Kisah Partajumena Lair serial mahabarata

Al Kisah pada suatu hari di pasowanan sang Prabu Sri Batara Kresna sedang melamun, hanya menerima kenyataan bahwa permaisuri tercinta Dewi Rukmini menghilang tadi malam di curi oleh seorang tak dikenal dan berpangkat Raja sabrangan bernama Prabu Yaksasasradewa, karena sang Dewi sedang mengandung putranya.
Lalu datanglah di pasowanan Keraton Dwarawati, utusan dari Kerajaan Kumbina bernama Raden Rukmana sekalian wadyabala Kumbina menghadap sang Prabu Kresna guna menanyakan apakah sang Dewi Rukmini ada di Keraton Dwarawati, lalu sang Prabu menjawab sang dewi tiada di keraton ia di curi Raja sabrangan bernama Yaksasasradewa, mendengar jawaban dari sang Prabu Raden Rukmana mengamuk dan mengobrak abrikkan isi Keraton Dwarawati serta menuduh sang Prabu tidak hati hati dalam menjaga istri, seketika datanglah Patih Udawa dan Raden Setyaki guna meredam amarah pangeran dari Kumbina itu. seketika redamlah amarah sang pangeran Kumbina itu.
Di luar Keraton ada gara gara terjadi yang menewaskan para prajurit Dwarawati yang disebabkan oleh amukan Resi Jarwadijajar. kepada sang Resi sang Prabu Kresna harus menyerahkan Dewi Rukmini kepada sang Resi katanya, dengan seketika Raden Samba beserta Raden Setyaki dan Patih Udawa keluar keraton dan mengalahkan sang Resi guna meredam amukan sang Resi. tiba tiba mereka terpental jauh ke Pintu Keraton lalu berubahlah wujud sang Resi yang aneh itu menjadi cahaya seterang matahari di tengah hari. 
Setelah itu sang Prabu keluar dari Keraton guna melihat sesosok cahaya yang masuk di Keraton pasowanan, mereka semua melihat sosok di balik cahaya tersebut ialah Sang Dewata Agung bernama Batara Narada yang turun ke halaman istana guna memberi tahu kelemahan sang Raja Raksaksa tadi malam yang mencuri sang Dewi Rukmini, karena sebelumnya ia pergi ke Suralaya guna melamar Dewi Tunjungbiru, tapi dewata tidak memberikanya lalu sang Raja mengamuk di Suralaya. Akhirnya ia kalah dengan seorang dewa bernama Batara Tantra dengan kerisnya yang sakti, lalu Raja tersebut lari tunggang langgang, hari ini ada musibah di Dwarawati ya kan, karena disebabkan oleh raja tersebut.
Lalu Sang Hyang Kanekaputra memberikan sesuatu di dalam isi salah satu cupunya karena Sang Hyang Kanekaputra mempunyai banyak cupu pusaka di Kayangan SidiPangudalUdal, lalu Patih Udawa mengambilnya dari tangan Sang Pikulun Narada. 
Setelah di buka cupu itu mengeluarkan asap lalu berubah wujud menjadi dewa bernama Batara Tantra yang bersedia ingin membantu Batara Kresna untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan sang Prabu Yeksasasradewa, selanjutnya Sang Hyang Batara Narada pulang ke Suralaya. 
Seketika sang Prabu Kresna segera memerintahkan Patih Udawa untuk menjaga keraton, sementara Raden Setyaki mengantarkan Raden Rukmana pulang ke Kumbina tapi tidak mau ingin menunggu saja di Keraton Dwarawati. lalu Sang Prabu pergi beserta sang Pikulun Batara Tantra pergi ke Kerajaan Tawangsegara guna menemui raja yang menculik itu. Ditengah perjalanan sang Prabu memanggil Senggana untuk ke Tawangsegara duluan dan memastikan bahwa di sana sang Dewi tidak di apa apakan oleh raja tersebut. sementara itu sang Prabu menyamar menjadi Nini tukang jamu gendongan keliling dan sang Pikulun menjelma menjadi botol jamu yang disuguhkan kepada pembeli. 
Dengan menyamar tersebut si Nini memberi tahu Senggana lewat isyarat bahwa ia menyamar jadi Nini tukang Jamu. 
Sesampainya di depan Keraton, Si Nini berteriak menawarkan "JAMU JAMU JAMU" lalu sang Prabu Yeksasasradewa menghampiri sang Nini tukang jamu untuk minum jamu agar ia perkasa, seketika si Nini memberikan botol itu ke raja tersebut, setelah di pegang botol seketika botol berubah ujud menjadi Pikulun Tantra dan menghunuskan keris saktinya ke dada sang raja gila tersebut seketika matilah sang raja tersebut. 
Akhirnya mereka berdua pulang dengan membawa kesenangan dan kemenangan yang gemilang, sang Pikulun Tantra kembali ke Kayanganya sedangkan Senggana kembali ke Gunung Somawana guna menjaga roh Dasamuka dan roh Indrajid yang belum mukswa ke alam baka. 
Sesampainya di Dwarawati sang Dewi Rukmini mengeluh kesakitan dan akhirnya melahirkan anak yang dikandungnya, merupakan kabar gembira oleh seluruh wadyabala Dwarawati, lalu Bayi yang dilahirkan sang Dewi Rukmini tersebut oleh sang Prabu Kresna diberi nama Bambang Partajumena.

Hasil gambar untuk wayang kulit batara tantra solo  Gambar terkait 
Tokoh Batara Tantra gaya Solo dan gaya Jogja 
Hasil gambar untuk wayang bambangan  
Tokoh Bambang Partajumena 


Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer