DINASTI HAMDANIYAH Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

Dinasti Hamdaniyah
(293-392 H)
            Dinasti Hamdaniyah merupakan salah satu dari beberapa dinasti yang memisahkan diri dari Dinasti Abbasiyah. Seperti dinasti lainnya, Dinasti Hamdaniyah merupakan dinasti yang tidak bisa diremehkan. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas secara detail mengenai Dinasti Hamdaniyah.
            Dinasti ini dikaitkan kepada Hamdan ibn Hamdun ibn al-Harits dari suku Taghlab. Wilayah kekuasaannya membentang dengan batas Byzantium, Mosul, Halb, dan Humush. Husain ibn Hamdan sangat setia terhadap Khalifah. Ia membantu Khalifah memerangi kaum Khawarij, lalu berperan besar dalam perang melawan Qaramithah dan dalam serangan militer yang dipersiapkan Khalifah untuk merebut kembali Mesir dari tangan orang-orang Thuluniyah. Tapi, akibat konfliknya dengan menteri Khalifah al-Muqtadir, ia dipenjara dan dibunuh pada 306 H. Posisinya digantikan saudaranya, Ibrahim, pada 307 H. Ibrahim meninggal dunia setahun kemudian (308 H). Ibrahim digantikan oleh saudaranya, Dawud, hingga 309 H. Bersama Khalifah al-Muqtadir, Dawud berperang melawan Mu’nis al-Khadim hingga terkena anak panah dan meninggal (320 H).
            Adapun Sa’id, atau lebih dikenal dengan nama Abu al-‘Ala’, menjadi penguasa Mosul dan Nahawand. Abu al-Hayja’ Abdillah ibn Hamdan membantu khalifah al-Qahir mengalahkan saudaranya, al-Muqtadir. Ketika al-Muqtadir mundur, Abu al-Hayja’ dibunuh (317 H). Abu al-Saraya Nashr ibn Hamdan kabur ke Mosul, menjadi penguasa di sana, lalu dibunuh oleh al-Qahir (322 H). Dinasti Hamdaniyah sebenarnya sudah hancur sebelum akhir 322 H. Namun, Abdullah ibn Abi al-Hayja’ mewariskan kekuasaan Mosul ke tangan anaknya, Hasan Nashir al-Dawlah, yang berhasil mempertahankan kekuasaan semenjak 308 H hingga dirinya meninggal dunia (358 H). Rentang waktu tersebut dikecualikan dari waktu singkat (317-319 H), ketika Sa’id dan Nashr (dua paman Hasan Nashir al-Dawlah) merebut kekuasaan Hsan atas titah Khalifah al-Muqtadir. Semua raja Dinasti Hamdaniyah beraliran Syiah Rafidhah. Abu al-Hayja’ dianggap sebagai pendiri dinasti yang sebenarnya.
            Dinasti Hamdaniyah sangat masyhur ketika dipimpin Sayf al-Dawlah al-Hamdani. Ia sastrawan dan penyair. Perangnya melawan Byzantium meninggalkan pengaruh besar di lembaran sejarah Islam. Sayf al-Dawlah mengobarkan semangat jihad dan perang melawan Byzantium. Benteng-benteng seperti Malathiya, Hadats, Mar’asy, Haruniyah, Kanisah, ‘Ayn Zurbah, Mashishah, Udnah, dan Kharsus menjadi pertahanan tangguh dalam menghadapi gempuran Byzantium. Waktu itu, semua peperangan Sayf al-Dawlah adalah perang defensif melawan serangan bertubi-tubi Byzantium. Peperangan Sayf al-Dawlah adalah bagian penting dari seluruh bagian Perang Salib. Hubungan Dinasti Hamdaniyah dengan Dinasti Abbasiyah berjalan maju-mundur, kadang sejalan dan kadang berlawanan. Kerajaan ini lebih condong kepada aliran Syiah.
Ada beberapa khalifah yang pernah berkuasa di Dinasti Hamdaniyah, yakni.
  1. Abu al-Hayja’ Abdullah ibn Hamdan (293-317 H) 
  2. Hasan Nashir al-Dawlah (317-353 H) 
  3. Fadhlullah Abu Taghlab al-Ghadhanfar (353-368 H) 
  4. Ali Sayf al-Dawlah al-Hamdani (333-356 H) 
  5. Abi Ma’ali Syarif Sa’d al-Dawlah (356-381 H) 
  6. Abu al-Fadha’il Sa’id al-Dawlah (381-392 H)
            Pada masa Hasan, Dinasti Buwayhiyah berhasil merebut kekuasaan Hamdaniyah di Mosul dan Aljazair. Lalu pada masa Abu al-Fadha’il Sa’id al-Dawlah, Dinasti Fathimiyah berhasil merebut kekuasaa mereka di Halb, Humush, dan Qinashrin. 
http://elconquistador123.blogspot.co.id/2015/05/artikel-dinasti-hamdaniyah.html


Dinasti Hamdaniyah ( 972- 1152 M ).


            Pada waktu dinasti Ikhsidiyah berkuasa di sebelah utara Mesir muncul pula dinasti lain sebagai saingannya, yaitu dinasti Hamdaniyah yang Syi’i. Dinasti ini didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun, seorang amir dari suku Taghlib. Pada masa hidupnya, Abu Hamdan Ibn Hamdun pernah ditangkap oleh khalifah Abbasiyah karena beraliansi dengan kaum khawarij unutk menentang kekuasaan Bani Abbas. Akan tetapi, atas jasa putranya (Husain) Ibn Hamdun diampuni. Putranya yang bernama Al Husain adalah panglima pemerintahan Abbasiyah dan Abu Haija Abdullah diangkat menjadi gubernur Mousul oleh khalifah Al Muktafi pada tahun 905 M.

            Wilayah kekuasaan dinasti ini terbagi dua bagian, yaitu wilayah kekuasaan di Mosul dan wilayah kekuasaan di Halb ( Aleppo ). Wilayah kekuasaan di Aleppo, terkenal sebagai pelindung kesusastraan Arab dan Ilmu Pengetahuan. Pada masa itu pula muncul tokoh- tokoh cendekiawan besar seperti Abi al Fath dan Utsman Ibn Jinny yang menggeluti bidang Nahwu, Abu Thayyib al Mutannabi, abu Firas Husain Ibn Nashr ad daulah, Abu A’la al Ma’ari, dan Syaif  ad Daulah sendiri yang mendalami ilmu sastra, serta lahir pula filosof besar, yaitu Al- Farabi.

            Setelah meninggalnya Haija, tahta kerajaan di Mosul beralih pada seorang putranya, yaitu Hasan Ibn Abu Haija yang diberi gelar Nashir ad Daulah dan Ali Ibn Haija yang bergelar Syaif ad Daulah . Syaif ad Daulah inilah yang berhasil menguasai daerah Halb dan Hims dari kekuasaan dinasti Ikhsidiyah yang kemudian menjadi pendiri dinasti Hamdaniyah di Halb (Aleppo).

            Mengenai jatuhnya dinasti ini terdapat beberapa faktor. Pertama, meskipun dinasti ini berkuasa di daerah yang cukup subur dan makmur serta memiliki pusat perdagangan yang strategis, sikap kebaduiannya yang tidak bertanggung jawab dan destruktif tetap ia jalankan sehingga rakyat menderita. Kedua, bangkitnya kembali Dinasti Bizantium di bawah kekuasaan Macedonia yang bersamaan dengan berdirinya dinasti Hamdaniyah di Suriah menyebabkan dinasti Hamdaniyah tidak bisa menghindari invasi serangan Bizantium yang energik sehingga Aleppo dan Himsh terlepas dari kekuasaannya. Ketiga, kebijakan ekspansionis Fatimiyah ke Suriah bagian selatan, sampai mengakibatkan terbunuhnya Said ad Daulah yang tengah memegang tampuk kekuasaan Hamdaniyah. Hingga dinasti ini jatuh ke tangan dinasti Fatimiyah.
http://narutoiain.blogspot.co.id/2011/04/dinasti-hamdaniyah.html


 DINASTI HAMDANIYAH

Dinasti Hamdaniyah didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun, nama dinasti ini dinisbahkan kepada pendirinya Hamdan Ibn Hamdun yang bergelar al-Haija. seorang amir dari suku Taghlib. Putranya Husaen adalah panglima pemerintahan Abbasiyah dan Abu Haija Abdullah diangkat menjadi gubernur Moasul oleh khalifah al-Muktafi pada tahun 905 M. wilayah kekuasaan dinasti ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu wilayah kekuasan di Mousul dan wilayah kekuasaan di Halb. Wilayah kekuasaan di Halb terkenal sebagai pelindung kesusaseraan Arab dan ilmu pengetahuan. Menurut Bosworth faktornya terutama karena Sayf Ad-Dawlah memberikan dorongan kepada penyair al-Munabbi. Pada masa itu pula, muncul tokoh-tokoh cendekiawan besar, seperti Abi a-Fath dan Usman Ibn Jinny yang menggeluti di bidang nahwu, Abu Thayyib al-Munabbi, Abu Firas Husaen Ibn Nashr ad-Daulah, Abu A’la al-Ma’ari dan Syarif ad-Daulah yang mendalami ilmu sastra, serta lahir pula filosof besar yaitu al-Farabi.
 Setelah meninggalnya Haija, tahta kerajaan beralih pada seorang putranya, yaitu Hasan Ibn Abu Haija yang diberi gelar oleh khalifah Syaif ad-Daulah. Syaib ad-Daulah inilah yang berhasil menguasai Halb dan Hism dari kekuasaan Ikhsidiyah. Menurut Bosworth, meskipun mereka berkuasa di sebuah wilayah yang makmur, yang memiliki banyak pusat perdagangan dan aktivitas, Hamdaniyah masih memperlihatkan yang tidak bertanggung jawab. Suriyah dan al-Jazirah terpaksa menderita akibat kerusakan yang ditimbulkan dalam peperangan, kendati Ibn Iqbal (ahli geografi) selanjutnya mencatat bahwa ketamakan para amir yang semakin memperbesar kesengsaraan disana. Hal ini yang mengakibatkan kurangnya simpati dari masyarakat dan jatuhnya wibawa pemerintahan. Selain faktor diatas jatuhnya dinasti Hamdaniyah disebabkan karena munculnya dinasti Bizantium dibawah kekuasaan Macedonia bersamaan dengan berdirinya Hamdaniyah, invasi yang dilakukan oleh Bizantium terhadap Suriyah mengakibatkan Allepo dan Hism terlepas dari wilayah kekuasaannya, hingga dinasti ini lumpuh. Disisi lain Fathimiyah ke bagian Suriah selatan yang selanjutnya meruntuhkan dinasti Hamdaniyah Suriyah, dengan terbunuhnya  Said ad-Daulah yang memegang kekuasaan Hamdaniyah saat itu. Akhirnya dinasti ini takluk kepada dinasti Fathimiyah.
http://ra4103gmail.blogspot.co.id/2011/11/dinasti-hamdaniyah.html 
HAMDANIYAH (292 H/905 M - 394 H/1004 M)Wilayah kekuasaanya meliputi Aleppo (Suriah) dan Mosul (Irak). Nama dinasti ini dinisbahkan kepada pendirinya, Hamdan bin Hamdun yang bergelar Abul Haija'. Dinasti Hamdaniyah di Mosul dipimpin oleh Hasan yang menggantikan ayahnya, Abu al-Haija;. Kepemimpinan Hasan mendapat pengakuan dari pemerintah Baghdad. Dinasti Hamdaniyah di Aleppo didirikan oleh Ali Saifuddawlah, suadara dari penguasa Hamdaniyah Mosul. Ali Saifuddawlah merebut Aleppo dari Dinasti Ikhsyidiyah. Dinasti Hamdaniyah di Mosul maupun di Aleppo berakhir ketika para pemimpin meninggal.
http://www.pesantren-pesbuker.xyz/2014/10/sejarah-dinasti-dan-kekuasaan-khalifah.html

       Dinasti Hamdaniyah (972-1152 M)
Dinasti ini didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun, seorang Amir dari suku Taghlib. Putranya Al-Husain adalah panglima pemerintahan Abbasiyah dan abu Al-Haija Abdullah diangkat menjadi gubernur Maosul oleh khalifah Al-Muktafi pada tahun 905 M.
Pada masa hidupnya, Abu Hamdaan Ibn Hamdun pernah ditangkap oleh khalifah Abbasiyah karena beraliansi dengan kaum Khawarij untuk menentang kekuasaan Bani Abbas. Akan tetapi atas jasa putranya, Husain IBn Hmadun diampuni oleh Khalifah Abbasiyah.
Wilayah kekuasaan dinasti ini terbagi dua bagian, yaitu wilayah kekuasaan di Mousul dan wilayah kekuasaan di Halb. Wilayah kekuasaan di Halb, terkenal sebagai pelindung kesusastraan Arab dan Ilmu pengetahuan. Pada masa itu pula, muncul tokoh-tokoh cendekiawan besar, seperti Abi Al-Fath dan Usman Ibn Jinny yang menggeluti dibidang ilmu Nahwu, Abu Thayyib Al-Mutannabi, Abu Firas Husain Ibn Nashr Ad- Daulah, abu A’La Al Ma’ari, dan Syaif Ad-Daulah sendiri yang mendalami lmu sastra, serta lahir pula filosof besar, yaitu Al-Farabi.
Mengenai jatuhnya dinasti ini, terdapat bebarapa faktor :
1.      Meskipun dinasti ini berkuasa di daerah yang cukup subur dan makmur serta memiliki pusat perdagangan yang strategis, sikap kebaduiannya yang tidak bertanggung jawab dan sikapnya yang destruktif tetap ia jalankan. Dengan sikap seperti itu, Suriah, dan Aljazirah ,merasa menderita  karena kerusakan yang ditimbulkan oleh peperangan. Hal inilah yang menjadikan kurangnya simpati masyarakat dan wibanya jatuh.
2.      Bangkitnya kembali Dinasti Bizantium di bawah kekuasaan Macedonia yang bersamaan dengan berdirinya Dinasti Hamdaniyah di Suriah menyebabkan Dinasti Hamdaniyah tidak bisa menghindari dari invasi wilayyah kekuasaanya dari serangan Bizantium yang energik. Invasi yang dilakukan oleh Bizantium terhadap Suriah mengakibatkan Allefo dan Himsh terlepas dari wilayah kekuasaannya, hingga Dinasti Hamdaniyah menjadi lumpuh.
3.      Kebijakan ekspansionis Fatimiah ke Suriah bagian selatan, juga melumpuhkan kekuasaan dinasti ini, sampai-sampai ekspansionis ini mengakibatkan terbunuhnya Said Ad-Daulah yang tengah memegang tumpuk kekuasaan Dinasti Hamdaniyah. Akhirnya, dinasti ini pula takluk pada dinasti Fatimiah.

Setelah mencermati uraian yang cukup panjang mengenai dinasti-dinasti kecil d barat Baghdad, kiranya dapat diambil beberapa catatan berikut. :
1.      Paling tidak, terdapat lima latar sosial politik munculnya dinasti-dinasti kecil di Barat Baghdad, yaitu :
1)      Karena kebijakan penguasa Bani Abbasiyah yang lebih menitikberatkan kemajuan peradaban dibanding dengan mengadakan ekspansi dan politisasi, sehingga memberikan banyak peluang terhadap wilayah-wilayah atau provinsi-provinsi tertentu yang jauh dari pusat kekuasaan untuk melepaskan dan memerdekakan diri dari pemerintahan Abbasiyah.
2)      Karena peta kekuaaan abbasiyah yang tidak diakui oleh Spanyol dan seluruh afrika Utara, kecuali Mesir, bahkan dalam kenyataannya banayk daerah yang tidak disukai oleh khalifah, sehingga peta kekuasaan tersebut membuat daerah-daerah yang jauh itu mendirikan dinasti-dinasti kecil
3)      Masalah fanatisme atau ras kebangsaan (Syu’ubiyat) yang membuat mereka melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah sampai memperluas kekuasaanya.
4)      Adanya pemberian hak otonomnya, sehingga tidak terkontol karena yang memberikan hak berada jauh dari pemerintahan pusat, dan
5)      Terlalu luasnya kekuasaan abbasiyah.
2.      Bahwa proses pelepasan daerah-daerah kecil itu memakai salah satu dari dua cara, yaitu menunjuk seseorang yang angkat menjadi gubernur oleh khalifah untuk menjadi pemimpin kekuasaan kecil dan seorang pemimpin lokal itu dituntut untuk memimpin suatu pemberontakan sehingga mendapatkan kemerdekaan penuh.

3.      Bahwa munculnya dinasti-dinasti kecil ini, meskipun banyak mengancam terhadap kedudukan pemerintahan Abbasiyah, juga banyak memberikan konstribusi terhadap pengembangan khazanah ilmu pengetahuan, kebudayaan, sehingga perluasan wilayah, juga memberikan kontribusi terhadap pemerintahan pusat untuk mengantisipasi serangan dari pihak luar.
http://syahrur23.blogspot.co.id/2015/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html


Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer