RAW

RAW secara arti tradisional baku, berarti sesuatu yang belum diolah, mentah, dan dalam kondisi alami, maka Anda tidak akan kesulitan mengingat apa gambar mentah. Yaitu gambar yang belum diproses, atau belum berkembang, apa adanya, seperti foto negatif. Sebaliknya, file JPEG merupakan gambar yang sudah matang dari sebuah kamera digital, segala proses penyesuaian warna, pencahayaan dan sizing, sejatinya sudah lebih dahulu dilakukan oleh kamera.
Sensor membuat gambar dari jutaan cahaya pada chip. Kebanyakan sensor sebenarnya hanya catatan dalam grayscale dan kemudian menggunakan filter dan skema warna seperti Pola Bayer (ditemukan oleh seorang ilmuwan Dr Kodak Bayer pada 1980-an) untuk menentukan warna. Biasanya ada tiga warna berbeda: merah, hijau, dan biru.
File RAW biasanya eksklusif pada kamera model tertentu. Itu berarti bahwa hanya kamera khusus yang dberikan fasilitas menangkap gambar RAW pada sensornya. Pengaturan yang terkait dengan itu, seperti aperture, shutter speed, white balance, kontras, sharpen, dan nilai-nilai saturasi tidak diterapkan, hal tersebut disimpan untuk digunakan nanti. Gambar baku terutama digunakan oleh fotografer profesional yang membutuhkan kontrol penuh atas pengembangan citra gambar. Namun, semakin banyak pula fotografer amatir yang menyadari manfaat dari sebuah kamera yang menghasilkan gambar RAW ini.
Ketika kamera Anda memproses file JPEG, sejatinya Anda sedang menggunakan pengaturan produsen kamera yang telah bertekad untuk menjadikan kemampuan kamera produksi mereka bekerja optimal, tetapi Anda tidak memiliki kontrol atas hal tersebut. Selain itu, format JPEG menggunakan kompresi/pemanpatan “Lossy” ukuran file, yang berarti Anda akan kehilangan beberapa parameter dari kualitas gambar setiap kali file yang diambil.
Kebanyakan kamera saat ini dapat menghasilkan gambar yang baik dari pengolahan file JPEG, namun tetap memberikan fasilitas RAW yang menempatkan kekuasaan kontrol di tangan Anda untuk menentukan bagaimana gambar akhir akan terlihat. Karena Anda bekerja dengan data mentah kamera, Anda dapat menyempurnakan penampilan akhir non-destruktif, bahkan menciptakan beberapa variasi dari foto berdasarkan data gambar yang sama, dan membuka kemungkinan kreatifitas yang luas.
Disisi lain, gambar mentah memang selalu harus melalui langkah pengolahan pasca menggunakan software konversi, atau dengan perangkat lunak kamar gelap digital. Anda juga tidak akan dapat menampilkan file baku di luar kamera sampai file tersebut diproses dan diubah ke format standar seperti JPEG atau TIFF.
Karena sebagian besar produsen kamera menggunakan format proprietary untuk file RAW, maka pihak ketiga yang mengembangkan software konverter dan software kamar gelap digital harus selalu memahami format baku dari setiap kamera individu, dan harus sering diperbarui pada setiap perkembangan teknologi kamera baru yang datang ke pasar. Salah satu pengembang software tersebut, Adobe, telah mengembangkan format DNG, yang merupakan singkatan dari Digital Negatif. Format DNG terdokumentasi secara terbuka, sehingga memudahkan pihak ketiga pengembang perangkat lunak untuk mendukung format. Sejauh ini, bila Anda memiliki kamera yang belum mengadopsi format DNG, dapat melakukan konversi file RAW milik Anda ke format DNG, hal ini dapat membantu untuk memastikan kompatibilitas jangka panjang atau masa depan penggunaan file RAW Anda.
https://classphotography.wordpress.com

RAW vs JPEG: Format Mana Yang Lebih Baik?

Pada dasarnya kebanyakan kamera bekerja dengan cara seperti ini: Saat kita memencet tombol shutter, kamera akan merekam data mentah yang diterima sensor (baca RAW). Berdasar data ini, software di dalam kamera akan memutuskan beberapa parameter, misalnya seberapa jauh foto perlu dipertajam, setting white balance mana yang sesuai, berapa level eksposur yang dipakai, seberapa besar saturasi warna-nya dan seberapa besar beda kontrasnya dll. Hasil pengolahan data oleh software di dalam kamera ini selanjutnya dikirim ke memory card dalam bentuk file JPEG.
RAW adalah data mentah yang langsung ditangkap sensor sedangkan JPEG adalah data matang yang sudah diolah oleh software kamera. Jika kita memutuskan untuk memilih format RAW, berarti kita memerintahkan kamera untuk langsung mengirim data mentah dari sensor ke memory card. Dan kalau kita memilih format JPEG, berarti kita memerintahkan kamera untuk memproses data dari sensor terlebih dahulu sebelum mengirim ke memory card.
Kenapa harus ada format RAW?
Bagi sebagian besar penggemar fotografi, hasil olahan kamera seringkali sudah cukup bagus. Namun bagi kalangan profesional dan hobiis serius, mereka tidak rela kamera mengotak-atik foto yang mereka jepret. Format RAW membuat kita bisa mengubah-ubah parameter pemotretan sesuka kita. Dengan bantuan software pengolah RAW (photoshop, lightroom, GIMP, ACDSee dll), kita bisa mengubah nilai eksposur, white balance, saturasi sampai kontras  untuk kemudian menyimpannya dalam format yang lain: JPG atau TIFF.
Keuntungan memakai RAW?
1. Kita bisa mengotak – atik file mentah menjadi foto matang sesuai keinginan kita.
2. Opsi pengolahan foto menjadi jauh lebih banyak sehingga mereka yang berjiwa super kreatif lebih terpuaskan
3. Informasi yang tersimpan lebih banyak  (jika anda memilih JPEG, kamera akan menghilangkan sebagian kecil data untuk memperkecil ukuran file dan mempercepat  proses pengolahan)
4. Kualitas foto secara keseluruhan lebih baik, ini berkaitan dengan adanya kompresi jika memakai JPEG
Kerugian memakai RAW?
1. Memakan kapasitas hardisk dan memory card. Karena tidak ada proses kompresi, maka ukuran file RAW jauh lebih besar dibanding JPEG (sekitar 3 sampai 4 kali lebih besar)
2. Memakan waktu lebih banyak. Baik selama pemotretan (mengurangi kecepatan kamera terutama dalam mode burst) maupun selama pengolahan di komputer (karena ukuran file-nya).
Jadi Format Apa Yang Sebaiknya Dipilih?
1. Jika anda punya hardisk diatas 500GB, memory card minimal 4GB dan sedang memotret moment (atau orang atau tempat) yang istimewa, pilihlah mode RAW
2. Jika anda sedang memotret hal “biasa” atau butuh memotret berondongan (burst), atau hanya memiliki kapasitas hardisk dan memory card pas-pasan, pilihlah mode JPEG.
3. Atau ambil jalan tengah jika anda punya kapasitas hardisk dan memory card yang berlebih: pilih mode RAW + JPEG (kamera akan menyimpan 2 format sekaligus)
Catatan:
a. Format file JPEG juga mengijinkan pengolahan foto yang lumayan banyak, hanya hasil dan cakupannya tidak seluas dan sebaik RAW.
b. Tersedia juga format TIFF, namun sebaiknya tidak perlu dipakai karena ukuran file-nya yang segede gajah
http://belfot.com/

6 Keuntungan Memotret Dalam Format RAW

1. White Balance Yang Bisa Diedit
Saat memotret dengan RAW, kamera tidak akan mengotak-atik setting white balance sebuah foto. Sebuah foto akan secara lengsung dikirim dari sensor ke memory card tanpa kamera menyentuh dan mengubah apapun.
White balance hanya akan diterapkan saat kita mengekspor file menggunakan converter RAW macam Lightroom. Artinya adalah bahwa kita bisa mengubah setting white balance menjadi apapun setelah anda selesai memotret.
Ini cukup membantu saat kita memotret di kondisi dengan temperatur cahaya yang kompleks dan berubah-ubah (baca cara setting custom white balance di kamera), sehingga kita mudah melakukan koreksi saat editing di komputer. Tambah lagi, saat menggunakan format RAW, perubahan white balance tidak akan mengakibatkan artifak posterisasi seperti kalau anda mengubah white balance sebuah file JPEG seperti dibawah ini:
format-raw-2
format-raw-2
2. Highlight Recovery
Seperti anda ketahui, saat sebuah highlight di kasih over exposure mereka akan kehilangan detail dan menjadi putih total. Dengan RAW kadang seringkali kita bisa mengembalikan detail yang hilang. Kedengarannya mustahil namun penjelasannya ternyata cukup simpel. Sebuah piksel tersusun atas elemen/channel Red, Green dan Blue (RGB). Kadang saat kehilangan detail, bukan berarti ketiga elemen RGB tersebut hilang semua, siapa tau di channel Blue atau Green masih tersimpan detail yang bisa dikembalikan.
Ini bukan berarti kita bisa ngawur memotret, namun fitur ini bisa dimanfaatkan sebagai jaring pengaman sosial eh jaring pengaman memotret.
3. Lebih Banyak Keleluasaan Editing
Memotret dengan RAW itu ibaratnya anak kecil yang melukis dengan kotak krayon berisi 64 warna, namun memotret dengan JPEG itu ibaratnya hanya melukis dengan kotak krayon berisi 16 warna. See, makin banyak krayon kita bisa lebih leluasa memilih kombinasi warna, memilih gradien yang lebih halus dan seterusnya.
format Raw jpeg
format Raw jpeg
Anda akan merasakan manfaatnya saat mulai harus mengolah foto sedemikain rupa di Lightroom maupun Photoshop, foto dalam RAW akan memiliki lebih banyak detail, gradien yang lebih halus, shadow yang lebih kaya dll.
4. Non Destruktif
File RAW akan selalu tersimpan sebagai file yang murni dan tidak tersentuh dan tidak berubah. Dengan begitu kita bisa menyimpannya dan selalu bisa mengeditnya sesuai kehendak sampai kapanpun. Dengan aplikasi seperti Lightroom, saat kita mengedit sebuah foto dengan format RAW maka proses editing apapun (konveris ke hitam putih, crop, koreksi exposure dll) akan disimpan sebagi informasi yang terpisah dengan foto aslinya, dengan begitu foto kita akan selalu murni.
5. Batch Processing
Saat bekerja dengan file RAW di komputer, kita bisa menerapkan sebuah aturan editing pada beberapa file sekaligus. Misalnya saat kita kembali dari hunting foto dan menemukan bahwa white balance fotonya semua salah dan exposurenya under 1/3 stop, maka kita bisa melakukan koreksi white balance dan koreksi exposure secara beruntun pada semua foto. Yang seperti ini agak ribet dilakukan pada file JPG.
6. Digital Negative
Karena file RAW selalu murni, kita bisa menyimpannya dan memprosesnya sesuai kehendak dimasa depan. Siapa tahu nanti muncul aplikasi editing foto yang jauh lebih canggih dibanding sekarang dan foto kitapun tetap masih murni dan bisa di edit lagi. Masih ingat jaman film? kita selalu punya klise (negatif) sebuah foto yang penting supaya bisa dicetak lagi dan lagi dan lagi, nah file RAW bisa diasumsikan seperti klise/negatif sebuah foto.
http://belfot.com/6-keuntungan-raw/

Format RAW
Hadir dengan format yang berbeda untuk tiap produsen kamera (CRW dan CR2 untuk Canon, NEF untuk Nikon, dll). Format RAW ini dapat disimpan oleh semua D-SLR dan beberapa tipe kamera compact kelas atas yang umum beredar di pasaran saat ini. Jangkauan koreksi atas hasil foto masih sangat luas dan variatif, meliputi whitebalance, noise reduction, exposure, sharpness, contrast dan saturation. 
Proses editing foto dengan format RAW tidak menyebabkan adanya pixel yang hilang. Karena merupakan format file yang tidak universal maka software photo editing tidak bisa langsung membacanya dan kita membutuhkan software conveter untuk mengkonversinya menjadi format lain, yaitu TIFF atau JPEG. Bisa dikatakan, meskipun mampu menghasilkan foto yang berkualitas bagus, menggunakan RAW sedikit membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
Format RAW adalah format "murni" hasil tangkapan dari sensor digital yang sama sekali belum disentuh oleh kompresi atau pun interpolasi apapun! Jadi datanya pun bisa diistilahkan "fresh from the oven" nah loh bahasa Inggris :) ok artinya "masih hangat seperti baru keluar dari oven". Kok malah ke dapur makanan? hehehe namanya juga istilah / perumpamaan :), kembali ke topik, jadi intinya begini : belum ada data yang hilang karena kompresi, belum ada keputusan processing apapun yang diambil. Apa yang dilihat/ditangkap oleh sensor digital, itulah yang ada di data RAWnya.
Nah kan jadi timbul pertanyaan lagi, "kira - kira data apa yang ada di sebuah file berformat RAW?" Apa yang ada di dalam sebuah file RAW sangat bervariasi, tergantung produsen kamera digital yang mengambil gambar RAW tersebut. Tiap produsen kamera digital memiliki teknologi dan fitur-fitur canggihnya masing-masing dalam produk sensor digitalnya dan memasukkan teknologi tesebut dengan cara yang bervariasi ke dalam format RAWnya, sehingga tiap produsen kamera memiliki format RAWnya masing-masing. Namun, pada dasarnya, format RAW yang dihasilkan kamera digital dewasa ini berupa data-data pixel dimana masing-masing pixelnya menyimpan sebuah nilai pada salah satu warna digital (Merah, Hijau, atau Biru - RedGreenBlue). RAW file juga diyakini mempunyai kemampuan dynamic range yang baik dibanding format file yang lainnya. Sebagai format file nonkompresi RAW mempunyai ukuran file yang sangat besar dengan color bit depth (kedalaman warna) juga besar, yaitu mencapai 16 bit.
lossless and loosy
Pada tiap modul yang terdiri dari 4 pixel, terdiri dari sebuah pixel merah, sebuah pixel biru, dan dua buah pixel hijau. Kenapa ada 2 hijau??? Karena menurut studi para ilmuwan jenius di sana, mata kita lebih sensitif pada warna hijau; jadi supaya tangkapan sensor digital mirip-mirip dengan tangkapan mata kita, maka sensor digital pun dibuat lebih banyak menangkap warna hijau.
Kedetailan nilai warna pada tiap pixel tergantung pada kemampuan sensor digital itu sendiri dimana didefinisikan dengan satuan bit. Pada umumnya kamera D-SLR saat ini mampu menangkap gambar dengan kedetailan/kedalaman (bit depth) hingga 12 bit. Bagi yang belum tahu tentang bit Dept bisa baca Penjelasan tentang Bit Depth
Kenapa harus ada format RAW?
Bagi sebagian besar penggemar fotografi, hasil olahan kamera seringkali sudah cukup bagus. Namun bagi kalangan fotografer profesional mereka tidak rela kamera mengotak-atik foto yang mereka jepret. Format RAW membuat kita bisa mengubah-ubah parameter pemotretan sesuka kita. Dengan bantuan software pengolah RAW (photoshop, lightroom, GIMP, ACDSee dll), kita bisa mengubah nilai eksposur, white balance, saturasi sampai kontras untuk kemudian menyimpannya dalam format yang lain: JPG atau TIFF.
Keuntungan memakai RAW?
- Kita bisa mengotak - atik file mentah menjadi foto matang sesuai keinginan kita.
- Opsi pengolahan foto menjadi jauh lebih banyak sehingga mereka yang berjiwa super kreatif lebih terpuaskan
- Informasi yang tersimpan lebih banyak (jika anda memilih JPEG, kamera akan menghilangkan sebagian kecil data untuk memperkecil ukuran file dan mempercepat proses pengolahan)
- Kualitas foto secara keseluruhan lebih baik, ini berkaitan dengan adanya kompresi jika memakai JPEG
- Terhindar dari under / over eksposure (bisa kompensasi eksposur)
- Mengatur white balance dengan lebih akurat
- Mengatur setting dasar seperti sharpening, noise reduction, kontras dan curve secara leluasa
- Mendapat dynamic range lebih lebar
- Mengatur kadar pengurang noise sesuai kebutuhan
- Lebih leluasa bermain warna dan saturasi
- Kita bebas menentukan tingkat rasio kompresi JPEG
Kerugian memakai RAW?
- Memakan kapasitas hardisk dan memory card. Karena tidak ada proses kompresi, maka ukuran file RAW jauh lebih besar dibanding JPEG (sekitar 3 sampai 4 kali lebih besar)
- Memakan waktu lebih banyak. Baik selama pemotretan (mengurangi kecepatan kamera terutama dalam mode burst) maupun selama pengolahan di komputer (karena ukuran file-nya).
- Ukuran yang besar membuat memori dan hard disk cepat penuh
- Perlu komputer dengan spesifikasi kencang / Tinggi (high end)
- Memakan waktu lama untuk mengolah banyak foto
- Perlu software atau plugin khusus untuk mengolah RAW
- Setiap ada kamera baru perlu mendownload database camera RAW yang sesuai
Kesimpulannya, Jadi Format Apa Yang Sebaiknya Dipilih?
- Jika anda punya hardisk diatas 500GB, memory card minimal 4GB dan sedang memotret moment (atau orang atau tempat) yang istimewa, pilihlah mode RAW
- Jika anda sedang memotret hal "biasa" atau butuh memotret berondongan (burst), atau hanya memiliki kapasitas hardisk dan memory card pas-pasan, pilihlah mode JPEG.
Atau ambil jalan tengah jika anda punya kapasitas hardisk dan memory card yang berlebih: pilih mode RAW + JPEG (kamera akan menyimpan 2 format sekaligus)
Catatan:
Format file JPEG juga mengijinkan pengolahan foto yang lumayan banyak, hanya hasil dan cakupannya tidak seluas dan sebaik RAW.
Tersedia juga format TIFF, namun sebaiknya tidak perlu dipakai karena ukuran file-nya yang sangat besar jadi Rakus memori
Jadi bila ingin memaksimalkan fitur RAW di kamera anda, mulailah dengan mencari tahu software yang cocok untuk mengolahnya. Salah satu software gratisan rekomendasi kami adalah RAW therapee bisa dicari di Google Search
http://www.ilmugrafis.com/

RAW secara sederhana dapat diartikan dengan sebuah file gambar yang memiliki warna asli dari hasil tangkapan kamera dan belum diolah menjadi sebuah gambar. Kebanyakan Kamera digital menembak, memproses dan mengkompres gambar secara cepat untuk menyajikan gambar. Dengan metode ini kita tidak perlu lagi mengontrol warna, white-balance, exposure dan lain sebagainya. Namun, beberapa orang, seperti fotografer profesional, lebih memilih untuk memiliki kontrol atas bagaimana setiap gambar diproses. Oleh karena itu, banyak kamera high-end memiliki kemampuan untuk menembak dalam mode RAW. Mode ini tidak menyajikan gambar sama sekali, dan tetap membuat gambar dengan warna dan ukuran yang asli.

Karena file RAW Kamera yang belum dikompres, maka mereka mengambil ruang lebih dari gambar JPEG. Bahkan, file RAW sering membutuhkan 2 sampai 3 kali lebih banyak ruang untuk setiap foto yang diambil. Jadi, Anda akan membutuhkan memiliki kartu memori ekstra besar di kamera Anda jika Anda berencana untuk menembak dalam mode RAW. Tapi karena Foto RAW tidak dikompresi, Anda dapat menjaga kualitas penuh setiap gambar. Hal ini dapat membuat perbedaan nyata saat mencetak gambar, terutama untuk cetakan ukuran besar.
Kamera file RAW juga tidak memproses gambar, berarti semua proses foto dilakukan di komputer. Hal ini seperti mengambil sebuah film negatif ke ruang gelap untuk dikembangkan. File RAW adalah negatif dan komputer berfungsi sebagai ruang gelap. Dengan file RAW, Anda memiliki kontrol penuh atas penyesuaian white-balance, warna, hue, dan eksposur. Namun, karena file RAW Kamera tidak biasa bagi pengguna umum, sebagian besar program image viewer tidak akan dapat membukanya. Oleh karena itu, sebagian besar perusahaan kamera yang memiliki kamera RAW juga memiliki image editing software dengan kamera high-end mereka. Program-program ini memungkinkan Anda untuk membuka file RAW, melakukan pengolahan diperlukan, dan menyimpannya dalam format gambar umum seperti bitmap, TIFF, dan JPEG.
Saat pemotretan di kamera mode RAW menawarkan banyak kontrol atas foto Anda, dibutuhkan software tambahan dan waktu tambahan untuk membuka dan mengedit setiap gambar yang Anda ambil. Bagi kebanyakan fotografi yang pemalas dan ingin cepat, menggunakan built-in pengolahan kamera adalah pilihan yang paling cocok.
http://www.informasi-internet.com/

bisa di baca juga di sini

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer