Kisah Prabu Barata lengser keprabon serial ramayana

Alkisah setelah kepergian kakak tirinya, Sang Prabu Barata memanggil seorang brahmana bernama Resi Mayangkara, kepada sang Resi sang Prabu diwejang turun tahta dan menjadi seorang pertapa, lalu saat seperti itu datanglah Kalamarica dari Alengka untuk mengambil Ayodya sebagai wilayah Alengka namun dapat di hentikan oleh Raden Satrugna saat itu ketika mereka keluar sang Resi mengikuti Raden Satrugna keluar yang menjadi keributan di luar disebabkan oleh Kalamarica yang mengamuk.
Segera Resi Mayangkara menghantam keras ke dada Kalamarica hingga terluka dan lari tungganglanggang ke Alengka serta melapor ke sang Prabu Rahwana, sang Rahwana tidak terima lalu mengamuk di alun alun Ayodya dan dapat di tumpas oleh Resi Mayangkara. 
Akhirnya rombongan wadyabala Pancawati datang dan menyaksikan acara lengser keprabon Prabu Barata dan menyerahkan tahta Ayodya kepada Prabu Ramawijaya sebagai pewais sah almarhum bapa Dasarata. langsung diterima oleh Prabu Ramawijaya dan ambil alih kekuasaan Ayodya lalu Ayodya dan Pancawati menjadi satu wilayah kerajaan dibawah kekuasaan Prabu Ramawijaya. 

Hasil gambar untuk prabu barata solo    Hasil gambar untuk prabu barata solo
Tokoh Prabu Barata lengser keprabon dan serahkan kepada Tokoh Prabu Ramawijaya 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer