1848 – 1896)
Di bawah perlindungan dan jaminan Inggris Rusia, Nasiruddin Syah, naik menduduku tahta kerajaan dan menjadi penguasa Qojar yang paling lama berkuasa yakni dari tahun 1848 sampai 1896. Awal kekuasaan Nasiruddin Syah disibukkan dengan pemberontakan gerakan Mesiah. Pada tahun 1850 Nasiruddin dapat menangkap dan mengeksekusi pimpinan gerakan Mesiah, Sayid Ali Muhammad, dengan dukungan dan bantuan Inggris dan Rusia. Kesuksesan membasmi gerakan Mesiah tidak menjadikan Dinasti Qojar semakin mandiri. Sebaliknya, Dinasti Qojar semakin terjerembak dalam kekangan Inggris dan Rusia. Beberapa daerah kekuasaannya seperti Tashkent, Samarkand dan Bukhara dicaplok oleh Rusia. Dan pada tahun 1857 Nasiruddin mengalami kekalahan perang dan harus menandatangani perjanjian Paris yang menyatakan bahwa:
1.      Qojar harus keluar dan membebaskan daerah Heart
2.      Qojar harus mengakui kemerdekaan Afghanistan
3.      Memberikan konsesi perdagangan yang lebih luas kepada Inggris.
Pada tahun 1872 Nasiruddin mengadakan kerjasama dengan perusahaan Baron de Reuter dari Inggris untuk melakukan modernisasi dengan mengadakan perubahan-perubahan diantaranya:
a. Di bidang Ekonomi
1.      Pembangunan jalan rel kereta api
2.      Pengadaan listrik
3.      Mengekplorasi sumber mineral dan logam
4.      Membangun kanal dan irigasi seluruh negeri
5.      Membangun jalan raya
6.      Membangun jaringan telepon
7.      Membangun pabrik-pabrik
8.      mendirikan bank nasional
b. Di bidang Militer
1. Pendidikan prajurit yang memadai
c. Di bidang Pendidikan
1.  Mendirikan perguruan tinggi modern “Darul Funun”
2. Administrasi dan birokrasi berbasis kekuasaan pemerintah pusat ala Eropa.
3. Penterjemahan buku ilmu pengetahuan dari bahasa Eropa ke dalam bahasa Persia
Dengan demikian, periode ini merupakan masa awal yang berpengaruh besar pada kebangkitan dunia pendidikan Iran di kemudian hari.
 Pada tahun 1890, Nasiruddin memberikan konsesi kepada perusahaan Talbot dari Inggris untuk memonopoli produksi, penjualan dan ekspor tembakau yang banyak ditanam petani Iran. Modernisasi yang dilakukan oleh Nasiruddin Syah menimbulkan kebencian dan perlawanan masyarakat. Para intelektual menyerang kediktatoran para penguasa dan praktek korupsi yang meluas di kalangan penguasa. Kaum Bazari, memprotes atas konsensi yang diberikan Syah kepada orang asing yang mengakibatkan mereka bangkrut dan kalah bersaing. Para petani memprotaes rendahnya daya jual hasil pertaniannya. Dan para ulama memandang bahwa kuatnya pengaruh asing akan membahayakan keberadaan agama Islam di Iran.
    Berbagai kebencian tersebut kemudian berkembang menjadi perlawanan nasional pada tahun 1891 – 1892. Ulama, intelektual, kaum Bazari, petani dan sebagian aparatur pemerintah berkoalisi berdemonstrasi di berbagai kota penting seperti Syiraz, Isfahan, Tabriz dan Masyhad. Sebuah fatwa dikeluarkan oleh Mirza Husein Syirazi, pemimpin ulama tertinggi (Marja’ at-Taqlid) komunitas Syi’ah, untuk melakukan boikot terhadap monopoli tembakau dan penghapusan konsesi yang diberikan kepada Inggris. Inilah yang kemudian disebut sebagai “The Tobacco Movement”. Akhirnya Nasyiruddin Syah mengabulkan tuntutan para demontran dan sebagai akibatnya Dinasti Qojar menanggung hutan 500.000 pound sterling.
Untuk membayar hutang Nasiruddin meminjam kepada Rusia. Hal tersebut membuat kemarahan rakyat timbul kembali dan pada tahun 1896 Nasiruddin Syah akhirnya dibunuh oleh salah seorang pengikut al-Afgani.

5. Muzaffaruddin Syah (1896 – 1907)
Di bawah pemerintahan Muzaffaruddin Syah, keadaan Dinasti Qojar semakin melemah. Masa kekuasaannya lebih banyak diwarnai oleh perebutan pengaruh antara Inggris dan Rusia, oposisi rakyat semakin kuat dan hutang yang semakin banyak.
Pada tahun 1900 Syah mendapat pinjaman dari Rusia sebesar 2.400.000 pound sterling dan dua tahun kemudian 1902 menerima penjaman kembali sebesar 10.000.000 rubel. Hutang Syah yang meninggi, cengkeraman Rusia dan Inggris yang semakin kuat serta memburuknya perekonomian rakyat membuat suhu kebencian oposisi rakyat terhadap Dinasti Qojar semakin menaik. Situasi yang demikian membuat terwujudnya apa yang dikenal dalam sejarah dengan “Revolusi Konstitusional (1905 – 1911)
Revolusi tersebut memaksa agar Muzaffaruddin mendirikan Majelis Nasional, yang akhirnya didirikan pertama kali pada awal Agustus 1906 di Iran. Dengan kehadiran Majelis Nasional tersebut kehidupan rakyat mengalami perubahan hingga meninggalnya Muzaffaruddin Syah pada tahun 1907.

6. Muhammad Ali Syah (1907 – 1909)
Muhammad Ali Syah sangat membenci Majelis Nasional dan berambisi untuk membubarkannya. Dengan menggunakan kekuaran militer dan dibantu oleh Rusia akhirnya Syah dapat membekukan Majelis Nasional bahkan membunuh beberapa anggata Majelis Nasional.
Kejadian tersebut membuat perlawanan rakyat meluas kembali dan menuntut agar Majelis Nasional bentuk kembali. Pada tahun 1909 akhirnya Majelis Nasional dibentuk kembali dan menuntut agar Muhammad Aki Syah Mundur dari jabatannya. Dan digantikan oleh putranya.

7. Ahmad Syah (1909 – 1925)
Dinasti Qojar tidak mengalami kemajuan yang berarti di bawah pimpinan Ahmad Syah. Bahkan sebaliknya, kesatuan kedaulatan Qojar terpecah-pecah, wilayah utara Iran di bawah pengawasan Rusia, wilayah selatan di bawah pengawasan Inggris dan hanya wilayah tengah yang sempit sebagai zona netral. Di tambah lagi selama perang dunia 1, Iran digunakan sebagai salah satu medan pertempuran yang membuat Qojar semakin terpojok dan mengalami kerusakan ekonomi yang parah.
Lemahnya kekuasaan pusat Dinasti Qojar dimanfaatkan oleh Reza Syah, seorang militer karir, yang melakukan persiapan untuk mengambil alih kekuasaan. Dengan menggalang aliansi bersama Kabinet Ziauddin dan Qawam as-Sultanah, posisi reza Syah semakin kuat. Dengan dukungan militer yang terdidik secara modern dan terlatih, Reza Syah kemudian mengontrol hamper seluruh birokrasi pemerintahan. Dan pada tahun 1925 Reza berhasil mengahiri keberadaan Dinasti Qojar dengan memecat Ahmad Syah sebagai penguasa terakhir. Sebagai gantinya, Reza memproklamirkan berdirinya Dinasti Pahlevi dan ia sendiri menjadi raja yang pertama.
KEMAJUAN-KEMAJUAN YANG DICAPAI DINASTI QOJAR
            Pada masa pemerintahan Nassiruddin Syah dengan bantuan kapitalis-kapitalis asing (Inggris), Baron Julius de Reuter mengadakan pembangunan lintasan kereta api, menambang sejumlah tambang mineral dan baja, membangun kanal dan proyek irigasi, proyek jalan raya, telegrap, dengan royalti pada Shah Qojar. Tahun 1889 dengan bantuan Inggris Bank Kerajaan (Imperial Bank) didirikan. Tahun 1890 sebuah perusahaan swasta Inggris (Mr. Talbot) diberi hak monopoli industri tembakau Iran termasuk memonopoli penjualan dalam negeri maupun ekspor. Tembakau adalah komoditas yang populer dan digemari oleh masyarakat Iran pada saat itu. Rusia juga mendirikan Discount Bank of Persia di Teheran pada tahun 1891.
            Darul Funun didirikan di Teheran pada tahun 1851, Sekolah Politeknik yang merupakan salah satu bagian dari modernisasi yang dicanangkan oleh Mirza Taqi Khan Amir Kabir (Perdana Menteri Nassiruddin Qajar). Darul Funun merupakan lembaga pendidikan yang cenderung sekuler, berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan yang dirikan komunitas agama.
Darul Funun juga berfungsi sebagai pencetak tenaga militer yang baru dalam bidang balistik (roket militer) dan teknik militer serta pegawai sipil. Demikian juga di bidang pengobatan, ilmu pengetahuan dan matematika. Buku-buku Barat diterjemahkan ke dalam Bahasa Persia, banyak pula majalah dan buku yang diterbitkan. Sekolah-sekolah missionaris yang didirikan di Iran juga banyak mendatangkan teknik-teknik Barat ke Iran. Bahkan antara tahun 1878 dan 1880 penasihat Rusia dan Austria turut membantu Iran dengan mengorganisir kembali pasukan kaveleri dan membentuk Brigade Cossack (Kozak) .
KEMUNDURAN DAN KERUNTUHAN DINASTI QOJAR
Sebagai akibat interaksi antara Iran dengan bangsa Barat. Berkembang paham-paham baru dari Barat serta bertambahnya kaum intelektual di Iran pada masa sesudahnya. Adanya pandangan bahwa modernisasi Iran adalah satu-satunya cara yang efektif untuk melawan kekuasaan asing dan untuk memperbaiki kondisi kehidupan sebagian besar masyarakat Iran. Komunitas yang terdiri atas orang-orang yang berpendidikan Barat dan pejabat pemerintah Qajar yang terlibat dengan Eropa serta komunitas minoritas yang lebih radikal berkolaborasi dalam gerakan yang menentang Shah Qajar (negara).
Antara tahun 1891-1892 komunitas agama bersama dengan pedagang, intelektual liberal serta para pegawai mengadakan demonstrasi besar-besaran dan memboikot monopoli tembakau pada perusahaan Inggris. Para ulama memimpin demonstasi ini di berbagai kota seperti Shiraz, Isfahan, Tabriz dan Mashad, yang terkenal dengan Pemberontakan Tembakau (Tobacco Protest 1891-1892).
Peristiwa penting di Iran pada awal abad ke-20 selain ditemukannya sumber minyak bumi adalah ”Revolusi Konstitusional".  Peristiwa yang terjadi pada periode Dinasti Qajar ini mengakhiri kekuasaan absolut raja. Revolusi ini merupakan bentuk gerakan nasionalisme rakyat Iran pada abad ke-20.
Pada tahun 1925 Dinasti Qojar ditumbangkan oleh Dinasti Pahlevi. Terdapat faktor internal dan eksternal yang menyebabkan hal ini terjadi. Faktor internal yang paling menonjol adalah lemahnya pemerintahan pusat dan terjadinya pemberontakan-pemberontakan lokal. Berbagai pemberontakan itu tidak mampu dibendung dan diredam oleh pemerintahan pusat sebagai pengendali utama keamanan, semakin lama pemberontakan itu menggerogoti kekuasaan Dinasti Qojar dan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk berlawanan dengan kekuasaan Dinasti Qojar.
            Faktor eksternal yang muncul adalah pecahnya Perang Dunia I yang menjadikan Iran sebagai arena pertempuran, walaupun secara politik posisi Iran dalam perang itu adalah netral. Rusia ngotot untuk mempertahankan cadangan minyak di Baku dan Laut Kaspia. Tentara Ru¬sia terlibat dalam pertempuran sengit dengan tentara Turki di Iran barat laut. Imperialis Inggris, di pihak lain, mempertahankan kepentingan mereka di ladang minyak Khuzistan. Situasi pelik dan kacau demikian itu menyulut Sayid Ziauddin Taba Tabai, seorang politisi Iran, dan Reza Khan, seorang perwira kavaleri, memanfaatkan situasi untuk melancarkan pemberontakan atas dinasti Qojar.
http://hadifauzan.blogspot.co.id/2012/01/makalah.html

Dinasti Qajar

Dinasti Qajar (juga dikenal sebagai Ghajar atau Kadjar)(bahasa Persiaسلسله قاجاریه - atau دودمان قاجار) adalah sebutan umum untuk menggambarkan Iran (kemudian dikenal sebagai Persia) dibawah keluarga kerajaan Qajar yang berkuasa yang memerintah Iran sejak 1794 hingga 1925. Tahun 1794 keluarga Qajar mengambil alih Iran sepenuhnya setelah mereka menyingkirkan semua pesaingnya, termasuk Lotf 'Ali Khan, yang terakhir dari dinasti Zand, dan telah mengembalikan kedaulatan Persia di bekas teritori Iran di Georgia dan Kaukasus. Tahun 1796 Āghā Moḥammad Khān ditetapkan sebagai shah (kaisar atau raja).

Shah Persia, 1794-1925

  • Agha Mohammad Khan Qajar (1794-1797)
  • Fath Ali Shah (1797-1834)
    • Adel Ali Shah (16 November 1834-16 December 1834); Memerintah di Tehran[3]
    • Hossein Ali Shah (5 Desember 1834-April 1835); Memerintah di ShirazFars[4]
  • Mohammad Shah Qajar (8 November 1834-1848); Memerintah di Tabriz mulai 8 November hingga 31 Januari 1835. Dimahkotai di Tehran sebagai Shah Persiatanggal 31 Januari 1835.
  • Nasser-al-Din Shah (1848-1896)
  • Mozaffar al-Din Shah Qajar (1896-1907)
  • Mohammad Ali Shah (1907-1909)
  • Soltan Ahmad Shah Qajar (1909-1925)

Anggota terkenal keluarga Qajar

Politik
  • Abdol Hossein Mirza Farmanfarma, Perdana Menteri Persia.
  • Mass'oud Mirza Zell-e Soltan, Gubernur Provinsi Isfahan.
  • Abbas Mirza, pewaris mahkota Fath Ali Shah dan pemimpin militer.
  • Firouz Mirza Nosrat-ed-Dowleh Farman Farmaian III, politikus terkenal dan diplomat.
Literatur
  • Iraj Mirza, penyair Iran.
Budaya populer
  • Marjane Satrapi, novelis grafis Iran.
  • Sarah Shahi, aktris Amerika; ayahnya seorang Qajar IRan.
BenderaLambang
Lagu kebangsaan
Salâmati-ye Shâh
Map of Iran under the Qajar dynasty in the 19th century.
Ibu kotaTehran
BahasaPersia
Turk
Bentuk PemerintahanMonarki absolut (1785–1906)
Monarki konstitusional(1906–1925)
ShahMirza
 - 1794–1797Mohammad Khan Qajar
 - 1909–1925Ahmad Shah Qajar
Perdana menteri
 - 1906Mirza Nasrullah Khan
 - 1923–1925Reza Pahlavi
Sejarah
 - Naik ke kekuasaan1785
 - Perjanjian Gulistan1813
 - Perjanjian Turkmenchay1828
 - Revolusi konstitusional1906
 - Dinasti Pahlavimengambil kekuasaan1925
Mata uangToman 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer