Lakon Satria Paningit

Pasewakan Kerajaan Astina, Prabu Duryudana dihadap Patih Sengkuni, Pandhita Drona, Adipati Basusena, dan Raden Kartamarma sedang menceritakan bahwa Prabu Duryudana bermimpi langit mendung, angin besar dan air meluap bertanya kepada Patih Sengkuni, Patih Sengkuni tidak tahu menahu masalah mimpi, lalu menyerahkan penafsiran mimpi itu kepada Pandhita Drona, dijabarkanya mimpi itu oleh Pandhita Drona, Pituyoni, Gondoyoni, Puspotajem, tiba tiba Utusan dari Kerajaan Puserbumi, Prabu Rengganisura Patih Dendasoka menghadap Prabu Duryudana untuk menyampaikan pesan dari rajanya meminta Dampar Kencana tetapi tidak disetujui oleh Prabu Duryudana sampai menyinggung hak waris sah Kerajaan Astina milik Pandawa, membuat Prabu Duryudana marah dan memanggil Adipati Basukarna untuk perang tanding di Pelataran Keraton Astina, Patih Sengkuni mengakhiri Pasewakan Agung Keraton Astina.
Patih Sengkuni mengumpulkan Wadyabala Astina, Raden Dursasana, Raden Kartamarma, Raden Surtayu, Raden Citraksa, Raden Citraksi, Raden Durmugati. Patih Dendasoka menghadap Prabu Rengganisura untuk melapor bahwa Prabu Duryudana menolak permintaan Prabu Rengganisura, langsung Prabu Rengganisura dan Patih Dendasoka bertarung dengan Para Kurawa, Para Kurawa yang kalah bertarung melapor kepada Patih Sengkuni, Patih Dendasoka menghadap lagi Prabu Renganisura, Dursasana kena amukan Prabu Renganisura, Semua wadyabala Astina pada bubar, Basukarna melapor Prabu Duryudana langsung membuat marah Prabu Duryudana, Patih Sengkuni di bawa ke Puserbumi dihadapkan Prabu Rengganisura, menjelaskan bahwa siapa yang bisa menduduki Gajah Antisura bisa menduduki Dampar Kencana, lalu Prabu Rengganisura meminta Patih Sengkuni untuk membawanya ke Puserbumi, Gajah Antisura menolak dan lari ke Hutan. ditempat lain Prabu Minangkurdo dihadap adiknya sang dewi masing masing berharap bisa memyantap isi dan kepala burung peksi, Dewi Sumbogo dihadap kedua putranya mendapat burung peksi dari Begawan Padmanamurti, Endang Sambogo menghadap Prabu Minangkurdo, Peksi Antat Wulan dibahas di Pertapaan Begawan Padmanamurti dihadap kedua pangeran dan para catur punakawan, sang Begawan menyuruh kedua pangeran itu membunuh Burung Peksi itu dengan diikuti catur punakawan, Dewi Sumbogo dihadap lagi oleh Pujangga dan Pujangdewa dengan Petruk dan Bagong, Burung Peksi sudah kabur dari sangkarnya sampai rontok bulunya, Dewi Sambogo melapor kepada Prabu Minagkurdo setelah dimarahi Petruk, langsung mengikuti kemana kedua putranya itu, Gajah Antisura langsung membawa salah satu putra Dewi Sumbogo, langsung didudukkan di Dampar Kencana Keraton Astina, membuat kaget Prabu Rengganisuro, langsung Prabu Rengganisuro bertekuk lutut di hadapan sang Pujadewa dan adiknya Pujangga, Prabu Minangkurdo tidak terima langsung terjadi perang tanding dengan Prabu Rengganisura, Prabu Rengganisuro badar Werkudoro, Prabu Minangkurdo perang tanding dengan Patih Dendasoka, Patih Dendasoka badar Gatotkaca, Prabu Minangkurdo perang tanding dengan Begawan Padmanamurti, Begawan Padmanamurti badar Prabu Kresna dan Prabu Minangkurdo badar Arjuna, sang dewi badar Dewi Srikandi, Dewi Sumbogo badar Dewi Sembadra, Raden Pujadewa badar Raden Abimanyu dan Raden Pujangga badar Raden Irawan ketika di tebak oleh Prabu Kresna, Panditha Drona dihadang Petruk langsung dikejarnya Peruk bersama Prabu Duryudana, terjadi perang tanding antara Prabu Duryudana dengan Werkudara dan Para Kurawa dipukul mundur oleh Werkudara. 
Sekian
Sumber Video Youtube Pagelaran Wayang Kulit Ki Seno Nugraha Dalam Rangka Gelar Budaya Masyarakat Pedukuhan Tekik Temuwuh Dlingo Bantul Yogyakarta 21 November 2017 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer