Ilmu Filologi

Filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik.Hal ini lebih sering didefinisikan sebagai studi tentang teks-teks sastra dan catatan tertulis, penetapan dari keotentikannya dan keaslian dari pembentukannya dan penentuan maknanya. Filologi juga merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskahmanuskrip, biasanya dari zaman kuno.
Sebuah teks yang termuat dalam sebuah naskah manuskrip, terutama yang berasal dari masa lampau, seringkali sulit untuk dipahami, tidak karena bahasanya yang sulit, tetapi karena naskah manuskrip disalin berulang-ulang kali. Dengan begini, naskah-naskah banyak yang memuat kesalahan-kesalahan.
Tugas seorang filolog, nama untuk ahli filologi, ialah meneliti naskah-naskah ini, membuat laporan tentang keadaan naskah-naskah ini, dan menyunting teks yang ada di dalamnya. Ilmu filologi biasanya berdampingan dengan paleografi, atau ilmu tentang tulisan pada masa lampau.
Salah seorang filolog Indonesia ternama adalah Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka.

Etimologi

Filologi, istilah ini berasal dari bahasa Yunani φιλολογία (philologia).dari istilah φίλος (philos), yang berarti "cinta, kasih sayang, mencintai, dicintai, sayang, teman" dan λόγος (logos), yang berarti "kata, artikulasi, alasan ", menggambarkan kecintaan belajar, sastra serta argumen dan penalaran, yang mencerminkan berbagai kegiatan termasuk dalam pengertian λόγος. Istilah berubah sedikit dengan philologia Latin, dan kemudian memasuki bahasa Inggris pada abad ke-16, dari Philologie Perancis Tengah, dalam arti "cinta sastra".
Kata sifat φιλόλογος ( philologos ) berarti " menyukai diskusi atau argumen, latah ", di Yunani Helenistik juga menyiratkan ( " sophistic " ) preferensi berlebihan argumen atas cinta akan kebijaksanaan sejati , φιλόσοφος ( philosophos ) .
Sebagai sebuah kiasan dari pengetahuan sastra, Philologia muncul pada abad ke-5 sastra pasca - klasik ( Martianus Capella , De nuptiis Philologiae et Mercurii ), ide dihidupkan kembali dalam literatur Abad Pertengahan ( Chaucer , Lydgate ).
Yang dimaksud dengan " cinta belajar dan sastra " dipersempit untuk " studi tentang sejarah perkembangan bahasa " ( linguistik historis ) dalam penggunaan istilah abad ke-19. Karena kemajuan pesat yang dibuat dalam memahami hukum suara dan perubahan bahasa, " zaman keemasan filologi " berlangsung sepanjang abad, atau " dari Friedrich Schlegel ke Nietzsche" ke-19.Dalam dunia Anglo -Saxon, yang filologi istilah untuk menggambarkan pekerjaan pada bahasa dan sastra, yang telah menjadi identik dengan praktek sarjana Jerman, ditinggalkan sebagai konsekuensi dari perasaan anti -Jerman setelah Perang Dunia. Sebagian besar negara-negara Eropa kontinental masih mempertahankan istilah untuk menunjuk departemen, perguruan tinggi, judul posisi, dan jurnal. JRR Tolkien menentang reaksi nasionalis terhadap praktek filologis, mengklaim bahwa "naluri filologi" adalah "universal seperti penggunaan bahasa".Dalam penggunaan bahasa Inggris British, dan akademisi Inggris, " filologi " sebagian besar masih identik dengan " linguistik historis ", sedangkan dalam bahasa Inggris Amerika, dan akademisi AS, makna yang lebih luas dari " studi tata bahasa, sejarah dan tradisi sastra " tetap lebih luas. 
Pengertian Filologi
1. Menurut Etimologi
Filologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani “philos” yang berarti “cinta” dan logos ” yang diartikan kata. Pada kata “filologi” kedua kata itu membentuk arti “cinta kata” atau “senang bertutur”. Arti ini kemudian berkembang menjadi “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Pengkajian filologi pun selanjutnya membatasi diri pada penelitian hasil kebudayaan masyarakat lama yang berupa tulisan dalam naskah (teks).
2. Menurut Terminologi
Filologi sebagai istilah mempunyai beberapa arti sebagai berikut:
  1. Filologi sudah dipakai sejak abad ke-3 SM, oleh sekelompokAhli dari Aleksandria yang kemudian dikenal sebagai ahli filologi. Yang pertama-tama  memakainya adalah Erastothenes. Pada waktu itu, mereka berusaha mengkaji teks-teks lama yang berbahas Yunani yang bertujuan menemukan bentuknya yang asli untuk mengetahui maksud pengarangnya dengan jalan menyisihkan kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalamnya. Pada waktu itu mereka menghadapi teks dalam sejumlah naskah yang masing-masing menunjukkan bacaan yang berbeda (varian) bahkan ada yang menunjukkan bacaan yang rusak (korup). Dalam hal ini, ahli filologi dengan intuisinya memilih naskah yang memungkinkan penyusutan silisilahnya untuk mendapatkan bacaan hipotesis yang dipandang asli, atau yang palimg dekat dengan aslinya. Kegiatan tersebut, dewasa ini dikenal dengan istilah hermeneutik.
  2. Filologi pernah dipandang sebagai sastra yang alamiah. Arti ini muncul ketika teks-teks yang dikaji itu berupa karya sastra yang bernilai sastra tinggi ialah karya-karya Humeros. Keadaan tersebut membawa filologi kepada suatu arti yang memperhatikan segi kesastraannya. Pada saat ini, arti demikian tidak ditemukan lagi.
  3. Filologi dipakai juga sebagai istilah untuk menyebut studi bahasa atau ilmu bahasa (linguistik). Lahirnya pengertian ini akibat dari pentingnya peranan bahasa dalam mengkaji teks sehingga kajian utama filologi adalah bahasa, terutama bahasa teks-teks lama. Di negeri Belanda, istilah filologi berarti ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan studi teks sastra atau budaya yang berkaitan dengan latar belakang kebudayaan yang dilakukan oleh teks tersebut.
  4. Dalam perkembangannya yang mutakhir, filologi memandangperbedaan yang ada dalam berbagai naskah sebagai suatu ciptaan dan menitikberatkan kerjanya pada perbedaan-perbedaan tersebut serta memandangnya justru sebagai alternatif yang positif. Dalam hal ini, suatu naskah dipandang  sebagai suatu penciptaan baru yang mencerminkan perhatian yang aktif dari pembacanya.
  5. Filologi adalah ilmu yang membahas cara penelitian teks untuk dapat menarik pemahaman nilai-nilai kebudayaan yang ada di dalam teks tersebut baik yang tersurat maupun yang tersirat.
Jenis-Jenis Filologi 
Filologi terbagi menjadi dua yaitu kadikologi dan tekstologi .
1. Kadikologi
Istilah kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’–bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk kodikologi, atau biasa disebut ilmu pernaskahan bertujuan mengetahui segala aspek naskah yang diteliti. Aspek-aspek tersebut adalah aspek di luar isi kandungan naskah tentunya.
Kodikologi adalah satu bidang ilmu yang biasanya bekerjasama dengan bidang ilmu ini. Kalau filologi mengkhususkan pada pemahaman isi teks/ kandungan teks, sedangkan kodikologi adalah ilmu yang khusus mempelajari seluk beluk atau semua aspek naskah meliputi: bahan, umur, tempat penulisan, perkiraan penulis naskah.Dari bahan naskah, tempat penulisan, perkiraan penulis naskah, jenis dan asal kertas, bentuk dan asal cap kertas, jenis tulisan, gambar/ ilustrasi, hiasan/ illuminasi, dan lain-lain. Makanya, tugas kodikologi selanjutnya adalah mengetahui sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, meneliti tempat-tempat naskah sebenarnya, menyusun katalog, menyusun  daftar katalog naskah, menyusuri perdagangan naskah, sampai pada penggunaan naskah-naskah itu (Dain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, 1994: 2–3).
2. Tekstologi
Secara etimologis, Tekstologi terdiri atas dua kata yaitu teks dan logi, yang berarti ilmu tentang teks. Tekstologi adalah bagian dari filologi yang berusaha mengkaji teks yang terkandung dalam naskah-naskah kuno. Teks dalam naskah kuno sarat dengan nilai-nilai luhur ajaran nenek moyang. Tekstologi ialah ilmu yang mempelajari seluk beluk dalam teks meliputi meneliti penjelmaan dan penurunan teks sebuah karya sastra, penafsiran, dan pemahamannya. Dengan menyelidiki sejarah teks suatu karya.
  Tujuan Filologi
Setiap kegiatan yang terstruktur dan terarah haruslah memiliki tujuan yang jelas. Filologi sebagai ilmu yang yang berkarakteristis praktis, yaitu melakukan kerja penelitian terhadap teks memiliki tujuan yang bermacam-macam sesuai dengan tuntutan pragmatisnya. Meskipun demikian, filologi juga memiliki tujuan yang secara inheren merupakan tuntutan dari dalam ilmu itu sendiri. Tujuan tersebut berupa tujuan yang bersifat umum dan tujuan yang bersifat khusus sebagai berikut.
1. Tujuan Umum Filologi
1)        Memahami sejauh mungkin kebudayaan suatu bangsa lewat hasil sastranya baik lisan maupun tulis. Memahami makna dan fungsi teks bagi masyarakat penciptanya.
2)        Mengungkapkan nilai-nilai budaya lama sebagai alternatif pengembangan kebudayaan.
3)        Melestarikan warisan budaya bangsa.
2. Tujuan Khusus Filologi
1)        Mengungkapkan gambaran naskah dari segi fisik dan isinya;
2)        Mengemukakan persamaan dan perbedaan antarnaskah yang berbeda;
3)        Menjelaskan pertalian antarnaskah;
4)        Menguraikan fungsi isi, cerita dan fungsi teksnya;
5)        Menyajikan suntingan teks yang mendekati teks asli, autoritatif, bersih dari kesalahan untuk keperluan penelitian dalam berbagai bidang ilmu (sastra, bahasa, filsafat)
6)        Menyajikan terjemahan hasil suntingan teks dan tulisan dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas (misalnya dalam tulisan dan bahasa Indonesia)
Karakteristik Penurunan Teks
Dasar studi filologi adalah adanya variasi teks, atau filologi berdasar pada prinsip bahwa teks berubah dalam penurunannya. Variasi teks dapat dipandang sebagai:
1) kesalahan penyalin
2) sebagai bentuk kreasi penyalin yang melahirkan pandangan filologi modern
Adapun karakteristik penurunan teks ada empat model.
1)        Teks sejak pertama kalinya memang berupa teks lisan.
2)        Teks yang semula oleh pengarangnya diproduksi secara lisan tersebut kemudian oleh pengarangnya diproduksi secara tulis.
3)        Teks sejak pertama memang berupa teks tulis.
4)        Teks yang berupa karya tulis tersebut kemudian oleh pengarang disosialisasikan atau diproduksi lagi dalam bentuk lisan ketika pengarang tersebut diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil karyanya.
 Prinsip Pelacakan Penurunan Teks
Seorang filolog setelah berhasil menemukan berbagai macam naskah sebuah teks maka tugas selanjutnya ialah mengidentifikasi setiap naskah yang telah diperolehnya tersebut. Dalam pengidentifikasian, filolog harus mencatat setiap teks dengan mendeskripsikan fisiknya (ukurannya, bentuk tulisannya, warna tintanya, bahan naskahnya, dan kondisi fisisk naskahnya), asal-usulnya (misalnya, naskah diperoleh dari Perpustakaan Nasional), nomor katalognya (misalnya, ML 386, Codor 6789, dsb), kemudian setiap naskah diberi indentitas baru sebagai naskah sample / variabel A, B, C, dan seterusnya. Tugas berikutnya yang harus dilakukan oleh filolog ialah menelusuri hubungan kekerabatan antar naskah variabel yang telah ditemukan. Penelusuran hubungan antar naskah tersebut berdasarkan penurunan teks yang secara teoretis dihipotesiskan sebagai stema, yaitu susunan
silsilah naskah yang menjelaskan garis penurunan teks dari penurunan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Garis penurunan diasumsikan bahwa naskah asli atau otograf adalah naskah yang tidak bisa dilacak lagi atau hanya sebagai naskah hipotesis atau naskah yang keberadaannya masih diandaikan dan disebut juga sebagai arketip.
Kedudukan Filologi di antara Ilmu-Ilmu Lain
Filologi dan ilmu-ilmu lain mempunyai hubungan yang sangat erat, hubungan tersebut berlangsung secara timbal balik dan saling membutuhkan. Untuk kepentingan tertentu, filologi memandang ilmu-ilmu yang lain sebagai ilmu bantunya, dan sebaliknya ilmu-ilmu yang lain, juga untuk kepentingan tertentu memandang filologi sebagai ilmu bantunya. Berikutnya akan dikemukakan relevansi ilmu-ilmu yang dipandang sebagai ilmu bantu filologi dan yang memandang filologi sebagai ilmu bantu.
1)      Linguistik
2)      Pengetahuan bahasa-bahasa yang mempengaruhi bahasa teks
3)      Paleografi
4)      Ilmu sastra
5)      Hindu, Budha, dan Islam
6)      Sejarah kebudayaan
7)      Antropologi
Filologi sebagai ilmu bantu ilmu-ilmu lain, yaitu:
1)      Flilologi sebagai ilmu bantu linguistik;
2)      Filologi sebagai ilmu bantu ilmu sastra;
3)       Filologi sebagai ilmu bantu sejarah kebudayaan;
4)       Filologi sebagai ilmu bantu hukum adat
5)      Filologi sebagai ilmu bantu sejarah perkembangan agama
6)      Filologi sebagai ilmu bantu filsafat
Sasaran dan Objek Studi Filologi
Yang menjadi sasaran filologi adalah naskah, ilmu yang berkaitan dengan pernaskahan disebut kodikologi. Jadi objek filologi adalah teks atau kandungan naskah.
Perbedaan Teks dan Naskah
Teks adalah kata-kata atau tulisan asli pengarang atau naskah asli yang ditulis oleh pengarang. Teks ini biasanya di tulis oleh pengarangnya dengan tulisan tangan lembar demi lembar hingga siap untuk dibaca. Setiap pengarang biasanya hanya membuat sebuah teks untuk kemudian disebarluaskan atau disosialisikan. Setelah selesai membuat karangan, bisanya energi seorang pengarang difokuskan untuk karya berikutnya. Ketika teks tersebut telah sampai di masyarakat muncullah kegiatan lain, yaitu pembacaan teks yang dilakuan oleh masyarakat. Peristiwa pembacaan tersebut mendorong munculnya peristiwa lain, yaitu keinginan-keinginan untuk menggandakan atau menyalin teks tersebut dengan berbagai macam alasan.
Penelitian Bahan Naskah
Bahan naskah Nusantara bermacam-macam antara lain sebagai berikut.
1)             Karas yaitu semacam papan atau batu tulis digunakan untuk sementara (seperti naskah Jawa Kuno).
2)  Lontar (ron tal) = daun tal atau daun siwalan (seperti naskah Jawa, Bali dan Lombok).
3)  Dluwang = kertas Jawa dari kulit kayu.
4)  Kulit kayu, bambu, dan rotan (seperti naskah Batak).
5)  Kertas Eropa yang diimpor pada abad ke-18 dan ke-19 menggantikan dluwang karena kualitasnya lebih baik (seperti pada naskah-naskah  Jawa dan Melayu).
Penelitian Teks Tulis
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penelitian teks tulis sebagai berikut.
1)      Penerapan tekstologi Lichcev disesuaikan dengan karakteristik teks.
Apakah lisan, tulis maupun cetak untuk mencapai tujuannya memperhatikan karakteristik teks masing-masing. Di samping itu, juga perlu memperhatikan sepuluh ketentuan yang diajukan Lichacev untuk setiap penelitian sebuah teks dalam filologi. Sepuluh ketentuan yang diajukan Lichacev adalah sebagai berikut.
  1. Penelitian teks berusaha menyelidiki sejarah teks suatu karya.
Salah satu penerapan praktis penelitian ini adalah suntingan teks. Pernyataan pertama yang ditawarkan Lichacev pada setiap penelitian teks ialah agar peneliti selalu berusaha menyelidiki sejarah teks suatu karya dan salah satu penerapan praktisnya adalah suntingan teks. Menyunting sebuah teks berarti mempersiapkan teks agar layak untuk diterbitkan sehingga dapat dibaca oleh setiap orang serta dapat dipahami maknanya. Untuk memahami makna sebuah teks salah satu instrumen yang digunakan adalah konteks, yaitu segala sesuatu yang menyertai dan berada di sekitar teks yang secara struktural mempunyai kontribusi terhadap keberadaan teks. Konteks tersebut dapat diketahui melalui penelusuran sejarah teks atau penelusuran setiap perubahan atau transformasi teks ketika teks tersebut diturunkan atau disalin. Oleh karena itu, penelitian sejarah teks merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian praktis teks yang berupa suntingan teks.
  1. Pertama-tama penelitian teks, baru kemudian penerbitannya.
Pernyataan kedua yang disarankan oleh Lichacev adalah mendahulukan penelitian teks, kemudian baru dilanjutkan ke penerbitannya. Pernyataan  ini sebenarnya merupakan penegasan tesis pertama. Hanya saja secara prakmatis, meskipun penerbitan dapat dilakukan sebelum melakukan penelitian teks namun seandainya hal tersebut dilakukan maka besar kemungkinannya akan memunculkan beberapa permasalahan, antara lain : suntingan teks tidak sesuai dengan konteksnya, suntingan teks tidak bisa menunjukkan teks salinan yang diwakili, dan munculnya salah tafsir.
  1. Edisi teks harus menggambarkan sejarahnya.
Pernyataan  ketiga sebetulnya merupakan hasil dari tesis pertama dan kedua yang indikatornya harus muncul dalam sebuah penerbitan teks. Pernyataan  pertama akan menghasilkan sejarah penurunan teks sedangkan tesis kedua, yaitu melanjutkan pernyataan pertama dengan cara menerbitkan teks maka dalam pernyataan  ketiga ini memberikan rambu-rambu bahwa hasil temuan yang telah dilakukan pada penelitian sejarah teks harus menjadai pegangan dasar dalam menyunting sebuah teks. Dengan demikian, maka secara otomatis edisi teks harus menggambarkan sejarahnya.
  1. Penelitian teks harus disertai dengan penjelasan.
Pada pernyataan keempat Lichacev menegaskan bahwa tekstologi atau penelitian teks harus disertai dengan penjelasan. Menurutnya, penelitian teks yang tidak diberi penjelasan dari setiap simpulan yang ditemukan tidaklah dapat dikatakan sebagai penelitian teks. Misalnya, dari tiga naskah ya ng ditemukan (naskah A, B, dan C) setidaknya dapat ditelusuri hubungan kekerabatan ketiganya, yaitu naskah B merupakan naskah yang lebih tua dan diturunkan menjadi naskah A, sedangkan naskah C adalah naskah yang berbeda versi dengan kedua naskah tersebut namun  jika dilihat dari gaya bahasa dan retorikanya naskah C tersebut lebih tua dari keduanya. Di samping memberikan penjelasan berdasarkan prinsip-prinsip logika seperti di atas, setiap simpulan juga harus dijelaskan dengan memberikan data-data (kesaksian) temuan yang terdapat dalam setiap naskah sebuah teks. Demikian juga jika simpulan penelitian menunjukkan tidak jelasnya hubungan kekerabatan ketiganya, penjelasan berdasarkan logika maupun data-data yang diambil dari dalam teks.
  1. Data-data (kesaksian) perubahan teks yang dilakukan secara sadar (secara ideologis, estetik, psikologik, dan sebagainya harus diberi prioritas atas data perubahan teks yang mekanis (kesalahan yang tidak disengaja oleh penyalin).
Pada pernyataan kelima Lichacev menyarankan bahwa penelitian terhadap perubahan teks yang secara sadar karena alasan ideologis, estetik, psikologis, dan sebagainya harus diprioritaskan daripada perubahan karena kesalahan mekanis (kesalahan tidak sengaja). Sebagaimana diketahui bahwa adanya perbedaan antara sebuah naskah yang satu dengan naskah yang lain dari teks yang sama adalah disebabkan oleh adanya kesalahan mekanis dan kesengajaan penyalin. Kesalahan-kesalahan yang menyangkut masalah ungkapan meliputi konsep, seperti Ali radliyallahu ‘anhu menjadi karamallahu wajhah menunjukkan adanya perubahan idelogi sunni menjadi ideologi syi’ah. Perubahan seperti inilah yang dimaksud sebagai perubahan yang disengaja dan harus diprioritaskan dalam penelitian teks. Karena menyangkut masalah ideologi maka penelusuran terhadap motif perubahan mempunyai makna terhadap penafsiran kebudayaan. Perubahan di atas berbeda dengan perubahan kata “tetapi” menjadi “tapi” atau saut du meme au meme penyalinan meloncat dari kata satu ke kata lain atau dari kalimat satu ke kalimat lain karena adanya perkataan yang sama. Perubahan yang terakhir ini secara fisik mudah
ditemukan dan juga sudah dapat diduga faktor penyebabnya yang sebagian besar merupakan kelemahan manusia. Perubahan seperti ini tidak memiliki makna dalam kebudayaan. Meskipun demikian, secara tidak langsung dapat digunakan untuk menelusuri sejarah teks.
  1. Teks perlu diteliti secara keseluruhan.
Pernyataan keenam Lichacev mengingatkan para filolog bahwa teks mempunyai karakteristik yang kompleks. Artinya, di samping di dalam teks berisi berbagai macam hasil kebudayaan yang kompleks, di luar teks pun memuat data-data kesaksian yang tidak kalah kompleksnya dengan isi teks baik sebagai artefak, sistem tingkah laku, maupun nilai budaya.
  1. Bahan penyerta teks (konvoi, kolofon, dan lain-lain) suatu karya sastra dalam satu kumpulan (kodeks) perlu diteliti.
Pernyataan ketujuh Lichacev menyarankan supaya bahan penyerta tekstologi (konvoi, kolofon, dan lain-lain) suatu karya sastra dalam kumpulan kodeks perlu diteliti. Sebagaimana diketahui bahwa
bahan penyerta teks adalah salah satu data (kesaksian) yang dapat memberikan petunjuk tentang eksistensi teks. Petunjuk tersebut antara lain meliputi kapan naskah ditulis atau mulai disimpan atau dimiliki, di mana naskah tersebut ditulis atau disimpan, bahkan sering juga dijumpai catatan yang menjelaskan tanggapan pembaca atau pemilik naskah baik mengenai konsep-konsep yang dimuat di dalamnya maupun asal-usul naskah yang dimiliki. Hasil penelitian terhadap semua keterangan tersebut sangat membantu dalam memahami dan meneliti teks secara keseluruhan terutama untuk merekonstruksi teks yang diteliti.
  1. Perlu diteliti bayangan sejarah teks sebuah karya dalam monumen sastra lain.
Pada pernyataan kedelapan Lichacev menerangkan perlunya peneltian terhadap bayangan sejarah teks sebuah karya sastra dalam monumen sastra lain. Dalam sastra Melayu sering dijumpai sebuah karya sastra atau bagian dari karya sastra disebutkan dalam karya sastra lain dengan tujuan untuk menguatkan cerita atau untuk mengaitkan cerita baru dengan cerita yang telah lebih dahulu ada.
  1. Pekerjaan sang penyalin dan kegiatan skriptoria masing-masing perlu diteliti.
Pekerjaan sang penyalin dan kegiatan skriptoria masing-masing perlu diteliti. Pada tesis ini Lichacev mengingatkan bahwa jika masih bisa ditemukan para penyalin berikut dengan kegiatannya terutama yang berkaitan dengan teks yang sedang diteliti maka para penyalin berikut dengan kegiatnnya tersebut perlu diteliti. Di daerah Wonosobo, dijumpai para santri sebuah pesantren bertindak sebagai penyalin kitab-kitab karya kiainya. Naskah hasil penyalinan tersebut kemudian dijual kepada santri lain. Naskah hasil penyalinan tidak boleh difoto kopi atau
diterbitkan dalam bentuk buku cetak.
  1. Rekonstruksi suatu teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan secara faktual.
Rekonstruksi suatu teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan secara faktual. Pernyataan  ini ditujukan kepada para filolog bahwa teks hasil rekonstruksi tidak bisa dijadikan sebagai naskah variabel dalam penelitian. Teks hasil rekonstruksi merupakan teks hibrid sehingga tidak bisa mewakili salah satu dari naskah sebuah teks.
  • Karakteristik teks tulis sangat tergantung dengan naskah atau kodeks.
  • Sebelum melakukan penelitian teks hendaknya melakukan penelitiannaskah atau kodeks.
Penelitian Umur Naskah
          Untuk mengetahui umur naskah maka ada beberapa hal yang perlu diketahui sebagai berikut.
1)      Umur naskah dapat dirunut dari dalam (interne evidentie) dan keterangan dari luar (externe evidentie).
2)      Perunutan dari dalam ditunjukkan dari adanya fenomena berikut ini.
  1. a) Kolofon, yaitu keterangan waktu awal dan akhir penulisan teks.
  2. b) Watermark (cap air), yaitu lambang pabrik pembuat kertas yang menunjukkan tahun pembuatan kertas. Naskah yang ditulis di atas kertas seperti ini menunjukkan setidak naskah ditulis setelah tahun pembuatan kertas.
3)    Perunutan dari luar ditunjukkan dari adanya fenomena berikut ini.
a) Catatan di sampul luar , sampul keras depan, dan belakang naskah.
b) Catatan asal mula naskah menjadi milik berbagai perpustakaan.
c) Peristiwa-peristiwa sejarah yang disebut dalam teks menunjukkan bahwa teks ditulis setelah terjadinya peristiwa.
d) Penyebutan teks pada teks lain yang telah memiliki angka tahun yangh jelas menunjukkan bahwa teks tersebut setidaknya penulisan paling akhir sebelum diterbitkannya teks yang telah menyebutkannya.
Contoh Kasus:
Teks Hikayat Hang Tuah memuat peristiwa kekalahan Portugis oleh bangsa Belanda (1641) tetapi Hikayat tersebut juga telah disebutkan dalam Oud en Nieuw Oost Indien karangan Francois Valentijn (1726). Hal ini menunjukkan bahwa saat penulisan paling awal (terminus a quo) teks Hang Tuah setelah tahun 1641 tetapi penulisan paling akhir (terminus ad quem) sebelun tahun 1726.
Penelitian Tempat Penulisan Naskah
          Adapun tempat penulisan naskah yang dimaksud di sini adalah sebagai berikut.
1)        Tempat penulisan naskah biasanya dijelaskan pada kolofon yang terletak di akhir naskah.
2)        Tempat penulisan naskah sangat berguna untuk memahami makna naskah terutama dalam memaknai kosa-kosa kata yang digunakan oleh masyarakat tertentu berdasarkan visi dan misi penulisan naskah. Tempat-tempat penulisan yang menunjukkan nama ibu kota atau negara besar kemungkinannya teks ditulis untuk kepentingan istana, sedangkan teks yang ditulis di daerah-daerah yang bukan menunjukkan nama ibu kota dan negara besar kemungkinannya teks ditulis untu kepentingan rakyat, keagamaan, dan sebagainya.
Penelitian Perkiraan Penulis Naskah
Untuk mengetahui perkiraan penulis naskah, maka ketentuannya sebagai berikut.
1)        Pengetahuan tentang penulis naskah terutama secara sosiologis dapat menjelaskan pandangan dunia pengarang sehingga dapat membantu untuk memahami makna teks secara keseluruhan.
2)        Penulis naskah dapat diperkirakan dari pengetahuannya tentang segala sesuatu yang telah ia tulis dalam teks.
3)        Bukhari Al-Jauhari, penulis Tajus- Salathin pengetahuannya yang sangat mendalam tentang agama menunjukkan ia seorang ulama, sedangkan pengetahuannya tentang seluk beluk kerajaan menunjukkan bahwa ia pernah tinggal di kerajaan atau dekat dengan pemegang kekuasaan. Status sosial pengarang seperti di atas dapat menunjukkan pandangan dunia siapa yang ia wakili dalam menuliskan teks tersebut.
Perbandingan Teks
Yang dimaksud dengan perbandingan teks adalah sebagai berikut.
1)        Perbandingan dilakukan terhadap teks yang memiliki lebih dari satu naskah (bukan naskah tunggal/ codeks unicus).
2)        Perbandingan dilakukan untuk mencari ada tidaknya versi dan varian.
3)        Untuk mencari adanya ada tidaknya versi dilakukan perbandingan terhadap unsur-unsur intrinsik teks.
4)        Pencarian ada tidaknya varian (perbedaan kata dan kalimat) dilakukan terhadap teks yang seversi. Teks yang tidak seversi tidak perlu dicari variannnya.
5)        Hasil perbandingan teks setidaknya dapat merunut sejarah dan kekerabatan teks.
Metode Penyuntingan Teks
Untuk mengetahui metode-metode penyuntingan teks, maka penulis paparkan di bawah ini sebagai berikut.
1)        Setelah teks diketahui asal-usulnya maka untuk selanjutnya dilakukan kerja penyuntingan teks. Kerja penyuntingan maksudnya ialah mempersiapkan teks agar layak untuk diterbitkan.
2)        Sebagaimana diketahui bahwa teks Melayu di samping ditulis dalam huruf Arab Melayu atau huruf Jawi, teks Melayu juga ditulis tanpa disertai tanda awal alenia maupun pungtuasi. Oleh karena itu, tugas penyuntingan berarti meletakkan tanda alinea, pungtuasi dan menjelaskan kosa-kosa kata yang arkaik serta varian yang terjadi pada setiap teks.
Macam-macam Metode Penyuntingan
Macam-macam metode penyuntingan sangat ditentukan oleh banyaknya teks yang ditemukan. Secara garis besar ada dua macam metode penyuntingan, yaitu
1)             Metode edisi naskah tunggal
Naskah dapat ditentukan sebagai naskah tunggal atau disebut juga sebagai codex unicus jika setelah dilakukan penelusuran keberadaan teks diberbagai tempat penyimpanan naskah ternyata memang hanya naskah yang ditemukan itulah satu-satunya naskah yang ada. Metode Naskah tunggal ada dua macam, yaitu metode diplomatik dan metode standar.
a) Metode Diplomatik
  1. Penyuntingan apa adanya atau semurni mungkin, atau disebut juga sebagai kerja reproduksi dengan melakukan foto kopi atau dengan mengabadikan teks dalam mikro film.
  2. Cocok untuk kepentingan akademis sebagai ganti naskah asli yang mungkin sudah lapuk sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pembacaan.
  3. Penyuntingan hanya memberikan catatan pada bagian awal sebagai pengantar atau deskripsi teks yang meliputi asal-usul teks, mengapa teks tersebut ditentukan sebagai codex unicus, dan sekala reproduksi yang telah dilakukan. Sebaiknya menggunakan sekala 1 : 1.
b) Metode Standar
  1. Penyuntingan dilakukan sebagaimana mestinya, yaitu melakukan pembagian alenia,memberikan pungtuasi, dan mentransliterasikan huruf teks ke dalam huruf latin.
  2. Setiap perbaikan terhadap kesalahan mekanis maupun perubahan teks karena kesengajaan selalu diberi penjelasan yang disebut aparat kritik.
2)  Metode Teks Jamak
Macam-macam metode edisi naskah jamak meliputi :
  1. Metode Intuitif
  • Peneliti (filolog) bekerja secara intuitif menentukan teks yang dianggap paling tua, paling baik, dan paling mudah dibaca.
  • Tempat-tempat yang mengalami perubahan, korupsi, atau dipandang tidak jelas diperbaiki berdasarkan naskah lain dengan memakai akal sehat, selera baik, dan pengetahuan luas.
  • Metode ini hanya bisa dilakukan oleh peneliti yang sudah sangat berpengalaman.
  • Digunakan sampai pada abad kesembilan belas.
  • Pada saat ini metode ini sudah tidak dapat digunakan lagi, tetapi beberapa bagiannya seperti pada penentuan teks yang paling baik bisa dilanjutkan dengan metode landasan.
  1. Metode Landasan/ Legger
  • Naskah diteliti untuk menentukan naskah yang paling baik dengan melakukan penelitian terhadap kebahasaan, kesastraan, sejarah dan lain-lain.
  • Naskah yang telah dianggap paling baik setelah melalui beberapa penelitian dijadikan landasan atau induk teks untuk penerbitan.
  • Varian-varian yang terdapat pada naskah yang seversi dimuat dalam aparat kritik, yaitu perangkat pembanding yang menyertai penyajian suatu naskah.
  1. Metode Gabungan
  • Penyuntingan didasarkan atas adanya kesamaan bacaan di sebagaian besar naskah yang ditemukan.
  • Jika ada bacaan yang meragukan yang dijumpai pada mayoritas naskah digunakan penyesuaian dengan norma tatabahasa, jenis sastra, keutuhan cerita, faktor-faktor literer lain, dan latar belakang pada umumnya.
  • Hasil suntingan merupakan gabungan bacaan dari semua naskah yang ada dan dapat dikataan sebagai teks baru yang secara struktural merupakan teks yang hibrid.
  • Hasil teks suntingan juga tidak dapat menggambarkan sejarah teks dan tidak dapat meletakkan silsilah atau kekerabatan beberapa naskah yang ditemukan.
  1. Metode Objektif
  • Metode ini telah digunakan sejak 1830 oleh filolog Jerman Lachmann dkk.
  • Penelitian dilakukan untuk menemukan hubungan kekeluargaan naskah-naskah yang ditemukan atau disebut juga sebgai stema.
  • Naskah yang memiliki kesalahan yang sama di tempat yang sama dapat disimpulkan sebagai naskah yang sekerabat.
  • Setelah perunutan silsilah dan sejarah teks baru diberikan kritik teks pada naskah yang memiliki perubahan atau kesalahan.
Karakteristik Sastra Melayu Klasik/ Hikayat
  1.  Anonim, yaitu tidak dikenal nama pengarangnya,
  2.  Istana sentris, yaitu mengisahkan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana/kerajaan,
  3. Bersifat statis, artinya tidak mengalami perubahan atau perkembangan
  4. Bersifat komunal, artinya menjadi milik masyarakat,
  5. Mengunakan bahasa klise, yaitu kata-kata yang diulang-ulang; contoh : hatta…., maka …., alkisah….., dst.
  6.  Bersifat tradisional, artinya meneruskan tradisi / kebiasaan lama yang dianggap baik.
  7. Bersifat didaktis (mendidik), baik didaktis moral maupun didaktis religius,
  8. Menceritakan kisah universal manusia, yaitu peperangan antara tokoh baik dan buruk, dan   selalu dimenangkan oleh yang baik
  9. Sebagian besar berupa sastra lisan (disampaikan dari mulut ke mulut);
  10. Tidak berangka tahun (tidak diketahui secara pasti kapan karya tersebut dibuat)
  11. Mengandung hal-hal yang aneh, ajaib, atau mustahil.
Unsur-Unsur Intrinsik Sastra Melayu Klasik/ Hikayat
  1. Tema adalah ide pokok yang mendasari sebuah cerita. Pada umumnya naskahMelayu Klasik mempunyai tema perjuanganm percintaan, pendidikan, dan   keagamaan.
  2. Tokoh dan penokohan.
  3. Latar: (1) latar tempat; (2) latar waktu; dan (3) latar keadaan.
  4. Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam cerita.
  5. Alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan membentuk suatu cerita.
  6. Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembacanya.
  7. Gaya bahasa
http://smanplusprovinsiriau.blogspot.com/2013/12/filologi-dan-penelitian-naskah-kuno.html
http://liilaznul.wordpress.com/2014/12/17/pengertian-filologi/

Pengertian Filologi: Etimologi, Istilah, dan Berbagai Pengertian dalam Sejarah Perkembangannya

Secara etimologis kata filologi berasal dari bahasa Yunani philologia artinya: kegemaran berbincang-bincang. Perbincangan sebagai seni oleh bangsa Yunani sangat dibina, karena itu filologi dimuliakan artinya menjadi “cinta kepada kata” sebagai pengejawantahan pikiran, kemudian menjadi “perhatian kepada sastra”, dan akhirnya menjadi “studi ilmu sastra” (Wagenvoort, 1947:41). Dalam arti terbatas filologi adalah ilmu bantu studi sastra.
Pengertian filologi ini dapat diketahui juga dari beberapa kamus yang memasukkan istilah itu dalam entrinya. Groot Woordenboek de Nederlandse Taal menyebutkan bahwa filologi adalah ilmu mengenai bahasa dan sastra suatu bangsa, mula-mula yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Yunani dan Romawi, kemudian meluas kepada bahasa dan sastra bangsa lain seperti Perancis, Spanyol, Portugis, Jerman, Belanda, Inggris, dan Slavia. Dalam Webster’s New International Dictonary tertulis pengertian filologi sebagai studi imu sastra dan diperluas dengan ilmu bahasa dan studi tentang kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa yang beradab seperti diungkapkan terutama dalam bahasa, sastra, dan agama mereka.Kamus Istilah Filologi menyebutkan filologi sebagai ilmu yang menyelidiki kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau yang menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusasteraannya. Kamus Istilah Sastra memberikan definisi seperti pengertian yang ada dalam Kamus Istilah Filologi ditambah dengan arti yang sempit, yaitu filologi ialah studi tentang naskah (lama) untuk menetapkan keasliannya, bentuknya semula, serta makna isinya.
Pengertian filologi dapat juga dilihat berdasarkan sejarah perkembangannya. Berdasarkan sejarah perkembangannya terdapat bermacam-macam pengertian.
(1)   Filologi sebagai Ilmu tentang Pengetahuan yang Pernah Ada
Pengertian ini diberikan oleh Philip August Boekh. Hal ini berdasarkan atas pengertian bahwa karya tulisan berisi berbagai macam pengetahuan.
(2)   Filologi sebagai Ilmu Bahasa
Pengertian seperti ini dijumpai di Inggris berdasarkan pengertian sebagai ahli karya masa lampau seseorang harus menguasai bahasa teks.
(3)   Filologi sebagai Ilmu Sastra Tinggi
Pengertian ini muncul berdasarkan kenyataan bahwa yang dikaji filologi adalah karya-karya sastra ‘adiluhung’. Pengertian yang seperti ini sudah tidak dijumpai lagi.
(4)   Fiologi sebagai Studi Teks
Pengertian ini muncul karena filologi melakukan studi dalam rangka mengungkapkan hasil budaya yang tersimpan di dalam tulisan.
Pengertian yang terakhir ini, filologi sebagai studi teks, yang sampai sekarang diikuti di Indonesia.

Sumber   :
  1. Baried, Baroroh. at al. 1983. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  2. Chambert-Loir, Henri dan Oman Fathurahman. 1999. Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  3. Darusuprapta. 1985. “Keadaan dan Jenis Naskah Jawa”.  dalam Soedarsono (ed). Keadaan dan Perkembangan Bahasa, Sastra, Etika, Tatakrama, dan Seni Pertunjukan Jawa, Bali, dan Sunda. Yogyakarta: Javanologi.
  4. Ekadjati, E. Suhardi (ed). 2000. Direktori Naskah Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  5. Soebadio, Haryati. 1975. “Masalah Filologi”. Makalah pada Seminar Bahasa Daerah Bali-Sunda-Jawa. Yogyakarya.
  6. Teeuw, A. 1984.    Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
  7. https://nonaafiliasi.wordpress.com/2013/12/27/pengertian-filologi-etimologi-istilah-dan-berbagai-pengertian-dalam-sejarah-perkembangannya/

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer