DINASTI THAHIRIYAH Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

DINASTI THAHIRIYAH(PERSIA)

Sejarah pembentukan Dinasti Thahiriah
            Setelah wafatnya Khalifah Harun Al-Rasyid daerah kekuasaan Daulah Abbasiyah mulai goyah dikarenakan factor-faktor internal antara lain karena terlalu luasnya khalifah memberi otonomi kepada kawasan yang ditaklukkannya sehingga kekuasaan-kekuasaan daerah yang seharusnya memperkuat pemerintahan pusat malah menjadikan desentralisasi sebagai cara untuk memperkuat kekuasaannya sendiri. Demikian juga dari segi factor eksternal dengan adanya invasi dari bangsa Mongol atau Tar-tar yang demikian dahsyat sebagai senjata pamungkas yang meluluhlantakkan kota Baghdad.
            Karena adanya berbagai kepentingan dari masyarakat di bagian Barat maupun di bagian Timur Baghdad sebagai ibu kota pemerintahan tidak dapat lagi mengakomudir dan mewujudkan kepentingan pemerintahan di daerah-daerah. Beberapa diantara kelompok kecil ini mengadakan perlawanan sehingga pada akhirnya berdiri dinasti-dinasti kecil di Barat seperti dinasti Thulun, Ikhsidiyah, dan dinasti Hamdaniyyah. Demikian juga di bagian Timur berdiri dinasti-dinasti kecil seperti dinasti Thahiriyah, dinasti Shafariyah, dinasti Ghaznawi, dan dinasti Samaniyah serta dinasti Buwaihi dan dinasti Seljuk.
Dinasti Thahiriyah ini didirikan oleh Thahir Ibn Husain (150-207 H/820-872M), seorang   yang berasal  dari Persia,    lahir di desa   Musanj   dekat   Marw di Khurasan. Ia adalah seorang Jenderal dengan jabatan Panglima tentara pada masa pemerintahan Al-Makmun Khalifah ke-7 yang berkuasa antara tahun 198-218H/813-833M. Beliau ini terkenal dengan sebutan Jenderal bermata satu tapi lihai menggunakan pedangnya karena Ia dijuluki oleh Khalifah Al-Makmun dengan gelaran Dzu Al-Yaminan, dan ada yang menggambarkannya bermata satu tetapi bertangan kanan dua. Khalifah Al-Makmun memberi kesempatan kepada Thahir Ibn Al-Husayn untuk memegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H, Kemudian dipercaya pula untuk mengendalikan wilayah Timur. Thahir Ibn Al-Husayn yang memerintah tahun 205-207H menjadikan kota Marw sebagai tempat kedudukan kegubernuran.
            Thahir muncul ketika pada masa pemerintahan Abbasiyah terjadi perselisihan antara kedua pewaris tahta kekhalifahan antara Muhammad Al-Amin yang memerintah tahun 194-198H/808-813M anak dari Harun Al-Rasyid dari istrinya yang keturunan Arab yang bernama Zubaidah sebagai pemegang kekuasaan di Baghdad dengan Abdullah Al-Makmun anak dari Harun Al-Rasyid dari Istrinya yang berketurunan Persia sebagai pemegang kekuasaan di wilayah sebelah Timur Baghdad. Dalam perselisihan itu Thahir yang terkenal sebagai ahli perang bermata satu berada dipihak Al-Makmun. Ia diutus oleh Al-Makmun memimpin pasukan sebanyak empat puluh ribu personel pasukan menghadapi pasukan dari pihak Al-Amin yang dipimpin oleh Ali bin Isa yang berkekuatan Lima puluh ribu personel. Pada peperangan ini pasukan Thahir mendapat kemenangan tepatnya di Rey kota dekat Teheran pada tahun 811M. Thahir juga dapat mengalahkan pasukan Al-Amin yang dikirim berikutnya dibawah kepemimpinan Ar-Rahman Al-Jabal. Melihat peluang yang baik ini Thahir mengarahkan pasukannya ke Baghdad, dengan bantuan Harsamah dan Zubair yakni dua Panglima yang dikirim oleh Al-Makmun, akhirnya Thahir dapat menaklukkan Baghdad setelah selama dua bulan dalam pengepungan pasukannya. Al-Amin sendiri   terbunuh   oleh salah    seorang pasukan    Thahir. Atas
            Kemenangan dan kemahiran Thahir dalam berperang Ia mendapat hadiah jabatan dari Al-Makmun Menjadi Gubernur di kawasan Timur Baghdad yakni Tahun 205H-207H/820-822M. Pada tahun 207H/822M Thahir meninggal dunia dengan tiba-tiba karena penyakit demam yang dideritanya. Persi lain menyatakan bahwa Ia meninggal karena keracunan.

Perkembangan Dan Kemajuan Dinasti Thahiriyah
            Setelah Thahir Ibnu Al-Husyein Wafat jabatan Gubernur dilimpahkan oleh Khalifah kepada anaknya yaitu Thallhah Ibnu Thahir yang memerintah selama enam tahun, yaitu tahun 207-213H. Pada masa pemerintahan Thalhah bin Thahir ini Ia berupaya meningkatkan hubungan kerja sama dengan pemerintah pusat.
            Didalam pemerintahan selanjutnya dapat digambarkan gubernur-gubernur yang berkuasa di daerah Khurasan selama dinasti Thahiriyah berkuasa sebagai berikut:
1. Tahun 820-822M            Gubernurnya           Emir Thahir Ibn Al-Husayn.
2. Tahun 822-817M            Gubernurnya           Emir Thalhah Ibn Thahir
3. Tahun 827-844M            Gubernurnya           Emir Abdullah Bin Thahir
4. Tahun 844-862M            Gubernurnya Emir Thahir Ibn Abdullah
5  Tahun 862-872M            Gubernurnya Emir Muhammad Ibn Thahir.

            Pada era pemerintahan gubernur di Khurasan di jabat oleh Abdullah Ibn Thahir telah berhasil mempertahankan hubungan baik dan setia dengan pemerintah Daulah Abbasiyah di Baghdad bahkan daerah Mesirpun diserahkan kepada penguasaan Abdullah Ibn Thahir pada tahun 210H yang pada masa itu sempat menimbulkan gejolak karena hubungan dekat dan kepercayaan yang diberikan oleh Al-Makmun yang cukup besar dan luas menjadi wilayah kekuasaan Abdullah Ibn Thahir bahkan sampai ke daerah Syria.
            Para ahli sejarah mengakui pada zaman Thahiriyah adalah dinasti yang telah memberikan sumbangan  dalam memajukan ekonomi, kebudayaan,    dan Ilmu pengetahuan Dunia Islam. Kota Naisabur berhasil bangkit menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan di Timur bahkan pada masa ini negeri khurasan menjadi dalam keadaan makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga mendukung kegiatan ilmu dan kebudayaan pada umumnya.

Masa Kemunduran Dinasti Thahiriyah

            Ada masa puncak tentu ada masa surut atau suatu era yang tidak selamanya lestari, karena kenaikan atau kemunduran sesuatu kekuasaan adalah sunnatullah. Maka pada tahun 213 H, wilayah kekuasaan Abdullah Ibn Thahir mulai dipereteli, khalifah Al-Ma’mun setelah Ia menguji kesetiaan Abdullah Ibn Thahir yang ternyata telah cenderung memihak musuh abadi Daulah Abbasiyyah, keturunan Ali Ibn Abi Thalib.
            Sesudah Abdullah Ibn Thahir, maka jabatan gubernur khurasan dipegang oleh saudaranya Muhammad Ibn Thahir, yang merupakan gubernur terakhir dari Daulah Thahiriyyah. Selanjutnya kekuasaannya menjadi lebih lemah, karena daerah kekuasaannya kawasan khurasan diambil alih (dianeksasi) oleh Bani Saffari melalui perjuangan bersenjata, adapu Dinasti Saffarimerupakan saingan Bani Thahiriyah di Sijistan.
            Walaupun beberapa kekuasaan atas wilayah-wilayahnya telah dikurangi oleh khalifah, namun Daulah Thahiriyyah ini terus juga memperluas wilayahnya dengan cara mempertahankan hubungan baik dengan Daulah Abbasiyyah serta saling membantu dalam menjalankan dan mengendalikan wilayah kekuasaannya. Akan tetapi Daulah Thahiriyyah di Khurasan mendekati masa masa kemunduran, tampaknya Bani Abbasiyyah mulai menunjukkan perubahan sikap. Kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Banu Saffari yang sudah menggerogoti dan melakukan infiltrasi, melancarkan intervensi dan invasinya untuk menguasai Khurasan.
            Dalam keadaan Daulah Thahiriyyah melemah, maka Bani Alawiyin dan pengikutnya di Tabaristan menggunakan peluang dengan melakukan gerakan perlawanan. Bersamaan pula dengan gerakan dari Bani Saffari yang terus mendesak kekuasaan Tahbari dari Selatan, maka pada tahun 259H Jatuh dan berakhirnya Daulah Thahiriyyah.
            Setelah kejatuhan Dinasti Thahiriyah Khalifah Abbasiyah tetap mengandalkan mereka untuk menjaga ketentraman dan kemajuan dunia Islam. Bahkan dengan pemanfaatan kekuatan yang ada pada Dinasti Thahiriyah yang tidak punya otonomi dalam kekuasaan mereka masih berhasil secara bersama-sama dengan Khalifah Bani Abbasiyah menguasai dan mengamankan wilayah sampai ke Turki yang para sultannya telah menyatakan kesetiaan dan ketaatan sebagai umat Islam yang tunduk di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah.
http://hadifauzan.blogspot.co.id/2015/08/dinasti-thahiriyah.html

SEJARAH DINASTI TAHIRIYAH

Dinasti Thahiriyah (205-295 H/820-870 M.)
Dinasti Thahiriyah adalah dinasti kecil yang muncul pada masa daulat Abbasiyah disebelah timur Bagdad, berpusat di Khurasan, dengan ibukota Naisabur, Didirikan oleh Thahir Ibn al-Husaen. Ia adalah keturunan Maula (klien) Persia. Ia adalah seorang panglima yang mendukung al-Ma'mun dalam perang saudara dalam menghadapi al-Amin. Setelah panglima Thahir dapat mengalahkan para pendukung al-Amin, ia diangkat oleh al-Ma'mun menjadi gubernur sebagai balas jaza.  Kehebatan panglima Thahir dengan kepiawaian kedua tangannya dalam peperangan semakin menambah keyakinan khalifah al-Ma'mun untuk mengangkat sebagai gubernur Khurasan dengan Naishabur sebagai kotanya. Kemenangan dan kemahirannya dalam berperang, sehingga al-Ma'mun memberi gelar Zual Yanainain (terampil)    
Pada masa itu di Khurasan terjadi pemberontakan oleh kaum khawarij yang meronrong kekuasaan khalifah dapat ditumpas oleh panglima Thahir. Dengan kelengkapan kemenanganya ini, khalifah al-Ma'mun memberikan sub-otonomi daerah Khurasan. Untuk meyakini hubungan dengan khalifah ia cukup membayar pajak tahunan.
Hal ini semakin memperkokoh kedudukan Thahir sebagai penguasa tunggal di Khurasan, sehingga menjadi sebuah dinasti dengan nama Thahiriyah. Ini merupakan dinasti pertama yang mendapat otonomi di daerah Timur Bagdad, yang dipegangnya selama dua tahun (205-207 H/ 820-822 M), karena ia meninggal disebabkan sakit demam yang dideritanya. Versi lain ia meninggal karena keracunan.
Gubernur penggantinya yaitu Talha bin Thahir, diangkat juga oleh khalifah al-Ma'mun. dia memegang kekuasaan di Khurasan sampai wafatnya tahun 213 H/828 M. dalam pemerintahanya ia berusaha meningkatkan kerjasama dengan pemerintah pusat. Pemegang kekuasaan berikutnya yaitu Abdullah bin Tahir, saudaranya sendiri. Pengangkatan ketiga oleh khalifah al-Ma'mun ini menunjukan bahwa keluarga Tahir memperoleh penghargaan dalam pemerintahan. Abdullah bin Tahir berusaha meningkatkan kerjasama dengan pemerintahan pusat di Baghdad (al-Ma'mun) terutama dalam menghadapi para pengacau dan pemberontak. Menjaga stabilitas  Bani Abbas sebagai penguasa, memperbaiki perekonomian, memantapkan keamanan, ilmu pengetahuan serta akhlak yang menjadi perioritas utamanya
Penguasa penggantinya yaitu Muhammad bin Thahir yang memerintah mulai pada tahun 248-259 H/864- 873 M. dinasti Tahiriyah mengalami kemunduran karena kapabelitas pemerintahannya lemah dia tidak seperti pendahulunya. Pada masa itu pula muncul suatu kekuatan baru, yaitu dari keluarga Saffar di Sajistan (Persia/Iran), dengan pimpinan Ya'qub bin Laits as-Saffar dan saudaranya Amru. Maka dengan demikian jatuhlah dinasti Thahiriyah dan Khurasan dikuasainya.
https://ansarbinbarani.blogspot.co.id/2015/11/dinasti-tahiriyah.html


DINASTI THAHIRIYAH

DINASTI THAHIRIYAH
Sejarah Dinasti Thahiri (200-259 H/820-872 M)


Dinasti ini didirikan oleh Thahir Ibn Husain (150-207 H), seorang yang berasal dari Persia, terlahir di desa Musanj dekat Marw, Ia diangklat sebagai panglima tentara pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Ia telah banyak berjasa membantu al-Ma’mun dalam menumbangkan Khalifah al-Amin dan memadamkan pemberontakan kaumAlwiyin di Khurasan. Pada mulanya, Al-Ma’mun memberikan kesempatan kepada Thahir untuk memegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H. Kemudian dipercaya pula untuk mengendalikan wilayah timur. Thahir Ibn Husain yang memerintah pada tahun 205-207 H, menjadikan kota Marw sebagai tempat kedudukan gubernur. Setelah ia wafat, jabatan gubernur dilimpahkan oleh khalifah kepada anaknya, yaitu Thalhah Ibn Thahir yang memerintah selama 6 tahun, yaitu sejak 207-213 H. Dalam redaksi lain, Philip K. Hitti menjelaskan pendirian dinasti ini sebagai berikut.


“The first to estabilished a quasi independent state east of Baghdad was the once trusted general of al-Ma’mun, Tahir Ibn Al-HUsayn of kurasan, who had victoriously led his masters army against Al-Amin. In This was the one-eyed Tahir is said to have used the sword so evectively with both hands that Al-Ma’mun. The descendeant of a Persian slave, Tahir waseast of Baghdad , with the centre of this power in Khurasan. Before his death two years later in his capital, Marw, Tahir had omitted mention of the caliph’s name in the Friday Prayer.”


Setelah Thalhah, kekuasaan berpindah ke tangan penerusnya, yaitu Abdullah Ibn Thahih dan merupakan pemegang jabatan gubernur Khurasan terlama (213-248 H). Selama memegang pemerintahan setingkat gubernur, Dinasti Thahiri mempertahankan hubungan baik dan setia kepada pemerintahan Abbasiyah di Baghdad. Bahkan, daerah mesir pun diserahkan oleh al-Ma’mun kepada penguasaan Abdullah Ibn Thahir pada tahun 210 H, yang pada waktu itu sempat menimbulkan gejolak. Karena hubungan dekat dan kepercayaan yang diberikan al-Ma’mun cukup besar, wilayah kekuasaan Abdullah diperluas sampai ke daerah Suriah dan Jazirah.
Pada tahun 213 H, Wilayah kekuasaan Abdullah Ibn Thahir dikurangi dan al-Ma’mun menyerahkan Suriah, Mesir, dan Jaaazirah kepada saudaranya sendiri, yaitu Abu IshakIbn Harun al-Rasyid. Hal ini dilakukan oleh al-Ma’mun setelah ia menguji kesetiaan Abdullah Ibn Thahir, yang diketahui ternyata cenderung memihak pada keturunan Ali Ibn Abi Thalib.
Sesudah Abdullah Ibn Thahir, jabatan gubernur Khurasan dipegang oleh saudaranya, yaitu Muhammad Ibn Thahir (248-259H). Ia merupakan gubernur terakhir dari keluarga Thahiri. Kemudian daerah Khurasan diambil alih oleh keluarga Saffari melalui perjuangan bersenjata. Keluarga Saffari merupakan saingan keluarga Thahiri di Sijistan.
Walaupun beberapa kekuasaan atas wilayah-wilayah mereka dikurangi oleh khalifah, mereka terus memperluas wilayahnya dengan cara mempertahankan hubungan baik dengan Khalifah Abbasiyah dan saling membantu dalam menjalankan Abbasiyah. Hal ini terbukti ketika al-Mu’tashim harus memerangi pemberontakan al-Maziyar Ibn Qarun dari Tabarristan. Abdullah Ibn Thahir turun tangan menyelesaikan dan menghancurkan al-Maziyah.
Akan tetapi, ketika Dinasti Thahiri di Khurasan mendekati masa kemunduran, tampaknya keluarga Abbasiyah menunjukkan perubahan sikap. Mereka mengalihkan perhatiannya kepada keluarga Saffari yang mulai menggerogoti dan melancarkan gerakan untuk menguasai Khurasan.
Dalam keadaan mulai melemah, keluarga dan pengikut Alawiyin di Thabaristan menggunakan kesempatanuntuk memunculkan gerakan mereka. Bersamaan dengan gerakan Saffari yang terus mendesak kekuasaan Tahbari dari arah selatan, pada tahun 259 H, jatuh dan berakhirlah dinasti Thahiri.
Para ahli sejarah mengakui bahwa pada zaman Thahiri, dinasti ini telah memberikan sumbangan dalam memajukan ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dunia Islam. Kota Naisabur berhasil bangkit menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan di timur. Pada masa itu, negeri Khurasan dalam keadaan makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga dapat mendukung kegiatan ilmu dan kebudayaan pada umumnya. Keadaan ini merupakan suasana yang menguntungkan bagi perkembangan seterusnya.
Kemudian, Dinasti Thahiri dapat diandalkan oleh Khalifah Abbasiyah untuk menjaga ketentraman dan kemajuan dfunia Islam. Mereka berhasil menguasai dan mengamankan wilayah sampai ke Turki yang para sultannya telah menyatakan kesetiaan dan ketaatan sebagai umat Islam yang tunduk di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah.
Dengan demikian, meskipun kekuasaan Thahiri dapat direbut oleh keluarga Saffari, selama kekuasaannya, mereka telah menyumbangkan sejumlah perluasan wilayah kekuasaan dunia Islam ke bagian timur.

Dinasti Thahiriyah didirikan oleh Thahir Ibn Husain (150-207 H), seorang yang berasal dari Persia, terlahir di desa Musanj dekat Marw, Ia diangklat sebagai panglima tentara pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Ia telah banyak berjasa membantu al-Ma’mun dalam menumbangkan Khalifah al-Amin dan memadamkan pemberontakan kaumAlwiyin di Khurasan. Pada mulanya, Al-Ma’mun memberikan kesempatan kepada Thahir untuk memegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H. Kemudian dipercaya pula untuk mengendalikan wilayah timur. Thahir Ibn Husain yang memerintah pada tahun 205-207 H, menjadikan kota Marw sebagai tempat kedudukan gubernur. Setelah ia wafat, jabatan gubernur dilimpahkan oleh khalifah kepada anaknya, yaitu Thalhah Ibn Thahir yang memerintah selama 6 tahun, yaitu sejak 207-213 H.

http://referensiagama.blogspot.co.id/2011/01/dinasti-thahiriyah.html

  DINASTI THAHIRIYAH
Dinasti Tahiriyah didirikan pada tahun 194 H./810 M. dengan ibu kota Nisabur. Nama dari Thahiri diambil dari nama pediri dari dinasti ini, yaitu Tahir bin Al-Husain. Ia adalah seorang penglima perang pasa masa pemerintahan khalifah Al-Ma’mun, yang berasal dari Persia, dari desa Musanj dekat Marw lah ia terlahir pada tahun 150 H. dan wafat pada 207 H. Thahir seorang penglima bergelar Dzu Al-Yaminain, artinya adalah yang mempunyai dua tangan kanan.pada tahun 194 H./810 M. ia ditinjuk oleh khalifah Al-Ma’mun sebagai panglima untuk memerangi saudaranya yaitu Al-Amin yang pada saat itu memberontak.
Karena berhasil memenangkan peperangan melawan pemberontakan serta ia juga mampu memedamkan pemberontakan kaum Alwiyin di Khurasan tersebut maka sebagai imbalannya, Thahir ditunjuk menjadi seorang gubernur Persia dan wilayah timur. Ia menjadikan kota  Marw sebagai tempat kedudukan gubernur.Setelah menjadi pemimpin dari tahun 205 H., ia pun wafat pada tahun 207 H., namun sebelum wafat, ia terlebih dahulu menghapus penyebutan nama khalifat Al-Ma’mun disetiap khutbah di hari jum’at sebagai pernyataan bahwa dinasti Thahiriyah telah merdeka dari kekuasaan dinasti Abbasiyah.
Setelah wafat pada tahun 207 H./822 M., Thahir menunjuk anaknya Talhah bin Tahir sebagai pengganti dirinya menjadi gubernur yang petuh kepada pemerintahan pusat yang berada di Baghdad. Wilayah kekuasaan dari dinasti ini adalah Khurasan, Persia.
Thalhah berkuasa sebagai gubernur selama enam tahun lamanya, ia wafat 213 H./828 M., kemudian kekuasaan diambil alih oleh saudaranya, ‘Abdullah bin Thahir. ‘Abdullah memegang kekuasaan sebagai gubernur dalam waktu yang lama yaitu tahun 213 H.-248 H. Khalifah Al-Ma’mun dari Bani Abbasiyah, begitu dekat dan percaya terhadap dinasti Thahiriyah, maka ‘Abdullah dapar memperluas kekuasaan hingga kedaerah Suriah dan Jazirah. Namun tidak lama kemudian, Al-Ma’mun menguji kesetiaan ‘Abdullah bin Thahir kepada dirinya ataukah lebih memihak pada keturunan Ali bin Abi Thalib, namun pada kenyataannya ‘Abdullah bin Thahir lebih memihak pada keturunan Ali bin Abi Thalib, setelah mengetahui hal tersebut, maka Al-Ma’mun langsung mengurangi wilayah kekuasaan ‘Abdullah dan Al-Ma’mun pun menyerahkan Suriah, Meris dan Jazirah kepada saudaranya, yaitu Abu Ishak bin Harun Al-Rasyid.
Setelah ‘Abdullah turun dati tahta kekuasaannya sebagai gubernur, yang menggantikannya sebagai pemimpin adalah Muhammad bin Thahir sejak 248 H.-259 H. ia sekaligus sebagai gubernur terakhir dari keluarga Thahiri, yang kemudian daerah kekuasaan mereka yaitu Khurasan diambil alih oleh keluarga Saffari lewat peperangan.
Meskipun wilayah kekuasaan dinasti Thahiriyah dikurangi oleh khalifah Al-Ma’mun, mereka tetap terus memperluas wilayah kekuasaanya dengan cara mempertahankan hubungan baik dengan khalifah Abbasiyah serta saling membantu dalam menjalankan pemerintahan Abbasiyah. Wilayah kekuasaan dari dinasti Thahiriyah semasa ‘Abdullah menjadi gubernur adalah sebelah timur Iran sampai ke perbatasan India, dan disebelah utara sampai ke batas wilayah kekuasaan dinasti Abbasiyah, termasuk juga Khurasan. Walaupun dinasti Thahiriyah hanya merupakan berbentuk gubernurat dari dinasti Abbasiyah, akan tetapi, mereka memiliki kekuasaan yang kuat di Khurasan.
Khalifah Al-Watsiq menunjuk Ishaq bin Ibrahim Al-Mus’abi sebagai gubernur Khurasan setelah gubernur sebelumnya yaitu ‘Abdullah, meninggal dunia. Namun, sebelum Ishaq naik ke kursi kekuasaannya sebagai gubernur, hal itu dubatalkan oleh khalifah Al-Watsiq dan kemudian Tahir bin ‘Abdullah bin Tahir atau Tahir II menyatakan dirinya sebagai gubernur baru, menggantikan ayahnya, ‘Abdullah bin Tahir. Sementara Tahir II menjadi gubernur, lain halnya dengan putra dari ‘Abdullah yang lain, yaitu Muhammad, ia menjabat sebagai komandan tentara. Ketika saudaranya Tahir II wafat, ia menolak untuk dating ke Khurasan karena ia sudah menyangka bahwa kekuasaan sebagai gubernur yang kosong sepeninggal Tahir II akan Tahir II berikan kepada putranya, Muhammad bin Tahir II. Namun dibawah kekuasaan Muhammad, dinasti Thahiriyah berada di ambang kehansuran karena Muhammad merupakan seorang penguasa yang lemah. Ia sempat ditawan oleh Ya’qub bin Laits (pendiri dinasti Saffariyah) pada 262 H./876 M. di Dair Al-Aqul, setelah dibebaskan oleh Ya’qub, khalifah Abbasiyah kembali mempercayakan ia menjabat sebagai gubernur di Khurasan. Ia wafat pada 259 H./873 M. sehingga perjuangan untuk mendirikan kembali dinasti Thahiriyah yang hamper runtuh dilakukan oleh saudaranya yaitu Husain bin Tahir. Dengan berbagai macam usaha dan upaya Husain untuk membangun dinasti Thahiriyah tidak ada hasilnya sehingga dinasti Thahiriyah jatuh pada tahun ke-65 kekuasaannya dan digantikan oleh dinasti Saffariyah.
http://khairiyamaputri.blogspot.co.id/2014/02/dinasti-thahiriyah-dan-saffariyah.html

DINASTI THAHIRIYAHSejarah Dinasti Thahiri (200-259 H/820-872 M)

Dinasti ini didirikan oleh Thahir Ibn Husain (150-207 H), seorang yang berasal dari Persia, terlahir di desa Musanj dekat Marw, Ia diangklat sebagai panglima tentara pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Ia telah banyak berjasa membantu al-Ma’mun dalam menumbangkan Khalifah al-Amin dan memadamkan pemberontakan kaumAlwiyin di Khurasan. Pada mulanya, Al-Ma’mun memberikan kesempatan kepada Thahir untuk memegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H. Kemudian dipercaya pula untuk mengendalikan wilayah timur. Thahir Ibn Husain yang memerintah pada tahun 205-207 H, menjadikan kota Marw sebagai tempat kedudukan gubernur. Setelah ia wafat, jabatan gubernur dilimpahkan oleh khalifah kepada anaknya, yaitu Thalhah Ibn Thahir yang memerintah selama 6 tahun, yaitu sejak 207-213 H. Dalam redaksi lain, Philip K. Hitti menjelaskan pendirian dinasti ini sebagai berikut.

“The first to estabilished a quasi independent state east of Baghdad was the once trusted general of al-Ma’mun, Tahir Ibn Al-HUsayn of kurasan, who had victoriously led his masters army against Al-Amin. In This was the one-eyed Tahir is said to have used the sword so evectively with both hands that Al-Ma’mun. The descendeant of a Persian slave, Tahir waseast of Baghdad , with the centre of this power in Khurasan. Before his death two years later in his capital, Marw, Tahir had omitted mention of the caliph’s name in the Friday Prayer.”

Setelah Thalhah, kekuasaan berpindah ke tangan penerusnya, yaitu Abdullah Ibn Thahih dan merupakan pemegang jabatan gubernur Khurasan terlama (213-248 H). Selama memegang pemerintahan setingkat gubernur, Dinasti Thahiri mempertahankan hubungan baik dan setia kepada pemerintahan Abbasiyah di Baghdad. Bahkan, daerah mesir pun diserahkan oleh al-Ma’mun kepada penguasaan Abdullah Ibn Thahir pada tahun 210 H, yang pada waktu itu sempat menimbulkan gejolak. Karena hubungan dekat dan kepercayaan yang diberikan al-Ma’mun cukup besar, wilayah kekuasaan Abdullah diperluas sampai ke daerah Suriah dan Jazirah.
Pada tahun 213 H, Wilayah kekuasaan Abdullah Ibn Thahir dikurangi dan al-Ma’mun menyerahkan Suriah, Mesir, dan Jaaazirah kepada saudaranya sendiri, yaitu Abu IshakIbn Harun al-Rasyid. Hal ini dilakukan oleh al-Ma’mun setelah ia menguji kesetiaan Abdullah Ibn Thahir, yang diketahui ternyata cenderung memihak pada keturunan Ali Ibn Abi Thalib.
Sesudah Abdullah Ibn Thahir, jabatan gubernur Khurasan dipegang oleh saudaranya, yaitu Muhammad Ibn Thahir (248-259H). Ia merupakan gubernur terakhir dari keluarga Thahiri. Kemudian daerah Khurasan diambil alih oleh keluarga Saffari melalui perjuangan bersenjata. Keluarga Saffari merupakan saingan keluarga Thahiri di Sijistan.
Walaupun beberapa kekuasaan atas wilayah-wilayah mereka dikurangi oleh khalifah, mereka terus memperluas wilayahnya dengan cara mempertahankan hubungan baik dengan Khalifah Abbasiyah dan saling membantu dalam menjalankan Abbasiyah. Hal ini terbukti ketika al-Mu’tashim harus memerangi pemberontakan al-Maziyar Ibn Qarun dari Tabarristan. Abdullah Ibn Thahir turun tangan menyelesaikan dan menghancurkan al-Maziyah.
Akan tetapi, ketika Dinasti Thahiri di Khurasan mendekati masa kemunduran, tampaknya keluarga Abbasiyah menunjukkan perubahan sikap. Mereka mengalihkan perhatiannya kepada keluarga Saffari yang mulai menggerogoti dan melancarkan gerakan untuk menguasai Khurasan.
Dalam keadaan mulai melemah, keluarga dan pengikut Alawiyin di Thabaristan menggunakan kesempatanuntuk memunculkan gerakan mereka. Bersamaan dengan gerakan Saffari yang terus mendesak kekuasaan Tahbari dari arah selatan, pada tahun 259 H, jatuh dan berakhirlah dinasti Thahiri.
Para ahli sejarah mengakui bahwa pada zaman Thahiri, dinasti ini telah memberikan sumbangan dalam memajukan ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dunia Islam. Kota Naisabur berhasil bangkit menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan di timur. Pada masa itu, negeri Khurasan dalam keadaan makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga dapat mendukung kegiatan ilmu dan kebudayaan pada umumnya. Keadaan ini merupakan suasana yang menguntungkan bagi perkembangan seterusnya.
Kemudian, Dinasti Thahiri dapat diandalkan oleh Khalifah Abbasiyah untuk menjaga ketentraman dan kemajuan dfunia Islam. Mereka berhasil menguasai dan mengamankan wilayah sampai ke Turki yang para sultannya telah menyatakan kesetiaan dan ketaatan sebagai umat Islam yang tunduk di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah.
Dengan demikian, meskipun kekuasaan Thahiri dapat direbut oleh keluarga Saffari, selama kekuasaannya, mereka telah menyumbangkan sejumlah perluasan wilayah kekuasaan dunia Islam ke bagian timur.

KESIMPULANDINASTI THAHIRIYAH
Dinasti Thahiriyah didirikan oleh Thahir Ibn Husain (150-207 H), seorang yang berasal dari Persia, terlahir di desa Musanj dekat Marw, Ia diangklat sebagai panglima tentara pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Ia telah banyak berjasa membantu al-Ma’mun dalam menumbangkan Khalifah al-Amin dan memadamkan pemberontakan kaumAlwiyin di Khurasan. Pada mulanya, Al-Ma’mun memberikan kesempatan kepada Thahir untuk memegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H. Kemudian dipercaya pula untuk mengendalikan wilayah timur. Thahir Ibn Husain yang memerintah pada tahun 205-207 H, menjadikan kota Marw sebagai tempat kedudukan gubernur. Setelah ia wafat, jabatan gubernur dilimpahkan oleh khalifah kepada anaknya, yaitu Thalhah Ibn Thahir yang memerintah selama 6 tahun, yaitu sejak 207-213 H.
DINASTI THAHIRIYAH http://imam-murtaqi-online.blogspot.co.id/2012/04/dinasti-thahiriyah.html
        Dinasti Thahiri (200—259 H./820-872 M.)
Sebelum meninggal, Harun al-Rasyid telah menyiapkan dua anaknya yang diangkat menjadi putra mahkota untuk menjadi khalifah : Al-Amin dan al-Ma’mun. al-Amin dihadiahi wilayah bagian barat; sedangkan al-ma’mun dihadiahi wilayah bagian timur. Setelah Harun al-Rasyid wafat (809 M), al-Amin putra mahkota tertua tidak bersedia membagi wilayahnya dengan al-Ma’mun. oleh karena itu, pertempuran dua bersaudara terjadi yang akhirnya dimenangi oleh al-Ma’mun, setelah perang usai, al-Ma’mun menyatukan kembali wilayah Dinasti Bani Abbas. Untuk keperluan itu, ia didukung oleh Tahir panglima militer, dan saudaranya sendiri, yaitu al-Mu’tashim.
Sebagai imbalan jasa, Tahir diangkat menjadi panglima tertinggi tentara Bani Abbas dan Gubernur Mesir (205 H). wilayah kekuasaannya kemudian diperluas sampai ke Khurasan (820-822 M) dengan janji bahwa jabatan itu dapat diwariskan pada anak-anaknya.
Dinasti ini didirikan oleh Thahir Ibn Husain (150-207 H), seorang yang berasal dari Persia, terlahir di desa Musanj dekat Marw. Ia diangkat sebagai panglima tentara pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. ia telah banyak berjasa membantu Al-Ma’mun dalam menumbangkan Khalifah Al-Amin dan memadamkan pemberontakan kaum Alwiyin di Khurasan. Pada mulanya, Al-Ma’mun memberikan kesempatan kepada Thahir untuk memegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H. kemudian dipercaya pula untuk mengendalikan wilayah timur. Thahir Ibn Husain yang memerintah pada tahun 205-207 H, menjadikan kota Marw sebagai tempat kedudukan gubernur. Setelah ia wafat, jabatan gubernur dilimpahkan oleh khalifah kepada anaknya, yaitu Thalhah Ibn Thahir yang memerintah selama 6 tahun, yaitu sejak 207-213 H.
Setelah Thalhah, kekuasaan berpindah ke tangan penerusnya, yaitu Abdullah Ibn Thahih dan merupakan pemegang jabatan gubernur Khurasan terlama (213-248 H). selama memegang pemerintahan setingkat gubernur. Dinasti Thahiri mempertahankan hubungan baik dan setia kepada pemerintahan Abbasiyah di Baghdad. Bahkan, daerah Mesir pun diserahkan oleh Al-Ma’mun kepada penguasaan Abdullah Ibn Thahir pada tahun 210 H. yang pada waktu itu sempat menimbulkan gejolak. Karena hubungan dekat dan kepercayaan yang diberikan Al-Ma’mun cukup besar, wilayah kekuasaan Abdullah diperluas sampai ke daerah Suriah dan Jazirah.
Pada tahun 213 H. wilayah kekuasaan Abdullah Ibn Thahir dikurangi dan Al-ma’mun menyerahkan Suriah, Mesir, dan Jazirah kepada saudaranya sendiri, yaitu Abu Ishak Ibn Harun Ar-Rasyid.
Sesudah Abdullah Ibn Thahir, jabatan gubernur Khurasan depegang oleh saudaranya, yaitu Muhammad Ibn Thahir (248-259 H). ia merupakan gubernur terakhir dari keluarga Thahiri. Kemudian daerah Khurasan diambil alih oleh keluarga Saffari melalui perjuangan bersenjata. Keluarga Saffari merupakan saingan kaluarga Thahiri di Sijistan.
Akan tetapi, ketika Dinasti Thahiri di Khurasan mendekati masa kemunduran, tampaknya keluarga Abbasiyah menunjukkan perubahan sikap. Mereka mengalihkan perhatiannya kepada keluarga Saffari yang mulai menggerogoti dan melancarkan gerakan untuk menguasai Khurasan.
Dalam keadaan mulai melemah, keluarga dan pengikut Alawiyin di Tabaristan menggunakan kesempatan untuk memunculkan gerakan mereka. Bersamaan dengan gerakan Saffari yang terus mendesak kekuasaan Tahbari dari arah selatan, pada tahun 259 H, jatuh dan berakhirlah Dinasti Thahiri. 
http://syahrur23.blogspot.co.id/2015/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

       DINASTI THAHIRIYYAH (205-259 H. /820-872 M.)
a.      Sejarah Berdirinya
Thahiriyyah adalah merupakan salah satu dinasti yang muncul pada masa Daulah Abbasiyah di sebelah timur Baghdad, berpusat di Khurasan dengan ibu kota Naisabur. Dinasti ini didirikan oleh Thahir ibn Husein pada 205H/821 M di Khurasan,dinasti ini bertahan hingga tahun 259 H/873 M.
Thahir muncul pada saat pemerintahan Abbasiyah terjadi perselisihan antara kedua pewaris tahta kekhalifahan antara Muhammad al-Amin (memerintah 194-198 H/809-813 M ), anak Harun ar-Rasyid dari istrinya yang keturunan Arab (Zubaidah) sebagai pemegang kekuasaan di Baghdad dan Abdullah al-Makmun anak Harun ar-Rasyid dari istrinya yang keturunan Persia, sebagai pemegang kekuasaan di wilayah sebelahtimur Baghdad.
Thahir ibn Husein merupakan seorang jenderal pada masa khalifah Dinasti Abbasiyah yang lahir di desa Musanj dekat Marw dan Harrah, Khurasan, Persia bernama Mash’ab ibn Zuraiq. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan antara pemerintah Abbasiyah di Baghdad dengan keluarga Thahir sudah terjalin sejak lama. Karena itu cukup beralasan bila pemerintah Baghdad memberikan kepercayaan kepada generasi keluarga Mash’ab ibn Zuraiq untuk melanjutkan estafeta kepemimpinan lokal. Tujuannya tetap sama, menjaga keutuhan wilayah kekuasaan Islam Abbasiyah di wilayah Timur kota Baghdad dan menjadi pelindung dari berbagai kemungkinan serangan negara-negara tetangga di Timur.
Sebenarnya, latar belakang kemunculan dinasti ini diawali oleh peristiwa perebutan kekuasaan  antara al-Makmun dengan al-Amin. perseteruan tersebut terjadi setelah khalifah Harun ar-Rasyid meninggal dunia pada 809 M. Perseteruan tersebut akhirnya dimenangkan al-Makmun, dan Thahir berada pada pihak yang menang. Peran Thahir yang cukup besar dalam pertarungan itu dengan mengalahkan pasukan al-Amin melalui kehebatan dan kelihaiannya bermain pedang membuat al-Makmun terpesona. Sebagai bentuk penghargaanatas jasanya itu, al-Makmun memberinya gelar abu al-Yamain atau Zu al-Yaminain ( trampil ), bahkan diberi gelar si mata tunggal, dengan kekuatan tangan yang hebat (minus one eye, plus an extra right arm). Selain itu, Thahir juga diberi kepercayaan untuk menjadi gubernur di Khurasan pada tahun 205 H, jabatan ini diberikan oleh al-Makmun sebagai balasan atas jerih payahnya dalam medan perang.
Jabatan ini merupakan peluang bagus baginya untuk meniti karir politik pemerintahan pada masa itu. Jabatan dan prestasi yang diraihnya ternyata belum memuaskan baginya, karena ia mesti tunduk berada di bawah kekuasaan Baghdad. Untuk itu, ia menyusun strategi untuk segera melepaskan diri dari pemerintahan
Baghdad. Di antaranya dengan tidak lagi menyebut nama khalifah dalam setiap kesempatan dan mata uang yang di buatnya. Ambisinya untuk menjadi penguasa lokal yang independen dari pemerintahan Baghdad tidak terealisir, karena ia keburu meninggal pada 207 H. Setelah lebih kurang 2 (dua) tahun menjadi gubernur (205-207 H). Meskipun begitu, khalifah Bani Abbas masih memberikan kepercayaan kepada keluarga Thahir untuk memegang jabatan gubernur di wilayah tersebut. Terbukti setelah Thahir meninggal, jabatan gubernur diserahkan kepada putranya bernama Thalhah ibn Thahir.
b.      Kemajuan-kemajuan yang dicapai
Dinasti Thahiriyyah mengalami masa kemajuan ketika pemerintahan di pegang oleh Abdullah ibn Thahir, saudara Thalhah. Abdullah memiliki kekuasaan dan pengaruh yang cukup besar, belum pernah hal ini dimiliki oleh para Wali sebelumnya. Ia terus menjalin komunikasi dan kerjasama dengan Baghdad sebagai bagian dari bentuk pengakuannya terhadap peran dan keberadaan khalifah Abbasiyah. Perjanjian dengan pemerintah Baghdad yang pernah dirintis ayahnya, Thahir ibn Husein, terus ditingkatkan. Peningkatan keamanan di wilayah perbatasan terus dilakukan guna menghalau pemberontak dan kaum perusuh yang mengacaukan pemerintahan Abbasiyah. Setelah itu, ia berusaha melakukan perbaikan ekonomi dan keamanan. Selain itu, ia juga memberika ruang yang cukup luas bagi upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan perbaikan moral atau akhlak di lingkungan masyarakatnya di wilayah Timur Baghdad. Dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dunia islam, kebuadayaan dan memajukan ekonomi, dinasti ini menjadikan kota Naisabur sebagai pusatnya, sehingga pada masa itu, negeri Khurasan dalam keadaan makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik. Adanya pertumbuhan ekonomi yang baik inilah yang sangat mendukung terhadap kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan pada umumnya.
c.       Masa-masa kemunduran
Dalam perjalanan selanjutnya, dinasti ini justru tidak mengalami perkembangan ketika pemerintahan dipegang oleh Ahmad ibn Thahir (248-259 H), saudara kandung Abdullah ibn Thahir, bahkan mengalami masa kemesrosotan. Faktornya antara lain ;
Pemerintahan ini dianggap sudah tidak loyal terhadap pemerintah Baghdad, karenanya Baghdad memanfaatkan kelemahan ini sebagai alasan untuk menggusur dinasti Thahiriyah dan jabatan strategis diserahkan kepada pemerintah baru, yaitu dinasti Saffariyah.
Pola dan gaya hidup berlebihan yang dilakukan para penguasa dinasti ini. Gaya hidup seperti itu menimbulkan dampak pada tidak terurusnya pemerintahan dan kurangnya perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban islam.
Keamanan dan keberlangsungan pemerintahan tidak terpikirkan secara serius, sehingga keadaan ini benar-benar dimanfaatkan oleh kelompok lain yang memang sejak lama mengincar posisi strtegis di pemerintahan lokal, seperti kelompok Saffariyah. Kelompok baru ini mendapat kepercayaan dari pemerintah Baghdad untuk menumpas sisa-sisa tentara dinasti Thahiriyah yang berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Baghdad dan melakukan makar. Dengan demikian, berakhirlah masa jabatan dinasti Thahiriyah yang pernah menjadi kaki tangan penguasa Abbasiyah di wilayah Timur kota Baghdad.
Dalam perjalanan selanjutnya, dinasti ini justeru tidak mengalami perkembangan ketika pemerintahan dipegang oleh Ahmad ibn Thahir (248-259 H), saudara kandung Abd Allah ibn Thahir, bahkan mengalami masa kemerosotan. Faktornya antara lain, adalah pemerintahan ini dianggap sudah tidak loyal terhadap pemerintah Bagdad, karenanya Bagdad memanfaatkan kelemahan ini sebagai alasan untuk menggusur dinasti Thahiriyah dan jabatan strategis diserahkan kepada pemerintah baru, yaitu dinasti Saffariyah. Muhammad ibn Thahir II memiliki kemampuan yang rendah dibandingkan pendahulu-pendahulunya, pada tahun 259H/873 M dia menyerahkan Nisyapur kepada Ya’qub ibn Layts. Pada tahun 271H/885 M dia ditunjuk kembali menjadi gubernur, namun tidak pernah menjalankan jabatan itu dengan baik, dan dia meninggal pada awal abad kesepuluh.
 Faktor lain penyebab kemuduran dan kehancuran dinasti Thahiriyah adalah pola dan gaya hidup berlebihan yang dilakukan para penguasa dinasti ini. Gaya hidup seperti itu menimbulkan dampak pada tidak terurusnya pemerintahan dan kurangnya perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Selain itu, persoalan keamanan dan keberlangsungan pemerintahan juga tidak terpikirkan secara serius, sehingga keadaan ini benar-benar dimanfaatkan oleh kelompok lain yang memang sejak lama mengincar posisi strategis di pemerintahan lokal, seperti kelompok Saffariyah. Kelompok baru ini mendapat kepercayaan dari pemerintah Bagdad untuk menumpas sisa-sisa tentara dinasti Thahiriyah yang berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Bagdad dan melakukan makar. Dengan demikian, berakhirlah masa jabatan dinasti Thahiriyah yang pernah menjadi kaki tangan penguasa Abbasiyah di wilayah Timur kota Bagdad.
http://kajianumum313.blogspot.co.id/2016/01/dinasti-dinasti-kecil-di-timur-baghdad.html



Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer