Lakon Karna Tanding

Bharatayudha (7) Karna Tanding

Hasil gambar untuk lakon karna tanding
Adipati karno tetap menjadi senopati kurawa, sementara pengapitnya adalah durgandasena, durta, dan jayarata. Pandawa mengangkat arjuna sebagai senopati dan werkudara sebagai pengapitnya.
Raden Arjuna, satria panengah Pandawa telah berganti busana bagai seorang Raja, mengenakan busana keprabon. Karena keahlian Prabu Kresna dalam ndandani sang adik ipar Arjuna pada kali ini jika diamati tidak ada bedanya dengan kakak tertuanya Adipati Karno. Saking miripnya, Arjuna dan Karno ibarat saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak keduanya bagai pinang dibelah dua. Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana Arjuna yang mana Basukarno kala itu.
Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing – masing. Basukarno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Basukarno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di pihak Kurawa. Karena putri – putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini.
Meskipun demikian, berulang kali sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang tetap dilaksanakan. Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.
Di seberang sana, Kresna telah bersiap sebagai kusir Arjuna. Kereta Kerajaan Dwarapati Kyai Jaladara telah siap menunaikan tugas suci. Delapan Kuda penariknya bukanlah turangga sewajarnya. Kedelapan kuda itu adalah kuda – kuda pilihan Dewa Wisnu yang dikirim dari Kahyangan untuk melayani Sri Kresna. Turangga – turangga itu telah mengerti kemauan dari tuannya, bahkan jika tanpa menggunakan isyarat tali kekang pun. Berbagai medan laga telah dilalui dengan kemengan – demi kemenangan. Bahkan saat Raden Narayana, Kresna di waktu muda, menaklukkan Kerajaan Dwarawati ketika itu.
Atas permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah dan hormatnya.
Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ”Kakang Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”
Adipati Karno ”Aduh adikku, Arjuna…Kakang rasakan kok kamu seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Menahan tangis sesenggukkan, karena perbuatan sendiri. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa. Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman.
Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati. Adikku..Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang. Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati.
Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”
”Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini”
Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan berbeda namun demi prinsip yang sama secara substansi itu dimulai. Keduanya mengerahkan segala kemampuan perang darat yang dimiliki. Sekian lama adu jurus kanuragan ini berlangsung. Saling menerjang, saling menghindar dan berkelebat ibarat burung Nasar yang menyasar mangsanya di daratan. Bagi siapa yang melihat, keduanya sama – sama prigel, keduanya sama – sama tangkas dan keduanya sama – sama sakti. Kelebat mereka demikian cepat seperti kilat.
Ribuan prajurit kedua pihak menghentikan pertempuran demi melihat hebatnya adegan perang kedua satria bersaudara ini. Namun bagi mereka yang melihat, kabur sama sekali tidak mampu membedakan yang mana Arjuna dan yang mana Karno. Keduanya mirip, keduanya menggunakan busana yang sama. Perawakan dan pakulitan­nya sama. Hanya desis suara masing – masing yang sesekali terucap yang membedakan keduanya.
Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik, keduanya menghindar dengan sama sempurna. Keduanya menghunus keris masing – masing. Pertarungan tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Secepat kilat arjuna menghindar melompat vertikal layaknya belalang menghindar dari sergapan burung pemangsa, Keris Adipati Karno menerjang sasaran hampa, berkelebat berkilat diterpa sinar panas matahari tengah hari. Sejurus kemudian posisi mereka saling bertukar, Arjuna kini menyerang, leher Karno menjadi incaran. Demikian cepat tusukan ini menerobos udara panas menerjang leher Adipati Karno.
Namun Adipati Karno tidak kalah cepat dalam berkelit, digesernya leher dan kepalanya menyamping kiri. Tidak hanya menghindar yang dilakukan, penyeranganpun dapat dilakukannya. Sambil menyempingkan badan dan kepalanya ke kiri, tangan kirinya mengirimkan pukulan ke dan mengenai bahu kanan Arjuna. Sedikit terhuyung Arjuna saat mendaratkan kakinya di tanah, meskipun tidak sampai membuatnya roboh. Adipati Karno tersenyum kecil, melihat adiknnya terhuyung. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan. Masing – masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu mengalahkan.
Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta perangnya. Di kereta perang Karno, Karno meminta nasehat sang mertua
”Rama Prabu, saya tidak dapat mengalahkan Arjuna saat perang di daratan Rama”
”Karno, aku ini hanyalah Kusir, tanggung jawabku hanyalah mengendalikan kuda. Asal kudanya tidak bertingkah tugasku selesai.”
”Iya benar Romo, namun putra paduka ini mohon pengayoman Rama Prabu Salya”
”E lah, apa kamu lupa kondangnya Raja Awangga itu kalau perang menerapkan kesaktian aji Naraca Bala”
”Terimakasih Rama”
Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya terjadilah hujan panah yang mengerikan. Kyai Naraca Bala yang telah ditumpangkan pada anak panah menyebabkan anak panah terlepas dan menjadi hujan ribuan anak panah di udara. Anak panah itu berkilatan seperti kilat menjelang hujan turun di musim pancaroba.
Tidak cukup itu, ribuan anak panah itu juga mengandung racun mematikan. Jangankan menghujam ke tubuh, hanya menyenggol kulit pun dapat mengakibatkan kemaitan. Tidak heran para prajurit lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari hujan anak panah itu. Pun demikian ratusan prajurit menemui ajal tanpa mampu menyelematkan diri.
Namun di sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak panah Naraca Bala, tiada gores sedikitpun kulit sang Panengah Pandawa. Baginya ratusan anak panak yang menghujam ke tubuhnya tiada beda dirasakan layaknya digiit semut hitam.
Penasaran Adipati Karno melihat kesaktiannya tidak berarti apa – apa bagi Arjuna, maka dihunusnya Anak Panak Kunta Drewasa pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Secepat kilat anak panah Kunta Drewasa sudah terpasangkan di busurnya.
Seperti halnya Arjuna, keahlian Karno dalam memanah tiada tanding di dunia ini. Jangankan sasaran diam, nyamuk yang terbang pun dapat dipanah dengan tepat oleh Sang Adipati. Prabu Salya, hatta melihat anak panah sudah siap dilepaskan dan dapat dipastikan tidak akan bergeser seujung rambutpun dari sasaran leher Arjuna, timbul rasa dengki dan serik nya kepada Karno. Prabu Salya tidak rela anak – anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali kerata perang bebarengan dengan dilepaskannya Kunta Drewasa, akibatnya kureta perang mbandang tidak terkendali. Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran.
Di sisi lain, Kresna adalah kusir bukan sembarang Kusir. Penghlihatannya sangat presisi, dia tahu apa yang akan dilepaskan oleh Karno. Dia tahu kesaktian dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktannya. Roda kereta amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset dari leher dan mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong keprabon yang dikenakannya.
Malu Arjuna karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya terlepas. Dia juga was – was jangan – jangan ini pertanda kekalahannya dalam perang tanding ini. Namun Kresna sekali lagi, bukan hanya pengatur strategi dan penasehat perang bagi Pandawa. Dia juga adalah pamong dan guru spiritual para Satria Pandawa. Dihiburnya Arjuna bahwa ini hanyalah risiko perang. Disambungnyanya rambut Arjuna dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong harjuna dengan yang lebih bagus.
”Arjuna…,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adi Prabu Karno menyelesaikan darma baktinya. Semoga Tuhan menerima bakti dan darmanya adikku. Siapkanlah anak panah pasopati yang busurnya berupa bulan tanggal muda itu. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Karno menuju kebahagiaan sejatinya”
”Sendiko dawuh Kakanga Prabu, mohon do’a restu Kakang Prabu”
Arjuna menghunus Panah Kyai Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tidak ada makhuk jagad yang meragukannya. Galih kayu jati terbaik di jagad pun akan teriris layaknya kue lapis diterjang pisau cukur.
Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Ibaratnya, Arjuna mampu memanah sasaran dengan membelakangi sasaran itu. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, meski matanya ditutup rapat dengan kain hitam berlipat – lipat, dia akan mampu mengenai sasaran dengan tepat.
Sekarang anak panah telah siap di busurnya. Ditariknya tali busur, dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Sang Kakak, Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, sebentar – sebentar dia menarik napas. Sebentar – sebentar menata hati dan pikirannya. Saat ini yang dituju anak panah adalah leher Adipati Karno. Saudara sekandung lain bapak. Bagaimanapun, susunan tulang, urat, darah dan leher itu dari benih yang sama dengan lehernya.
Darah yang mengalir pada Karno adalah dari sumber yang sama dengan darahnya. Putih tulang leher itu dari jenis yang sama dengan putih tulangnya. Urat leher itu, tiada beda dengan bibit pada urat lehernya. Namun, tugas adalah tugas. Darma adalah darma yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Dibulatkan tekatnya, dimantapkan hatinya bahwa bukan karena ingin menang dan ingin mengalahkan dia melakukan ini. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.
Di seberang sana, Adipati Karno tahu apa yang akan dilakukan adiknya. Dia sudah dapat mengira apa yang akan terjadi padanya. Kesaktian dan ketajaman pasopati, sudah tidak perlu diragukan lagi. Kulit dan dagingnya tidak akan mampu melawannya. Namun, tidak ada rasa takut dan khawatir yang terlihat pada ronanya menghadapi akhir hidupnya ini. Yang adalah senyum kebahagiaan, karena adik yang dicintainya yang akan mengantarkannya menemuai kebahagian sejati. Sebaliknya bukan rona takut dan pucat terpancar pada wajahnya, namun senyum manis dan bersinar wajah yang terlihat. Semakin kentara indahnya wajah sang Adipati Karno.
Sang Kusir, Prabu Salya melihat apa yang akan dilakukan Arjuna. Ketakutan dan khawatir nampak pada wajah dan sikapnya.
Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah
Anak panah dilepaskan dari busurnya oleh Arjuna. ”Ssseeeettttttt”, begitu suaranya tenang setenang Karno dalam menerimanya. Lepasnya panah seperti kilatan petir dari kereta Jaladara. Secepat dia mampu, Prabu Salya melompat dari kereta mengindari bahaya. Anak panah tepat mengenai leher Adipati Karno, putus seketika. Kepala menggelinding ke tanah, badanya menyampir di kereta. Adipati Karno telah sampai pada garis akhir kesatraiannya. Dia telah mendapatkan apa yang diharapkannya. Kematian yang terhormat dalam menegakkan darma bakti satria. Basukarno adalah satria sejatinya satria.
Duka menyelimuti Kurusestra dari pihak Pandawa. Lagi mereka kehilangan saudara yang dicintainya. Meskipun Karno di pihak musuh, sejatinya dia adalah saudara kandung mereka. Tidak terkira bagaimana pedih dan perih yang dirasakan Dewi Kunti. Semenjak lahir, anak sulungnya itu telah dibuangnya ke Sungai Gangga. Jangankan memelihara dan membesarkan, menyusui dan membelai bayinyapun tidak pernah dirasakannya. Belasan tahun dia tidak pernah mendengar kabar lagi mengenai anaknya.
Setelah sekian belas tahun tidak ada khabar berita, begitu berjumpa anaknya telah memihak musuh Pandawa, anak – anaknya yang lain. Sekarang saat perang ini terjadi, putra bungsunya telah menjadi bangkai di tangan Arjuna anaknya yang lain.
https://wayang.wordpress.com/bharatayudha-7-karna-tanding/

Cerita Wayang Karno Tanding

Gambar terkait
Karno tanding adalah pertempuran terbesar dalam perang Bharatayudha. Pertempuran antara adipati Karno disatu sisi melawan Arjuna disisi lain.
Arjuna dan adipati Karno sebenarnya adalah saudara sekandung berlainan ayah. Dilahirkan dari ibu bernama Kunti Nalibronto, Arjuna merupakan anak dari Pandu Dewanata.
Sedangkan adipati Karno lahir karena kesalahan Kunti dimasa mudanya yang telah menyalahgunakan Ajian Pameling untuk memanggil dewa Surya. Oleh dewa Surya, Kunti diberi seorang anak yang dititipkan ke rahimnya.
Merasa malu karena hamil tanpa adanya suami, akhirnya anak yang lahir lewat telinga Kunti tersebut di larung ke sungai Gangga. Kelak anak yang bernama Basukarno tersebut ditemukan oleh seorang kusir kerajaan bernama Adiroto
Karno tanding adalah pertempuran dua saudara kandung berlainan ayah yang mempunyai kepandaian dan kesaktian yang seimbang. Sebelum pertempuran bharatayudha, Kunti telah mempertemukan keduanya dan memohon kepada adipati Karno agar mau bergabung dengan Pandawa untuk melawan Kurawa.  Namun permintaan tersebut ditolak oleh Adipati Karno. Sebagai satriya yang telah dibesarkan dan diangkat derajatnya oleh Duryudana, tidak sepantasnya Karno berkhianat. Adipati Karno merasa telah banyak berhutang budi. Dan kewajiban dia sebagai satriya untuk membalasnya.
"Ibu...Saya tidak dendam kepada ibu yang telah membuang saya ke sungai gangga ketika masih bayi. Itu semua adalah takdir yang harus saya jalani. Namun demikian saya tidak dapat mengabulkan permohonan ibu untuk bergabung dengan saudara-saudara saya Pandawa. Bukan karena saya tidak mencintai mereka. Tapi lebih dikarenakan saya telah berhutang budi kepada Kurawa, khususnya Duryudana. Duryudanalah yang telah membesarkan saya dan mengangkat derajat saya. Saya tidak mau menjadi satriya pengecut yang hanya muncul disaat-saat senang dan lari ketika mereka membutuhkan saya. Apa kata Dewata jika saya melakukan itu. Ma'afkan saya, Ibu..." demikian adipati Karno memberikan penjelasannya.
Seketika suasana haru menyelimuti dada mereka. Tidak ada kata yang terucap selain hanya airmata yang membasahi pipi. Mereka berpelukan lama.
Akhirnya perang Bharatayudhapun pecah. Adipati Karno muncul dengan kereta perangnya dengan prabu Salya sebagai kusirnya. Sementara di pihak lain, Arjuna muncul dengan kereta perang yang dikusiri prabu Kresna.
Ketika pertempuran terjadi, keduanya saling menghujankan anak panah. Tetapi tak satupun mengenai keduanya. Sepertinya keduanya sama-sama tidak tega melukai lawannya. Kadang kala hujan panah antara keduanya berhenti sesaat hanya untuk sekedar saling beradu pandang.
Mengetahui gelagat seperti itu, prabu Kresna yang menjadi sais kereta perang Arjuna mengambil strategi. Ketika Arjuna mulai memasang senjata andalannya panah pasopati ke gendewanya, sontak prabu Kresna menyentak tali kekang kudanya hingga kuda itu bergerak maju kedepan laksana terbang. Seketika panah pasopati melesat tepat menebas leher adipati Karno. Gugurlah anak dewa Surya itu tersungkur ke bumi.
Arjuna marah besar kepada prabu Kresna karena perbuatannya. Karena Arjuna memang tidak pernah berniat untuk mengarahkan pasopati ke adipati Karno.
" Ketika pertempuran semakin lama, akan semakin banyak memakan korban dari kedua belah pihak. Berarti rakyat pula yang nantinya akan menderita.
Ini pertempuran, Dimas. Ketika ada senopati yang gugur, itulah tugas mulia yang telah diembannya." prabu Kresna bertutur dengan bijak.
Pada akhirnya Arjunapun harus pasrah menerima takdir hidupnya sebagai senopati yang telah membunuh saudara kandungnya sendiri. 
http://nuradiwibowo02.blogspot.co.id/cerita-wayang-karno-tanding.html
Hasil gambar untuk lakon karna tanding Hasil gambar untuk lakon karna tanding
Sepeninggal Resi Bisma dan Pendita Durna, menjadikan Prabu Suyudana, merasa tidak mempunyai lagi senapati yang bisa diandalkan. Namun masih ada beberapa tokoh yang masih bisa di pandang,  masih pantas menjadi Senapati.  

Menurut pandangan  Prabu Suyudana, bahwa setelah gugurnya Resi Bisma dan Resi Durna, Senapati perang yang paling tepat berikutnya, tiada lain Raja Awangga, Adipati Karna, atau Narpati Basukarna, untuk memimpin pasukan Kurawa guna menghancurkan tentara Pandawa.Karena kemarin sebelumnya, secara mendadak Prabu Suyudana menunjuk Adipati Karna untuk menjadi pimpinan perang prajurit Astina menyerang perkemahan Pandawa di Tegal Kurusetra, Yang kemudian menyebabkan Perang Suluh, Dimana dalam perang malam itu Gatutkaca  tewas terbunuh. Sehingga kekuatan Pandawa berkurang satu orang lagi.  Pihak Kurawa gembira dengan tewasnya Gatutkaca, maka tidak salah lagi, kalau Adipati Karna, diangkat menjadi Senapati perang Pihak Astina. Selesai pengangkatan Senapati,  Adipati Karna sebagai Senapati Perang Kurawa, Adipati Karna  memerintahkan  Prabu Salya menjadi saisnya di medan laga Kurusetra.  Prabu Salya siap melakukan apa saja yang diminta Sang Senapati. Tetapi sebenarnya Prabu Salya enggan menjadi kusir menantunya sendiri.
Adipati Karna menyempatkan  bertemu dengan  Ibu Kunti untuk mohon pamit pergi ke Tegal Kurusetra. Sampai di Kaputren Ibu Kunti, Adipati Karna bertemu dengan Ibu Kunti. Dewi Kunti merasa bahagia melihat Karna anak sulung yang dahulu di buang sudah mengakui ibunya. Adipati Karna menghadap ibu Kunti untuk mohon pamit mati. Ibu Kunti menangis mendengar kata-kata Adipati Karna. Dewi Kunti minta kepada Adipati Karna mau bergabung dengan Pandawa. Tetapi Adipati Karna tidak mau. Karena sudah terlambat. Adipati Karna sudah makan, sudah minum dan sudah mendapat jabatan dan kebahagiaan yang selama ini dirasakan bukan berasal dari Pandawa, justru dari para Kurawa. Adipati Karna harus balas budi. Ibu Kunti tidak usah khawatir, karena Adipati Karna akan memilih siapa kah yang harus hidup Karna atau Arjuna. Yang penting Pandawa tetap lima orang, yang satu bisa Arjuna atau bisa Karna. Dewi Kunti menangisi Adipati Karna, putera sulungnya. Ibu Kunti melepas kepergian puteranya, dengan pandangan hampa. Kemudian Adipati Karna pulang ke Awangga.Kunjungan Adipati Karna kepada Ibunya, adalah yang pertama dan yang terakhir kalinya.
Adipati Karna juga berpamitan pada isterinya, Dewi Surtikanti, puteri Prabu Salya. Dewi Surtikanti merasa bersedih hati dengan kepergian suaminya ke medan laga. Tetapi karena sudah tugas negara, maka Dewi Surtikanti rela melepaskan suaminya ke medan perang. Namun Dewi Surtikanti masih berharap menunggu kepulangan Adipati Karna dalam keadaan selamat.
Matahari baru bersinar, Sasangkala telah di bunyikan. Prajurit telah bersiap melawan musuh-musuhnya.Kereta perang Adipati Karna yang disaisi Prabu Salya, telah memasuki Tegal Kurusetra. Sementara itu, Arjuna pun telah bersiap bertemu dengan Adipati Karna. Arjuna menggunakan kereta perang Kyai Jaladara, milik Prabu Kresna, dan  Prabu Kresna sendiri yang menjadi saisnya.Kereta perang Kyai Jaladara melaju kencang memasuki arena perang Tegal Kurusetra. Adipati Karna merasa menyesali diri sendiri, mengapa pada  waktu perang suluh,  telah melepas Senjata Kunta kepada Gatutkaca.
Senjata Kunta sebenarnya telah dipersiapkan oleh Adipati Karna untuk menghantam Arjuna, Namun dapat digagalkan oleh  Gatutkaca, walaupun harus ditebus dengan nyawanya sendiri.Dengan pengorbanan Gatutkaca sedemikian besarnya,Arjuna bisa jadi luput dari kematian.
Kedua kereta perang, sudah meliak-liuk saling menghindar agar tidak terkena panah atau sabetan pedang diantara kedua satriya yang berpakaian kembar itu.Akhirnya perang tanding kedua bersaudara itu, menjadi tontonan perajurit. Perajurit melupakan tugasnya di tegal Kurusetra. Kereta Arjuna dilindungi awan mendung yang begitu kelam, sedangkan kereta Adipati Karna dilindungi sinar terangnya sang mentari, sehingga menyilaukan mata yang memandang.Ternyata Bathara Indra dan Bathara Surya sebagai saksi  putera - putera nya yang sedang berlaga di Tegal Kurusetra.
Sudah berkali-kali keduanya saling melayangkan berbagai pusaka. Namun semuanya luput. Adipati Karna tinggal memiliki satu panah yang ampuhnya tidak jauh berbeda dari Kunta, yaitu Wijayandanu. Adipadi Karna dengan cepat bersiap melayangkan Wijayandanu ke Arjuna.Namun saisnya, Prabu Salya mengetahui keadaan ini, Prabu Salya tidak merelakan kalau Arjuna yang tewas. Ketika panah ditarik dan akan dilepaskan, Prabu Salya menggebrag kendali kekang tali kudanya, sehingga kuda-kudanya ndongak,sedangkan roda kereta belakang ambles dalam tanah, Kereta perang Adipati Karna anjlog, menyebabkan panah yang dilayangkan kepada Arjuna melenceng, sehingga tidak mengenai leher Arjuna.


Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah

Kini kereta perang Adipati Karna tidak bisa berjalan lagi, karena roda belakang kereta itu masuk dalam tanah agak dalam. Adipati Karna marah marah pada saisnya yang tak lain adalah ayah mertua nya sendiri,  Prabu Salya.
Panah Wijayandanu melesat mengenai sumping Arjuna, sehingga gelung rambutnya lepas, dan rambut Arjuna menjadi terurai. Ketika Adipati Karna marah-marah pada Prabu Salya. Kesempatan baik itu digunakan oleh Arjuna, untuk melayangkan sebuah panah dan mengenai mahkota Adipati Karna, sehingga lepas, gelung rambutnyapun  terurai.
 Kini Adipati Karna meloncat dari kereta perang, mendekati Arjuna untuk kembali menyerang . Sementara itu Arjuna pun menanggapi Karna, Arjuna turun dari kereta perang. Mereka saling mendekati, dan saling melawan.Hingga akhirnya Arjuna berhasil menyarangkan  panah di dada Adipati Karna,  Adipati Karna rebah dan bersimbah darah. Adipati Karna gugur di medan perang Kurusetra.
Setelah gugurnya Adipati Karna, terdengar suara Adipati Karna memanggil adiknya, Arjuna. Adipati Karna ingin memeluk Arjuna sebelum  mati. Arjuna mencoba mendekati Adipati Karna. Tetapi Prabu Kresna menghalangi Arjuna. Karena Adipati Karna memang sudah mati. Sedangkan yang bicara adalah pusaka Adipati Karna, Kala Dite yang bela pati atas kematian tuannya. Setelah Arjuna dirasa sudah tidak mendekati, tiba-tiba dari tubuh Adipati Karna, keluar seekor burung raksasa yang terbang kearah Arjuna dan menyerangnya. Segera Prabu Kresna menarik Arjuna, sehingga terhindar dari serangan burung. Arjuna segera  melayangkan panah Pasopati kepada burung itu, sehingga burung itu  hancur menjadi debu.
Sementara itu Dewi Surtikanti, istri Adipati Karna,yang sudah lama menunggu suaminya tidak pulang-pulang kerumah, Sudah tak sabar lagi ingin berjumpa dengan suaminya. Maka pergilah ke Tegal Kurusetra. Tetapi semua perajurit yang ditemuinya, mengatakan bahwa Adipati Karna telah gugur di medan perang. Akhirnya Dewi Surtikanti mencari keberadaan suaminya di antara jasad para perajurit yang bergelimpangan di Tegal Kurusetra, pertanda kesetyaan seorang istri pada suaminya. Sementara itu Prabu Kresna, dan Arjuna ternyata sedang merawat jasad Adipati Karna, Para Pandawa sebenarnya menginginkan bersatu dengan kakaknya, Adipati Karna, sangat dicintai para Pandawa.
Harum semerbak bunga mawar dan melati turun dari Kahyangan, menghiasi para pahlawan yang telah gugur di Tegal Kurusetra. Pada waktu perabuan jasad Adipati Karna, isteri tercinta, Dewi Surtikanti bela pati, masuk terjun kedalam api yang sedang berkobar.
Adipati Karna,  memimpin Pasukan Kurawa  bertahan selama 2 hari.
http://wayangkarnatanding.blogspot.co.id/perang-barathayuda.html
Hasil gambar untuk lakon karna tanding

Karna Tanding : Karna Gugur

Hasil gambar untuk lakon karna tanding
Versi Mahabarata 
Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.
Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.
Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?
“Inilah yang kita dapat!  Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara  kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.
Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai manusia yang bersifat oportunis.

“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang  prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang?  Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina !”.

Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh pesanggrahan.
Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.
Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra, menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.
Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.
Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.

“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?”.
“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”
“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!”.
“Baik, akan aku turuti kata katamu. Waspadalah!”

Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas ditangan masing masing.
Semakin lama semakin tegas terlihat, bahwa Sanjaya lebih unggul daripada Warsasena. Ketika sampai di puncak kemampuannya, Sanjaya menyudahi perlawanan Warsasena dengan menewaskannya. Kemarahan Adipati Karna tidak terbendung ketika mendengar anak lelakinya yang tinggal satu telah tewas.
Sorak sorai bala tentara telah mengatakan akhir dari pertempuran kedua anak muda itu. Segera Adipati Karna mendekati Sanjaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pertempuran kembali terjadi. Tetapi kesaktian Sanjaya ternyata tidaklah imbang dihadapan Adipati Karna. Sekarang berganti, terdesak Sanjaya, dan tak lama kemudian keris Kyai Jalak mengakhiri hidup Raden Sanjaya. Ia gugur dalam usahanya membuktikan darma baktinya terhadap saudara saudara sepupunya para Pandawa.
Diceriterakan, telah tiba saat kedua satria pilihan dari kedua pihak akan bertemu dalam pertempuran atas nama darma satria. Ketika telah terdengar aba-aba bahwa Senapati dari Pihak Wirata telah siap siaga, maka segera Adipati Karna meloncat menaiki kereta perangnya. Tetapi oleh suasana hati Prabu Salya yang masih tetap panas, ada saja masalah kecil yang menjadikannya tidak berkenan.

Ketika melihat menantunya telah menaiki kereta, dan ia masih ada dibawah, kemarahannya kembali meledak. “Apakah kamu bukan manusia yang mengerti tata bagaimana menghormati orang tua, keparat!  Orang tua masih dibawah, kamu sudah duduk nangkring diatas kereta!”.
Namun Adipati Karna mencoba membela diri, serba salah telah mendera hatinya dari waktu ke waktu  “Mohon seribu maaf  rama Prabu, maksud hamba dari semula, adalah hanya menetapi darma. Disini derajat kusir ada dibawah senapati”.
“Sudah tak terhitung berapa kali rasa sakit yang pernah melukai hatiku karena kelakuanmu. Sewaktu Prabu Kresna menjadi duta di awal perang kemarin, kamu sudah melukai hatiku dalam pasamuan agung. Belum sembuh luka itu, sekarang kamu melakukan hal yang sama, aku kamu jadikan seorang kusir. Kalau tidak sungkan dengan anak Prabu Duryudana, aku tidak sudi melihat mukamu yang membuat aku muak. Dan kamu tidak berwenang untuk memerintah aku!”. Kejengkelan Prabu Salya tidak juga reda.
“Rama, sekali lagi putra paduka mohon  maaf, kami persilahkan rama Prabu untuk menaiki kereta. Ketahuilah rama, sudah ada tanda tanda dalam diri putramu, detak jantung didada ini mengisyaratkan kematian putramu sudah menjelang. Kami persilakan rama Prabu untuk mengantarkan kematianku,  rama Prabu . . . . ”. Campur aduk perasaan kedua manusia menantu dan mertua itu mengawali langkahnya menuju ke palagan peperangan. Inilah titik dimana perasaan yang tidak sepenuhnya bulat telah melemahkan moral perang senapati Kurawa.

Baru saja kereta bergerak, mendadak melayang bagai awan hitam bergulung diatas palagan. Itulah Naga Raja  Guwa Barong, Prabu Hardawalika. Seekor naga yang mengincar kematian Arjuna. Adipati Karna yang melihat keanehan naga mengarah ketempat ia bersiap, segera menghentikan laju geraknya dan menanyakan maksudnya “Heh kamu mahluk yang mencurigakan, siapa kamu dan apa maksudmu membuat keruh suasana peperangan!”.
“Aku penjelmaan raja raksasa dari Guwa Barong. Aku bermaksud hendak membantu kamu menandingi Arjuna”. Naga raksasa itu dengan tidak ragu mengatakan maksudnya.
Tetapi sungguh tidak disangka, jawaban yang diterima adalah bentakan yang menyuruhnya ia pergi. “ Heh naga mrayang, Arjuna adalah saudaraku. Kalaupun aku berselisih sehari tujuh kalipun, tak akan pecah persaudaraanku. Menyingkirlah atau akan aku percepat sempurnanya kematianmu!”.
“Haaah . . perbuatan yang sia sia. Ternyata aku mengatakan hal ini kepada tempat mengadu yang salah. Tetapi hal ini tidak akan menghalangiku untuk membalas kematianku moyangku”. Melayang kembali Hardawalika kearah berlainan untuk mencari keberadaan Arjuna.
Kresna yang tidak pernah terhalangi kewaspadaanya sedikitpun, segera tahu apa yang ada dihadapannya, ketika awan mendung tiba tiba membayang diatasnya.

“Arjuna, diatas pertempuran itu ada seekor naga penjelmaan Prabu Hardawalika. Lepaskan panahmu, sempurnakan kematian Prabu Hardawalika”.

Tidak lagi membuang waktu, segera dipentangnya busur yang telah diisi anak panah. Melesat anak panah menempuh bayangan naga, sirna seketika ujud dari naga Hardawalika yang kembali membuat suasana palagan menjadi terang.
Syahdan, kedua Senapati dari kedua belah pihak telah sama sama bergerak mendekat. Maka suasana palagan peperangan menjadi gaduh, kemudian setelah jarak keduanya menjadi semakin dekat kejadiannya justru menjadi terbalik. Peperangan segera terhenti bagai dikomando. Suasana yang berkembang menjadikannya Arjuna termangu. Prabu Kresna yang melihat suasana hati Arjuna segera dapat menebak apa yang dipikirkannya.

“Arjuna, tatalah rasa hatimu! Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna”. 
“Kanda, bagaimankah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkan akan Ibu Kunti” keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.

“Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu. 
Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”. Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.
Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”. 
Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya
“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.
“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.
“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki  sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.
Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna!  Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “
Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.
Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas.  “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.
Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.
Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.

“Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna”.
“Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung”. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

Aduh Kanda Prabu, topong hamba  jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba?”. Arjuna menanyakan.
“Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali”. Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.
Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua.
Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.
“Arjuna !”, Kresna memberikan isyarat, “Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!”.

Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna.
Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya. Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari pabaratan, kembali ke Bulupitu.
Namun kejadian sejak dari awal pertempuran tadi, tidak terlepas dari sepasang mata yang selalu mengawasi setiap gerakan sekecil apapun yang dilakukan Prabu Salya. Itulah sepasang mata Aswatama!

(Bersambung)
Banyak sekali versi tentang cerita Karna Tanding.
Petikan dan suntingan dari pagelaran demi pagelaran wayang purwa diatas,
adalah salah satunya yang terpilih untuk diketengahkan.
dalam versi lain, saat tanding lawan arjuna, kereta perang Karna teperosok ke dalam lumpur. sesuai dengan kutukan dari guru Karna yaitu Ramaparasu atau Ramabargawa. Pada saat membetulkan roda ketera yg terperosok itulah, Kresna memerintahkan Arjuna membidik Karna. Gugurlah Karna dengan kepala terpenggal panah Arjuna.
Syahdan,, Karna menyamar sebagai seorang brahmana agar dapat diterima menjadi murid Ramaparasu, karena Ramaparasu tidak mau menerima murid dari golongan ksatria. Pada suatu saat terbongkarlah kebohongan Karna.
Merasa ditipu dan dikhianati, keluarlah kutukan dari sang guru.
http://caritawayang.blogspot.co.id/karna-tanding-karna-gugur.html

Karno Tanding

Hasil gambar untuk lakon karna tanding
Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa, Prabu Kresna, dihadap oleh Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Drestajumena dan Setyaki. Mereka masih bersedih dengan gugurnya Gatotkaca oleh senjata Kunta milik Adipati Karna. Prabu Matswapati menasehati keluarga Pandawa, hendaknya rasa sedih itu harus secepatnya dihilangkan, sebah Bharatayuda belum selesai. Yang harus dipikirkan sekarang, ialah menetapkan siapa yang akan diangkat menjadi senapati perang Pandawa menghadapi Adipati Karna besok. Prabu Kresna kemudian mengusulkan Arjuna sebagai Senapati perang Pandawa menggantikan Gatotkaca. Arjuna menerima mengangkatannya sebagai senapati perang, dan tetap akan menggunakan gelar perang Garuda Nglayang, dengan senapati pendamping Bima dan Dretajumena.
Dewi Drupadi menyambut kedatangan Prabu Puntadewa. Menjawab pertanyaan Dewi Drupadi tentang hasil pertemuan hari itu, Prabu Puntadewa menjawab, keluarga Pandawa telah menenerapkan Arjuna sebagai senapati perang yang menggantikan Gatotkaca. Mereka kemudian masuk ke sanggar pemujaan untuk memohon anugrah Dewata agar keluarga Pandawa menang dalam perang Bharatayuda.
Sadewa mengadakan pertemuan dengan Sentyaki, Udawa dan Pragota. Sadewa meminta agar mereka tetap meningkatkan kewaspadaan, sebab mendekati saat-saat yang menentukan dalam perang Bharatayuda, tidak menutup kemungkinan lawan menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk bisa memenangkan peperangan.
Prahu Ajibanjaran mengadakan pertemuan dengan patih Kalagupita dan para punggawa lainnya. Prahu Ajibanjaran mengemukakan niatnya untuk membantu keluarga Kurawa dalam peperangan melawan keluarga Pandawa, sebagai balas dendam atas kematian saudara seperguruannya, Dursala putra Dursasana yang mati dalam peperangan melawan Gatotkaca dulu. Prabu Ajibanjaran kemudian memerintahkan patih Kalagupita untuk mengerahkan pasukan Goabarong menyerang perkemahan Pandawa dimalam hari, karena baginya tidak terikat dengan aturan peperangan.
Peperangan terjadi antara Setyaki, Udawa dan Pragota melawan prajurit dari Goabarong pimpinan patih Kalagupita, Ketika pajuritnya banyak yang mati, Kalagupita menyuruh sisa prajuritnya menarik mudur dari peperangan.
Prabu Biswarna dihadap oleh patih Tribsata dan para pungawa lainnya. Prabu Biswarna merasa sangat menyesal karena baru sekrang ia mendengar kabar kalau perang Bharatayuda antara keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa telah lama berlangsung di Kurusetra, padahal sudah sejak semula ia ingin membantu keluarga Pandawa. Prabu Biswarna kemudian memerintahkan patih Tribasata menyiapkan segenap prajuritnya untuk menyertainya ke Kurusetra, bergabung dengan keluarga Pandawa.
Prabu Duryudana, Prabu Salya dihadap patih Sakuni dan Adipati Karna, Prabu Salya berusaha menghibur Prabu Duryudana yang masih larut dalam kesetlihan akibat gugurnya Dursasana dan Wikataboma serta beberapa anak-anak Kurawa lainnya. Namun demikian Kurawa harus merasa sedikit lega, sebab dengan matinya Gatotkaca, maka kekuatan Pandawa mengalami kerugian yang sangat besar. Dalam pertemuan itu Prabu Duryudana juga sedikit meminta pertanggungan jawab Adipati Karna, kenapa membuang kesempatan untuk membunuh Bima, padahal dengan matinya Bima, berarti mati semua keluarga Parnlawa sesuai sumpah mereka. Adiparti Karna menjelaskan, sebagai satria apalagi senapati perang, ia harus taat pada peraturan peperangan. Saat itu ia tidak langsung membunuh Bima, walau kesempatan itu ada, karena ia telah mendengar suara sangkakala tanda perang selesai. Namun Adipati Karna berjanji ia akan menghabisi keluarga Pandawa dalam peperangan berikutnya.
Adipati Karna memanggil patihnya, Adimanggala, dan menyuruhnya kembali ke Awangga mememui Dewi Surtikanti, memintakan sedah (sirih) sebagai bekal dalam peperangan melawan Arjuna besok..
Dewi Surtikanti menerima kedatangan Adimanggala yang menyampaikan pesan Adipati Karna. Tapi celaka, Adimanggala salah mengucapkan kata-kata. Seharusnya ia mengucapkan "Adipati Karna minta sedah (sirih)" tapi yang terucap "Adipati Karna minta pejah (mati)". Akibat salah ucap itu, Dewi Surtikanti yang mengira Adipati Karna suaminya telah gugur di medan perang, tanpa pikir panjang lagi langsung bela pati, bunuh diri dengan menancapkan keris pusakanya ke dalam perutnya. Kajadian itu mengejutkan Adimanggala yang segera lari kembali ke Astina menemui Adipati Karna.
Adimanggala menemui Adipati Karna dan menceritakan kejadian yang menimpa Dewi Surtikanti. Adipati Karna yang marah dan menganggap kematian istrinya akihat kesalahan Adimanggala, langsung menghunus keris Kiai Jalak dan menancapkan langsung ke perut Adimanggala yang mati seketika.
Batara Guru dihadapan Batara Narada, Indra, Yamadipati dan dewa lainnya, mendengarkan besok akan berhadapan kedua satria tangguh kesayangan dewa. Batara Guru kemudian memerintahkan Batara Narada untuk mengerakan para dewa dan bidadarl menyaksikan pertandingan kedua satria tersehut sambil membawa air setaman dan bunga-bunga sorga untuk pengormatan mereka yang gugur.
Prabu Biswarna yang akan, menuju perkemahan Pandawa bertemu dengan Adipati Karna. Terjadi peperangan yang berakhir dengan tewasnya Prabu Biswarna.
Peperangan terjadi antara pasukan Kurawa melawan pasukan Pandawa. Puncaknyn, Adipati Karna yang naik kereta perang dengan sais Prabu Salya, berhadapan dengan Arjuna yang naik kereta perang dengan sais Prahu Kresna. Perang herlangsung seru dan lama, keduanya saling mengeluarkan ilmu andalannya masing masing. Adipati Karna mengeluarkan Aji Kalakupa, maka munculah raksasa ganas langsung menyerang Arjuna, yang langsung dilayani Arjuna dengan Aji Mayabumi. Sehingga raksasa itu menjadi lemas tak bertenaga. Ketika Adipari Karna mengeluarkan Aji Naracabala, Arjuna mengeluarkan Aji Tunggengmaya. yang meluluhkan semua daya kekuatan Aji Naracahala. Karena tak ada lagi pusaka yang bisa digunakan untuk membunuh Arjuna, Adipati Karna kemudian mengeluarkan panah Wijayacapa yang langsung diimbangi Arjuna dengan panah Pasopati. Keadaan menjadi sangat tegang karena haik Adipati Karna maupun Arjuna telah siap untuk membunuh lawannya. Pada saat yang menentukan itu berlakulah kutukan Resi Parasurama terhadap Adipati Karna. Adipati Karna mendadak lupa dengan bacaan mantranya, akibatnya panah Wijayacapa meluncur tanpa kendali, hingga meleset dari sasaran, hanya menyerempet sedikit mahkota Arjuna. Bersamaan dengan lepasnya panah Wijayacapa, Arjuna melepaskan panah Pasopati, yang melesat cepat, tepat menebas putus leher Adipati Karna. Dan gugurlah senapati perang Kurawa.
Prahu Matswapati, Prabu Puntadewa, Prabu Kresna dihadap keluarga Pandawa serta Dewi Drupadi. Prabu Puntadewa mengemukakan rasa duka citanya atas gugurnya Adipati Karna, Karena meski ia berperang untuk Kurawa, namun ia masih saudara tua Pandawa. Prabu Matswapati kemudian mengajak mereka semua untuk berdoa bersama, memohon kepada Dewata agar kejayaan selalu menyertai keluarga Pandawa.
http://tokohpewayanganjawa.blogspot.co.id/karno-tanding.html
 Hasil gambar untuk lakon karna tanding
Karno Tanding , kibrewok.blogspot.com
Kebimbangan Satriya Dalam Perang Suci
Rasa duka dan kehilangan yang mendalam masih dirasakan Bima, kehilangan Gatotkaca yang gugur oleh hunjaman Senjata Kunta Adipati Karno. Tidak hanya kehilangan anak tersayang, Bima juga ditinggal istri tercinta Dewi Arimbi. Demi menepati janji, menyusul Gatotkaca dengan nglayu mati obong, membakar diri.
Bagi Arjuna dan Bima, duka ini telah mampu menghilangkan daya dan semangat hidupnya untuk meneruskan niat perang suci, perang Baratayuda. Perang ini adalah tugas suci untuk menumpas angkara murka dan tingkah durjana
Tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan yang dalam membuat suasana perkemahan sepi nyenyet seperti kuburan. Puntadewa, Wrekudara, Arjuna, Nakula Sadewa
Arjuna tertunduk lesu seolah tanpa sepotong tulang pun menyangga tubuhnya. Lemas tanpa daya. Dengan kegalauan yang mendalam, Arjuna kehilangan tekad dan kekuatannya untuk menuntaskan tugas sucinya meneruskan peperangan dan menuntaskannya. Kegamangan sebagai kesatriya utama yang harus berjalan paling depan, memimpin dengan gagah tanpa keraguan.
Hanya Kresna, titisan Wisnu itu, yang terlihat tenang menyikapi suasana dan kejadian ini. Bahkan Kresna sudah mampu melihat apa yang akan terjadi, hanya perlu menjalankan dengan kesabaran untuk tetap melanjutkan skenario menyelesaikan amanah dan dharma bhaktinya.
Sementara kesaktian Adipati Karno memporak porandakan, dan Semakin banyak korban dari pasukan pendawa yang gugur. Hanya Arjuna yang kuasa menandingi Adipati Karno. Yang mampu menyamai kesaktiannya. Arjuna diam, maka percayalah, tidak akan lama lagi pasukan Pandawa akan tumpas habis karena Adipati Karno..”
Arjuna merasa dan melihat perang ini, siapa lawan siapa, apa yang diperebutkan?? Pandawa dan Kurawa adalah saudara sedarah. Yang diperebutkan adalah sejengkal tanah Amarta dan Hastina. Namu berapa banyak jiwa tak berdosa telah terbunuh oleh saudara – saudaranya sendiri. Dalam Kebimbangannya, Kresna mengharuskannya berperang dan tentu saja akan saling bunuh dengan Kakangnya sendiri Adipati Karno.
Arjuna dalam kebimbangan , dosa apa dan salah apa nanti yang akan di pertanggungjawabkan dihadapan Tuhan, akibat saling bunuh dengan saudara sendiri ? Kakang Adipati Karno adalah darah dagingnya sendiri. Darah yang mengalir di tubuhku adalah darah yang sama, daging dalam tubuhku adalah dari sumber yang sama. Tulang – tulangku dari benih tulang yang satu. Bagaimana tega menghadapi Kakakku sendiri, Belum lagi perasaan Ibu Dewi Kunti, Ibu kandungnya sendiri, jika melihat anak anaknya saling bunuh disaksikan ribuan orang di tengah padang Kurusetra?
Patahlah semangat Arjuna, dalam hatinya, hentikan saja perang ini, sebelum lebih banyak korban dari saudara2 kita sendiri. OOH, Kakang Kresna, saya terima kalah perang saja tidak apa – apa. Saya terima tidak mendapatkan apa – apa dari tanah Amarta dan Hastina saja daripada harus menghadapi Kakang Karno, darah daging saya sendiri.”
Prabu Kresna menjawab dengan tangkas dan berwibawa, bahwa perang ini bukanlah hanya sekedar perang memperebutkan sejengkal tanah Amarta, bukan hanya membela Amarta dan menghabisi Kurawa, ketahuilah Arjuna, bahwa perang ini adalah perang suci, perang yang dikehendaki Tuhan untuk bisa memberantas nafsu angkara murka, Untuk mengadili mana yang salah dan mana yang benar, untuk menegakkan kebenaran dan keadlian “ Perang ini akan menuntaskan riwayat sang durjana dengan perantaraan darma bakti suci para Satriya.
Oleh karena itu Arjuna, Dalam perang suci ini, seperti perang – perang yang lain, tidak ada lagi keraguan takut adanya korban , Dalam perang butuh pengorbanan itu pasti. Namun itu semua hanya merupakan syarat yang harus kita bayarkan, agar tujuan suci tercapai.
Jer Basuki Mowo Beyo, jika kita tidak ingin berperang dan berkorban, jangan kamu kira keadaan akan lebih baik. Kamu sendiri dan Para Pandawa sudah merasakan betapa menderita dan sengsaranya kalian karena angkara murkanya. Tidak hanya Pandawa yang menderita, seluruh rakyat Amarta juga menderita karena penindasan, ketakutan atas penjajahan dan kesewenang wenangan, tak ada kemerdekaan. Apakah akan membiarkan tetap terjajah dan tertindas , Apa angkara murka terus – terusan meraja lela di dunia ini, hanya karena sayang kepada Adipati Karno dan ketidak tegaan melihat Ibu Kunti sedih
Arjuna, Jangan dikira jika nanti Adipati karno gugur di medan laga, itu adalah penderitaan? Ketahuilah kematian suci seperti itulah dambaan Adipati Karno. Kamu ingat sewaktu lakon “Kresna Duta” ?. Kresna meminta Karno untuk berkumpul dengan para Pandawa dan meninggalkan Kurawa. Namun Adipati Karno menolak, Karena Adipati Karno tahu, jika dia tidak lagi berpihak pada Kurawa pada perang Baratayuda ini, maka Duryudono tidak akan berani berperang dan itu artinya angkara murka akan terus merajalela di dunia.
Selain itu, Adipati karno adalah Satria sejati Maka kematian dalam perang baginya adalah jalan darma bakti sucinya sebagai satria, bagi Adipati Karno kematian ini adalah pintu kenikmatan surgawi adikku. Dan dia ingin Arjuna yang dicintai, yang akan mengantarkannya menghadap Tuhan kegerbang kenikmatan surgawi.”
Perang ini adalah perang suci yang harus taat pada aturan.Bila Adipati Karno menjadi panglima perang, maka yang harus menghadapi adalah Arjuna. Dalam perang suci ini tidak boleh ada dendam. Kedua belah pihak berhadapan hanya didasarkan pada tugas dan peran masing – masing, bukan atas dasar dendam kesumat Arjuna,
Setelah menerima wejangan Kresna , maka dengan mantab berangkatlah Arjuna ke medan peperangan di padang Kurusetra, dengan mengendarai kereta perang Jaladara yang di kendalikan oleh kresna sebagai kusirnya, di padang kurusetra bertemulah dengan Adipati Karno dengan menaiki kereta yang di kendalikan oleh Prabu Salya.
Dengan Kamantaban dalam jiwanya untuk menjalankan amanah maju perang dengan mengantarkan amanah dan tugas suci Tuhan, dalam memerangi Angkara murka, dan memperjuangkan Kebenaran dan Keadilan.
Dan Kresna tahu, Arjunalah yang bisa mengatasi Adipati Karno dan mengantarkannya kegerbang kenikmatan surgawi,menyatu dengan tuhannya, menyelesaikan dharmabaktinya kepada hancurnya keangkara murkaan.
http://www.kompasiana.com/zen-muttaqin/karno-tanding-perang-suci-perangi-angkara-murka-sebuah-refleksi-pssi.html.
Gambar terkait
Gambar terkait
Karna Tanding versi Mahabarata  

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer