Banjaran Ramaparasu

Banjaran Ramaparasu

Lakon ini megisahkan perjalanan hidup Ramabargawa, anak Resi Jamadagni dengan Dewi Renuka. Kisah ini diawali dari konflik keluarga Resi Jamadagni akibat dari penyelewengan yang dilakukan Dewi Renuka dengan Prabu Citrarata. Resi Jamadagni bermaksud menghukum istrinya itu dengan menyuruh anaknya untuk membunuh ibunya itu.
Di antara kelima anaknya hanya Ramaparasu yang bersedia melakukannya tetapi dengan syarat segala permintaannya dikabulkan ayahnya. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain karena menolak perintah ayahnya terkena kutukan menjadi seekor hewan.
Selanjutnya Ramaparasu dengan senjata kampaknya telah membunuh ibunya hingga tewas, setelah itu ia mohon kepada ayahnya untuk menghidupkan kembali dan saudara-saudaranya diberi ampunan sehingga kembali ke ujudnya semula sebagai manusia. Karena sudah terlanjur berjanji akhirnya Jamadagni mengabulkan segala permintaannya, maka hiduplah kembali Dewi Renuka.
Selang beberapa waktu saat Ramaparasu sedang bepergian ke hutan, tiba-tiba tempat tinggalnya diserbu Prabu Citrarata sehingga Resi Jamadagni tewas.
Setelah mengetahui peristiwa itu Ramaparasu bersumpah akan menumpas seluruh ksatria di dunia, sebagai pelampiasan dendamnya.
Maka mulailah ia mengembara atau melanglang buana membunuh ksatria yang dijumpainya sehingga akhirnya bertemu dengan Prabu Arjuna Sasrabahu raja Maespati yang akhirnya juga tewas dibunuhnya.
Selanjutnya Ramaparasu bertemu dengan Ramawijaya yang baru saja berhasil memenangkan sayembara di negara Mantili dan memboyong Dewi Sinta, bermaksud akan pulang ke Ayodhya.
Di tengah perjalanan rombongan Ramawijaya dihadang Ramaparasu sehingga terjadi adu kekuatan dan kesaktian. Akhirnya Ramaparasu tewas terkena panah Guwawijaya milik Rama, dan oleh para dewa Ramaparasu diangkat menjadi Dewa bernama Ramabargawa.
http://tokohpewayanganjawa.blogspot.co.id/banjaran-ramaparasu.html

Ramaparasu adalah putra bungsu dari lima bersaudara lelaki, putra Prabu Jamadagni raja negara Kanyakawaya yang kemudian hidup sebagai brahmana di pertapaan Dewasana. Ibunya bernama Dewi Renuka, putri Prabu Prasnajid. Ramaparasu adalah seorang brahmancari/tidak kawin, karena sangat menggemari olah kejiwaan. Ia juga menekuni olah kesaktian dan olah keprajuritan hingga menjadi sangat sakti. Ramaparasu berperawakan birawa/gagah perkasa, mempunyai pusaka berwujud busur beserta anak panahnya yang luar biasa besarnya dan bernama Bargawasta (panah Sang Bargawa).
Ketika ayahnya, Resi Jamadagni dibunuh Prabu Hehaya, timbul kebencian Ramaparasu terhadap golongan satria dan bersumpah akan membunuh setiap satria yang dijumpainya. Ia kemudian pergi mengembara. Setiap satria yang dijumpainya ditantangnya mengadu kesaktian. Tak satupun yang berhasil mengalahkannya. Hampir seluruh satria Wangsa Hehaya binasa ditangannya.
Setelah usianya semakin tua, ia ingin muksa. Dicarinya satria penjelmaan Dewa Wisnu, karena hanya dialah yang bisa membunuhnya. Ramaparasu bertemu dan bertanding dengan Prabu Arjunasasrabahu, raja negara Maespati yang diyakini sebagai titisan Dewa Wisnu. Tapi Arjnasasrabahu dapat dikalahkannya. Akhirnya Ramaparasu bertemu dengan Ramawijaya, putra Prabu Dasarata dengan Dewi Kusalya dari negara Ayodya.
Ramaparasu kalah bertanding melawan Ramawijaya. Ketika ia minta muksa Ramawijaya menganjurkan untuk kembali bertapa. Ramaparasu kemudian kembali ke petapaan Dewasana, hidup sebagai brahmana bergelar Resi Ramaparasu. Selama hidupnya ia hanya mempunyai tiga orang urid, yaitu; Bisma, Drona dan Karna.
https://wayang.wordpress.com/ramaparasu/

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer