Lakon Wahyu Kembar Kemanikan

merupakan kelanjutan dari lakon pandawa tundung, menceritakan tentang si kembar pandawa, Raden Nakula dan Raden Sadewa sedang bertapa di Sungai, tanpa diduga ada buaya datang ingin menyantap dan memangsa mereka berdua setelah bertapa 10 hari, tiba tiba datang seorang brahmana muda dari Pertapaan Ringinpanca bernama Resi Maniksraya untuk menolong Raden Nakula dan Raden Sadewa dengan cara mengutus temannya berupa burung elang untuk mengusir buaya itu, lalu buaya itu secara tiba tiba menghilang bagaikan angin yang berhembus, Raden Nakula dan Raden Sadewa terbangun dari bertapa, dan menghaturkan sembah kepada brahmana muda itu, langsung burung elang itu berubah menjadi Ki Lurah Semar dan brahmana itu mewejang ilmu kepandaian dan memberinya pusaka panah dan brahmana itu berubah menjadi kedua sosok dewa bernama Batara Aswan dan Batara Aswin, setelah itu pergi pamit kembali ke kayangan.
di Kerajaan Astina, salah seorang Prajurit telik sandi melapor bahwa persembunyian pandawa diketahui di desa karangtombak dekat dengan wilayah Kerajaan Dwarawati, dengan tanggapnya Prabu Duryudana langsung berangkat ke desa tersebut dengan didampingi Patih Sengkuni, Adipati Basukarna dan Pandita Drona, dengan sejumlah prajurit sudah mengepung dengan sekejap di pinggir desa karangtombak, setelah dicari oleh Adipati Basukarna, yang didapat bukan pandawa dengan Dewi Drupadi melainkan lima bersaudara dengan ibunya di gubug pinggir sungai, prajurit yang mengetahui pandawa di situ benar adanya di bunuh oleh Pandita Drona sebagai rasa kecewa dan kesal dikerjain pandawa. memang pandawa bisa melarikan diri dengan cepat secepat kilat.
setelah melarikan diri pandawa bersama Dewi Drupadi istirahat di desa klampis ireng, menginap di gubug reot milik Ki Lurah Semar, dan Raden Nakula dan Raden Sadewa berhasil mendapatkan wahyu itu dari brahmana muda tadi yang bernama Resi Maniksraya di Pertapaan Ringinpanca. setelah dicari oleh Ki Lurah Togog dan Bilung akhirnya ditemukan juga pandawa di desa klampis ireng, akan tetapi Bilung di goda oleh Gareng, Petruk dan Bagong sementara Ki Lurah Togog tidak jadi di beri imbalan oleh Patih Sengkuni karena pembohong besar, setelah kurawa sampai di desa Klampis ireng, didapati gubug sudah kosong dan Bilung beserta Ki Lurah Togog dan Prajurit babak belur seperti di pukul oleh seorang kesatria yang pukulannya luar biasa seperti Raden Setyaki dan Patih Udawa, lalu Kurawa kesal dan pulang ke Astina dengan penuh rasa kecewa pandawa tidak berhasil di temukan dalam kurun waktu dua hari. 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer