DINASTI SAMANIYAH Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

Dinasti Samaniyah

Dinasti Samaniyah (bahasa Persiaسلسلهٔ سامانیان), juga dikenal sebagai Kekaisaran Samaniyah atau hanya Samaniyah (819–999) (bahasa PersiaسامانیانSāmāniyān) adalah negara dan kekaisaran Tajik yang penting di Asia Tengah dan Khorasan Raya, dinamai dari pendirinya Saman Khuda yang berubah agama menjadi Islam Sunni meskipun memiliki kebangsawanan teokratik Zoroastrian. Dinasti ini adalah dinasti Persia pertama di Iran Raya dan Asia Tengah setelah penaklukan oleh Arab dan runtuhnya Kekaisaran Sassania.
Samaniyah pada puncak kejayaannya
Ibu kotaBukhara
BahasaPersia
AgamaIslam Sunni
Bentuk PemerintahanEmirat
Emir
 - 819-855Yahya ibn Asad
 - 999'Abd al-Malik II
Era sejarahAbad pertengahan
 - Didirikan819
 - Dibubarkan999
Luas
 - 928 est.2.850.000 km²(1.100.391 mil²)
DINASTI SAMANIYAH (261 – 389 H / 874 – 999 M)
1. Sejarah Pendirian.



Pendiri dinasti ini adalah Ahmad bin Asad bin Samankhudat. Nama Samaniyah dinisbahkan kepada leluhur pendirinya yaitu Samankhudat, seorang pemimpin suku dan tuan tanah keturunan bangsawan terkenal di Balkh, sebuah daerah di sebelah utara Afghanistan. Dalam sejarah Samaniyah terdapat dua belas khalifah yang memerintah secara berurutan, yaitu;

a. Ahmad I ibn Asad ibn Saman (Gubernur Farghana) 204 H/819 M

b. Nash I ibn Ahmad, (semula Gubernur Samarkand) 250 H/864 M

c. Ismail I ibn Ahmad 279 H/892 M

d. Ahmad II ibn Ismail 295 H/907 M

e. Al-Amir as-Sa’id Nashr II 301 H/914 M

f. Al-Amir al-Hamid Nuh I 331 H/943 M

g. Al-Amir al-Mu’ayyad Abdul Malik I 343 H/954 M

h. Al-amir as-Sadid Manshur I 350 H/961 M

i. Al-Amir ar-Ridha Nuh II 365 H/976 M

j. Mansur II 387 H/997 M

k. Abdul Malik II 389 H/999 M

l. Ismail II Al-Muntashir 390-395H/1000-1005 M

Dinasti ini berbeda dengan dinasti kecil lain yang berada di sebelah barat Baghdad, dinasti ini tetap tunduk kepada kepemimpinan Khalifah Abbasiyyah.

Dalam sejarah Islam tercatat bahwa dinasti ini bermula dari masuknya Samankhudat menjadi penganut Islam pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik (khalifah Bani Umayyah), sejak itu Samankhudat dan keturunannya mengabdikan diri kepada penguasa Islam. Pada masa kekuasaan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M) dari Dinasti Bani Abbasiyyah, empat cucu Samankhudat memegang jabatan penting sebagai gubernur dalam wilayah kekuasaan Abbasiyah yaitu Nuh di Samarkand, Ahmad bin Asad di Farghana (Turkistan) dan Transoksania, Yahyabin Asad di Shash serta Asyrusanah (daerah di utara Samarkand), dan Ilyas di Heart, Afghanistan.

Seorang cucu Samankhudat yang bernama Ahmad bin Asad, dalam perkembangannya mulai merintis berdirinya Dinasti Samaniyah didaerah kekuasaannya, Farghana. Ahmad mempunyai dua putra, Nasr dan Isma’il, yang juga menjadi orang kepercayaan Abbasiyah. Nasr I bin Ahmad dipercaya menjadi gubernur di Transoksania dan Isma’il I bin Ahmad di Bukhara. Selanjutnya Nasr I bin Ahmad mendapat kepercayaan dari khalifah al-Mu’tamid untuk memerintah seluruh wilayah Khurasan dan Transoksania, dan daerah ini menjadi basis perkembangan Dinasti Samaniyyah. Oleh sebab itu Nasr I bin Ahmad dianggap sebagai pendiri hakiki dinasti ini. 

Antara Nasr dan Saudaranya, Isma’il selalu terlibat konflik yang mengakibatkan terjadinya peperangan, dalam peperangan yang terjadi Nasr mengalami kekalahan yang kemudian ia ditawan, sehingga kepemimpinan Dinasti Samaniyyah beralih ke tangan Isma’il I bin Ahmad. Adanya peralihan kepemimpinan ini menyebabkan berpindahnya pusat pemerintahan yang semula di Khurasan di pindahkan ke Bukhara.

Pada sa’at pemerintahan dipimpin Isma’il I bin Ahmad, ia selalu berusaha untuk:
  1. Memperkukuh kekuatan dan mengamankan batas wilayahnya dari ancaman suku liar Turki.
  2. Membenahi administrasi pemerintahan.
  3. Memperluas wilayah kekuasaan ke Tabaristan (Irak utara) dan Rayy (Iran).
Isma’il I bin Ahmad adalah orang yang sangat mencintai dan memuliakan para ilmuwan serta bertindak adil terhadap rakyatnya, setelah ia wafat pemerintahan diteruskan putranya Ahmad bin Isma’il. Setelah Ahmad bin Isma’il, pemerintahan diteruskan putranya Nasr II bin Ahmad yang berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga Sijistan, Karman, Jurjan di samping Rayy, Tabaristan, Khurasan, dan Transoksania. Setelah Nasr II bin Ahmad, para khalifah berikutnya tidak mampu lagi melakukan perluasan wilayah, bahkan pada khalifah terakhir Isma’il II al-Muntasir, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara Dinasti Qarakhan dan dinasti Ghaznawiyah dari Turki. Akhirnya wilayah Samaniyah dipecah menjadi dua, daerah Transoksania direbut oleh Qarakhan dan wilayah Khurasan menjadi pemilik penguasa Ghaznawiyah.

2. Kemajuan-Kemajuan yang di Capai

Dinasti Samaniyah telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kemajuan Islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, filasafat, budaya, politik, dan lain-lain. Tokoh atau pelopor yang sangat berpengaruh dibidang filsafat dan ilmu pengetahuan pada dinasti ini adalah Ibn Sina, selain Ibn Sina juga muncul para pujangga dan ilmuwan dibidang kedokteran, astronomi dan filsafat yang sangat terkenal, seperti Al-Firdausi, Ummar Kayam, Al-Bairuni dan Zakariya Al- Razi.

Dinasti ini telah berhasil menciptakan kota Bukhara dan Samarkan sebagai kota budaya dan kota ilmu pengetahuan yang sangat terkenal di seluruh dunia, sehingga kota ini dapat menyaingi kota-kota lain, seperti Baghdad dan Cordova. Dinasti ini juga telah berhasil mengembangkan perekonomian dengan baik, sehingga kehidupan masyarakatnya sangat tentram, hal terjadi karena dinasti ini tidak pernah lepas hubungan dengan pemerintah pusat di Baghdad.

Berakhirnya Dinasti Samaniayah di Transoxiana dan kota Bukhara serta Samarkand sebagai kota utama sangat berpengaruh pada penerapan ajaran-ajaran Islam. Kedua kota ini sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, hampir-hampir menyamai kebesaran kota Baghdad. Tidak hanya para ilmuwan Arab, ilmuwan Persia pun mendapat perlindunagn dan dukungan dari pemerintah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, ilmu kedokteran, ilmu falak serta filsafat juga mengalami kemajuan dengan disusun dan direkonstruksi serta diterjemahkan bahasa Persia ke bahasa Asab. Diantara beberapa literatur di bidang kedokteran yang terkenal masa itu adalah buku al-Manshury yang dikarang oleh Abu Bakr al-Razzi. Pada masa ini muncul pula filosof muda belia yakni Ibnu Shina yang berhasil mengobati Amir Nuh bin Mansur pada saat Ibnu Sina berusia delapan belas tahun. Di bidang kesusasteraan muncul al-Firdawsi (934-1020) yang menulis sajak-sajaknya. Tercatat juga dalam sejarah seorang wazir pada pemerintahan al-Manshur I bin Nuh (961-976) yang bernama Bal’ami. Ia menerjemahkan Mukhtasar al-Thabari. Bahkan perpustakaan milik dinasti Samaniyah yang berada di Bukhara memiliki berbagai koleksi buku yang tidak dijumpai di tempat lain. Begitu tingginya peradaban umat manusia di masa Dinasti Samaniyah ini terlebih lagi bila dibandingkan dengan keadaan peradaban yang terjadi pada kedua dinasti sebelumnya. Tidak hanya dalam bidang sains dan filsafat yang berkembang dimasa ini tetapi juga dalam bidang ilmu-ilmu keislaman.

3. Masa-Masa Kemunduran

Pada sa’at dinasti mencapai kejayaannya, banyak imigran Turki yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan, namun bersebab dari tingginya fanatik kesukuan pada dinasti ini, akhirnya mereka para imigran Turki yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan tersebut banyak yang dicopot, langkah-langkah inilah yang menyebabkan kehancuran dinasti ini, karena mereka tidak terima dengan perlakuan tersebut, sehingga mereka mengadakan penyerangan sampai mereka berhasil melumpuhkan dinasti ini.

Sebagai bahan perbandingan penulis menambahkan, jika pada masa Dinasti Umawiyah, wilayah kekuasaannya masih merupakan kesatuan yang utuh, yaitu suatu wilayah yang luas membentang dari Spanyol di Eropa, Afrika Utara, hingga ke Timur India, pada masa Dinasti Abbasiyah mulai tumbuh dinasti saingan yang melepaskan diri dari kekuasaan Khalifah di Baghdad, yang di mulai dengan terbentuknya Dinasti Umawiyah II di Spanyol, sehinnga kekuasaan kekhalifahan terpecah menjdi dua bagian, yaitu Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad dan Dinasti Umawiyah II yang berpusat di Andalusia, Spanyol.

Kesimpulan

a) 1. Sebelum meninggal, Harun al-Rasyid telah menyiapkan dua anaknya yang diangkat 

menjadi putra mahkota untuk menjadi khalifah yakni al-Amin dan al-Ma'mun. Al-Amin dihadiahi wilayah bagian barat, sedangkan al-Ma'mun dihadiahi wilayah bagian Timur. Setelah Harun al-Rasyid wafat (809 M.) al-Amin putra mahkota tertua tidak bersedia membagi wilayahnya dengan al-Ma'mun. Oleh karena itu, pertempuran dua bersaudara terjadi yang akhirnya dimenangkan oleh al-Ma'mun. Setelah perang usai, al-Ma'mun menyatukan kembali wilayah Dinasti Bani Abbas. Untuk keperluan itu, ia didukung oleh Tahir seorang panglima militer, dan saudaranya sendiri yaitu al-Mu'tasim. Sebagai imbalan jasa, Tahir diangkat menjadi panglima tertinggi tentara Bani Abbas dan gubernur Mesir (205 H). Wilayah kekuasaannya diperluas sampai ke Khurasan (820-822 M) dengan janji bahwa jabatan itu dapat diwariskan kepada anak-anaknya.

2. Ya’qub bin al-Layth as-Saffar adalah orang yang mendirikan dinasti ini. Mulanya berada di Sijistan, yang pada awalnya ketertarikan gubernur Sijistan atas Ya‟qub yang dijuluki Al-Shaffar (tukang pandai besi) mempunyai perilaku buruk, yaitu merampok. Oleh sebab itu, gubernur Sijistan mempercayakan wilayah itu untuk dipimpin oleh Ya’qub.

3. Dinasti ini didirikan oleh Bani Saman yang telah berhasil menggeser dan menggantikan Dinasti Shaffariyah. Pendirinya adalah keturunan dari seorang tuan tanah bernama Saman Khuda di daerah Balkh (Bactra) yang mulanya menganut Zoroaster lalu memeluk Islam di masa Hisyam bin Abdul Malik menjadi penguasa Dinasti Umayyah (105-124 H). Berdirinya dinasti ini bermula dari pengangkatan empat orang cucu Saman oleh Khalifah Al-Ma’mun menjadi gubernur di daerah Samarkand, Pirghana, Shash, dan Harat. Adapun ke empat orang cucunya tersebut adalah Nuh bin Asad diangkat menjadi gubernur di Samarkand. Lalu Ahmad bin Asad ditunjuk menjadi gubernur di Farghanah, sedangkan Yahya bin Asad dipercaya menjadi gubernur untuk wilayah Syas dan Asyrusnah dan Ilyas bin Asad memangku jabatan gubernur wilayah Heart. Ke empat gubernur bani Saman ini menduduki wilayah bagian Transoxiana di bawah kekuasaan Tahir bin Husein (Dinasti Thahiriyah).

b). Dinasti-dinasti kecil di Timur Baghdad berdiri untuk memisahkan diri dari Baghdad. Dihadapan para khalifah seakan-akan mereka memiliki loyalitas kepada Baghdad, namun sesungguhnya secara teritorial, militer, ekonomi, dan politik mereka memiliki kekuasaan independent. Dinasti-dinasti ini menandai kelemahan kekuasaan yang terjadi di pusat, karena seabad setelah didirikannya dinasti Abbasiyah (750-1258 M / 132-656 H) terlihat nasib khalifah banyak ditentukan oleh panglima-panglima tentara. Erosi kekuasaan riil Abbasiyah semakin meningkat dengan kemunculan penguasa-penguasa politik otonom (para sultan) di hampir seluruh kawasan kekuasaan khalifah.

Dinasti-dinasti kecil seperti Thahiriyah (sekitar 54 tahun), Shaffariyah (kurang lebih 36 tahun) serta Samaniyah (selama 128 tahun) sedikit banyaknya jelas berpengaruh pada Baghdad. Mereka secara sunnatullah silih berganti dalam memperebutkan supremasi kekuatan politik yang kemudian diantara sisi positif dari peran yang dimainkannya ialah mampu melahirkan peradaban yang tidak kalah dari Baghdad. Akan tetapi untuk masa depan Dinasti Abbasiyah sendiri keadaan demikian sangat membahayakan dan merugikan.

https://youchenkymayeli.blogspot.co.id/2014/12/dinasti-samaniyah-261-389-h-874-999-m.html

Berdirinya Dinasti Samaniyah dan kehancurannya

Berdirinya Dinasti Samaniyah dan kehancurannya – Dinasti Samaniyah timbul sebagai salah satu pendukung sejarah Islam dari tahun 875-1004 Masehi. Berdirinya Dinasti Samaniyah bermula dari pengangkatan empat orang cucu Samanoleh Khalifah AlMa;mun menjadi gubernur di daerah Samarkand, Pirghana, Shash, dan Harat yang ada dibawah pemerintahan Dinasti Thahiri pada waktu itu.
Akan tetapi, ternyata selain mempunyai hasrat untuk menguasai wilayah yang diberikan khalifah kepada mereka, keempat cucu tersebut mendapat simpati warga Persia, Iran. Awalnya simpati mereka itu hanya di kota-kota kekuasaannya, kemudian menyebar ke seluruh negeri Iran, termasuk Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Ray, dan Tabanistan, ditambah lagi daerah Transoxiana di Khurasan.
Philip K. Hitti menjelaskan tentang pendirian Dinasti Samaniyah sebagai berikut :
“The Samanids of Transoxiana and Persia (874-999) were descended from Saman, a Zoroastrian noble of Balkh. The founder of the dynasty was Nasr Ibn Ahmad (874-92), a great grandson of Saman, but the one who established its power was Nasr’s brother Ismail (892-907),  who in 900 wrested Khurasan from Tahirids, the Samanids under Nasr II Ibn Ahmad (913-43), fouth in the line, extended their kingdom to its greatest limits, including under their sceptre Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Rayy and Tabaristan”.
Berdirinya Dinasti Samaniyah ini didorong pula oleh kecenderungan masyarakat Iran pada waktu itu yang ingin memerdekakan diri terlepas dari Baghdad. Oleh karena itu, tegaknya Dinasti Samaniyah ini bisa jadi merupakan manifestasi dari hasrat masyarakat Iran pada waktu itu.
Adapun pelopor yang pertama kali memproklamasikan Dinasti Samaniyah ini sebagaimana penjelasan Philip K. Hitti adalah Nasr Ibn Ahmad tahun 874 Masehi, cucu tertua dari keturunan Samaniyah, bangsawan Balk Zoroasterian dan dicetuskan di Transoxiana.
Dinasti Samaniyah berhasil menjalin hubungan yang baik, sehingga berbagai kemajuan pada dinasti ini cukup membanggakan, baik dibidang ilmu pengetahuan, filsafat, dan politik. Pelopor yang sangat berpengaruh dalam filsafat dan ilmu pengetahuan pada zaman Dinasti Samaniyah adalah Ibn Sina, yang pada waktu itu pernah menjadi menteri.
Dinasti ini juga mampu meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat. Hal ini diakibatkan adanya hubungan yang baik antara kepala-kepala daerah dan pemerintah pusat, yaitu Bani Abbas.
Kehancuran Dinasti Samaniyah
Setelah mencapai puncak kegemilangannya bagi bangsa Parsi (Iran), semangat fanatik kesukuan pun cukup tinggi pada dinasti ini. Oleh karenanya ketika banyak imigran Turki yang menduduki posisi di pemerintahan, dengan serta merta para imigran Turki tersebut dicopot karena faktor kesukuan.
Akibat ulahnya ini, Dinasti Samaniyah mengalami kehancuran, karena mendapat penyerangan dari bangsa Turki. Dengan keruntuhannya, tumbuh dinasti kecil baru yaitu Dinasti Al-Ghaznawi yang terletak di India dan di Turki.
Dinasti Samaniyah juga telah berhasil menciptakan kota Bukhara sebagai kota budaya dan kota ilmu pengetahuan yang terkenal di seluruh dunia. Selain Ibn Sina muncul juga para pujangga dan ilmuwan yang terkenal, antara lain : Al-Firdausi, Ummar Kayam, Al-Biruni, dan Zakariya Ar-Razi.
Selain kota Bukhara, Dinasti Samaniyah juga berhasil membangun Samarkand, hingga mampu menandingi kota-kota lainnya di dunia Islam pada zaman itu. Kota, selain berfungsi sebagai kota ilmu pengetahuan dan budaya, juga telah menjadi kota perdagangan. Samaniyah telah lenyap, namun perjuangan dan pengorbanannya dalam mengembangkan Islam senantiasa diingat oleh umat Islam di seluruh dunia.
http://www.sejarah-negara.com/berdirinya-dinasti-samaniyah-dan-kehancurannya/

dinasti samaniyah

2.1              Sejarah Dinasti Samaniyah
Dinasti Samaniyah merupakan Dinasti yang pemimpinya dari seorang tuan tanah Balk yang bernama Saman-Khuda yang telah masuk Islam. Saman merupakan keturunan dari kerajaan Sasan Persia yang terakhir. Dia mempunyai empat anak yang mengabdi kepada kholifah Al-Makmun dan menjadi gubernur empat bagian di daerah Khurasan.
Berdirinya dinasti ini bermula dari pengangkatan empat orang cucu Saman oleh Khaifah Al-Ma’mun menjadi gubenur di daerah Samarkand, Pirghana, Shash, dan Harat yang ada di bawah pemerintahan Thahiriyah pada waktu itu. Akan tetepi, ternyata, selain mempunyai hasrat untuk menguasai wilayah yang diberikan khalifah kepada mereka, keempat cucu tersebut juga mendapat simpati warga Persia, Iran. Awalnya simpati mereka itu hanya di kota-kota kekuasaannya, kemudian menyebar ke seluruh negeri Iran, termasuk Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Ray, dan Tabanistan, ditambah lagi daerah Transoxiana di Khurasan. Philip K.Hitti menjelaskan tentang pendirian dinasti berikut ini.
The Samanids of Transoxiana and Persia (874-999) were descendend from Saman, a Zoroastrian noble of Balkh. The fouder of the dynasty was Nasr Ibn Ahmad. (874-92), a great grandson of Saman, but the one who established its power was Nasr’s brother Ismail (892-907), who in 900 wrested Khurasan from Tahirids, the Samanids uder Nasr II Ibn Ahmad (913-43), fouth in the line, extended their kingdom to its greatest limits, including under their sceptre Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Rayy and Tabaristan.
Berdirinya dinasti Samaniyah ini didorong pula oleh kecenderungan masyarakat Iran pada waktu itu yang ingin memerdekakan diri terlepas dari Baghdad. Oleh karena itu, tegaknya Dinasti Samaniyah ini bisa jadi merupakan manifestasi dari hasrat masyarakat Iran pada waktu itu. Adapun pelopor yang pertama kali memproklamasikan Dinasti Samaniyah ini, sebagaimaa penjelasan Philip K. Hitti adalah Nasr Ibn Ahmad (874 M.), cucu tertua dari keturunan Samaniyah, bangsawan Balk Zoroasterian, dan dicetuskan di Transoxiana.
Karena mereka bekerja dengan baik dan setia, maka Nuh diangkat menjadi gubernur Samarqand, Ahmad menjadi gubernur di Farghana, Yahya mejadi gubernur Syasy, dan Ilyas menjadi gubernur di Herat. Pada tahun 875 cicit Saman yang bernama Nashr ibn Ahmad berhasil menguasai seluruh Transoxsania dan mendirikan diasti Samaniyah. Ketika kekuasaan Nashr dan belum begitu berkembang. Baru setelah di lanjutkan oleh saudaranya yaitu Isma’il Ibnu Ahmad pada tahun 900 berhasil merebut Khurasan dari kekuasaan Dinasti Saffariyah.
wilayah Transoxsania  itu menjadi jantung kekaisaran Samaniyah, dan mengambil alih tugas-tugas Integrasi politik dari tangan orang-orang Turki. Kekuatan militer mereka sangat disegani oleh semua kalangan dan menjadikanya kawasan Transoxsania sebagai jalur perekonomian antara Asia selatan, tengah, barat, dan Rusia. Dengan kemakmuranya itu, maka amir-amir Samaniyah menjadikanya sebagai istana Bukhara sebagai pusat segala aspek yang meliputi Ilmu pengetahuan, politik, dan perekonomian.
Pada tahun 900 Isma’il berterimakasih kepada khalifah Abasiyah karena menangkap Amr ibn Layts dan mengalahkan diasti Shaffariyah. Setelah itu dia diangkat menjadi gubernur untuk mengantikan Tahiriyah dan Shaffariyah. Ketika berada di bawah pimpinan Nashr II pada tahun 913-943, yang berada pada keturunan keempat dari dinasti Samaniyah, telah berhasil memperluas kerajaan hingga batas-batas yang jauh, diantaranya adalah kawasan Sijistan, Karman, Jurjan, Rayyin, dan Tabaristan. Meskipun begitu Samaniyah tetap menjadi kerajaan yang setia dengan Abasiyah dan mereka merupakan amir dalam kedudukanya. Dibawah kekuasaan Samaniyah kaum muslimin bisa berkembang dengan pesat, bahkan dalam bidang ilmu pengetahuan hampir mengungguli Bagdad. Banyak sekali para Ilmuan yang lahir dikalangan dinasti Samaniyah. Diantaranya adalah Al-kharakhi yang menguasai ilmu astronomi dan geografi dari Khurasan, Al-Balkhi dari Balk merupakan ilmuan yang menguasai ilmu astronomi dan astrologi. Beliau juga salah satu orang yang pertama kali membantah teori Aris Toteles tentang planet.
Al-Razi yang merupakan ilmuan kedokteran yang mana pernah menulis suatu karya kedokteran yang berjudul Al-Manshur yang ditujukan untuk amir Samaniyah, Ibnu Sina, dan lain-lain.
Pada masa kekholifahan Nuh II pada tahun 976-997, ilmu pengetahuan sangat maju dan banyak sekali ilmuan yang berbangsa Persia lahir, selain itu orang-orang Persia selalu menggunakan bahasa arab sebagai ekspresi sastra. Samaniyah merupakan dinasti yang tercerahkan di Iran. Namun pada akhir abad ke 10 M, terlihat adanya ketidakstabilan dalam pemerintah. Para budak Turki sedikit-demi sedikit merebut kekuasaanya yang akhirnya berhasil menguasai Oxus. Selain itu karena adanya seorang budak yang disukai oleh kalangan Samaniyah, kemudian dianugrahi pos penting dalam pemerintahan yaitu Alptighin. Yang mulanya hanya sebagai pengawal, kemudian naik menjadi kepal dan pada 961 di angkat menjadi gubernur di Khurasan. Kemudian setelah berganti kekuasaan, Alp sudah tidak lagi disukai. Pada 962 dia perdi ke Ghaznah dan merebutnya, dari situ di mendirikan dinasti Ghaznawiyah yang meliputi Afghanistan dan Punjab
Sedikit demi sedikit, kekuasaan Samaniyah di rebut oleh dinasti Ghaznawiyah karena sebelumnya tentara bayaran Turki sebagai kekuatan utama, namun setelah beberapa daerah memisahkan diri, maka dalam perpajakanya juga turun. Akhirnya tentara Turki banyak yang bergabung dengan Ghaznawiyah. Pada  tahun 977 tentara Turki menurunkan pimpinanya yang dianggap tidak becus dan digantikan oleh Subugtigin. Pada tahun 993 Alptighin kembali ke Samarkhan dan menganggap dirinya masih sebagai gubernur. Dia memberikan bantuan kepada dinasti Samaniyah ketika terjadi pemberontakan. Mahmud putra dari Sebuktigin tinggal di Khurasan bersama ayahnya dan akhirnya diangkat menjadi gubernur Khurasan. Tahun 997 terjadi pertikaian di Samaniyah. Karena ayahnya meninggal, maka Ahmad mengantikanya sebagai penguasa Ghaznah. Pada waktu yang sama terjadi pemberontakan kepada dinasti Samaniyah, yaitu dinasti Qarakhani yang dipimpin oleh Ilek Khan dari Asia meyerbu Samaniyah. Tahun 999 Samaniyah terpecah-pecah. Mahmud merebut Khurasan dan Transoxsania sampai Oxus. Dan inlah akhir dari kekuasaan Samaniyah, tetapi amir Samaniyah yaitu Isma’il Al-Munthasari masih bisa bertahan sampai 1005 M dengan kekuasaan yang kecil di Bukhara.
2.2       Kemajuan-kemajuan yang di capai
Dinasti Samaniyah ini berhasil menjalin hubungan yang baik, sehingga berbagai kemajuan pada dinasti ini cukup membanggakan.
Dinasti Samaniyah juga telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kemajuan Islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, filasafat, budaya, politik, dan lain-lain. Tokoh atau pelopor yang sangat berpengaruh dibidang filsafat dan ilmu pengetahuan pada dinasti ini adalah Ibn Sina, selain beliau juga muncul para pujangga dan ilmuwan dibidang kedokteran, astronomi dan filsafat yang sangat terkenal, seperti Al-Firdausi, Ummar Kayam, Al-Bairuni dan Zakariya Ar- Razi.Dinasti ini telah berhasil menciptakan kota Bukhara dan Samarkan sebagai kota budaya dan kota ilmu pengetahuan yang sangat terkenal di seluruh dunia, sehingga kota ini dapat menyaingi kota-kota lain, seperti Baghdad dan Cordova. Dinasti ini juga telah berhasil mengembangkan perekonomian dengan baik, sehingga kehidupan masyarakatnya sangat tentram, hal terjadi karena dinasti ini tidak pernah lepas hubungan dengan pemerintah pusat di Baghdad.
2.3             Masa-masa kemunduran
Pada sa’at dinasti mencapai kejayaannya, banyak imigran Turki yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan, namun bersebab dari tingginya fanatic kesukuan pada dinasti ini, akhirnya mereka para imigran Turki yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan tersebut banyak yang dicopot, langkah-langkah inilah yang menyebabkan kehancuran dinasti ini, karena mereka tidak terima dengan perlakuan tersebut, sehingga mereka mengadakan penyerangan sampai mereka berhasil melumpuhkan dinasti ini. Dengan keruntuhannya ini, tumbuh dinasti kecil baru, yaitu Dinasti Al-Ghaznawi yang terletak di India dan di Turki.
http://kumpulanpemakalah.blogspot.co.id/2014/11/dinasti-samaniyah.html
Sejarah Dinasti Samaniyah (Kejayaan dan kehancuran)
Dinasti ini berkembag persis yang mendapat posisi istimewa masa kholifah al makmun (kholifah Abbasiyah). Dinasti yang didirikan sama khuda ini berhasil menempati posisi srategis masa al-makmun. Keturunan saman khuda menempati posisi Tronok sania. Kondisi politik samaniah juga sangat kompleks, namun demikian samaniah mencapai puncak kejayaan nya pada masa ismail di karnakan (1) mampu menghancurkan saffawiyah, (2) memperluas wilayah hingga tabaristan.  Berdirinya dinasti ini berawal ketika kholifah Al-Mu’tamit (Abasiyah) mengangkat ismail sebagai penguasa di Transoksania yang kemudian juga mampu menguasai Bukhara di bantu saudaranya Nasr bin Ahmad, dari sinilah bermula pemerintahan Samaniah. Adapun kepala pemeriantahan nya sebagai berikut:
  • ·         Nashr I bin Ahmad
  • ·         Ismail bin Ahmad
  • ·         Ahmad bin Ismail
  • ·         Nashr II bin Ahmad
  • ·         Nourh I bin Nashr
  • ·         Abdul Malik I bin Nourh
  • ·         Mashour I bin Nouh
  • ·         Nouh II bin Manshur
  • ·         Manshur II bin Nour II
  • ·         Abdul Malik II bin Nour II
Sepeninggal Ismail Samaniah mulai lemah dikarnakan sosok pemimpin nya.  Ahm ad bin Ismail missal nya Mati terbunuh dan d i makam kanm kan diBukhara dan belum sempat memberikan konstribusi berarti. Dikarnakan anaknya masih kecil maka makin menambah lemah nya kondisi politik Samaniah terbukti dengan adanya Iskhaq dan Ilyas paman nya. Selain konflik internal Samaniah juga  sempat berselisih dengan dinasti Buwaihiyah. Yaitu pada masa Nourh I bin Nashr dan Abdul Malik I bin Nourh. Di karnakan perebutan wilayah Rayy dan Jibal yang sebelum nya dikuasai Buwaihiyah. 
http://perahujagad.blogspot.co.id/2014/09/dinasti-samaniyah.html

DINASTI SAMANIYAH


A.    Pendahuluan
Dinasti Samaniyah adalah merupakan salah satu Dinasti yang ada di dunia Islam pada masa ketika politik pemerintahan Khalifah Abbasiyah mulai melemah . Dinasti Samaniyah salah satu suku dari Persia yang sebelum memeluk Islam beragama Zoroaster(Majusi). Pemerintahan Dinasti berpusat di Bukhara,tidak begitu santer dalam pengetahuan ummat Islam, padahal Dinasti ini hampir-hampir menyamai zaman keemasan Abbasiyah dari segi capaian kemajuan dan perkembangan peradaban yang pernah ada di dunia Islam.
Dinasti Samaniyah didirikan oleh Ahmad bin Asad bin Saman (204 H/819 M) dan hakikat pendiri yang menjadi icon dinasti ini adalah Nasr bin Ahmad (250 H/864 M), masa Selama ± 186 tahun lamanya Dinasti ini bertahan yakni sejak tahun  204-395 H/819-1005 M  sebelum kemudian digantikan Dinasti Ghaznawi, dan Dinasti samaniyah memiliki luas cakupan wilayahnya mulai dari Sijistan, Karman, Jurjan(CIS selatan) di samping Rayy, Tabristan, Khurasan, dan Transoksania.


Dinasti Samaniyah telah mencapai puncak kejayaannya dari berbagai aspek,baik poitik  pemerintahan hingga memiliki 12 Khalaifah secara turun temurun, ekonomi dengan kota industri dan perdagangan terutama di Bukhara dan Samarkand, serta perkembangan ilmu pengetahuan, hal ini terbukti dengan banyaknya tokoh-tokoh besar Islam yang hingga sampai saat ini nama dan karya-karya mereka di pelajari dan menjadi bahan kajian umat Islam. Capaian ini disebabkan karena para khalifah Samaniyah memiliki minat dan hasrat yang begitu besar terhadap dunia Ilmu, sekaligus mencurahkan perhatian yang serius untuk mengembangkannya, oleh sebab itu masa dinasti inilah Bangsa persia (Iran) memiliki prestasi gemilang di dunia Islam.

B.     Sejarah Pembentukan Dinasti Samaniyah
1.      Asal Usul Dinasti Samaniyah
Samaniyah adalah  salah satu suku yang  asal usulnya memiliki dua persi yang berbeda yakni; ”Nama Samaniyah dinisbahkan kepada nama leluhur pendirinya,yaitu Samankhudat,seorang pemimpin suku dan tuan tanah keterunan bangsawaan terkenal dari Balk, yaitu sebuah daerah di sebelah utara Afghanistan.Data lain menyebutkan bahwa Samankhudat adalah keturunan penguasa Dinasti Sasanid di Persia”.
Suku ini dulunya merupakan suku yang menganut agama Zoroasterian(Majusi) yang berada di persia sebelum memeluk agama Islam kategori turunan bangsawan dan salah satu suku penguasa  yang ada di Persia.”Keluarga Samaniyah dari Transosiana dan persia (874-999) adalah orang-orang keturunan saman,seorang bangsawan penganut ajaran Zoroaster dari Balk”. Suku Samaniyah menjadi bagian dari suku yang memiliki andil besar dalam dunia Islam yakni sejak suku ini memeluk agama Islam, sehingga turunan suku ini menyebar luas di daerah kekuasaan Islam dan mengabdikan diri dalam pemerintahan Abbasiyah.
2.      Sejarah Lahirnya Dinasti Samaniyah
Dinasti Saminiyah adalah sebuah dinasti kecil yang muncul di dunia Islam (Persia) pada abad ke-9 masehi, yakni  pada masa Dinasti Abbasiyah ketika mulai melemah. Dinasti Samaniyah adalah sebuah Dinasti seperti Dinasti kecil lainnya yang dahulunya merupakan wilayah provinsi kekhalifaan Abbasiyah, namun disaat  sistim politik kekhalifaan melemah, maka Dinasti Samaniyah memisahkan diri dan memproklamirkan diri menjadi sebuah dinasti (Kekuasaan) yang indefendence tanpa adanya ketundukan dan kepatuhan pada kekhalifaan Abbasiyah.
Tampilnya keturunan Samaniyah dalam sejarah Islam bermula dari masuknya Samankhudat menjadi penganut Islam pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik(khlalifah Umaiyah yang memerintah thn 106-126 H/724-743 M). Sejak masuknya Samankhudat menjadi Islam, maka sejak itupulalah beliau dan keturunannya mengabdikan diri kepada penguasa Islam(Abbasiyah), dan para turunan Samankhudat menyebar luas serta menduduki berbagai jabatan dalam kekhalifaan  Islam. Inilah awal sejarah tampilnya suku Samaniyah dalam pemerintahan dan sekaligus merupakan cikal bakal menanamkan serta mengokohkan suku samaniyah menjadi salah satu suku yang memiliki andil dalam pemerintahan yakni; ”Selanjutnya, pada masa kekuasaan al-Ma`mun(198-218H/ 813-833 M), dari Dinasti Abbasiyah,empat cucu Samankhudat memegang jabatan penting sebagai gubernur dalam wilayah kekuasaan Abbasiyah (1) Nuh di Samarkand, (2) Ahmad bin Asad di Fergana(Turkistan) dan Transoksania, (3) Yahya di Shash dan Ushrusan, dan(4) Ilyas di Herat, Afghanistan”. Melalui ke empat cucu Samankhudat inilah memulai meluaskan pengaruh dan mengambil simpati warga Persia(Iran) diberbagai daerah yang dikuasainya,”Selain mempunyai hasrat untuk menguasai wilayah yang diberikan khalifah kepada mereka, keempat cucu tersebut juga mendapat simpati warga Persia, yang awalnya simpati itu didapat dari wilayah kekuasaannya, kemudian menyebar ke seluruh negeri Iran, termasuk Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Ray, dan Tabristan dan Transoxiana di khurasan”
Proses memerdekakan diri dari kekuasaan Abbasiyah tersebut ialah melalui cara-cara yang dianggap mereka sebagai cara yang akurat yaitu: Pertama, salah seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. Kedua, seseorang yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah dan kedudukannya semakin bertambah kuat”
Dalam perkembangan selanjutnya suku Samaniyah berhasil membangun Dinasti Samaniyah yaitu;”Pendiri Dinasti adalah Nashr ibn Ahmad(874-892), cicit Saman, tetapi figur yang menegakkan kekuasaan dinasti ini adalah saudara Nashr, Ismail(892-907) yang pada tahun 900 M berhasil merebut Khurasan dari genggaman Dinasti Saffariyah”
Demikianlah sejarah lahirnya Suku Samaniyah menjadi sebuah Dinasti di dalam Dunia Islam,yang selanjutnya mengalami berbagai perkembangan dan kemajuan yang dapat dicapai oleh dinasti tersebut.

C.     Perkembangan Dan Kemajuan
Semenjak menjadi sebuah Dinasti dalam dunia Islam,Dinasti Samaniyah mengalami perkembangan dan kemajuan dalam berbagai bidang,serta banyak melahirkan berbagai tokoh-tokoh diberbagai disiplin ilmu pengetahuan, demikian juga halnya
1.      Bidang Politik(Pemerintahan)
Semenjak memproklamirkan diri menjadi dinasti yang independen, dinasti Samaniyah tampil menjadi sebuah pemerintahan, yang sangat panjang,serta memiliki peran yang banyak, khususnya dalam pemerintahan (politik) hal ini terbukti sampai ratusan tahun lamanya dinasti ini bertahan menjadi sebuah pemerintahan turun temurun.”Dinasti ini bertahan selama lebih kurang 186 tahun(204 H/819 M-395 H/1005 M)” . Selama kurun waktu yang begitu lama dinasti Samaniyah dalam pemerintahannya menampilkan 12 tokoh yang terkenal selama pemerintahan sebagaimana yang disebutkan dalam handbooknya Jere LB :
“204/819 Ahmad I b  Asad bin Saman
250/864 Nasr I b Ahmad
279/892 Ismail I b Ahmad
295/907 Ahmad II b Ismail
301/914 al-Amir al-Said Nasr II
331/943 al-Amir al-Hamid Nuh I
343/954 al-Amir al-Muayyad Abd al-Malik I
350/961 al-Amir al-Sadid Mansur
365/976 al-Amir al-Rida Nuh II
387/997 Mansur II
389/999 Abd al-Malik II
390-395/1000-1005 al-Muntasir”. Sementara dalam Ensiklopedia Islam dapat dilihat lebih terinci ke 12 tokoh tersebut di atas tentang ; silsilah dan lama masa pemerintahan masing-masing tokoh :
SILSILAH DINASTI SAMANIYAH DI KAWASAN
IRAK dan UZBEKISTAN
(204-395 H/819-1005 M)
       N a m a                                                        Masa Pemerintahan
1.      Ahmad bin Asad Samankhudat                  204-250 H/819-864 M
2.      Nasr I bin Ahmad                                        250-279 H/864-892 M
3.      Isma`il I bin Ahmad                                                279-295 H/892-907 M
4.      Ahmad bin Isma`il                                       295-301 H/907-913 M
5.      Nasr II bin Ahmad                                      301-331 H/913-943 M
6.      Nuh I bin Nasr                                             331-343 H/943-954 M
7.      Abdul Malik I bin Nuh                                343-350 H/954-961 M
8.      Mansur I bin Nuh                                        350-365 H/961-976 M
9.      Nuh II bin Mansur                                       365-387 H/976-997 M
10.  Mansur II bin Nuh                                       387-389 H/997-999 M
11.  Abdul Malik II bin Nuh                              398-390 H/999-1000 M
12.  Isma`il II bin Muntasir                                 390-395 H/1000-1005 M”
Dinasti Samaniyah memilih ibukota pemerintahannya yaitu daerah Bukhara dan kota terkemukanya adalah Samarkand, dimana kota ini hampir mengungguli Baghdad sebelumnya sebagai kota dan pusat peradaban dalam dunia Islam yang terkenal selama ini.
Selama pemerintahan khalifah Samaniyah sebanyak 12 orang tersebut , telah mampu meluaskan kekuasaan pemerintahannya keberbagai wilayah daerah kekuasaan yang dikuasai pemerintahan Abbasiyah sebelumnya, terutama puncak pencapaian yang gemilang yaitu pada masa pemerintahan khalifah ke 5.”Nasr II bin Ahmad berhasil memperluas wilayah hingga meliputi Sijistan, Karman, Jurjan(CIS selatan) di samping Rayy, Tabristan, Khurasan, dan Transoksania. Setelah Nasr II bin Ahmad, para khalifah berikutnya tidak mampu lagi mengadakan perluasan wilayah. Bahkan, khalifah terakhir, Isma`il II al-Muntasir, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara Dinasti Qarakhan(999 – 1211) dan Dinasti Gaznawi(999-1037)”. Seiring dengan perluasan daerah Dinasti Samaniyah yang begitu luas, juga semenjak lahirnya Dinasti Samaniyah penataan Administrasi pemerintahan dan batasan-batasan wilayah telah dilakukan untuk menjaga anacaman dari suku-suku liar Turki. Penataan awal tersebut di atas, dilakukan mulai pada masa khalifah Isma`il - I , hingga mencapai Tabristan(Irak Utara) dan Rayy( Iran)
2.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Dinasti Samaniyah bukan saja sukses besar dalam dunia politik dan pemerintahan serta perluasan daerah kekuasaannya, namun dalam dunia ilmu pengetahuan juga sangat besar perhatian dan andilnya, sehingga banyak lahir tokoh-tokoh (ilmuan besar) dan perkembangan disiplin ilmu yang monumental dan diingat serta dipelajari hingga saat ini.
a.       Bidang Kedokteran dan Filsafat
Dalam bidang kedokteran dan Filsafat tampil nama besar yang mendunia yaitu;
-          Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Dokter dan filsuf terkemuka dari Rayy; w, 932 M).
-          Ibnu Sina dengan nama lengkapnya” Abu Ali al-husein ibn Abdillah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina, ia dikenal sebagai seorang filosof islam terbesar dengan gelar Syaikh ar-Rais, dilahirkan dalam keluarga yang bermazhab syi`ah pada tahun 370 H/980 M di desa Efsyanah(kawasan Bukhara) di Bukhara” . Dan beliau juga sangat terkenal dengan sebutan Bapak kedokteran Islam terbesar, dengan karyanya Al-syifa`fi Al-Ilahiyyyat wa Al-Thabi`iyyat, dan najah ringkasan  As-Syifa...dan buku Mantiq Al-Hikmah  Al-Masyriqiyyah “. Dan Qanun fit-Thib. Dan di kota inilah perpustakaan besar dibangun dengan koleksi kitab yang banyak seolah-olah tidak pernah habis-habisnya sebagai sumber bacaan.
b.      Bidang Theologi
Pada masa dinasti Samaniyah juga tampil tokoh dan pemikir yang handal dan banyak mengilhami prinsip pemahaman umat Islam dalam bidang Aqidah Islam dikenal nama Al-Maturidi sebagai salah seorang pendiri Aliran ahli sunnah wal-jama`ah meskipun agak berbeda corak berpikirnya dengan Hasan al-`Asyari. Menurut Dr. Ayub Ali menyatakan; ”Ia dilahirkan sekitar 238 H, yang bertepatan dengan 852 M.Ini didasarkan pada perkiraan, karena ia pernah belajar dengan Muhammad Ibn Maqatil Al-Razi yang wafat tahun 248 H/862 M, sejarawan sepakat tentang kematiannya yaitu tahun 333 H/944 M”nama Maturidi dinisbatkan kepada desa dimana beliau dilahirkan, yaitu desa Maturid di Samarkand. Bukan hanya beliau tapi Murid dan pengembang baik pada masa beliau masih hidup maupun sesudahnya dikenal ada empat nama besar:
1.      Abu al-Qasim Ishaq Ibn Muhammad ibn ismail, terkenal dengan al-Hakim al-Samarkandi,wafat 340 H
2.      Abu al-Hasan Ali ibn Said al-Rastaghfani
3.      Al-Imam Abu Muhammad Abd al-Karim ibn Musa al-Bazdawi wafat 390 H/999 M
4.      Al-Imam Abu al- Lais al-Bukhari.
c.       Bidang Seni dan Sastra
Adapun bidang sastra dikenal tokoh yang masyhur yaitu Firdausi yang menulis puisi dan Bal`ami yang menulis prosa serta penerjemah  sejarah karya At-Thabari. Dan pada masa inilah lahirnya karya sastra muslim persia yang sangat cemerlang. Kebangkitan sastra persia modern pun diawali pada priode ini. Cukup dikatakan bahwa Firdawsi(934-1020 ) menulis puisinya pada periode ini dan bahwa Bal`ami, penasihat Manshur(961-976) menerjemahkan catatan sejarah karya al-Thabari, dan kemudian menulis salah satu prosa dalam bahasa Persia yang masih bertahan hingga kini. Dari sejak inilah tercerahkannya nilai-nilai sastra yang sangat cemerlang di Persia(Iran) yang sebelumnya didominasi oleh bahasa Arab.
d.      Bidang Hadits
 - Imam Bukhari (194-256 H),beliau lahir di kota Bukhara, anak dari seorang ulama hadits yang pernah belajar kepada Malik ibn Anas.Beliualah orang yang pertama menghimpun hadits hadits Shahihsaja di dalam karyanya yang terkenal yaitu; shahih al-Bukhari. Dari sekian banyak karyanya yang paling terkenal diantaranya adalah shahih al-Bukhari,judul lengkap dari kitab tersebut adalah Al-Jami` al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min umur Rasulillahi wa Sunanihi wa Ayyamihi.
- Abi Daud  lahir di Sijistan dengan karyanya Sunan Abu Daud
- An-Nas`i lahir di Khurasan
- At-Tirmizi yang lahir di daerah Tirmiz
Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh terkemuka dalam bidang sains yang muncul ketika berkuasanya Dinasti Samaniyah, hal ini disebabkan begitu besarnya perhatian para khalifah Dinasti Samaniyah dalam pengembangan Ilmu Pengethauan dan Sains, sehingga Bukhara dan samarkand hampir menyamai tingginya tingkat kepedulian masyarakat dan kesibukannya dalam mengkaji berbagai bidang, serta kelengkapan perpustakaan yang begitu besar dan padat isinya, seperti yang ada di Baghdad. Pada Abad kesepuluh Bukhara tampil sebagai pusat literatur dan kesenian Islam-Persia yang baru lantaran ide-ide keagamaan, hukum, filsafat, dan kesastraan Islam yang berbahasa arab disusun kembali dalam bahsa Persia. Oleh karena itu, ini merupakan saat pertama di mana agama dan kultur Islam tersedia di dalam bahasa selain bahasa arab.
Demikian juga halnya perekonomian dan perdagangan, bahwa Bukhara dan Samarkand adalah kota yang banyak mendirikan industri dan padatnya lalulintas perdagangan mengingat  banyaknya hasil-hasil produksi yang dihasilkan di Bukhara dan Samarkand, sehingga mendatangkan peningkatan kesejahteraan bagi pemerintahan Dinasti Samaniyah, seiring peningkatan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan kebudayaan yang dicapainya begitu pesat.


D.    Kemunduran dan Kehancuran
Sekalipun Dinasti Samaniyah mencapai puncak kegemilangannya dalam pemerintahannya,sekaligus merupakan salah satu Dinasti Iran yang paling tercerahkan,Samaniyah tidak terlepas dari kekurangan,selain persoalan biasa yang muncul dari pergolakan aristokrasi militer dan situasi sulit menyangkut suksesi pemerintahan,muncul juga ancaman baru yakni para pengembara Turki yang bergerak menuju Utara.Bahkan di dalam Negara sendiri kekuasaan berangsur-angsur diambil alih oleh budak-budak Turki, yag justru merupakan golongan yang sering diadili oleh penguasa Samaniyah. Salah satu wilayah Samaniyah sebelah selatan Oxus, perlahan-lahan dicaplok oleh Dinasti Ghaznawi, yang berkuasa di bawah pimpinan salah satu budak Turki. Wilayah disebelah Utara sungai dirampas oleh Ilek(Ilaq) khan dari Turkistan yag pada 992 merebut Bukhara dan tujuh tahun kemudian melakukan Coup de Grace terhadap Dinasti Samaniyah yang riwayatnya sudah berakhir.
Kesuksesan dan prestasi capaian tertinggi dalam peradaban, tidak menjamin akan langgengnya sebuah Dinasti, termasuk Dinasti Samaniyah yang dipandang sangat cukup sukses dalam membangun kultur dan keagamaan dalam masa pemerintahannya.Sekalipun demikian, sebetulnya rezim Samaniyah telah mengalami disintegrasi pada abad kesepuluh,dan wilayah kekuasaannya di Khurasan dan Afghanistan jatuh ketangan Alptigin, seorang Gubernur budak yang beribukota di Ghazna(Afghanistan) Alptigin mendirikan sebuah rezim tentara budak yang menaklukkan dan menguasa Khurasan sejak 999 sampai tahun 1040. Bahkan mengusai Transoxania serta Iran barat.

http://hadifauzan.blogspot.co.id/2015/06/dinasti-samaniyah.html


Asia Tengah Pra-1500/Sejarah/Samaniyah


Dinasti Samaniyah - Asia Tengah Pra-1500

Orang Samaniyah adalah kelompok orang yang tinggal di bagian paling timur Kekhalifahan Abbasiyah, pada 800-an M. Orang Samaniyah merupakan keturunan orang Sogdiana yang tinggal di daerah itu pada masa sebelumnya, dan seperti halnya orang Sogdiana, mereka juga termasuk suku bangsa India-Eropa. Orang Samaniyah sebagian besar menuturkan bahasa Persia meskipun mereka menganut agama Islam. Para penguasa Samaniyah merupakan keturunan aristorkasi Kekaisaran Sassania yang beragama Zoroaster, namun kemudian mereka memeluk Islam Sunni.
Para penguasa Samaniyah sebagian besar mendukung Abbasiyah dan meniru pemerintahan Abbasiyah. Mereka secara teknis merupakan bagian dari Kekhalifahan Abbasiyah, meskipun bisa dibilang sebagai sebuah negara yang merdeka. Salah satu ibukotanya adalah Samarkand, ibukota lama Sogdiana.
Seperti para pendahulu Sogdiananya, orang Samaniyah terus melakukan perdagangan antara Asia Barat dan Cina. Koin-koin Samaniyah menjadi mata uang umum di Jalur Sutra pada 800-an dan 900-an M, sehingga bangsa yang jauh sekalipun, seperti bangsa Viking di Skandinavia, sering menggunakan koin Samaniyah. Sebagai pedagang yang terdidik, dinasti Samaniyah menjalankan kerajaan yan mendukung pendidikan dan seni sehingga mereka mampu menarik cendekiawan dan ilmuwan seperti al-Razi dan Ibn Sina. Mereka juga mendukung arsitektur Islam, membangun masjid dan istana di seluruh Asia Tengah.
Pada 1000 M, Dinasti Samaniyah dikalahkan oleh Ghaznawiyah dan Karakhanid Turk, yang kemudian mendominasi daerah ini.
Wilayah Dinasti Samaniyah (819–999 M)
https://id.wikibooks.org/wiki/Asia_Tengah_Pra-1500/Sejarah/Samaniyah

Sejarah Berdirinya Dinasti Samaniyah
Edukaislam.com - Sahabat sekalian kita akan membahas Sejarah berdirinya Negara Samaniyah. Adapun pendiri dinasti ini adalah Ahmad bin Asad bin Samankhudat. Nama Samaniyah dinisbahkan kepada leluhur pendirinya yaitu Samankhudat, seorang pemimpin suku dan tuan tanah keturunan bangsawan terkenal di Balkh, sebuah daerah di sebelah utara Afghanistan.  Dalam sejarah Samaniyah terdapat dua belas khalifah yang memerintah secara berurutan, yaitu; 

a. Ahmad I ibn Asad ibn Saman (Gubernur Farghana) 204 H/819 M 
b. Nash I ibn Ahmad, (semula Gubernur Samarkand) 250 H/864 M 
c. Ismail I ibn Ahmad 279 H/892 M 
d. Ahmad II ibn Ismail 295 H/907 M 
e. Al-Amir as-Sa’id Nashr II 301 H/914 M 
f. Al-Amir al-Hamid Nuh I 331 H/943 M 
g. Al-Amir al-Mu’ayyad Abdul Malik I 343 H/954 M 
h. Al-amir as-Sadid Manshur I 350 H/961 M 
i. Al-Amir ar-Ridha Nuh II 365 H/976 M 
j. Mansur II 387 H/997 M 
k. Abdul Malik II 389 H/999 M 
l. Ismail II Al-Muntashir       390-395H/1000-1005 M 

Dinasti ini berbeda dengan dinasti kecil lain yang berada di sebelah barat Baghdad, dinasti ini tetap tunduk kepada kepemimpinan khalifah Abbasiyyah. 
Dalam sejarah Islam tercatat bahwa dinasti ini bermula dari masuknya Samankhudat menjadi penganut Islam pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik (khalifah Bani Umayyah), sejak itu Samankhudat dan keturunannya mengabdikan diri kepada penguasa Islam. Pada masa kekuasaan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M) dari dinasti Bani Abbasiyyah, empat cucu Samankhudat memegang jabatan penting sebagai gubernur dalam wilayah kekuasaan Abbasiyah yaitu Nuh di Samarkand, Ahmad bin Asad di Farghana (Turkistan) dan Transoksania, Yahya bin Asad di Shash serta Asyrusanah (daerah di utara Samarkand), dan Ilyas di Heart, Afghanistan.
Seorang cucu Samankhudat yang bernama Ahmad bin Asad, dalam perkembangannya mulai merintis berdirinya Dinasti Samaniyah didaerah kekuasaannya, Farghana. Ahmad mempunyai dua putra, Nasr dan Isma’il, yang juga menjadi orang kepercayaan khalifah Abbasiyah. Nasr I bin Ahmad dipercayakan menjadi gubernur di Transoksania dan Isma’il I bin Ahmad di Bukhara. Selanjutnya Nasr I bin Ahmad mendapat kepercayaan dari khalifah al-Mu’tamid untuk memerintah seluruh wilayah Khurasan dan Transoksania, dan daerah ini menjadi basis perkembangan dinasti Samaniyyah.  Sahabat edukaislam.com, karenanya Nasr I bin Ahmad dianggap sebagai pendiri hakiki dinasti ini. Antara Nasr dan saudaranya, Isma’il selalu  terlibat konflik yang mengakibatkan terjadinya  peperangan, dalam peperangan yang terjadi  Nasr mengalami kekalahan yang kemudian ia ditawan, sehingga kepemimpinan Dinasti Samaniyyah beralih ke tangan Isma’il I bin Ahmad. Adanya peralihan kepemimpinan ini menyebabkan berpindahnya pusat pemerintahan yang semula di Khurasan dipindahkan ke Bukhara. Pada sa’at pemerintahan dipimpin Isma’il I bin Ahmad, ia selalu berusaha untuk; 

a.        Memperkukuh kekuatan dan mengamankan batas wilayahnya dari ancaman suku liar Turki.  
b.       Membenahi administrasi pemerintahan. 
c.        Memperluas wilayah kekuasaan ke Tabaristan (Irak utara) dan Rayy (Iran). 

Isma’il I bin Ahmad adalah orang yang sangat mencintai dan memuliakan para ilmuwan serta bertindak adil terhadap rakyatnya, setelah ia wafat pemerintahan diteruskan putranya Ahmad bin Isma’il. Setelah Ahmad bin Isma’il, pemerintahan diteruskan putranya Nasr II bin Ahmad yang berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga Sijistan, Karman, Jurjan di samping Rayy, Tabaristan, Khurasan, dan transoksania.  
Setelah Nasr II bin Ahmad, para khalifah berikutnya tidak mampu lagi melakukan perluasan wilayah, bahkan pada khalifah terakhir Isma’il II al-Muntasir, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara dinasti Qarakhan dan dinasti Ghaznawiyah dari Turki. Akhirnya wilayah Samaniyah dipecah menjadi dua, daerah Transoksania direbut oleh Qarakhan dan wilayah Khurasan menjadi pemilik penguasa Ghaznawiyah.
http://www.edukaislam.com
(Untuk Artikel Ini tidak memposting copy paste)

SAMANIYAH (203 H/819 M - 395 H/1005 M)Wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah meliputi daerah Khurasan (Irak) dab Transoksania (Uzbekistan) yang terletak di sebelah timur Baghdad. Ibukotanya adalah Bukhara. Dinasti Samaniyah didirikan oleh Ahmad bin Asad bin Samankhudat, keturunan seorang bangsawan Balkh (Afghanistan Utara). Puncak kejayaan tercapai pada masa pemerintaha Isma'il II al-Muntasir, khalifah terakhir Samaniyah, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serangan Dinasti Qarakhan dan Dinasti Ghaznawi. Dinasti Samaniyah berakhir setelah Isma'il II terbunuh pada 395 H/1005 M. Peninggalan Dinasti Samaniyah berupaa Mausoleum Muhammad bin Ismail al-Bukhari, seorang ilmuwan muslim.
http://www.pesantren-pesbuker.xyz/2014/10/sejarah-dinasti-dan-kekuasaan-khalifah.html


      Dinasti Samaniyah  (875-1004 M)
Untuk menelusuri kekuasaan Samani, kita harus kembali pada zaman Al-Makmun yang membagi-bagi wilayah kepada para pendukungnya bersamaan degan pemberian wilayah kepada Tahiri di Khurasan. Pembagian wilayah dan amirnya pada zaman Al-Makmun dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 11:
Pembagian Wilayah pada Zaman al-Ma’mun
No
Wilayah
Gubernur (Amir)
1.       
Transoxiana
Asad Ibn Saman
2.       
Samarqand
Nuh Ibn Asad
3.       
Farganah
Ahmad Ibn Saman
4.       
Syashy dan Asyrusanah
Yahya Ibn Asad
5.       
Hirrah
Ilyas Ibn Asad
            Asad Ibn Saman diberi kewenangan oleh Al-Makmun untuk memimpin daerah Trassoxiana. Kemudian dinasti kecil ini menaklukan wilayah-wilayah di sekitarnya sehingga berhasil menguasai Transoxiana, Khurasan, Sajistan, Karman, Jurjan, Rayy, dan Tabaristan. Dinasti Samani berkuasa hingga Khurasan setelah berhasil membantu khalifah Al-Mutaaddid (Dinasti Abbasiyah) menangkap dan memenjarakan Amr Ibn Al-Laits (khalifah Dinasti Safari terakhir).
            Pada waktu itu lahir ulama besar yang juga melhirkan karya-karya besar. Diantara mereka adalah Al-Firdausi, Umar Hayyam, Ibn Sina, Al-Biruni, Jakaria, Ar-Razi, dan Al-Farabi.
a.       Zakaria Al-Razi (865-925 M)
Al-Razi terkenal dengan Razhes (bahasa latin). Beliau adalah ahli kedokteran klinis, dan penerus Ibn Hayyan dalam pengembangan ilmu kimia. Ia melakukan penelitian empiris dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih disbanding dengan kegiatan ilmiah sebelumnya dan mencatat setiap perlakuan kimiawi yang dikenakannya terhadap bahan-bahan yang ditelitinya serta hasilnya.
b.      Al-Farabi (870-950 M)
Al-Farabi dikenal di Barat dengan nama Al-Farabius adalah filosof yang juga ahli dalam bidang logika, matematika, dan pengobatan. Dalam bidang fisika, Al-Farabi menulis kitab Al-musiqa: kitab-kitab yabg ditulisnya begitu banyak dan sebagian masih dapat dibaca hingga sekarang ini.
c.       Al-Biruni (973-1048 M)
Al-Biruni (AAl-Beruni) adalah Abu Raihan Muhammad Al-Biruni. Ia tinggal di istana Mahmud di Gazni (Afganistan). Akbar S.Ahmed menjulukinya dengan gelar ahli antropologi pertama (bapak antropologi). Argumentasinya adalah Al-Biruni merupakan observasi partisipan yang luas tentang masyarakat “asing” dan berupaya mempelajari naskah primer dan pembahasannya. Di samping sebagai antropolog, Al-Biruni juga ahli matematika, astronomi, dan sejarah.
d.      Ibn Sina (980-1037 M)
Nama latin Ibn Sina adalah Avicenna : beliau adalah ahli ilmu kedokteran dan filsafat. Karya besarnya dalam bidang kedokteran adalah Al-Qanun fi At-tib.
e.       Umar Hayyan (1038-1148 M)

Umar Hayyan adalah ahli astronomi, kedokteran, fisika, dan sebagian besar karyanya dalam bidang matematika. Akan tetapi, beliau lebih dikenal sebagai penyair dan sufi. Belaiu adalah penemu koefisien-koefisien binomial dan memecahkan persamaan-persamaan kubus.
http://syahrur23.blogspot.co.id/2015/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
                 DINASTI SAMANIYAH (261-389 H/873-998 M)
a.      Sejarah berdirinya
Pendiri dinasti ini adalah Ahmad bin Asad bin Samankhudat. Nama Samaniyah dinisbahkan kepada leluhur pendirinya yaitu Samankhudat, seorang pemimpin suku dan tuan tanah keturunan bangsawan terkenal di Balkh, sebuah daerah di sebelah utara Afghanistan. Dalam sejarah Samaniyah terdapat dua belas khafilah yang memerintah secara berurutan, yaitu;
1.      Ahmad I ibn Asad Samaniyah (Gub. Farghana)        204 H/819 M
2.      Nash I ibn Ahmad, (semula Gubernur Samarkand)    279 H/864 M
3.      Ismail I ibn Ahmad                                                     279 H/892 M
4.      Ahmad II ibn Ismail                                                   295 H/907 M
5.      Al-Amir as-Sa’id Nashr II                                          301 H/914 M
6.      Al-Amir al-Hamid Nuh I                                            331 H/943 M
7.      Al-Amir al-Mu’ayyad Abdul Malik I                         343 H/954 M
8.      Al-Amir as-Sadid Manshur I                                      350 H/961 M
9.      Al-Amir as-Ridha Nuh II                                           365 H/976 M
10.  Manshur II                                                                  387 H/ 997 M
11.  Abdul Malik II                                                            389 H/999 M
12.  Ismail II Al-Muntashir                                                1000-1005 M
Dinasti ini berbeda dengan dinasti kecil lain yang berada di sebelah barat Baghdad, dinasti ini tetap tunduk kepada kepemimpinan khafilah Abbasiyah.
Dalam sejarah islam tercatat bahwa dinasti ini bermula dari masuknya Samankhudat menjadi penganut islam  pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik (khalifah Bani Umayyah), sejak itu Samankhadut dan keturunannya mengabdikan diri kepada penguasa Islam. Pada masa kekuasaan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M) dari dinasti Bani Abbasiyah, empat cucu Samankhudat memegang  jabatan penting  sebagai gubernur dalam wilayah kekuasaan Abbasiyah yaitu Nuh di Samarkand, Ahmad bin Asad di Farghana (Turkistan) dan Traksoksania, yahya bin Asad di Shash serta Asyrusanah (daerah di utara Samarkand), dan Ilyas di Heart, Afghanistan.
Seorang cucu Samankhudat yang bernama Ahmad bin Asad, dalam perkembangannya mulai merintis berdirinya Dinasti Samaniyah di daerah kekuasaannya, Farghana Ahmad mempunyai dua putra, Nasr dan Isma’il, yang juga menjadi orang kepercayaan khalifah Abbasiyah . Nasr I bin Ahmad di percayakanmenjadi gubernur di Transoksania dan Isma’il bin Ahmad di Bukhara. Selanjutnya Nasr I bin Ahmad mendapat kepercayaan dari khalifah al-Mu’tamid untuk memerintah seluruh wilayah Khurasan dan Transoksania, dan daerah ini menjadi basisperkembangan dinasti Samaniyyah. Karenanaya Nasr I bin Ahmad di anggap sebagai pendiri hakiki dinasti ini. Antara Nasr dan saudaranya, isma’il selalu terlibat konflik yang mengakibatkan terjadinya peperangan, dalam peperangan yang terjadi Nasr mangalami kekalahan yang kemudian ia di tawan, sehingga kepemimpinan Dinasti Samaniyyah beralih ke tangan Isma’il bin Ahmad.
Adanya peralihan kepeminpinan ini menyebabkan berpindahnya pusat pemerintahan yang semula di Khurasan di pindahkan ke Bukhara. Pada saat pemerintahan di pimpin Isma’il I bin Ahmad, ia selalu berusaha untuk;
1.      Memperkukuh kekuatan dan mengamankan batas wilayahnya dari ancaman suku liar Turki.
2.      Membenahi administrasi pemerintahan.
3.      Memperluas wilayah kekuasaan ke Tabaristan (Irak utara) dan Rayy (Iran).
Isma’il I bin Ahmad adalah orang yang sangat mencintai dan memuliakan para ilmuwan serta bertindak adil terhadap rakyatnya, setelah ia wafat pemerintahan di teruskan putranya Ahmad bin Ismai’il. Setelah Ahmad bin Isma’il, pemerintahan di teruskan putranya Nasr II bin Ahmad yang berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga Sijistan, Karman, Jurjan di samping Rayy, Tabaristan,Khurasan, dan Transoksania. Setelah Nasr II bin Ahmad, para khalifah berikutnya tidak mampu lagi melakukan perluasan wilayah, bahkan pada khalifah terakhir Isma’il II al-Muntasir, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara dinasti Qarakhan dan dinasti Ghaznawiyah dari Turki. Akhirnya wilayah Samaniyyah di pecah menjadi dua, daerah Transoksania direbut oleh Qarakhan dan wilayah Khurasan menjadi pemilik penguasa Ghaznawiyah.
b.      Kemajuan-kemajuan yang di capai
Dinasti Samaniyyah telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kemajuan islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, filsafat, budaya, politi, dan lain-lain. Tokoh atau pelopor yang sangat berpengaruh di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan   pada dinasti ini adalah ibn sina, selain beliau juga muncul para pujangga dan ilmuwan di bidang kedokteran, astronomi dan filsafat yang sangat terkenal, seperti Al-Firdausi, Ummar Kayam, Al-Bairuni dan Zakariya Ar-Razi. Dinasti ini telah berhasil menciptakan kota Bukhara dan Samarkan sebagai kota budaya dan kota ilmu pengetahuan yang sangat terkenal di seluruh dunia, sehingga kota ini dapat menyaingi kota-kota lain, seperti Baghdad dan Cordova. Dinasti ini juga telah berhasil mengembangkan perekonomian dengan baik, sehingga kehidupan masyarakat sangat tentram, hal terjadi karena dinasti ini tidak pernah lepas hubungan dengan pemerintah pusat di Baghdad.
Puncak kejayaan Dinasti Samaniyyah terjadi pada masa khalifahan Ismail. Kemajuan yang dicapai pada masanya antara lain: mampu menghancurkan Dinasti Shaffariyah di Transoxania, serta mampu memperluas wilayahnya hingga Tabaristan, Ray, Qazwin sehingga keamanan dalam negeri terjamin.
Dinasti ini memiliki saham yang cukup berarti bagi perkembangan Islam, baik dari aspek politik maupun aspek kebudayaan.Dalam aspek politik, misalnya mereka telah mampu memelihara tempat atau pusat yang strategis bagi daulat Islam di timur, mengembangkan kekuasaan Islam sampai ke wilayah Turki.Sedangkan dalam aspek kebudayaan, misalnya di istana Dinasti Samaniyyah di Bukhara ini menjadi tempat menetapnya para ulama serta merupakan kiblatnya para pujangga.
Pada masa Nuh ibnu Nashr al-Samani, ia memiliki perpustakaan yang tidak ada bandingannya. Di dalamnya terdapat kitab-kitab masyhur dari berbagai disiplin ilmu, yang tidak terdapat di tempat lainnya.Mereka juga membantu menghidupkan kembali bahasa Persia.
Ketika paham Sunni di Baghdad lebih menekankan taslim wa tadlid, seperti yang digariskan oleh khalifah al-Mutawakkil dan Imam Ahmad ibnu Hambal, maka perkembangan ilmiah dan kesusastraan serta filsafat memuncak di tangan daulat Samaniyyah. Samarkand menjadi pusat ilmu dan kebudayaan Islam pada waktu itu.Di zaman ini lahir para tokoh pemikir Islam, seperti al-Farabi, Ibnu Sina, al-Razi, al-Firdausi, dan lain-lain.Sementara itu di wilayah politik yang menarik dikaji adalah bahwa munculnya dinasti-dinasti di timur Baghdad ini di suatu sisi dianggap sebagai pergeseran dominasi Arab dalam dunia politik.
c.       Masa –masa kemunduran
Pada saat dinasti mencapai kejayaannya, banak imigran Turki yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan, namun bersebab dari tingginya fanatic kesukuan pada dinasti ini, akhirnya mereka para imigran Turki yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan tersebut banyak yang di copot, langkah-langkah inilah yang menyebabkan kehancuran dinasti ini, karena mereka tidak terima dengan perlakuan tersebut, sehingga mereka mengadakan penyerangan sampai mereka berhasil melumpuhkan dinasti ini.
Sepeninggal Ismail, khalifah al-Mukhtafi mengangkat Abu Nashr ibnu Ismail, anak dari Ismail. Belum lama memerintah lalu ia terbunuh, dan digantikan oleh putranya Nashr II, yang baru berusia delapan tahun. Para tokoh Samani merasa khawatir, sementara itu masih ada paman bapaknya, yaitu Ishaq ibnu Ahmad, penguasa Samarkand yang memihak kepada penduduk Transoxania.Lalu tokoh Samani menyampaikan permohonan kepada khalifah al-Muktadir, agar didatangkan pemerintahan dari Khurasan, tetapi khalifah bersikeras menolaknya.
Pada pertengahan abad kesepuluh, terlihat Dinasti Samaniyyah menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan.Serangkaianrevolusi istana memperlihatkan bahwa kelas militer dan kelas tuan tanah menentang kebijaksanaan sentralisasi administratif para amir, dan berupaya memegang kendali, pemberontakan-pemberontakan di Khurasan melepaskan provinsi itu dari otoritas langsung Bukhara. Maka tidaklah sulit bagi Qarakhaniyyah dan Ghazwaniyah untuk mengambil alih wilayah-wilayah Samaniyyah pada dasawarsa terkhir abad ini.Dan pada tahun 1005 M Ismail al-Muntasir terbunuh dalam pelariannya.
http://kajianumum313.blogspot.co.id/2016/01/dinasti-dinasti-kecil-di-timur-baghdad.html

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer