Lakon Cupu Manik Astagina
Cupu Manik Astagina
Cerita wayang ini merupakan bagian dari “Ramayana” yang menceritakan tentang riwayat Subali dan Sugriwa serta anggota kera lainnya sebagai tokoh penting dalam Ramayana. Adapun riwayat singkatnya sebagai berikut:
Di pertapaan “Grastina” yang berada di puncak gunung Sukendro (di seni pedalangan jawa sering disebut pertapaan “Sonyapringga” terdapat seorang pertapa sakti yang masih keturunan sang Hyang Ismaya bernama Resi Gotama. Beliau memiliki seorang istri bidadari cantik yang bernama dewi Windradi. Dari perkawinan ini, Resi Gotama dianugerahi tiga orang anak, yaitu satu putri yang sangat cantik bernama dewi Anjani dan dua orang putra yang sangat tampan yaitu Raden Anjanarka atau Raden Guwarsa serta Raden Anjaningrat atau Raden Guwarsi. Kelak/suatu saat nanti Raden Guwarsa berganti nama menjadi Subali dan Raden Guwarsi menjadi Sugriwa. Baik Subali maupun Sugriwa berujud kera.
Keadaan di pertapaan Sonyapringga saat itu sangat damai, aman sejahtera tidak kekurangan suatu apapun. Dewi Anjani sebagai anak sulung dan anak perempuan satu-satunya sangat disayang oleh semua anggota keluarga, terutama sangat disayang oleh ibundanya (Dewi Windradi). Raden Guwarsi dan Guwarsa sebagai putra seorang Resi hidupnya serba kecukupan dan menyenangkan.
Namun tiba-tiba ketentraman dan kedamaian di pertapaan terusik oleh adanya keributan ketiga orang anak Resi Gotama yang memperebutkan Cupu (semacam piala) ajaib yang disebut ”Cupu Manik Astagina”. Keajaiban dari cupu ini adalah bila dibuka tutupnya maka seluruh isi dunia dengan berbagai peristiwa yang terjadi akan terlihat. Selain dari pada itu, cupu itu juga dapat memberi apapun yang diminta oleh pemiliknya. Maka tidak mengherankan kalau ketiga putra Resi Gotama ingin memilikinya. Lalu dari mana asal cupu ini?
Dikisahkan bahwa Dewi Windradi sebelum menjadi istri Resi Gotama pernah menjadi kekasih Batara Surya yang mempunyai sifat agak Play Boy. Sebagai bukti dari cintanya Batara Surya menghadiahkan Cupu Manik Astagina kepada kekasihnya (Dewi Windradi). Waahh Rupanya Dewa juga punya sisi Romantis Ya....?
Dewi Windradi yang sangat menyayangi putri satu-satunya memberikan cupu pusaka itu kepada Dewi Anjani. Karena benda itu merupakan rahasia pribadi, Dewi Windradi berpesan kepada putrinya agar menjaga kerahasiaan cupu pusaka itu. Tidak boleh ada yang tahu, termasuk kedua saudaranya dan ayahandanya. Akan tetapi, ternyata rahasia itu tidak dapat bertahan seterusnya.
Suatu saat, kedua adik Anjani mengetahui benda ajaib itu. Keduanya tentu saja juga ingin sekali memilikinya. Akhirnya ketiga bersaudara itu bertengkar hebat memperebutkan ”Cupu Manik Astagina”
Resi Gotama yang mendengar dan mengetahui pertengkaran putra-putrinya yang tidak biasanya itu segera datang untuk melerai dan berkata: ”Hai anak-anak! Ada apa kalian sampai bertengkar tidak karuan”? Lalu Raden Guwarsa yang punya sifat agak ”getapan/temperamen” menyahut, maaf ayahanda..... kang mbok Anjani memiliki cupu yang sangat indah dan ajaib (dan terus menceritakan kehebatan cupu). Mengapa ayahanda tidak memberi kami berdua benda seperti itu? Kenapa hanya kang mbok Anjani yang diberi?
Mendengar jawaban dari anaknya yang agak berani dan berbeda dengan biasanya itu, Resi Gotama menjadi kaget dan terdiam sejenak.Resi Gotama merasa tidak pernah memiliki apalagi memberikan cupu kepada Dewi Anjani. Kemudian Resi Gotama memanggil Dewi Anjani untuk melihat cupu yang diperebutkan. Dewi Anjani datang dengan ketakutan dan pucat pasi karena ingat pesan ibundanya untuk merahasiakan cupu tersebut. Maka dengan gemetar Dewi Anjani mendekat kepada ayahandanya. Kemudian Resi Gotama bertanya, ”Putriku yang cantik, mana dan seperti apa benda yang kalian perebutkan?” Suara Resi Gotama sebenarnya sangat lembut, tetapi bagai halilintar di telinga Dewi Anjani karena perasaan bersalahnya. Dengan rasa takut dan gemetar, cupu diserahkan kepada ayahandanya.
Melihat cupu tersebut, Resi Gotama benar-benar menjadi heran dan takjub sekali. Baru kali ini, Resi Gotama melihatnya. Ketika cupu itu dibukanya, rasa heran dan takjub semakin bertambah. Dalam hati Resi berkata, ”Pantas kalau putra-putrinya pada bertengkar untuk memilikinya”. Selanjutnya Resi bertanya kepada Anjani tentang asal-usul cupu tersebut. Karena Dewi Anjani lebih takut pada ayahandanya dari pada kepada ibundanya, maka Dewi Anjani berterus terang bahwa cupu tersebut pemberian dari ibundanya. Mendengar jawaban itu Resi Gotama langsung memanggil dewi Windradi.
Ketika Dewi Windradi telah tiba di hadapan Resi Gotama, lalu Resi Gotama bertanya tentang asal-usul cupu ajaib itu. Tetapi Dewi Windradi diam saja. Pertanyaan itu sampai diulang tiga kali dan Dewi Windradi tetap diam saja hanya menundukkan kepala sambil menangis tersedu-sedu. Melihat sikap istrinya ini, sang Resi sangat murka dan berkata, ”Hei ... Windradi! Kamu ini bagaimana? Ditanya suami sampai tiga kali kok hanya diam saja seperti diamnya Tugu! Seketika itu pula Dewi Windradi berubah menjadi tugu. Ternyata kata-kata yang keluar dari Resi itu merupakan kutukan.
Keadaan di pertapaan Sonyapringga saat itu sangat damai, aman sejahtera tidak kekurangan suatu apapun. Dewi Anjani sebagai anak sulung dan anak perempuan satu-satunya sangat disayang oleh semua anggota keluarga, terutama sangat disayang oleh ibundanya (Dewi Windradi). Raden Guwarsi dan Guwarsa sebagai putra seorang Resi hidupnya serba kecukupan dan menyenangkan.
Namun tiba-tiba ketentraman dan kedamaian di pertapaan terusik oleh adanya keributan ketiga orang anak Resi Gotama yang memperebutkan Cupu (semacam piala) ajaib yang disebut ”Cupu Manik Astagina”. Keajaiban dari cupu ini adalah bila dibuka tutupnya maka seluruh isi dunia dengan berbagai peristiwa yang terjadi akan terlihat. Selain dari pada itu, cupu itu juga dapat memberi apapun yang diminta oleh pemiliknya. Maka tidak mengherankan kalau ketiga putra Resi Gotama ingin memilikinya. Lalu dari mana asal cupu ini?
Dikisahkan bahwa Dewi Windradi sebelum menjadi istri Resi Gotama pernah menjadi kekasih Batara Surya yang mempunyai sifat agak Play Boy. Sebagai bukti dari cintanya Batara Surya menghadiahkan Cupu Manik Astagina kepada kekasihnya (Dewi Windradi). Waahh Rupanya Dewa juga punya sisi Romantis Ya....?
Dewi Windradi yang sangat menyayangi putri satu-satunya memberikan cupu pusaka itu kepada Dewi Anjani. Karena benda itu merupakan rahasia pribadi, Dewi Windradi berpesan kepada putrinya agar menjaga kerahasiaan cupu pusaka itu. Tidak boleh ada yang tahu, termasuk kedua saudaranya dan ayahandanya. Akan tetapi, ternyata rahasia itu tidak dapat bertahan seterusnya.
Suatu saat, kedua adik Anjani mengetahui benda ajaib itu. Keduanya tentu saja juga ingin sekali memilikinya. Akhirnya ketiga bersaudara itu bertengkar hebat memperebutkan ”Cupu Manik Astagina”
Resi Gotama yang mendengar dan mengetahui pertengkaran putra-putrinya yang tidak biasanya itu segera datang untuk melerai dan berkata: ”Hai anak-anak! Ada apa kalian sampai bertengkar tidak karuan”? Lalu Raden Guwarsa yang punya sifat agak ”getapan/temperamen” menyahut, maaf ayahanda..... kang mbok Anjani memiliki cupu yang sangat indah dan ajaib (dan terus menceritakan kehebatan cupu). Mengapa ayahanda tidak memberi kami berdua benda seperti itu? Kenapa hanya kang mbok Anjani yang diberi?
Mendengar jawaban dari anaknya yang agak berani dan berbeda dengan biasanya itu, Resi Gotama menjadi kaget dan terdiam sejenak.Resi Gotama merasa tidak pernah memiliki apalagi memberikan cupu kepada Dewi Anjani. Kemudian Resi Gotama memanggil Dewi Anjani untuk melihat cupu yang diperebutkan. Dewi Anjani datang dengan ketakutan dan pucat pasi karena ingat pesan ibundanya untuk merahasiakan cupu tersebut. Maka dengan gemetar Dewi Anjani mendekat kepada ayahandanya. Kemudian Resi Gotama bertanya, ”Putriku yang cantik, mana dan seperti apa benda yang kalian perebutkan?” Suara Resi Gotama sebenarnya sangat lembut, tetapi bagai halilintar di telinga Dewi Anjani karena perasaan bersalahnya. Dengan rasa takut dan gemetar, cupu diserahkan kepada ayahandanya.
Melihat cupu tersebut, Resi Gotama benar-benar menjadi heran dan takjub sekali. Baru kali ini, Resi Gotama melihatnya. Ketika cupu itu dibukanya, rasa heran dan takjub semakin bertambah. Dalam hati Resi berkata, ”Pantas kalau putra-putrinya pada bertengkar untuk memilikinya”. Selanjutnya Resi bertanya kepada Anjani tentang asal-usul cupu tersebut. Karena Dewi Anjani lebih takut pada ayahandanya dari pada kepada ibundanya, maka Dewi Anjani berterus terang bahwa cupu tersebut pemberian dari ibundanya. Mendengar jawaban itu Resi Gotama langsung memanggil dewi Windradi.
Ketika Dewi Windradi telah tiba di hadapan Resi Gotama, lalu Resi Gotama bertanya tentang asal-usul cupu ajaib itu. Tetapi Dewi Windradi diam saja. Pertanyaan itu sampai diulang tiga kali dan Dewi Windradi tetap diam saja hanya menundukkan kepala sambil menangis tersedu-sedu. Melihat sikap istrinya ini, sang Resi sangat murka dan berkata, ”Hei ... Windradi! Kamu ini bagaimana? Ditanya suami sampai tiga kali kok hanya diam saja seperti diamnya Tugu! Seketika itu pula Dewi Windradi berubah menjadi tugu. Ternyata kata-kata yang keluar dari Resi itu merupakan kutukan.
Melihat ibunya menjadi tugu, ketiga anaknya menjadi terkejut. Dewi Anjani yang merasa paling bersalah langsung menjerit histeris seraya menubruk kaki ayahandanya mohon agar ibunya dapat dikembalikan seperti semula. Tetapi Resi Gotama seolah-olah tidak mendengar permintaan atau permohonan anaknya ini, kemudian malah mengangkat dan dengan sekuat tenaga melemparkan tugu itu keluar. Menurut cerita, tugu itu terlempar sampai di negara Lengkapura (Alengkadiraja) negerinya Rahwana/Dasamuka. Dan kutukan Dewi Windradi ini akan teruwat (berubah menjadi Dewi Windradi kembali) ketika tugu itu digunakan oleh Patih Anila untuk memukul (mengeprok) kepala patih Alengka yang bernama Prahasta.
Setelah itu sambil menimang cupu, Resi Gotama bersabda kepada ketiga putranya, ”Hai anak-anakku, cupu ini akan saya lemparkan jauh. Kalian boleh mencarinya. Barang siapa yang pertama menemukan, dialah yang berhak memilikinya”
Maka Dewi Anjani, Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi segera berlarian mengikuti arah cupu pusaka itu. Mereka lari saling mendahului dengan harapan mendapatkan cupu ajaib yang diidam-idamkan. Mereka sudah melupakan ibunya yang sudah berubah menjadi tugu dan tidak tahu keberadaannya. Kasih sayang ibu yang selama ini tercurah kepadanya seolah-olah sudah mereka lupakan karena pikirannya sudah terbius oleh rasa ingin memiliki cupu ajaib itu.
”Cupu Manik Astagina” memang bukan sembarang pusaka. Ketika dilemparkan oleh Resi Gotama, tutup dan badan cupu terpisah. Tutup cupu terlempar lebih jauh dan jatuh di negara Ayodya dan berubah menjadi telaga ”Nirmala” atau telaga tanpa cacat. Sementara itu, badan cupu jatuh di tengah hutan dan berubah menjadi telaga ”Sumala” atau telaga penuh cacat. Ketiga putra Resi Gotama tidak mengetahui akan kejadian itu.
Dikisahkan Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi dalam pengejarannya terhalang oleh telaga Sumala tadi. Mereka berdua mengira bahwa cupu yang dikejarnya jatuh di telaga tersebut. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung terjun dan menyelam di telaga untuk mencarinya. Kedua satria ini memang sangat sakti. Mereka berenang ke sana ke mari di dalam telaga dalam waktu yang cukup lama tanpa muncul di permukaan air untuk menghirup udara.
Suatu saat, kedua satria ini muncul hampir bersamaan pada tempat yang tidak begitu jauh untuk menghirup udara. Raden Guwarsa sangat terkejut melihat ada seekor kera sebesar manusia yang juga ikut menyelam di telaga itu. Dia mengira bahwa kera itulah yang telah menemukan cupu yang sedang dicarinya. Hal yang sama dialami oleh Raden Guwarsi. Oleh karena itu tanpa bertegur sapa lebih dulu, kedua satria yang sudah berujud kera itu langsung saling menyerang dengan hebatnya.
Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi tidak menyadari bahwa mereka berdua telah berubah menjadi kera. Sebagai anak dan sekaligus murid Resi Gotama, kedua satria ini memang memiliki kesaktian yang luar biasa dan hampir berimbang. Raden Guwarsa yang lebih tua tampaknya sedikit lebih unggul sehingga lama kelamaan Raden Guwarsi terdesak.
Dewi Anjani yang agak tertinggal, tidak lama kemudian sampai juga di tepi telaga itu. Badannya berkeringat dan kotor. Agar terasa lebih segar, Dewi Anjani mendekati air telaga untuk sekedar membasuh tangan, kaki bagain bawah dan mukanya. Setelah itu dia duduk di bawah pohon untuk melepaskan lelah sambil terus merenungkan tentang cupu yang dicarinya. Beberapa saat kemudian, Dewi Anjani terkejut karena lengan dan bagian-bagian tubuh lain yang tadi dibasuh dengan air telaga tiba-tiba tumbuh rambut yang tidak wajar. Kini lengannya memiliki rambut lembut seperti rambut kera. Dan ketika mengusap wajahnya, makin terkejutlah dia karena mukanyapun juga terasa ditumbuhi rambut seperti di tangannya.
Dewi Anjani menjadi gemetar badannya. Untuk meyakinkan keadaannya, dia cepat-cepat berdiri dan berlari ke pinggiran telaga untuk berkaca di air telaga yang memang cukup jernih. Begitu melihat bayangan wajahnya di permukaan air telaga, Dewi Anjani menjerit dan kemudian menangis sambil menutup mukanya. Wajahnya yang semula cantik bagai bidadari, kini berubah menjadi seperti kera. Tangan dan kaki bagian bawah yang tadi dibasuh dengan air telaga juga berambut seperti tangan dan kaki kera. Kini dia sadar bahwa telaga itu bukan sembarang telaga. Air telaga itu ternyata dapat merubah tubuh manusia menjadi kera.
Setelah beberapa saat Dewi Anjani merenungi dan meratapi nasibnya, tiba-tiba mendengar dan melihat perkelahian dua kera di telaga itu. Semula putri yang malang ini tidak memperdulikan kejadian tersebut. Tetapi setelah dia berpikir tentang kejadian yang menimpa dirinya, dia ingat akan kedua saudaranya yang juga mencari cupu, Dewi Anjani langsung meyakini bahwa mereka yang berkelahi itu adalah kedua adiknya. Karena itu sebelum ada yang terluka parah, Dewi Anjani segera mendekati perkelahian dan berteriak memanggil nama kedua adiknya.
”Dimas Guwarsa......! Dimas Guwarsi .......! Benarkah yang sedang berkelahi itu kalian ........? Demikian teriak Dewi Anjani berulang-ulang.
Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi yang cukup dekat dengan Dewi Anjani tidak lupa akan suara kakaknya. Mereka saling menjauhkan diri dan berhenti berkelahi. Mereka tercengang ada wanita berwajah dan berlengan kera memanggil-manggil nama mereka. Sementara itu Dewi Anjani melihat keragu-raguan keduanya. Maka agar lebih meyakinkan, Dewi Anjani berteriak kembali.
”.....Dimas berdua,.....saya ini adalah benar-benar Dewi Anjani,...... kakakmu”!
Suara Dewi Anjani agak pelan dan gemetar. Kedua adiknya yang sangat mengenal suara itu langsung saling menengok. Dengan langkah satu dua yang lambat, dua bersaudara itu mendekati Dewi Anjani yang telah berubah rupa itu.
Kemudian Raden Guwarsi yang agak lebih tenang karakternya, berkata:
”Benarkah anda Dewi Anjani putra Resi Gotama, kakak saya”?
”Benar dimas, saya adalah Dewi Anjani kakak kalian....” Jawab Dewi Anjani.
”Akan tetapi, mengapa kakanda jadi begitu........? Tanya Raden Guwarsi. Kemudian Dewi Anjani yang sudah agak tenang menjawab: ”Dimas berdua, sebelum saya menjawab cobalah kalian berkaca di air telaga itu. Setelah kalian menyadari bahwa ujud kalian sudah berubah, mungkin sebagian pertanyaan itu akan terjawab”.
Sebenarnya Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi sudah menangkap maksud kakaknya itu. Namun untuk meyakinkan, mereka berdua tetap mendekati air telaga untuk berkaca. Begitu melihat bayangan diri mereka, badan kedua satria itu menjadi gemetar dan jantungnya berdebar sangat keras.
Raden Guwarsa menengok kera di sebelahnya dan bertanya: ”jadi kamu adalah adik saya, ... adinda Guwarsi”? ...dan kamu adalah kakak saya,.... kakanda Guwarsa”? Jawab Raden Guwarsi. Selanjutnya, kedua bersaudara itu berpelukan, menangis sedih dan penuh penyesalan. Dewi Anjani mendekat dan segera memeluk kedua adiknya yang sudah berubah menjadi kera itu, dan air matanya kembali bercucuran.
Ketiga putra-putri Resi Gotama itu, kini duduk berdekatan di tepi telaga. Wajah mereka tampak sangat sedih dan kecewa. Ketiganya kini menyadari bahwa mereka telah terkena kutuk dari Dewa.
Kini tinggal penyesalan dan kesedihan yang harus dihadapi. Mereka menunduk dan menutupi wajahnya. Pikirannya kalut dan hatinya sangat sedih. Akhirnya, ketiga bersaudara ini sepakat untuk pulang mengadukan nasibnya kepada Resi Gotama, ayahnya.
Di pertapaan ”Grastina”, Resi Gotama hatinya sangat sedih atas pengalaman yang baru saja terjadi. Kesedihan makin bertambah manakala sedang merenung, tiba-tiba kedua orang putranya Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi datang dan merangkul kakinya dalam wujud yang sangat berbeda. Kedua orang putranya yang tampan kini telah berubah menjadi manusia ”kera”. Sementara itu putrinya yang sangat cantik kini berwajah kera dengan tangan dan kaki seperti kera, tetapi badannya tetap seperti dulu.
Resi Gotama yang sudah matang ilmunya tahu persis apa yang telah terjadi. Anak dan istrinya, bahkan seluruh keluarganya kena ”siku” (kutukan) dari dewa. Walaupun sangat kuat batinnya, Sang Resi tidak mampu menahan air matanya yang mengalir membasahi pipi yang keriput. Apalagi ketika mendengar ratapan anak-anaknya untuk dapat dikembalikan seperti ujud semula. Resi Gotama tertunduk diam. Akhirnya dengan suara pelan dan lembut penuh kasih sayang, Resi Gotama berkata: ”Aduh anak-anakku yang sangat saya cintai, Semua yang terjadi pada kalian sudah menjadi kehendak dewa. Kalian dapat kembali seperti semula setelah mendapat anugerah dan pengampunan dari yang maha kuasa. Untuk itu ada jalan yang harus kalian tempuh anak-anakku! Anjani, kamu harus bertapa ”nyantuk” (hidup seperti katak) di telaga ”Madirda”. Engkau Guwarsa, harus bertapa ”ngalong” (hidup seperti kalong/kelelawar pemakan buah-buahan) di gunung Sunyapringga, dan Engkau Guwarsi, bertapalah ”ngidang” (hidup seperti kijang) di lereng gunung Sunyaprimgga itu. Selain itu, sejak saat ini Guwarsa gantilah nama menjadi Subali dan Guwarsi menjadi Sugriwa. Dengan cara demikian, mudah-mudahan engkau semua akan dapat kembali seperti sedia kala dan mendapatkan karunia dari Yang Maha Kuasa.
Setelah itu sambil menimang cupu, Resi Gotama bersabda kepada ketiga putranya, ”Hai anak-anakku, cupu ini akan saya lemparkan jauh. Kalian boleh mencarinya. Barang siapa yang pertama menemukan, dialah yang berhak memilikinya”
Maka Dewi Anjani, Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi segera berlarian mengikuti arah cupu pusaka itu. Mereka lari saling mendahului dengan harapan mendapatkan cupu ajaib yang diidam-idamkan. Mereka sudah melupakan ibunya yang sudah berubah menjadi tugu dan tidak tahu keberadaannya. Kasih sayang ibu yang selama ini tercurah kepadanya seolah-olah sudah mereka lupakan karena pikirannya sudah terbius oleh rasa ingin memiliki cupu ajaib itu.
”Cupu Manik Astagina” memang bukan sembarang pusaka. Ketika dilemparkan oleh Resi Gotama, tutup dan badan cupu terpisah. Tutup cupu terlempar lebih jauh dan jatuh di negara Ayodya dan berubah menjadi telaga ”Nirmala” atau telaga tanpa cacat. Sementara itu, badan cupu jatuh di tengah hutan dan berubah menjadi telaga ”Sumala” atau telaga penuh cacat. Ketiga putra Resi Gotama tidak mengetahui akan kejadian itu.
Dikisahkan Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi dalam pengejarannya terhalang oleh telaga Sumala tadi. Mereka berdua mengira bahwa cupu yang dikejarnya jatuh di telaga tersebut. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung terjun dan menyelam di telaga untuk mencarinya. Kedua satria ini memang sangat sakti. Mereka berenang ke sana ke mari di dalam telaga dalam waktu yang cukup lama tanpa muncul di permukaan air untuk menghirup udara.
Suatu saat, kedua satria ini muncul hampir bersamaan pada tempat yang tidak begitu jauh untuk menghirup udara. Raden Guwarsa sangat terkejut melihat ada seekor kera sebesar manusia yang juga ikut menyelam di telaga itu. Dia mengira bahwa kera itulah yang telah menemukan cupu yang sedang dicarinya. Hal yang sama dialami oleh Raden Guwarsi. Oleh karena itu tanpa bertegur sapa lebih dulu, kedua satria yang sudah berujud kera itu langsung saling menyerang dengan hebatnya.
Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi tidak menyadari bahwa mereka berdua telah berubah menjadi kera. Sebagai anak dan sekaligus murid Resi Gotama, kedua satria ini memang memiliki kesaktian yang luar biasa dan hampir berimbang. Raden Guwarsa yang lebih tua tampaknya sedikit lebih unggul sehingga lama kelamaan Raden Guwarsi terdesak.
Dewi Anjani yang agak tertinggal, tidak lama kemudian sampai juga di tepi telaga itu. Badannya berkeringat dan kotor. Agar terasa lebih segar, Dewi Anjani mendekati air telaga untuk sekedar membasuh tangan, kaki bagain bawah dan mukanya. Setelah itu dia duduk di bawah pohon untuk melepaskan lelah sambil terus merenungkan tentang cupu yang dicarinya. Beberapa saat kemudian, Dewi Anjani terkejut karena lengan dan bagian-bagian tubuh lain yang tadi dibasuh dengan air telaga tiba-tiba tumbuh rambut yang tidak wajar. Kini lengannya memiliki rambut lembut seperti rambut kera. Dan ketika mengusap wajahnya, makin terkejutlah dia karena mukanyapun juga terasa ditumbuhi rambut seperti di tangannya.
Dewi Anjani menjadi gemetar badannya. Untuk meyakinkan keadaannya, dia cepat-cepat berdiri dan berlari ke pinggiran telaga untuk berkaca di air telaga yang memang cukup jernih. Begitu melihat bayangan wajahnya di permukaan air telaga, Dewi Anjani menjerit dan kemudian menangis sambil menutup mukanya. Wajahnya yang semula cantik bagai bidadari, kini berubah menjadi seperti kera. Tangan dan kaki bagian bawah yang tadi dibasuh dengan air telaga juga berambut seperti tangan dan kaki kera. Kini dia sadar bahwa telaga itu bukan sembarang telaga. Air telaga itu ternyata dapat merubah tubuh manusia menjadi kera.
Setelah beberapa saat Dewi Anjani merenungi dan meratapi nasibnya, tiba-tiba mendengar dan melihat perkelahian dua kera di telaga itu. Semula putri yang malang ini tidak memperdulikan kejadian tersebut. Tetapi setelah dia berpikir tentang kejadian yang menimpa dirinya, dia ingat akan kedua saudaranya yang juga mencari cupu, Dewi Anjani langsung meyakini bahwa mereka yang berkelahi itu adalah kedua adiknya. Karena itu sebelum ada yang terluka parah, Dewi Anjani segera mendekati perkelahian dan berteriak memanggil nama kedua adiknya.
”Dimas Guwarsa......! Dimas Guwarsi .......! Benarkah yang sedang berkelahi itu kalian ........? Demikian teriak Dewi Anjani berulang-ulang.
Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi yang cukup dekat dengan Dewi Anjani tidak lupa akan suara kakaknya. Mereka saling menjauhkan diri dan berhenti berkelahi. Mereka tercengang ada wanita berwajah dan berlengan kera memanggil-manggil nama mereka. Sementara itu Dewi Anjani melihat keragu-raguan keduanya. Maka agar lebih meyakinkan, Dewi Anjani berteriak kembali.
”.....Dimas berdua,.....saya ini adalah benar-benar Dewi Anjani,...... kakakmu”!
Suara Dewi Anjani agak pelan dan gemetar. Kedua adiknya yang sangat mengenal suara itu langsung saling menengok. Dengan langkah satu dua yang lambat, dua bersaudara itu mendekati Dewi Anjani yang telah berubah rupa itu.
Kemudian Raden Guwarsi yang agak lebih tenang karakternya, berkata:
”Benarkah anda Dewi Anjani putra Resi Gotama, kakak saya”?
”Benar dimas, saya adalah Dewi Anjani kakak kalian....” Jawab Dewi Anjani.
”Akan tetapi, mengapa kakanda jadi begitu........? Tanya Raden Guwarsi. Kemudian Dewi Anjani yang sudah agak tenang menjawab: ”Dimas berdua, sebelum saya menjawab cobalah kalian berkaca di air telaga itu. Setelah kalian menyadari bahwa ujud kalian sudah berubah, mungkin sebagian pertanyaan itu akan terjawab”.
Sebenarnya Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi sudah menangkap maksud kakaknya itu. Namun untuk meyakinkan, mereka berdua tetap mendekati air telaga untuk berkaca. Begitu melihat bayangan diri mereka, badan kedua satria itu menjadi gemetar dan jantungnya berdebar sangat keras.
Raden Guwarsa menengok kera di sebelahnya dan bertanya: ”jadi kamu adalah adik saya, ... adinda Guwarsi”? ...dan kamu adalah kakak saya,.... kakanda Guwarsa”? Jawab Raden Guwarsi. Selanjutnya, kedua bersaudara itu berpelukan, menangis sedih dan penuh penyesalan. Dewi Anjani mendekat dan segera memeluk kedua adiknya yang sudah berubah menjadi kera itu, dan air matanya kembali bercucuran.
Ketiga putra-putri Resi Gotama itu, kini duduk berdekatan di tepi telaga. Wajah mereka tampak sangat sedih dan kecewa. Ketiganya kini menyadari bahwa mereka telah terkena kutuk dari Dewa.
Kini tinggal penyesalan dan kesedihan yang harus dihadapi. Mereka menunduk dan menutupi wajahnya. Pikirannya kalut dan hatinya sangat sedih. Akhirnya, ketiga bersaudara ini sepakat untuk pulang mengadukan nasibnya kepada Resi Gotama, ayahnya.
Di pertapaan ”Grastina”, Resi Gotama hatinya sangat sedih atas pengalaman yang baru saja terjadi. Kesedihan makin bertambah manakala sedang merenung, tiba-tiba kedua orang putranya Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi datang dan merangkul kakinya dalam wujud yang sangat berbeda. Kedua orang putranya yang tampan kini telah berubah menjadi manusia ”kera”. Sementara itu putrinya yang sangat cantik kini berwajah kera dengan tangan dan kaki seperti kera, tetapi badannya tetap seperti dulu.
Resi Gotama yang sudah matang ilmunya tahu persis apa yang telah terjadi. Anak dan istrinya, bahkan seluruh keluarganya kena ”siku” (kutukan) dari dewa. Walaupun sangat kuat batinnya, Sang Resi tidak mampu menahan air matanya yang mengalir membasahi pipi yang keriput. Apalagi ketika mendengar ratapan anak-anaknya untuk dapat dikembalikan seperti ujud semula. Resi Gotama tertunduk diam. Akhirnya dengan suara pelan dan lembut penuh kasih sayang, Resi Gotama berkata: ”Aduh anak-anakku yang sangat saya cintai, Semua yang terjadi pada kalian sudah menjadi kehendak dewa. Kalian dapat kembali seperti semula setelah mendapat anugerah dan pengampunan dari yang maha kuasa. Untuk itu ada jalan yang harus kalian tempuh anak-anakku! Anjani, kamu harus bertapa ”nyantuk” (hidup seperti katak) di telaga ”Madirda”. Engkau Guwarsa, harus bertapa ”ngalong” (hidup seperti kalong/kelelawar pemakan buah-buahan) di gunung Sunyapringga, dan Engkau Guwarsi, bertapalah ”ngidang” (hidup seperti kijang) di lereng gunung Sunyaprimgga itu. Selain itu, sejak saat ini Guwarsa gantilah nama menjadi Subali dan Guwarsi menjadi Sugriwa. Dengan cara demikian, mudah-mudahan engkau semua akan dapat kembali seperti sedia kala dan mendapatkan karunia dari Yang Maha Kuasa.
http://wayang-widodo.blogspot.co.id/cupu-manik-astagina.html
Cupu Manik Astagina
Tersebutlah alkisah sebuah pertapaan yang di Gunung Sukendra. Pertapaan itu dihuni oleh Resi Gotama dan keluarganya. Resi Gotama adalah keturunan Bathara Ismaya, putra Prabu Heriya dari Mahespati. Resi Gotama memiliki seorang kakak bernama Prabu Kartawirya yang kelak akan menurunkan Prabu Arjunasasrabahu. Atas jasa-jasa dan baktinya kepada para dewa, Resi Gotama dianugrahi seorang bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi. Dari hasil perkawinannya mereka dikaruniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarsa dan Guwarsi.
Tahun berganti tahun, Dewi Windradi yang selalu dalam kesepian karena bersuamikan seorang brahmana tua, akhirnya tergoda oleh panah asmara Bhatara Surya. Terjalinlah hubungan asmara secara rahasia sedemikian rapih sehingga sampai bertahun-tahun tidak diketahui oleh Resi Gotama, maupun oleh ketiga putranya yang sudah menginjak dewasa. Akibat suatu kesalahan kecil yang dilakukan oleh Dewi Anjani, jalinan kasih yang sudah berlangsung cukup lama itu, akhirnya terbongkar dan membawa akibat yang sangat buruk bagi keluarga Resi Gotama.
Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Dewi Anjani, Dewi Windradi mengabaikan pesan Bhatara Surya, memberikan pusaka kedewataan Cupumanik Astagina kepada Anjani. Padahal ketika memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi Windradi, Bhatara Surya telah berwanti-wanti untuk jangan sekah-kali benda kedewatan itu ditunjukkan apalagi diberikan orang lain, walau itu putranya sendiri. Kalau pesan itu sampai terlanggar, sesuatu kejadian yang tak diharapkan akan terjadi.
Cupumanik Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak boleh dillhat atau dimiliki oleh manusia lumrah. Larangan ini disebabkan karena Cupumanik Astagina disamping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga didalamnya mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. Dengan membuka Cupumanik Astagina, melalui mangkoknya kita akan dapat melihat dengan nyata dan jelas gambaran swargaloka yang serba polos, suci dan penuh kenikmatan. Sedangkan dari tutupnya akan dapat dilihat dengan jelas seluruh kehidupan semua makluk yang ada
di jagad raya. Sedangkan khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik Astagina ialah dapat memenuhi semua apa yang diminta dan menjadi keinginan pemiliknya.
di jagad raya. Sedangkan khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik Astagina ialah dapat memenuhi semua apa yang diminta dan menjadi keinginan pemiliknya.
Namun dorongan rasa cinta terhadap putri tunggaInya telah melupakan pesan Bhatara Surya. Dewi Windradi memberikan Cupumanik Astagina kepada Anjani, disertai pesan agar tidak menunjukkan benda tersebut baik kepada ayahnya maupun kepada kedua adiknya. Suatu kesalahan dilakukan oleh Anjani. Suatu hari ketika ia akan mencoba kesaktian Cupumanik Astagina, kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi melihatnya. Terjadilah keributan diantara mereka, saling berebut Cupumanik Astagina. Anjani menangis melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan secara emosi Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil dengan menganak emaskan Anjani. Suatu tindakan yang menyimpang dari sifat seorang resi.
Tuduhan kedua putranya membuat hati Resi Gotama sedih dan prihatin, sebab ia merasa tidak pernah berbuat seperti itu. Segera ia memerintahkan Jembawan, pembantu setianya untuk memanggil Dewi Anjani dan Dewi Windradi. Karena rasa takut dan hormat kepada ayahnya, Dewi Anjani menyerahkan Cupumanik Astagina kepada ayahnya. Anjani berterus terang, bahwa benda itu pemberian dari ibunya. Sementara Dewi Windradi bersikap diam membisu tidak berani berterus terang dari mana ia mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Windradi seperti dihadapkan pada buah simalakama. Berterus terang, akan membongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya. Bersikap diam, sama saja artinya dengan tidak menghormati suaminya. Sikap membisu Dewi Windradi membuat Resi Gotama marah, dan mengutuknya menjadi patung batu, yang dengan kesaktiannya, dilemparkannya melayang, dan jatuh di taman Argasoka kerajaan Alengka disertai kutuk , bahwa kelak akan memjelma kembali menjadi manusia setelah dihantamkan ke kepala raksasa.
Demi keadilan, Resi Gotama melemparkan Cupumanik Astagina ke udara. Siapapun yang menemukan benda tersebut, dialah pemiliknya. Karena dorongan nafsu, Dewi Anjani, Guwarsi Guwarsa dan Jembawan segera mengejar benda kadewatan tersebut. Tetapi Cupumanik Astagina seolah-olah mempunyal sayap. Sebentar saja telah melintas dibalik bukit. Cupu tersebut terbelah menjadi dua bagian, jatuh ke tanah dan berubah wujud menjadi telaga. Bagian Cupu jatuh di negara Ayodya menjadi Telaga Nirmala, sedangkan tutupnya jatuh di tengah hutan menjadi telaga Sumala. Anjani, Guwarsi, Guwarsa dan Jembawan yang mengira cupu jatuh kedalam telaga, langsung saja mendekati telaga dan meloncat masuk kedalamnya. Suatu malapetaka terjadi, Guwarsa, Guwarsi dan Jembawan masing-masing
berubah wujud menjadi seekor manusia kera. Melihat ada seekor kera dihadapannya, Guwarsa menyerang kera itu karena menganggap kera itu menghalang-halangi perjalanannya. Pertarungan tak pelak terjadi diantara mereka. Pertempuran seru dua saudara yang sudah menjadi kera itu berlangsung seimbang. Keduanya saling cakar, saling pukul untuk mengalahkan satu dengan lainnya. Sementara Jembawan yang memandang dari kejauhan tampak heran melihat dua kera yang bertengkar namun segala tingkah laku dan pengucapannya sama persis seperti junjungannya Guwarsa dan Guwarsi. Dengan hati-hati Jembawan mendekat dan menyapa mereka. Merasa namanya dipanggil mereka berhenti bertengkar. Barulah mereka sadar bahwa ketiganya telah berubah wujud menjadi seekor kera. Dan erekapun saling berpelukan menangisi kejadian yang menimpa diri mereka. Sedangkan Dewi Anjani yang merasa tidak dapat berenang, duduk pasrah ditepi telaga, mencuci kaki, tangan dan membasuh muka. Dan malapetaka yang sama terjadi pada Anjani yang pada bagian kaki, tangan dan mukanya yang berujud kera.
berubah wujud menjadi seekor manusia kera. Melihat ada seekor kera dihadapannya, Guwarsa menyerang kera itu karena menganggap kera itu menghalang-halangi perjalanannya. Pertarungan tak pelak terjadi diantara mereka. Pertempuran seru dua saudara yang sudah menjadi kera itu berlangsung seimbang. Keduanya saling cakar, saling pukul untuk mengalahkan satu dengan lainnya. Sementara Jembawan yang memandang dari kejauhan tampak heran melihat dua kera yang bertengkar namun segala tingkah laku dan pengucapannya sama persis seperti junjungannya Guwarsa dan Guwarsi. Dengan hati-hati Jembawan mendekat dan menyapa mereka. Merasa namanya dipanggil mereka berhenti bertengkar. Barulah mereka sadar bahwa ketiganya telah berubah wujud menjadi seekor kera. Dan erekapun saling berpelukan menangisi kejadian yang menimpa diri mereka. Sedangkan Dewi Anjani yang merasa tidak dapat berenang, duduk pasrah ditepi telaga, mencuci kaki, tangan dan membasuh muka. Dan malapetaka yang sama terjadi pada Anjani yang pada bagian kaki, tangan dan mukanya yang berujud kera.
Setelah masing-masing mengetahui adanya kutukan dahsyat yang menimpa mereka, dengan sedih dan ratap tangis penyesalan, mereka kembali ke pertapaan. Resi Gotama yang waskita dengan tenang menerima kedatangan ketiga putranya yang telah berubah wujud menjadi kera. Setelah.memberi nasehat seperlunya, Resi Gotama menyuruh ketiga putranya untuk pergi bertapa sebagai cara penebusan dosa. Guwarsi harus bertapa seperti seekor kelelawar yang menggantungkan kakinya diatas pohon dan kepala dibawah, dan berganti nama menjadi Subali. Guwarsa harus bertapa seperti kijang, berjalan merangkak dan hanya makan dedaunan. Namanyapun diganti menjadi Sugriwa. Sedangkan Dewi Anjani harus bertapa bertelanjang dengan merendamkan seluruh tubuhnya sebatas leher di telaga Madirda, yang airnya mengalir ke sungai Yamuna.
tancep kayon.
https://wayang.wordpress.com/cupu-manik-astagina/
Cupu Manik Astagina
Al kisah ada sebuah pertapaan di Gunung Sukendra yang dihuni Resi Gotama dan keluarganya. Resi Gotama keturunan Bathara Ismaya, putra Prabu Heriya dari Mahespati. Ia memiliki seorang kakak bernama Prabu Kartawirya yang menurunkan Prabu Arjunasasrabahu. Karena jasa dan baktinya pada para dewa, Resi Gotama dianugrahi seorang bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi. Dalam perkawinan ini mereka dikaruniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi.
Karena besarnya rasa cinta pada Dewi Anjani, Dewi Windradi mengabaikan pesan Bhatara Surya. Ia memberikan pusaka kedewataan Cupumanik Astagina kepada Anjani. Padahal ketika memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi Windradi, Bhatara Surya telah mewanti-wanti untuk tidak sekalipun menunjukkan, apalagi menyerahkan benda kedewatan itu kepada orang lain, walaupun itu putranya sendiri
. Apabila pesan itu sampai terlanggar, kejadian yang tak diharapkan akan terjadi tanpa bisa dibendung lagi.
Cupumanik Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh manusia lumrah. Larangan ini disebabkan karena Cupumanik Astagina, di samping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa juga di dalamnya mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. Dengan membuka Cupumanik Astagina, melalui mangkoknya dapat dilihat dengan nyata dan jelas gambaran swargaloka yang serba polos, suci dan penuh kenikmatan. Sedangkan dari tutupnya akan dapat dilihat dengan jelas seluruh kehidupan semua makluk di jagad raya. Akan halnya khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik Astagina ialah dapat memenuhi semua apa yang diminta yang menjadi keinginan pemiliknya.
Dorongan rasa cinta terhadap putri tunggaInya telah melupakan pesan Bhatara Surya. Dewi Windradi memberikan Cupumanik Astagina kepada Anjani, disertai pesan agar tidak menunjukkan benda tersebut meskipun kepada ayahnya maupun kepada adik-adiknya. Suatu kesalahan dilakukan Dewi Anjani. Suatu hari ketika ia akan mencoba kesaktian Cupumanik Astagina, kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi melihatnya. Terjadilah keributan di antara mereka saling berebut Cupumanik Astagina. Anjani menangis melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan secara emosi Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil dengan menganak emaskan Anjani, suatu tindakan yang menyimpang dari sifat seorang resi.
Tuduhan kedua putranya membuat hati Resi Gotama sedih dan prihatin, sebab ia merasa tidak pernah berbuat seperti itu. Segera ia memerintahkan Jembawan, pembantu setianya untuk memanggil Dewi Anjani dan Dewi Windradi. Karena rasa takut dan hormat kepada ayahnya, Dewi Anjani menyerahkan Cupumanik Astagina kepada ayahnya. Anjani berterus terang, bahwa benda itu pemberian ibunya.
Dewi Windradi diam membisu tidak berani berterus terang dari mana ia mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Windradi seperti dihadapkan pada buah simalakama. Berterus terang berarti membongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya, tetap diam sama artinya dengan tidak menghormati suaminya. Sikap membisu Dewi Windradi membuat Resi Gotama marah, hingga mengutuknya menjadi patung batu. Dengan kesaktiannya, dilemparkannya patung itu melayang, dan jatuh di taman Argasoka kerajaan Alengka disertai kutuk, kelak akan memjelma kembali jadi manusia setelah dihantamkan ke kepala raksasa.
Demi keadilan Resi Gotama melemparkan Cupumanik Astagina ke udara. Siapapun yang menemukan benda tersebut dialah pemiliknya. Karena dorongan nafsu, Dewi Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa serta Jembawan segera mengejar benda kadewatan tersebut. Tetapi Cupumanik Astagina seolah-olah mempunyal sayap. Sebentar saja ia telah melintas di balik bukit. Cupu tersebut terbelah jadi dua, jatuh di Ayodya jadi Telaga Nirmala, tutupnya jatuh di hutan jadi telaga Sumala.
Anjani, Guwarsi, Guwarsa dan Jembawan yang mengira cupu jatuh kedalam telaga langsung mendekat dan meloncat masuk. Suatu malapetaka terjadi, Guwarsa, Guwarsi dan Jembawan berubah wujud jadi manusia kera. Melihat kera di hadapannya, Guwarsa menyerang kera itu karena dianggap menghalangi. Pertarungan terjadi diantara mereka dan berlangsung seimbang, keduanya saling cakar, saling pukul untuk saling mengalahkan.
Jembawan yang memandang dari kejauhan tampak heran melihat dua kera bertengkar, dengan tingkah laku dan ucapan persis seperti junjungannya Guwarsa dan Guwarsi. Dengan hati-hati Jembawan mendekat dan menyapa. Merasa dipanggil, mereka berhenti bertengkar dan baru sadar bahwa ketiganya telah berubah wujud. Merekapun menangisi kejadian yang menimpa diri mereka. Dewi Anjani yang merasa tidak dapat berenang duduk pasrah di tepi telaga, mencuci kaki, tangan dan membasuh muka hingga kaki, tangan dan mukanya pun berwujud kera.
Demi mengetahui adanya kutukan dahsyat yang menimpa, sambil meratap tangis mereka kembali ke pertapaan. Resi Gotama yang waskita dengan tenang menerima kedatangan putranya yang kini berwujud kera. Setelah memberi nasehat, Resi Gotama menyuruh ketiganya pergi bertapa sebagai cara menebus dosa. Guwarsi harus bertapa seperti kelelawar, menggantungkan kakinya di pohon dengan kepala di bawah, berganti nama jadi Subali. Guwarsa harus bertapa seperti kijang, berjalan merangkak dan makan dedaunan, namanya diganti Sugriwa. Dewi Anjani harus bertapa telanjang, merendamkan tubuhnya sebatas leher di telaga Madirda yang airnya mengalir ke sungai Yamuna.
Karena besarnya rasa cinta pada Dewi Anjani, Dewi Windradi mengabaikan pesan Bhatara Surya. Ia memberikan pusaka kedewataan Cupumanik Astagina kepada Anjani. Padahal ketika memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi Windradi, Bhatara Surya telah mewanti-wanti untuk tidak sekalipun menunjukkan, apalagi menyerahkan benda kedewatan itu kepada orang lain, walaupun itu putranya sendiri
. Apabila pesan itu sampai terlanggar, kejadian yang tak diharapkan akan terjadi tanpa bisa dibendung lagi.
Cupumanik Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh manusia lumrah. Larangan ini disebabkan karena Cupumanik Astagina, di samping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa juga di dalamnya mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. Dengan membuka Cupumanik Astagina, melalui mangkoknya dapat dilihat dengan nyata dan jelas gambaran swargaloka yang serba polos, suci dan penuh kenikmatan. Sedangkan dari tutupnya akan dapat dilihat dengan jelas seluruh kehidupan semua makluk di jagad raya. Akan halnya khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik Astagina ialah dapat memenuhi semua apa yang diminta yang menjadi keinginan pemiliknya.
Dorongan rasa cinta terhadap putri tunggaInya telah melupakan pesan Bhatara Surya. Dewi Windradi memberikan Cupumanik Astagina kepada Anjani, disertai pesan agar tidak menunjukkan benda tersebut meskipun kepada ayahnya maupun kepada adik-adiknya. Suatu kesalahan dilakukan Dewi Anjani. Suatu hari ketika ia akan mencoba kesaktian Cupumanik Astagina, kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi melihatnya. Terjadilah keributan di antara mereka saling berebut Cupumanik Astagina. Anjani menangis melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan secara emosi Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil dengan menganak emaskan Anjani, suatu tindakan yang menyimpang dari sifat seorang resi.
Tuduhan kedua putranya membuat hati Resi Gotama sedih dan prihatin, sebab ia merasa tidak pernah berbuat seperti itu. Segera ia memerintahkan Jembawan, pembantu setianya untuk memanggil Dewi Anjani dan Dewi Windradi. Karena rasa takut dan hormat kepada ayahnya, Dewi Anjani menyerahkan Cupumanik Astagina kepada ayahnya. Anjani berterus terang, bahwa benda itu pemberian ibunya.
Dewi Windradi diam membisu tidak berani berterus terang dari mana ia mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Windradi seperti dihadapkan pada buah simalakama. Berterus terang berarti membongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya, tetap diam sama artinya dengan tidak menghormati suaminya. Sikap membisu Dewi Windradi membuat Resi Gotama marah, hingga mengutuknya menjadi patung batu. Dengan kesaktiannya, dilemparkannya patung itu melayang, dan jatuh di taman Argasoka kerajaan Alengka disertai kutuk, kelak akan memjelma kembali jadi manusia setelah dihantamkan ke kepala raksasa.
Demi keadilan Resi Gotama melemparkan Cupumanik Astagina ke udara. Siapapun yang menemukan benda tersebut dialah pemiliknya. Karena dorongan nafsu, Dewi Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa serta Jembawan segera mengejar benda kadewatan tersebut. Tetapi Cupumanik Astagina seolah-olah mempunyal sayap. Sebentar saja ia telah melintas di balik bukit. Cupu tersebut terbelah jadi dua, jatuh di Ayodya jadi Telaga Nirmala, tutupnya jatuh di hutan jadi telaga Sumala.
Anjani, Guwarsi, Guwarsa dan Jembawan yang mengira cupu jatuh kedalam telaga langsung mendekat dan meloncat masuk. Suatu malapetaka terjadi, Guwarsa, Guwarsi dan Jembawan berubah wujud jadi manusia kera. Melihat kera di hadapannya, Guwarsa menyerang kera itu karena dianggap menghalangi. Pertarungan terjadi diantara mereka dan berlangsung seimbang, keduanya saling cakar, saling pukul untuk saling mengalahkan.
Jembawan yang memandang dari kejauhan tampak heran melihat dua kera bertengkar, dengan tingkah laku dan ucapan persis seperti junjungannya Guwarsa dan Guwarsi. Dengan hati-hati Jembawan mendekat dan menyapa. Merasa dipanggil, mereka berhenti bertengkar dan baru sadar bahwa ketiganya telah berubah wujud. Merekapun menangisi kejadian yang menimpa diri mereka. Dewi Anjani yang merasa tidak dapat berenang duduk pasrah di tepi telaga, mencuci kaki, tangan dan membasuh muka hingga kaki, tangan dan mukanya pun berwujud kera.
Demi mengetahui adanya kutukan dahsyat yang menimpa, sambil meratap tangis mereka kembali ke pertapaan. Resi Gotama yang waskita dengan tenang menerima kedatangan putranya yang kini berwujud kera. Setelah memberi nasehat, Resi Gotama menyuruh ketiganya pergi bertapa sebagai cara menebus dosa. Guwarsi harus bertapa seperti kelelawar, menggantungkan kakinya di pohon dengan kepala di bawah, berganti nama jadi Subali. Guwarsa harus bertapa seperti kijang, berjalan merangkak dan makan dedaunan, namanya diganti Sugriwa. Dewi Anjani harus bertapa telanjang, merendamkan tubuhnya sebatas leher di telaga Madirda yang airnya mengalir ke sungai Yamuna.
http://kerajaandongeng.blogspot.co.id/cupu-manik-astagina.html
Komentar
Posting Komentar