DINASTI MURABITHUN Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

DINASTI MURABITHUN

DINASTI MURABITHUN

A.    Proses Berdiri dan Berkembangnya Dinasti  Murabithun

           Murabithun adalah salah satu dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi. Nama Murabithun berkaitan erat dengan nama tempat tinggal mereka (ribat, semacam madrasah). Mereka biasa juga diberi sebutan al-mulassimun (pemakai kerudung sampai menutupi wajah). Asal usul dinasti dari Lemtuna, salah satu puak dari suku Senhaja. Berawal dari 1000 anggota pejuang. Diantara kegiatan mereka adalah menyebarkan agama Islam dengan mengajak suku-suku lain menganut agama Islam seperti yang mereka anut. Mereka mengambil ajaran mazhab Salaf secara ketat. Wilayah mereka meliputi Afrika Barat Daya dan Andalus. Pada mulanya gerakan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi religio militer.  
          Dalam meyiarkan Islam  dengan sebutan al-Mulassimun juga dinyatakan oleh Dr. Ali Mufrodi: ” mereka menyiarkan Islam dengan semangat dan menggunakan cadar, sehingga dinamakan al-Mulassimun (orang-orang yang bercadar) ”.
          Perkataan “al-Murabithin “ sebagaimana di tulis oleh Greet, berasal dari bahasa Arab”murabith” yang dalam bahasa Perancis disebut “marabout”, bermakna mengikat, menyimpulkan, memasang, melekatkan, mengaitkan dan menambatkan. Dengan demikian seorang Marabout atau Murabith adalah orang yang terikat, tertambat kepada Tuhan, bagaikan seekor unta yang diikat pada tiang tambatan, atau kapal yang ditambat di dermaga dan sebagainya . 
         Sementara Lapidus mengatakan bahwa “al-Murabithun” berasal dari sebuah akar kata Al-Qur’an “ r-b-t “ yang merujuk pada       tehnik     pertempuran jarak dekat dengan 
                                                                                         
infantri di barisan depan dan pasukan berunta dan berkuda pada barisan belakang (yang 
sudah lazim dalam pertempuran masyarakat Berber) , menunjukkan bahwa “al-Murabithun “ bermakna orang-orang yang terjun ke Medan perang suci sebagaimana yang diisyaratkan al-Qur’an .   Dapat dilihat dalam surat al-anfal ayat 60:
واعد هم ما استطعتم من قوة ومن ربا ط الخيل تر هبون به عد الله     
وال وعدوكم واخرين من دو نهم لا تعلمو نهم الله يعلمهم                         
Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu   sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu ) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.
           Hal yang senada  juga  dinyatakan oleh Philip K. Hitti bahwa pada mulanya al-Murabithun ini merupakan kumpulan persaudaraan militer, mereka mengambil anggota-anggotanya yang baru dari kalangan suku-suku yang kaum lelakinya memakai kerudung yang menutupi muka sampai ke mata, justru itu mereka dinamai juga dengan pemakai kerudung . 
           Sementara itu menurut K.Ali   Murabithun  berasal dari kata “ribath “ sebuah kata turunan lainnya yang berarti sebuah tenpat suci yang menyerupai benteng , seperti biara bagi para biksu dan “Rabat” ibu kota negeri ini (Magrib) juga berasal dari kata “Ribat” yang berarti tempat suci.  

             Dari beberapa uraian diatas dapat dipahami bahwa Murabihun  nampaknya pada  awalnya adalah merupakan suatu gerakan keagamaan  yang bertujuan memberantas berbagai penyelewengan keagamaan dan akhirnya berkembang memasuki wilayah militer dan kemudian politik dan kekuasaan.
           Seperti telah disinggung diatas bahwa Murabithun berasal dari suku Lamtunah, yaitu merupakan bagian dari cabang suku  Shanhajah dari suku Barbar. Jumlah mereka semakin bertambah ketika Musa bin Nushair menjadi gubernur diwilayah Afrika. Dalam perkembangan berikutnya, mereka menjadi sebuah komunitas yang cukup dominan di wilayah tersebut.Gerakan Murabithun ini dipelopori Yahya bin Ibrahim Al-Jaddali salah seorang kepala suku Lamtunah. Gerakan ini dimulai sekembalinya dari perjalanan ibadah haji. Dalam perjalanan kembali ke kampung halaman di Naflis, ia berjumpa dengan seorang alim bernama Abdullah bin Yasin Al-Jazuli. Dengan kesungguhan hati, Yahya bin Ibrahim meminta Abdullah bin Yasin untuk datang ke tempat tinggalnya dan mengajarkan ilmu agama yang benar kepada penduduk ditempat tinggal Yahya, sehingga ia bersama Yahya pergi menuju  tempat kelahiran  Yahya bin Ibrahim. Akan tetapi, dakwah yang disampaikan Abdullah bin Yasin tidak mendapat banyak sambutan, kecuali dari keluarga Yahya bin Ibrahim, Yahya bin Umar dan keluarga adiknya Abu Bakar bin Umar. Melihat kegagalan dakwah  yang disampaikannnya, akhirnya Abdullah bin Yasin mengajak beberapa orang pengikutnya pergi ke sebuah pulau di Sinegal. 
          Kegagalan dakwah tersebut di latarbelakangi  karena: pada mulanya tindakan keras dan tegas yang diperaktekkan oleh Abdullah bin Yasin dalam mengajarkan sekaligus memurnikan ajaran Islam, telah mengurangi simpati mereka kepadanya,sehingga hamper saja beliau meninggalkan ummat yang baru dihadapinya tersebut untuk pergi berdakwah ke Sudan.Namun karena bujukan dan desakan dari beberapa teman dekatnya, akhirnya Abdullah bin Yasin mau bertahan dan menetap disana.
          Orang- orang Berber yang berpandangan luas menyesali tindakan mereka terhadap Abdullah bin Yasin, dan datang meminta maaf serta menyatakan bersedia melaksanakan ajaran- ajaran gurunya, sehingga secara bersama-sama mereka mendirikan ribat, semacam pesantren, di hulu sungai Sinegal . 
           Disinilah Abdullah bin Yasin dan para pengikutnya mendirikan ribat . Orang –orang yang bergabung dengan kelompok Abdullah bin Yasin dan Yahya bin Ibrahim, semakin bertambah banyak. Ketika jumlah pengikutnya  sekitar seribu orang, Abdullah bin Yasin memerintahkan kepada seluruh pengikutnya untuk menyebarkan ajaran mereka keluar ribath dan memberantas berbagai penyimpangan ajaran agama. Sasaran usaha kelompok ribath ini tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi juga kepada para penguasa yang memungut pajak terlalu tinggi tanpa ada distribusi yang jelas kepada masyarakat.  
          Dalam perkembangan selanjutnya, ketika pengikut ribath semakin bertambah banyak, mereka mulai melirik cara lain dalam perkembangan ajaran kelompok ini, yaitu dengan memasuki wilayah politik militer dan kekuasaan.Untuk kepentingan itu, mereka mengangkat Yahya bin Umar menjadi panglima militer mereka. Kelompok ini kemudian melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Sahara Afrika dan menaklukan penduduknya.Usaha ekspansi ini bukan berarti tidak ada perlawanan sengit, penguasa Sijilmash bernama Mas’ud bin Wanuddin al-Magrawi melakukan perlawanan sengit, meskipun akhirnya gugur dalam pertempuran tersebut dan ibu kota Wadi Dar’ah direbut oleh kelompok Murabithun pada tahun 1055 M.  
                 Dr. Hasan Asari, MA menyebutkan, Ribath tidak menjadi lembaga sufi pada saat pertama lembaga ini diperkenalkan. Pada abad ke-1/7, semasa berlangsungnya penaklukan besar-besaran yang dilakukan pasukan Muslim, ribath berarti barak-barak tentara yang berada pada garis depan, dekat dengan perbatasan daerah yang masih dikuasai musuh atau yang sedang dalam proses penaklukan. Asosiasi ribath  dengan persoalan militer dapat dilihat dalam sejarah munculnya dinasti Murabithun, yang pernah 
Menjadi  penguasa Afrika Utara dan al-Andalusia  dari pertengahan abad ke - 5/ 11 hingga pertengahan abad berikutnya, meskipun asosiasi ini bukan kondisi yang umum lagi sejak abad ke -8/ 14. Para penghuni Ribath (murabith, murabithun) kemudian mengalihkan perhatiannya dari perang fisik  melawan musuh kepada perang spiritual melawan diri dan jiwa mereka sendiri dalam praktek-praktek sufi.  
           Setelah Yahya bin Umar meninggal pada tahun 1056 m, tampuk kekuasaan diambil alih oleh adiknya yang bernama Abu Bakar dan kemanakannya bernama Yusuf bin Tasyfin. Setelah Abdullah bin Yasin meninggal pada tahun 1059 M, dalam suatu pertempuran Samudera Atlantik. Sepeninggal Abdullah bin Yasin, tampuk kekuasaan dan wilayah-wilayah kekuasaan kaum ribath diambil alih oleh Abu Bakar dan Yusuf bin Tasyfin.
          Ketika terjadi konflik di antara suku-suku yang ditinggalkannya di bagian utara, kedua berpisah. Abu Bakar kembali ke Sahara untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban. Sementara Yusuf bin Tasyfin melanjutkan usaha penaklukannya ke wilayah Utara. Usaha keduanya berhasil dengan baik. Karena itu, Abu Bakar berkeinginan kembali ke utara dan mengambil kekuasaan. Tetapi apa yang diharapkan Abu Bakar tidak menjadi kenyataan. Karena kedatangannya ke wilayah Magribi tidak diharapkan oleh Yusuf bin Tasyfin dan istrinya bernama Zainab. Karena itu, ketika Abu Bakar tiba Yusuf tidak pernah menyinggung soal kepemimpinan. Yusuf hanya memberikan hadiah dengan jumlah yang cukup banyak.
          Tampaknya Abu Bakar tidak mau bersitegang dengan kemanakannya hanya karena persoalan politik kekuasaan. Karena ia menyadari bahwa latar belakang berdirinya kelompok ini semata bertujuan   memberikan peringatan kepada semua orang dan para penguasa yang telah melakukan penyimpangan ajaran agama. Karena itu kemudian ia pergi meninggalkan  Mahgribi dan kembali ke Sahara, terus pergi ke Sudan dan meninggal disini.  Setelah satu tahun Yusuf bin Tasfin memimpin kesultanan Al-Murabithun, dia langsung membangun kota Marrakech dan menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahannya.                                                       
           Ekspansi wilayah masih terus dilanjutkan dan bahkan sampai ke Aljazair. Ia menganggkat pejabat dari kalangan Murabithun untuk menduduki jabatan gubernur pada wilayah taklukan, sementara ia memerintah di Maroko. Pada masa Yusuf Tasyfin ini Murabithun mengalami kejayaan. 
          Puncak prestasi karir politik Yusuf bin Tasyfin dicapai ketika ia berhasil menyeberang ke Spanyol. Keberangkatannya ke Spanyol atas undangan amir Cardoba, Al-Mu’tamid bin Abbas, yang terancam kekuasaan oleh raja Alfonso VI (raja Leon Castelia). Dalam melaksanakan perjalanan ini Yusuf Bin Tasyfin mendapat dukungan dari Muluk al Thawaif Andalus. Dalam sebuah pertempuran besar di Zallakah tanggal 12 Rajab 479 H/ 23 Oktober 1086 M, ia berhasil mengalahkan raja Alfonso VI selanjutnya berhasil merebut Granada dan Malag. Mulai saat itulah ia memakai gelar Amir al-Mukminin. Pada akhirnya ia juga berhasil menaklukan Muluk al-Thawaif.kemudian menggabungkan wilayah itu dalam kerajaan yang dibangun.Yusuf juga berhasil menaklukan Almeria dan Badajoz. Kemudian menaklukan kerajaan Saragosa dan pulau Balearic. 
         Yusuf bin Tasfin wafat dalam usia seratus tahun (1106), yang pada waktu itu kekuasaannya telah sampai ke Liberia Selatan termasuk juga Valencia dan Afrika Utara dari kepulauan Atlantik sampai dengan Aljazair. Warisan yang cukup luas tersebut diterima anaknya yang bernama Ali bin Yusuf bin Tasfin dan berhasil melanjutkan politik pendahulunya dengan mengalahkan anak Alfonso VI tahun 1108.  

B.  Kemajuan yang Dicapai Dinasti Murabithun
 a.   Filsafat.
            Pada masa Daulah Umayyah II telah diketahui bahwa Cardoba dengan perpustakan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Bagdad sebagai pusat Ilmu Pengetahuan dan peradaban Islam.  Kebijakan para penguasa Dinasti Umayah di Andalusia ini merupakan langkah    untuk melahirkan    para ilmuan     dan       filosof terkenal pada masa
Daulah Murabithun antara lain: Ibnu Bajjah,Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd . 
b.   Sains
          Diantara Sain yang  berkembang saat itu adalah kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain. Salah seorang tokoh terkenal dalam kimia dan astronomi adalah Abbas bin Farmas. Dia adalah orang yang pertama yang manemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim bin Yahya Al-Naqqash terkenal dalam astronomi. Dalam riset  yang dilakukannya berhasil menentukan beberapa lama terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lama waktu terjadinya gerhana tersebut. Selain itu ia juga berhasil membuat teropong bintang modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad bin Abbas dari Cardoba adalah seorang ahli dalam bidang obat-obatan.  Ummul Hasan bin Ja’far dan saudara perempuannya Al-Hafidz adalah orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.  
          Selain itu daulah Murabithun yang pertama  membuat uang dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mukminun dibagian depannya  mencontoh uang Abbasyiah dan bertuliskan kalimat iman dibelakanggnya .   Selain itu dibangun  pula sejumlah Mesjid yang indah  di berbgai kota.
c.   Fiqih Mazhab Maliki
           Mazhab Maliki ini mengalami perkembangan yang signifikan karena selain satu-satunya mazhab yang dapat diterima dikalangan muslimm Andalusia, juga karena mendapat dukungan dari penguasa Murabithun dan para fuqaha. Maka wajar mazhab  ini mengalamai kemajuan pesat.  
                                                         
C.   Kemunduran  dan Kehancuran Dinasti Murabithun

          Pada pertengahan abad ke 12, pemerintahan Al-Murabithun mulai terdesak, dan beberapa beberapa kesultanan Muslim Spanyol menolak otoritasnya. Hal ini disebabkan oleh perubahan sikap mental mereka, yakni dengan terkondisinya kemewahan yang berlebihan. Perubahan sikap tersebut jelas kelihatan, dari selama ini mereka keras dalam kehidupan Sahara, menjadi sangat lemah lembut dalam kehidupan Spanyol yang penuh gemerlap kemewahan materi.  Selain itu  penguasa –penguasa sesudah Yusuf ibnu Tasyfin adalah raja-raja yang lemah.  Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir.  
           Sepeninggal Yusuf bin Tasyfin pada 1106 M, kekuasaan Murabithun hanya bertahan kurang lebih setengah abad, Karena fase ini Ali bin Yusuf tidak banyak melakukan konsulidasi kekuatan dan kekuasaan, sehingga mengalami  masa-masa kemunduran. Dalam catatan sejarah diketahui bahwa Ali bin Yusuf tidak secakap ayahnya dalam masalah kepemimpinan dan politik, karena ternyata Ali lebih cendrung ke masalah-masalah keagamaan. Sehingga untuk kepemimpinan dan kenegaraan, para ulama yang memainkan nya. Peranan ulama sangat dominant di dalam memerintah menjadi penyebab ketidaksukaan keompok Kristen. Sebab kedudukan dan jabatan strategis dalam pemerintahan dipegang oleh mereka. Mereka mengeluarkan kebijakan yang sangat diskriminatif, khususnya terhadap kleompok Yahudi dan Kristen. Apabila kelompok non Muslim ingin menjalankan praktek keagamaan, mereka diminta untuk membayar pajak bila ingin bebas menjalankan ibadahnya. Bagi masyarakat non Muslim yang tidak mampu membayar, mereka diminta untuk pergi meninggalkan tempat tinggal mereka. Kebijakan yang tidak popular ini menjadi salah satu factor penyebab perlawanan masyarakat non Muslim Andalusia.  
           Menjelang  pertengahan abad XII Murabithun mulai retak. Di Spanyol Muluk al-Thawaif menolak kekuasaaannya. DiMaroko sebuah gerakan keagamaan (muwahidun ) mulai mengingkari .  
          Kemunduran yang dialami oleh Al-Murabithun, juga dipicu oleh kecendrungan dari para pemimpinnya yang senang menumpuk harta kekayan disamping para fuqahanya terjerumus pada mengkafirkan orang lain yang berusaha untuk merobah moral masyarakat dengan mengokohkan prinsif-prinsif syari’ah dan aqidah. Sehingga   dapat   dirangkumkam, kelemahan kemudian kehancuran dinasti ini disebabkan oleh :
1.  Lemahnya disiplin tentara dan merajalelanya korupsi melahirkan disintegrasi.
2.  Berubahnya watak keras pembawaan Barbar menjadi lemah ketika memasuki kehidupan            
     Maroko dan Andalus yang mewah.
3.  Mereka memasuki Andalus ketika kecemerlangan inteletual kalangan arab telah    meng
     ganti kesenangan berperang.
4.  Kontak dengan peradaban yang  sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi.
5.  Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, al-Muwahidun.  
           Dinasti Al-Murabithun  memegang tampuk kekuasaan selama sembilan puluh tahun, dengan penguasa enam orang, yang terdiri dari :
-    Abu Bakar bin Umar memerintah dari tahun 1056-1061
-    Yusuf bin Tasfin (1061-1107)
-    Ali bib Yusuf (1107-1143)
-    Tasfin bin Ali (1143-1145)
-    Ibrahim bin Tasfin (1145-1147) 
-     Ishak bin Ali (1147) . 
             Dinasti Al-Murabitun berakhir, ketika dikalahkan Dinasti Al-Muwahidun yang dipimpin oleh Abdul Mukmin dalam menaklukan Marokko pada tahun 1147, ditandai dengan terbunuhnya Penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali. Walaupun sebelumnya  tentara Kristen  mulai bergerak memanfaatkan kelemahan Murabithun.
             Gerak maju Katholik Roma ke Andalusia, yang tertunda dengan kedatangan al- Murabithun, kemudian mendapat momentumnya  kembali. Namun demikian, sekali lagi hal ini terhenti dengan kedatangan gelombang lain kaum Muslim dari Afrika Utara, yaitu kaum Almohad atau dalam bahasa Arab: al- Muwahhidun. 
http://hadifauzan.blogspot.co.id/2013/03/dinasti-murabithun-dan-muwahhidun.html

dinasti murabithun

Latar belakang
Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas "undangan" penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia. Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahhidun. Pada masa dinasti Murabithun, Saragossa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w. 1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mun'im. Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa dekade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuatan Islam.
Murabithun atau Al Murawiyah di Afrika Utara dan Spanyol (1056-1147 M)

Murabithun atau Al–Murawiyah merupakan salah satu Dinasti Islam yang berkuasa di Maghrib. Nama Al- Murabithun berkaitan dengan nama tempat tinggal mereka yang pada awalnya mereka menempati Ribat (sejenis surau). Asal-usul dinasi ini dari Lemtuna, salahsatu dari suku Sanhaja, Mereka juga disebut al-Mulassimun (orang-orang bercadar).
Pada abad kesebelas pemimpin Sanhaja, Yahya bin Ibrahim, melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Dan sekembalinya dari Arabia, ia mengundang Abdullah bin Yasin seorang alim terkenal di Maroko, untuk membina kaumnya dengan keagamaan yang baik, kemudian beliau dibantu oleh Yahya bin Umar dan saudaranya Abu Bakar bin Umar. Perkumpulan ini berkembang dengan cepat , sehingga dapat menghimpun sekitar 1000 orang pengikut.
Di bawah pimpinan Abdullah bin Yasin dan komando militer Yahya bin Umar mereka berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Wadi Dara, dan kerajaan Sijil Mast yang dikuasai oleh Mas’ud bin Wanuddin. Ketika Yahya bin Umar meninggal Dunia, jabatannya diganti oleh saudaranya, Abu Bakar bin Umar, kemudian ia menaklukkan daerah Sahara Maroko. Setelah diadakan penyerangan ke Maroko tengah dan selatan selanjutnya menyerang suku Barghawata yang menganut paham bid’ah. Dalam penyerangan ini Abdullah bin Yasin wafat (1059 M). Sejak saat itu Abu Bakar memegang kekuasaan secara penuh dan ia berhasil mengembangkannya.
Abu Bakar berhasil menaklukkan daerah Utara Atlas Tinggi dan akhirnya pada tahun 1070 M, ia dapat menaklukkan daerah Marrakech (Maroko). Kemudian ia mendapat beritabahwa Buluguan, Raja Kala dari Bani Hammad mengadakan penyerangan ke Maghrib dengan melibatkan kaum Sanhaja. Mendengar berita itu ia kembali ke Sanhaja untuk menegakkan perdamaian. Setelah berhasil memadamkan, ia menyerahkan kekuasaanya kepada Yusuf bin Tasyfin (2 September 1107), kemudian ia mengatakan bahwa Maroko di bawah kekuasaannya.
Pada tahun 1062 M, Yusuf bin tasyfin mendirikan ibu kota di Maroko. Dia berhasil menaklukkan Fez (1070 M) dan Tangier (1078 M). Pada tahun 1080-1082 M, ia berhasil meluaskan wilayah sampai ke Al Jazair. Dia mengangkat para pejabat Al-Murabithun untuk menduduki jabatan Gubernur pada wilayah taklukannya, sementara ia memerintah
di Maroko. Yusuf bin Tasfin meninggalkan Afrika pada tahun 1086 M dan memperoleh kemenangan besar atas Alfonso VI (Raja Castile Leon) dan Yusuf bin Tasfin mendapat dukungan dari Muluk At-Thawa’if dalam pertempuran di Zallaqah. Ketika Yusuf bin Tasfin meninggal Dunia, ia mewariskan kepada anaknya, Abu Yusuf bin Tasyfin. Warisan itu berupa kerajaan yang luas dan besar terdiri dari negeri-negeri Maghrib, bagian Afrika dan Spanyol. Ali ibn Yusuf melanjutkan politik pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonso VI (1108 M). Kemudian ia ke Andalusia merampas Talavera Dela Rein. Lambat laun
Dinasti Al- Murabithun mengalami kemunduran dalam memperluas wilayah. Kemudian Ali mengalami kekalahan pertempuran di Cuhera (1129 M). kemudain ia mengangkat anaknya Tasyfin bin Ali menjadi Gubernur Granada dan Almeria. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menguatkan moral kaum Murabithun untuk mempertahankan serangan dari raja Alfonso VII. Dinasti Al- Murabithun memegang kekuasan selama 90 tahun, dengan enam orang penguasa yaitu :
1. Abu Bakar bin Umar (1056-1061 M)
2. Yusuf bin Tasyfin (1061-1107 M)
3. Ali bin Yusuf (1107-1143 M)
4. Tasyfin bin Ali (1143-1145 M)
5. Ibrahim bin Tasfin
6. Ishak bin Ali.

Masa terahir Dinasti Al-Murabithun tatkala dikalahkan oleh Dinasti Muwahiddun yang dipimpin oleh Abdul Mun’im. Dinasti Muwahiddun menaklukkan Maroko pada tahun 1146-1147 M yang ditandai dengan terbunuhnya penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali. 

Ketika kekuasaan Bani Umayah Spanyol pecah, ada suatu kekuatan yang baru muncul di Afrika Barat. Para ketua Muslim di Spanyol melupakan perbedaan mereka. Pada saat yang kritis itu dan meminta bantuan kepada Yusuf ibn Tasyfin, Raja al-Murabithun di Afrika Barat. Yusuf menanggapi permintaan mereka dan menyebrang ke Spanyol pada tahun 1086 M. Pasukan Gabungan itu bertemu dengan pasukan Alfanso di Zalaqah. Dalam
pertempuran itu Alfanso dikalahkan. Kemenangan ini membuat Yusuf menjadi Raja. Akan tetapi tidak lama memerintah beliau wafat, dan di ganti oleh anaknya Abul Hasan. Abul Hasan mempunyai kekuatan yang luar biasa, Dia mengalahkan orang K
RISTEN dalam beberapa pertempuran selama pemerintahannya. Kekuatan lainnya bernama al-Muahhidun di Afrika
http://dheo-education.blogspot.co.id/2008/07/dinasti-murabithun-dan-muwahidhun.html

PERADABAN ISLAM MASA DINASTI MURABITUN

            Dinasti al-Murabithun (1056-1147 M)
Istilah Murabithun diambil dari kata ribath yang berarti suatu tempat peribadatan dan pengajian yang didirikan oleh Abdullah bin Yasin. Ia adalah seorang ulama besar bermadzhab Maliki yang berasal dari Maroko Utara. Ia ditugaskan oleh Syekh Abu Amran al-Fasi untuk mendakwahkan agama dikalangan suku bangsa Barbar Sanhaja di daerah Sahara, Maroko bagian selatan. Mereka sebenarnya telah mengenal islam sejak abad ketiga hijriyah, karena dakwahnya dianggap sangat memberatkan dan terlalu keras bagi masyarakat nomadik Barbar, maka ia diusir dari Sahara.

Ia melanjutkan dakwahnya ke arah selatan sekitar sungai Sinegal. Disana ia mendirikan sebuah ribath sebagai tempat ibadah dan mengajarkan agama bagi masyarakat sekitar. Karena menempati ribath ini, mereka disebut kelompok Murabithun. Disamping itu mereka juga disebut kelompok al-mulastimun (bercadar). Di tempat itulah mereka mendapat pengikut, dan kemudian terbentuklah suatu masyarakat keagamaan. Atas dasar motivasi keagamaan, maka mereka mengorganisir diri untuk melakukan jihad  ke berbagai wilayah suku Sanhaja.


Dari sinilah gerakan dakwah agama itu kemudian bergeser kearah gerakan politik. Abdullah bin Yasin dan para pengikutnya (kelompok murabithun) kemudian mengadakan penyerangan terhadap suku Barbar lainnya yang mereka anggap sesat. Di bawah komando panglima Abu Bakar bin Umar, suku-suku Barbar di Sahara dan Maroko mereka serang, dan dalam pertempuran itu Abdullah bin Yasin meninggal dunia (1059 M). Abu Bakar bin Umar selanjutnya memimpin gerakan ini hingga ia memindahkan ibu kota kekuasaannya dari sebuah kota kecil di Sahara ke Marakesh pada tahun 1070 M. 

              Masa Kejayaan Dinasti Murabithun

Dinasti Murabithun mengalami kemajuan ketika berada di bawah kepemimpinan Yusuf bin Tasyfin (1061-1106 M). Ia memperluas kekuasaannya ke Fes, kemudian ke Tlemsan dan Aljazair, hingga mencapai pegunungan Kabyles. Prestasi ini menunjukkan bahwa murabithun merupakan dinasti suku Barbar yang pertama kali berhasil menguasai sebagian besar wilayah Afrika Utara bagian barat.
Atas pestasi itu Yusuf bin Tasyfin diminta bantuan oleh al-Mu’tamid, penguasa bani Abbas di Andalusia yang sedang terancam oleh pasukan Kristen yang dipimpin oleh raja alfonso VI dari kerajaan castilia. Dalam pertempuran hebat yang terjadi di Zallaqah pada 23 Oktober 1086 M, pasukan tentara Islam  (sekitar 20.000 orang) itu memukul mundur pasukan Castilia, dan memperoleh kemenangan besar atas Alfonso VI (Raja Castile Leon). Merasa berpengalaman dan berhasil menghadapi musuh di Eropa, Yusuf bin Tasyfin dengan pasukannya kembali ke Eropa lagi pada tahun 1090 M. Mereka menguasai Granada, Sevilla dan kota-kota penting lainnya. Dengan demikian, Yusuf bin Tasyfin berhasil menguasai wilayah kerajaan muslim di Eropa, kecuali Toledo.
Kedatangannya yang kedua kali ke andalusia menyadarkan Yusuf bin tasyfin bahwa kelemahan politik dan keruntuhan moral rakyat al-Mu’tamid,mengharuskan murabithun menguasai andalusia. Yusuf kemudian meminta para ulama di Granada dan Malaga untuk mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa para penguasa Muslim di Andalusia tidak cakap dalam menjalankan pemerintahan karena telah menyeleweng dari ajaran al-Qur’an. Fatwa tersebut ternyata mendapat dukungan dari para ulama timur, termasuk ulama terkenal yang bernama al-Ghozali. Fatwa tersebut dijadikan dasar oleh Yusuf untuk menguasai Andalusia dan memerangi para penguasa yang tidak bersedia wilayahnya dikuasai Murabithun. Ternyata tekad Yusuf tidak hanya menghapuskan kekuasaan kristen dan raja-raja kecil di Spanyol, tetapi dia bermaksud agar Spanyol menjadi bagian dari kekuasaan Murabithun di daratan Afrika Utara.
Bersamaan dengan penaklukan di Aledo, pada 1090 Granada dapat dikuasai tanpa peperangan. Kemudian pada tahun berikutnya Cordova jatuh ketangan Yusuf dan menjadikannya ibu kota kedua di samping Maroko di Afrika Utara, selanjutnya Yusuf menaklukkan seluruh  wilayah di Spanyol Selatan. Dari sana ia terus ke wilayah Spanyol utara hingga pada akhirnya pada tahun 1094 kota Badajoz dapat dikuasainya. Pada 1095 kota Seville dikuasainya bahkan al-Mu’tamid ibn Abbad ditangkap, kemudian dibuang ke Afrika Utara. Upaya penaklukan tidak berhenti disana, tetapi terus dilakukan denga kemenangan demi kemenangan hingga pada 1102 Valencia dapat direbut. Selanjutnya pada 1107, Saragossa pun dikuasai Yusuf.

Kegemilangan Yusuf tersebut tidak brlangsung lama, karena pada tahun 1107 M, dia wafat. Dia  kemudian mewariskan kekuasaannya kepada putranya yang bernama Ali ibn Yusuf berupa imperium yang sangat luas, mulai dari wilayah Magrib, sebagian Afrika Utara, hingga Spanyol islam yang membentang ke utara sampai ke Praha. Ali tidak secakap ayahnya dalam menjalankan pemerintahannya. Kendati demikian, Ali sering pula memimpin pasukannya berjihad melawan orang-orang Kristen yang belum dikuasai oleh para pendahulunya. Beberapa daerah yang dikuasi kristen dapat direbutnya. Selain itu masa pemerintahan Ali diketahui banyak menghasilkan beberapa bangunan megah. Para arsitek dan pekerja bangunan dari Andalusia berdatangan ke Marrakesh. Mereka membuat rencana bangunan dan mengajarkan teknik-teknik bangunan dengan memasukkan konsep dekorasi dan aksesori bangunan bergaya Mesir yang dipadukan dengan gaya Irak.

Disinilah mulai bermunculan bangunan-bangunan baru yang cukup megah dan cukup artistik, seperti istana di Marrakesh, Dar al-Hajar, Masjid Ja’o di Tilimsan, Masjid Qayrawan di Fez, Masjid Agung al-Jeria serta bangunan-bangunan lainnya yang saat itu dapat dikatakan sebagai keagungan bangsa Barbar hasil peninggalan Murabithun. Namun kini semuanya itu tinggal puing-puing saja karena telah hancur dimakan zaman dan sebagainya karena serangan musuh.

              Masa Kemunduran Dinasti Murabithun

Menurut catatan sejarah, pemimpin dan amir murabithun berjumlah enam orang. Dari enam orang itu, empat yang pertama berhasil mengantarkan dinasti itu berkembang dan mengalami kemajuan. Mereka adalah Abdullah bin Yasin (1056-1059), Abu Bakar bin Umar (1059-1061), Yusuf bin Tasfin (1061-1107), Ali bin Yusuf (1107-1143), sedangkan dua orang amir berikutnya Ibrahim bin Tasyfin (1143-1145), dan Ishak bin tasyfin (1145-1147) tidak mampu mempertahankan kemajuan murabithun.
Sebenarnya tanda-tanda kemunduran murabithun mulai tampak sejak kepemimpinan Ali bin Yusuf  karena ia lebih berminat dalam bidang keagamaan sehingga pada masanya para ulama memperoleh kedudukan tinggi dan sangat berpengaruh pada pemerintahan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila tokoh-tokoh agama dimasa itu bersikap keras terhadap penduduk yan bukan beragama islam. Lebih dari itu orang-orang Yahudi di Andalusia dipaksa membayar pajak yang cukup tinggi dengan dalih agar mereka dapat mejalankan agamanya secara bebas. Sementara itu, mereka yang kurang mampu harus meninggalkan tempat tinggalnya.
Ali sebagai pemimpin pemerintahan mulai tidak memperhatikan urusan negara dan pemerintahan. Dia mulai berpuasa pada siang hari dan pada malam harinya terus bermujahadah. Akibat dari sikapnya yang tidak peduli ini, ditambah sikapnya yang menampakkan kezuhudan, maka ia terjerambah kedalam pengaruh tokoh-tokoh fiqh saat itu, sehingga keberadaannya tidak lebih dari sekedar boneka mainan di tangan mereka. Kondisi ini diperparah dengan adanya kecenderungan para fuqaha’ yang mengkafirkan orang lain dan menumpuk harta kekayaan. Dalam hal tindakan pengkafiran ini, para fuqaha’ sampai berani mengkafirkan al-Ghazali. Yang lebih ekstrim lagi mereka mengeluarkan fatwa agar kitab-kitab karya al-Ghazali, khususnya Ihya’ Ulum al-Din, dibakar dan tidak boleh ada yang tersisa dikalangan kaum muslim. Tindakan tersebut didasarkan pada suatu anggapan bahwa dalam kitab tersebut sebagian besar membahas ilmu kalam. Atas dasar itu, para pejabat negara pemegang administrasi pemerintahan lebih diarahkan agar dalam mengambil kebijaksanaan harus selalu berlandaskan fatwa-fatwa fuqaha’.

Dalam kondisi yang demikian buruk, pada 1118 kota saragossa jatuh ketangan Alfonso, raja Aragon. Raja ini memperluas pengaruhnya sampai ke Spanyol bagian selatan dengan melakukan ekspedisi militer pada 1125-1126. Ketika Ali bin Yusuf meninggal dunia pada 1143, kekuasaan diwariskan kepada putranya Ibrahim bin Tasyfin. Ibrahim pun sama seperti ayahnya kurang mempunyai kecakapan dalam menjalankan pemerintahan.

Pada masa pemerintahan Ibrahim, telah terjadi pemberontaka sebanyak dua kali, yakni pada 1144 dan 1145. Pada tahun itu pula Ibrahim meninggal dunia. Sepeninggalan Ibrahim, kepemimpinan diwariskan kepada saudaranya yang bernama Ishak bin Tasyfin, bersamaan dengan itu muncul gerakan Muwahhidun yang berhasil merebut kota Marrakesh dari kekuasaan Murabithun pada 1146. Setahun kemudian yakni pada tahun 1147 gerakan Muwahhidun berhasil melumpuhkan kekuasaan Murabithun, sekaligus membunuh Ishak bin Tasyfin. Peristiwa tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Murabithun di Afrika  Utara dan digantikan dinasti Muwahhidun.
http://www.binaaku.web.id/2013/04/peradaban-islam-masa-dinasti-murabitun.html

Dinasti MurabithunLatar BelakangBani Umayyah di Spanyol mengalami kemunduran diawali dari naiknya Hisyam II yang waktu  itu masih berusia sebelas tahun. Hal ini disebabkan tidak adanya penerus dari keturunan pemerintah. Dari naiknya Hisyam ini maka menimbulkan perpecahan di negeri andalusia dimana pada waktu itu terpecah kurang lebih menjadi tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan (Al-Mulukuth Thawaif). Dari perpecahan ini di Andalusia sendiri masih ada suatu kekuatan yang sangat dominan yaitu Dinasti Murabithun (1086-1147) dan Dinasti Muwahiddun (1146-1235).Dinasti Murabitun ini pada mulanya sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1086 Ia masuk ke Spanyol atas undangan para penguasa-penguasa Islam disana, untuk mempertahankan wilayah Islam dari serangan tentara Kristen. Pada tahun 1146 Dinasti Muwahidun yang berpusat di Afrika Merebut kekuasaan Murabitun di Spanyol dari tangan kaum Nasrani. Dinasti ini datang ke Spanyol dipimpin oleh Abd al-Mu’min. Abd al-Mu’min merupakan sahabat pendiri Dinasti Muwahidun yaitu Muhammad Ibnu Tumart.           Dinasti Murabithun (1086-1147)1.      Sejarah Dinasti Murabithun di AndalusiaDinasti Murabithun ini berkuasa di Magribi dan Andalusia. Asal-usul dinasti ini berasal dari Lemtuna, salah satu anak dari suku Sahaja. Mereka biasa disebut Al-Muksimum (pemakai kerudung sampai menutupi wajah di bawah muka). Dinasti ini berawal dari sekitar  1.000 anggota pejuang. Kegiatan  mereka antara lain adalah menyebarkan agama Islam dengan mengajak suku lain untuk memeluk agama Islam. Pada tahun 1062 Yusuf bin Tasyfin mendirikan ibu kota di Maroko. Ia juaga berhasil menaklukan Fez (1070) dan Tangier (1078). Pada tahun 1080-1082 ia berhasil memperluas wilayahnya hingga sampai ke Aljazir.Dinasti Murabithun ini pada awalnya merupakan sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyifin di Afrika Utara. Kemudian ia masuk ke Andalusia atas undangan para penguasa Islam disana.Pada waktu itu di Andalusia dipimpin oleh Amir Cordova yaitu Al Mu’tamid bin Abbas, yang terancam kekuasanya oleh Raja Alfonso VI (Raja Leon Castilla).Kemudian Yusuf ibn Tasyifin ini dengan dukungan kuat dari Mulukul At Tawa’if  di Andalusia dengan semangatnya membawa pasukan 10.000 tentara bantuan dari Afrika sementara itu Umat Islam di Sevilla, Kordova dan dikota yang lain telah bersiap pula. Maka berhadapanlah angkatan perang islam dengan angkatan perang Alfonso yang berjumlah 40.000 pasukan tentara. Kemudian terjadilah pertempuran besar di Zallakah 23 Oktober 1086.Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh pihak Umat Islam, sedangkan para tentara Alfonso mengalami kekalahan dan melarikan diri bercerai berai karena tidak sanggup melawan kekuatan Islam pada waktu itu.Dengan berbagai kegemilangan yang di capai di Andalusia Yusuf ibn Tasyifin berkeinginan untuk menguasai Andalusia, akhirnya Yusuf mampu menguasai kota Granada, Seville, Kordova dan kota-kota lainya. Pada waktu itu di Kordova masih berkuasa amir Al Mu’tamid namun akhirnya Mu’tamid ini ditawan dan dibawa ke Afrika hingga akhirnya ajalpun menjemput Mu’tamid dalam keadaan kemelaratan.Yusuf ibn Tasyifin ketika berkuasa di Andalusia lebih memilih kota Seville daripada Kordova, sebagai ibukota kedua. Para raja Murabithun mempertahankan semua otoritas penguasa dan menyandang gelar Amir al-Muslimin, tetapi dalam persoalan spiritual mereka mengakaui otoritas khalifah Abbasiyah di Bagdad, selama lebih dari setengah abad kekuatan Murabithun begitu kuat di Afrika barat daya dan Spanyol Selatan. Dalam sejarah ini merupakan pertama kalinya dimana seorang Berber memainkan peran penting di panggung dunia.Dinasti Murabithun memegang kekuasaan selama 90 tahun dengan para pemimpin-pemimpin Dinasti Murabithun di Andalusia. Para pemimpin Dinasti Murabithun :a.       Yusuf bin Tasyifin (1086-1107)b.      Ali ibn Yusuf (1107-1143)c.       Tasyifin ibn Ali (1143-1146)d.      Ibrahim ibn Tasyifin(1146)e.       Ishaq ibn Ali (1146-1147)2.      Sebab-sebab kemunduran dinasti MurabithunKetika berkuasa dinasti ini belum mampu memiliki kemajuan yang gemilang tidak seperti bangsa Arab yang dapat mendiami tempat-tempat lain, dapat dikatakan bahwa ketika dinasti ini berkuasa pemerintahan di Andalusia malah semakin terpuruk. Keterpurukan itu diantaranya pengetahuanya terbelakang, urusan pemerintahan kacau balau, negeri ditimpa kelaparan, dan juga terjadinya perang saudara antar bangsa Barbar terjadi dimana-mana. Dari sisi lain kerajaan Kristen mulai bangkit lagi kakuasaannya pun mulai meluas dan bertambah kuat, sampai akhirnya para pasukan Kristen melakukan ancaman ke Kordova orang-orang yang ada di Kordova akhirnya meminta bantuan lagi kepada Muwahiddun di Maroko pada tahun 1145.Faktor lain yang melatar belakangi kemunduran dinasti Murabithun ini dimana adanya perubahan sikap mental mereka, adanya kemewahan yang berlebihan. Dengan kondisi ini merubah mereka dari sikap yang keras dalam kehidupan di gurun sahara menjadi sikap yang lemah lembut dalam kehidupan di Spanyol yang penuh gemerlap dan kemewahan materi.

moehamadie.blogspot.com/2013/05/dinasti-murabithun-dan-dinasti.html

DINASTI AL-MURABITHUN
(448H/1056M-541H/1147M) 
Murabithun Atau Al Murawiyah Di Afrika Utara Dan Spanyol (1056-1147 M)
Murabithun atau Al–Murawiyah merupakan salah satu Dinasti Islam yang berkuasa di Maghrib. Murabithun atau Almoravid  adalah dinasti Berber yang berasal dari Sahara dan menyebar di wilayah Afrika Barat-Laut dan semenanjung Iberia selama abad ke-11. Dibawah dinasti Moor, kekaisaran ini terbentang dari MarokoSahara BaratGibraltarTlemcen (di Aljazair), SenegalMaliSpanyol dan Portugal.
Nama Al- Murabithun (yang secara harfiyah artinya adalah orang-orang yang tinggal di benteng tapal batas) berkaitan dengan nama tempat tinggal mereka yang pada awalnya mereka menempati ribat (benteng) di mulut sungai Senegal, dan dari sini prajurit-prajurit iman menyebarkan bentuk Islam yang sederhana dan fundamentalis melalui Sudan barat. Asal-usul dinasti ini dari Lamtunah, salah satu dari suku Sanhaja, Mereka juga disebut al-Mulassimun (orang-orang bercadar).
Pada abad ke-11 pemimpin Sanhaja, Yahya bin Ibrahim, melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Dan sekembalinya dari Arabia, ia mengundang Abdullah bin Yasin seorang alim terkenal di Maroko, untuk membina kaumnya dengan keagamaan yang baik, kemudian beliau dibantu oleh Yahya bin Umar dan saudaranya Abu Bakar bin Umar. Perkumpulan ini berkembang dengan cepat , sehingga dapat menghimpun sekitar 1000 orang pengikut.
Di bawah pimpinan Abdullah bin Yasin dan komando militer Yahya bin Umar mereka berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Wadi Dar’ia, dan kerajaan Sijilmasat (tahun 447 H/1055M) yang dikuasai oleh Mas’ud bin Wanuddin. Ketika Yahya bin Umar meninggal Dunia (tahun 448H/1056), jabatannya diganti oleh saudaranya, Abu Bakar bin Umar, kemudian ia menaklukkan daerah Sahara Maroko. Setelah diadakan penyerangan ke Maroko tengah dan selatan selanjutnya menyerang suku Berghwata yang menganut paham bid’ah. Wilayah selatan Maroko, Negara Sus, Aghmat dan Berghwata dapat ditakhlukkan tahun 452H.  Dalam penyerangan ini Abdullah bin Yasin wafat (1059 M). Sejak saat itu Abu Bakar memegang kekuasaan secara penuh dan ia berhasil mengembangkannya, dan dari sini pula diyakini sebagai awal dari sistem kesultanan.
Abu Bakar berhasil menaklukkan daerah Utara Atlas Tinggi dan akhirnya ia dapat menaklukkan daerah Marrakech (Maroko). Kemudian ia mendapat berita bahwa Buluguan, Raja Kala dari Bani Hammad mengadakan penyerangan ke Maghrib dengan melibatkan kaum Sanhaja. Mendengar berita itu ia kembali ke Sanhaja untuk menegakkan perdamaian. Setelah berhasil memadamkan, tahun 453H ia menyerahkan kekuasaanya kepada Yusuf bin Tasyfin, sedang ia sendiri mengembara di Sahara sampai wafatnya tahun 480 H. Tahap Murabithun sebagai Negara agama secara formal dimulai saat Yusuf ibn Tasyfin memimpin murabithun dengan pemerintah layaknya sebuah negara.
Pada tahun 1062 M, Yusuf bin tasyfin mendirikan ibu kota di Maroko. Dia berhasil menaklukkan Fez (1070 M) dan Tangier (1078 M). Pada tahun 1080-1082 M, ia berhasil meluaskan wilayah sampai ke Al Jazair. Dia mengangkat para pejabat Al-Murabithun untuk menduduki jabatan Gubernur pada wilayah taklukannya, sementara ia memerintah di Maroko.
Dinasti ini mengambil Marakesh menjadi ibukota Murabithun dengan kekuasaan meliputi wilayah Maroko hingga Spanyol. Hubungan dinasti dengan kekhalifahan Abbasiyah sangat erat bahkan mereka sangat loyal terhadap kekhalifahan Abbasiyah dan tunduk pada kekuasaannya dengan tidak memakai gelar Amir al-Mukminin yang merupakan gelar khalifah di Baghdad. Menurut Yusuf ibn Tasyfin khalifah di Baghdad lah satu-satunya yang berhak atas gelar itu. Hal ini disebabkan nasab mulia yang ada pada mereka sebagai penguasa Makkah dan Madinah sedang Yusuf hanya sebatas juru dakwah mereka.
Sebagai negara atas dasar agama, Yusuf ibn Tasyfin yang memerintah 453-500 H tetap konsisten dalam berjihad memberantas kemungkaran yang terjadi di kalangan internal kekuasaan Islam atau peperangan yang dikobarkan oleh pihak Kristen. Dalam soal memberantas kemungkaran internal masyarakat Islam, ketika melihat perilaku Muluk al Thawaif yanmg bermewah-mewah dengan harta yang diambil dari pajak memberatkan rakyat, Yusuf menyarankan mereka untuk berbuat baik. Ketika mereka menolah, kecuali Ibn Ibad, akhirnya Yusuf menyerang kota-kota mereka satu-persatu dan menguasai Andalusia tahun 459 H tunduk pada pemerintahan dinasti Murabithun di Afrika Utara. Sedang perilaku politik negara agama Murabithun yang dilakukan oleh Yusuf terhadap orang Kristen adalah dengan melakukan penyerangan terhadap mereka.
Yusuf bin Tasfin meninggalkan Afrika pada tahun 1086 M. Konon wilayah kekuasaan Islam di Andalusia pada masa-masa abad ke-11 itu nyaris direbut oleh Raja Alfonso VI dari Kerajaan Castilia. Untunglah pasukan tentara Muslim dari Afrika Utara, pimpinan Yusuf bin Tasyfin tadi yang diundang Al-Mu'tamid bin Abbas, Amir Cordoba, segera datang menyelamatkan wilayah itu. Dalam pertempuran hebat yang terjadi di Zallaqah pada 23 Oktober 1086, pasukan tentara Islam  (sekitar 20.000orang )  itu memukul mundur pasukan Castilia. dan memperoleh kemenangan besar atas Alfonso VI (Raja Castile Leon) dan Yusuf bin Tasfin mendapat dukungan dari Muluk At-Thawa’if dalam pertempuran di Zallaqah. Dari sini penakhlukkan Murabithun diteruskan ke Granada dan Malaga, setelah diundang kembali untuk melawan raja Kristen tahun 1088.
Ketika Yusuf bin Tasfin meninggal Dunia, ia mewariskan kepada anaknya, Abu Yusuf bin Tasyfin. Warisan itu berupa kerajaan yang luas dan besar terdiri dari negeri-negeri Maghrib, bagian Afrika dan Spanyol. Ali ibn Yusuf melanjutkan politik pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonso VI (1108 M). Kemudian ia ke Andalusia merampas Talavera Dela Rein. Lambat laun Dinasti Al- Murabithun mengalami kemunduran dalam memperluas wilayah. Kemudian Ali mengalami kekalahan pertempuran di Cuhera (1129 M). kemudian ia mengangkat anaknya Tasyfin bin Ali menjadi Gubernur Granada dan Almeria. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menguatkan moral kaum Murabithun untuk mempertahankan serangan dari raja Alfonso VII.
Dinasti Al- Murabithun memegang kekuasan selama 90 tahun, dengan enam orang penguasa yaitu :
1. Abu Bakar bin Umar (1056-1061 M)
2. Yusuf bin Tasyfin (1061-1107 M)
3. Ali bin Yusuf (1107-1143 M)
4. Tasyfin bin Ali (1143-1145 M)
5. Ibrahim bin Tasfin
6. Ishak bin Ali.
Masa terahir Dinasti Al-Murabithun tatkala dikalahkan oleh Dinasti Muwahiddun yang dipimpin oleh Abdul Mun’im. Dinasti Muwahiddun menaklukkan Maroko pada tahun 1146-1147 M yang ditandai dengan terbunuhnya penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali.

C.      Kemajuan yang di Capai Dinasti Murabithun
Dinasti Murabbitun memegang kekuasaan selama 90 tahun dengan enam orang penguasa  yang telah disebutkan di atas. Murabbitun memegang peran penting mempersatukan  bangsa Barbar dalam satu kesatuan. Dinasti Murabbitun banyak mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan arsiktektur bangunan masjid.
Daulah inilah yang pertama membuat dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mu’minin dibagian depan mencontoh uang Abbasiyah dan bertuliskan kalimat iman dibagian belakang.
Terkait dengan ekonomi, di bawah kekuasaan Yusuf berkembang dengan pesat. Ia dapat mengumpulkan penghasilan untuk negara sebesar 120.000 pound emas. Ia juga menghapus pajak karena tidak ada perintah dalam Al-Qur’an. Dan kehidupan amat murah dan bersahaja sedang masyarakat menikmati kedamaian. Kehadiran agama Kristen dan Yahudi sedikit sulit namun mereka menikmati kebebasan beragama, tapi tidak boleh mendirikan gereja atau sinagong. Kebebasan berpikir pada zamannya dihalang-halangi, mereka menentang teologi dan sufisme. Dinasti Murabithun merupakan dinasti Sunni dengan mazdhab hukumnya Maliki. Namun dalam soal dekorasi bentuk puisi populer dan lagu berkembang.

D.      Kemunduran dan Kehancuran Kekuasaan Murabithun
Dinasti ini mengalami kemunduran dan kehancuran pada tahun 541 H. Sebab-sebab kehancuran mulai terasa ketika Ali, anak Yusuf menduduki jabatan Amir, karena tidak secakap ayahnya. Ia banyak menggunakan waktunya untuk beribadah, didominasi istrinya. Hal ini membuat masyarakat tidak bergembira, bangsawan berebut kekuasaan, tentaranya ceroboh, orang kaya Berber mengikuti jalan syetan.
Adapun secara terperinci, diantara faktor-faktor penyebab runtuhnya pemerintahan dinasti Murabbitun adalah:
1. Lemahnya disiplin tentara dan meraja lelanya korupsi yang melahirkan disintegrasi.
2. Berubahnya watak keras pembawaan Barbar menjadi lemah ketika memasuki kehidupan Maroko di Andalus yang mewah.
3. Mereka memasuki Andalus ketika kecemerlangan intelektual kalangan Arab telah mengganti kesenangan berperang.
4. Kontak dengan peradapan sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi.
5. Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, al-Muwahidun
Sedangkan menurut Abdul Hamid, sebagaimana yang dikutip oleh Taufiqurrahman, kehancuran Murabithun disebabkan juga diantaranya karena: 1) ketidaksukaan sekelompok kalangan terdidik dari Andalusia terhadap pemerintahan Murabithun yang dianggap keras, bodoh, tidak bisa memahami sastra budaya, menolak filsafat dan kalam dan hanya mengagungkan fiqih dan tafsir. Sifat inilah yang menyulut kebencian orang-orang Andalusia; 2) Murabithun tidak bisa mempertahankan sikap keberanian, kekuatan, kefanatikan pada agama. Hal ini dapat dilihat setelah 20 tahun menguasai Andalusia mereka menjadi pemalas, pemabuk, pemuas hawa nafsu, perampok dan pencuri dan penuasanya bergelimang dengan kecantikan wanita disamping figalanya ambisius.
http://ra4103gmail.blogspot.co.id/2011/11/dinasti-al-murabithun-448h1056m.html

DINASTI MURABITHUN

A. Berdirinya Dinasti Murabitun


Daulah Murabitun (479-540 H/1088-1145 M) adalah salah satu Islam yang berkuasa di Maghribi.Nama Murabitun berkaitan erat dengan nama tempat tinggal mereka (ribat, semacam madrasah). Mereka biasa juga diberi sebutan al-mulassimun (pemakai kerudung sampai menutupi wajah). Asal usul dinasti dari lemtuna salah satu puak dari suku senhaja. Berawal dari sekitar 1000 anggota pejuang. Diantara kegiatan mereka adalah menyebarkan agama Islam dengan mengajak suku-suku lain menganut agama Islam seperti yang mereka anut. Mereka mengambil ajaran mazhab salaf secara ketat. Wilayah mereka meliputi Afrika Barat Daya dan Andalusia. Pada mulanya merupakan gerakan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi gerakan religio militer.

Sekitar abad V H/XI M Salah seorang pemimpin mereka, Yahya ibn Ibrahim, melaksanakan ibadah haji. Di tanah suci ia menyadari bahwa pengikutnya masih awam terhadap ilmu pengetahuan agama. Untuk meningkatkan pengetahuaan keagamaan mereka dicarilah seorang yang sanggup melaksanakan tugas tersebut.

Untuk membina kehidupan keagamaan yang baik Abdullah ibn Yasin, dibantu Yahya ibn Umar, seorang pemimpin puak Lemtuna, dan saudaranya, Abu Bakar ibn Umar, mendirikan suatu tempat penggemblengan yang dinamakan ribat,yang terletak di pulau Niger,Senegal. Para penghuni ribat tersebut dikemudiaan hari disebut al-murabbitun. Perkumpulan ini berkembang dengan cepat sehingga dalam waktu yang relatif pendek sudah dapat menghimpun sekitar 1000 orang pengikut. Mereka berasal dari warga setempat ditambah dari para pemimpinnya dari lemtuna dan Masufa. Para pengikut ini kemudian dikirim ke berbagai suku untuk menyebarkan ajaran mereka sehingga jumlah anggotanya berkembang pesat.

Setelah Abu Bakar memegang pimpinan, ia meneruskan gerakan penaklukan ke sahara Maroko. Tahun 450 H/1058 M ia menyeberang ke Atlas tinggi. Setelah itu diadakan penyerangan ke Maroko tengah dan Selatan. Selanjutnya memerangi suku Barghawata yang dianggap menganut faham bid’ah. Pada penyerangan ini Abdullah ibn Yasin tewas tahun 451 H/1059 M. Sejak saat itu Abu Bakar memegang kekuasaan penuh dan lambat laun mengembangkan sistem kesultanan.

Sepeninggal Abu bakar digantikan oleh Abu Ya`kub Yusuf ibn Tasyfin. Pada masa ibn Tasyfin dibangunlah kota Marakesy untuk dijadikan ibukota pemerintahan. Ekspanasi wilayah masih terus dilanjutkan dan bahkan sampai ke Aljiers (Aljazair).ia mengangkat pejabat dari kalangan Murabitun untuk menduduki jabatan gubernur pada wilayah taklukan,sementara ia memerintah di Maroko.pada masa yusuf Tasyfin ini Murabitun mengalami kejayaan.

Puncak pretasi dan karir politik Yusuf ibn Tasyfin dicapai ketika ia berhasil menyebrang ke Spanyol. Keberangkatanya ke Spanyol atas undangan amir Cordova, Al-Mu`tamid ibn Abas, yang terancam kekuasaannya oleh raja Alfonso VI (raja Leon Castillia). Dalam sebuah pertempuran besar di zallakah tanggal 12 Rajab 479 H/23 Oktober 1086 M, ia berhasil mengalahkan raja Alfonso VI selanjutnya berhasil merebut Granada dan Malaga.Mulai saat itulah ia memakai gelar Amir Al-Mukminin. Pada akhirnya ia juga berhasil menaklukan muluk Al-Thawaif. Kemudian menggabungkan wilayah itu dalam kerajaan yang dibagun. Yusuf juga berhasil menaklukan Almeria dan Badajoz.

Ketika Yusuf meninggal ia mewariskan kekuasaan kepada anaknya, Ali ibn Yusuf, suatu wilayah kerajaan yang luas dan besar terdiri dari negeri di Maghribi dan Spanyol. Ali melanjutkan politik pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonso VI pada tahun 1108. Namun lambat laun dinasti Murabbitun mengalami kemunduran dalam memperluas wilayah. Hal ini disebabkan perubahan sikap mental mereka, yaitu menghadapi kemewahan yang berlebihan yang mengubah mereka dari sikap keras kehidupan sahara menjadi lemah lembut dalam kehidupan Spanyol yang penuh gemerlap dan kemewahan materi. Ali mengalami kekalahan pada pertempuran yang terjadi Cuhera tahun 522 H/1129 M, dan sejak itu terus beransur-angsur melemah. 

Dinasti Murabbitun memegang kekuasaan selama kurang lebih 90 tahun dengan enam orang penguasa, yaitu Abu Bakar Ibn Umar, Yusuf Ibn Tasyifin, Ali Ibn Yusuf, Tasyifin Ibn Ali, Ibrahim Ibn Tasyifin, dan Ishak Ibn Ali. 

Menjelang pertengahan abad XII Murabbitun mulai retak. Di Spanyol Muluk al-Thawaif menolak kekuasaanya. Di Maroko sebuah gerakan keagamaan (Muwahidun) mulai mengingkari.

B. Kelemahan Dinasti Murabithun

Kelemahan-kelmahan Dinasti ini adalah: 

1. Lemahnya disiplin tentara dan merajalelanya korupsi melahirkan disintergrasi.

2. Berubahnya watak keras pembawaan Barbar menjadi lemah ketika memasuki kehidupan Maroko dan Andalusia yang mewah.

3. Mereka memasuki Andalus ketika kecemerlangan intelektual kalangan Arab telah mengganti kesenangan berperang.

4. Kontak dengan peradaban yang sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi

5. Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, al-Muwahidun.

C. Peranan Murabbitun

Di Afrika Utara sejak abad VII-X M bangsa Barbar menganut paham Khawarij, Syi`ah, dan sufi. namun sesudah abad XII M Islam salaf yang dikembangkan oleh Murabbitun memegang perang penting mempersatukan bangsa Barbar dalam satu kesatuan. Nama Murabbitun berasal dari huruf Arab r,b,t, melambangkan (referring to) teknik peperangan jarak dekat, Murabbitun adalah puritan. Abdullah ibn yasin melarang minuman keras, menghancurkan instrumen musik, menghapus penguatan ilegal, menerapkan hukum Islam tentang pembagian rampasan perang. 

Daulah Murabitun yang pertama membuat dinar memakai huruf arab dengan tulisan Amir Mukminin. Kekuasaan Dinasti Murabbitun di Spanyol Dinasti Murabbitun pada awalnya adalah sebuah penguyuban militer keagamaan yang didirikan pada paruh abad ke-11 oleh seorang muslim yang saleh di sebuah ribath (dari sini berasal nama Murabbitun), sejenis padepokan masjid yang di bantengi, di sebuah pulau di Senegal. Anggota-anggota pertamanya terutama berasal dari lamtunah, semua dari suku sanhaji,yang orang-orangnya hidup sebagai pengembala di padang Sahara dan sebagaimana kebiasaan keturunan mereka, suku Thawarig (Touareg) mengenakan cadar yang menutupi wajah di bawah mata. Adat-adat mereka ini memunculkan nama lain, Mulastsamun (para pemakai cadar), yang kadang-kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabitun. Berawal dari sekitar seribu “rahib”prajurit, Murabitun memaksa semua suku, satu demi satu, termasuk suku-suku negro,untuk memeluk Islam dan dalam beberapa tahun mereka berhasil menegakkan diri sebagai penguasa atas seluruh wilayah Afrika barat-laut Yusuf ibn Tasyfin (memerintah pada 1061-1106 ), salah seorang pendiri kekaisaran Murabitun,pada 1062 membagun kota Maroko, yang menjadi ibukota pemerintahanya dan para penerusnya. 

Di Spanyol, mereka lebih memilih kota Seville dari pada Kordova, sebagai ibukota kedua.para raja Murabitun mempertahankan semua otoritas penguasa, dan menyandang gelar Amir Al-Muslimin, tetapi dalam persoalan spiritual mereka mengakui otoritas yang tertinggi Khalifah abbasiyah di Baghdad, sebuah otoritas yang telah dibuang ketika rezim umayyah manggung. Selama lebih dari seribu abad, kekuasaan murabbitun begitu kuat di Afrika barat-Daya spanyol selatan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah.Di bawah kekuasaan golongan Muabbitun terdiri atas para muallaf yang mewarisi tradisi barbar yang belum purnah muncul ledakan gairah keagamaan fanatic di awal abad ke-12, yang pada gilirannya merugikan kaum Kristen, Yahudi, bahkan kaum muslim liberal. 

Di bawah kekuasaan ‘Ali yang salaeh (1106-1143), putra sekaligus penerusYusuf, karya-karya al-Ghazzali dimasukkan dalam daftar hitam, atau dibakardi Spanyol dan Maroko, karena beberapa pandangannya yang dianggap menghina para teolog (faqih), termasuk mazhab Maliki-mazhab resmi kaum Murabbitun. Tetapi al-Ghazzali telah menjadi ulama Timur terdepan yang secaraterus terang mengungkapkan kesetujuannya atas fatwa hokum para faqih Spanyol, yakni bahwa Yusuf ibn Tashfin terbebas dari janji apapun yang pernah dibuatnya untuk raja-raja kecil di Spanyol muslim, dan bahwa tugas untuk menggulingkan para raja kecil itu bukan hanya hak Yusuf, melainkan menjadi buah kewajiban. 

Di Lucena, yang oleh al- Idrisi disebut kota Yahudi, para penduduknya yang paling kaya di antara para pemeluk agama lain di dunia muslim, diminta oleh penguasa Murabbitun di Spanyol agar merogoh kocek untuk menutupi deficit kas Negara. 

Di bawah kekuasaan dinasti Umayyah status hokum kaum Yahudi Spanyol benar-benar mengalami peningkatan besar ketimbang pada masa Gotik Barat, dan populasi merekapun ikut menigkat. Selama kekhalifahan ‘Abd al-Rahman III, dan putranya al-Hakam, banyak orang Yahudi di bawah pengaruh bendahara Negara, Hasday ben Syaprut berdatangan dari Timur, sehingga Kordova menjadi pusat pendidikan Talmud, dan ini menandai awal perkembangan kebudayaan Yahudi Spanyol.

Kaum Mozarab, unsur penduduk Spanyol yang bahasa dan cara hidupnya sudah berasimilasi dengan kaum muslim pendatang, tapi tetap mempertahankan keyakinan kristennya, tumbuh semakin banyak, dan karenanyamereka menjadi objek khusus dalam segala aturan yang sarat larangan. Di kota-kota besar, kaum Kristen yang terarabkan ini tinggal di lingkungan itu sendiri, memiliki kaum sendiri pada periode kekuasaan Umayah dan tidak mengenakan pakaian khusus.Mereka biasanya Menyandang dua nama:satu nama Arab sebagai nama Formal. Bahkan, mereka juga di sunat, dan memelihara harem. Sebagain besar orang Mozarab bias menggunakan dua bahasa,bahasa ibu mereka yaitu bahasa Latin Rendah, sempalan dari bahasa Romawi, yang kemudian menjadi bahasa Spanyol. 

Dari sisi suku atau ras, saat ini susah ditarik garis pemisah antara kaum Muzarab dan muslim dalam masyarakat perkotaan. Sejaka awal, seperti kita telah kita liat sebelumnya, jumlah orang Arab asli yang terhimpun dalam pasukan penakluk, atau yang hidup di antara para pemukim baru, sebenarnya cuma sedikit, terbatas pada para pemengang komando dan pejabat tinggi. Jumlah perempuan yang menyertai pasukan dan para imigran pertama pun tak banyak. Wabah dan pertempuran telah membinasakan sebagian kaum penkaluk dan para pemukim baru. Setelah generasi keempat, darah Arab pasti sudah banyak tercampur melalui perkawinan dengan wanita pribumi. Para gundik,budak,dan tawanan perang, sebagaimana di wilayah-wilayah taklukan lain, telah mem,Bantu percampuran ini. 

Sejumlah penelitian Ribera memperlihatakan bahwa kaum muslim Spanyol, yang di sebut oaring Moor, bahkan sebagian berdarah Spanyol

Dalam periode Murabitun awal inilah seorang figur paling bersemangat di kalangan mozarab, sekaligus pahlawan paling terkemuka di kalangan ksatria Spanyol, Rodrigo Diaz de Bivar yang lebih di kenal nama Cid, mmemantapkan operasi militernya. Rotrigo-keturunan keluaraga bangsawan Castile-awalnya bekerja untuk Alfonso VI, tetapi kemudian (1081) ia di buang dari wilayah kerajaan Castile.
Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Dinasti murabithun mengalami kemajuan ketika berada dibawah kemimpinan Yusuf bin Tasyfin (1061-1106 M.). Ia memperluas kekuasaannya ke Fes, kemudian ke Tlemsan dan Aljazasair, hingga memcapai pengunungan kabyles. Prestasi ini menunjukkan bahwa Murabhitun merupakan dinasti suku Berber yang pertama kali berhasil menguasai sebagian besar wilayah afrika Utara bagian barat. 
  2. Atas berbagai keberhasilannya itu, Dinasti Murabhitun kemudian mendaulat diri sebagai dinasti yang otonom di mana penguasannya diberi gelar Amir Al-muslimin.
  3. Kemajuan Murabhitun tidak hanya peluasan wilayah, tetapi juga di bidang yang lain. Masjid dan istana megah di Marakisy di bangun, dan lain-lainnya.
https://youchenkymayeli.blogspot.co.id/2014/02/dinasti-murabithun.html

Murabithun

 
Peta yang menunjukan wilayah kekuasaan Murabitun.
Murabithun atau Almoravid (dalam Arab المرابطون al-Murabitun, sing. مرابط Murabit), adalah dinasti Berber  yang berasal dari Sahara dan menyebar di wilayah Afrika Barat-Laut dan semenanjung Iberia selama abad ke-11.
Dibawah dinasti Moor, kekaisaran ini terbentang dari MarokoSahara BaratGibraltarTlemcen (di Aljazair), SenegalMaliSpanyol dan Portugal.
https://id.wikipedia.org/wiki/Murabithun

DINASTI MURABITHUN

A.    Proses Berdiri dan Berkembangnya Dinasti  Murabithun

           Murabithun adalah salah satu dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi. Nama Murabithun berkaitan erat dengan nama tempat tinggal mereka (ribat, semacam madrasah). Mereka biasa juga diberi sebutan al-mulassimun (pemakai kerudung sampai menutupi wajah). Asal usul dinasti dari Lemtuna, salah satu puak dari suku Senhaja. Berawal dari 1000 anggota pejuang. Diantara kegiatan mereka adalah menyebarkan agama Islam dengan mengajak suku-suku lain menganut agama Islam seperti yang mereka anut. Mereka mengambil ajaran mazhab Salaf secara ketat. Wilayah mereka meliputi Afrika Barat Daya dan Andalus. Pada mulanya gerakan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi religio militer.  
          Dalam meyiarkan Islam  dengan sebutan al-Mulassimun juga dinyatakan oleh Dr. Ali Mufrodi: ” mereka menyiarkan Islam dengan semangat dan menggunakan cadar, sehingga dinamakan al-Mulassimun (orang-orang yang bercadar) ”.
          Perkataan “al-Murabithin “ sebagaimana di tulis oleh Greet, berasal dari bahasa Arab”murabith” yang dalam bahasa Perancis disebut “marabout”, bermakna mengikat, menyimpulkan, memasang, melekatkan, mengaitkan dan menambatkan. Dengan demikian seorang Marabout atau Murabith adalah orang yang terikat, tertambat kepada Tuhan, bagaikan seekor unta yang diikat pada tiang tambatan, atau kapal yang ditambat di dermaga dan sebagainya . 
         Sementara Lapidus mengatakan bahwa “al-Murabithun” berasal dari sebuah akar kata Al-Qur’an “ r-b-t “ yang merujuk pada       tehnik     pertempuran jarak dekat dengan 
                                                                                         
infantri di barisan depan dan pasukan berunta dan berkuda pada barisan belakang (yang 
sudah lazim dalam pertempuran masyarakat Berber) , menunjukkan bahwa “al-Murabithun “ bermakna orang-orang yang terjun ke Medan perang suci sebagaimana yang diisyaratkan al-Qur’an .   Dapat dilihat dalam surat al-anfal ayat 60:
واعد هم ما استطعتم من قوة ومن ربا ط الخيل تر هبون به عد الله     
وال وعدوكم واخرين من دو نهم لا تعلمو نهم الله يعلمهم                         
Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu   sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu ) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.
           Hal yang senada  juga  dinyatakan oleh Philip K. Hitti bahwa pada mulanya al-Murabithun ini merupakan kumpulan persaudaraan militer, mereka mengambil anggota-anggotanya yang baru dari kalangan suku-suku yang kaum lelakinya memakai kerudung yang menutupi muka sampai ke mata, justru itu mereka dinamai juga dengan pemakai kerudung . 
           Sementara itu menurut K.Ali   Murabithun  berasal dari kata “ribath “ sebuah kata turunan lainnya yang berarti sebuah tenpat suci yang menyerupai benteng , seperti biara bagi para biksu dan “Rabat” ibu kota negeri ini (Magrib) juga berasal dari kata “Ribat” yang berarti tempat suci.  

             Dari beberapa uraian diatas dapat dipahami bahwa Murabihun  nampaknya pada  awalnya adalah merupakan suatu gerakan keagamaan  yang bertujuan memberantas berbagai penyelewengan keagamaan dan akhirnya berkembang memasuki wilayah militer dan kemudian politik dan kekuasaan.
           Seperti telah disinggung diatas bahwa Murabithun berasal dari suku Lamtunah, yaitu merupakan bagian dari cabang suku  Shanhajah dari suku Barbar. Jumlah mereka semakin bertambah ketika Musa bin Nushair menjadi gubernur diwilayah Afrika. Dalam perkembangan berikutnya, mereka menjadi sebuah komunitas yang cukup dominan di wilayah tersebut.Gerakan Murabithun ini dipelopori Yahya bin Ibrahim Al-Jaddali salah seorang kepala suku Lamtunah. Gerakan ini dimulai sekembalinya dari perjalanan ibadah haji. Dalam perjalanan kembali ke kampung halaman di Naflis, ia berjumpa dengan seorang alim bernama Abdullah bin Yasin Al-Jazuli. Dengan kesungguhan hati, Yahya bin Ibrahim meminta Abdullah bin Yasin untuk datang ke tempat tinggalnya dan mengajarkan ilmu agama yang benar kepada penduduk ditempat tinggal Yahya, sehingga ia bersama Yahya pergi menuju  tempat kelahiran  Yahya bin Ibrahim. Akan tetapi, dakwah yang disampaikan Abdullah bin Yasin tidak mendapat banyak sambutan, kecuali dari keluarga Yahya bin Ibrahim, Yahya bin Umar dan keluarga adiknya Abu Bakar bin Umar. Melihat kegagalan dakwah  yang disampaikannnya, akhirnya Abdullah bin Yasin mengajak beberapa orang pengikutnya pergi ke sebuah pulau di Sinegal. 
          Kegagalan dakwah tersebut di latarbelakangi  karena: pada mulanya tindakan keras dan tegas yang diperaktekkan oleh Abdullah bin Yasin dalam mengajarkan sekaligus memurnikan ajaran Islam, telah mengurangi simpati mereka kepadanya,sehingga hamper saja beliau meninggalkan ummat yang baru dihadapinya tersebut untuk pergi berdakwah ke Sudan.Namun karena bujukan dan desakan dari beberapa teman dekatnya, akhirnya Abdullah bin Yasin mau bertahan dan menetap disana.
          Orang- orang Berber yang berpandangan luas menyesali tindakan mereka terhadap Abdullah bin Yasin, dan datang meminta maaf serta menyatakan bersedia melaksanakan ajaran- ajaran gurunya, sehingga secara bersama-sama mereka mendirikan ribat, semacam pesantren, di hulu sungai Sinegal . 
           Disinilah Abdullah bin Yasin dan para pengikutnya mendirikan ribat . Orang –orang yang bergabung dengan kelompok Abdullah bin Yasin dan Yahya bin Ibrahim, semakin bertambah banyak. Ketika jumlah pengikutnya  sekitar seribu orang, Abdullah bin Yasin memerintahkan kepada seluruh pengikutnya untuk menyebarkan ajaran mereka keluar ribath dan memberantas berbagai penyimpangan ajaran agama. Sasaran usaha kelompok ribath ini tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi juga kepada para penguasa yang memungut pajak terlalu tinggi tanpa ada distribusi yang jelas kepada masyarakat.  
          Dalam perkembangan selanjutnya, ketika pengikut ribath semakin bertambah banyak, mereka mulai melirik cara lain dalam perkembangan ajaran kelompok ini, yaitu dengan memasuki wilayah politik militer dan kekuasaan.Untuk kepentingan itu, mereka mengangkat Yahya bin Umar menjadi panglima militer mereka. Kelompok ini kemudian melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Sahara Afrika dan menaklukan penduduknya.Usaha ekspansi ini bukan berarti tidak ada perlawanan sengit, penguasa Sijilmash bernama Mas’ud bin Wanuddin al-Magrawi melakukan perlawanan sengit, meskipun akhirnya gugur dalam pertempuran tersebut dan ibu kota Wadi Dar’ah direbut oleh kelompok Murabithun pada tahun 1055 M.  
                 Dr. Hasan Asari, MA menyebutkan, Ribath tidak menjadi lembaga sufi pada saat pertama lembaga ini diperkenalkan. Pada abad ke-1/7, semasa berlangsungnya penaklukan besar-besaran yang dilakukan pasukan Muslim, ribath berarti barak-barak tentara yang berada pada garis depan, dekat dengan perbatasan daerah yang masih dikuasai musuh atau yang sedang dalam proses penaklukan. Asosiasi ribath  dengan persoalan militer dapat dilihat dalam sejarah munculnya dinasti Murabithun, yang pernah 
Menjadi  penguasa Afrika Utara dan al-Andalusia  dari pertengahan abad ke - 5/ 11 hingga pertengahan abad berikutnya, meskipun asosiasi ini bukan kondisi yang umum lagi sejak abad ke -8/ 14. Para penghuni Ribath (murabith, murabithun) kemudian mengalihkan perhatiannya dari perang fisik  melawan musuh kepada perang spiritual melawan diri dan jiwa mereka sendiri dalam praktek-praktek sufi.  
           Setelah Yahya bin Umar meninggal pada tahun 1056 m, tampuk kekuasaan diambil alih oleh adiknya yang bernama Abu Bakar dan kemanakannya bernama Yusuf bin Tasyfin. Setelah Abdullah bin Yasin meninggal pada tahun 1059 M, dalam suatu pertempuran Samudera Atlantik. Sepeninggal Abdullah bin Yasin, tampuk kekuasaan dan wilayah-wilayah kekuasaan kaum ribath diambil alih oleh Abu Bakar dan Yusuf bin Tasyfin.
          Ketika terjadi konflik di antara suku-suku yang ditinggalkannya di bagian utara, kedua berpisah. Abu Bakar kembali ke Sahara untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban. Sementara Yusuf bin Tasyfin melanjutkan usaha penaklukannya ke wilayah Utara. Usaha keduanya berhasil dengan baik. Karena itu, Abu Bakar berkeinginan kembali ke utara dan mengambil kekuasaan. Tetapi apa yang diharapkan Abu Bakar tidak menjadi kenyataan. Karena kedatangannya ke wilayah Magribi tidak diharapkan oleh Yusuf bin Tasyfin dan istrinya bernama Zainab. Karena itu, ketika Abu Bakar tiba Yusuf tidak pernah menyinggung soal kepemimpinan. Yusuf hanya memberikan hadiah dengan jumlah yang cukup banyak.
          Tampaknya Abu Bakar tidak mau bersitegang dengan kemanakannya hanya karena persoalan politik kekuasaan. Karena ia menyadari bahwa latar belakang berdirinya kelompok ini semata bertujuan   memberikan peringatan kepada semua orang dan para penguasa yang telah melakukan penyimpangan ajaran agama. Karena itu kemudian ia pergi meninggalkan  Mahgribi dan kembali ke Sahara, terus pergi ke Sudan dan meninggal disini.  Setelah satu tahun Yusuf bin Tasfin memimpin kesultanan Al-Murabithun, dia langsung membangun kota Marrakech dan menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahannya.                                                       
           Ekspansi wilayah masih terus dilanjutkan dan bahkan sampai ke Aljazair. Ia menganggkat pejabat dari kalangan Murabithun untuk menduduki jabatan gubernur pada wilayah taklukan, sementara ia memerintah di Maroko. Pada masa Yusuf Tasyfin ini Murabithun mengalami kejayaan. 
          Puncak prestasi karir politik Yusuf bin Tasyfin dicapai ketika ia berhasil menyeberang ke Spanyol. Keberangkatannya ke Spanyol atas undangan amir Cardoba, Al-Mu’tamid bin Abbas, yang terancam kekuasaan oleh raja Alfonso VI (raja Leon Castelia). Dalam melaksanakan perjalanan ini Yusuf Bin Tasyfin mendapat dukungan dari Muluk al Thawaif Andalus. Dalam sebuah pertempuran besar di Zallakah tanggal 12 Rajab 479 H/ 23 Oktober 1086 M, ia berhasil mengalahkan raja Alfonso VI selanjutnya berhasil merebut Granada dan Malag. Mulai saat itulah ia memakai gelar Amir al-Mukminin. Pada akhirnya ia juga berhasil menaklukan Muluk al-Thawaif.kemudian menggabungkan wilayah itu dalam kerajaan yang dibangun.Yusuf juga berhasil menaklukan Almeria dan Badajoz. Kemudian menaklukan kerajaan Saragosa dan pulau Balearic. 
         Yusuf bin Tasfin wafat dalam usia seratus tahun (1106), yang pada waktu itu kekuasaannya telah sampai ke Liberia Selatan termasuk juga Valencia dan Afrika Utara dari kepulauan Atlantik sampai dengan Aljazair. Warisan yang cukup luas tersebut diterima anaknya yang bernama Ali bin Yusuf bin Tasfin dan berhasil melanjutkan politik pendahulunya dengan mengalahkan anak Alfonso VI tahun 1108.  

B.  Kemajuan yang Dicapai Dinasti Murabithun
 a.   Filsafat.
            Pada masa Daulah Umayyah II telah diketahui bahwa Cardoba dengan perpustakan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Bagdad sebagai pusat Ilmu Pengetahuan dan peradaban Islam.  Kebijakan para penguasa Dinasti Umayah di Andalusia ini merupakan langkah    untuk melahirkan    para ilmuan     dan       filosof terkenal pada masa
Daulah Murabithun antara lain: Ibnu Bajjah,Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd . 
b.   Sains
          Diantara Sain yang  berkembang saat itu adalah kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain. Salah seorang tokoh terkenal dalam kimia dan astronomi adalah Abbas bin Farmas. Dia adalah orang yang pertama yang manemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim bin Yahya Al-Naqqash terkenal dalam astronomi. Dalam riset  yang dilakukannya berhasil menentukan beberapa lama terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lama waktu terjadinya gerhana tersebut. Selain itu ia juga berhasil membuat teropong bintang modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad bin Abbas dari Cardoba adalah seorang ahli dalam bidang obat-obatan.  Ummul Hasan bin Ja’far dan saudara perempuannya Al-Hafidz adalah orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.  
          Selain itu daulah Murabithun yang pertama  membuat uang dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mukminun dibagian depannya  mencontoh uang Abbasyiah dan bertuliskan kalimat iman dibelakanggnya .   Selain itu dibangun  pula sejumlah Mesjid yang indah  di berbgai kota.
c.   Fiqih Mazhab Maliki
           Mazhab Maliki ini mengalami perkembangan yang signifikan karena selain satu-satunya mazhab yang dapat diterima dikalangan muslimm Andalusia, juga karena mendapat dukungan dari penguasa Murabithun dan para fuqaha. Maka wajar mazhab  ini mengalamai kemajuan pesat.  
                                                         
C.   Kemunduran  dan Kehancuran Dinasti Murabithun

          Pada pertengahan abad ke 12, pemerintahan Al-Murabithun mulai terdesak, dan beberapa beberapa kesultanan Muslim Spanyol menolak otoritasnya. Hal ini disebabkan oleh perubahan sikap mental mereka, yakni dengan terkondisinya kemewahan yang berlebihan. Perubahan sikap tersebut jelas kelihatan, dari selama ini mereka keras dalam kehidupan Sahara, menjadi sangat lemah lembut dalam kehidupan Spanyol yang penuh gemerlap kemewahan materi.  Selain itu  penguasa –penguasa sesudah Yusuf ibnu Tasyfin adalah raja-raja yang lemah.  Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir.  
           Sepeninggal Yusuf bin Tasyfin pada 1106 M, kekuasaan Murabithun hanya bertahan kurang lebih setengah abad, Karena fase ini Ali bin Yusuf tidak banyak melakukan konsulidasi kekuatan dan kekuasaan, sehingga mengalami  masa-masa kemunduran. Dalam catatan sejarah diketahui bahwa Ali bin Yusuf tidak secakap ayahnya dalam masalah kepemimpinan dan politik, karena ternyata Ali lebih cendrung ke masalah-masalah keagamaan. Sehingga untuk kepemimpinan dan kenegaraan, para ulama yang memainkan nya. Peranan ulama sangat dominant di dalam memerintah menjadi penyebab ketidaksukaan keompok Kristen. Sebab kedudukan dan jabatan strategis dalam pemerintahan dipegang oleh mereka. Mereka mengeluarkan kebijakan yang sangat diskriminatif, khususnya terhadap kleompok Yahudi dan Kristen. Apabila kelompok non Muslim ingin menjalankan praktek keagamaan, mereka diminta untuk membayar pajak bila ingin bebas menjalankan ibadahnya. Bagi masyarakat non Muslim yang tidak mampu membayar, mereka diminta untuk pergi meninggalkan tempat tinggal mereka. Kebijakan yang tidak popular ini menjadi salah satu factor penyebab perlawanan masyarakat non Muslim Andalusia.  
           Menjelang  pertengahan abad XII Murabithun mulai retak. Di Spanyol Muluk al-Thawaif menolak kekuasaaannya. DiMaroko sebuah gerakan keagamaan (muwahidun ) mulai mengingkari .  
          Kemunduran yang dialami oleh Al-Murabithun, juga dipicu oleh kecendrungan dari para pemimpinnya yang senang menumpuk harta kekayan disamping para fuqahanya terjerumus pada mengkafirkan orang lain yang berusaha untuk merobah moral masyarakat dengan mengokohkan prinsif-prinsif syari’ah dan aqidah. Sehingga   dapat   dirangkumkam, kelemahan kemudian kehancuran dinasti ini disebabkan oleh :
1.  Lemahnya disiplin tentara dan merajalelanya korupsi melahirkan disintegrasi.
2.  Berubahnya watak keras pembawaan Barbar menjadi lemah ketika memasuki kehidupan            
     Maroko dan Andalus yang mewah.
3.  Mereka memasuki Andalus ketika kecemerlangan inteletual kalangan arab telah    meng
     ganti kesenangan berperang.
4.  Kontak dengan peradaban yang  sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi.
5.  Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, al-Muwahidun.  
           Dinasti Al-Murabithun  memegang tampuk kekuasaan selama sembilan puluh tahun, dengan penguasa enam orang, yang terdiri dari :
-    Abu Bakar bin Umar memerintah dari tahun 1056-1061
-    Yusuf bin Tasfin (1061-1107)
-    Ali bib Yusuf (1107-1143)
-    Tasfin bin Ali (1143-1145)
-    Ibrahim bin Tasfin (1145-1147) 
-     Ishak bin Ali (1147) . 
             Dinasti Al-Murabitun berakhir, ketika dikalahkan Dinasti Al-Muwahidun yang dipimpin oleh Abdul Mukmin dalam menaklukan Marokko pada tahun 1147, ditandai dengan terbunuhnya Penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali. Walaupun sebelumnya  tentara Kristen  mulai bergerak memanfaatkan kelemahan Murabithun.
             Gerak maju Katholik Roma ke Andalusia, yang tertunda dengan kedatangan al- Murabithun, kemudian mendapat momentumnya  kembali. Namun demikian, sekali lagi hal ini terhenti dengan kedatangan gelombang lain kaum Muslim dari Afrika Utara, yaitu kaum Almohad atau dalam bahasa Arab: al- Muwahhidun. 

http://politik132.blogspot.co.id/2013/03/dinasti-murabithun-dan-muwahhidun-bab-i.html






Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer