DINASTI SELJUK part 1 Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

Dinasti saljuk
1.      Sejarah Pembentukan Dinasti Saljuk
Bangsa Turki Saljuk merupakan kelompok bangsa Turki yang berasal dari suku Ghuzz. Dinasti Saljuk dinisbatkan kepada nenek moyang mereka yang bernama Saljuk ibn Tukak (Dukak). Ia merupakan salah seorang anggota suku Ghuzz yang berada di Klinik, dan akhirnya menjadi kepala suku Ghuzz yang dihormati dan dipatuhi perintahnya. Terdapat dua versi tentang terbentuknya komunitas Turki Saljuk, Ibn sl-Athir sebagaimana dikutip oleh Syafiq A. Mughni menyebutkan, ketika raja Turki yang bernama Beighu ingin menguasai wilayah kerajaan Islam, Tukak menentangnya dan akhirnya ia memisahkan diri dengan para pengikutnya dan membentuk suatu komunitas terpisah dari kerajaan.  Versi kedua adalah Saljuk ibn Tukak memisahkan diri dari kerajaan bersama para pengikutnya dan memasuki wilayah Islam dengan mendirikan pemukiman di dekat daerah Jand di mulut sungai Jaihun.
Bangsa Turki Saljuk adalah pemeluk Islam yang militan. Masyarakat Turki Saljuk memeluk Islam diperkirakan jauh sebelum mereka memasuki daerah Jand, tetapi kemungkinan besar mereka memeluk agama Islam setelah terjadinya interaksi sosial dengan masyarakat Islam di Jand itu sendiri. Beberapa sarjana berkebangsaan Rusia mengatakan bahwa masyarakat Turki Saljuk memeluk Islam setelah mereka memeluk agama Kristen, dengan melihat nama anak-anak Saljuk yang memiliki kemiripan dengan nama-nama yang ada di dalam kitab Injil, yaitu Mikail, Musa, Israil, dan Yunus. Akan tetapi kemungkinan ini sulit diterima, terutama setelah melihat dan mempelajari tradisi yang ada pada mereka. Perkembangan Dinasti Saljuk dibantu oleh situasi politik di wilayah Transoksania. Pada saat itu terjadi persaingan politik antara dinasti Samaniyah dengan dinasti Khaniyyah.Ketika dinasti Samaniyah dikalahkan oleh dinasti Ghaznawiyah, Saljuk menyatakan memerdekakan diri. Ia berhasil mengusai wilayah yang tadi dikusai oleh Samaniyyah.
Setelah Saljuk bin Tukak meninggal, kepemimpinan bani Saljuk dipimpin oleh Israil ibn Saljuk yang juga dikenal dengan nama Arslan. Pada masa ini wilayah kekuasaan bani Saljuk sudah semakin luas hingga daerah Nur Bukhara (Nur Ata) dan sekitar Samarkhan. Setelah itu diteruskan oleh Mikail, sedangkan ketika itu dinasti Ghaznawiyah dipipin oleh sultan Mahmud. Kareana kelicikan penguasa Ghaznawiyah, kedua pemimpin dinasti Saljuk ini ditangkap dan dibunuh sehingga mengakibatkan lemahnya kekuasaan Saljuk.
Pada periode berikutnya Saljuk dipimpin oleh Thugrul Bek. Ia berhasil mengalahkan Mahmud al-Ghaznawi, penguasa Ghaznawiyah pada tahun 429 H / 1036 M dan memaksanya meninggalkan daerah Khurasan, setelah keberhasilan tersebut, Thugrul memproklamirkan berdirinya dinasti Saljuk. Pada tahun 432 H / 1040 M dinasti ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad. Disaat kepemimpinan Thugrul Bek inilah, dinasti Saljuk memasuki Baghdad menggantikan dinasti Buwaihi. Sebelumnya Thugrul berhasil merebut daerah Marwa dan Naisabur dari kekuasaan Ghaznawi, Balkh, Jurjan, Tabaristan, Khawarizm, Ray dan Isfahan.Pada tahun ini juga Thugrul Bek mendapat gelar dari khalifah Abbasiyah dengan Rukh al-Daulah Yamin Amir al-Muminin.
2.      Imperium Saljuk dibagi menjadi beberapa cabang:
a.       Saljuk AgungSetelah dipilih sebagai pemimpin imperium Saljuk, Thugril Bek merencanakan dua hal
b.      Melakukan konsolidasi kekuatan militer yang dianggap menentang kekuasaan saljuk
c.       Memperluas kekuasaan
Daerah kekuasaan Saljuk Agung meliputi Ray, Jabal, Irak, Persia dan Ahwaz. Setelah berhasil mengalahkan dinasti Ghaznawi dan menduduki singgasana kerajaan di Naisabur di bawah pimpinan Thugrul Bek saat itulah dia dianggap sebagai Dinasti Saljuk yang sebenarnya. Setelah menduduki jabatan sultan (1038 – 1063 M) dan secara resmi mendapat pengakuan dari kekhalifahan Abbasiyah. Selama memegang kekuasaan, Thugrul Bek menggalang persatuan yang kuat dengan saudara-saudaranya dengan memberikan kepada mereka wilayah kekuasaan tertentu. Pada tahun 1050 – 1051 M ia berhasil merebut Isfahan  dan menghancurkan kekuatan Daylamah di Persia. Kemenangan Thugrul Bek lebih gemilang ketika Hamadan pada tahun 1055 M dapat dikuasai.
Thugrul Bek herhasil memperluas wilayahnya dengan merebut Jurjan,Thabaristan, Rayy, Qazwin dan Zunian hingga menguasai hampir seluruh wilayah Iran, dan kemudian memindahkan ibukotanya ke Rayy.           
Sementara bintang kaum Saljuk mulai terang, bintang Bani Buwaihi mula redup dan pudar. Keadaan-keadaan yang timbul semakin mempercepat lagi kaum Saljuk tiba di Baghdad. Pada waktu itu Baghdad mulai rusuh, kondisi politik mulai kacau, keamanan tidak stabil akibat terjadinya perebutan kekuasaan untuk jabatan amir al-umara. Malik ar-Rahim sebagai amir al-umara dari Bani Buwaihi saat itu dikhianati oleh panglimanya sendiri Arselan al-Basasiri (keturunan Turki). Panglima Turki ini telah memberontak menentang rajanya dan khalifah Abbasiyah, Serta mencoba berkuasa penuh.Al-Basasiri mencoba menjalin berbagai persekutuan, dan dari waktu ke waktu dia berada pada posisi yang kuat. Tindakannya yang paling penting ialah menyatakan tunduk kepada khalifah Fatimiyah di Mesir untuk menggulingkan khalifah al-Qaim, dan sebagai imbalannya menerima sejumlah uang.
Al-Basasiri pernah berhasil menguasai Baghdad dan memaksa khalifahmenandatangani dokumen yang menyatakan dirinya turun tahta serta tidak adanya hak bagi Dinasti Abbasiyah atasnya, dan menyerahkannya kepada khalifah Fatimiyah al-Muntansir. Ia juga diharuskan mengirimkan lambang kekhalifahan, termasuk mantel dan peninggalan-peninggalan suci lainnya. Al-Basasiri menguasai istana selama lebih kurang satu tahun. Untuk menghadapi permasalahan ini khalifah al-Qaim meminta pertolongan Thugrul Bek, pemimpin Saljuk dan Thugrul Bek mengambil kesempatan yang baik ini untuk memimpin bala tentaranya masuk ke Baghdad pada tahun 1055 M. Pasukan Bani Saljuk berhasil mengusir al-Basasiri dan kursi kekhalifahan diserahkan kembali kepada al-Qaim, Kemudian al-Qaim memberi gelar Yamin Amirul Mukminin serta meletakkan raja Malik ar-Rahim di bawah kekuasaannya, bahkan kemudian putri khalifah di nikahi oleh Thugrul Bek dan diboyongnya ke Rayy. Thugrul Bek dengan segera menangkap raja Malik ar-Rahim dan memenjarakannya sebagai tawanan di Rayy sampai wafat pada tahun 1058 M  dan akhirnya Bani Saljuk bisa menguasai Baghdad.
Setahun kemudian Thugrul Bek meninggal dunia tepatnya pada tanggal 8Ramadhan 455 H/ 1062 M dan kursi kekuasaannya digantikan oleh Alp-Arselan (455-465 H/ 1063-1072 M), kemenakannya yang tertua karena Thugrul Bek tidak mempunyai anak laki-laki.
Setelah menjadi sultan Saljuk, Alp-Arselan mencoba melakukan konsolidasi dan ekspansi wilayah kekuatan politik Saljuk . Ia menjadikan kota Rayy sebagai ibu kota kesultanan Saljuk, sebagaimana pada masa pemerintahan Thugrul Bek. Alp-Arselan melakukan ekspedisi militer ke wilayah Transoksania untuk mengkonsolidasi wilayah tersebut dan berusaha memisahkan diri dibawah pimpinan Musa Beghu, pamannya sendiri. Setelah melakukan konsolidasi internal kekuasaan Saljuk dengan menundukkan Musa Beghu dan Quthlumisy ibn Chaghri Bek, ia mulai melakukan ekspansi ke wilayah di luar wilayah Islam, sehingga banyak penaklukan pada masanya dinyatakan sebagai jihad fi-sabilillah untuk meninggikan bendera Islam.
Dalam melancarkan misi politiknya dalam rangka ekspansi wilayah alp-Arselan menjadikan silaturrahmi dalam bentuk perkawinan. Ia mengawinkan putranya Malik Syah dengan putri Tumghaj Khan, penguasa kerajaan Khanniyah dan putranya yang lain dengan putri Ibrahim al-Ghaznawi. Hal ini dilakukannya untuk menambah kekuatannya menghadapi kekuatan Romawi.
Konfrontasi antara Saljuk dengan Romawi terjadi pada bulan Agustus 1071 M di Manzikart. Pada pertempuran itu dimenangkan oleh tentara Saljuk, maka dipandanglah Dinasti Saljuk sebagai dinasti pertama yang memperoleh kekuasaan permanen kekaisaran Romawi. Dengan kemenangan itu Ramailus Diogenus (pemimmpin pasukan Byzantium) selama 50 tahun harus membayar jizyah kepada kesultanan Saljuk. Tujuan alp-Arselan menjalin hubungan dengan Byzantium agar Saljuk lebih mudah mengembangkan kekuatan politiknya dan meraih program besar, yaitu menyatukan dunia Islam ke dalam khilafah Islam Sunni.

Pada akhir masa pemerintahan Alp-Arselan, hubungan kesultanan Saljuk dengan kesultanan Ghaznawi mulai memburuk karena kematian Tumghaj Khan. Anak Tumghaj, Syams al-Din Nashir berkeinginan menakhlukkan kesultanan Saljuk. Pada pemberontakan tersebut Alp-Arselan terbunuh dan kedudukannya sebagai Sultan Saljuk digantikan oleh anaknya Malik Syah.
Malik Syah (1072-1092M) naik tahta menggantikan ayahnya dan iadibantu oleh wazir Nidham al-Mulk yang sudah berhubungan dengan ayahnyaketika dia masih menjabat sebagai Gubernur Khurasan. Pada awalnya iamenjadikan Nisapur sebagai ibukota Saljuk, tetapi kemudian memindahkannya ke Rayy, ibukota yang lama. Setelah ia naik tahta, ia melakukan tiga hal: pertama, melakukan sentralisasi kekuasaan politik,kedua, menjaga wilayah yang diwariskan oleh ayah dankakeknya, dan ketiga, memperluas wilayah politik kesultanan Saljuk ke hampir seluruhwilayah Islam.
Selama pemerintahan Malik Syah perbatasan timur kemaharajaan berhasildipertahankan bahkan diperluas: yaitu para penguasa lokal di daerah-daerah inidipaksa mengakui keunggulan Malik Syah dan mengirimkan upeti. Setelah beberapa waktu berlalu hubungan antara Malik Syah, denganNidham al-Mulk memburuk dan puncaknya adalah terbunuhnya Nidham al-Mulk.Tidak lama setelah kematian wazir Nidham al-Mulk, pada tanggal 15 Syawal 485 H / 1092 M, sultan Malik Syah juga wafat. Posisi Malik Syah, digantikan oleh putra tertuanya Rukn al-Din Barqyaruk.
3.      Saljuk Irak (1118 – 10924 M)
Setelah wafatnya Malik Syah pada tahun 1117 M, mulailah munculperpecahan diantara kerabat Saljuk. Perpecahan tersebut ditandai dengan munculnya kesultan kecil di wilayah Saljuk Raya dan berusaha memisahkan diri dari kekuasaan Saljuk Raya di Iran. Di wilayah Irak Mahmud adalah penguasa pertama kali memisahkan diri. Ia melepaskan diri dari kekuasaanpamannya, sultan Sanjar, melalui pertempuran. Pemisahan wilayah Irak secaraindependen dari kekuasaan Saljuk Raya akhirya dipenuhi dengan menjadikanMahmud sebagai waliyal-ahd untuk wilayah yang sama, dengan gelar sultan di depan namanya. Akan tetapi dia tetap memerintah di Irak atas nama pamannya, Sanjar, meskipun pada saat yang sama ia merupakan sultan bagi bangsa Saljuk diIrak.
Sepeninggal Mahmud, gelar sultan jatuh kepada putranya Dawud (1131-1131), Thugril II (1132-1134), Mas'ud ( 1134-1152). Malik Syah II (1152 – 1153 ), Muhammad II (1153-1159), Sulaiman Syah (1159-1161), Arselan Syah (1161-1175) dan Thugrul III (1175-1194).    
Hampir keseluruhan penguasa Saljuk di Irak menduduki puncak kekuasaanpada usia yang sangat muda, Mahmud umpamanya, ketika menjadi sultan SaljukIrak, ia masih berusia 13 tahun. Karna itu, penguasa Saljuk Irak hampir dapatdikatakanhanyalah sebagai Penguasa simbolik. Sedangkan secara politikkekuasaan para sultan berada di tanganatabeg(bapak asuh)dan amir yangmengelilingi sultan dan mengendalikan administrasi pemerintahan dengan sekehendak hatinya.
4.      Saljuk Syiria
Nenek moyang kelompok ini adalah Tajuddaulah Tutusy bin Alp-Arselanyang telah mulai memerintah Syam pada tahun 470 H/ 078 M atas perintahMaliksyah yang memberinya wilayah kekuasaan di Damaskus dan sekitarnya.Tutusy berhasil meluaskan pengaruhnya ke halep (Aleppo), ar-Raha ( Rayy), Harran (Turki). Azerbaijan dan Hamada sebagai batu loncatan untuk menguasai Iran. Kareananya, Tutusy terlibat peperangan dengan Rukn al-Din Barqyaruk,kemenakannya. Barqyaruk tidak kuasa membendung Tutusy dan ia melarikan dirike Isfahan untuk meminta bantuan saudaranya Nashir al-Din Mahmud. AkhimyaTutusy di bunuh keponakannya pada sebuah pertempuran besar dekat Rayy pada tanggal 7 Safar 488 H / 1095 M.
5.      Saljuk Kirman (1041-1186 M)
Keturunan Saljuk di Kirman disebut juga Qawurtiyun. Sebutan tersebut diambil dari pendiri kerajaan Saljuk di wilayah ini, yaitu 'Imad al-Din Kara Arsela Qawurt ibn Chaghri Bek dawud ibn Mikail. Sedangkan kaitan dengan DinastiSaljuk adalah bahwa Qawurt adalah saudara Alp-Arselan ibnn Chaghri Bek yang pergi ke Kirman dengan kelompok Guzz, sekitar tahun 1041 M.
Beberapa tahun kemudian ia telah menduduki ibu kota Bardasir dan berhasilmendirikan pemerintahan di daerah Persia. Setelah merasa kuat, Qawurtmenunjukkan sikap menentang terhadap kekuasaan saudaranya Alp-Arselan tetapi kemudian surut kembali setelah merasakan keunggulan Alp-Arselan.
Sewaktu Malik Syah naik tahta, Qawurt mencoba menggulingkannya karnamerasa lebih berhak atas tahta itu. Ia menyiapkan tentara yang besar menuju Rayyunuk memerangi kemenakannya. tetapi Malik Syah mencegat diHamadan danberhasil membunuhnya (466/1074M). Malik Syah mengangkat Sultan Syah bin Qawurt sebagai penguasa Kirman sampai tahun 477 H/ 1084 M. Selanjutnya tahta kesultanan yangdipegang oleh Turan Syah (1084-1097 M), Iran Syah (1097-­1100), Arslan Syah (1101-1142 M), Muhammad (1142-1156 M) dan Thugrul Syah (1156-1169).
Sepeninggal Thugrul Syah, tercatat kalau Saljuk Kirman memiliki tiga orang sultan yang masing-masing mengklaim bahwa dia adalah pengusa tertinggi. Mereka adalah Bahramsyah. Arslan II dan Turan Syah II. Akibatnya, Saljuk Kirman dibagi menjadi tiga wilayah, tetapi di antara ketiga penguasa tersebut, Turan Syah memilikkekuatan paling besar. Setelah Turan Syah meninggal pada tahun 579 H/ 1183 M), ia digantikan oleh Muhammad Syah ibn Bahrain Syah (1183-1186 M).
Kehancuran Saljuk Kirman disebabkan oleh kedatangan raja-raja Guzz. yangkemudian berhasil menguasai kesultanan. Bahkan akhirnya dapatmenurunkan sultan terakhir, yakni Muhammad Syah (582 H/1186M). Mulai tahun berikutnya (583 H/1187 M) wilayah Kirman menjadi kekuasaan kelompok Guzz dengan rajanya Malik Dinar.
6.      Saljuk Rum / Asia Kecil
Saljuk Roma berkuasa sekitar 220 tahun, dengan jumlah kesultanan kurang lebih 14 orang. Asal usul keturunan mereka berasal dari moyangnya Abu al-Fawaris Qutulmisy bin Israil bin Saljuk, yang diangkat sebagai penguasa di daerah al-Mawsil (Mousul, Irak), Diyar Bakr dan Syam pada masa penaklukan yang pertama.
Setelah mangkatnya Thrugrul Bek pada 455 H/1063 M dan naiklah Alp-Arselan, ia melakukan pemberontakan karna merasa lebih berhak atas jabatan itu. Tetapi ia berhasil di bunuh Alp-Arselan. Atas campur tangan Nizam al-Mulk, keluarga ini selamat dari penghancuran total, hanya saja penguasanya tidak diperkenankan memakai gelar amir.
Selanjutnya, pimpinan pemerintahan kemudian di pegang oleh Sulaiman binQutlumisy yang diberi wewenang mcnguasai Asia Kecil atas perkenanan dari Malik Syah. Nama Sulaiman makin terkenal setelah berhasil merebut Antakiyah pada tahun 477 H/ 1085 M dari tangan orang-orang Philaterus, Armenia. Sulaiman terlibat peperangan dengan Tutusy yang berakhir dengan kematiannya.
Meskipun masa pemerintahan Sulaiman diwarnai oleh banyak penaklukan. Ada dua hal yang perlu dicatat dalam sejarah, yaitu: pertama, bangsa Armenia yang tertekan akibat tekanan keagamaan Byzantium, mendapatkan kebebasan beragama pada masa Sulaiman bin Quthlumusy. Kedua, tidak lama Setelah ia naik tahta, ia membagikan tanah kepada para petani yang belum memiliki tanah. Tanah ini dahulunya merupakan milik pejabat Byzantium. Kebijakan ini memberikan konstribusi penting bagi kehidupan sosial yang harmonis dan mengeliminasi munculnya aristokrasi para pemilik tanah.
Setelah Sulaiman ibn Quthlumisy wafat. Malik Syah kemudian mengangkat anak Sulaiman Qilij Arslan I,  ia menjalin hubungan dengan kaisar Byzantium sehingga ia memiliki kebebasan melebarlan pengaruh ke wilayah sebelah timur. Kemudian Qilij kembali ke ibu kota untuk mempertahankannya dari serangan tentara Salib. Ketika kota ini jatuh ketangan tentara Salib, Qilij Arslan I memindahkan ibukota ke Kenya. Setelah itu menjalin kerja sama dengan kaisar Byzantium dalam melawan tentara salib. Dalam pertempuran hebat dengan tentara Saljuk Raya di sungai Khabur, Qilij terbunuh.
Secara kronologis para penguasa Saljuk Roma adalah sebagai berikut: Sulaiman bin Quthlumusy, Qilij Arslan I (1086-1107 M), Malik Syah dan Mas'ud (1107-1155 M), Qilij Arslan II (1156-1192 N1),  Rukhnudin Sulaiman II (1196-1204 M), Qilij Arslan III dun Giyasuddin Kaikhusraw (1204-1210 M), Izzuddin Kaikhusraw I (1210-1219 M), Alaudin Kaikobad (1219-1237 M), Izzuddin Kaikhusraw II (1237-1245 M), Izzudin Kaikhusraw III (1246-1256 M ), Rukhnuddin Qilij Arslan IV (1237-1266 M), Giyasuddin Kaikhusraw III (1266-1282), Giyasuddir, Mas'ud II dm Alaudin Kaikobad II (1282 -1302 M).
Turki Saljuk di Anomalia mencapai masa kejayaannya pada petnerintahanAlaudin Kaikobad ( 1219-1237 M ). Ketika itu kawasan Asia berada dalam ancaman penakhlukan bangsa mongol ia membangun tembok yang melindungi kota Kenya. Dia mempekerjakan armada lautnya dengan membangun industry kapal di Kolonoros.
Kesultanan Saljuk ini dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan Dinasti Saljuk yang lain meskipun terjadi banyak pertentangan intern. Kehancuran dinasti Saljuk Asia kecil diawali dengan masuknya orang-orang Mongol yang lama kelamaan dapat mengusai pemerintahan, dan akhirnya mampu merebut kesultanan dihawah pimpinan Gaza Khan.
7.      Kemajuan yang dicapai Dinasti Saljuk
a.  Bidang Ilmu Pengetahuan
Pada masa pemerintahan Alp-Arselan, ilmu pengetahuan mulai berkembang dan mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Malik Syah bersama perdana mentrinya Nizham al-Mulk. Nizam al-Mulk inilah yang memprakarsai beridirinya Universitas Nizhamiyah (1065 M) dan madrasah Hanafiyah di Baghdad. Nizham al-Mulk ini adalah seorang yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu agama, pemerintahan dan ilmu pasti.
Pada masa Malik syah inilah lahir ilmuan-ilmuan muslim seperti al-Zamakhsyari dalam bidang tafsir, bahasa dan theology, al-Qusyairi dalam bidang tafsir, Abu Hamid al-Ghazali dalam bidang theology, Farid al-Din al-Aththar dan Umar Kayam dalam bidang sastra dan matematika.
b.      Bidang Politik dan Pemerintahan
Pada masa pemerintahan Dinasti Saljuk, mereka mengembalikan jabatan wazir yang sebelumnya ditukar dengan khatib oleh Dinasti Buwaihi. Di samping itu, mereka melakukan ekspansi ke daerah-daerah yang berada di sekitar wilayah kekuasaannya seperti Jurjan, Tabaristan, Rayy, Qazwain, Zanjan, bahkan hamper mengusai seluruh wilayah Iran, Wilayah Irak Barat, Kirman, Kurzistan dan Oman.
Puncaknya pada masa pemerintahan alp-Arselan, kekuasaan dinasti Saljuk sampai ke Asia Barat, yaitu daerah Bizantium sebagai pusat kebudayaan Romawi, Perancis, Armenia, Guzz dan al-Akhraj. Dalam ekspansi ini terjadi peristiwa yang dinamakan dengan manzikart (1071 M), di mana Raja Romawi Romanus Drogenes memerintahakan tentaranya untuk menentang tentara alp-Arselan dan mendengar pernyataan tersebut membakar semangat perang kaum Saljuk sebagai wujud mempertahankan harga diri dan kaumnya.
c.  Bidang Pembangunan Fisik
Kaum Dinasti Saljuk sangat suka dan gemar pada bangunan-bangunan besardan megah, ukiran-ukiran yang cantik dan gambar-gambar yang dipenuhihiasan. Karena begitu senangnya dengan karya seni, sulthan-sulthanmemberikan perlindungan dan perhatian terhadap hasil karya seni sertamemberikan motivasi kepada penciptanya untuk terus berkarya.
Bangunan yang banyak dibangun adalan jalan-jalan, mesjid jembatan dansaluran irigasi. Bahkan pada masa alp-Arselan dilakukan pemugaran bentengBukhara dan tembok Madinah dan mendirikan sebuah mesjid yang megahdengan dua mahligai yang besar di Samarkhan, kemudian salah satu mahligaitersebut dijadikan sekolah.
https://zepriari98.blogspot.co.id/2016/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_17.html


Dinasti Seljuk

Seljuk (juga disebut Seljuq) atau Turki Seljuk (dalam Bahasa Turki:Selçuklular; dalam bahasa Persiaسلجوقيان aljūqīyān; dalam Bahasa ArabسلجوقSaljūq, atau السلاجقة al-Salājiqa) adalah sebuah dinasti Islam yang pernah menguasai Asia Tengah dan Timur Tengah dari abad ke 11 hingga abad ke 14. Mereka mendirikan kekaisaran Islam yang dikenali sebagai Kekaisaran Seljuk Agung. Kekaisaran ini terbentang dari Anatoliahingga ke Rantau Punjab di Asia Selatan. Kekaisaran ini juga adalah sasaran utama Tentara Salib Pertama. Dinasti ini didirikan oleh suku OghuzTurki yang berasal dari Asia Tengah. Dinasti Seljuk juga menandakan penguasaan Bangsa Turki di Timur Tengah. Pada hari ini, mereka dianggap sebagai pengasas kebudayaan Turki Barat yang ketara di AzerbaijanTurki dan Turkmenistan dan Seljuk juga dianggap sebagai penaung Kebudayaan Persia.
Dinasti Seljuk berasal dari daerah pegunungan dan stepa Turkistan. Menjelang akhir abad ke-2 H atau abad ke-8 M. orang-orang Oghuz pindah ke arah barat melalui dataran tinggi Siberia ke Laut Arab dan sebagian ke wilayah Rusia.
Wilayah Seljuk pada zaman keemasannya.

Para Sultan


1. Seljuq bin Duqaq (... - 1038)


Suku Seljuk dipersatukan oleh Seljuq bin Duqaq, seorang pemimpin konfederasi suku-suku Turki yang mengabdi kepada salah seorang Khan di Turkistan. Seljuk pindah dari dataran tinggi Kirghiz (Kazakhstan) bersama seluruh anggota sukunya ke Jand di provinsi Bukhara, dan mendiami daerah tersebut atas izin penguasa Samaniah. Ketika Dinasti Samaniah (Samanid) dikalahkan oleh Dinasti Gaznawiyah, Seljuk memerdekakan diri dan menguasai wilayah yang sebelumnya dikuasai Dinasti Samaniah tersebut.

2. Tugril Beq (1038 - 1063)


Kemudian di bawah kepimpinan Tugril Beq (.... - 1063), Dinasti Seljuk berhasil mengalahkan Dinasti Gaznawiyah dan menguasai wilayah tersebut, Tugril Beq menduduki jabatan sultan dan secara resmi mendapat pengakuan dari Khalifah Abbasiyah saat itu. Daerah kekuasaan Tugril Beq meliputi Iran dan Transoksania. Ia lalu memperluas kekuasaanya hingga hampir ke seluruh Iran. Pada masa kejayaannya, Tugril Beq mengontrol kekhalifahan Abbasiah pada tahun 447 H/1055 M.

3. Sultan Alp Arslan (1063 - 1072)


Pada tahun 1063, Tugril Beq wafat dan tidak memiliki keturunan laki-laki. Akhirnya keponakan tertuanya, Alp Arslan (1029 - 1072) naik tahta sebagai Sultan. Selama masa pemerintahannya, Alp Arslan berhasil mengatasi perlawanan dari saudara-saudaranya dan menyelesaikan konflik internal yang ada. Dalam memerintah, ia didampingi seorang perdana menteri bernama Nizham Al-Mulk. Nizham juga mendampingi putra Alp Arslan, Maliksyah, yang naik tahta kemudian sepeninggal Alp Arslan pada tahun 1072 dan memerintah 20 tahun berikutnya.

4. Sultan Maliksyah


Dia adalah penguasa ke-4 Dinasti Seljuk. Pada masa pemerintahannya, Maliksyah mendapat perlawanan keras dari pamannya, Qaurad bin Jufri (Kavurt) yang menguasai Seljuk Kirman. Dia menuntut agar kesultanan diserahkan padanya. Maka terjadilah pertarungan antara paman - keponakan di sebuah tempat dekat Hamadzan. Qaurad kalah dalam pertarungan itu dan terbunuh. Dengan demikian maka Maliksyah mampu menguasai kerajaan Seljuk yang berada di Kirman. Kemudian dia mengangkat Syah bin Alp Arslan sebagai sultan di tempat itu. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 465 H/1073 M. 
Kekuasaan Maliksyah meluas sampai dari Afghanistan sampai Asia Kecil. Maliksyah menyerahkan wilayah-wilayah yang dikuasai di negeri Syam pada saudaranya yang bernama Tajud Daulah Tatmasy pada tahun 470 H/1077 M. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengawasi jalannya penaklukan-penaklukan di daerah lainnya. Tajud Daulah Tatmasy inilah yang mendirikan pemerintahan Seljuk di Syam. Sultan juga mengangkat seorang kerabatnya, Sulaiman bin Qatalmasy bin Israil untuk memerintah di wilayah Asia Kecil, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Romawi pada tahun 470 H/1077 M. Hal ini juga dilakukan sebagai usaha mengawasi wilayah-wilayah yang ditaklukkan. Sulaiman bin Qatalmasy inilah yang kemudian mendirikan pemerintahan Seljuk Ruum (Romawi).

5. Sultan Mahmud Maliksyah (1092 - 1094)


Sultan ke-5 Dinasti Seljuk, yang sebenarnya berhasil menjadikan Maliksyah sebagai sultan, tetapi tidak mendapat kekuasaan dari Maliksyah dan Alp Arslan.

6. Sultan Bakiyaruq Bin Maliksyah (1094 - 1105)


Putra Sultan Maliksyah ini naik tahta di usia tiga belas tahun dan musuhnya menganggapnya belum berpengalaman. Dia berperang untuk mendapatkan kembali kontrol dari tanah Seljuk yang strategis, tanah yang saat ini bagian dari Irak dan Iran. Wilayahnya berbatasan dengan Suriah ketika pasukan Eropa tiba untuk Perang Salib Pertama, tetapi perhatian utamanya terletak di DamaskusAleppo, dan Mosul yang dikuasai oleh musuh.pada tahun 1105. Bakiyaruq meninggal di Borujerd dan dikebumikan ke Isfahan.

7. Sultan Maliksyah II (1105)


Cucu dari Sultan Maliksyah, secara teoretis dia adalah kepala negara, meskipun pada praktiknya, saudaranya Ahmad Sanjar di Khurasan memegang kekuasaan secara lebih efektif.

8. Sultan Muhammad Tapar alias Mehmed I (1105 - 1118)


Putra dari sultan Maliksyah dan saudara tiri dari Bakiyaruq, Muhammad Tapar atau Mehmed I bersekutu dengan Radwan dari Aleppo dalam pertarungan sungai Khabur melawan Killij Arslan I, yang merupakan Sultan Rum pada tahun 1107. kemudian Killij dikalahkan dan dibunuh. Menyusul konflik intern dengan saudari tirinya, Barkiyaruq, dia diberi gelar Malik dari provinsi Armenia dan Azerbaijan. Tidak puas dengan jabatan ini, dia memberontak tetapi akhirnya harus melarikan diri ke Armenia. Tahun 1104 Barkiyaruq jatuh sakit akibat kelelahan berperang dan setuju untuk membagi wilayah kesultanan dengan Mehmed I . Mehmed I menjadi Sultan setelah Barkiyaruq wafat pada tahun 1105.

9. Ahmad Sanjar (1118 –- 1157)


Putra dari Sultan Maliksyah dan adik dari Mehmed I. Awalnya menjabat Sultan Khorasan sampai ia mendapatkan sisa wilayah itu setelah kematian Muhammad I (Mehmed I). Ia diberi wilayah khurasan dan memerintah di bawah kekuasaan kakaknya, Mehmed I. Selama beberapa tahun berikutnya Ahmed Sanjar menjadi penguasa sebagian besar Persia dengan ibukota di Nishapur. Sejumlah penguasa memberontak terhadap dia dan terus terjadi perpecahan di kekaisaran Seljuk Agung.
Sanjar melakukan kampanye untuk menghilangkan Assasin Alamut, dan berhasil mengusir mereka dari sejumlah benteng-benteng mereka. Namun, skenario menunjukkan bahwa dalam perjalanan ke benteng mereka di Alamut, Sanjar terbangun dan menemukan belati di sampingnya yang merupakan pesan dari Hasan Bin Sabah, yang merupakan pemimpin kelompok Assassin Alamut dan dalam pesannya Hasan meminta untuk berdamai. Sanjar terkejut dan langsung mengirim utusan untuk membicarakan hal ini dan kemudian keduanya menyetujui perdamaian tersebut. Tahun 1141, Sanjar bersiap untuk menghadapi pasukan Khara Khitai yang melibatkan pertempuran di Samarkand. Perang ini dinamakan perang Qutwan, Sanjar mengalami kekalahan dan harus kehilangan wilayahnya di timur. Sanjar wafat pada tahun 1157 dan dimakamkan di Merv. Makamnya dihancurkan oleh pasukan Mongol pada tahun 1221 ketika Mongol menyerang Samarkand dan membumi hanguskannya.

Pembagian Wilayah


Wilayah Imperium Turki Seljuk dibagi menjadi lima bagian:
  1. Seljuk Besar (Iran); wilayahnya meliputi Khurasan, Rayy, Jabal, IrakPersia, dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang. Pada masa Maliksyah, wilayah dinasti Seljuk sangat luas, sehingga kemudian wilayahnya tersebut dibagi-bagikan kepada saudara-saudaranya. Ia sendiri tetap menduduki wilayah kekuasaannya di Seljuk Iran yang disebut Seljuk Besar. Seljuk Iran merupakan induk bagi cabang cabang Seljuk lainnya. Sepeninggal Maliksyah, anaknya, Barkiyaruk naik tahta atas dukungan dari kaum Madrasah Nizam Al Mulk.
  2. Seljuk Al-Qawurdiyun (Kirman); wilayah kekuasaannya berada di bawah keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Seljuk. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang. Disebut al - Qawurdiyun, nama yang dinisbahkan pada pendirinya, Qawur Qara Arslan Beq, saudara seayah Alp Arslan yang pergi ke Kirman dengan kelompok Guzz dan berhasil mendirikan pemerintahan di daerah Persia itu. Saat Maliksyah berkuasa, Qawurd berusaha menggulingkannya, tapi ia kemudian dibunuh, lalu Maliksyah memberikan wilayah itu kepada Syah Bin Qawurd yang mewariskan daerah itu untuk keturunannya.
  3. Seljuk Al-Iraq (Irak dan Kurdistan); pemimpin pertamanya adalah Mughirs al-Din Mahmud. Seljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh sembilan syekh, dimulai dari kekuasaan Sultan Muhammad Bin Maliksyah, setelah ia mendapat bagian utara dari wilayah kekuasaan Seljuk. Sultan berikutnya adalah Mahmud, anak sulung Sultan Muhammad yang secara de facto hanya berkuasa di Irak. Namun semakin lama semakin banyak terjadi kekacauan menyangkut pengangkatan sultan sultan baru.situasi ini seringkali dimanfaatkan oleh Khalifah Abbasiyah untuk mengurangi pengaruh mereka.
  4. Seljuk As-Syam (Suriah); diperintah oleh keluarga Tutush ibnu Alp Arselan ibnu Daud ibnu Mikail ibnu Seljuk, yang memerintah Suriah atas perintah Sultan Maliksyah. Jumlah syekh yang memerintah lima orang. Namun sepeninggal Tutusy, Seljuk Suriah tidak berumur panjang. Anaknya, Ridwan yang memeintah Allepo meninggal dunia dan tidak memiliki penerus yang kuat. Syams- al Muluk, anak Tutusy yang memerintah Damaskus juga wafat. Kemudian Seljuk Suriah jatuh ke tangan wali dan penguasa daerah.
  5. Seljuk Ar-Ruum (Romawi/Asia Kecil); diperintah oleh keluarga Qutlumish ibnu Israil ibnu Seljuk dengan jumlah syeikh yang memerintah seluruhnya 17 orang. Kejayaan kesultanan ini berlangsung pada masa Sulaiman bin Qutulmisy, sepupu Alp Arslan atas perintah Sultan Maliksyah. Ketika sulaiman tewas saat berperang dengan Tutusy, Maliksyah mengangkat anaknya yaitu Killij Arslan I untuk menggantikan ayahnya. Dinasti ini dapat bertahan lama dibanding dinasti lainnya meskipun banyak permasalahan intern.

Kemajuan Ilmu Pengetahuan


Pada era kekuasaan Seljuk terdapat sejumlah penelitian mengenai kemajuan ilmu pengetahuan. Ada sejumlah peneliti yang menyebutkan bahwa pada masa ini terjadi stagnasi dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra, seni, juga ilmu filsafat di Dunia Islam.
Ada dua institusi penting yang berkembang pesat pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk, yakni madrasah dan rumah sakit. Pada masa itu, madrasah dan rumah sakit dibangun di mana-mana. Madrasah, perpustakaan dan rumah sakit bermunculan di wilayah-wilayah yang dikuasai Dinasti Seljuk, seperti kota BaghdadMervIsfahanNishapurMosulDamaskusKairoAleppoAmid (Diyarbakir), KonyaKayseri dan Malatya.
Insititusi itu berkembang menjadi pusat-pusat kebudayaan Seljuk Islam. Pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk, arsitektur bangunan banyak yang terbuat dari batu-batuan yang tahan lama. Sehingga berbagai macam bangunan yang dibangun bangsa Seljuk kebanyakan masih bertahan selama beberapa abad. Salah satu bukti bahwa ilmu pengetahuan dan sastra tidak padam pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk adalah banyaknya para ilmuwan dan intelektual Muslim yang terus mengembangkan ilmunya.
Beberapa ilmuwan dan budayawan terkemuka yang lahir pada masa itu antara lain: el-Juvayni, Ebu Ishak al-Shirazi, Omer al-Hayyam, al-Bedi' al-Usturlabi, Ebu'l-Berekat Hibetullah bin Malka el-Bagdadi, Samav'el al-Magribi, Serefeddin al-Tusa, Kamal al-din bin Yunus, Shahabeddin Yahya bin Habes al-Suhrawardi, Fahr al-din al-Razi, Ibnu al-Razzaz al-Jezeri, Ibnu al-Esir, serta Seyfeddin el-Amidi.
Pada era kepemimpinan Sultan Meliksah I (1072 - 1092) pernah berdiri observatorium besar di kota Isfahan. Ilmuwan, seperti Omer el-Hayyam dan teman-temannya, memanfaatkan observatorium tersebut untuk melakukan penelitian hingga akhirnya menghasilkan karya berjudul Zic-i Melikshahi atau (Buku Tabel Astronomi) dan Takvim-i Jalali (Kalender Jalalaean).
Pada masa itu, seorang ilmuwan bernama El-Bed' al-Usturlabi menuliskan bukunya yang berjudul al-Zij al-Mahmudi (Buku Tabel Astronomi Mahmudi). Sedangkan, seorang ilmuwan yang bernama Ebu Mansur membuat karya berjudul el-Zij al-Senceri (Buku Tabel Astronomi Senceri). Istana para Sultan Seljuk, baik di Baghdad, Isfahan serta Merv selalu dipenuhi para pelajar, ilmuwan, juga para penulis. Mereka menuliskan karya-karyanya baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Persia. Bahkan literatur Islam Persia mulai mendunia di bawah Dinasti Seljuk.
Beberapa penulis besar yang karyanya masih bisa dinikmati pada saat ini antara lain karya Jalaladdin-i Rumi Hakani, Senayi, Nizami, Attar, Mevlan, dan Sa'di. Para penulis besar tersebut hidup dan mempersembahkan karya-karyanya kepada para sultan Dinasti Seljuk. Kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat yang membaik di bawah kekuasaaan Dinasti Seljuk berhasil meningkatkan aktivitas dan prestasi masyarakatnya dalam bidang literatur, seni dan ilmu pengetahuan. Peningkatan aktivitas masyarakat dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan ini mendapat dorongan yang signifikan dari pemerintah Dinasti Seljuk.
Sejak abad-ke 14 M, ratusan madrasah ditemukan tersebar luas di Anatolia. Hampir setiap wilayah Anatolia terdapat madrasah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Dinasti Seljuk sangat memperhatikan dunia pendidikan bagi rakyatnya. Gambaran berbeda terlihat di pusat Kekuasaan Islam di wilayah yang dikuasai bangsa lain, seperti MesirSuriah, dan Palestina, di mana madrasah hanya ditemukan di kota-kota besar saja, tidak seperti di Anatolia, baik di desa dan di kota pemerintah membangun madrasah. Madrasah-madrasah yang dibangun Dinasti Seljuk tersebut masih banyak yang berdiri dengan tegak hingga saat ini dan dapat ditemukan di berbagai kota besar, kota kecil, juga desa yang berada di Anatolia.

Peninggalan Bersejarah



Mausoleum Turki Seljuk
Berbagai macam peninggalan yang diwariskan Dinasti Seljuk telah menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan berkembang dengan baik, seperti ilmu fisika dan geometri. Hal itu tampak dari bangunan-bangunan peninggalan Dinasti Seljuk yang hingga kini masih berdiri kokoh dan megah.
1. Masjid

Karavanserai
Kehebatan para arsitektur Dinasti Seljuk terlihat pada arsitektur dan teknik bangunan masjid-masjidnya. Masjid Seljuk sering disebut Masjid Kiosque. Bangunan masjid ini biasanya lebih kecil yang terdiri dari sebuah kubah, berdiri melengkung dengan tiga sisi yang terbuka. Itulah ciri khas masjid Kiosque. Model masjid khas Seljuk ini seringkali dihubungkan dengan kompleks bangunan yang luas seperti karavanserai serta madrasah.
2. Karavanserai
Para sultan Dinasti Seljuk banyak membangun karavanserai sebagi tempat singgah bagi para musafir. Selain itu, karavanserai juga dibangun untuk kepentingan perdagangan dan bisnis. Para musafir maupun pedagang dari berbagai negeri akan dijamu di karavanserai selama beberapa hari secara gratis. Bangunan karavanserai sendiri terdiri dari halaman, dan ruang utama di mana terdapat banyak kamar untuk menginap. Karavanserai pertama kali dibangun pada 1078 M oleh Sultan Nasr di antara rute Bukhara hingga Samarkand. Struktur bangunan karavanserai Seljuk meniru istana padang pasir Dinasti Abbasiyah yang berbentuk segi empat.
3. Madrasah
Bangunan madrasah Dinasti Seljuk pertama kali muncul di Khurasan pada awal abad ke-10 M, sebagai sebuah adaptasi dari rumah para guru untuk menerima murid. Pada pertengahan abad ke-11 M, bangunan madrasah diadopsi oleh penguasa Seljuk Emir Nizham Al-Mulk menjadi bangunan publik. Emir Nizham Al-Mulk sendiri terispirasi oleh penguasa Ghaznawiyyah dari Persia. Di Persia, madrasah dijadikan tempat pembelajaran teknologi. Madrasah tertua yang dibangun Nizham Al-Mulk terdapat di Baghdad pada 1067 M. Madrasah yang dibangun Dinasti Seljuk terdiri dari halaman gedung yang dikelilingi tembok dan dilengkapi dengan asrama untuk menginap para pelajar. Selain itu, di dalam madrasah juga terdapat banyak ruang belajar. Bangunan madrasah Seljuk sesuai dengan arsitektur Iran.
4. Menara
Bentuk menara masjid yang dibangun oleh Dinasti Seljuk cenderung mengadopsi menara silinder sebagai ganti menara berbentuk segi empat.
5. Mausoleum Bangunan mausoleum (makam yang indah dan megah) warisan Dinasti Seljuk menampilkan beragam bentuk termasuk oktagonal (persegi delapan), berbentuk silinder dan bentuk-bentuk segi empat ditutupi dengan kubah (terutama di Iran). Selain itu ada pula yang atapnya berbentuk kerucut terutama yang berada di Anatolia. Bangunan mausoleum biasanya dibangun di sekitar tempat tinggal tokoh atau bisa pula letaknya dekat masjid atau madrasah. Dinasti Seljuk membangun mausoleum untuk memakamkan dan menghormati kebesaran para penguasa dinasti tersebut.

Keruntuhan

Imperium ini berakhir pada tahun 656 H/1258 M saat balatentara Mongol menyerang dan menaklukkan Baghdad.


Kesultanan Seljuk Raya

Kekaisaran Seljuk Raya atau Kekaisaran Seljuk Agung adalah imperium Islam Sunni abad pertengahan yang pernah menguasai wilayah dari Hindu Kush sampai Anatolia timur dan dari Asia Tengah sampai Teluk Persia. Dari tempat awal mereka di Laut Aral, Seljuk bergerak pertama ke Khorasan dan lalu ke Persia daratansebelum menguasai Anatolia timur. Kekaisaran ini didirikan oleh Dinasti Seljuk.
Ibu kotaNishapur
(1037–1043)
Rey
(1043–1051)
Isfahan
(1051–1118)
HamadanIbukota barat(1118–1194)
Mervibukota timur (1118–1153)
Bahasa
  • Persia 
  • Arab (language of scholarship,science and theology)
  • Oghuz Turkish(spoken in everyday speech and by the military and ruling elite)
Bentuk PemerintahanMonarki
Sultan or Shah
 - 1037–1063Toghrul I
 - 1174–1194Toghrul III 
Sejarah
 - Tughril mendirikan sistem negara1037
 - Diganti oleh Kekaisaran Khwarezmia[7]1194
Luas
 - 1080 est.3.900.000 km² (1.505.798 mil²)

Masa Kekuasaan


Jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Seljuk Ibn Tuqaq bermula dari perebutan kekuasaan di dalam negeri. Ketika al-Malik al- Rahim memegang jabatan Amir al-Umara, kekuasaan itu dirampas oleh panglimanya sendiri, Arselan al-Basasiri. Dengan kekuasaan yang ada di tangannya, al-Basasiri berbuat sewenang-wenang terhadapap Al-Malik al-Rahim dan Khalifah al-Qaimdari Bani Abbas; bahkan dia mengundang khalifah Fathimiyah, (al-Mustanshir, untuk menguasai Baghdad. Hal ini mendorong khalifah meminta bantuan kepada Tughril Bek Rahimahullah dari daulah Bani Seljuk yang berpangkalan di negeri Jabal. Pada tanggal 18 Desember 1055 M/447 H pimpinan Seljuk itu memasuki BaghdadAl-Malik al-Rahim, Amir al-Umara Bani Buwaih yang terakhir, dipenjarakan. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Bani Buwaih dan bermulalah kekuasaan Daulah Seljuk. Pergantian kekuasaan ini juga menandakan awal periode keempat khilafah Abbasiyah. Bani Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Pada abad kedua, ketiga, dan keempat Hijrah mereka pergi ke arah barat menuju Transoxiana dan Khurasan. Ketika itu mereka belum bersatu. Mereka dipersatukan oleh Seljuk ibn Tuqaq. Karena itu, mereka disebut orang-orang Seljuk. Pada mulanya Seljuk ibn Tuqaq Rahimahullah mengabdi kepada Bequ, raja daerah Turkoman yang meliputi wilayah sekitar laut Arab dan laut Kaspia. Seljuk Rahimahullah diangkat sebagai pemimpin tentara. Pengaruh Seljuk Rahimahullah sangat besar sehingga Raja Bequ khawatir kedudukannya terancam. Raja Bequ bermaksud menyingkirkan Seljuk.
Namun sebelum rencana itu terlaksana, Seljuk Rahimahullah mengetahuinya. Ia tidak mengambil sikap melawan atau memberontak, tetapi bersama pengikutnya ia bermigrasi ke daerah land, atau disebut juga Wama Wara'a al-Nahar, sebuah daerah muslim di wilayah Transoxiana (antara sungai Ummu Driya dan Syrdarya atau Sihun). Mereka mendiami daerah ini atas izin penguasa daulah Samaniyah yang menguasai daerah tersebut. Mereka masuk Islam dengan manhaj Sunni Salafy. Ketika daulah Samaniyah dikalahkan oleh daulah Ghaznawiyah, Seljuk Rahimahullah menyatakan memerdekakan diri. Ia berhasil menguasai wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh daulah Samaniyah. Setelah Seljuk Rahimahullah meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya, Israil Ibn Seljuk dan kemudian penggantinya Mikail Ibn Israil Ibn Seljuk, namun sayang saudaranya dapat ditangkap oleh penguasa Ghaznawiyah. Kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh Thugril Bek Rahimahullah. Pemimpin Seljuk terakhir ini berhasil mengalahkan Mas'ud al-Ghaznawi, penguasa dinasti Ghaznawiyah, pada tahun 429 H/1036 M, dan memaksanya meninggalkan daerah Khurasan. Setelah keberhasilan tersebut, Thugril memproklamasikan berdirinya daulah Seljuk. Pada tahun 432 H/1040 M daulah ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad. Di saat kepemimpinan Thugril Bek inilah, dinasti Seljuk memasuki Baghdad menggantikan posisi Bani Buwaih. Sebelumnya, Thugril Rahimahullah berhasil merebut daerah-daerah Marwadan Naisabur dari kekuasaan GhaznawiyahBalkhurjanTabaristanKhawarizmRayy, dan Isfahan.
Posisi dan kedudukan khalifah lebih baik setelah dinasti Seljuk berkuasa; paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan setelah beberapa lama "dirampas" orang-orang Syi'ah. Meskipun Baghdad dapat dikuasai, namun ia tidak dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Thugrul Bek Rahimahullah memilih kota Naisabur dan kemudian kota Rayy sebagai pusat pemerintahannya. Daulah-daulah kecil yang sebelumnya memisahkan diri, setelah ditaklukkan daulah Seljuk ini, kembali mengakui kedudukan Baghdad, bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan Abbasiyah untuk membendung paham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni Salafy yang dianut mereka.
Sepeninggal Thugril Bek Rahimahullah (455 H/1063 M)daulah Seljuk berturut-turut diperintah oleh :
  1. Alp Arselan Rahimahullah (455-465 H/1063-1072),
  2. Maliksyah (465-485 H/1072-1092),
  3. Mahmud Al-Ghazi (485-487 H/1092-1094 M),
  4. Barkiyaruq (487 -498 H/1 094-1103),
  5. Maliksyah II (498 H/ 1103 M),
  6. Abu Syuja' Muhammad (498-511 H/11 03-1117 M),dan
  7. Abu Harits Sanjar (511-522H/1117-1128 M).
Pemerintahan Seljuk ini dikenal dengan nama al-Salajiqah al-Kubra (Seljuk Besar atau Seljuk Agung). Disamping itu, ada beberapa pemerintahan Seljuk lainnya di beberapa daerah sebagaimana disebutkan terdahulu. Pada masa Alp Arselan Rahimahullah perluasan daerah yang sudah dimulai oleh Thugril Bek Rahimahullah dilanjutkan ke arah barat sampai pusat kebudayaan Romawi di Asia Kecil, yaitu Bizantium. Peristiwa penting dalam gerakan ekspansi ini adalah apa yang dikenal dengan pertempuran Manzikert. Tentara Alp Arselan Rahimahullah berhasil mengalahkan tentara Romawi yang besar yang terdiri dari tentara RomawiGhuzal-Akrajal-HajrPerancis, dan Armenia. Dengan dikuasainya Manzikert tahun 1071 M itu, terbukalah peluang baginya untuk melakukan gerakan penturkian (turkification) di Asia Kecil. Gerakan ini dimulai dengan mengangkat Sulaiman ibn Qutlumish, keponakan Alp Arselan, sebagai gubernur di daerah ini. Pada tahun 1077 M (470 H), didirikanlah kesultanan Seljuk Ruum dengan ibu kotanya Iconim. Sementara itu putera Arselan, Tutush Rahimahullah, berhasil mendirikan dinasti Seljuk di Syria pada tahun 1094 M/487 H.
Pada masa Sulthan Maliksyah wilayah kekuasaan Daulah Seljuk ini sangat luas, membentang dari Kashgor, sebuah daerah di ujung daerah Turki, sampai ke Yerussalem. Wilayah yang luas itu dibagi menjadi lima bagian:
1.Seljuk Besar yang menguasai KhurasanRayyJabalIrakPersia, dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang.
2.Seljuk Kirman berada di bawah kekuasaan keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Seljuk. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang.
3.Seljuk Iraq dan Kurdistan, pemimpin pertamanya adalah Mughirs al-Din Mahmud. Seljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh sembilan syekh.
4.Seljuk Syria, diperintah oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan ibn Daud ibn Mikail ibn Seljuk, jumlah syekh yang memerintah lima orang.
5.Seljuk Rum, diperintah oleh keluarga Qutlumish ibn Israil ibn Seljuk dengan jumlah syeikh yang memerintah seluruhnya 17 orang.
Disamping membagi wilayah menjadi lima, dipimpin oleh gubernur yang bergelar Syeikh atau Malik itu, penguasa Bani Seljuk juga mengembalikan jabatan perdana menteri yang sebelumnya dihapus oleh penguasa Bani Buwaih. Jabatan ini membawahi beberapa departemen.Pada masa Alp Arselan Rahimahullah, ilmu pengetahuan dan agama mulai berkembang dan mengalami kemajuan pada zaman Sultan Maliksyah yang dibantu oleh perdana menterinya Nizham al-Mulk. Perdana menteri ini memprakarsai berdirinya Universitas Nizhamiyah (1065 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang Nizhamiyah. Menurut Philip K. Hitti, Universitas Nizhamiyah inilah yang menjadi model bagi segala perguruan tinggi di kemudian hari.
Perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak ilmuwan muslim pada masanya. Di antara mereka adalah az-Zamakhsyaridalam bidang tafsir, bahasa, dan teologi; al-Qusyairy dalam bidang tafsir; Abu Hamid al-Ghazali Rahimahullah dalam bidang teologi; dan Farid al-Din al-'Aththardan Umar Khayam dalam bidang sastra.Bukan hanya pembangunan mental spiritual, dalam pembangunan fisik pun dinasti Seljuk banyak meninggalkan jasa. Maliksyah terkenal dengan usaha pembangunan di bidang yang terakhir ini. Banyak masjid, jembatan, irigasi dan jalan raya dibangunnya.
Setelah Sultan Maliksyah dan perdana menteri Nizham al-Mulk wafat Seljuk Besar mulai mengalami masa kemunduran di bidang politik. Perebutan kekuasaan di antara anggota keluarga timbul. Setiap provinsi berusaha melepaskan diri dari pusat. Konflik-konflik dan peperangan antar anggota keluarga melemahkan mereka sendiri. Sementara itu, beberapa dinasti kecil memerdekakan diri, seperti Syahat KhawarizmGhuz, dan al-Ghuriyah. Pada sisi yang lain, sedikit demi sedikit kekuasaan politik khalifah juga kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan dinasti Seljuk di Irak berakhir di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/l199 M. ( Wallahul Musta’an ).
Pada Masa Kesultanan Seljuk inilah, System Asuransi pertama diperkenalkan. Kesultanan Seljuk akan membayar semua kerugian dari pedagang yg mengalami peristiwa perampokan di dalam teritori Seljuk.

Sultan


  1. Thugril Bek Rahimahullah (455 H/1063 M),
  2. Alp Arselan Rahimahullah (455-465 H/1063-1072),
  3. Maliksyah (465-485 H/1072-1092),
  4. Mahmud Al-Ghazi (485-487 H/1092-1094 M),
  5. Barkiyaruq (487 -498 H/1 094-1103),
  6. Maliksyah II (498 H/ 1103 M),
  7. Abu Syuja' Muhammad (498-511 H/11 03-1117 M),dan
  8. Abu Harits Sanjar (511-522H/1117-1128 M).


DINASTI SALJUK Perkembangan, Kemajuan Dan Kemunduran

Sejarah Terbentuknya Dinasti Saljuk (Era Thugrul Beq)
Saljuq bin Duqaq meninggalkan empat putra, yakni Israil, Musa Bigu, Yunus dan Mikail. Israil, yang menggantikan kedudukan ayahnya tidak mampu menghadapi seangan penguasa Daulah Ghaznawiyah (367 H/977 M-583 H/1187 M). Di bawah penggantinya, Mikail, orang Saljuk dibawa melintasi daerah Jihun, kemudian menetap di Khurasan. Dalam peperangan yang sering terjadi antara raja Samaniyah dan Khaniyah, Saljuk berpihak pada raja Samaniyah. Untuk membalas budi mereka, kerajaan Samaniyah memperkenankan mereka menyeberangi wilayahnya untuk menuju daerah pinggiran Sungai Sihun (Sungai Syirdarya, Kazakhstan), kemudian mengambil kota Jund (Daerah di sekitar Transoksania) untuk dijadikan pangkalan. Saljuk berkembang menjadi kuat dan disegani serta sangat teguh berpegang pada ajaran Islam.
Tatkala Kerajaan Samaniyah jatuh ke tangan Ghaznawiyah pada tahun 389 H kaum Saljuq menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Keturunan Saljuq bin Tuqak ini pada tahun 420/1092 mulai menjelajah Iran bagian utara dan barat sehingga menggelisahkan keluarga sultan Ghazna, Mahmud. Adalah Thughril Beg, cucu Salju>q, yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia teratat sudah menguasai Marw dan Naisabur dari genggaman penguasa Ghaznawi. Segera setelah itu mereka juga merebut Balkh, Jurjan, Thabaristan dan Khawarizm, Hamadhan, Rayyi, dan Isfahan. Pemerintah Buwaihi tunduk di bawah kendali mereka.
Di bawah Panglima Tughril Beq, orang Saljuk berhasil menghancurkan Daulah Ghaznawiyah dan menduduki singgasana kerajaan Naisabur pada tahun 429 H/1038 M. Oleh karena itu Tughril Beq dipandang sebagai pendiri Dinasti Saljuk yang sebenarnya. Namanya kemudian disebut dalam khutbah Jum’ah dengan sebutan Raja diraja (Ma>lik al-Mulu>k). 
Selanjutnya Tughril Beq pada tahun 1040 M sukses memimpin serangan terhadap Dinasti Ghaznawi yang saat itu dipimpin oleh Mas’ud Ibn Mahmud di Khurasan sehingga memaksa mereka meninggalkan Khurasan. Kekalahan Ghaznawi ini selanjutnya merupakan klimaks kehancuran Ghaznawi di Persia. Sejak tahun 1940 sampai dengan 1050 M pertempuran terus berlangsung antara Dinasti Ghaznawi dengan Bani Saljuk, tetapi akhirnya terjadi gencatan senjata selama setengah abad. Sementara itu, Afghanistan tetap diakui sebagai bagian dari wilayah Ghaznawi.
Tughril Beg telah berhasil mengembangkan kerajaan Saljuq di wilayah Khurasan dan Transoxania. Setelah itu kaum Saljuq berjaya menaklukan wilayah-wilayah Persia hingga Fars yaitu pintu masuk ke Iraq. Sewaktu Saljuq di Fars, kedudukan Bani Buwaih di Baghdad sangat lemah. Sultannya ketika itu adalah al-Malik al-Rahim. Panglima tentaranya bernama al-Basarsiri mencoba mempertahankan kekuasaannya dengan meminta bantuan Dinasti Fatimiyah yang bernama al-Muntasir. Sementara pihak Khalifah al-Qaim dari Khilafah Abbasiyah—yang telah lemah secara politik, ekomoni dan militer—yang tidak suka terhadap pemerintahan Bani Buwaih yang menguasai Baghdad meminta bantuan kaum Saljuq pimpinan Tughril Beq. Tughrib Beq datang dengan pasukannya pada tahun 447 H dan berhasil menguasai Kota Baghdad.
Pada 18 Desember 1055, Thughril Beg masuk kota Baghdad. Al-Basa>si>ri, seorang jenderal berkebangsaan Turki sekaligus gubernur milter Baghdad meninggalkan ibukota dan Khalifah al-Qa>’im (1031-1075) segera menyambut para penyerang Saljuk itu dan menganggapnya sebagai utusan. Kemudian Thugrul diberi gelar “Yami>n Ami>r al-Mu’mini>n” (tangan kanan Amiril mukminin). Penguasa Bani Buwaih al-Malik al-Rahim ditangkap dan diasingkan di Rayy sampai meninggal dunia di sana pada tahun 450 H/1058. Dengan itu maka berakhirlah Kerajaan Bani Buwaih.
Sementara Panglima Al-Basasir berhasil melarikan diri ke utara Jazirah dan bersepakat dengan Quraish bin Badran pemimpin Kerajaan Uqailiyah. Tughril Beg mengejarnya hingga ke Mosul. Akan tetapi terjadi konflik perpecahan akibat desersi dalam tubuh tentara Thugril yang dipimpin oleh Ibrahim bin Inal yang merupakan saudara angkat Thugril. Dengan bantuan Alp-Asrlan–keponakan Tuhgril, anak saudarannya Daud yang memerintah Sijistan—Ibrahim dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada 3 Agustus 1059 M. Kondisi krisis dalam keluarga Saljuq ini dimanfaatkan oleh al-Basasiri untuk mengepung dan menguasai Baghdad kemudian mengusir Khalifah al-Qa’im serta memproklamasikan diri sebagai wakil Dinasti Fatimiyyah di Baghdad. Al-Basasiri memerintah Baghdad sekitar satu tahun (450-451 H). Setelah Thugril Beq mengkonsolidasikan pasukannya, ia mampu merebut kembali Baghdad dan mengembalikan Khalifah al-Qa’im ke Baghdad. Sementara al-Basasiri yang sempat melarikan diri ke Wasit, dapat ditangkap dan dibunuh oleh tentara Saljuq pada tahun 452 H/1060 M.
Setelah absen satu tahun, Thugril kembali ke Baghdad dan disambut dengan upacara besar-besaran. Thughril dielu-elukan sebagai “Raja Timur dan Barat” (Ma>lik al-Sharq wa al-Gharb) . Gelar kenegaraan yang digunakannya adalah al-Sulthan. Para ahli sejarah mencatat bahwa dialah yang menjadi penguasa muslim pertama yang menggunkan gelar ini. Mereka mencantumkan dan mengabadikan gelar sultan itu dalam mata uangnya. Bersama kaum Saljuk gelar “sultan’ menjadi sebuah gelar kenegaraan tetap.
Dengan tanpa menghapuskan kedudukan khalifah atau menghancurkan eksistensi dinasti Abbasiyah. Saljuq Sunni berhasil memasuki Baghdad pada tahun 447/1055 dan menggantikan Buwaihiyyah Syi’ah yang lebih dahulu mereka sebagai penguasa yang efektif untuk bagian timur wilayah kekuasaan Abbasiyah.  Tughril menjalin hubungan yang erat dengan Khalifah dengan mengawini putrinya dan memboyongnya ke ibukota kerajaan di Rayy pada 1062.
Berikut daftar khalifah-khalifah Abbasiyah zaman Seljuq dan memerintah di Baghdad:
  1. Al-Qa’im (422-467 H/1031-1074 M)
  2. Al-Mustanzir (467-487 H/1075-1094 M)
  3. Al-Muqtadi (487-512 H/1094-1118 H)
  4. Al-Mustarshid (512-529 H/1118-1134 H)
  5. Al-Rashid (529-530 H/1134-1135 M)
  6. Al-Muqtafi (530-555 H/1135-1160 M)
  7. Al-Mustanjid (555-566 H/1160-1170 M)
  8. Al-Mustadi’ (566-575 H/1170 H-1180 M)
  9. Al-Nasir (575-622 H/1180-1225 M)
  10. Al-Zahir (622-623 H/1225-1226 M)
  11. AL-Mustansir (623-640 H/1226-1242 M)
  12. Al-Musta’sim (640-656 H/1242-1258 M)
Baghdad Jatuh ke tangan tentara Mongol (656 H/1258 M)
Berikut Daftar para pemimpin Dinasti Saljuq:
1.      Rukn al-Dunya wa al-Din Thugril Bek I (429 H/1038 M)
2.     Adud al-Daulah Alp Arslan (455H/1063 M)
3.      Jalal al-Daulah Malik Syah I (465H/1072 M)
4.      Nasir al-Din Mahmud I (485 H/1092 M)
5.      Rukn al-Din Barkiyaruq (487 H/1094 M)
6.      Mu’izz al-Din Malik Syah II (498 H/ 1103 M)
7.      Ghiyath al-Din Muhammad I (498 H/1103 M)
8.     Mu’izz al-Din Sanjar (511-522H/1118-1157 M).
D. Periode Keemasan Dinasti Saljuk (1063-1092)
1. Dinasti Saljuk di Era Alp Arslan 1063-1072 M)
Setelah berkuasa selama 26 tahun dan baru menikahi putri Khalifah setahun, Thugril Beq meninggal dunia pada tahun 1063. Thugril Beq meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan digantikan oleh keponakannya, Alp Arselan bin Daud. Naiknya Alp Arslan mendapat perlawanan dari saudara-audaranya yang dipelopori Syihabuddaulah Qutulmisy, anak pamannya, musa Cagri. Pada 457 H/1064 M, Musa Cagri yang menguasai daerah Transoksania berhasil ditaklukan. Alp Arslan berhasil menyelesaikan konflik intern dan memerintah dengan pusat pemerintahannya di Ibukota Rayy.
Pada masa kekuasaan Sultan Alib Arselan (1060/1063-1072 M) inilah kerajaan Seljuk berhasil mencapai puncak keemasannya. Masa keemasan ini kemudian berlanjut pada masa kekuasaan Malik Syah (1072-1092 M) yang memerintah setelah Arselan. Pada pemerintahan Malik Syah, wazirnya yang bernama Nizhamul Mulk (1060/1065-1092 M) banyak mendirikan sekolah-sekkolah memperkuat eksistensi Ahlulsunah Waljamaah di kawasan ini.
Prestasi Saljuk menjadi keompok muslim pertama yang merebut wilayah kekuasaan Romawi. Pada tahun kedua pemerintahannya, Alp Asrlan (singa-pahlawan) merebut Ani, ibukota Armenia Kristen, lalu menduduki sebuah provinsi Bizantium. Segera setelah itu dia mengobarkan kembali peperangan melawan Binzantium, sanga musuh abadi. Tahun 1071 Alp memenangkan pertempuran penting di Manzikart (Malazkird, Malasjird), sebelah utara Danau Van di Armenia, dan berhasil menawan Kaisar Romanus Diogenes. 
Pada tahun 1064 M, Dinasti Seljuk berhasil menguasai Armenia dan terus meluas hingga mencapai kawasan Hijaz serta bebrapa tempat suci Islam lainnya pada tahun 1070 M. Puncak dari pencapaian Dinasti Seljuk adalah ketika mereka berhasil menaklukkan Konstantinopel dengan amat gemilag dalam pertempuran Malazgirt (Manzikert) pada tahun 1071 M. Seperti yang sudah disebutkan di bagian trdahulu, pada tahap selanjutnya Dinasti in juga berhasil menguasai hampir seluruh semenanjung Arab.
Seljuk Romawi, saljuk Antakya termasuk bangsa Turki yang menguasai Anatolia pada periiode 1077-1308 M. Pusat pemerintaha mereka berada di kota Nicea (Iznik) dan kemudian pindah ke Konya mulai tahun 1116 M. Dinasti induk ini lalu bercabang menjadi beberapa puak-puak besar. Setelah kemenangan amat gemilang pada perte puran Malazgirt yang berujung runtuhnya Romawi Timur (Byzantium), Dinasti ini mulai meluaskan wilayah kekuasaan mereka di Antakya. Pendiri kerajaan ini Qutalmisy bin Arselan adalah salah satu kerabat penguasa Saljuk Taghrul Beg. Putranya yang bernama Sulaiman I (1077-1080 M) berhasil menguasai Nicea (Iznik) pada tahun 1078 M. Sistem Monarki ini terus berlangsung di Nicea atas titah dari tokoh-tokoh Seljuk pada massa awal dan kemudian wilayah ini baru benar-benar merdeka setelah berdirinya beberapa kerajaan kecil Kristen di kawasan ini.
Alp Arsalan, sebagai pengganti Tughril berhasil memberikan andil dalam berbagai bidang. Secara militer, kehebatan bani Seljuk dibuktikannya dengan memberikan pukulan-pukulan hebat atas pasukan Bizantium dalam perang Mazikert pada tahun 1071 (464 H). peristiwa ini sangat berarti bagi bani Seljuk, bukan hanya semakin terbukanya Asia kecil untuk migrasi suku-suku Turki, melainkan itu merupakan kemenangan awal penting bagi tentara sultan atau khalifah melawan pasukan regular Kaesar. Sementara itu dalam bidang pemerintahan Alp Arsalan beruntung mendapatkan seorang wazir yang bijak dan ulet, Nizam al-Mulk. Malik Syah yang masih remaja banyak mendapatlkan bantuan dari wazirnya, Nizam al-Mulk. Berkat kelangsungan kebijaksanaan Nizam al-Mulk, kekuasaan Seljuk terus berjalan mulus, bahkan telah berhasil mencakup Afganistan, Iran, Mesopotamia, Syiria, Palestina, dan belahan barat Asia kecil.
Bani Saljuk adalah dinasti Islam pertama yang memperoleh kekuasaan permanen di Kekaisaran Romawi. Mereka menempati dataran tinggi Asia kecil yag kemudian menjadi bagian dari wilayah negara Islam, dan sekaligus meletakkan basis bagi penyebaran bangsa Turki di Asia kecil. Saudara sepupu Alp Arslan, Sulaiman bin Qutulmisy (w. 479 H/1086) memegang kekuasaan di wilayah baru itu dan mendirikan Kesultanan Saljuk pada 1077. Nicaea (Niqiyah) adalah kota pertama yang dijadikan ibukota di wilayah itu, dan dari sana di kemudian hari, Qilij Arslan I, anak dan pengganti Sulaiman, diserang oleh gabungan tentara Salib yang pertama.
Pada masa Alp Arselan , ilmu pengetahuan dan agama mulai berkembang dan mengalami kemajuan pada zaman Sultan Maliksyah yang dibantu oleh perdana menterinya Nizham al-Mulk. Perdana menteri ini memprakarsai berdirinya Universitas Nizhamiyah (1065 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang Nizhamiyah. Menurut Philip K. Hitti, Universitas Nizhamiyah inilah yang menjadi model bagi segala perguruan tinggi di kemudian hari.
Alp Arselan tidak hanya besar di medan perang, tetapi juga banyak membangun untuk kepentingan rakyatnya. Namun, tidak lama ia menikmati hasil kerjanya itu, ia meninggal dunia. Dalam benteng di Oxus, pada bulan Desember 1072, Alp Arslan meninggal karena dibunuh. Sebelumnya, Alp arslan sempat mewasiatkan kepada Nizham al-Mulk sebagai wazirnya untuk membimbing anaknya yang masih kecil yaitu Malikshah. Maliksyah merupakan tokoh terbesar dan berpengaruh dalam sejarah Bani Seljuk.

2. Dinasti Saljuk di Era Maliksyah (1072-1092)
Periode kekuasaan Thughril (1037-1063), keponakan sekaligus penerusnya, Alp Arsla>n (1063-1072), dan periode putra terakhirnya, Maliksya>h (1072-1092), mewakili periode-periode paling cemerlang dalam masa kekuasaan Saljuk atas dunia Islam di Timur.
Pada masa Sulthan Maliksyah wilayah kekuasaan Daulah Seljuk ini sangat luas, membentang dari Kashgor, sebuah daerah di ujung daerah Turki, sampai ke Yerussalem. Wilayah yang luas itu dibagi menjadi lima bagian:
1)      Seljuk Besar yang menguasai Khurasan, Rayy, Jabal, Irak, Persia, dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang.
2)      Seljuk Kirman berada di bawah kekuasaan keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Seljuk. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang.
3)      Seljuk Iraq dan Kurdistan, pemimpin pertamanya adalah Mughirs al-Din Mahmud. Seljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh sembilan syekh.
4)      Seljuk Syria, diperintah oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan ibn Daud ibn Mikail ibn Seljuk, jumlah syekh yang memerintah lima orang.
5)      Seljuk Ruum, diperintah oleh keluarga Qutlumish ibn Israil ibn Seljuk dengan jumlah syeikh yang memerintah seluruhnya 17 orang.
Bukan hanya pembangunan mental spiritual, dalam pembangunan fisik juga dinasti saljuk banyak meninggalkan jasa. Maliksyah terkenal dengan usaha pembangunan di bidang yang terakhir ini. Ia telah membangun banyak masjid, jembatan, irigasi dan jalan raya. Pada saat itu ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat pula, diantara tokohnya adalah Umar Khayan, penyair, ahli astronomi dan ahli matematika.
Pembunuhan pada tahun 1092 yang menimpa seorang wazir kondang kekhalifan Saljuk, Nizham al-Mulk, oleh seorang fidai yang menyamar menjadi sufi, menjadi awal dari rangkaian pembunuhan misterius yang meneror dunia muslim. (Hitti, 566 mengutip dari Ibnu Khallikan). Fidai adalah pasukan benari mati kelompok hasyasyin (yang berasal dari kata hasyasy, ganja. Pecandu ganja). Sekte neo-Isma’iliyah yang didirikan oleh Hasan ibn al-Shabbah (w. 1124) pasca hancurnya negara Qaramitah.
Seiring kematiannya, berakhrirlah periode keemasan yang meliputi tiga penguasa pertama Dinasti Saljuq. Dalam waktu yang singkat, tetapi sebagaimana diakui Hitti, adalah periode yang cemerlang. Ketiga sultan tersebut telah mempersatukan sampai daerah-daerah independen terjauh yang pernah membentuk negara Islam.
Kemajuan Peradaban di Era Kekuasaan Dinasti Saljuk
a. Sistem politik dan pemerintahan
  1. Saljuq merupakan sebuah kerajaan yang mengamalkan sistem hiererki. Kuasa tertinggi ialah sultan. Sultan dibantu oleh kelompok birokrasi Parsi dan tentara yang berasal dari berbagai bangsa dan keturunan yang dipimpin oleh panglima-panglima Turki dari keturunan budak. 
  2. Pada masa dinasti saljuk berkuasa, posisi dan kedudukan khalifah menjadi lebih baik; paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan setelah beberapa lama dirampas oleh orang-orang syi’ah (dinasti Buwaih). Meskipun Baghdad dapat dikuasai, Thogril Beg memilih Naisabur dan kemudian Ray sebagai pusat pemerintahannya. Dinasti-dinasti kecil yang sebelumnya telah memisahkan diri, setelah ditaklukan oleh dinasti saljuk, kembali mengakui kedudukan Baghdad. Bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan Abassiyah untuk membendung Syi’ah dan mengembangkan madzhab sunni yang mereka anut. Dinasti Seljuk Inilah kekaisaran Islam pertama Turki yang memerintah dunia Islam. Kekuasaan yang digenggamnya begitu luas meliputi Asia Tengah dan Timur Tengah — terbentang dari Anatolia hingga ke Punjab di belahan selatan Asia. Kekaisaran Seljuk Agung yang mulai menancapkan kekuasaan pada abad ke-11 M hingga 14 M itu didirikan suku Oghuz Turki yang memeluk Islam mulai abad ke-10 M.Sejatinya, Kekaisaran Seljuk dirintis oleh Seljuk Bek. Namun, Kerajaan Seljuk yang berdiri pada 1037 M itu baru terwujud pada era kepemimpinan Thugril Bek yang berkuasa hingga 1063 M. Sejarah mencatat Dinasti Seljuk sebagai kerajaan yang mampu menghidupkan kembali kekhalifahan Islam yang ketika itu nyaris tenggelam.
  3. Perhatiaan dalam bidag pembangunan sarana dan prasarana. Maliksyah dengan giat melakukan pembangunan untuk sarana perekonomian, seperti pembangunan jembatan-jembatann, terusan-terusan dan perbaikan pelabuhan.

b. Kemajuan ilmu pengetahuan
  1. Maliksyah—atas saran Nizham al-Mulk—pada tahun 1074-1075 menyelenggarakan konferensi para astronom dan menugaskan mereka untuk memperbaharui kalender Persia. Acara ini digelar di observatorium yang baru didirikannya. Hasilnya adalah kalender Jala>li—nama yg diambil dari nama lengkap Maliksyah yaitu Jala>l al-Din Abu> al-Fath}—yang sangat akurat sampai di era modern.
  2. Maliksyah mengadakan kompentisi ilmiah. Sultan meminta para pejabat negara yang memberikan pendapat tertulis tentang ciri-ciri pemerintahan yang baik. Kompilasi dari kompetisi tersebut menghasilkan karya intelektual tentang seni pemerintahan, Siya>sah-na>mah.
  3. Proyek pendirian sejumlah akademi yang untuk pertama kalinya dikoordinasikan dengan baik untuk menciptakan sistem pendidikan tinggi dalam Islam. Akademi yang termasyhur adalah Nizha>miyah, didirikan pada 1065-1067 di Baghdad. Imam al-Ghazaly pernah menjadi dekan di akademi ini. (Hitti, 608). Madrasah-madrasah ini selain mengajarkan bidang ilmu keagaaman Islam pada umumnya, juga berperan besar dalam menyebarkan dan memperkokoh mazhab sunni. Dalam fiqih, madrasah-madrasah yang didirikan di Baghdad, Naisabur, dan ibukota-ibukota provinsi timur ini diajarkan mazhab Syafi’i, sedangkan dalam bidang teologi diajarkan mazhab Asy’ary. Imam al-Haramain al-Juwani, guru al-Ghazali, adalah kepala madrasah Nizhamiyyah di Naisabur.
  4. Perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak ilmuwan muslim pada masanya. Diantara mereka adalah   Az-Zamakhsyari dalam bidang tafsir, bahasa, dan teologi; Al-Qusyairy dalam bidang tafsir; Abu Hamid al-Ghazali Rahimahullah dalam bidang teologi; Farid al-Din al-‘Aththar; Umar Khayam dalam bidang sastra. 

c. Kemajuan di bidang Seni Arsitek
a.      Caravanserai Seljuk (Khan)
Penguasa Dinasti Seljuk begitu banyak membangun caravanserai atau tempat singgah bagi para pendatang atau pelancong. caravanserai dibangun untuk menopang aktivitas perdagangan dan bisnis. Para pelancong dan pedagang dari berbagai negeri akan dijamu di caravanserai selama tiga hari secara cuma-cuma alias gratis.
Di caravanserai itulah, para pendatang akan dijamu dengan makanan serta hiburan. Secara fisik, bangunan caravanserai terdiri dari halaman, gedungnya dipercantik dengan lengkungan iwan. Dalam caravanserai terdapat kamar menginap, depo, kamar pengawal serta tersedia juga kandang untuk alat transportasi seperti kuda. Caravanserai dikelola oleh sebuah lembaga donor. Organisasi itu pertama kali didirikan di Rabat-i-Malik. Caravanserai di wilayah Iran itu menjadi cikal bakal berdirinya tempat singgah khas Dinasti Seljuk. Caravanserai pertama itu dibangun pada tahun 1078 M oleh Sultan Nasr di antara rute Bukhara-Samarkand. Struktur bangunan caravanserai Seljuk meniru istana padang pasir Dinasti Abbasiyah. Bentuknya segi empat dan ditopang dengan dinding yang kuat.
1. Madrasah Seljuk
Menurut Van Berchem, para arsitektur di era Dinasti Seljuk mulai mengembangkan bentuk, fungsi dan karakter masjid. Bangunan masjid diperluas menjadi madrasah. Bangunan madrasah pertama muncul di Khurasan pada awal abad ke-10 M sebagai sebuah adaptasi dari rumah para guru untuk menerima murid.Pada pertengahan abad ke-11 M, bangunan madrasah diadopsi oleh penguasa Seljuk Emir Nizham Al-Mulk menjadi bangunan publik. Sang emir terispirasi oleh penguasa Ghaznawiyyah dari Persia. Di Persia, madrasah dijadikan tempat pembelajaran teknologi. Madrasah tertua yang dibangun Nizham Al-Mulk terdapat di Baghdad pada tahun 1067 M.
Fakta menunjukkan, madrasah yang dibangun antara tahun 1080 M hingga 1092 M di Kharghird, Khurasan sudah menggunakan empat iwan. Secara fisik, bangunan madrasah Seljuk terdiri dari halaman gedung yang dikelilingi tembok dan dilengkapi empat iwan. Selain itu juga ada asrama dan ruang belajar.Salah satu madrasah terbaik yang bisa dijadikan contoh berada di Anatolia. Bangunan madrasah itu menerapkan karakter khas Iran termasuk penggunaan iwan dan menara ganda yang membingkai pintu gerbang.
 2. Menara Seljuk
Bentuk menara masjid-masjid di Iran yang dibanguan Dinasti Seljuk secara subtansial berbeda dengan menara di Afrika Utara. Bentuk menara masjid Seljuk mengadopsi menara silinder seagai ganti menara berbentuk segi empat.
 3. Makam Seljuk
Pada era kejayaan Dinasti Seljuk pembangunan makam mulai dikembangkan. Model bangunan makam Seljuk merupakan pengembangan dari tugu yang dibangun untuk menghormati penguasa Umayyah pada abad ke-8 M. Namun, bangunan makam yang dikembangkan para arsitek Seljuk mengambil dimensi baru. Bangunan makam yang megah dibangun pada era Seljuk tak haya ditujukan untuk menghormati para penguasa yang sudah meninggal. Namun, para ulama dan sarjana atau ilmuwan terkemuka pun mendapatkan tempat yang sama. Tak heran, bila makam penguasa dan ilmwuwan terkemuka di era Seljuk hingga kini masih berdiri kokoh.
Bangunan makam Seljuk menampilkan beragam bentuk termasuk oktagonal (persegi delapan), berbentuk silinder dan bentuk-bentuk segi empat ditutupi dengan kubah (terutama di Iran). Selain itu ada pula yang atapnya berbentuk kerucut (terutama di Anatolia). Bangunan makam biasanya dibangun di sekitar tempat tinggal tokoh atau bisa pula letaknya dekat masjid atau madrasah. 
4. Masjid Seljuk
Inovasi para arsitektur Dinasti Seljuk yang lainnya tampak pada bangunan masjidnya. Masjid Seljuk sering disebut Masjid Kiosque. Bangunan masjid ini biasanya lebih kecil yang terdiri dari sebuah kubah, berdiri melengkung dengan tiga sisi yang terbuka. Itulah ciri khas masjid Kiosque. Model masjid khas Seljuk ini seringkali dihubungkan dengan kompleks bangunan yang luas seperti caravanserai dan madrasah.
Periode Kemunduran & Kehancuran Dinasti Saljuk
Sesudah era Maliksyah (465-485/1072-1092 M), Bani Saljuq mengalami kemunduran sebelum kekuasaan mereka di Baghdad pudar sama sekali pada tahun 552/1157.  Setelah kematian Maliksyah, sejumlah perang sipil antara putra-putrinya, ditambah lagi dengan berbagai kerusuhan di berbagai wilyaha telah melemahkan otoritas Saljuk dan mengakibatkan hancurnya pemerintahan. Setelah Sultan Maliksyah dan Perdana Mentri Nizam al-Mulk wafat, Seljuk besar mulai mengalami masa kemunduran di bidang politik. Perebutan kekuasaan di antara anggota keluarga timbul. Setiap propinsi berusaha melepaskan diri dari pusat pemerintahan. Konflik-konflik antar anggota keluarga melemahkan dinasti Seljuk itu sendiri, seperti Syahat Khawarizm, Ghuz, dan Al-Ghuriyah. Pada sisi lain, sedikit demi sedikit kekuasaan politik khalifah juga kembali, terutama untuk negri Irak. Kekuasaan dinasti Seljuk di Irak berakhir di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/1199 M.
Negara-negara yang terpisah itu mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya di berbagai wilayah kekaisaran yang sangat luas, sementara penguasa utamanya, Dinasti Saljuk agung dari Persia, mempertahanka kekuasaan formalnya sampai tahun 1175. Salah satu pecahan utama dari rumpun ini adalah negara Irak Persia (1117-1194). Sementara Dinasti Saljuk Romawi di Iconium digantikan setelah 1300 oleh Tukri Utsmani.  Kekuasaan bani Saljuq di Asia kecil di beberapa tempat masih ada yang berlangsung sampai abad ke-14 (di Asia Kecil dan Kirman), bahkan aad ke-15 (Luristan dan Mardin). 
Dengan demikian kekuataan dinasti itu tidak ada lagi, maka sewaktu bangsa Mongol menyerang Baghdad, mereka tidak dapat lagi mempertahankan kota itu. Hingga pada tahun 656 H jatuhlah Baghdad ke tangan Hulagu Khan pemimpin pasukan bangsa Mongol.

Penyebab Kemunduran & Kehancuran Dinasti Saljuk
Terdapat sebab-sebab internal dan eksternal bagi kejatuhan kekuasaan dinasti Saljuk.
  1. Terjadinya disintegrasi wilayah kekuasaan dinasti karena sistem otonomi semi-independen yang memberi peluang bagi gubernur wilayah untuk memisahkan diri dari kekuasaan pusat menjadi negara-negara kecil. Wilayah-wilayah kekuasaan dibagi-bagi kepada anggota keluarga dari Turki dan memerintah dengan otonomi yang luas. Di sisi lain pengawasan dan koordinasi pemerintah pusat cukup lemah. Apabila pusat melakukan tekanan atas wilayah-wilayah tersebut, penguasa-penguasa wilayah tidak mau tunduk bahkan memberontak sebagaimana yang terjadi di wilayah Khurasan dan Ghur.
  2. Persaingan antara pemimpin-pemimpin Seljuq di Iraq, syiria dan Parsi setelah kematian Maliksyah. Konflik perebutan kekuasaan dipicu oleh persaingan antaradua orang putra Maliksah, Ghiyath al-Din Muhammad I dan Mu’izz al-Din Sanjar. Sejumlah perang sipil antara kedua putra Maliksyah dan ditambah berbagai kerusuhan telah melemahkan otoritas Saljuk dan mengakibatkan hancurnya pemerintahan.
  3. Tidaknya sosok pemimpin yang kuat dan memiliki kapasitas kepemimpinan seperti ketiga sultan sebelumnya dan tidak adanya wazir ahli tata negara yang cerdas dan handal yang setara dengan Nizham al-Mulk. Menurut Hitti, Imperium Saljuk yang dibangun atas dasar kesukuan oleh sekelompok orang yang bentuk organisasinya bersandar pada kebiasaan mengembara, hanya bisa disatukan oleh pribadi yang memiliki pengaruh dominan.
  4. Intervensi dan perebutan dominasi pengaruh para Atabeg (Panglima, wali asuh para pangeran dan putra mahkota Saljuq). Pengaruh mereka yang semakin besar dalam percaturan politik pemerintahan menyebabkan semakin melemahnya otoritas dan pengaruh sultan.
  5. Terlaksananya sistem iqta’. Menurut sistem ini, para panglima tentara diberikan tanah-tanah di wilayah yang dikuasai mereka. Akhirnya lahirlah golongan iqta’ (golongan feodal dan tuan tanah). Golongan ini memeras kaum tani dengan mengenakan cukai pertanian untuk menapatkan hasil yang banyak dan mengupah buruh tani dengan upah yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan rasa tidak puas dan sakit hati yang menyebar luas di kalangan kaum tani dan memicu terjadinya pemberontakan.
  6. Penentangan kaum Syi’ah Isma’iliyah yang digelar al-hasyasyun (Assasins) pimpinan al-hasan bin al-Sabah. Gerakan batiniyah ini merektrut pengikutnya dan melatih menjadi tentara pemberontak. Pada tahun 483 H/1092 M, al-Hasan dan tentaranya berhasil menguasai benteng pertahanan Saljuq di kawasan pengunungan di dekat laut Kaspia. Bahkan, pada tahun 485 H/1092 M komplotan mereka membunuh Nizam al-Mulk.
  7. Ancaman dan serangan dari tentara Byzantium yang beragama kristen. Adanya ancaman dari luar ini telah memaksa pemerintah kerajaan untuk meningkatkan anggaran belanja negara di bidang militer. Peralatan senjata, tentara dan biaya ekspedisi perang telah menyedot anggaran yang besar sehingga mengurangi anggaran di bidang pembangunan sektor lain.
  8. Pengaruh Serangan tentara Mongol.
https://syukrillah.wordpress.com/2014/04/14/dinasti-saljuk-perkembangan-kemajuan-dan-kemunduran/

Dinasti Saljuk dalam Sejarah Peradaban Islam, Lengkap!

Dinasti Saljuk dalam Sejarah Peradaban Islam – Dinasti Saljuk merupakan kelompok bangsa Turkiyang berasal dari suku Ghuzz.Dinasti Saljuk dinisbatkan kepada nenek moyang mereka yang bernama Saljuk ibn Tuqaq (Dukak).Ia merupakan salah seorang anggota suku Ghuzz yang berada di Klinik,dan akhirnya menjadi kepala suku Ghuzz yang dihormati dan dipatuhi perintahnya.
Negeri asal mereka terletak di kawasan utara laut Kaspia dan laut Aral dan mereka memeluk agama Islam pada akhir abad ke 4 H/10M dan lebih kepada mazhab sunni. 
Pada mulanya Saljuk ibn Tuqaq mengabdi kepada Bequ,raja daerah Turkoman yang meliputi wilayah sekitar laut Arab dan laut kaspia.Saljuk diangkat sebagai pemimpin tentara.Pengaruh Saljuk sangat besar sehingga Raja Bequ khawatir kedudukannya terancam.Raja Bequ bermaksud menyingkirkan Saljuk,namun sebelum rencana itu terlaksana Saljuk mengetahuinya.Ia tidak mengambil sikap melawan atau memberontak tetapi bersama dengan para pengikutnya ia berimigrasi ke daerah Jand atau disebut juga daerah muslim di wilayah Transoxiana antara sungai Ummu Driya dan Syrdarya atau Jihun.
Bangsa Turki Saljuk adalah pemeluk Islam yang militan.Masyarakat Turki Saljuk memeluk Islam diperkirakan jauh sebelum mereka memasuki daerah Jand,tetapi kemungkinan besar mereka memeluk agama Islam setelah terjadinya interaksi sosial dengan masyarakat Islam di Jand itu sendiri.Beberapa sarjana berkebangsaan Rusia mengatakan bahwa masyarakat Turki Saljuk memeluk Islam setelah mereka memeluk agama Kristen,dengan melihat nama anak-anak Saljuk yang memiliki kemiripan dengan nama-nama yang ada di dalam kitab Injil,yaitu Mikail,Musa,Israil,dan Yunus.Akan tetapi kemungkinan ini sulit diterima,terutama setelah melihat dan mempelajari tradisi yang ada pada mereka.
Perkembangan Dinasti Saljuk dibantu oleh situasi politik di wilayah Transoksania.Pada saat itu terjadi persaingan politik antara dinasti Samaniyah dengan dinasti Khaniyyah,dalam persaingan ini Saljuk cenderung untuk membantu dinasti Samaniyah. Ketika dinasti Samaniyah dikalahkan oleh dinasti Ghaznawiyah,Saljuk menyatakan memerdekakan diri.Ia berhasil mengusai wilayah yang tadi dikusai oleh Samaniyyah.Setelah Saljuk bin Tuqaq meninggal,kepemimpinan bani Saljuk dipimpin oleh Israil ibn Saljuk yang juga dikenal dengan nama Arslan.Setelah itu diteruskan oleh Mikail,sedangkan ketika itu dinasti Ghaznawiyah dipimpin oleh Sultan Mahmud.Kareana kelicikan penguasa Ghaznawiyah,kedua pemimpin dinasti Saljuk ini ditangkap dan dibunuh sehingga mengakibatkan lemahnya kekuasaan Saljuk. 
Pada periode berikutnya Saljuk dipimpin oleh Thugrul Bek.Ia berhasil mengalahkan Mahmud al-Ghaznawi,penguasa Ghaznawiyah pada tahun 429 H / 1036 M dan memaksanya meninggalkan daerah Khurasan,setelah keberhasilan tersebut,Thugrul memproklamirkan berdirinya dinasti Saljuk.Pada tahun 432 H/1040 M dinasti ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad.Disaat kepemimpinan Thugrul Bek inilah,pada tahun 1055 M dinasti Saljuk memasuki Baghdad menggantikan dinasti Buwaihi. Sebelumnya Thugrul berhasil merebut daerah Marwa dan Naisabur dari kekuasaan Ghaznawi, Balkh, Jurjan, Tabaristan,Khawarizm,Ray dan Isfahan. Pada tahun ini juga Thugrul Bek mendapat gelar dari khalifah Abbasiyah dengan Rukh al-Daulah Yamin Amir al-Muminin.Meskipun Bagdad dapat dikuasai,namun tidak dijadikan pusat pemerintahan.Thugrul Bek memilih kota Naisabur dan kemudian kota Ray sebagai pusat pemerintahan.Dinasti-dinasti ini sebelumnya memisahkan diri,setelah ditaklukkan dinasti Saljuk kembali mengakui kedudukan Bagdad.Bahkan mereka menjalin keutuhan dan keamanan Abbasiyah.
Setelah pemerintahan Thugrul Bek (455 H),Daulah Saljuk berturut-turut diperintah oleh :
  1. Alp Arselan (455-465 H/1063-1072 M)
  2. Maliksyah (465-485 H/1072-1092 M)
  3. Mahmud al-Ghazy (485-487 H/1092-1094 M)
  4. Barkiyaruq (487-498 H/1094-1103 M)
  5. Maliksyah II (498 H)
  6. Abu Syuja’ Muhammad (498-511 H/1103-1117 M)
  7. Abu Harits Sanjar (511-522 H/1117-1128 M)
Dinasti Saljuk dalam Sejarah Peradaban Islam – Pemerintahan Saljuk ini dikenal dengan nama al-Salajiqah al-Kubra (Saljuk Raya).Pada masa pemerintahan Alp Arselan,ia mencoba melakukan konsolidasi dan ekspansi wilayah kekuatan politik Saljuk.Ia menjadikan kota Ray sebagai ibu kota kesultanan Saljuk,sebagaimana pada masa pemerintahan Thugrul Bek. Alp-Arselan melakukan ekspedisi militer sampai ke pusat kebudayaan Romawi di Asia Kecil,yaitu Bizantium.Peristiwa penting dalam gerakan ekspansi ini adalah apa yang dikenal dengan peristiwa Manzikart (1071 M).Tentara Alp-Arselan berhasil mengalahkan tentara Romawi yang besar yang terdiri dari tentara Romawi,Ghuz,al-Akhraj,al-Hajar,Perancis dan Armenia.Dengan dikuasainya ini maka kekuasaannya telah meluas sampai ke Asia Kecil. Di samping itu Alp-Arselan juga berjaya melawan kerajaan Fathimiyah hingga ke Damsyik. Maka dipandanglah Dinasti Saljuk sebagai dinasti pertama yang memperoleh kekuasaan permanen kekaisaran Romawi.Dengan kemenangan itu Ramailus Diogenus (pemimpin pasukan Byzantium) selama 50 tahun harus membayar jizyah kepada kesultanan Saljuk. 
Setelah Alp Arselan meninggal kemudian tampuk kekuasaan dipegang oleh Maliksyah,ia dibantu oleh wazir Nizam al-Mulk yang sudah berhubungan dengan ayahnya ketika dia masih menjabat sebagai Gubernur Khurasan dan juga pemprakarsa berdirinya Madrasah Nizamiyah (1065 H).Pada awalnya ia menjadikan Naisabur sebagai ibukota Saljuk,tetapi kemudian memindahkannya ke Ray,ibukota yang lama.Setelah ia naik tahta,ia melakukan tiga hal: pertama,melakukan sentralisasi kekuasaan politik,kedua,menjaga wilayah yang diwariskan oleh ayah dan kakeknya,dan ketiga,memperluas wilayah politik kesultanan Saljuk ke hampir seluruh wilayah Islam. 
Pada masa Maliksyah wilayah kekuasaan Dinasti Saljuk ini sangat luas,membentang dari Kashgor sebuah daerah di ujung daerah Turki sampai ke Yerussalem.Wilayah yang luas itu dibagi menjadi lima bagian. Yaitu :
  1. Saljuk Besar,yang menguasai Khurasan,Ray,Jabal,Irak,Persia dan Ahwaz.Ia merupakan induk dari yang lain.
  2. Saljuk Kirman,berada di bawah kekuasaan keluarga Qowurt Bek ibn Dawud ibn Mikail,ibn Saljuk.
  3. Saljuk Irak dan Kurdistan,Pemimpin pertamanya adalah Mughirs al-Din Mahmud.
  4. Saljuk Siria,diperintah oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan ibn Daud ibn Mikail ibn Saljuk.
  5. Saljuk Rum,diperintah oleh keluarga Quthlumish ibn Israil ibn Saljuk.
Di samping membagi wilayah menjadi lima bagian,yang dipimpin oleh gubernur yang bergelar Syaikh,penguasa Saljuk juga mengembalikan jabatan perdana menteri yang sebelumnya dihapus oleh penguasa Bani Buwaih.Jabatan ini membawahi beberapa departemen.Keberhasilan Bani Saljuq dalam mempertahankan kekuasaannya,tak lepas dari para wazir (menteri) yang senantiasa loyal dan patuh terhadap sultan serta kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan.Diantara mereka yang telah berjasa dalam membangun dan mempertahankan dinasti Bani saljuq adalah:
  1. Abu Nasr Muhammad bin Manshur al-Kundari,wazir pada masa Sultan Tughrul Bek dan Alp Arselan.
  2. Tajuddin Abu al-Ghanayim,wazir pada masa Sultan Sanjar.
  3. Ali bin al-Hasan al-Tughra,wazir pada masa Sultan Sanjar.
  4. Sa’ad bin Ali bin Isa,wazir pada masa Sultan Mahmud.
  5. Al-Ustadz al-Tughra’i,wazir pada masa Sultan Mas’ud bin Muhammad
    di Irak.
  6. Nizam al-Mulk,wazir pada masa Sultan Malik Syah
Setelah Maliksyah dan juga Nizam al-Mulk wafat,pemerintahan Saljuk mengalami kemunduran.Dinasti Saljuk dilanda konflik internal,perebutan kekuasaan di antara anggota keluarga timbul.Dan akhirnya wilayah kekuasaan dibagi-bagi menjadi kesultanan-kesultanan. Setiap propinsi berusaha melepaskan diri dari pusat.Konflik-konflik dan peperangan antar anggota keluarga melemahkan pemerintahan Saljuk.Kelemahan Saljuk diperparah dengan adanya gerakan Dinasti Khawarizm yang berusaha merebut Daulat Abasiah dari tangan Saljuk.

Perkembangan Pengetahuan Pada Masa Dinasti Saljuk

Ilmu pengetahuan mulai berkembang dan mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Maliksyah bersama perdana menterinya Nizam al-Mulk.Nizam al-Mulk inilah yang memprakarsai berdirinya Madrasah (Universitas) Nizamiyah (1065 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad.Nizam al-Mulk ini adalah seorang yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu,seperti ilmu agama,pemerintahan dan ilmu pasti. 
Pada masa Maliksyah inilah lahir ilmuan-ilmuan muslim seperti Abu Hamid al-Ghazali dalam bidang theology, Farid al-Din al-Aththar dan Umar Kayam dalam bidang sastra dan matematika.
1.Pendirian Madrasah Nizamiyah
Madrasah Nizamiyah adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan tahun 457-459 H/1065-1067 M (abad VI) oleh  Nizam al-Mulk dari dinasti Saljuk.Nizam al-Mulk adalah pelopor berdirinya Madrasah Nizamiyah dan juga madrasah-madrasah yang lain di bawah kekuasaan Dinasti Saljuk.Madrasah Nizamiyah di Baghdad merupakan madrasah yang pertama kali didirikan oleh Nizam al-Mulk pada bulan Dzulhijjah tahun 457 H yang diarsiteki oleh Abu Said al-Shafi.
      Madrasah Nizamiyah di Bagdad adalah madrasah yang paling terpenting dan terkenal di antara madrasah-madrasah lainnya (selain madrasah di Balkh,Naisabur,Jarat,Ashfahan, Basrah,Marw,Mausul,dan lain-lainnya). Madrasah-madrasah itu dapat di samakan dengan fakultas-fakultas atau perguruan tinggi masa sekarang,mengingat gurunya adalah ulama besar yang termashur. Madrasah Nizamiyyah didirikan dengan tujuan :Pertama, menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Syiah. Kedua, menyediakan guru-guru Sunni yang cukup untuk mengajarkan mazhab Sunni dan menyebarkan ke tempat-tempat lain. Ketiga,Membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintah,memimpin kantornya,khususnya di bidang peradilan dan manajemennya. 
Madrasah Nizamiyah merupakan lembaga pendidikan resmi dan pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuannya,menggariskan kurikulum, memilih guru,dan memberikan dana yang teratur kepada madrasah Motif didirikannya madrasah ini karena dua hal,pertama motif politik.Dengan adanya madrasah ini,dinasti Saljuq bisa mengontrol semua daerah dengan mudah,karena sistem yang dipakai Nizhamiyyah adalah sentralistik dari pusat ke daerah atau dari atas ke bawah.Motif kedua adalah agama (ideologi).Bahwa Dinasti Buwaihi yang menganut Syi’ah serta sisa-sisa aliran Mu’tazilah telah ada sebelum Bani saljuq berdiri,pendirian madrasah Nizhamiyyah juga karena motif untuk menyebarkan aliran Sunni dan juga untuk melawan Syi’ah. 
Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk di Bagdad dan madrasah-madrasah lainnya  dibawah kekuasaan bani Saljuk sudah mempunyai sistem manajemen yang  cukup baik.Dengan sistem sentralistik,semua kurikulum,metode pembelajaran,sistem belajar,pengangkatan guru dan semua keperluan madrasah diatur oleh Pusat.Para pelajar Madrasah Nizhamiyyah diberikan berbagai fasilitas dan kemudahan,terlebih bagi mereka yang berprestasi.Aliran beasiswa sangat besar dari pemerintah siap menjamin kesejahteraannya.Diantara fasilitas yang disediakan di Nizhamiyyah adalah perpustakaan yang menyediakan buku sebanyak 6000 judul Para guru (Syekh)pun mendapat perhatian khusus.Di Madrasah Nizamiyah ini muncul sejumlah ulama besar,di antaranya : Imam al-Haramain al-Juwaini,Imam al-Ghazali,Imam Fakhr al-razi (ahli tafsir),Zamakhsyari,dan juga Imam al-Qusyairi.Dalam bidang ilmu eksaskta,muncul sejumlah ulama.Di antara mereka adalah Umar ibn Khayam (ahli astronomi dan ilmu pasti),Ali Yahya al-Haslah (ahli ilmu kedokteran),Abu Hasan al-Mukhtar (ahli ilmu kedokteran),Muhammad Ali al-Samarqandi (ahli ilmu kedokteran).
2.Pengaruh Madrasah Nizamiyah       
Madrasah Nizamiyah telah banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat,baik bidang politik,ekonomi maupun bidang sosial keagamaan.Nizam al-Mulk sebagai pejabat pemerintah memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah,kedudukan dan kepentingannya dalam pemerintah merupakan sesuatu yang sangat menentukan.Dalam batas ini madrasah merupakan kebijakan religio-politik penguasa.Dalam bidang ekonomi madrasah Nizhamiyah memang dimaksudkan untuk mempersiapkan pegawai pemerintah,khususnya dilapangan hukum dan adminstrasi di samping lembaga untuk mengajarkan syari’ah dalam rangka mengembangkan ajaran sunni.Madrasah Nizamiyah diterima oleh masyarakat karena sesuai dengan lingkungan dan keyakinannya dilihat dari segi sosial keagamaan,hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
  1. Ajaran yang diberikan di Madrasah Nizamiyah adalah ajaran sunni, sesuai dengan ajaran yang dianut oleh sebagian besar masyarakat pada saat itu.
  2. Madarasah Nizamiyah diajar oleh ulama yang terkemuka.
  3. Madrasah ini memfokuskan pada ajaran fiqh yang dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat umumnya dalam rangka hidup dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran dan kehidupan mereka. 
Jatuhnya Bagdad
Kehancuran Daulah Abbasiyah sudah terlihat pada masa-masa awal.Ada beberapa faktor yang melatar belakangi kehancuran Daulah Abbasiyah yaitu faktor internal seperti perebutan kekuasaan,munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri,kemerosotan dalam bidang ekonomi serta munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme keagamaan.Di samping faktor internal tersebut,faktor eksternal juga tidak kalah penting dalam mewujudkan kehancuran Daulah Abbasiyah seperti perang salib dan serangan dari tentara Mongol yang meluluhlantakkan Baghdad. 
Sebagai awal penghancuran Baghdad dan Khilafah Islam,orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia Tengah Khurasan dan Persia dan juga menguasai Asia kecil.Pada bulan September 1257 M,Hulaku mengirimkan ultimatum kepada khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan.Tetapi khalifah tetap enggan memberikan jawaban.Maka pada Januari 1258 M,pasukan Hulaku bergerak untuk menghancurkan tembok ibukota.Sementara itu Khalifah al-Mu’tashim langsung menyerah dan berangkat ke base camp pasukan mongolia.Setelah itu para pemimpin dan fuqaha juga keluar, sepuluh hari kemudian mereka semua dibunuh.Hulaku mengizinkan pasukannya untuk melakukan apa saja di Bagdad.Mereka menghancurkan kota,dan membakarnya.Pembunuhan berlangsung selama 40 hari dengan jumlah korban sekitar dua juta orang. 
Perlu juga disebutkan disini peran busuk yang dimainkan oleh seorang Syi’i Rafidhahyaitu Ibn al-Qami,menteri al-Mu’tashim,yang bekerjasama dengan orang-orang Mongolia dan membantu pekerjaan-pekerjaan mereka.[20]Dia merupakan orang kepercayaan khalifah,tapi sayang kepercayaan itu disalahgunakan.Dia berniat ingin menggusur Abbasiah dari pentas kekuasaan dan mendirikan negara Syiah.Niat ini timbul karena adanya konflik fanatisme bermazhab antara kaum sunni kota Bashrah dengan penduduk Kurkhi yang menganut Syiah Rofidhah.
 Atas peristiwa ini khalifah dan seluruh umat Islam harus menderita dan tercabik-cabik harga dirinya.Petaka ini adalah awal kemunduran peradaban umat Islam setelah mengalami masa keemasan berabad-abad.Pada hari itu dengan segala keganasan pasukan Tatar yang jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pasukan muslim tak tertahankan lagi menerobos kota Bagdad.Ratusan ribu jiwa,laki-laki,perempuan,anak-anak,orang tua habis dibunuh.Atas perintah Hulaku,ratusan ribu manuskrip buku karya ulama Islam yang tersimpan rapi di rak perpustakaan-perpustakaan dibuang ke sungai Dajlah.Manuskrip-manuskrip yang merupakan akumulasi peradaban Islam-Arab terdahulu hilang tanpa ampun.Kelompok keilmuan,universitas,masjid-masjid tak ada lagi,hilang ditelan bumi.Bagdad pun menjadi kota mati. 
Dengan jatuhnya Baghdad ke tangan tentara Mongol maka kondisi tersebut dianggap sebagai akhir kekuasaan Daulah Abbasiyah.
situs: www.rangkumanmakalah.com

SEJARAH DAULAH BANI SALJUK

Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M),

A.   Awal Terbentuknya Bani Saljuk

Bani Saljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Pada abad kedua, ketiga, dan keempat Hijrah mereka pergi ke arah barat menuju Transoxianadan Khurasan. Ketika itu mereka belum bersatu. Mereka dipersatukan oleh Saljuk ibn Tuqaq. Karena itu, mereka disebut orang-orang Saljuk. Pada mulanya Saljuk ibn Tuqaq Rahimahullahmengabdi kepada Bequ, raja daerah Turkoman yang meliputi wilayah sekitar laut Arab dan laut Kaspia. Saljuk Rahimahullah diangkat sebagai pemimpin tentara. Pengaruh Saljuk Rahimahullahsangat besar sehingga Raja Bequ khawatir kedudukannya terancam. Raja Bequ bermaksud menyingkirkan Saljuk.
Namun sebelum rencana itu terlaksana, Saljuk Rahimahullah mengetahuinya. Ia tidak mengambil sikap melawan atau memberontak, tetapi bersama pengikutnya ia bermigrasi ke daerah LAND, atau disebut juga Wama Wara'a al-Nahar, sebuah daerah muslim di wilayah Transoxiana (antara sungai Ummu Driya dan Syrdarya atau Sihun). Mereka mendiami daerah ini atas izin penguasa daulah Samaniyah yang menguasai daerah tersebut. Mereka masuk Islam dengan manhaj Sunni Salafy. Ketika daulah Samaniyah dikalahkan oleh daulah Ghaznawiyah, Saljuk Rahimahullah menyatakan memerdekakan diri. Ia berhasil menguasai wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh daulah Samaniyah. Setelah Saljuk Rahimahullah meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya, Israil Ibn Saljuk dan kemudian penggantinya Mikail Ibn Israil Ibn Saljuk, namun sayang saudaranya dapat ditangkap oleh penguasa Ghaznawiyah



Kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh Thugril Bek Rahimahullah. Pemimpin Saljuk terakhir ini berhasil mengalahkan Mas'ud al-Ghaznawi, penguasa dinasti Ghaznawiyah, pada tahun 429 H/1036 M, dan memaksanya meninggalkan daerah Khurasan. Setelah keberhasilan tersebut, Thugril memproklamasikan berdirinya daulah Saljuk. Pada tahun 432 H/1040 M daulah ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad. Di saat kepemimpinan Thugril Bek inilah, dinasti Saljuk memasuki Baghdad menggantikan posisi Bani Buwaih. Sebelumnya, Thugril Rahimahullah berhasil merebut daerah-daerah Marwadan Naisabur dari kekuasaan GhaznawiyahBalkhurjanTabaristanKhawarizmRayy, dan Isfahan.
Posisi dan kedudukan khalifah lebih baik setelah dinasti Saljuk berkuasa; paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan setelah beberapa lama "dirampas" orang-orang Syi'ah. Meskipun Baghdad dapat dikuasai, namun ia tidak dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Thugrul Bek Rahimahullah memilih kota Naisabur dan kemudian kota Rayysebagai pusat pemerintahannya. Daulah-daulah kecil yang sebelumnya memisahkan diri, setelah ditaklukkan daulah Saljuk ini, kembali mengakui kedudukan Baghdad, bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan Abbasiyah untuk membendung faham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni Salafy yang dianut mereka.
Adapun kaum saljuk adalah satu persukuan bangsa Turki yang di zaman Sultan Mahmud Sabaktakin, setelah mereka memeluk Agama Islam, mereka diberi tanah tempat mereka tinggal yang baru, setelah mereka meninggalkan tanah tumpah darah mereka yang lama. Kabilah ini berasal dari suatu jurnai bangsa Turki yang bernama Gez, keturunan dari Saljuk ibn Taklak, asal turunnya dari Turkistan di bawah perintah Raja Turki yang bernama Bigu. Taklak adalah kepala suku, tempat anak cucunya meminta keputusan di dalam perkara – perkara yang sulit. Puteranya bernama Saljuk. Saljuk ini sangat dipercayai, oleh raja Turki itu sehingga dianggkat menjadi kepala perang. Tetapi permaisuri Raja Turki Bigu memberi nasehat kepada suaminya agar Saljuk lekas dibunuh, karena pengaruhnya nampak kian lama kian besar, takut kelak akan menyaingi baginda.
Munculnya Saljuk ke dalam panggung peristiwa di negeri – negeri wilayah Timur Arabia, memiliki dampak besar dalam perubahan konstalasi politik di wilayah itu, dimana telah terjadi peperangan yang hebat antara khilafah Abbasiyah yang Sunni di satu sisi dan khilafah Fatimiyah yang Syiah di sisi lain.
Pengaruh Syiah Buwaihi demikian kuat di Baghdad dan di kalangan istana khilafah Abbasiyah. Maka tatkala orang – orang saljuk mampu menghancurkan pemerintahan Buwaihi dari Baghdad dan Sultan Thugril Bek (pemimpin Saljuk) memasuki ibu kota khilafah dan diterima dengan hangat oleh khilafah Abbasiyah, al-Qaim Biamrillah. Khalifah mengalungkan tanda kehoramatan dan didudukkan di sampingnya. Di samping itu dia juga diberi gelar kehormatan. Di antaranya gelarnya ialah Sultan Rukn Al-Din Thugril Bek.
Thugril Bek dikenal sebagai sosok yang memiliki kepribadian yang kokoh dan kecerdasan yang tinggi serta sosok pemberani. Disamping itu dia juga dikenal sebagai sosok yang religious, wara’, dan adil. Oleh sebab itu dia mendapat dukungan yang kuat dari rakyatnya. Dia telah mempersiapkan tentara yang kuat dan berusaha untuk menyatukan orang – orang Saljuk-Turki dalam sebuah pemerintahan yang kuat.

B.   Kesultanan Bani Saljuk

Sepeninggal Thugril Bek Rahimahullah (455 H/1063 M), daulah Saljuk  berturut-turut diperintah oleh :
1.      Alib Arselan Rahimahullah (455-465 H/1063-1072),
2.      Maliksyah (465-485 H/1072-1092),
3.      Mahmud al- Ghozi (485-487 H/1092-1094 M),
4.      Barkiyaruq (487 -498 H/1 094-1103),
5.      MalikSyah II (498 H/ 1103 M),
6.      Abu Syuja’ Muhammad (498-511 H/11 03-1117 M),dan
7.      Abu Haris Sanjar (511-522H/1117-1128 M).

Pada masa Alib Arselan  Rahimahullah perluasan daerah yang sudah dimulai oleh Thugril Bek Rahimahullah dilanjutkan ke arah barat sampai pusat kebudayaan Romawi di Asia Kecil, yaitu Bizantium. Peristiwa penting dalam gerakan ekspansi ini adalah  yang dikenal dengan Peristiwa Manzikert.
Dengan dikuasainya Manzikert tahun 1071 M itu, terbukalah peluang baginya untuk melakukan gerakan Penturkian (Turkification) di Asia Kecil. Gerakan ini dimulai dengan mengangkat Sulaiman Ibn Qutlumish, keponakan Alib Arselan sebagai gubernur di daerah ini. Pada tahun 1077 M (470 H), didirikanlah kesultanan Saljuk Rumm dengan ibu kotanya Iconim. Sementara itu putera Arselan, Tutush Rahimahullah, berhasil mendirikan dinasti Saljuk di Syria pada tahun 1094 M/487 H. 
Pada masa Sulthan Maliksyah wilayah kekuasaan Daulah Saljuk ini sangat luas, membentang dari Kashgor, sebuah daerah di ujung daerah Turki, sampai ke Yerussalem. Wilayah yang luas itu dibagi menjadi lima bagian:
1.                       Saljuk Besar yang menguasai Khurasan, Rayy, Jabal,Irak, Persia, dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang.
2.                       Saljuk Kirman berada di bawah kekuasaan keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Saljuk. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang.
3.                       Saljuk Irak dan Kurdistan, pemimpin pertamanya adalah Mughris al-Din mahmud. Saljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh sembilan syekh.

4.                        Saljuk syiri’a diperintahkan oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan ibn Daud ibn Mikail ibn saljuk, jumlah syekh yang memerintah lima orang.
5.                       Saljuk Rumm diperintahkan  oleh keluarga Qutlumish ibn Israil ibn Saljuk dengan jumlah syeikh yang memerintah seluruhnya 17 orang.

Disamping membagi wilayah menjadi lima, dipimpin oleh gubernur yang bergelar Syeikh atau Malik itu, penguasa Bani Saljuk juga mengembalikan jabatan perdana menteri yang sebelumnya dihapus oleh penguasa Bani Buwaih. Jabatan ini membawahi beberapa departemen.Pada masa Alib Arselan Rahimahullah, ilmu pengetahuan dan agama mulai berkembang dan mengalami kemajuan pada zaman Sultan Maliksyah yang dibantu oleh perdana menterinya Nizham al-Mulk. Perdana menteri ini memprakarsai berdirinya Universitas Nizhamiyah (1065 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang Nizhamiyah. Menurut Philip K. Hitti, Universitas Nizhamiyah inilah yang menjadi model bagi segala perguruan tinggi di kemudian hari.

Perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak ilmuwan muslim pada masanya. Diantara mereka adalah az-Zamakhsyari dalam bidang tafsir, bahasa, dan teologi; al-Qusyairy dalam bidang tafsir; Abu Hamid al-Ghazali Rahimahullah dalam bidang teologi; dan Farid al-Din al-'Aththar dan Umar Khayam dalam bidang sastra.Bukan hanya pembangunan mental spiritual, dalam pembangunan fisik pun dinasti Saljuk banyak meninggalkan jasa. Maliksyah terkenal dengan usaha pembangunan di bidang yang terakhir ini. Banyak masjid, jembatan, irigasi dan jalan raya dibangunnya.

Setelah Sultan Maliksyah dan perdana menteri Nizham al-Mulk wafat Saljuk Besar mulai mengalami masa kemunduran di bidang politik. Perebutan kekuasaan diantara anggota keluarga timbul. Setiap propinsi berusaha melepaskan diri dari pusat. Konflik-konflik dan peperangan antar anggota keluarga melemahkan mereka sendiri. Sementara itu, beberapa dinasti kecil memerdekakan diri, seperti Syahat Khawarizm, Ghuz, dan al-Ghuriyah. Pada sisi yang lain, sedikit demi sedikit kekuasaan politik khalifah juga kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan dinasti Saljuk di Irak berakhir di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/l199 M. ( Wallahul Musta’an ).

C.   Masa Kejayaan Bani Saljuk

Dinasti Saljuk mencapai puncak kejayaannya ketika menguasai negeri-negeri di kawasan Timur Tengah seperti Irak, Persia, Suriah serta Kirman. Sebagai negara yang sangat kuat, Dinasti, Pada tahun 1055 M, Kerajaan Saljuk sudah mampu menembus kekuasaan Dinasti Abbasiyah, dan Dinasti Fathimiyya .
Kehadirannya seakan menjadi penerang bagi rakyatnya. Meski berasal dari salah satu suku di Turki, para penguasa Saljuk sangat menghargai perbedaan ras, agama, dan jender.
Di bawah bendera Saljuk, umat Islam dapat hidup dalam kedamaian, keadilan serta kemakmuran. Pada era dinasti ini aktivitas keagamaan berkembang dengan pesat.
Kesultanan Saljuk telah ikut membangkitkan semangat ilmiyah di wilayah yang menjadi kekuasaannya. Mereka juga telah mampu menyebarkan rasa aman diwilayah itu.



Mereka mampu menghadang gerakan salibisme yang di pimpin Imperium Byzantium,sebagaimana mereka juga telah berusaha untuk menghadang gelombang sebuah Mongolia. Mereka mampu mengangkat tinggi-tinggi panji-panji Madzhab Sunni di wilayah wilayah kekuasaanya. 
Dinasti Saljuk juga memiliki kemajuan yang sangat pesat dalam Bidang Arsitektur. Diantaranya:
1.                        Caravanserai Saljuk
Penguasa Dinasti Saljuk begitu banyak membangun caravanserai atau tempat singgah bagi para pendatang atau pelancong. Caravanserai dibangun untuk menopang aktivitas perdagangan dan bisnis. Para pelancong dan pedagang dari berbagai negeri akan dijamu di caravanserai selama tiga hari secara cuma-cuma (gratis).
2.                        Masjid Saljuk
Inovasi para Arsitektur Dinasti Saljuk yang lainnya tampak pada bangunan masjidnya. Masjid Saljuk sering disebut Masjid Kiosque. Bangunan masjid ini biasanya lebih kecil yang terdiri dari sebuah kubah, berdiri melengkung dengan tiga sisi yang terbuka. Itulah ciri khas masjid Kiosque. Model masjid khas Saljuk ini seringkali dihubungkan dengan kompleks bangunan yang luas seperti caravanserai dan madrasah.
3.                        Menara Saljuk
Bentuk menara masjid-masjid di Iran yang dibanguan Dinasti Saljuk secara subtansial berbeda dengan menara di Afrika Utara. Bentuk menara masjid Saljuk mengadopsi menara silinder sebagai ganti menara berbentuk segi empat.

4.                        Madrasah Saljuk
Menurut Van Berchem, para arsitektur di era Dinasti Saljuk mulai mengembangkan bentuk, fungsi dan karakter masjid. Bangunan masjid diperluas menjadi madrasah. Bangunan madrasah pertama muncul di Khurasan pada awal abad ke-10 M sebagai sebuah adaptasi dari rumah para guru untuk menerima murid.Pada pertengahan abad ke-11 M, bangunan madrasah diadopsi oleh penguasa Saljuk Emir Nizham Al-Mulk menjadi bangunan publik. Sang emir terinspirasi oleh penguasa Ghaznawiyyah dari Persia. Di Persia, madrasah dijadikan tempat pembelajaran teknologi. Madrasah tertua yang dibangun Nizham Al-Mulk terdapat di Baghdad pada tahun 1067 M.
5.                        Makam Saljuk
Pada era kejayaan Dinasti Saljuk pembangunan makam mulai dikembangkan. Model bangunan makam Saljuk merupakan pengembangan dari tugu yang dibangun untuk menghormati penguasa Umayyah pada abad ke-8 M. Namun, bangunan makam yang dikembangkan para arsitek Saljuk mengambil dimensi baru. Bangunan makam yang megah dibangun pada era Saljuk tak hanya ditujukan untuk menghormati para penguasa yang sudah meninggal. Namun, para ulama dan sarjana atau ilmuwan terkemuka pun mendapatkan tempat yang sama. Tak heran, bila makam penguasa dan ilmuwan terkemuka di era Saljuk hingga kini masih berdiri kokoh. Bangunan makam Saljuk menampilkan beragam bentuk termasuk oktagonal (persegi delapan), berbentuk silinder dan bentuk-bentuk segi empat ditutupi dengan kubah (terutama di Iran). Selain itu ada pula yang atapnya berbentuk kerucut (terutama di Anatolia). Bangunan makam biasanya dibangun di sekitar tempat tinggal tokoh atau bisa pula letaknya dekat masjid atau madrasah. 

D.  Penyebab Kemunduran Bani Saljuk

Faktor – fator itu antara lain:
1.                      Perselisihan yang terjadi di dalam keluarga Saljuk antara saudara mereka, paman, keponakan dan cucu.
2.                       Masuknya pengaruh kaum wanita dalam pemerintahan.
3.                      Dimunculkan api fitnah oleh para pejabat dan menteri.
4.                      Ketidak mampuan pemerintahan Saljuk dalam menyatukan wilayah Syam, Mesir,dan Irak.
5.                      Terjadinya friksi di dalam kekuasaan Saljuk sehingga menimbulkan bentrokan militer yang terus menerus. Inilah yang menghancurkan kekuatan Saljuk hingga dia harus kehilangan kesultanannya di Irak.
6.                      Konspirasi orang – orang aliran Bathiniyah terhadap kesultanan Saljuk yang mereka lakukan dengan cara membunuh dan menghabisi para sultan dan pemimpin – pemimpin mereka.
7.                      Perang Salib yang datang dari belakang samudera serta pertempuran kesultanan Saljuk dengan pasukan Barbarik yang berasal dari Eropa. 



  1. Dinasti Saljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku ghuz di wilayah Turkistan.
  2. Dinasti Saljuk menguasai Bagdad setelah memenangkan pertempuran antara Tugril Beck dengan pasukan Arselan al-Basasiri.
  3. Dinasti Saljuk tercatat sebagai Dinasti yang sukses dalam membangun masyarakat al: memperluas Masjidil Haram dan Masjid al-Nabawi.
  4. Kemunduran Dinasti Saljuk dilanda konflik internal.
  5. Faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran atau kemunduran Bagdad:
a.       Faktor Internal
1.      Perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan.
2.      Munculnya Dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
3.      Kemerosotan perekonomian
4.      Munculnya Aliran-aliran sesat dan fanatisme keagamaan
b.      Faktor Eksternal
1.      Perang Salib
2.      Serangan Mongolia Ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah.

http://www.ansarbinbarani.com/2012/12/sejarah-peradaban-islam-daulah-bani.html
Wilayah terluas Kesultanan Seljuk Raya
Wilayah Kesultanan Rum pada tahun 1190 M. Kesultaan Rum adalah salah satu kesultanan pecahan dari Kesultanan Seljuk Raya
Transoxania
Kashgar, Uighur
 File:Samanid dynasty (819–999).GIF












Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer