DINASTI GHAZNAWIYAH Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

SEJARAH DINASTI GHAZNAWIYAH

DINASTI GHAZNAWIYAH
A. Sejarah Berdiri
Dinasti ghaznawiyah berkuasa pada tahun 366-582 H/976-1182 M di Afghanistan dan Punjab. Pendiri Dinasti Ghaznawiyah adalah Subuktigin. Ketika itu, pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang ke dua puluh empat. Terbentuknya dinasti Ghaznawiyah berawal dari Amir Dinasti Samaniyah yang menguasai wilayah Asia Tengah yaitu yang bernama Abd al-Malik ibn Nuh (343-350H/954-961M) yang membeli seorang budak bernama Alptagin. Pada mulanya ia hanya seorang budak belian, kemudian ia sampai diangkat menjadi kepala pegawai istana dan karirnya terus menanjak sampai ia diangkat menjadi wali di wilayah Khurusan.

Alptagin mengalami pemecatan oleh Amir yang baru yaitu Manshur ibn Nuh setelah amir yang lama, Abd al-Malik ibn Nuh setelah amir yang lama, Abd al-Malik ibn Nuh wafat. Kemudian ia pergi ke Afganistan beserta tentaranya dan menetap di kota Ghaznah. Kota ini terletak di sebelah selatan kota Kabul. Alptagin membentuk pemerintahan di Ghaza pada tahun 350 H/961 M. Setelah Alptagin wafat, kepemimpinan diteruskan oleh anaknya bernama Abu Ishaq ibn Alptagin. Abu Ishaq mempunyai seorang budak yang kemudian menjadi menantunya bernama Subuktigin. Setelah Abu Ishaq wafat, kemudian digantikan oleh Subuktigin. Subuktigin inilah yang membentuk Dinasti Ghaznawiyah setelah tampuk kekuasaan di limpahkan kepadanya.

B. Raja-raja yang Berkuasa
Raja-raja yang berkuasa antara lain:
1. Subuktigin (366-387 H/976-997 M)
2. Ismail ibn Subuktigin (997-999 M)
3. Mahmud ibn Subuktigin (999-1030 M)
        Ia mendapatkan gelar dari al-Qadir (khalifah Abbasiyah ke-25) yaitu Yamin al-Daulah 
        (Right of the State), karena keberhasilannya dalam memimpin dinasti ini.
4. Muhammad ibn Mahmud
5. Mas’ud ibn Mahmud
6. Maudud ibn Mas’ud
7. Ibrahim (451H/1059M)
8. Bahram Syah ibn Mas’ud (512H/1118 M)
9. Khursaw Syah ibn Bahram (547 H/1152 M)
10. Khursaw Malik

C. Masa Kejayaan dan Hasil Peradaban
Dinasti Ghaznawiyah mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Mahmud Ghaznawi ibn Subuktigin (999-1030M). Hasil peradabannya antara lain:

- Bidang ilmu pengetahuan. Di samping ilmu pengetahuan, bidang yang lain juga mengalami kemajuan yang pesat; kebudayaan, kesusastraan, kesenian, dan arsitektur. Ghazna pada waktu itu menjadi pusat perhatian para ulama dan cendikiawan. Misalnya Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni, seorang ahli astronomi dan matematika. Ilmuwan yang lain: al-Firdausi, seorang penyair dan arsitek dan seni lainnya. Beberapa ilmuwan lain: penulis sejarah (ibn al-Arraqi, ibn al-Khammar, al-Marasyi, al-Utby, dan al-Baihaqi), penyair bahasa Persi (Al-Furrakhi, al-Asyadi), dan penyair Arab (Badi’ al-Zaman al-Hamdani)

- Bidang Teritorial. Mahmud berhasil melakukan ekspansi ke arah selatan sampai Somnath dekat laut Arabia. Sedangkan ke arah timur, ia mengusai Kalinjar, lembah sungai Gangga. Di sebelah utara, ia menjadikan Oxus sebagai tapal batasnya dengan Qarakhaniyyah, dan di sebelah barat, ia mempertahankan Khurasan terhadap serangan Qarakhaniyah. Mahmud juga berhasil merebut wilayah Ray dan Hamdan dari tangan dinasti Buwaihiyah pada tahun 420 H/1029 M. Wilayah Ghaznawiyah meliputi Iran bagian timur, Afganistan, Pakistan, dan beberapa wilayah di India.

- Bidang Pembangunan. Mahmud membangun istana di Afghan, Shal, taman Sad Hasan, istana Fauzi, masjid Arus al-Falah, sekolah, dan perpustakaan. Masjid Arus al-Falah merupakan masjid yang megah dan indah di Ghazna. Selain itu, ia juga membangun kandang besar berkapasitas 1000 ekor binatang. Mas’ud ibn Muhmud membangun masjid megah yang dirancang sendiri pada tahun 1035-1036 M.

D. Masa Kehancuran
Kemunduran dinasti Ghaznawiyah dimulai ketika Mahmud ibn Subuktigin wafat pada tahun 421 H/1030M. Penerusnya yaitu anaknya sendiri yang bernama Muhammad. Ia berusaha mengembalikan kejayaan dinasti Ghaznawiyah namun tidak berhasil. Penerusnya ini tidak mampu menjaga stabilitas dalam negeri dan serangan dari luar. Hal ini diperparah dengan terjadinya pertikaian antara generasi penerus selanjutnya. Muhammad ibn Mahmud bertikai dengan saudaranya Mas’ud karena perbedaan kepentingan. Pertikaian ini dimenangkan oleh Mas’ud dengan dukungan militer dan kemudian berkuasa. Pemerintahan dan kepemimpinannya tidaklah berjalan dengan baik. Keadaan malah menjadi tidak aman. Situasi politik yang demikian ini kemudian dimanfaatkan oleh Bani Saljuk untuk menguasai Khurasan dan Khawarazm.

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kemunduran adalah terjadinya perebutan kekayaan antara anggota kerajaan. Hal ini terjadi setelah Mudud ibn Mas’ud menjabat kepentingan dinasti. Stabiltas negara menjadi lemah dan buruk. Hal ini menjadikan seringnya terjadi pergantian penguasa.selain itu, mereka disibukkan peperangan melawan Bani Saljuk di Sisjistan dan Afganistan Barat. Sedangkan di bagian lain juga direbut oleh dinasti Guriyah. Akhirnya penguasa hanya memerintah di Punjab yang lama kelamaan juga menyerahkan kekuasaan kepada Dinasti Guriyah.

Dinasti Ghaznawi sama sekali tidak berbeda dengan kekuasaan Samaniyah dan Saffariyah, Ghaznawi tidak ditopang dengan angkatan bersenjata, maka semuanya segera menemui kehancuran. Wilayah-wilayah kekuasaan di sebelah timur berangsur-angsur memisahkan diri dan muncullah dinasti-dinasti muslim independent, di utara dan barat seperti Dinasti Khan dari Turkistan dan Saljuk dari Persia.

http://www.edukasi.in/2015/11/sejarah-dinasti-ghaznawiyah.html

Islam Abad Pertengahan/Sejarah/Ghaznawiyah

Kesultanan Ghaznawiyah - Islam Abad Pertengahan

Bendera Ghaznawiyah
Sejak tahun 850-an M, Kehalifahan Abbasiyah berusaha mencari orang-orang yang dapat dipercaya untuk dijadikan tentara. Mereka tidak memakai jasa orang Arab karena takut orang-orang tersebut akan berusaha merebut kekuasaan. Abbasiyah lalu merasa bahwa orang-orang Turk merupakan prajurit yang terpercaya. Maka dari itu orang-orang Abbasiyah mulai menangkap sejumlah pemuda Turk untuk dijadikan budak, lalu mendidik mereka menjadi tentara. Ternyata orang Turk terbukti menjadi prajurit yang handal. Namun seiring waktu orang-orang Turk itu mulai mengambil kekuasaan para khalifah Ababsiyah. Pada tahun 962 M, khalifah Ababsiyah memecat Alptigin, jenderal yang bertugas mengurus daerah Khurasan (Afghanistan modern).
Namun Alptigin tidak ikhlas dengan pemecatannya. Dia pun berangkat ke selatan dan merebut benteng Ghazni dari orang-orang Samaniyah yang sebelumnya menguasainya. Dia meninggal setahun kemudian namun anak buahnya berhasil merebut Afghanistan dan mendirikan pemerintahan mereka sendiri. Para prajruit ini dikenal sebagai Ghaznawiyah sesuai nama benteng mereka. Mereka lalu menaklukan Kabul pada tahun 977 M. Di bawah sultan agung Mahmud, cucu Alptigin, mereka merebut Herat dari kekuasaan Samaniyah pada tahun 1000 M, dan menguasai sebagian Persia (Iran modern) juga. Setelah itu pasukan Ghaznawiyah mulai menyerbu India.
Wilayah terluas Kesultanan Ghaznawiyah
Pada awalnya serbuan Sultan Mahmud ke India adalah untuk mendapatkan emas dan budak, serta untuk menghancurkan berhala-berhala di sana. Banyak kuil Hindu di India utara yang dihancurkan dalam serbuan ini, termasuk kuil Siwa yang terkenal di Gujarat. Mahmud memperoleh banyak sekali harta rampasan sehingga dia mampu membangun istana yang indah di Ghazni. Dia bahkan memiliki 2500 gajah di sana. Jika tiba musim dingin di Ghazni, Mahmud dan anak buahnya akan berpindah ke Bost menggunakan gajah.
Namun pada akhirnya Mahmud menaklukan Punjab (Pakistan modern dan India utara) dan menjadikannya bagian dari kekuasaannya. Mamhmud memerintah sekitar 30 tahun sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1030 M. Dinasti Ghaznawiyah tidak bertahan lama setelah kematiannya. Pada tahun 1040 M, Ghaznawiyah ditaklukan oleh orang-orang Seljuk dan Ghuri.
https://id.wikibooks.org/wiki/Islam_Abad_Pertengahan/Sejarah/Ghaznawiyah

Dinasti Ghaznawiyah

A.      Sejarah Berdirinya Dinasti Ghaznawiyah (962-1186 M)
Dinasti ini didirikan pada 962 M oleh Sabuktakin, menantu Alptakin. Alptakin adalah seorang perwira Turki profesional di Bukhara, wilayah yang pernah menjadi daerah kekuasaan dinasti Samaniyah. Ketika itu, ia menganggap penting untuk melakukan ekspansi ke wilayah Afghanistan Timur dan mengangkat dirinya sebagai penguasa di daerah Ghazna. Kemudian pada 977 M tentara Turki di Ghazna mengangkat Sabuktakin sebagai pemimpin mereka. Dalam catatan sejarah, Sabukakin inilah yang kemudian dianggap sebagai pendiri dinasti Ghaznawiyah. Kemudian setelah kematiannya, pada 998 M jabatan tersebut diserahkan kepada anaknya bernama Mahmud ibn Sabuktakin.
Setelah kekuasaan dinasti Samaniyah runtuh, Mahmud ibn Sabuktakin memproklamirkan dirinya menjadi penguasa independen dengan sebutan Mahmud al-Ghaznawi. Ia terus berusaha memperluas wiayah kekuasaannya atas Khurasan dan wilayah sekitaranya. Di Khurasan ini ia mulai melakukan penyebutan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam setiap khutbah Jum’at, yang sebelumnya terabaikan. Hal itu terjadi karena perbedaan ideologi politik dan keagamaan, sebab dinasti Samaniyah berideologi Syi’ah, sementara Mahmud Ghaznawi Sunni. Sebagai imbalan atas penyebutan itu, khalifah Abbasiyah memberikan jabatan kepada Mahmud al-Ghaznawi sebagai gubernur di wilayah Khurasan dengan gelar Wali Amir al-Mukminin. Selain itu, ia juga memperoleh gelar Yamin al-Daulah dari khalifah al-Qadir, bahkan kemudian ia menyebut dirinya sebagai sultan.
Selama masa kepemimpinannya, ia berusaha memperoleh pendapatan melalui pajak dan pendapatan lainnya. Semua dikumpulkan, sehingga Mahmud memiliki kekayaan yang cukup yang dapat dipergunakan untuk melakukan perluasan wilayah ke anak benua India. Sekitar tahun 1001 M ia berhasil menaklukkan Kabul, Multan, Kashmir, dan Punjab. Setelah itu, kemudian ia melakukan ekspedisi ke lembah Gangga, dan baru pada 1025 M ia berhasil menaklukkan Gujarat, India. Selama masa kekuasaannya lebih kurang 32 tahun, dipergunakan untuk memperluas wilayah kekuasaan, sehingga ketika ia wafat pada 1030 M wilayah kekuasaannya meliputi Punjab dan lembah Indus di India, seluruh Afghanistan dan Persia Timut. Sepeninggal Mahmud al-Ghaznawi, puteranya bernama Mas’ud ibn Mahmud al-Ghaznawi menggantikan posisinya. Penggantian ini berada di luar skenarionya. Ia sebenarnya berkehendak agar putera tertuanya bernama Muhamad ibn Mahmud al-Ghaznawi menduduki jabatan sebagai sultan, tetapi keinginan tersebut tidak diterima oleh kalangan militer, karena Muhamad dianggap kurang berpengalaman dalam melakukan ekspedisi, sementara Mas’ud ibn Mahmud al-Ghaznawi dianggap memiliki pengalaman karena sering mengikuti kegiatan ekspedisi yang dilakukan tentara, selain tengah menjabat gubernur di propinsi Barat. Tetapi setelah ia berkuasa, justeru malah kurang mengindahkan nasihat dewan negara agar menghentikan sejenak usahanya untuk melakukan ekspedisi ke seluruh Anak Benua India, karena di Khurasan tengah terjadi gejolak yang dilakukan oleh orang-orang Saljuk. Akhirnya, setelah kian banyak orang-orang Saljuk yang masuk dan menguasai beberapa wilayah Khurasan, ia kewalahan, sebab ia harus berhadapan dengan mereka. Usaha untuk mengatasi gejolak politik yang dilakukan tentara Saljuk tidak dapat dibendung, bahkan tentaranya mengalami kekalahan besar. Akibatnya lebih tragis lagi, ia tewas di tangan pasukannya sendiri dalam perjalanan menuju Lahora, India. Konflik fisik antara pasukan Ghaznawiyah dengan Saljuk terus berlanjut hingga beberapa tahun lamanya.
B.       Kemajuan dan Kemunduran Dinasti Ghaznawiyah
                  1.      Kemajuan Dinasti Ghaznawiyah
Pemerintahan dinasti Ghaznawiyah mengalami kejayaan pada masa pe-merintahan Mahmud al-Ghazna yang berkuasa selama lebih kurang 34 tahun. Kekuatan yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk memperluas wilayah ke-kuasaan hingga mencapai wilayah India, hingga berhasil menaklukan Peshawar, Kashmir, dan Bathinda pada 1001-1004 M. Punjab dikuasai pada 1006 M, Kangra pada 1009, Baluchistan pada 1011-1012 M, kemudian Delhi pada 1014-1015 M. Wilayah yang luas dan sumber kekayaan yang melimpah, membuat ekonomi negeri ini sangat kuat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran negeri.
Perhatian penguasa dinasti Ghaznawiyah, khususnya Mahmud al-Ghaznawi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban tercermin dari usahanya yang konkret dengan mendirikan gedung-gedung sekolah dan lembaga lembaga pendidikan lainnya, sehingga kota Ghazna menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan yang dikunjungi banyak ilmuan. Salah seorang ilmuan terkenal yang hidup pada masa Mahmud al-Ghaznawi adalah al-Firdausi (w.1020 M), seorang sastrawan yang sangat berjasa dalam kebangkitan kembali sastra Persia, dan juga pelopor perkembangan seni arsitektur. Ia diminta Mahmud al-Ghaznawi untuk menulis sebuah karya yaitu Ayahnamah. Karya ini menjadi sebuah karya monumental pada masa itu. selain al-Firdausi, terdapat sastrawan terkenal lainnya di Ghazna, seperti Asadi Tusi, Asjadi dan Farukhi. Tokoh lainnya bernama Unsuri, seorang pemikir, ilmuan dan sastrawan yang menjadi guru besar di sebuah universitas yang dibangun Mahmud al-Ghaznawi. Di antara mereka yang terkenal dan berhasil menciptakan teori adalah al-Biruni (973-1057 M). Dalam catatan biografinya, ia pernah ikut serta bersama Mahmud al-Ghaznawi melakukan ekspedisi ke wilayah India dan mempelajari bahasa Sanskerta. Dari penelitiannya itu, ia menulis sebuah karya berjudul Tahqieq al-Hind (penelitian tentang India). Selain itu, ia juga menguasai ilmu kimia dan berhasil melakukan penelitian atau eksperimen tentang berat jenis beberapa zat kimia.
Dengan melihat data tersebut, dapat dipahami bahwa kemajuan ilmu pengetahuan, sastra dan sebagainya merupakan sebuah kenyataan historis bahwa pemerintah sangat memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Pemerintah selalu memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk melakukan riset guna memperoleh hasil maksimal. Bahkan Mahmud al-Ghaznawi tak segan mengajak para ilmuan untuk mengikuti kegiatan ekspansinya ke wilayah-wilayah lain, termasuk ke India. Di wilayah taklukkan inilah para ilmuan melakukan riset sehingga menghasilkan karya yang monumental, seperti karya al-Firdausi dan al-Biruni.
                  2.      Kemunduran Dinasti Ghazaniwiyah
Sepeniggal sultan Mahmud al-Ghaznawi, dinasti Ghaznawiyah menunjukkan tanda–tanda kelemahan. Hal itu disebabkan antara lain, karena sumber pendapatan negara semakin berkurang, terlebih setelah Tughrul Bek, amir Saljuk, menguasai wilayah Khurasan, dan beberapa wilayah di bagian Timur memisahkan diri dari pemerintahan dinasti Ghaznawiyah. Pemisahan wilayah ini merupakan fenomena politik yang tidak stabil, sehingga beberapa wilayah di bagian Anak Benua Inda mencoba mendirikan kerajaan-kerajaan Islam kecil. Sementara di bagian Utara dan bagian Barat, keluarga Khan dari Turkestan dan keluarga Saljuk dari Persia membagi-bagi wilayah kekuasaan Ghaznawiyah. Sedang pada bagian Tengah kelompok Ghuriyah dari Afghanistan melakukan serangan terhadap kekuasaan dinasti Ghaznawiyah.
Pada masa Mas’ud ibn Mahmud al-Ghaznawi berkuasa, dinasti Ghaznawiyah mengalami kemunduran luar biasa, karena wilayah Khurasan dan Khawarizm jatuh ke tangan Saljuk. Pada pertengahan abad ke-11 M, Mas’ud disibukkan dengan peperangan melawan kekuatan Bani Saljuk yang mau menguasai Sijistan dan Afghanistan Barat. Dari 1040-1059 M, pertempuran terus berlangsung, antara dinasti Ghaznawiyah dengan Bani Saljuk. Perdamaian antara dinasti Ghaznawiyah dengan Bani Saljuk baru terjadi setelah Ibrahim berkuasa. Perjanjian itu berlangsung lebih kurang selama setengah abad. Dalam isi perjanjian, Ibrahim harus menyarahkan wilayah Afghanistan Barat kepada Bani Saljuk, sehingga wilayah kekuasaan Ghaznawiyah hanya meliputi wilayah Afghanistan bagian Timur dan India Utara.
Selain faktor eksternal, kemunduran dinasti Ghaznawiyah juga disebabkan oleh konflik internal keluarga. Konflik itu disebabkan oleh perebutan kekuasaan antara Muhamad dengan Mas’udal-Ghaznawi, hingga menimbulkan pertempuran. Dalam pertempuran, Mas’ud tewas terbunuh. Namun kematian Mas’ud tidak diterima oleh anaknya, yaitu Maudud ibn Mas’ud al-Ghaznawi. Untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, ia melakukan penyerangan terhadap keluarga Muhamad dan membunuh mereka, kecuali Abd al-Rahim, yang diketahui Maudud termasuk orang yang tidak setuju atas pembunuhan Mas’ud ibn Mahmud al-Ghazna, ayah Maudud. Sejak saat itu, Maudud ibn Mas’ud al-Ghaznawi mengambil alih kekuasaan menjadi sultan. Namun sepeninggal Maudud, konflik internal itu muncul kembali, hingga dalam sejarah diketahui telah terjadi peralihan kekuasaan yang silih berganti antara keluarga Maudud ibn Mas’ud.
Situasi politik semakin kacau setelah terjadi konflik internal dalam perebutan kekuasaan. Misalnya, setelah Maudud meninggal, puteranya bernama Mas’ud II ibn Maudud menggantikan posisinya. Tetapi, dalam perjalanan selanjutnya, kekuasaan Mas’ud II direbut oleh pamannya sendiri, yaitu Ali ibn Mas’ud I. Jabatan Ali ibn Mas’ud I juga direbut kembali oleh Abd al-Rasyid ibn Mahmud. Kekuasaan Abd al-Rasyid ibn Mas’ud ini juga diambil alih oleh Tughrul, bekas ajudan dan pengawal pribadi Maudud ibn Mas’ud al-Ghaznawi. Tetapi, nasib naas menimpa Tughrul, karena ia sendiri tewas di tangan tentaranya sendiri yang tidak setuju atas usahanya merebut kekuasaan dari tangan Abd al-Rasyid ibn Mas’ud. Setelah itu, mereka kemudian mengangkat Fakhruzad ibn Mas’ud I sebagai sultan Ghaznawiyah. Kemudian ia digantikan oleh saudaranya bernama Ibrahim ibn Mas’ud I. Ibrahim digantikan lagi oleh Mas’ud III. Sepeninggal Mas’ud III, dinasti Ghaznawiyah benar-benar mengalami kelemahan, karena konflik internal terus terjadi hingga akhirnya dinasti ini mengalami kehancuran. 

C.      Kehancuraan Dinasti Ghaznawiyah
Sepeninggal Mas’ud III, kekuasaan jatuh ke tangan anaknya bernama Syirzad dengan mengalahkan saudara-saudaranya, Arslan Syah dan Bahram Syah. Setelah berkuasa selama satu tahun, Syirzad digulingkan oleh Arselan Syah. Tapi setelah ia berkuasa lebih kurang 2 tahun, kekuasananya juga digulingkan oleh Bahram Syah. Untuk merebut kembali kekuasaan itu, Arslan Syah melakukan serangan balik, tapi serangan tersebut dapat dipatahkan Barham Syah, dan Arslan Syah kemudian ditangkap dan dibunuh. Setelah Bahram Syah, posisinya digantikan oleh Khusrav Syah, puteranya sendiri. Setelah Khusrav Syah, jabatan sultan dipegang oleh Khusrav Malik, putera Khusrav Syah. Ia merupakan sultan Ghaznawiyah terakhir yang menyaksikan kekuasaannya dicabik-cabik oleh pasukan Ghurriyah dari Afghanistan. Kemudian Syihabuddin dari Ghur memaksa Khusrav Malik di Lahore untuk membayar pajak kepadanya. Bahkan dalam sejarah diketahui Khusrav Malik bersama anaknya, Malik Syah ditahan dan dibunuh oleh Syihabuddin Ghurri.
Dengan peristiwa tragis itu, maka berakhirlah kekuasaan dinasti Ghaznawiyah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dinasti Ghaznawiyah yang didirikan oleh Mahmud al-Ghaznawi mengalami pasang surut. Dinasti ini pernah mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Mahmud al-Ghaznawi. Hal ini dapat dibuktikan lewat luasnya wilayah kekuasaan hingga mencapai anak benua India. Tetapi, setelah sekian lama berkuasa, dinasti ini mengalami masa kemunduran karena konflik internal berkepanjangan hingga akhirnya unsur luar masuk dan menguasa istana hingga akhirnya kekuasaan dinasti Ghaznawiyah mengalami masa kehancuran setelah jatuh ke tangan bangsa Ghur dari Afghanistan, terutama setelah Syihabuddin Ghurri membunuh sultan terakhir, yaitu Khusrav Malik.



Dinasti ghaznawiyah didirikan pada tahun 962 M oleh Sabuktatin yang kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Mahmud Ibn Sabuktatin. Setelah kekeuasaan dinasti Samaniyah runtuh, Mahmud Ibnu Sabuktatin memproklamirkan dirinya menjadi penguasa independen dengan sebutan Mahmud al-Ghaznawy. Di bawah kekuasannya ia memperluas wilayah kekuasannya atas Khurasan dan wilayah sekitarnya. Pada masanya dia juga melakukan penyebutan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam setiap khhutbah Jum’at yang sebelumnya terabaikan. Hal itu karena perbedaan ideoogi politik dan keagamaan sebab dinasti Samaniyah berideologi Syi’ah sedangkan Mahmud Ghaznawi beraliran Sunni sehingga dia memperoleh gelar wali amir al- mukminin. Selain itu, pemerintahan Mahmud Ghaznawi juga berusaha memeperoleh pendapatan melalui pajak dan pendapatan lainnya.

Dinasti ghaznawiyah mengalami kemajuan pada pemerintahan Mahmud Al-Ghaznawi yang berkuasa lebih kurang 34 tahun. Kekuasaan yang dimilikinya dipergunakan untuk memperluas wilayah kekuasaan hingga mencapai India. Wilayah tersebut membuat ekonomi ghaznawiyah sangat kuat sehingga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran negri. Pada masa ghaznawiyah peradaban dan ilmu pengetahuan sangat maju terbukti dengan didirikannay gedung sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Dari kemajuan pendidikan itu, muncul pemikir, ilmuan dan sastrawan yang berpengaruh.

Kemunduran dinasti ghaznawiyah berawal sejak meninggalnya mahmud al-ghaznawi. Mulai saat itu sumber pendapatan negara semakin berkurang terlebih setelah toghrul bek, Amir Saljuk menguasai wilayah khurasan dan beberapa wilayah yang lain berusaha untuk mendirikan kerajaan-kerajaan Islam kecil.
Pada masa Mas’ud Ibn Mahmud al-ghaznawy berkuasa, dinasti ghaznawiyah mengalami kemunduran luar biasa karena wilayah khurasan dan khawarizm jatuh ke tangan saljuk. Selain faktor eksternal, kemunduran ghaznawiyah juga disebabkan oleh konflik internal keluarga. Konflik tersebut disebabkan oleh perebutan kekuasaan antara Muhammad dengan Mahmud al-Ghaznawi sehingga menimbulkan pertempuran. Dalam pertempuran tersebut, mas’ud tewas terbunuh . namun kematian mas’ud tidak diterima oleh anaknya yaitu Maudud Ibn Mas’ud al-Ghaznawi. Untuk melakukan balas dendam atas kematian ayahnya dia melakukan penyerangan terhadap keluarga Muhammad dan membunuh mereka. Situasi politik semakin kacau setelah terjadi konflik internal dalam perebutan kekuasaan.
http://banjirembun.blogspot.co.id/2012/06/artikel-peradaban-islam-dinasti.html

Dinasti Ghaznawiyah

Ghaznawiyah (bahasa Persiaغزنویان) adalah suatu dinasti Muslim mamluk etnis Turki yang budayanya telah ter-Persia-kan, yang pada masa puncak kejayaannya menguasai sebagian besar IranTransoxiana, dan India Utara antara 977-1186. Dinasti ini didirikan oleh Sabuktigin yang dimulai saat ia sukses menguasai Ghazna setelah ayah mertuanya Alp Tigin wafat. Alp Tigin adalah mantan jenderal Kekaisaran Samaniyah dari Balkh, di sebelah utara Hindu Kush diKhorasan Raya.
Meskipun dinasti ini berasal dari etnis Turki Asia Tengah, namun telah sangat terpengaruh Persia dalam bidang bahasa, budaya, sastra, serta adat kebiasaan, sehingga beberapa ahli memandangnya lebih sebagai suatu "dinasti Persia" daripada Turki.
Anak Sabuktigin, Mahmud dari Ghazni, mendeklarasikan independensinya dari Kekaisaran Samaniyah dan meluaskan wilayah Kekaisaran Ghaznawiyah hingga keAmu DaryaSungai Indus, dan Samudera Hindia di sebelah timur, dan ke Rey dan Hamadan di sebelah barat. Di bawah pemerintahan Mas'ud I, dinasti Ghaznawiyah mulai kehilangan kendali atas wilayah-wilayah baratnya kepada dinasti Seljuk setelah Pertempuran Dandanaqan, sehingga kekuasaannya menjadi terbatas pada wilayah yang saat ini adalah AfghanistanPunjab, Pakistan, dan Balochistan. Pada tahun 1151, Sultan Bahram Shah kehilangan Ghazni ke tangan Ala al-Din Husayn dari dinasti Ghuriyah.
Ibu kotaGhazna
(977–1163)
Lahore
BahasaPersia (bahasa istana dan bahasa resmi; lingua franca)
Arab (agama)
Dialek Turki (militer)
AgamaIslam Sunni
Bentuk PemerintahanKekaisaran
Sultan
 - 977–997Sabuktigin (pertama)
 - 1160–1186Khusrau Malik (terakhir)
Wazir
 - 998–1013Abu'l-Hasan Isfaraini(pertama tersebutkan)
 - 12th-centuryAbu'l-Ma'ali Nasrallah(terakhir tersebutkan)
Era sejarahAbad Pertengahan
 - Didirikan977
 - Dibubarkan1186
Luas
 - 1029 est.3.400.000 km²(1.312.747 mil²)


Perjalanan dinasti ghaznawiyah sangat kompleks,namun dinasti ini murupakan dinasti yang memantapkan posisinya di wilayah india,ghaznawiyah juga terkenal sebagai benteng terkuat sunny. Namun ada juga yang mengatakan dinasti ghaznawiyah didirikan Sebuktegin. Berdirinya ghaznawiyah tidak bias lepas dari peran dinasti samaniyah, dimana Sebuktegin turut aktif dalam membantunya seperti perlawanan terhadap simjur budak Ahmad ismail prenguasa ke tiga samaniah. Disela-sela membantu Ismail inilah Sebuktegin juga menaklukkan daerah sekitar sehingga secara tidak langsung Ia telah meletakkan dasar imperium. Adapun kepala negaranya yang sangat berperan  adalah Mahmud dengan alasan, (1) mampu menaklukkan wilayah Punjab, (2) keruntuhan samaniah mengunytungkan beliau sebagai kepala negera. Sehingga dapat dikatakan bahwa Sebuktegin, Mahmud dan Ibrahim merupakan kepala Negara ghaznawiyah yang memiliki andil yang cukup besar bagia eksistensinya.

Sedangkan keruntuhan ghaznawiyah sedikit banyak dipengaruhi oleh serangan dinasti Seljuk serta adanya perebutan kekuasaan diantara para pewaris pemerintahan. Konstribusi terbesarnya adalah mengenalkan Islam pada dataran India serta menjadi kubu pertahanan yang kuat bagi idiologi sunny.

http://perahujagad.blogspot.co.id/2014/09/dinasti-ghaznawiyah.html

              DINASTI GHAZNAWIYYAH

             1.      Sejarah Berdirinya
Ghaznawi adalah nama Dinasti Islam yang didirikan pada 977 M oleh Sebuktegin, seorang jenderal dari etnis Turki yang bertugas sebagai gubernur untuk wilayah Dinasti Samanid. Tidak seperti kebanyakan dinasti lain yang pada umumnya memiliki nama sesuai dengan nama para pendirinya, nama Ghaznawi dinisbahkan pada nama Kota atau nama daerah yang menjadi pusat pemerintahannya, yakni Ghazni, sebuah kota yang terletak didaerah Timur Afghanistan, kira-kira 145 km dari Kabul ke arah Barat Laut.
Sebelum dinasti Ghaznawi didirikan, Ghaznawi merupakan salah satu daerah yang masuk wilayah kekuasaan Dinasti Samanid yang diperintah oleh seorang Amir bernama Abdul Malik. Ketika ia meninggal, seorang komandan pasukan yang berhasal dari budak Turki untuk wilayah Khurasan, Alptigin, bersama Bal’ami (seorang Sejarawan terkenal), mencoba melibatkan diri dalam proses suksesi kekuasaan. Alptigin tidak setuju jika Manshur yang harus menggantikan Malik. Setelah usahanya gagal, kemudian Alptigin melarikan diri bersama sejumlah pasukan yang dipimpinnya dari Khurasan ke Ghazni. Disana, ia membangun kekuatan bersama pasukan yang berasal dari budak Turki untuk menghadapi kekuatan pasukan India. Pada masa itu, Alptigin, meskipun sudah menampakkan keinginannya untuk mendirikan dinasti yang merdeka, masih bertindak atas nama dinasti Samanid.
Setelah kematian Alptigin, menantu yang sekaligus pengawal pribadinya, Subektegin, menggantikan kedudukannya sampai ia meninggal pada tahun 997 M. Sebelum Sebuktegin meninggal, ia telah menunjuk anaknya, Ismail, untuk menggantikannya. Namun, pemerintahan Islamil tidak berusia lama karena setahun setelah penunjukkannya, saudara seayahnya, Mahmud, menakhlukkan kudeta. Mahmud memerintah dari 998-1030 M. Dialah orang yang paling bernilai berjasa bagi  dinasti Ghaznawi.

             2.      Perkembangan Dinasti Ghaznawiyyah
Mahmud Sebuktagin adalah pahlawan Islam dan disebut juga sebagai Iskandar Islam, yang tidak sedikit juga padam semangat dalam dadanya hendak menyiarkan Islam di negeri berhala itu. dan telah memulai penjarahan dan penakhlukannya itu pada tahun 1005 M. Mahmud Ghaznawi bukan saja termasyhur karena keahliannya dalam peperangan. Lebih dari pada itu pula kemasyhurannya sebagai pujangga, penyair dan pahlawan pedang dan pena.
Dibawah kepemimpinan Mahmud, wilayah kekuasaan Ghaznawi menjadi semakin luas. Ia memperluas wilayahnya dari bagian Barat Iran hingga bagian Barat India. Di Iran, ia merebut kota Rayy, Isfahan, dan Hamadan yang dikuasai dinasti Buwaihi. Secara politik, Mahmud berhasil menyatukan hampir seluruh daerah bekas dinasti Samanid. Namun demikian, sebagai sultan yang berasal dari seorang ibu yang berstatus budak, ia menyadari bahwa ia membutuhkan pengakuan dari seluruh kalangan masyarakat agar keberadaan dan statusnya benar-benar diakui. Terlebih lagi, saat itu ia akan menjadikan Ghaznawi sebagai dinasti yang betul-betul merdeka. Untuk menumbuhkan kepercayaan itu ia mencoba membangun Ghazni sebagai pusat kebudayaan. Dananya diperoleh dari berbagai daerah takhlukkan baru, khususnya dari India. Dengan usahanya tersebut ia berhasil membangun kepercayaan masyarakat bahwa ia adalah orang yang paling layak untuk menjadi sultan.
Antara tahun 1001 sampai 1024, Mahmud melakukan tidak kurang dari tujuh belas serangan ke India, yang diantaranya berhasil menduduki kawasan Punjab, dan pusat kotanya, Lahore dari penguasa Multan dan Sind. Disana ia berhasil menancapkan pengaruh Islam. Ia pun mendapat penghormatan, dan menjadi teladan mengungguli tokoh-tokoh sezamannya sebagai pemecah berhala sekaligus pahlawan besar dari kalangan Islam. Dalam sejarah Islam, dialah orang pertama yang menerima gelar al-ghazi kira-kira tahun 1001. Gelar ini dianugerahkan karena keistimewaannya dalam perang melawan kaum kafir.
Secara politik Mahmud berhasil menyatukan hampir seluruh daerah bekas Dinasti Samanid. Namun demikian, sebagai sultan yang berasal dari seorang ibu yang berstatus budak, ia menyadari bahwa, ia membutuhkan pengakuan dari seluruh kalangan masyarakat agar keberadaan dan status kesultanannya benar-benar diakui. Terlebih lagi, saat itu ia akan menjadikan Ghaznawi sebagai dinasti yang betul-betul merdeka. Mahmud juga menguasai Asia Tengah dan Persia. Ia telah merampas Iraq, Ray, dan Isfahan dari Dinasti Buwaihiyah. Dua gelar sakral dalam sejarah Islam, Yamin al-Dawlah dan Amin al-Millah, dan gelar sultan dijadikan Mahmud sebagai model ekspedisi ke berbagai wilayah di Asia tengah, termasuk menakhlukkan India. Mahmudlah orang pertama yang mendapat gelar sultan dari Khalifah Abbasiyah, Qader Billah.
Tidak lama setelah memperoleh gelar secara sakral tersebut Mahmud menulis surat kepada Khalifah untuk meminta izin menkhlukkan sisa wilayah Khurasan dan Khalifah mengizinkannya. Selanjutnya, sesudah menganeksasi seluruh Khurasan, Mahmud menulis surat lagi kepada khalifah agar dizinkan menyatukan Samarkan dengan wilayah kesatuannya.
Sangatlah besar perhatiannya terhadap perkembangan keilmuan dan mencintai sarjana dalam lapangan mereka masing-masing. Ghaznawi bukan saja menjadi benteng tempat mempertahankan kekuatan perang, tetapi pun menjadi tempat berkumpulnya ahli-ahli ilmu, ulama keagamaan, ahli fiqih dan bahasa, dan ahli tasawuf dan Falsafah.
             3.      Kemajuan yang dicapai

a.       Mahmud memperluas garis batas Barat wilayah kekuasaannya. Disini ia merebut Iraq-Persia, termasuk Rayy dan Isfahan, dari penguasa Buwaihiyah Syiah, yang ketika itu memegang kendali atas nama Khalifah di Baghdad. Sebagai seorang sunni Mahmud, sejak awal masa kejayaannya, mengakui kekuasaan formal Khalifah al Qadir (991-1031).
b.      Dia menghiasai ibukotanya dengan bangunan-bangunan megah, mendirikan dan mendanai sebuah akademi besar, serta menjadikan istananya yang luas sebagai tempat peristirahatan bagi para penyair dan ilmuan. Disana juga berkumpul para sastrawan jenius termasuk tokoh sejarawan Arab, al ‘utbi (w.1036), ilmuan penulis sejarah terkemuka al Biruni dan penyair Persia termasyhur Firdausi yang peringatan kelahirannya yang ke 1000 dirayakan pada 1934-1935 di Asia, Eropa dan Amerika. Ketika, Firdausy mempersembahkan karya eposnya yang terkenal,Syahnamah kepada Mahmud dan hanya menerima 60.000 dirham sebagai penghargaan atas 60.000 bait syairnya.
c.       Memperluasa wilayah kekuasaan dinasti Ghaznawi dari bagian barat Iran hingga bagian bagian barat India
d.      Membangun dinasti Ghoznawi sebagai pusat kebudayaan Islam dengan mendirikan membagun pusat dan lembaga studi,perpustakaan, masjid, serta mengundang para ilmuwan dan para sastrawan untuk tinggal di negerinya.\
e.       Dizaman Ghaznawi juga dua orang pujangga hebat bernama Badi’uz Zaman Al Hamdany dan Abu Bakar Al-Khawarizmiy. Pengaruh kedua orang tersebut dalam bidang sastra Arab sangatlah besar. Hamdany sendiri adalah seorang gubernur Sultan Mahmud di negeri Huraat.
f.       Pembantu baginda seorang wazir ialah seorang pujangga pula ia bernama Al Mayamandi. Pengarang Al ‘Utby mengarang sebuah kitab sejarah hidup Sultan Mahmud Sebuktagin.

             4.      Keruntuhan Dinasti Ghaznawiyyah
Sepeninggal Mas’ud III tahun 1115 perebutan kekuasaan yang memmbawa pada perang saudara dikalangan putranya terjadi lagi. Syirzad, anak pertama Mas’ud III, Belum genap setahun menduduki tahta kerajaan (1115-1116), sudah direbut oleh saudara kandungnya, Malik Arslan. Malik menyadari bahwa perbuatan itu akan mengundang perebutan kekuasaan lebih jauh. Karenanya Syirzad bersama beberapa saudaranya yang mendukungnya ditahan, namun seorang saudaranya bernama Bahram Syah, telah lebih dulu melarikan diri ke istana gubernur dinasti Seljuk di Khurasan. Dengan bantuan sultan said sanjar, kakak ibunya yang saat itu menjadi gubernur Seljuk untuk Khurasan., bahram kemudian membangun kekuatan untuk menggulingkan saudaranya, Malik.
Dalam rentang waktu kurang lebih dua tahun, telah terjadi beberapa kali peperangan saudara yang berakhir pada kemenangan pasukan Bahram. Sebelum berakhirnya pertempuran, bersenjataMalik sempat melarikan diri ke India untuk membangun kekuatan baru guna merebut kembali tahta dari tangan Bahram. Tetapi pasukanya tidak cukup kuat karena Bahram dibantu oleh kekuatan Seljuk atas perintah Sultan Said Sanjar, dan malik pun akhirnya tertangkap dan terbunuh.
Selama kepemimpinanya, Bahram pernah melakukan dua kali ekspedisi militer ke wilayah india, sepulang melakukan ekspedisi yang terakhir, terjadi perselisihan antara dirinya dan para pemimpin Gur, sampai-sampai menantunya sendiri yang berasal dari keluarga pangeran Gur yang bernama Qutbuddin Muhammad Guri dibunuh dengan cara diracun. Itulah awal dari perselisihan antara Bhram dan keluarga pangeran Gur.
Bahram syah pernah meninggalkan gazni dan pergi ke Lahore karena mendapat serangan dari saifudin yang merupakan kakak dari Qutbuddin Muhammad Guri, namun setelah Saifudin memimpin Gazni, masyarakat setempat tidak menyukainya, sampai akhirnya Bahram kembali ke Gazni dan dengan bantuan masyarakat Gazni  akhirnya ia kembali dapat menempati Gazni, sampai ia meninggal pada tahun 1157 M.
Setelah wafatnya Bahram, anaknya yang bernama Kusraw syah menggantikanya dan berharap dapat menghidupkan kembali dinasti Ghasnawi dengan meminta bantuan kepada Sultan Sanjar dari Seljuk. Namun keadaan Seljuk saat itu sudah mulai melemah. Ketika Kusraw Malik putra Kusraw Syah naik tahta, Ghasnawi tidak lagi di Gazni, tapi berada di Lahore. Ghazni sudah berada dalam kekuasaan orang-orang Ghuzz. Wilayah-wilayahnya juga sudah dalam genggaman Dinasti Ghuri. Kusraw Mali dengan sisa kekuatannya mencoba mempertahankan Ghaznawi dengan meminta bantuan kepada orang-orang Hindu. Akan tetapi tidak berhasil dan membuat Muhammad Ghuri semakin marah dan akhirnya ditangkap dan dipenjarakan bersama anaknya di Guristan sebelum keduanya terbunuh. Dengan terbuhnya Kusraw Malik, maka berakhirlah Dinasti Ghaznawi yang beraliran Sunni setelah berjalan selama dua abad.

              5.      Faktor-faktor Kejayaan

a.       Pada awalnya ketundukan kepada Allah SWT dengan cita-citanya mendakwahkan Islam dan memperteguh niatnya hendak menakhlukkan tanah India yang luas itu.  Hingga pada akhirnya mampu membawa Mahmud Ghznawi menjadi pemimpin yang agung.
b.      Mendapat dukungan, izin serta kepercayaan dari Khalifah Qader Billah untuk menakhlukkan serta menyebarkan Islam keberbagai wilayah.
c.       Mahmud adalah panglima yang kuat, serta orang yang tegas dalam pendirian serta mempunyai visi yang teguh. Terbukti saat ditawari penjaga kuil termasuk para Brahmana mengajukan atau menawarkan kepadanya agar ia tidak menghancurkan tempat penyembahan mereka dengan imbalan mengangkut 30.000 pasukan kuda, emas dan perak serta barang-barang berharga lainnya. Tawaran itu ditolak Mahmud dengan perkataan sendiri : man buth frush nist, bal buth sheken hastam. Artinya, “saya bukan penjual berhala, melainkan datang untuk menghancurkannya”. Peristiwa diatas hampir sama ketika keteguhan Rasululloh SAW saat berdakwah di Makkah. Ketika kaum kafir Quraisy mendatangi paman beliau Abu Thalib untuk meminta menghentikan aktivitas dakwah. Namun Nabi Muhammad tetap teguh meski diberikan iming-iming dengan harta, tahta, dan wanita.
               6.      Faktor-faktor Keruntuhan

a.       Adanya perselisihan internal dalam keinganannya menguasai Ghaznawi. Seperti yang terjadi adanya perselisihan putra Mahmud yakni Mas’ud dan Muhammad.
b.      Ketika Mas’ud menjadi pemimpin wilayah barat Ghaznawi rapuh. Adanya ketidakseimbangan Mas’ud dalam mengurusi wilayah kekuasaanya. Terbukti wilayah timur menjadi fokus perhatian sehingga wilayah barat diabaikan. Dan juga adanya ketidakmmapuan menjaga hubungan antar etnis
c.       Secara umum adanya kekacauan dalam hubungan kekeluargaan dalam urusan kekuasaan.
d.      Adanya serangan dari Muhammad Ghuri ke dalam wilayah Ghaznawi.
e.       Ghaznawi tidak ditopang kuat oleh angkatan bersenjata, dan tatkala tangan kuat yang mencengkeram pedang telah mundur, maka semuanya segera menemui kehancuran.

http://muslimhistorian.blogspot.co.id/2015/05/pembuka-dakwah-islam-oleh-dinasti.html

Dinasti Ghaznawiyah
(366-582 H)

Dinasti Ghaznawiyah juga merupakan salah satu dari beberapa dinasti yang memilih untuk melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas lebih detail mengenai dinasti ini.
            Nama Ghaznawiyah dinisbahkan kepada kota Ghaznah, sebuah daerah di Afghanistan sekarang. Keluarga Samani memiliki seorang budak Turki bernama Albatkin. Dengan potensi yang dimilikinya, Albatkin mendapatkan tempat di tengah para petinggi militer Samaniyah. Pada 349 H, ia diangkat Abdul Malik ibn Nuh sebagai wakilnya di wilayah Khurasan. Ia tetap menjadi penguasa Khurasan sampai akhirnya dipecat Manshur ibn Nuh. Albatkin lalu pulang ke Balkh. Dari Balkh, ia berhasil mengalahkan pasukan Manshur, lalu bertolak menuju Ghaznah. Ia pun menguasai dan menjadikannya tempat tinggal pada 351 H..
            Setelah meninggal, Albatkin digantikan oleh anaknya, Ishaq Ibrahim. Ishaq menjalin kerja sama dengan Manshur ibn Nuh untuk menggulingkan penguasa Ghaznah, dengan syarat Ishaq bersedia berada di bawah kekuasaan Samaniyah. Ketika Ishaq meninggal dan tidak mempunyai anak sebagai pengganti, kekuasaan Ghaznah dipegang sejumlah tokoh di sana hingga akhirnya dipegang Subuktukin pada 366 H. Subuktukin adalah salah seorang budak Turki yang pernah bekerja bersama Albatkin. Subuktukin berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya dari arah India. Meski demikian, ia tetap mengakui kekuasaan Samaniyah.
            Subuktukin pernah diminta bantuan oleh Nuh ibn Manshur al-Samani untuk menumpas gerakan pemberontakan di Bukhara. Ketika misi penumpasan selesai, Subuktukin diberi gelar Nashir al-Dawlah (pelindung negara) dan anaknya (Mahmud) diangkat sebagai panglima tinggi pasukan Khurasan dan bergelar Sayf al-Dawlah (pedang negara). Dinasti Ghaznawiyah, utamanya pada masa Raja Mahmud ibn Subuktukin, berjasa besar dalam menaklukkan sebagian besar wilayah India, selain memusnahkan kekuasaan Buwayhiyah di negeri Jabal dan Rayy. Mahmud merebut kota Quzwayn dan menyalib banyak penduduknya yang beraliran kebatinan. Ia juga mengusir kaum Muktazilah ke Khurasan dan membakar buku-buku filsafat, Muktazilah, dan astronomi. Ia memerangi kaum Turki Ghazz, menguasai Khurasan dan menghancurkan Samaniyah di sana. Dinasti Ghaznawiyah beraliran Ahlus Sunnah dan sangat loyal terhadap kekhalifahan Dinasti Abbasiyah.

Berikut ini nama-nama khalifah yang berkuasa di Dinasti Ghaznawiyah
  1. Subuktukin (366-387 H) 
  2. Ismail (387-388 H) 
  3. Mahmud (388-421 H) 
  4. Muhammad (421-421 H) 
  5. Mas’ud (421-432 H) 
  6. Mawdud (432-440 H) 
  7. Mas’ud (440-440 H) 
  8. Ali (440-444 H) 
  9. Abd al-Rasyid (444-444 H) 
  10. Fazfazad (444-451 H) 
  11. Ibrahim (451-492 H) 
  12. Mas’ud (492-508 H) 
  13. Syayrazad (508-509 H) 
  14. Arslan (509-512 H) 
  15. Bahram Syah (512-547 H) 
  16. Khasr Syah (548-555 H) 
  17. Khasr Malik (555-582 H)
Dinasti ini pun runtuh setelah diserang oleh Dinasti Ghawriyah.
http://elconquistador123.blogspot.co.id/2015/05/artikel-dinasti-ghaznawiyah.html

Dinasti Ghaznawiyah (977 M – )

Dinasti Ghaznawiyah (977 M – )

1. Wilayah dinasti Ghaznawiyah
Wilayah dinasti Ghaznawiyah meliputi Iran bagian timur, Afganistan, Pakistan dan beberapa wilayah bagian India. Pusat pemerintahannya di kota GhaznaAfganistan. Dinasti inilah yang mampu menembus sampai ke India menyebarkan agama Islam, menghancurkan berhala menggantikan kuil dengan masjid dan mampu berjaya sampai kurang lebih 220 tahun.

2. Pendiri Dinasti Ghaznawiyah
Pendiri dinasti Ghaznawiyah adalah Sabaktakin keturunan alptakin bangsa Turki, salah seorang pendiri kerajaan kecil di bawah naungan kerajaan bani Saman yang sedang berjaya. Pada tahun 961 M Raja bani Saman Abd Malik bin Nuh, mengangkat Alptakin menjadi Gubernur di Hirrah, Barat Laut Afganistan. Jabatan ini berakhir ketika rajanya meninggal dunia dan digantikan oleh Mansur bin Nuh. Oleh karena itu Alptakin bersama anak buahnya pergi menuju Ghazna dan menguasai wilayah itu pada tahun 962 M, dan menjadikan Ghazna sebagai basis perlawanan menghadapi Mansur bin Nuh.

3. Penguasa Dinasti Ghaznawiyah
Setelah Alptakin wafat digantikan oleh salah satu keturunanya yaitu Sabaktakin. Ia menjadi penguasa dinasti Ghaznawiyah pada tahun 977 M. Pada awalnya ia memiliki Khurasan sebagai hadiah dari raja Samani Nuh bin Mansur atas jasanya berhasil memadamkan pemberontakan di Transoxiana. Setelah menguasai Persi, Sabaktakin menguasai Pesyawar, kemudian Kabul dan wilayah India. Setelah berjuang selama 20 tahun Sabaktakin meninggal pada tahun 997 M. Walaupun berasal dari bangsa Turki namun ia dapat menyatukan kedua bangsa Turki dan Afganistan karena sama sama satu madhab yaitu ahlu sunnah wal jamaah.
Sabaktakin digantikan oleh putranya, Mahmud yang bergelar Mahmud Ghaznawi pada tahun 999 M, tetapi masih mengatasnamakan dinasti Samani sehingga ketika di Balkan terjadi pemberontakan terhadap dinasti Samani, Mahmud membantu Abd Malik bin Mansur raja Samani. Pada tahun 1004 M, Muntasir dinasti Samani terakhir mati terbunuh, kemudian Mahmud Ghaznawi secara resmi memperoleh pengakuan dari Khalifah Abasiyah Al-Qadir dan digelari Yamin al-Daulah .
Pemerintahan Mahmud Ghaznawi banyak diwarnai denga peperangan sebagai upaya memperluas wilayah kekuasannya terutama ke India. Pada tahun 1001 M Mahmud menaklukkan Kabul, Multan dan Kasmir. Di setiap daerah penaklukkan, ajaran Brahmanisme dikikis dan diganti dengan ajaran Islam. Tahun 1006 menguasai Punjab, Kangra, Balujistan, Delhi, Mathura, Kalijar, Sind, Makran, Kirman, Surat dan terakhir Gujarat. Untuk menmgendalikan kekuasaannya di India Mahmud mengangkat seorang gubernur yang berkedudukan di LahorePenaklukan India memerlukan waktu 24 tahun.

4. Peradaban Islam di dinasti Ghaznawiyah
a. Mahmud Ghaznawi adalah orang yang ahli dalam ilmu peperangan, pembangunan dan pengembangan ilmu.pecinta ilmu dan sangat menghormati sarjana
b. Kota Ghaznah bukan saja sebagai tempat pertahanan tetapi juga tempat berkumpulnya para ahli hukum, ulama, fuqaha, para ahli bahasa, tasawuf dan falsafah
c. Mahmud membangun istana di Afghan, Shal, membangun taman Sad Hasan, Istana Fazuri, membangun masjid yang megah dan indah di Ghazna yang terkenal dengan nama Arus al-Falaq, membangun sekolah yang dilengkapi dengan perpustakaan.
d. Mahmud membangun kandang besar berkapasitas 1000 ekor binatang
e. Mas`ud bin Mahmud membangun masjid yang megah dirancang sendiri pada tahun 1035 – 1036 M,
f. Dalam pengembangan ilmu, ia menghimpun para sarjana dan pujangga mereka ditempatkan di istananya, dibiayai dan didukung untuk mengembangkan ilmu dan penyelidikan ilmu, diantaranya adalah Al-Biruni dan Al-Firdausi.
g. Al-Biruni nama lengkapnya Abu al-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni, keturunan Iran. Lahir tahun 973 M di kota Kath , ibu kota Khawarizm, daerah Amu Darya sebelah selatan pantai laut Aral. Usia 24 tahun di kampung halamannya belajar kepada Abu Nasr Mansur bin Ali bin Irak Jilani(ahli matematika). Pernah tinggal di istana bani Saman pada masa Mansur II bin Nuh pada tahun 997 – 999 M, kemudian menetap di Jurja, ke Rayy dekar Teheran dan sejak itu al-Biruni mengeluarkan karya karyanya.
• Dialah sarjana pertama yang menemukan teori Perputaran bumi pada porosnya yang mengelilingi matahari, 600 tahun sebelum Galileo lahir.
• Al-Biruni lah yang menetapkan bahwa ketiga sudut dari segitiga besarnya 180 drajat.
• Al-biruni juga yang menetapkan dasar dasar ilmu ukur sudut.
• Di bidang astronomi ia dapat menemukan arah kiblat shalat secara cepat.
• Pada masa Mahmud Ghaznawi , al-Biruni ikut serta dalam ekspedisi militer ke India yang kemudian menghasilkan kitab Tarikh al-hind
• Al-Biruni mempersembahkan kitab karya utamanya al-Qanun al-Mas`udi fi al-haya wa an-Nujum kitab, ensiklopedi astronomi terlengkap yang mencakup antronomi, geografi, astrologi, dan beberapa matematika bangsa Greek, India, Babilonia, dan Persia.
• Kitab al-Jamahir fi Ma`rifat al-Jawahir (pengetahuan tentang batu permata) adalah Risalah mengenai mineralogi yang ditulis semasa Sultan Maudud bin Mas`ud
• Al-Biruni juga menulis abstraksi mengenai geometri, astronomi, aritmatika, dan astrologi pada kitab Tafhim li Awa`il sina`at at-Tanjim.
• Al-Biruni juga sangat ahli di bidang kedokteran farmasi, fisika, sejarah, geografi, kronologi, bahasa, pengamat adat istiadat dan seorang ulama besar pada zamannya.
h. Al-Firdausi (w 1020 M) adalah tokoh kebangkitan sastra Persia, ia penyair dari Tus atas dorongan bani Samani dan Mahmud Ghaznawi menyusun suatu epik Persia terkenal yang disebut Shah Nameh yang telah mulai digarap oleh penyair lain bernama Daqiqi yang mati terbunuh.Shah nemeh memuat kisah para raja dari legenda awal termasuk kerajaan Sasania. Dia juga mendorong perkembangan seni arsitektur dan seni seni lainnya.
i. Pada masa Mahmud dan Mas`ud tercatat ada beberapa ilmuwan seperti Bin al-Arraqi , bin al-Khammar, al-Marasyi (w 420 H), al-Utby ( w 427 H), dan al-Baihaqi, ketiganya penulis sejarah al-Furrakhi, al-Asyadi (penyair dalam bahasa Persi), dan penyair Arab terkenal Badi` al-Zaman al-Hamdani.
Sayang setelah Mas`ud bin Mahmud, sultan sultan Ghaznawiyah tidak ada yang kuat sehingga dinasti Ghaznawiyah mengalami kemunduran, melemah dan hancur.
https://zepriari98.blogspot.co.id/2016/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_17.html
       Dinasti Gaznawi
Abd Al-Malik Ibn Nuh (khalifah dari Dinasti Samani) mengangkat Alptigin untuk menjadi pengawal kerajaan. Karena kesetiaannya yang baik, ia diangkat menjadi gubernur (amir) Khurasan. Alptigin hanya setia kepada Abd Al-Malik Ibn Nuh. Ketika Abd Al-Malik wafat, ia tidak mentaati khalifah Dinasti Samani yang baru, yaitu Mansur Ibn Nuh (pengganti Abd Al-Malik Ibn Nuh. Pada tahun 963 M, Alptigin wafat dan digantikan oleh putranya, Ishak. Akan tetapi, kekuasaannya kemudian direbut oleh Baltigin, dan Baltigi digantikan oleh Firri: Firri kemudian diserang oleh sabuktigin dan ia berhasil menguasai Gazna [ada tahun 977 M. Sabuktigin dianggap sebagai pendiri Dinasti Gaznawi yang sebenarnya. Akan tetapi, Sabuktigin masih tunduk kepada Dinasti Samani, yaitu Nuh Ibn Mansur.
a.       Perluasan Wilayah
Dalam rangka maemperkuat Dinasti Gaznawi, Sabuktigin melakukan penaklukan wilayah di sekitarnya. Daerah-daerah yang ditaklukan Sabuktigin adalah Punjab (India), dan Kabul (Afganistan). Pada tahun 997, Sabuktigin wafat. Ia digantikan oleh anaknya Ismail. Akn tetapi kepemimpinan Ismail di kudeta oleh saudaranya Mahmud. Mahmud mulai memakai gelar Sultan (sebelumnya bergelar amir) dan menyatakan diri tunduk kepada khalifah Abbasiyah (Al-Kodir billah). Antara tahun 1001 hingga 1024 M, Mahmud Al-Gaznawi juga melakukan perluasan wilayah dengan menaklukan Lahore, Multan, dan sebagian daerah Sind. Setelah itu, ia menaklikan Gujarat (1025 M), Khawarizmi, Georgia, dan Rayy (1026 M). akhirnya kekuasaan Dinasti Gaznawi meliputi India Utara, Irak, Persia, Khurasan, Turkistan, sbagian Transoxiana, Sijistan, Tepi sugai Gangga, dan Punjab (sekarang kaistan).
b.      Kemajuan Ilmu Pengetahuan
Pada zaman kejayaan Al-Gaznawi, muncul sejumlah ulama yang memiliki karya besar. Diantara mereka adalah :
1.      Firdausi. Karyanya yang tebesar adalah Sah-nama (Kitab syair terdiri atas 60.000 bait).
2.      Al-Biruni. Ia adalah ahli matematika, astronomi, ilmu alam, dan sejarah. Ia adalah salah seorang ilmuwan yang mendapat perlindungan dari Mahmud Al-Gaznawi.

Mamud Al-Gaznawi meruoakan khalifah terbaik Dinasti Gaznawi. Pada tahun 1030 M Mahmud Al-Gaznawi wafat dan din gantikan oleh putranya Muhammad. Akan tetapi, kepemimpinan Muhammad ditolak oleh saudaranya Mas’ud, sehingga terjadi pertikaian diantara keduanya yang dimenangkan oleh Mas’ud.
http://syahrur23.blogspot.co.id/2015/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
                 DINASTI GHAZNAWIYYAH (351-585 H/962-1189 M)
Sejak tahun 850-an M, Kehalifahan Abbasiyah berusaha mencari orang-orang yang dapat dipercaya untuk dijadikan tentara. Mereka tidak memakai jasa orang Arab karena takut orang-orang tersebut akan berusaha merebut kekuasaan. Abbasiyah lalu merasa bahwa orang-orang Turk merupakan prajurit yang terpercaya. Maka dari itu orang-orang Abbasiyah mulai menangkap sejumlah pemuda Turk untuk dijadikan budak, lalu mendidik mereka menjadi tentara. Ternyata orang Turk terbukti menjadi prajurit yang handal. Namun seiring waktu orang-orang Turk itu mulai mengambil kekuasaan para khalifah Ababsiyah. Pada tahun 962 M, khalifah Ababsiyah memecat Alptigin, jenderal yang bertugas mengurus daerah Khurasan (Afghanistan modern).
Wilayah dinasti Ghaznawiyah meliputi Iran bagian timur, Afganistan, Pakistan dan beberapa wilayah bagian India. Pusat pemerintahannya di kota Ghazna Afganistan. Dinasti inilah yang mampu menembus sampai ke India menyebarkan agama Islam , menghancurkan berhala menggantikan kuil dengan masjid dan mampu berjaya sampai kurang lebih 220 tahun. Namun Alptigin tidak ikhlas dengan pemecatannya. Dia pun berangkat ke selatan dan merebut benteng Ghazni dari orang-orang Samaniyah yang sebelumnya menguasainya. Dia meninggal setahun kemudian namun anak buahnya berhasil merebut Afghanistan dan mendirikan pemerintahan mereka sendiri. Para prajruit ini dikenal sebagai Ghaznawiyah sesuai nama benteng mereka. Mereka lalu menaklukan Kabul pada tahun 977 M. Di bawah sultan agung Mahmud, cucu Alptigin, mereka merebut Herat dari kekuasaan Samaniyah pada tahun 1000 M, dan menguasai sebagian Persia (Iran modern) juga. Setelah itu pasukan Ghaznawiyah mulai menyerbu India.
Pada awalnya serbuan Sultan Mahmud ke India adalah untuk mendapatkan emas dan budak, serta untuk menghancurkan berhala-berhala di sana. Banyak kuil Hindu di India utara yang dihancurkan dalam serbuan ini, termasuk kuil Siwa yang terkenal di Gujarat. Mahmud memperoleh banyak sekali harta rampasan sehingga dia mampu membangun istana yang indah di Ghazni. Dia bahkan memiliki 2500 gajah di sana. Jika tiba musim dingin di Ghazni, Mahmud dan anak buahnya akan berpindah ke Bost menggunakan gajah. Namun pada akhirnya Mahmud menaklukan Punjab (Pakistan modern dan India utara) dan menjadikannya bagian dari kekuasaannya. Mamhmud memerintah sekitar 30 tahun sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1030 M. Dinasti Ghaznawiyah tidak bertahan lama setelah kematiannya. Pada tahun 1040 M, Ghaznawiyah ditaklukan oleh orang-orang Seljuk dan Ghuri.
http://kajianumum313.blogspot.co.id/2016/01/dinasti-dinasti-kecil-di-timur-baghdad.html


Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer