Lakon Rama Alas

menceritakan tentang Raden Ramalegawa dan Raden Laksmana Murdaka beserta Dewi Sinta dibuang ke hutan karena istri kedua dari Prabu Dasarata raja Ayodya bernama Dewi Kekayi (yang mengingatkan dan meliciki sang dewi ialah Emban Matara) menagih janji bahwa saat sang dewi mengandung kelak akan dijadikan Raja pewaris tahta Ayodyapala, setelah pengangkatan Raden Barata menjadi raja Ayodya, Raden Ramalegawa dan Raden Laksmana murdaka beserta Dewi Sinta diusir di hutan dandaka.
sehari sesudah perjalanan pengusiran dari Keraton Ayodya, salah seorang utusan prajurit melapor bahwa ayahandanya telah tutup usia dikarenakan penyesalan, akan tetapi Raden Ramalegawa menolak untuk pulang, dan harus menjalani pembuangan di hutan selama bertahun tahun, lalu datanglah saudaranya Raden Barata untuk mengajak pulang Raden Ramalegawa untuk duduk di singasana Ayodyapala guna menuruti wasiat ayahnya akan tetapi Raden Ramalegawa tetap menolak. 
Hari berganti hari Raden Ramalegawa dan yang lainnya menginap disebuah Desa Karangkadempel menemui Ki Lurah Semar untuk menginap sejenak, Raden Laksmana Murdaka pamit pergi bertapa di dekat sungai dengan didampingi oleh Gareng, Petruk, dan Bagong. setiap harinya Raden Ramalegawa mencari kayu bakar dan berburu tiba tiba dibalik semak semak terdapat seseorang berjubah putih, bertemulah dengan seorang Brahmana tua renta bernama Begawan Yogiswara mantan guru ayahnya, lalu mewejang berbagai ilmu dan mewejangnya kesaktian.
Raden Laksmana Murdaka berhari hari bertapa puasa, tiba tiba ia di ganggu oleh raja Raksaksa bernama Yaksasraya untuk memangsa yang sedang bertapa, Gareng yang ketakutan lari ke Gubug Ki Lurah Semar sementara Petruk tidak berani membangunkan Raden Laksmana murdaka yang akhirnya dihadapi sendiri dengan senjata pethel dan parangnya, sementara Bagong tetap berdiam diri tak bisa apa apa, Akhirnya Raden Laksmana terbangun dari tapanya dan berperang tanding dengan Raja raksaksa itu, Yaksasraya berubah menjadi Batara Indra dengan menganugerahi senjata berbagai panah sakti dan kesaktian. 
Ki Lurah Semar datang terlambat dengan pelaporan Gareng, menyebabkan Ki Lurah Semar kaget dan pingsan, lalu di teriakin Bagong terus menangis, Batara Indra sudah selesai tugasnya langsung pergi.
Raden Rama dan Raden Laksmana pulang ke gubug bersama para punakawan catur dan Begawan Yogiswara, lalu sang Begawan meramal bahwa Dewi Sinta akan hilang di kemudian hari dikarenakan kelalaian Raden Rama dan Raden Laksmana. 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer