DINASTI AGHLABIYAH Masa Disintegrasi Dinasti Abbasiyah

DINASTI AGLABIYAH (BANI TAGLIB) (800-909)
1. Sejarah Terbentuknya
Dinasti Aglabiyah didirikan oleh Ibrahim bin Aglab yang diberi otonomi wilayah di Ifriqiyyah (yang sekarang disebut Tunisia dan propinsi Tripoli – Libiya), oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Tujuan didirikannya ialah antara lain untuk meredam meluasnya kekuasaan Rustamiyah yang Khawarij agar tidak meluas ke Timur. Karena jauhnya wilayah Aglab dari pusat Abbasiyah, maka kekuatannya betambah besar sehingga tidak terkontrol lagi oleh pusat. Para penguasanya adalah keturunan al-Aglab atau bani Taglib, seorang Khurasan yang menjadi perwira dalam tentara Dinasti Abbasiyah. 
Ketika Bagdad diperintah oleh Khalifah Harun al-Rasyid, di bagian barat Afrika Utara terdapat dua bahaya besar yang mengancam kewibawaannya. Pertama, dari Dinasti Idrisiyah yang beraliran Syi’ah, dan kedua dari golongan Khawarij. Adanya kedua ancaman tersebut telah mendorong al-Rasyid menempatkan balatentaranya di Ifriqiyah di bawah pimpinan Ibrahim bin al-Aglab. 
Wilson menyebutkan, bahwa ketika Idris II dari Maroko masih kecil dan didukung oleh bangsa Barbar, Khalifah Harun al-Rasyid memerintahkan untuk mengangkat seorang perwira ulung, Ibrahim bin Aglab, sebagai gubernur di Afrika Utara, dan memberikan kepadanya kebebasan dalam mengambil tindakan terhadap setiap pemberontakan Barbar yang berkobar. Konon, al-Aglab menyetujui perintah Khalifah al-Rasyid hanya setelah khalifah memberikan jaminan hak hereditary (warisan kekuasaan pada keturunannya) terhadap Afrika Utara. Demikian, dengan dukungan kuasa otonomi yang diberikan kepadanya, Ibrahim al-Aglab berangkat ke Qayrawan untuk membangun dinasti baru, Dinasti Aglabiyah, dan menjadikan Tunis sebagai pusat pemerintahannya. 
Selama masa kekuasaannya, Dinasti Aglabiyah telah diperintah oleh sebelas raja, sebagai berikut:
1. Ibrahim I 800 – 811
2. Abdullah I 811 – 816
3. Ziyadatullah I 816 – 837
4. Abu Iqal 837 – 840
5. Muhammad I 840 – 856
6. Ahmad 856 – 863
7. Ziyadatullah II 863 – 864
8. Muhammad II 864 – 874
9. Ibrahim II 874 – 902
10. Abdullah II 902 – 903
11. Ziyadatullah III 903 – 909 
2. Masa Perkembangan dan Kemajuannya
Meskipun tujuan utama pengangkatan Ibrahim al-Aglab di Afrika Utara adalah untuk memadamkan pemberontakan Dinasti Idrisiyah di Maroko, namun pada kenyataannya, baik Ibrahim I sendiri maupun anak cucunya tidak seorang pun di antara mereka yang sempat berkonfrontasi langsung dengan kubu Idrisiyah di bagian barat. Karena baru saja Ibrahim I menginjakkan kakinya di Qayrawan, tiba-tiba meletus pemberontakan pendudk Tripoli (Libiya) terhadap gubernur mereka. Pada tahun 804 Ibrahim berangkat untuk memadamkan pemberontakan orang-orang Libiya tersebut. Dan tidak lama berselang, timbul lagi kekacauan baru dengan meletusnya pemberontakan bangsa Barbar secara meluas di berbagai daerah di Afrika Utara. Kekuatan Ibrahim I terpaksa lebih banyak dipusatkan untuk menumpas mereka, dan tidak sempat mencoba menggulingkan pemerintahan Idrisiyah. Pada akhirnya, hanya beberapa waktu sebelum dia wafat, Ibrahim I berhasil membuat Tripoli dan sebagian besar masyarakat Barbar untuk tunduk di bawah kontrolnya. Pada tahun 811, ketika ia berada di puncak kekuatan dan prestasinya, ia wafat setelah berkuasa hanya sebelas tahun. 
Ia kemudian digantikan oleh putranya, Abdullah I (811-816), namun Abdullah tidaklah sekuat dan seadil bapaknya. Dia telah mengambil tindakan keras dalam pengumpulan pajak, tidak mengindahkan nasehat para penasehat hukumnya dan para ulama. Dia kemudian terbunuh secara misterius setelah hanya memerintah selama lima tahun. 
Ziyadatullah I (816-837) mewarisi saudaranya, Abdullah I, sebagai penguasa Afrika Utara. Dia orangnya lebih cenderung memperhatikan nasehat para penasehatnya sebagaimana leluhurnya, dan karakteristik pemerintahannya relatif lebih stabil. Pada tahun 825 sebuah pemberontakan terjadi dipelopori oleh Mansur yang berhasil menghimpun beberapa pengikut dan mengancam Qayrawan. Namun, pada tahun berikutnya Ziyadatullah I berhasil mengalahkan Mansur, yang kemudian meninggal tidak lama setelah di penjara. 
Kemakmuran yang dicapai oleh rakyat di bawah pemerintahan Ziyadatullah I, ditambah dengan tidak adanya perbedaan antara orang-orang Arab dan orang-orang Barbar, telah mendorong mereka untuk mencari tanah baru. Faktor ini turut membangkitkan semangat Bani Aglab untuk menduduki Sicilia dan sebagian besar Italia Selatan selama abad ke-9.
Pada tahun 827 Ziyadatullah menyerang Sicilia, di mana dia berhasil melumpuhkan pasukan Bizantium di awal 828 di Syracuse, dan selanjutnya tahun 830 di Palermo. Meskipun dengan berbagai kemenangan yang diraihnya di kota-kota tersebut, namun Aglabiyah tidak mampu mempertahankan jalur suplai mereka dengan Qayrawan, dan secara berangsur-angsur dengan terpaksa mereka melepaskan pendudukan mereka atas kota-kota tersebut. 
Penaklukan dan pendudukan Aglabiyah terhadap Sicilia telah membentuk suatu pusat penting bagi penyebaran peradaban Islam ke Eropa-Kristen. Bahkan renaisans di Italia terjadi karena transmisi ilmu pengetahuan melalui pulau ini. Para penguasa Dinasti Aglabiyah juga merupakan pembangun-pembangun yang antusias. Misalnya Ziyadatullah I membangun kembali Masjid Raya Qayrawan dan Ahmad membangun Masjid Raya Tunis. Di samping itu, berbagai pekerjaan di bidang pertanian dan irigasi juga dilakukan, terutama di daerah-daerah selatan yang kurang subur. 
Setelah Ziyadatullah I wafat pada tahun 837, lima penguasa Aglabiyah berikutnya secara berturut-turut berganti dengan cepat. Perselisihan internal dan pemberontakan lokal terus terjadi sampai pada masa Ibrahim I yang memangku jabatan pada tahun 874. Dia punya karakter yang lebih tegas dan murah hati, meluangkan banyak waktunya untuk mendengarkan keluhan-keluhan rakyatnya dan berusaha meringankan penderitaan mereka. Dia dengan murah hati memberikan sumbangan-sumbangan dan bantuan finansial yang tidak terikat kepada yang memerlukan. Oleh karena itu, masyarakat umum senantiasa berlomba-lomba memberi dukungan kepadanya selama dalam masa kritis. 
Sepanjang pemerintahan Ibrahim II, seorang putra Ibn Tulun dari Mesir yang bernama al-Abbas berusaha mengambil alih kekuasaan bapaknya dan membangun kerajaan untuk dirinya sendiri di Afrika Utara. Konon, al-Abbas telah mengirim pesan kepada Ibrahim II pada tahun 880, memberitahukan kepada Ibrahim bahwa dirinya telah ditunjuk sebagai gubernur di Afrika Utara dan meminta Ibrahim II untuk mengosongkan posisinya dengan cepat. Setelah mendengar pesan tersebut, Ibrahim II mengirim pasukan untuk melawan al-Abbas ibn Tulun, di mana dalam waktu yang sama al-Abbas juga telah maju mendekati Qayrawan. Dalam pertempuran tersebut, al-Abbas berhasil dikalahkannya dan dipaksa untuk mundur ke Barqa. Kemenangan Aglabiyah ini semakin memperkokoh wibawa Ibrahim II di mata rakyatnya, dan terus memerintah Qayrawan sampai pada tahun 902. 
3. Masa Kemunduran Dinasti Aglabiyah
Posisi Dinasti Aglabiyah di Ifriqiyah semakin menurun di akhir abad ke-9, disusul dengan semakin menguatnya propaganda Syi’af Fatimiyah. 
Ibrahim II lalu digantikan oleh putranya, Abdullah II, yang telah dikhianati oleh para pembantunya sendiri setelah hanya memerintah selama enam bulan. Abdullah II kemudian digantikan oleh Ziyadatullah III, penguasa terakhir Dinasti Aglabiyah, untuk memerintah Qayrawan. Sepanjang masa pemerintahannya, Dinasti Fatimiyah telah memulai propagandanya, yang mana pengaruhnya telah meluas ke mana-mana meliputi semua penduduk di Afrika Utara. Memasuki tahun 904, Abu Abdullah, seorang pelopor pergerakan Dinasti Fatimiyah di Afrika, berhasil menghimpun pengikut dalam jumlah besar – yang cukup untuk merebut sebagian besar kota-kota yang berada di bawah kekuasaan Aglabiyah. Berawal dari sini, dia terus maju ke arah Qayrawan pada tahun 909, dan memaksa Ziyadatullah III untuk melarikan diri dari kota. 
Tidak lama setelah pendudukan Qayrawan, pemimpin gerakan Fatimiyah, Ubaydullah al-Mahdi, tiba di ibu kota dan memproklamirkan awal berdirinya Kekhalifahan Syi’ah, yang juga menandakan akhir keruntuhan dari Dinasti Aglabiyah. 
Sejak itu, Ifriqiyah dikuasai oleh orang-orang Syi’ah yang pada masa selanjutnya membentuk Dinasti Fatimiyah.
http://dorokabuju.blogspot.co.id/2007/11/dinasti-idrisiyah-dan-aglabiyah.html

A. Dinasti Aghlabiyah
1. Sejarah Berdirinya Dinasti AghlabiyahAghlabiyah merupakan dinasti kecil pada masa Abbasiyah, yang para penguasanya adalah berasal dari keluarga Bani al-Aghlab, sehingga dinasti tersebut dinamakan Aghlabiyah. Awal mula terbentuknya yaitu ketika Baghdad di bawah pemerintahan Harun ar-Rasyid dan memberikan kewenangan kepada Ibrahim ibn Aghlab atas Provinsi Ifriqiyah dalam rangka menghadapi Dinasti Idrisiyah karena di bagian Barat Afrika Utara, terdapat dinasti Idrisiyah (berpaham syi’ah yang memberontak pada Abbasiyah) yang semakin kuat, dan kedua dari golongan Khawarij. Setelah berhasil mengamankan wilayah tersebut, Ibrahim bin al-Aghlab mengusulkan kepada Harun ar-Rasyid supaya wilayah tersebut dihadiahkan kepadanya dan anak keturunannya secara permanen. Dalam menaklukkan wilayah baru dibutuhkan suatu proses yang panjang dan perjuangan yang besar, namun tidak seperti Ifriqiyyah yang sifatnya adalah pemberian. Harun ar-Rasyid menyetujui usulannya, sehingga berdirilah dinasti kecil (Aghlabiyah) yang berpusat di Ifriqiyah yang mempunyai hak otonomi penuh. 
Dinasti Aglabiyah berkuasa kurang lebih satu abad, mulai dari tahun 800-909 M. Pada tahun 800 M Ibrahim I diangkat sebagai gubernur (amir) di Tunisia oleh Khalifah Harun ar-Rasyid, karena ia sangat pandai menjaga hubungan dengan Khalifah Abbasiyah seperti membayar pajak tahunan yang besar, maka Ibrahimi I diberi kekuasaan oleh Khalifah, meliputi hak-hak otonomi yang besar seperti kebijaksanaan politik, termasuk menentukan penggantinya tanpa campur tangan dari penguasa Abbasiyah. Hal ini dikarenakan jarak yang cukup jauh antara Afrika Utara dengan Baghdad sehingga Aghlabiyah tidak terusik oleh pemerintahan Abbasiyah. Pemerintahan Aghlabiyah pertama berhasil memadamkan gejolak yang muncul dari Kharijiyah Barbar di wilayah mereka. Kemudian di bawah Ziyadatullah I, Aglabiyah dapat merebut pulau yang terdekat dari Tunisia, yaitu Sisilia dari tangan Byzantium 827 M, yang dipimpin oleh panglima Asad bin Furat, dengan mengerahkan panglima laut yang terdiri dari 900 tentara berkuda dan 10.000 orang pasukan jalan kaki. Inilah ekspedisi laut terbesar, ini juga peperangan akhir yang dipimpin panglima Asad bin Furad karena, ia meninggal dalam pertempuran. Selain untuk memperluas wilayah penaklukan terhadap Sisilia juga bertujuan untuk berjihad melawan orang-orang kafir, wilayah tersebut menjadi pusat penting bagi penyebaran peradaban Islam ke Eropa. 
Aspek yang menarik pada Dinasti Aghlabiyah adalah ekspedisi lautnya yang menjelajahi pulau-pulau di Laut Tengah dan pantai-pantai Eropa dan pantai Italia.
Pada tahun 868 M mampu menduduki Malpa. Dengan berhasilnya penaklukan-penaklukan seperti di atas Dinasti Aghlabiyah menjadi dinasti yang kaya, sehingga para penguasa Aghlabiyah antusias dalam bidang pembangunan. Keberhasilan penguasaan seluruh pulau Sisilia inilah yang membuat Aglabiyah unggul di Mediterania Tengah. Kemudian Aglabiyah melanjutkan serangan-serangannya ke pulau lainnya dan pantai-pantai di Eropa, termasuk berhasil menaklukan kota-kota pantai Italia Brindisi (836/221 H.) Napoli (837M), Calabria (838 M), Toronto (840 M ), Bari (840 M), dan Benevento (840 M). Karena tidak tahan terhadap serangan berkepanjangan dari pasukan Aghlabiyah pada bandar-bandar Itali, termasuk kota Roma, maka Paus Yonanes VIII (872– 840 M) terpaksa minta perdamaian dan bersedia membayar upeti sebanyak 25.000 uang perak pertahun kepada Aglabiyah. 
Pasukan Aglabiyah juga berhasil menguasai kota Regusa di pantai Yugoslavia (890 M), Pulau Malta (869 M), menyerang pulau Corsika dan Mayorka, bahkan mengusai kota Portofino di pantai Barat Italia (890), kota Athena di Yunani pun berada dalam jangkauan penyerangan mereka. Dengan keberhasilan penaklukan-penaklukan tersebut, menjadikan Dinasti Aglabiyah kaya raya, para penguasa bersemangat membagun Tunisia dan Sisilia. Ziyadatullah I membangun masjid Agung Qairuan, sedangkan Amir Ahmad membangun masjid Agung Tunis dan juga membangun hampir 10.000 benteng pertahanan di Afrika Utara. Tidak cukup itu, jalan-jalan, pos-pos, armada angkutan, irigasi untuk pertanian (khususnya di Tunisia Selatan yang tanahnya kurang subur), demikian pula perkembangan arsitektur, ilmu pengetahuan, seni dan kehidupan keberagamaan. Selain sebagai ibu kota Dinasti Aghlabiyah, Qoiruan juga sebagai pusat penting munculnya mazhab Maliki, tempat berkumpulnya ulama-ulama terkemuka, seperti Sahnun yang wafat (854 M) pengarang mudawwanat, kitab Fiqih Maliki, Yusuf bin Yahya, yang wafat 901 M, Abu Zakariah al-Kinani, yang wafat 902 M, dan Isa bin Muslim, wafat 908M. Karya-karya para ulama pada masa Dinasti Aghlabiyah ini tersimpan baik di Masjid Agung Qairuan.
2. Kemajuan Dinasti AghlabiyahDinasti aghlabiyah terkenal dengan prestasinya di bidang arsitektur, terutama dalam pembangunan masjid. Pada masa Ziyadatullah yang kemudian disempurnakan oleh Ibrahim II, berdiri dengan megahnya masjid yang besar Yaitu mesjid Qairawan, menara masjidnya yang merupakan warisan dari bentuk Bangunan Umayah merupakan bangunan tertua di afrika.Oleh karena itulah Qairawan menjadi kota suci ke empat setelah Mekah, Madinah, dan Yerusalem Masjid tersebut disebut sebagai masjid terindah dalam islam karena ditata sedemikian indah, selain itu dibangun pula sebuah mesjid di Tunisia. Pada masa Kekuasaan Ahmad, serta dibuat pula suatu peralatan pertanian dan irigasi untuk daerah ifrikiyah yang kurang subur.
3. Kemunduran Dinasti AghlabiyahMenjelang akhir abad IX, posisi Aghlabiyah di Ifriqiyah merosot. Hal ini disebabkan karena amir terakhirnya yaitu Ziyadatullah III tenggelam dalam kemewahan (berfoya-foya), dan seluruh pembesarnya tertarik pada Syi’ah, juga propaganda Syi’ah, yaitu Abu Abdullah. Perintis Fatimiyah, Mahdi Ubaidillah mempunyai pengaruh yang cukup besar di
Barbar, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan militer, dan Dinasti Aghlabiyah dikalahkan oleh Fatimiyah (909 M), Ziyadatullah III diusir ke Mesir setelah melakukan upaya yang sia-sia demi mendapatkan bantuan dari Abbasiyah untuk menyelamatkan Aghlabiyah.
4. Peninggalan-peninggalan Bersejarah Dinasti Aghlabiyah Aghlabiyah adalah pembangun yang penuh semangat, dan bangunan-bangunan peninggalan Aghlabiyah di antaranya:
a. Pembangunan kembali Masjid Agung Qayrawan oleh Ziyadatullah I
b. Pembangunan Masjid Agung Tunis oleh Ahmad pembangunan hampir 10.000 benteng pertahanan di Afrika Utara.
c. Pembangunan karya-karya pertanian dan irigasi yang bermanfaat, khususnya di Ifriqiyah selatan yang kurang subur.
https://plus.google.com/115181005372625130882/posts/6ExoC5CspvR

Dinasti Aghlabiyah
Sejarah Berdirinya Dinasti Aghlabiyah
Aghlabiyah merupakan dinasti kecil pada masa Abbasiyah, yang para penguasanya adalah berasal dari keluarga Bani al-Aghlab, sehingga dinasti tersebut dinamakan Aghlabiyah. Awal mula terbentuknya yaitu ketika Baghdad di bawah pemerintahan Harun ar-Rasyid dan memberikan kewenangan kepada Ibrahim ibn Aghlab atas Provinsi Ifriqiyah dalam rangka menghadapi Dinasti Idrisiyah. Karena di bagian Barat Afrika Utara, terdapat dinasti Idrisiyah (berpaham syi’ah yang memberontak pada Abbasiyah) yang semakin kuat,  dan kedua dari golongan Khawarij. Dengan adanya dua ancaman tersebut mendorong Harun ar-Rasyid untuk menempatkan balatentaranya di Ifriqiyah di bawah pimpinan Ibrahim bin Al-Aghlab. 
Setelah berhasil mengamankan wilayah tersebut, Ibrahim bin al-Aghlab mengusulkan kepada Harun ar-Rasyid supaya wilayah tersebut dihadiahkan kepadanya dan anak keturunannya secara permanen. Karena jika hal itu terjadi, maka ia tidak hanya mengamankan dan memerintah wilayah tersebut, tetapi juga mengirim upeti ke Baghdad setiap tahunnya sebesar 40.000 dinar dan meliputi hak-hak otonom yang besar (Bosworth,1980:46). Untuk menaklukkan wilayah baru dibutuhkan suatu proses yang panjang dan perjuangan yang besar, namun tidak seperti Ifriqiyyah yang sifatnya adalah pemberian. Harun ar-Rasyid menyetujui usulannya, sehingga berdirilah dinasti kecil (Aghlabiyah) yang berpusat di Ifriqiyah yang mempunyai hak otonomi penuh. Meskipun demikian masih tetap mengakui pada kekhalifahan Baghdad (Hoeve, 1994: 65).
1.Penguasa Aghlabiyah pertama berhasil memadamkan gejolak Kharijiyah Berber di wilayah mereka.
2.Dilanjutkan dengan dimulainya proyek besar merebut Sisilia dari tangan Bizantium pada tahun 827 M di bawah Ziadatullah I yang amat cakap dan energik, dengan meredakan oposisi internal di Ifriqiyyah yang dilakukan Fuqaha (pemimpin–pemimpin religius) Maliki di Qayrawan (Cairovan).
Aghlabiyah adalah pembangun yang penuh semangat, dan bangunan – bangunan peninggalan Aghlabiyah di antaranya:
1.Pembangunan kembali Masjid Agung Qayrawan oleh Ziyadatullah I;
2.Pembangunan Masjid Agung Tunis oleh Ahmad;
3.Pembangunan karya-karya pertanian dan irigasi yang bermanfaat, khususnya di Ifriqiyah selatan yang kurang subur.
•Kemunduran Dinasti Aghlabiyah
Menjelang akhir abad IX, posisi Aghlabiyah di Ifriqiyah merosot. Hal ini disebabkan karena amir terakhirnya yaitu Ziyadatullah III tenggelam dalam kemewahan (berfoya-foya), dan seluruh pembesarnya tertarik pada Syi’ah, juga propaganda Syi’iah, yaitu Abu Abdullah. Perintis Fatimiyah, Mahdi Ubaidillah mempunyai pengaruh yang cukup besar diBarbar, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan militer, dan Dinasti Aghlabiyah dikalahkan oleh Fatimiyah (909 M), Ziyadatullah III diusir ke Mesir setelah melakukan upaya-upaya yang sia-sia demi untuk mendapatkan bantuan dari Abbasiyah untuk menyelamatkan Aghlabiyah(Bosworth,1993:47).
http://islamdipintusejarah.blogspot.co.id/

Bani Aghlab


Aghlabid ( Bahasa Arab : الأغالبة) merupakan sebuah dinasti para emir berkuturan Arab [5] dari Bani Tamim , yang memerintah Ifriqiya , bagi pihak khalifah Abbasiyahsekitar satu abad, sehingga dijatuhkan oleh khilafah Fatimiyyah .



Sejarah




Pada tahun 800, Khalifah Abbasiyah Harun al-Rashid telah menunjuk Ibrahim I ibn al-Aghlab sebagai Emir Ifriqiya yang akan diwariskan turun-temurun sebagai jawaban untuk kekacauan yang telah merajalela di wilayah tersebut menyusul jatuhnya Muhallabiyah . Dia diminta mengontrol satu daerah yang mencakup timur Aljazair , Tunisia dan Tripolitania . Meskipun hanya bebas dan berkuasa pada nama, dinastinya masih lagi mengakui supremasi Abbasiyah.

Ibukota yang baru, al-Abbasiyyah , didirikan di luar Kairouan , untuk melepaskan diri dari penentangan fuqaha dan ulama Maliki yang mengecam apa yang dilihat mereka sebagai kehidupan tidak bertuhan Aghlabiyah, dan tidak menyukai layanan bias terhadap orang Islam Barbar . Sebagai tambahan, benteng-benteng pertahanan perbatasan ( Ribat ) dibangun di Sousse dan Monastir .

Selama zaman pemerintahan Ziyadat Allah I ( 817 - 838 ), krisis pemberontakan pasukan Arab meletus pada tahun 824 yang tidak dapat dipatahkan sampai tahun 836 dengan bantuan orang Barbar. Penaklukan Sisilia dari Bizantium sejak tahun 827 dipimpin oleh Asad ibn al-Furat adalah upaya untuk mengontrol pasukan sulit dikendalikan itu - ia hanya dapat dicapai secara perlahan dan hanya pada tahun 902 pos Bizantium terakhir tersusul. Serbuan ke dalam daratan Italia terjadi sampai abad ke-10. Secara bertahap Aghlabiyah kehilangan daya kontrol atas militer Arab di Sisilia dan satu dinasti baru, Kalbiyah muncul di sana.

Pemerintah Aghlabiyah mencapai puncaknya selama masa pemerintahan Ahmad ibn Muhammad ( 856 - 863 ). Ifriqiya menjadi satu kekuatan ekonomi yang signifikan berkat kesuburan tanah pertaniannya dengan dibantu oleh perluasan sistem irigasi Roma . Ini menjadi fokus perdagangan antara dunia Islam dan Bizantium dan Italia, terutama perdagangan budak yang menguntungkan. Kairawan menjadi perguruan yang paling penting di Maghrib , terutama dalam bidang ilmu kalam dan fiqih, dan menjadi tempat pertemuan bagi para penyair.
Kejatuhan dinasti tersebut dimulai saat zaman pemerintahan Ibrahim II ibn Ahmad ( 875 - 902 ). Penguasaan ke Calabria jatuh ke tangan Byzantium, satu serangan oleh Tuluniyah Mesir telah dipatahkan dan satu pemberontakan orang Barbar telah dikalahkan dengan banyak nyawa yang melayang. Sebagai tambahan, pada tahun 893 wujud gerakan Syiah Fatimiyah di kalangan orang Barbar Kutama melalui misi Ubayd Allah Said yang menyebabkan penggulingan Aghlabiyah pada tahun 909.

Pemerintah Aghlabiyah


  • Ibrahim I ibn al-Aghlab ibn Salim ( 800 - 812 )
  • Abdullah I ibn Ibrahim ( 812 - 817 )
  • Ziyadat Allah I ibn Ibrahim ( 817 - 838 )
  • al-Aghlab Abu Affan ibn Ibrahim ( 838 - 841 )
  • Muhammad I Abul-Abbas ibn al-Aghlab Abi Affan ( 841 - 856 )
  • Ahmad ibn Muhammad ( 856 - 863 )
  • Ziyadat Allah II ibn Abil-Abbas ( 863 )
  • Muhammad II ibn Ahmad ( 863 - 875 )
  • Ibrahim II ibn Ahmad ( 875 - 902 )
  • Abdullah II bin Ibrahim ( 902 - 903 )
  • Ziyadat Allah III ibn Abdillah ( 903 - 909 )
Ibu negaraKairouan
BahasaBarbarArabLatin Afrika
AgamaSunni Islam (Maliki)
Struktur politikEmiriah separa-merdeka, dinaungi atau tunduk kepada Abbasiyyah, tetapi de facto merdeka sejak tahun 801.[1][2][3]
President
 • 800–812Ibrahim I ibn al-Aghlab ibn Salim
 • 903–909Abu Mudhar Ziyadat Allah III ibn Abdallah
Sejarah
 • Diasaskan800
 • Dijatuhkan oleh Fatimiyyah909
 • Dibubarkan909
MatawangDinar Aghlabid
https://ms.wikipedia.org/wiki/Bani_Aghlab

AGHLABIYAH (184 H/800 M - 296 H/909 M)Pusat pemerintahannya terletak di Qairawan, Tunisia. Wilayah kekuasaan Aghlabiyah meliputi Tunisia dan Afrika Utara. Pemimpin pertama dinasti ini adalah Ibrahim I bin al-Aglab, seorang panglima dari Khurasan Aghlabiyah berperan dalam mengganti bahasa latin dengan bahasa Arab serta menjadikan Islam agama mayoritas. Dinasti ini berhasil menduduki Sicilia dan sebagian besar Italia Selatan, Sardinia, Corsica, bahkan pesisir Alpen pada abad ke-9. Dinasti Aghlabiyah berkahir setelah ditaklukan oleh Dinasti Fatimiyah. Peninggalan dinasti ini antara lain adalah Masjid Raya Qairawan dan Masjid Raya di Tunis.
http://www.pesantren-pesbuker.xyz/2014/10/sejarah-dinasti-dan-kekuasaan-khalifah.html


  Dinasti Aghlabiyah (184-296 H/800-909 M)
Dinasti Idrisiyah merupakan dinasti pertama pada masa pemerintahan Abbasiyah yang terpisah dari dunia Islam. Sebagimana telah dikemukakan bahwa Khalifah Harun Ar-Rasyid merasa terancam dengan hadirnya Dinassti Idrisiyah, kemudian ia mengirimkan Sulaiman bin Jarir untuk menjadi mata-mata dan berpura-pura menentang Daulah Abbasiyah.
Dengan daerah Tunisia dan Aljazair sebagai wilayah kekuasaanya, berdirilah Dinasti Aghlabiyah (800-909 M).
Dinasti aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim Ibn Aghlab Ibn Salim, seorang pejabat Khurasan dalam militer abbasiyah. Adanya dinati Aghlabiyah bermula dari penyerahan kekuasaan Khalifah Harun al-Rasyid kepada Ibrahim Ibn Aghlab atas provinsi Ifriqiyyah (Tunisi) dalam rangka  menghadapi dinasti Idrisiyah (berfaham Syi’ah yang memberontak pada Abbasiyah) yang semakin kuat. Ibrahim diberikan otonomi penuh untuk mengatur wilayah tersebut meski harus membayar pajak tahunan ke Baghdad sebesar 40.000 dinar. Ibrahim Ibn aghlab berhasil memadamkan gejolak Kharijiyyah Berber di wilayah mereka.
Secara periodic, dinasti Aghlabiyah ini dipimpin oleh 11 orang amir yaitu: Ibrahim 1 Ibn Aghlab (184-197 H/800-812 M), Abdullah 1 (197-201 H/812-917 M), Ziyadatullah Ibn Ibrahim (201-223 H/817-838 M), Abu Iqbal Ibn Ibrahim (223-226 H/838-841 M), Abu al-Abbas Muhammad (226-242 H/841-856 M), Abu Ibrahim ahmad (242-249 H/856-863 M) Ziyadatullah 11 Ibn Ahmad (249-250 H/863-864 M), Abul Gharaniq Muhammad 11 Ibn Ahmad (250-261 H/864-875 M), Ibrahim 11 Ibn Ahmad (261-289 H/875-902 M), Abu al-Abbas Abdullah 11 (289-290 H/902-903 M), dan Abu Mudhar Ziyadatullaj 111 (290-296 H/903-909 M)
Dinasti Aghlabiyah merupakan tonggak terpenting dalam konflik berkepanjangan antara Asia dan Eropa. Yang dipimpin oleh Ziyadatullah 1 ia mengirim sebuah ekspedisi untuk merebut pulau yang terdekat dari Tunisia yaitu Sicilia dari Byzantium pada tahun 217 H/827 M). ekspedisi itu dipimpin oleh panglima Asad Ibn Furat, dengan menyerahkan panglima laut yang terdiri dari 900 tentara berkuda dan 10.000 orang jalan kaki. Inilah ekspedisi laut terbesar dan juga merupakan peperangan akhir yang dipimpin panglima Asad bin Furad kemudian ia meninggal dalam pertempuran ini. Tujuan dari memperluas wilayah Sicilis yaitu untuk berijtihad melawan orang-orang kafir, sebab penguasa Aghlabiyah pertama harus meredakan oposisi internal di Ifriqiyyah yang dilakukan fuqoha Maliki di Qayrawan. Selain itu, ekspedis yang terpenting adalah menyebarnya peradaban islam hingga Eropa. Aspek yang menarik pada Dinasti Aghlabiyah adalah ekspedisi lautan yang menjelajahi pulau-pulau di laut Tengah dan pantai-pantai Eropa seperti pantai-pantai Italia selatan, Sardinia, Corsica, dan Alp. Malta direbut tahun 255 H/868 M.
Dalam bidang ekonomi mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi didukung oleh stabilitas pemerintahan yang mapan. Hasil-hasil pertanian seperti kurma, gandum, dan zaitun. Sector perindustrian pun telah berkembang seperti industri peralatan  dari besi yang digunakan untuk kapal laut dan senjata, industry kaca, dan industry tenun. Oleh karena itum Qayrawan merupakan pusat perdagangan selain sebagai pusat pemerintahan.
Pada akhir abad ke-9, posisi dinasti Aghlabiyah di Ifriqiyyah menjadi merosot. Factor penyebab mundurnya Aghlabiyah ini adalah :
1.      Hilangnya hakikat kedaulatan dimana ikatan-ikatan solidaritas sosial semakin luntur. Kedaulatan pada hakikatnya hanya dimiliki oleh mereka yang sanggup menguasai rakyat, memungut iuran Negara, dan mengirimkan angkatan bersenjata.
2.      Amir terakhir tergelam dalam kemewahan (berfoya-foya), dan seluruh pembesarnya tertarik pada Syi’ah.

3.      Propaganda Syi’I Abu ‘Abdullah, perintis Fathimiyah, Ubaidilah al-Mahdi, memiliki pengaruh yang kuat di kalangan Berber Ketama, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan militer. Pada tahun 909, kekuatan militer Fatimiyah berhasil menggulingkan penguasa Aglabiyah yang terakhir, Ziyadatullah 111, diusir ke Mesir.
http://syahrur23.blogspot.co.id/2015/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer