Lakon Sinta Lair

Dewi Sinta lahir dari rahim Dewi Tari isteri Dasamuka raja raksasa di negara Alengka. Kelahirannya sudah diramalkan oleh para ahli nujum negara Alengka, bahwa anak di dalam kandungan Dewi Tari tersebut adalah titisan Dewi Widowati yang diincar oleh Dasamuka untuk dijadikan isteri. Karena dipercaya bahwa barangsiapa memperistri Dewi Widowati atau titisannya akan mendapat kemuliaan lahir dan batin. Maka jika ramalan para nujum itu benar, maka dikhawatirkan bahwa anak dewi Tari akan diperistri oleh ayahnya sendiri. 
Apa yang diramalkan para nujum menjadi kenyataan, anak Dewi Tari lahir perempuan, dan merupakan titisan Dewi Widowati. Tandanya adalah, wajahnya cantik jelita dan memancarkan aura sinar pada tubuhnya. Gunawan Wibisana adik Dasamuka yang rupawan sangat cemas bahwa nantinya setelah dewasa, kakaknya akan memperistri anaknya sendiri. Mumpung kakaknya tidak sedang berada di kraton, Gunawan Wibisana memohon ijin kepada Dewi Tari untuk membuang bayi perempuan tersebut dan menggantinya dengan bayi laki-laki. Dewi Tari menyetujui langkah Gunawan Wibisana demi keselamatan bayinya. 
Maka kemudian bayi tersebut dimasukkan ke dalam kendaga yang indah dan nyaman, dengan diberi beberapa kelengkapan bayi serta mainan yang berbentuk kupat sinta, untuk kemudian dihanyutkan ke sungai. Sebagai pengganti dari bayi yang dilahirkan Dewi Tari, Gunawan Wibisana memohon seorang bayi laki-laki dari sebuah gumpalan mega di langit. Permohonan Gunawan Wibisana di perkenankan, maka berubahlah gumpalan mega tersebut menjadi bayi laki-laki, dan diberi nama Megananda atau Indrajit. 
Kendaga yang berisi bayi perempuan tersebut terbawa aliran sungai dan masuk ke persawahan bumi Mantili. Pada waktu itu Prabu Janaka raja Mantili, sedang memimpin upacara ritual para petani yang diselenggarakan pada setiap awal musim tanam. Betapa terkejutnya Prabu Janaka, ketika mata bajak yang sedang dijalankan terantuk sebuah kendaga yang berkilau indah. Lebih terkejut lagi setelah diketahui bahwa di dalam kendaga tersebut terdapat seorang bayi perempuan yang cantik bersinar-sinar. Bayi tersebut kemudian dibawa ke dalam kraton dan diangkat anak oleh Prabu Janaka dan diberi nama Sinta, nama yang berasal dari salah satu jenis ketupat yang artinya adalah mata bajak. 
Prabu Janaka bersama tiga permaisurinya yaitu Dewi Sara, Dewi Tatawi, Dewi Sumerta bersukacita atas kehadiran seorang bayi yang sangat cantik jelita di dalam keluarga mereka, untuk menemani Mayaretna anak semata wayang Prabu Janaka yang lahir dari Dewi Sumerta. 
Melalui ujung mata bajak, Prabu Janaka menemukan seorang bayi, yang kemudian diangkat anak dan diberi nama Sinta. Setelah dewasa Sinta dipinang oleh Rama, putra Prabu Dasarata raja Ayodya, melalui sebuah Sayembara yang diadakan oleh Prabu Janaka. Walaupun Sinta adalah anak raja Alengka yang diangkat anak oleh raja Mantili dan kemudian menjadi menantu raja Ayodya, hidup Sinta tidak pernah lepas dari kesengsaraan. 
Ketika bayi ia di buang di sungai, kemudian setelah dewasa ia hidup dalam pembuangan di hutan Dandaka mendampingi Rama suaminya dan Laskmana adik Rama. Di hutan Dandaka ia diculik oleh Dasamuka yang adalah ayah Sinta yang sesungguhnya. Namun dalam hal ini Sinta tidak tahu bahwa yang menculik adalah ayahnya. Demikian juga Dasamuka tidak tahu bahwa yang diculik adalah anak kandungnya. Rahasia ini disimpan rapat-rapat oleh Wibisana dan Dewi Tari.
http://paknetyas71.blogspot.co.id/dewi-sinta.html


Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer