Lakon Salya Gugur dan Sengkuni Lena

Salya Gugur

Semakin dekat Prabu Puntadewa, semakin berdebar jantung Prabu Salya. Firasatnya mengatakan inilah saat yang ia janjikan. Namun kemudian Prabu Salya teringat kembali akan keberadaan ajiannya yang diturunkan oleh mertuanya, Begawan Bagaspati. Aji Candabirawa.
Sejurus kemudian dipusatkannya segenap rasa dalam pamuja, meloncat dari goa garba ujud mahluk bajang berwajah raksasa. Itulah Aji Candhabhirawa!
“Raden Narasoma, hendak menyuruh apa kepadaku, Raden?!” Tanya Candabirawa.
“Sekali lagi aku meminta kerjamu. Lihat didepanku, dialah musuhku, Prabu Puntadewa. Bunuh dia!” Tanpa membantah, Candabirawa segera berlalu dari hadapan Prabu Salya. Ia kemudian mengamuk sejadi jadinya kearah para prajurit pengawal Prabu Puntadewa. Sementara Prabu Puntadewa sendiri telah  rapat dijaga oleh para prajurit dan Arjuna serta Werkudara. Terkena senjata para prajurit yang terbang bagaikan gerimis yang tercurah dari langit, Candabirawa membelah diri. Menjadi sepuluh, seratus, seribu dan tanpa hitungan lagi yang dapat terlihat. Geger para prajurit Hupalawiya lari salang tunjang melihat kejadian disekelilingnya yang begitu nggegirisi. Kresna segera bertindak menghentikan rangsekan musuh dalam ujud mahluk kerdil yang begitu menyeramkan itu. Perintah Kresna untuk bertindak tanpa melawan amukan Candabirawa disebarkan ke seluruh prajurit yang segera menyingkir.
Ketika serangan berhenti, maka para mahluk kerdil itupun ikut terhenti, saling berpandang dan termangu mangu sejenak. Sebagian lagi larut menjadi semakin sedikit. Tetapi tak lama kemudian mereka bergerak kembali kearah dimana Prabu Puntadewa berada. Ketika sudah dekat jarak antara para manusia kerdil itu, tiba-tiba gerombolan itu berhenti mendadak. Mereka kemudian saling berbisik. “Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati. Teman, kita telah lama merasakan lapar dan capek ikut Prabu Salya yang kurang memperhatikan kita, terbawa oleh kesenangan yang ia jalankan sehari hari. Prabu Salya kebanyakan bersuka ria dari pada melakukan olah penyucian diri. Akan lebih baik bila kita ikut kepada sesembahan kita yang lama! Mari kawan semua, kita kembali ke haribaan Begawan Bagaspati”.
Bagai arus bah mengalir, para mahluk kerdil berwajah raksasa segera larut dalam raga Prabu Puntadewa. Peristiwa ajaib yang dilihat Prabu Salya membuatnya jantung Prabu Salya semakin berdebar. Guncang moral Prabu Salya, hingga terasa menyentuh dasar jantungnya yang terdalam. Semakin yakin ia bahwa saat yang djanjikannya telah tiba.
Prabu Puntadewa telah bersiap melepaskan panah dengan pusaka Jamus Kalimasadda yang disangkutkan pada bedhor anak panah. Busur telah terpegang pada tangan kirinya dan terutama ketetapan hati telah diambil. Tak akan menjadi dosa bila Batara Wisnu yang memerintahkan membunuh musuh.
Walau Prabu Puntadewa tidak sesering para saudaranya berolah warastra, tetapi sejatinya ia adalah salah satu murid Sokalima yang tidak jauh kemampuan olah senjata panah dibanding dengan Arjuna. Sebagaimana Arjuna yang mempunyai hati lebih tegar, maka Puntadewa sejatinya adalah pemanah jitu, baik menuju sasaran diam setipis rambut maupun sasaran bergerak secepat burung sikatan. Hatinya yang suci dan cenderung peragu-lah yang membuat ia tidak seterkenal adiknya, Arjuna, dalam olah warastra.

Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah

Maka ketika anak panah meluncur dari busurnya, tidaklah ia melakukannya untuk kedua kali. Sekali ia melepaskan anak panah kearah Prabu Salya, maka menancaplah anak panah itu kedada bidang Prabu Salya. Kulit Salya yang kebal terhadap berbagai macam senjata telah terpecah, rebah Prabu Salya!
Sakit di dada Prabu Salya tak terasakan, hanya kepuasan hati yang terasa ketika ia telah menyender di bangkai gajah. Ia telah memenuhi janji terhadap kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Janji itu telah terlaksana dengan sempurna. Senyum lemah di bibir Prabu Salya ketika menarik nafas dan menghembuskannya untuk terakhir kalinya.
Seketika perang berhenti. Prabu Punta yang tidak lagi ingin melihat tumpahnya darah segera memberi aba aba kembali ke pakuwon, sedangkan prajurit Kurawa dengan sendirinya telah mundur mencari pembesar yang sekiranya masih bisa menaungi.
Hanya Patih Sengkuni yang merasa telah putus asa telah berbuat nekad. Kenyataan yang begitu pahit seakan tidak dapat diterimanya dengan akal sehatnya. Kurawa seratus dengan bantuan begitu banyak raja seberang, telah tumpas oleh krida Para Pandawa.  Dengan sesumbarnya yang mengesankan sebagai manusia yang telah kehilangan asa, ia gentayangan mengincar kematian Para Pandawa.
Patih Sengkuni adalah seseorang yang sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari pusat Kahyangan, Paparjawarna. Dewa yang memang memangku sifat culas yaitu Batara Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman, nama kecil dari Sengkuni atau Sakuni.
Putra Prabu Gandara itu telah disusupi oleh Batara Dwapara yang diperbolehkan oleh Sang Hyang Wenang untuk menitis kepada seorang anak manusia yang tertakdir sebagai tukang memanasi suasana. Maka sepanjang hidupnya, ia telah berlaku mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apapun menjadi berkobar liar menyambar-nyambar.
Dengan tidak lebih duapuluh Kurawa yang tersisa, Harya Sengkuni mengamuk menarik perhatian Prabu Kresna dan Werkudara yang masih saja siaga menghadapi suasana yang mungkin saja terjadi.
“Werkudara! Lihat Sangkuni mengamuk! Jangan dikira ia yang bertubuh bungkuk dan lemah, dapat kamu kalahkan dengan segenap kekuatan tenagamu. Tetapi sebenarnyalah  ia adalah seorang yang kebal senjata. Tetapi otakmu harus kau gunakan juga. Mungkin kamu dulu sudah ketahui, bahwa ia telah berlumurkan minyak Tala ketika cupu berisi minyak Tala peninggalan orang tuamu Prabu Pandu menjadi rebutan dan jatuh ke sumur dalam. Ketika itu Pendita Kumbayana telah berhasil mengangkat cupu itu, tetapi karena masih jadi rebutan dan minyak Tala itupun tumpah. Sangkuni telah melumuri dirinya dengan minyak Tala dengan bergulingan diatas tumpahan minyak. Tetapi ada yang terlewat, yaitu bagian duburnya. Bagian itulah yang kamu dapat jadikan sasaran awal untuk menyobek kulit dagingnya!”
Melompat Werkudara tidak sabar untuk menyelesaikan tugas di ujung sore itu. Didekati Sangkuni yang terbungkuk bungkuk sesumbar maciya ciya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ilmu kebalnya telah membuat ia bagaikan tak ada yang bisa mengalahkannya. Lengah Arya Suman!
Dan sejumlah Kurawa yang mencoba menghadang menjadi sasaran amukan Werkudara. Mereka bagaikan laron yang masuk kedalam kobaran api. Tumpas Kurawa yang menghadang.
“Hayoh keparat Pandawa! Maju kemari bila masih bernyali melawan Harya Suman . . . . !” Belum habis kata kata Sangkuni, Werkudara telah menyambar tubuh lawannya  yang memang tidak lagi gesit setelah raganya dirusak oleh Patih Gandamana. Patih Astina ketika Prabu Pandu Dewanata bertahta.
Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela sela bokong Sengkuni. Sementara kaki Werkudara telah menahan salah satu kaki Sengkuni yang satu lagi. Belah raga Sengkuni dengan jerit mengiring kematiannya.
“Werkudara, belum cukup kamu menangani raga Sengkuni. Ingat sumpah ibumu, Kunti, ketika ia telah dilecehkan olehnya, sehingga kemben ibumu melorot dan menjadi tontonan dan sorakan orang-orang Kurawa. Ketika itu ibumu bersumpah, tak akan berkemben bila tidak menggunakan kulit dari Patih Sengkuni yang telah mempermalukannya. Kuliti sekalian dinda!”

Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah

Senja telah menjelang usai gugurnya sang senapati utama, Prabu Salya. Layung senja oleh terbawa awan mendung melayang menyorotkan cahaya jingga, ketika Dewi Setyawati telah sampai di medan Kurukasetra. Berdua dengan Endang Sugandini, Dewi Satyawati seakan berenang dalam genangan darah. Sebentar sebentar ia membolak balik jenazah yang terkapar, mencari cari jangan jangan jenazah itu adalah sang suami. Sementara mendung makin tebal terkadang seleret petir menyambar menerangi walau sesaat sosok demi sosok  yang ia perkirakan adalah raga Prabu Salya.
Ketika untuk kesekian kali kilat menerangi medan perang itu, Dewi Setyawati tak lagi ragu terhadap sosok yang ia perkirakan sebagai jenazah suaminya. Menjerit Dewi Setyawati memanggil nama suaminya. Dipeluk sosok yang belum lagi kering darah didadanya. “Kanda Prabu, paduka telah meninggalkan hamba. Paduka gugur sebagai tawur perang ini. Walau paduka telah tidak lagi bernyawa, namun sikap tubuh dalam gugur paduka, seakan akan melambai mengajak hamba turut serta”. Sejenak Setyawati menciumi jenazah suaminya yang sudah semakin dingin. Ditetapkannya hatinya untuk menyusul kematian suami tercintanya, “ Marilah kanda, ajakan kanda untuk pergi bersama seperti yang Paduka ucapkan semalam, tak kan kuasa hamba tolak”. Segera diraih cundrik, sejenis keris kecil yang terselip di pinggang Dewi Setyawati, tewas Sang Dewi menyusul kekasih hatinya. Sementara Begawan Bagaspati dengan senyum menjemput dan menggandeng anak dan menantunya menapaki keabadian.
Endang Sugandini yang sama sama mencari jenazah Prabu Salya tak jauh dari Dewi Setyawati segera datang menghampiri, ketika mendengar jerit saudara sekaligus temannya karibnya. Melihat Prabu Salya dan Dewi Setyawati yang keduanya saling berpeluk, terpekik. Tanpa pikir panjang segera ia juga melepas cundrik yang menancap di dada Dewi Setyawati, kemudian menyusul Salya dan Setyawati.
Sepi menguak di Kurukasetra setelah peristiwa itu. Awan mendung yang menggantung telah berubah menjadi hujan yang demikian lebat. Air hujan itu seakan telah mensucikan ketiga raga manusia yang memiliki kesetiaan tanpa cela.
http://caritawayang.blogspot.co.id/salya-gugur.html

Gugurnya Salya

sebelum terjadi perang bharata yudha tepatnya ketika kresna duta, salya melambai pada sri kresna, kemudian mereka bercakap cakap di beranda kerajaan hastina. saat itu memang di hastina prabu duryodana mengundang sesepuh sesepuh, termasuk bhisma begawan dari talkondo, salya mertuanya sendiri dari madraka, guru drona dari sokalima, dan karna kakak angkatnya dari kerjaan perdikan anga.
saat itu salya berkata pada kresna, “wahai titisan wisnu, aku ingin menitipkan suatu hal kepadamu jika bharata yudha benar benar akan terjadi. ya aku akan menitipkan nakula dan sadewa kepadamu, karena sesungguhny setiap melihat mereka aku selalu teringat akan adiku madrim yang wafat ketika melahirkan mereka. untung saja kunti mau untuk merwat mereka berdua seperti merawat anaknya sendiri. tolonglah jaga si kembar nakula dan sadewa untuku”
dan kresna kemudian menyanggupi permintaan salya….
dan kisah berlanjut, saat itu perang bharata yudha berkecamuk, dan salya dijebak untuk berpihak kepada kurawa, salya yang merasa dijebak kemudian membalas ketika menjadi kusir kereta adipati akrna, saat adipati karna melepas panahnya prabu salya menghentakan kakinya ke kereta yang dikusirinya, dan roda kereta amblas masuk ke dalam tanah. dan panah sakti karna meleset hanya mengenai mahkota harjuna. lalu disuruhnya adipati karna untuk memperbaiki roda kereta, saat karna turun memperbaiki roda kereta pasopati melesat dan memenggal adipati karna.
alkisah sesudah gugurnya adipati akrna, prabu slya pulang ke madraka, dia tahu bahwa selepas gugurnya karna maka dia yang kan diangkat menjadi senopati kurawa. saat itu kresna tanggap bahwa salya bukan musuh yang enteng. saat itu kresna teringat akan pembicaraanya dengan prabu salya ketika ia menjadi duta terahir pandawa ke hastina.
maka dipanggilah nakula dan sadewa, dan disuruh memakai baju putih dari kain kafan dan dengan kereta mereka disuruh memacu kudanya ke kerajaan mandaraka bertemu dengan prabu salya. pesan kresna sederhana, jika kalian sampai di depan prabu salya segeralah minta mati. nakula dan sadewa tahu bahwa dia dikorbankan oleh kresna dan mereka pun menangis dalam kegalauan hatinya dalam perjalanan. bagaimanapun mereka sangat sayang kepada pamanya salya.
sampai di mandaraka nakula dan sadewa yang berpakaian kafan itu segera bersujud di kaki pamanya, mereka menangis dan minta mati. salya terkaget kaget, dan dia berkata “siapa yang menyuruh kalian kemari keponakanku tersayang?”, nakula dans adewa berusaha menyembunyikan kenyataan dan berkata “tidak ada paman, kami tidak disuruh siapa siapa”. salya tersenyum dan berkata “kalian tidak bisa membohongiku, aku ini paman kalian lebih banyak makan asam garam kehidupan daripada kalian, aku tahu kalian disuruh oleh kresna, ya kan?”
nakula dan sadewa membisu. salya berkata kembali “apa yang kalian inginkan keponakan tersayang?apa yang kalian inginkan dari pamanmu ini nak?”. nakula dan sadewa walau galau pun menjawab seperti yang diajarkan oleh kresna kepada mereka “paman, daripada kami mati di bharata yudha menghadapi paman, lebih baik sekarang kami minta mati sekarang paman”
salya tersenyum dan matanya berkaca kaca….”anaku nakula dan sadewa, setiap aku melihat kalian, aku selalu teringat akan madrim adiku yang telah wafat ketika melahirkan kalian, maka manalah tega aku membunuh kalian anaku?, katakanlah anaku, katakanlah, aku ingin salya mati dalam bharata yudha, katakanlah anaku, katakanlah….”
nakula dan sadewa tak dapat lagi menahan air matanya, bagi mereka yang tertinggal cuma salya dalam keluarga mereka, ibu mereka madrim wafat ketika melahirkan mereka, sementara pandu ayah mereka meninggal beberapa saat kemudian karena kehabisan darah tertusuk keris prabu kala tremboko dari pringgandani, haruskah mereka kini merelakan kematian paman mereka yang sangat sayang dan kasih kepada mereka?mereka terdiam dalam tangis penuh keharuan.
prabu salya memecah keheningan “anaku, segera kembali ke kresna, katakan, besok jika aku maju menjadi senopati kurawa dalam perang bharata yudha, suruh kakakmu yudistira menghadapi aku, sekarang segeralah pulang”. lalu nakula dan sadewa emmeluk kaki salya dan untuk terahir kalinya salya memberi berkatnya kepada keponakanya yang sangat dicintai itu.
malam itu, mengetahui takdir akan datang, yaitu kematianya. salya bercengkerama dengan mesra bersama istrinya ratu pujawati. bahkan seolah olah mereka sedang dalam keadaan bulan madu, seperti pasangan pengantin di malam pertama. pujawati sudah gelisah, dia menangkap kesan aneh dari suaminya. tapi salya tetap saja berusaha meyakinkan istrinya bahwa tidak akan terjadi apa apa. mereka bercinta malam itu sampai pagi.
ketika pagi menjelang, dewi pujawati masih lelap dalam tidurnya, salya melihat wajah istrinya yang sudah berumur tapi tetap cantik dan setia mendampinginya hingga kini, sambil menyelimuti tubuh istrinya salya berkata “mungkin ini terahir kalinya aku melihat kecantkan wajahmu. adiku, maafkan aku, aku tak mungkin memberitahukan kepadamu kematiaku”. dan seperti 3 senopati kurawa sebelumnya ketika mengahadap ajalnya, prabu salya menggunakan baju perang berwarna putih putih.
seketika dilarikan keretanya ke kurusetra, dan perang pun berlanjut. candrabirawa makan korban banyak, pandawa kewalahan. saat itulah yudistira disuruh maju oleh kresna. awalnya yudistira tak mau maju perang dan bertekad tak akan pernah menyakiti siapapun juga. mendengar itu kresna pun meminta arjuna, nakula, sadewa dan bima untuk bunuh diri saja. jika yudistira tak mau maju, lebih baik seua pandawa bunuh diri, karena prabu salya tak mungkin terkalahkan kecuali jika yudistira maju. ahirnya dengan berat hati yudistira maju berperang.
Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah
dalam versi wayang diktakan bahwa salya tewas dilempar oleh jimat kalimasada. saat itu resi bagaspati masuk ke dalam tubuh yudistira, dan candrabirawa diambil kembali dari tubuh salya. kemudian yudistira melempar jimat kalimasada dan tepat mengenai dada parabu salya, seketika prabu salya gugur terkena lemparan jimat kalimasada.
di mandaraka, dewi pujawati terbangun dan menangis mengetahui suaminya sudah berangkat berperang, dan dia pun menyusul ke kurusetra. disana dia sampai ketika hari sudah sore, dan setelah mencari cari dari ribuan mayat yang tergeletak, ditemukanlah mayat suaminya. saat itu juga pujawati menikamkan keris ke dadanya. dia ikut bela pati atas gugurnya suaminya. istri yang setia, sebelum mati dia berkata kepada mayat suaminya “kakang, saya tak mampu hidup tanpa kakang, senang kita bersama, susah kita bersama, maka aku akan menyusul kakang ke sorga”…dan keris itu merobek dada pjawati, meembus jantungnya, membuat koncat nyawanya, dan bersama sukma resi bagaspati, dan prabu salya sukma pujawati menuju sorga.
https://wayang.wordpress.com/gugurnya-salya/
Hasil gambar untuk lakon salya gugur  Hasil gambar untuk puntadewa solo
Tokoh Prabu Salya yang Gugur berhadapan dengan Tokoh Prabu Puntadewa 
Setelah Prabu Salya gugur di Tegal Kurusetra, kini ganti  Patih Sengkuni dengan kereta pe rangnya  memasuki  Tegal Kurusetra,  menuju  pertahanan  Pandawa.  Ternyata Patih Sengkuni betul betul mahir dalam memainkan segala senjata, dari panah, pedang, juga gada.Patih Sengkuni dikala mudanya, satria dari Gandara, bernama Sri Gantalpati, seorang pemuda yang tampan dan sakti pula. Ia mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Kunti di kerajaan Mandura. Namun gagal, ia dikalahkan oleh Pandu.
Berkali kali senjata senjata Pandawa mengenai tubuh Sengkuni namun, tidak satupun bisa melukai Sengkuni. Bahkan Sengkuni melepaskan berbagai panah ke arah Arjuna dan  Patih Sengkuni berhasil mematahkan serangan panah Arjuna.
Werkudara mencegat kereta perang Sengkuni. Werkudara memaksa Sengkuni turun dari Kereta perang   Sengkuni pun turun. Terjadi perkelahian antara Werkudara dan Sengkuni Berkali-kali Werkudara memukul tubuh Sengkuni dengan Gada Rujakpolo. Namun Sengkuni hanya ketawa-ketawa, ia tidak merasakan kesakitan. Werkudara terus memukul Sengkuni dari kepala, dada, perut, sampai paha,betis dan telapak kaki, namun kelihatannya tidak merasakan apa apa Werkudara tidak patah semangat. Gada Rujakpolo ditinggalkan, Werkudara maju menghadapi Sengkuni, terjadilah perkelahian, berkali-kali Werkudara
menangkap Sengkuni, namun kulit Sengkuni licin bagaikan  belut, sehingga selalu lepas.
Werkudara terus melawan Sengkuni. Werkudara, teringat masa  lalu, kejadian Bale Sigolo golo, yang  hampir membawa korban para Pendawa, itu karena perbuatan Sengkuni. Perang dadu, itu ide Sengkuni yan mencurangi Pandawa, hingga Pandawa sengsara 13 tahun di hutan. Sedangkan Sengkuni merasa kecewa ketemu Prabu Pandu di Mandura, waktu sayembara memperebutkan Dewi Kunti, Sengkuni menyerahkan  Dewi Gendari, kakaknya pada Pandu, dengan harapan agar kakaknya  bisa berbahagia bersama Pandu. tetapi ternyata kakaknya  di berikan pada Drestarastra. Andaikata Dewi Gendari tidak diberikan pada Drestarastra, Kurawa itu menjadi anak Pandu. Sehingga Pandu akan memiliki 105 anak. Pastilah Astina sangat kuat. Dan tidak ada perang Barata Yudha. Semua ini gara-gara Pandu. Maka Sengkuni ingin membunuh anak-anak Pandu, yang telah membikin sengsara.
Werkudara capek menghadapi Sengkuni. Tiba-tiba Werkudara ingat, bahwa kulit Sengkuni amat licin, dan peluhnya berbau lengo tolo (mungkin, minyak tanah), ini pasti ada hubungannya waktu Kurawa dan Pendawa masih kecil bermain di sumur tua menemukan cupu lengo tolo milik kakek Abiyasa yang berisi minyak kesaktian. Yang akhirnya lengo tolo diambil Sengkuni dan dilumurkan keseluruh tubuhnya.
Werkudara langsung meraih leher Sengkuni, lalu dihimpitnya dengan lengannya kuat kuat, sehingga lehernya tercekik, dan mulutnya pun membuka lebar kehabisan napas. Werkudara memasukkan  kuku Pancanaka  kedalam mulut Sengkuni karena Sengkuni tidak meminum lengo tolo,maka dengan mudah   dirobek robeknya sampai kedalam leher dan menembus ke jantungnya.  Namun Sengkuni masih hidup. Ia mengerang kesakitan. Werkudara menjadi ngeri dan ketakutan. Walaupun sudah luka berat, Sengkuni tidak mati mati.

Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah

Prabu Kresna meminta Werkudara bisa menyempurnakan kematiannya. Werkudara akhirnya mengerti
keadaan ini dikarenakan kesaktian Lengo tolo yang dioleskan kesekujur tubuh Sengkuni. Setelah terkelupas kulitnya, akhirnya Sengkuni pun Gugur.
http://wayangsengkunigugur.blogspot.co.id/
Hasil gambar untuk lakon salya gugur

Sengkuni Gugur

Setelah Prabu Salya gugur di tangan Yudhistira, kini giliran Patih Sengkuni dengan kereta perangnya terjun ke medan laga, menuju pertahanan pandawa. Paman para Korawa itu ternyata memang sangat mahir dalam memainkan segala senjata. Di kala muda, Sengkuni adalah satria dari Gandara bernama Sri Gantalapati, seorang pemuda yang tampan dan sakti. Ia mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Kunti di kerajaan Mandura, namun ia gagal karena dikalahkan oleh Pandu, ayah para Pandawa.
Berkali-kali senjata-senjata Pandawa mengenai tubuhnya, namun tidak satupun yang bisa melukai Sengkuni. Bahkan ia justru melepaskan berbagai pana ke arah Arjuna dan berhasil mematahkan serangan panah Arjuna.
Werkudara, kemudian mencegat kereta perang Sengkunidan memaksanya turun dari kereta perangnya. Terjadilah pertarungan antara Werkudara dan Sengkuni.
Berulangkali, Gada Rujakpolo mengenai tubuh Sengkuni, namun ia hanya ketawa, ia tidak merasakan kesakitan. Werkudara tidak putus asa, ia terus memukul Sengkuni dari kepala, dada, perut, sampai telapak kaki, tetapi Sengkuni tetap baik-baik saja seperti tidak merasakan apa-apa.
Werkudara kemudian meletakkan Gada-nya, ia maju menghadapi Sengkuni, berkali-kali Werkudara berhasil menangkap Sengkuni, namun kulit Sengkuni sangat licin, sehingga selalu lepas. Werkudara terus melwan Sengkuni tanpa putus asa, ia teringat saat peristiwa Bale Sigala-gala, saat dirinya dan para Pandawa lainnya serta ibunya, Kunti hampir menjadi korban atas kelicikan Sengkuni yang ingin menyingkirkan mereka. Permainan dadu, yang membuat dirinya dan saudara-saudaranya yang lain serta Dropadi sengsara selama 13 tahun itu juga karena ide dan kelicikan Sengkuni.
Sementara Sengkuni merasa kecewa, karena bertemu Pandu di Mandura, saat sayembara memperebutkan Dewi Kunti. Saat itu, Sengkuni menyerahkan Dewi gendari kepada pandu, dengan harapan agar kakaknya bisa berbahagia bersama Pandu, tetapi ternyata Dewi Gendari justru diberikan kepada Dretarastra.
Werkudara sudah merasa capek menghadapi Sengkuni, namun ia kemudian ingat bahwa kulit Sengkuni amat licin, dan peluhnya berbau lenga tala, ini mungkin ada hubungannya waktu Korawa dan Pandawa masih kecil bermain di sumur tua dan menemukan cupu lenga tala milik Abiyasa, kakek para Pandawa yang berisi minyak kesaktian. Jika tubuhnya dilumuri dengan minyak lenga tala, akan kebal terhadap senjata apapun. Dan saat itu, lenga tala diambil Sengkuni dan dilumurkan keseluruh tubuhnya.
Werkudara lalu meraih leher Sengkuni, dihimpitnya leher Sengkuni dengan lengannya kuat-kuat, sehingga leher sengkuni terkecik, dan mulutnya pun membuka lebar kehabisan napas. Werkudara kemudian memasukkan kuku Pancanaka ke dalam mulut Sengkuni karena Sengkuni tidak meminum lenga tala. Maka dengan mudahnya Werkudara merobek bagian dalam leher Sengkuni sampai menembus jantungna. Namun Sengkuni tetap masih hidup, walaupun sudah luka berat.
Kresna kemudian meminta Werkudara untuk segera menuntaskan kematian Sengkuni. Werkudara mengerti bahwa kesaktian Sengkuni dikarenakan Lenga tala yang dioleskan ke sekujur tubuhnya. Werkudara segera membuat kulit Sengkuni agar terkelupas, dan akhirnya Sengkuni pun gugur setelah kulitnya terkelupas.
http://blog.hadisukirno.co.id/sengkuni-gugur/
Hasil gambar untuk sengkuni gugur 

Harya Sengkuni Lena

Raden Harya Sengkuni adalah Mahapatih kerajaan Astinapura.  Dia diangkat menjadi patih terbawa oleh kakaknya yang bernama Gendari, yang diperistri oleh Drestaratha. Drestaratha sendiri adalah kakak dari Pandu Dewanata.  Drestaratha memiliki cacat fisik, yaitu matanya buta sejak lahir, oleh karenanya dia yang seharusnya menjadi Raja di Astinapura, digantikan oleh adiknya, yaitu Pandu Dewanata.  Hal ini membuat Sengkuni kecewa dan dendam kepada Pandu.  Dendam ini terus dibawanya sampai ke keturunan Pandu, yaitu Pandawa Lima.
Patih Sengkuni pula yang membuat rekayasa, sehingga akhirnya anak-anak Gendari, jumlahnya 100 orang dan disebut Kurawa, dapat berkuasa di Astina.  Anak tertua Gendari bernama Duryudhana, akhirnya berhasil menjadi Raja di Astinapura setelah Pandu meninggal.  Dengan rekasayanya pula anak-anak Pandu berhasil diusir dari Astina, dibuang dan harus bersembunyi selama 13 tahun, dan jangan sampai ketahuan, karena kalau sampai ketahuan mereka harus bersedia dihukum mati.
Singkat cerita, Pandawa Lima pada akhirnya berhasil selamat dalam masa pembuangannya, dan mereka muncul kembali setelah berhasil membangun kerajaan baru, yaitu kerajaan Amarta atau Indraprasta. Pandawa lima terdiri dari :  Puntadewa atau Yudhistira,  Bima atau Werkudara,  Janaka, Nakula dan Sadewa.  Yudhistira sebagai saudara tertua yang diangkat menjadi Raja Amarta.  Mereka ini yang kemudian menuntut haknya atas kerajaan Astinapura, dan hal ini yang menyebabkan terjadinya perang besar yang disebut Perang Baratayudha.
Dalam Perang Baratayudha kemenangan dan kekalahan silih berganti, banyak senopati yang gugur baik di pihak Kurawa maupun pihak Pandawa. Antara lain, pertama yang gugur adalah senopati dari pihak Pandawa, yaitu Seta,  kemudian gugur senopati Astina,  yaitu Bisma.  Setelah itu silih berganti yang gugur :  Bogadenta, Abimanyu, Dursasana, Gatotkaca, Karna, dan seterusnya. Setelah senopati-senopati Astinapura seperti Dorna dan Salya gugur, Astinapura sudah kehilangan banyak senopati yang bisa diunggulkan, dan keadaan sudah memaksa tidak ada lagi yang dipilih, sehingga Patih Harya Sengkuni maju sebagai senopati.
Harya Sengkuni sebelumnya dikenal tidak pernah maju perang, setiap perang selalu menyuruh Kurawa yang maju. Dan jika Kurawa kalah dan Sengkuni terjebak berhadapan langsung dengan lawannya, biasanya dia pura-pura melawan, lalu cari kesempatan untuk melarikan diri. Selalu mencari keselamatannya diri sendiri.  Namun dalam Perang Baratayudha, ketika Kurawa sudah hampir habis, tidak ada lagi yang diandalkan, sehingga Harya Sengkuni didapuk menjadi Senopati Agung Astinapura.  Dan dia harus berhadapan dengan Senopati Agung pihak Pandawa,  yaitu Bima atau Werkudara.  Majunya Bima sebagai Senopati juga disebabkan pihak Pandawa sudah  mulai kehabisan satriya yang diunggulkan.
Dalam perang tanding melawan Bima,  Harya Sengkuni mengeluarkan segenap kesaktiannya. Semula dia dikenal sebagai ' wani angas ', maksudnya pura-pura berani tapi sebenarnya takut perang, ternyata dia sanggup menandingi kesaktian Bima.  Bima sudah mengeluarkan semua kesaktiannya, termasuk menggunakan Kuku Pancanaka dan pusaka andalannya ' Gadha Rujakpolo ', namun tidak berhasil mengalahkan Harya Sengkuni.  Badan Harya Sengkuni ternyata kebal,  Kuku Pancanaka tidak mampu menembus kulitnya.  Sengkuni sesumbar agar Bima mengeluarkan Gadha Rujakpolonya.  Dan ketika dipukul dengan Gadha Rujakpolo, ternyata pusaka andalan Bima ini juga tidak mempan.
Bima berusaha menangkap Sengkuni, memiting dan ingin mematahkan lehernya, namun inipun tidak berhasil.  Ternyata badan Sengkuni licin, kulitnya mengeluarkan minyak sehingga ketika ditangkap selalu lepas. Licin bagai belut.
Werkudara betul-betul kuwalahan, heran dan merasa sangat malu karena melawan Sengkuni ternyata kehabisan tenaga sendiri.  Harya Sengkuni menertawakan Werkudara, dan selalu sesumbar agar Werkudara mengeluarkan semua kesaktiannya.
Karena kecapaian sendiri, Werkudara sempat menghindar dari arena perang tanding. Dalam kesendiriannya Werkudara mencium bau ' minyak tolo ' dari tangannya sehabis perang tanding dengan Sengkuni.
Di sini Werkudara teringat,  ketika Pandawa dan Kurawa masih kanak-kanak pernah bermain bersama di dekat sebuah sumur tua. Di situ mereka menemukan cupu berisi ' minyak tolo ' milik kakeknya, yaitu Abiyasa.  Cupu itu diminta oleh Sengkuni yang waktu itu sudah dewasa, kemudian minyak tolo ditumpahkan ke tubuhnya, ibaratnya dibuat mandi oleh Sengkuni, dilumurkan ke seluruh bagian tubuhnya. Werkudara akhirnya tahu, minyak tolo itu yang menyebabkan kesaktiannya.  Dan Werkudara juga ingat, minyak tolo itu tidak diminum oleh Sengkuni.
Menemukan rahasia itu, timbul semangatnya lagi,  Werkudara maju lagi menghadapi Sengkuni, dan tanpa banyak bicara langsung melompat menangkap Harya Sengkuni.  Leher Sengkuni dipiting dengan lengannya yang kuat, sehingga mulut Sengkuni terbuka karena kehabisan nafas, Werkudara langsung menancapkan Kuku Pancanakanya ke mulut Sengkuni, dan merobek-robeknya sampai tembus ke dalam.
Harya Sengkuni mengerang kesakitan, jatuh terduduk dan lemas tidak berdaya lagi.  Tidak mati dan juga tidak hidup. Sengkuni terus mengerang-erang kesakitan, dan hal itu membuat Werkudara ketakutan sendiri.  Akhirnya Raja Dwarawati Kresna datang dan membisikkan sesuatu agar Werkudara menyempunakan kematian Harya Sengkuni.  Werkudara tanggap dan langsung mengelupas seluruh kulit tubuh Sengkuni.  Setelah seluruh kulit tubuhnya terkelupas, erangan Sengkuni terhenti, Sengkuni tewas di tangan Werkudara.
http://www.kompasiana.com/gatot7239/cerita-wayang-harya-sengkuni-lena.html.
Gambar terkait

Sengkuni Gugur

Setelah Prabu Salya gugur di tangan Yudhistira, kini giliran Patih Sengkuni dengan kereta perangnya terjun ke medan laga, menuju pertahanan pandawa. Paman para Korawa itu ternyata memang sangat mahir dalam memainkan segala senjata. Di kala muda, Sengkuni adalah satria dari Gandara bernama Sri Gantalapati, seorang pemuda yang tampan dan sakti. Ia mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Kunti di kerajaan Mandura, namun ia gagal karena dikalahkan oleh Pandu, ayah para Pandawa.
Berkali-kali senjata-senjata Pandawa mengenai tubuhnya, namun tidak satupun yang bisa mekulai sSengkuni. Bahkan ia justru melepaskan berbagai pana kearah Arjuna dan berhasil mematahkan serangan panah Arjuna.
Werkudara, kemudian mencegat kereta perang Sengkuni dan memaksanya turun dari kereta perangnya. Terjadilah pertarungan antara Werkudara dan Sengkuni.
Berulangkali, Gada Rujakpolo mengenai tubuh Sengkuni, namun ia hanya ketawa, ia tidak merasakan kesakitam. Werkudara tidak putus asa, ia terus memukul Sengkuni dari kepala, dada, perut, sampai telapak kaki, tetapi Sengkuni tetap baik-baik saja seperti tidak merasakan apa-apa.
Werkudara kemudian meletakkan Gada-nya, ia maju menghadapi Sengkuni, berkali-kali Werkudara berhasil menangkap Sengkuni, namun kulit Sengkuni sangat licin, sehingga selalu kepas. Werkudara terus melwan Sengkuni tanpa putus asa, ia teringat saat peristiwa Bale Sigala-gala, saat dirinya dan para Pandawa lainnya serta ibunya, Kunti hampir menjadi korban atas kelicikan Sengkuni yang ingin menyingkirkan mereka. Permainan dadu, yang membuat dirinya dan saudara-saudaranya yang lain serta Dropadi sengsara selama 13 tahun itu juga karena ide dan kelicikan Sengkuni.
Sementara Sengkuni merasa kecewa, karena bertemu Pandu di Mandura, saat sayembara memperebutkan Dewi Kunti. Saat itu, Sengkuni menyerahkan Dewi gendari kepada pandu, dengan harapan agar kakaknya bisa berbahagia bersama Pandu, tetapi ternyata Dewi Gendari justru diberikan kepada Dretarastra.
Werkudara sudah merasa capek menghadapi Sengkuni, namun ia kemudian iangat bahwa kulit Sengkuni amat licin, dan peluhnya berbau lenga tala, ini mungkin ada hubungannya waktu Korawa dan Pandawa masih kecil bermain di sumur tua dan menemukan cupu lenga tala milik Abiyasa, kakek para Pandawa yang berisi minyak kesaktian. Jika tubuhnya dilumuri dengan minyak lenga tala, akan kebal terhdap senjata apapun. Dan saat itu, lenga tala diambil Sengkuni dan dilumurkan keseluruh tubuhnya.
Werkudara lalu meraih leher Sengkuni, dihimpitnya leher Sengkuni dengan lengannya kuat-kuat, sehingga leher sengkuni terkecik, dan mulutnya pun membuka lebar kehabisan napas. Werkudara kemudian memasukkan kuku Pancanaka ke dalam mulut Sengkuni karena Sengkuni tidak meminum lenga tala. Maka dengan mudahnya Werkudara merobek bagian dalam leher Sengkuni sampai menembus jantungna. Namun Sengkuni tetap masih hidup, walaupun sudah luka berat.
Kresna kemudian meminta Werkudara untuk segera menuntaskan kematian Sengkuni. Werkudara mengerti bahwa kesaktian Sengkuni dikarenakan Lenga tala yang dioleskan ke sekujur tubuhnya. Werkudara segera membuat kulit Sengkuni agar terkelupas, dan akhirnya Sengkuni pun gugur setelah kulitnya terkelupas.
http://dalang666.blogspot.co.id/sengkuni-gugur.html

Hasil gambar untuk sengkuni solo  Hasil gambar untuk sengkuni solo 
Tokoh Patih Sengkuni versi topong kethu dan khetu kopiah miring 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer