Lakon Pandawa Mokswa

Banjaran Pandawa (5) Pandawa Muksa

Hasil gambar untuk lakon pandawa muksa
Pandawa kembali ke perkemahan untuk merayakan hasil kemenangan perangnya. Kresna sedih memikirkan kutukan Duryodhana bahwa Pandawa akan tertindas sebelum kematiannya. Oleh karena itu para Pandawa disuruh segera menyelamatkan diri masuk dalam kemah, dan pada malam hari supaya menebus dosa-dosa dengan memuja ke tempat suci.
Pada malam hari Aswatthama berusaha membalas kematian ayah dan para Korawa. Dalam malam gelap itu Aswatthama berhail membunuh lima anak Dropadi yaitu Pancala dan beberapa laki-laki.
Para Pandawa yang datang ke kemah menemukan wanita yang dilanda kesedihan, Dropadi patah hati. Kresna datang menghiburnya. Demikian juga Wiyasa yang telah tiada muncul memberi nasihat kepadanya. Dropada akan membalas kejahatan Aswatthama. Ia meminta Pandawa membawa mutiara yang menghias di dahi Aswatthama. Para Pandawa mencari Aswatthama. Setelah bertemu, Aswatthama akan dibunuh dengan gada. Aswatthama mengangkat panah Brahmasirah yang amat sakti. Arjuna pun mengangkat panah saktinya. Namun Sang Hyang Siwa menyuruh agar mereka menarik panah saktinya. Arjuna menurut tetapi Aswatthama tidak dapat menahan panah saktinya. Anak panah Aswatthama lepas mengenai anak Utari yang masih dalam kandungan. Bayi dalam kandungan lalu dihidupkan oleh Kresna. Setelah dewasa bayi itu akan menjadi raja dengan nama Parikesit. Dropadi menerima mutiara, lalu diberikan kepada Yudhisthira. Yudhisthira lalu menjadi raja di Indraprastha. (Sumber cerita: Bharatayudha edisi Prof. Dr. R. M. Sutjipto Wirjosuparto)
5. Cerita Pandawa Muksa
Cerita tentang Pandawa sesudah perang Bharatayudha yang dimuat dalam Prasthanikaparwa, dilanjutkan kematian dan perlindungan mereka di surga. Isi pokok cerita itu sebagai berikut:
Para Pandawa akan meninggalkan kota Hastina menuju ke hutan. Parikesit diangkat menjadi raja Hastina. Yudhisthira, Bhima, Arjuna, Nakula, Sahadewada dan Dropadi meninggalkan istana. Seekor anjing mengikutinya. Atas perintah Dewi Agni, Arjuna membuang senjatanya di laut. Perjalanan mereka mendaki Gunung Himalaya, lalu melewati gurun pasir. Dropadi, Sahadewa, Nakula, Arjuna dan Bhima berturut-turut meningal dunia. Tinggal Yudhisthira dan anjing yang masih hidup. Dewa Indra dengan kereta membawa Yuhisthira dan anjingnya yang telah menjadi dewa Dharma menuju ke surga. Sesampainya di surga, Yudhisthira heran karena tidak menemukan saudara-saudaranya dan Dropadi. Yang ditemukan justru warga Korawa dan para pahlawannya. Yudhisthira melihat mereka, tetapi tidak mau berkumpul dengan mereka. Ia kecewa, merasa dewa berbuat tidak adil. Dewa Narada menjelaskan bahwa Korawa harus menerima anugerah sesuai dengan amal baiknya, Pandawa harus tinggal di neraka. Yudhisthira ingin mencari saudara-saudaranya, ia ingin suka dan duka bersama. Para dewa mengetahui sikap Yudhistira yang ingin tinggal bersama saudara-saudaranya. Para Pandawa harus menebus dosa-dosanya. Mereka harus turun ke Sungai Gangga untuk menyucikan diri. Sesudah menjadi suci, mereka naik ke surga menggantikan Korawa.
(Sumber cerita: Drie Boeken van het Oudjavaasnche Mahabharata. Edisi Hendrik Herman Juynboll, 1893)
Kitab Jawa Tengahan yang mengisahkan tokoh Pandawa
yaitu: Kitab Nawaruci
Kitab Nawaruci mengisahkan Wrkodara atau Bhima ketika mencari air suci. Isi ringkas cerita itu sebagai berikut:
Druyodana menginginkan kematian para Pandawa, lalu minta agar Dang Hyang Drona mengusahakannya. Wrkodara disuruh mencari banyu mahapawitra yang berada di sumur Dorangga. Wrkodara berangkat dari Gajahoya. Perjalanannya melalui tempat berbahaya, tebing dan jurang. Wrkodara sampai di sumur Dorangga, tetapi tidak menemukan air suci. Ular jantan dan betina tinggal di dalam sumur itu. Wrkodara digigit ular, segera ia menusuk ular itu dengan kukunya. Kepala ular dipotong, dibawa kembali ke Gajahoya. Sepasang ular naga berubah menjadi bidadara dan bidadari bernama Harsanandi dan Sarasambadha. Mereka mengucap terima kasih lalu kembali ke Suralaya..
Wrkodara tiba di Gajahoya, menghadap Drona dan menyerahkan dua kepala naga. Wrkodara memberi tahu bahwa di sumur Dorangga tidak berisi air suci. Drona berkata bahwa air suci berada di tegal Andawa. Wrkodara diminta segera berangkat ke tegal itu.
Di tegal Andawa Wrkodara disambut oleh raksasa Indrabahu. Indrabahu hendak makan Wrkodara, terjadilah perkelahian hebat. Indrabahu kalah, kepalanya dipenggal, dipikul oleh Gagakampuhan dan Twalen. Indrabahu berubah menjadi dewa Indra. Indra berterima kasih atas jasa Wrkodara, lalu kembali ke Suralaya.
Wrkodara kembali ke Gajahoya, kepala Indrabahu diserahkan kepada Sang Hyang Drona. Druyodana dan Drona lari ketakutan. Wrkodara mengejarnya. Drona berkata, bahwa air suci berada di dasar laut.
Wrkodara berangkat ke samodra. Setelah sampai di samodra segera akan mencebur di dalamnya. Gagakampuhan menasihati, Wrkodara diminta kembali ke Indraprastha, menghadap Dharmawangsa, Kunti, Dropadi, Arjuna, Nakula atau Sakula dan Sahadewa. Wrkodara berpamitan, kemudian mencari air suci. Kunti menghalang- halanginya. Ujung kain Wrkodara dipegang kuat-kuat, tetapi lepas dikebas Wrkodara. Warga Pandawa yang ditinggal pun menagisi kepergian Wrkodara.
R.S. Subalidinata
https://wayang.wordpress.com/banjaran-pandawa-5-pandawa-muksa/

Para Pandawa mencapai Moksa

Hasil gambar untuk lakon pandawa muksa
Bertahun2 setelah perang Baratayudha dipadang Kurusetra berakhir, Yudhistira meletakan jabatannya dan memberinya kepada Parikesit cucu Arjuna, satu2nya pewaris tahta yang tersisa. Yudhistira yang sudah bosan dengan segala hal duniawi memutuskan untuk pergi ziarah tapa ke puncak gunung himalaya. Keempat adiknya memutuskan ikut bertapa dengannya bersama2 meninggalkan duniawi, meninggalkan kekuasaan, kekayaan, istri dan segala macam kemelekatan duniawi. 
Drupadi, istri Yudhistira memutuskan untuk ikut bertapa dengan suaminya karena selama ini mereka selalu bersama susah dan senang. Drupadi selalu menyertai Yudhistira bahkan sewaktu di pembuangannya bersama para pandawa selama 14 tahun. Akhirnya Pandawa dan Drupadi bersama2 mendaki gunung himalaya. Dikaki gunung, seekor anjing mengikuti Yudhistira. Kemana Yudhistira berjalan si anjing mengikuti. Awalnya anjing itu hendak diusir oleh adik2 Yudhistira, tetapi karena melihat anjing hitam itu, kurus tetapi kuat Yudhistira mencegahnya dan membiarkan anjing itu ikut bersama mereka mendaki gunung. Tak berapa lama Drupadi terjatuh, badannya lemah sekali. Hawa gunung himalaya yang dingin dan sulitnya jalur pendakian membuat Drupadi kehabisan tenaga. Drupadi meninggal dipangkuan Yudhistira. Yudhistira menahan rasa sedihnya dan meninggalkan jenasah istri tercintanya melanjutkan perjalanan.
Gunung himalaya memang ganas, tak puas membunuh Drupadi, kini Sadewa jatuh tersungkur kelelahan. Yudhistira hanya menghela napas melihat adiknya meninggal. Sadewa meninggal karena merasa dia yang paling pandai diantara mereka. Setelah Sadewa meninggal kemudian disusul oleh Nakula. Bhima dan Arjuna sangat terpukul dengan kematian adik2nya, mereka bertanya kepada Yudhistira mengapa adik2 yang mereka sayangi kini meninggal? Yudhistira yang menahan sedih berkata bahwa Nakula meninggal karena dia merasa paling cakap dan paling tampan.
Masih dalam kesedihan yang mendalam Arjuna berjalan sempoyongan dan berkata kepada kakak2nya untuk melanjutkan perjalanan tanpanya. Arjuna Kemudian meninggal. Arjuna meninggal karena merasa yang paling sakti, tidak ada yang bisa menandinginya. Kini Tinggal Yudhistira, Bhima dan anjing yang melanjutkan perjalanan. Tiba2 Bhima terjatuh, nafasnya berat, kemudian Bhimapun akhirnya meninggal. Bhima meninggal karena merasa yang dialah yang paling kuat. Bagaimana dengan Yudhistira? orang yang selama ini dianggap lemah dan bodoh masih mendaki gunung himalaya dengan tekad kuat. Yudhistira kini hanya dengan anjingnya melihat jenasah adik2nya di lereng gunung. Kemudian dia melihat keatas, tampak puncak himalaya yang disinari matahari. Segera ia mempercepat langkahnya, dan tak terasa sampailah Yudhistira dipuncak gunung Himalaya.
Seketika itu, langit terbelah dan Dewa Indra turun dari langit menaiki kereta kencana, dia mengajak Yudhistira menuju Surga. Bagaimana dengan anjing ini? kata Yudhistira. Anjing tidak diperbolehkan masuk surga kata Indra. Maka aku tidak akan pergi. Istri dan adik2ku telah pergi meninggalkan aku sendirian, tetapi anjing ini dengan setia mengikutiku kemana aku pergi. Apabila aku pergi kesurga meninggalkan anjing ini sendirian, manusia macam apa aku ini? Indra yang takjub mendengar kata2 Yudhistira beranjali menghormat kepada Yudhistira. Tiba2 si anjing telah berubah menjadi Yama, sang dewa Dharma, avatar Yudhistira. Dia memuji Yudhistira dan mengajaknya naik kesurga.
Sesampainya disurga, Yudhistira melihat para Kurawa dan Sengkuni sedang berpesta pora. Indra berkata bahwa para Kurawa masuk surga karena mereka membela tanah air mereka, sehingga mendapat karma untuk tinggal disurga. Kemudian Yudhistira bertanya, kemana istri dan adik2nya? oleh Indra Yudhistira diajak keneraka dimana Drupadi, adik2nya dan Karna disiksa dineraka karena dosa2 mereka. Yudhistira berkata kepada Indra, biarlah aku tinggal disini bersama istri, kakak dan adik2ku. Apalah arti sebuah surga apabila saudara2mu dan orang2 yang kamu cintai tidak bersamamu?
Indra yang melihat ketulusan hati Yudhistira sekali lagi menghormat kepada Yudhistira. Seketika itu juga suasana berubah total. Neraka berubah menjadi surga dan surga menjadi neraka. Para kurawa dan Sangkuni kini tersiksa dineraka. Yudhistira, Drupadi, Bhima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan karna telah menebus dosa mereka, kini mereka telah moksa tinggal disurga
http://garudeyamantra.blogspot.co.id/para-pandawa-mencapai-moksa.html

Pandawa Muksa

Hasil gambar untuk lakon pandawa muksa
Suatu ketika Pandawa mengadakan perjalanan bersama Kunthi, Sri Kresna serta Drupadi. Dalam perjalanan itu mereka bertemu seorang nenek yang menimba di sumur. Anehnya, setiap kali mendapatkan air selalu dituangnya kembali ke sumur yang sama. Ia melakukan hal itu terus-menerus seperti tanpa lelah, dibolan-baleni begitu lagi dan begitu lagi. Jalaran ingin tahu maksud pekerjaannya, Sri Kresna pun takon pada nenek –yang ternyata bernama Nyai Ruminta.
Nyai Ruminta mengaku sedang berusaha mengambil kembali hartanya yang dulu sengaja diceburkan ke dalam sumur. Nalika perang Baratayuda berlangsung ia sengaja nyingitake hartanya di sumur itu agar tidak dirampok Kurawa. Kini setelah perang berakhir ia akan njupuk balik hartanya, namun ternyata tak semudah yang pernah diduganya.
Sebagai janda yang mulai tua, pantas kiranya kalau ia minta Pandawa untuk mengangkat kembali harta yang klelep di sumur itu. Nyai Ruminta bahkan mengutuk Pandawa agar dihukum Tuhan manakala gagal memberikan bantuan.

Maka Sri Kresna pun mengutus Nyai Ruminta agar menghimpun orang sekampung. Saat mereka berkumpul, Sri Kresna memerintah mereka semua agar bahu-membahu mengisi sumur hingga airnya meluap. Benar saja, ketika air dari berbagai sumur disokake, sumur Nyai Ruminta pun mulai penuh dan akhirnya meluap, dan bareng dengan melubernya air keluar juga emas berlian dari sumur Nyai Ruminta. Sri Kresna pun mengutus Nyai Ruminta agar membagikan hartanya pada semua orang.
Sateruse Sri Kresna dan Bima kembali melanjutkan perjalanan, nguber saudara-saudaranya yang telah berjalan lebih dulu. Ketika perjalanan sampai di tepi samudra, Sri Kresna membuang pusaka sakti Sekar Wijaya Mulya, dan ajaib, di tempat jatuhnya pusaka tumbuh pohon Kastuba, bunganya tumbuh jadi Kembang Wijaya Kusuma, tutupnya tumbuh jadi umbi-umbian.
Saat perjalanan mereka sampai di desa Padapa, mereka menemui Anggira, bekas abdi Gardhapati raja Singala. Ia jadi korban perang Baratayuda yang tertolong oleh kebaikan dukun dari Soka. Kunthi menganugerahkan aji Pameling, Drupadi menehi pusaka Sumbul Musthika yang bisa menghasilkan makan-makanan. Bima ora keri memberikan aji Pagracut, dan Sri Kresna, Puntadewa, Arjuna, serta Nakula dan Sadewa melengkapinya dengan doa-doa keselamatan.
Ketika akhirnya tiba di desa Soka, rombongan Pandawa bertemu Kuda Prewangan. Karena Kuda Prewangan itu jelmaan Dhang Hyang Drona, Arjuna pun segera melepaskan panah. Jaran Prewangan itu pun musnah seketika dan terdengarlah suara Drona mengucap terimakasih. Sebaliknya karena marah, orang-orang Soka mengeroyok Pandhawa. Meski Pandawa tak melawan nyatanya mereka tidak mampu mengalahkanya. Bima pun minta maaf serta memberikan ajaran kepada orang Soka tentang pengabdian manusia di hadapan Tuhan.
Sri Kresna, Kunthi, Drupadi dan para Pandawa akhirnya menyelesaikan pemujaan berkeliling. Mereka pun kembali ke kerajaan Ngastina, dan Raja Parikesit beserta sanak saudaranya menjemput kedatangan mereka. Bima disambut isak tangis dua cucunya -Danurwenda dan Sasi Kirana. Bima memberi nasihat tentang hakikat kehidupan serta menghadiahkan aji Bandung Bandawasa, Ungkal Bener dan Blabak Pangantolantol kepada Danurwenda. Sedangkan gada
Lukitamuka dan tombak Wilugarba diberikannya kepada Sasi Kirana.
Kunthi, Drupadi, Nakula, Sadewa, Arjuna, Puntadewa dan Bima pun muksa dengan disaksikan para anak cucu. Kunthi berpakaian serba putih naik ke candhi Rukmi lalu bersemedi. Pemuksaan Kunthi ditandai dengan cahaya berbinar-binar menyambar Candhi Rukmi. Maka Sukma dan raga Kunthi pun muksa.
Sementara Drupadi, berpakaian serba putih naik ke Candhi Rukmi lalu bersamadi. Kemuksaannya ditandai sinar bundar seperti matahari berlubang berseri-seri. Sementara Nakula dan Sadewa bercuci diri di sungai Gangga, lalu mengenakan pakaian brahmana lantas masuk ke Candhi Sekar untuk bersemedi. Mereka muksa dengan ditandai tiupan angin topan.
Akan halnya Arjuna, mula-mula mandi di Sendhang Pangruwatan lalu mengenakan pakaian brahmana sebelum akhirnya masuk ke Candhi Sekar dan bersemedi. Arjuna muksa seolah-olah naik kereta cahaya ditarik seratus kuda dikemudikan dewa dan dipayungi bidadari.
Puntadewa bersama anjingnya naik ke Candhi Rukmi. Anjing Linggasraya itu pun berubah jadi dewa Darma setelah memberi tafsir Kalimsada. Dewa Darma kembali ke kahyangan, Dewa Indra menjemput Puntadewa dengan kereta cahaya. Puntadewa muksa bersama Dewa Indra.
Sri Kresna tidak akan muksa bersama Pandhawa karena berbeda amal baktinya. Atas saran Bima Sri Kresna bertapa di laut pasir tepian samudra. Maka Sri Kresna pun masuk ke Candhi Rukmi lalu pergi ke laut pasir untuk mencari kemuksaan. Sementara Bima masuk ke Candhi Sekar untuk bersemedi. Kemuksaannya ditandai suasana tenang dan sunyi.
Setelah para Pandawa muksa, raja Baladewa minta agar Candhi Rukmi dan Candhi Sekar dibakar segera. Parikesit, Baladewa, Patih Dwara, Patih Danurwenda dan sanak saudara berkumpul mendoakan para Pandhawa yang telah muksa.
http://kerajaandongeng.blogspot.co.id/pandawa-muksa.html

Pandawa Seda
Hasil gambar untuk lakon pandawa muksa
Setelah pengangkatan Parikesit menjadi Raja Astina, semua sudah diatur begitu sempurna, dan Prabu Baladewa mendapat tugas mendampingi Parikesit sampai menjadi dewasa.Uwa Drestarastra,Uwa Gendari serta Ibu Kunti berpamitan akan pergi kepuncak Himalaya karena sudah saatnya mencari kesucian jiwa, Demikian pula Paman Yama Widura serta puteranya Sanjaya mengikuti kepergian mereka. 
Para Brahmana dan Pandawa serta semua sanak saudara memberikan doa restu kepada para sesepuh mereka yang akan menyucikan diri untuk kehidupan yang akan datang. Mereka berpakaian Brahmana. Para Pandawa dan Brahmana mengantar kepergian Para Sesepuh Astina.
Setelah beberapa hari mereka berangkat ke Gunung Himalaya,Sampailah mereka didaerah kaki Gunung Himalaya.. Mereka berniat naik kepuncak Himalaya, namun karena kondisi mereka sudah begitu lanjut, mereka sudah tidak bisa melakukannya. Maka mereka akan melakukan tapa brata di hutan di kaki Gunung Himalaya.
Setelah beberapa tahun bertapa, hutan tempat mereka bertapa terbakar hebat, sehingga para sesepuh termasuk Sanjaya semuanya tewas terbakar..
Para Pandawa menjadi perihatin mendengar berita terbakarnya hutan tempat para sesepuh bertapa. Namun Batara Narada kemudian turun ke marcapada dan memberitahukan pada Para Pandawa bahwa para sesepuh Pandawa yang meninggal di hutan, bukan terbakar karena hutannya terbakar, tetapi api yang membakar mereka adalah api suci yang muncul dari dalam jiwa raganya sendiri. Pandawa menjadi lega setelah mendengar dari Batara Narada.
Sementara itu Prabu Kresna sangat perihatin dengan keadaan bangsanya, yaitu  Bangsa Yadawa, yang mengalami perpecahan antar bangsa Yadawa. Prabu Kresna teringat supata Dewi Gendari kepadanya, yang menganggapnya Prabu Kresna yang membunuh seluruh anaknya. 
Ataukah karena ulah Samba, Samba dan sekelompok pemuda, melecehkan para resi yang berkunjung ke Dwarawati. Oleh teman temannya Samba di dandani seperti wanita cantik. Oleh teman  Samba ditanyakan pada para resi, bawa wanita ini sedang hamil, minta diramalkan kalau nanti lahir anaknya laki laki atau perempuan. Seorang Resi menjawab bahwa ia, Samba seorang laki laki, dia tidak akan beranak bayi, tetapi akan beranak sebuah gada, paman Batara Kresna, Prabu Setyajid meminta agar gada di hancurkan hingga menjadi serbuk, dan dibuang di kedalam laut. Jangan ada satu serbuk pun yang tertinggal didarat. Samba menuruti kehendak eyangnya.Samba menumbuk gada itu hingga menjadi serbuk, namun ada satu keping  baja dari gada itu, yang tidak bisa dihancurkan. Samba membawa serbuk ke lautan, sedangkan kepingan potongan gada ditinggalkan begitu saja. Belum sampai dimasukkan kedalam lautan, serbuk itu tertiup anngin, sehingga serbuk terbang kembali kedaratan. Dari serbuk gada yang telah tersebarkan oleh angin, ternyata tumbuh menjadi sejenis rumput.Sedangkan kepingan potongan gada ditemukan oleh seorang pemburu. Dialah ki Jara. Sementara pertarungan bangsa Yadawa terjadi juga. Di padang rumput itulah mereka bertempur, Samba, Setyaki dan seluruh Keluarga Yadawa tewas.Sebagai bukti adanya pertempuran besar bangsa Yadawa, maka padang rumput yang berwarna hijau, menjadi warna merah darah. Darah para kesatra bangsa Yadawa yang tewas dalam pertempuran. Prabu Sri Batara Kresna merasa sangat terpukul menerima kenyataan ini. 
Prabu Sri Batara Kresna segera meninggalkan Dwarawati. Prabu Kresna berpesan pada rakyatnya, agar rakyatnya mengungsi, karena sepeninggal Prabu Kresna, akan terjadi banjir besar yang akan menenggelamkan Kerajaan Dwarawati. Prabu Batara Kresna bertapa menyucikan diri minta anugerah Dewata, Sementara itu, Arjuna mendengar berita, kalau Istana Dwarawati terjadi banjir besar. Arjuna mencari  keluarga Prabu Batara Kresna yang tertinggal di Istana.
Arjuna menemukan beberapa keluarga Prabu Batara Kresna yang belum sempat mengungsi, Namun dalam perjalanan Arjuna menolong, mereka, dicegat beberapa orang perampok. Arjuna mendapat serangan, ternyata Arjuna sudah tidak berdaya. Kesaktian yang ada pada dirinya telah musnah. Arjuna dipukuli oleh mereka, tanpa bisa membalas. Akhirnya barang barang bawaan para pengungsi dirampas oleh mereka. Arjuna merasa kecewa tidak bisa menolong mereka. 
Sementara itu Prabu Batara Kresna tetap bertapa. Karena lamanya bertapa, maka tempat Prabu Sri Batara Kresna bertapa ditumbuhi ilalang yang sangat lebat. Sampai pada suatu saat seorang pemburu bernama ki Jara mengejar buruannya sampai ketempat Prabu Sri Bathara Kresna bertapa. Ki Jara melihat kaki kijang dari sela sela ilalang yang rimbun. Ki Jara melepaskan anak panah kearah Prabu Bathara Kresna,yang dikiranya seekor kijang. Anak panah itu mengenai jempol kaki kirinya, dan tewaslah Prabu Sri Batara Kresna. Rupanya pengapesan Prabu Sri Bathara Kresna pada jempol kaki kirinya. Ki Jara menangis ketika menegetahui raja yang dicintainya tewas terkena panahnya. Ketika Ki Jara sedang menangisi Prabu Batara Kresna yang telah meninggal dunia, tiba tiba Batara Kresna pun  moksa  
Para Pandawa merasa terpukul ketika mendengar kabar meninggalnya Prabu Batara Kresna. Dengan kesepakatan para Pandawa dan Prabu Baladewa sebagai sesepuh, diangkatlah Parikesit yang masih muda belia menjadi Raja, dan bergelar Prabu Kresna Dwipayana. Nama yang diambil dari nama Eyang buyutnya Begawan Abiyasa yang sewaktu masih muda dan menjadi Raja Astina dengan gelar Kresna Dwipayana. Begawan Abiyasa juga hadir dan merestui pengangkatan cicitnya menjadi Raja di Astina. Puntadewa sudah merasa lega semua tugas kerajaan telah diserahkan pada raja yang baru.  
Prabu  Baladewa pergi bertapa ditepi sungai Yamuna. Setelah beberapa tahun kemudian, Prabu Baladewa muksa dan kembali menjadi Batara Basuki.
Dengan meninggalnya sesepuh Pandawa, Ibu Kunti, Uwa Drestarastra, Uwa Gendari, serta Paman Aryo Yama Widura, Sanjaya serta Prabu Bathara Kresna dan Prabu Baladewa.Para Pandawa menyampaikan hal ini kepada Eyang Abiyasa. Eyang Abiyasa menyarankan agar Para Pandawa sudah saatnya menyucikan diri ke Puncak Himalaya. Para Pandawa pun berangkat menuju kesana. 
Mereka berpakaian Brahmana, putih bersih menuju puncak Gunung Himalaya. Disanalah Kahyangan tempat para Dewa bersemayam. Puntadewa, Werkudara, Arjuna. Nakula dan Sadewa, beserta Dewi Drupadi telah bertekad bulat untuk pergi kesana. Setelah berpamitan dengan Eyang Abiyasa, serta cucu cicit dan semua keluarga dan para kerabat, Berangkatlah mereka.  Setelah melakukan perjalanan panjang sampailah mereka dikaki Gunung Himalaya. 
Di kaki Gunung Himalaya ini, Dewi Drupadi kedinginan. Kaki Gunung telah bersalju tebal sekali, setelah beberapa lama berjalan, darah terasa beku, Dewi Drupadi meninggal di kaki Gunung Himalaya. Mereka meninggalkan Dewi Drupadi, Para Pandawa meneruskan perjalanannya  lagi. 
Ketebalan es semakin tinggi dan medan semakin sulit Tiba tiba Sadewa yang didalam hidupnya tergolong orang pandai, dan bijaksana, pada seperempat pendakian Gunung Himalaya, sudah tumbang dan meninggal dunia.  
Mereka melanjutkan perjalanannya. Medan perjalanan semakin sulit dan suhu semakin dingin  Sesampai pertengahan menuju puncak, Nakula sudah tidak kuat lagi, dan meninggallah ia. 
Sementara itu Arjuna menggigil kedinginan dan setelah beberapa lama berjalan, Arjuna pun tumbang dan meninggal. Kini tinggal Puntadewa Wetkudara  yang masih bertahan. Mereka meneruskan perjalanannya. Werkudara begitu tangguh , mengiringi perjalanan kakaknya Puntadewa. 
Ketebalan es sudah mencapai pusar Werkudara, Werkudara sudah tidak kuat lagi. Ia sudah tidak bisa berjalan lagi. Ia mati kedinginan.  Puntadewa tinggal seorang diri. Puntadewa berjalan cepat, kakinya tidak masuk dalam es, Puntadewa berjalan diatas  es yang keras, sehingga badannya tidak tenggelam dalam es.
Kini sudah hampir mencapai puncak Himalaya. Puntadewa tetap berjalan dan berjalan. Tiba tiba dalam perjalanan ada seekor anak anjing berwarna putih tidak bisa berjalan, karena hampir tenggelam didalam es. Puntadewa segera menolong anak anjing itu, dan dibawanya serta naik kepuncak Himalaya
Tiba tiba saja terdengar suara dewa mengingatkan Puntadewa agar membuang anjing itu. Kalau Puntadewa masih nekat naik kepuncak dengan membawa anak anjing, maka Puntadewa tidak akan masuk suwarga. Puntadewa tidak takut dengan peringatan itu, ia tetap membawa anak anjing itu ke puncak Himalaya
Walaupun ia nanti tidak masuk surga. Puntadewa berjalan dan terus berjalan, tidak ada satu hambatan yang dirasakan. Sesampai dipuncak, tiba tiba anak anjing yang selalu dibawa Puntadewa, berubah menjadi Batara Dharma, yang tidak lain ayahnya sendiri. Batara Darma membimbing Puntadewa memasuki Kahyangan. Tidak lama kemudian datang batara Indra menjemput Punadewa, dengan kereta kencana yang ditarik  oleh tujuh ekor kuda putih.
http://pandawasuwara.blogspot.co.id/mahabharata_18.html

Padhawa Muksa
Hasil gambar untuk lakon pandawa muksa
Pandhawa sedang melakukan sebuah perjalanan spiritual untk menjalani muksa.(karya : herjaka HS)Parikesit raja Ngastina duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Dwara dan Patih Danurwenda. Mereka menerima kehadiran Sri Darmakusuma, Sri Kresna, Sri Balarama, Kunthi, Drupadi, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa.Sri Darmakusuma atau Puntadewa memberitahu, bahwa para Pandhawa telah selesai bersuci diri di sungai Bagiatri, kemudian akan muksa.Mendengar keterangan Prabu Puntadewa, Parikesit menjadi sedih. Sri Kresna menasihatinya dan supaya bersyukur kepada Tuhan, bahwa para Pandhawa telah mendapat karunia, dan mereka akan muksa.Puntadewa bercerita tentang ilham yang diterimanya. Ia memperoleh ilham, bahwa Pandhawa bersama Kunthi dan Drupadi pada waktu terang bulan yang akan datang diperkenankan muksa. Baladewa ingin ikut muksa, tetapi Sri Kresna tidak mengijinkan, sebab muksa itu atas kuasa Tuhan.Para Pandhawa, Kunthi, Drupadi dan Sri Kresna meninggalkan kerajaan. Baladewa diminta tinggal di Ngastina mengasuh raja Parikesit.Resi Wantrika dari pertapaan Rewantaka menghadap Sri Kresna sang resi minta agar anak Sri Kresna yang bernama Setyaka diperkenankan diambil sebagai menantu, akan dikawinkan dengan Endhang Puspawati. Sri Kresna ingin berunding di luar istana Ngastina. Resi Wantrika menyanggupinya.Sri Kresna berunding dengan Resi Wantrika. Sri Kresna mengijinkan, Setyaka boleh diambil menantu, asal sang resi bisa menjelaskan ungkapan bermakna, yaitu tentang sembah raga, sembah jiwa dan sembah sukma. Resi Wantrika dapat menjelaskan maksud ungkapan itu. Kemudian Sri Kresna minta agar Resi Wantrika mengajukan pertanyaan kepadanya. Resi Wantrika menanyakan jumlah anak Sri Kresna. Sri Kresna menjawab jumlah anaknya, tetapi ada satu yang lupa tidak disebutnya. Resi Wantrika menjelaskan anak yang dilupakan, karena anak itu dibuang sejak bayi. Akhirnya Sri Kresna mengakuinya. Resi Wantrika bercerita, bahwa keturunan anak Sri Kresna yang sekarang hidup ialah Endhang Puspawati.Sri Kresna marah, Resi Wantrika akan dibunuh dengan senjata cakra, tetapi senjata tidak melukainya. Sang Hyang Narada datang, menjelaskan kebenaran, bahwa Endhang Puspawati adalah keturunannya. Senjata Cakra diminta oleh Sang Hyang Narada, dibawa ke kahyangan. Sri Kresna mengijinkan Setyaka memperisteri Endhang Puspawati. Setelah selesai perkawinan, Sri kresna menyusul para Pandhawa yang akan mencari jalan kemuksaan.Prabu Kiswaka anak Bomantara, raja Surateleng, dihadap oleh Adipati Glagah Tinunu, Ditya Wesi Aji dan Togog. Mereka mendengar kabar tentang para Pandhawa yang akan muksa, dan ingin membalas kematian ayahnya, memberontak pemerintahan Ngastina. Mereka bersiap-siap bersama perajurit, lalu mencegat perajurit Ngastina yang menghantar kemuksaan para Pandhawa. Terjadilah pertempuran, perajurit Surateleng menyimpang jalan.Para panakawan Pandhawa menghantar Arjuna mengikuti perjalanan Sri Kresna, Kunthi, Drupadi, Bima, Nakula, Sadewa dan Puntadewa. Perjalanan mereka tiba di desa Samahita. Mereka telah bersamadhi selama tujuh hari. Sri Kresna menanyakan ilham yang mereka peroleh.Kunthi bermimpi, seolah-olah raja Pandhu dan Madrim naik kereta akan menjemputnya. Drupadi bermimpi berjalan lurus, kemudian sampai di sebuah pintu gerbang bergapura intan berhias indah. Puntadewa bermimpi melihat keris berpamor emas. Keris itu masuk dalam sarungnya, lalu hilang dari pandangannya, tertutup oleh cahaya semu. Arjuna bermimpi melihat arca emas bergantung tanpa sangkutan, kemudian hilang masuk ke tubuhnya. Nakula bermimpi naik gunung bersalju bersama Sadewa, kemudian meluncur seperti panah meluncur dari busurnya. Mimpi Sadewa sama dengan mimpi Nakula. Bima bermimpi memandang cahaya sebesar kunang-kunang yang bertempat di pusat Pramana Jati. Dipandang dari arah manapun cahaya itu tidak hilang. Sri kresna belum memperoleh ilham sama sekali.Seekor kuda berkepala manusia meluncur dari angkasa. Kuda itu dipanah oleh Arjuna, seketika berubah menjadi manusia tua, mengaku bernama Kyai Lurah Wilarsraya. Wilarsraya bercerita tentang asal mula menjadi kuda berkepala manusia. Ia memang berasal dari kuda raja Gardhapura yang bersatu dengan seorang juru pemelihara kuda. Ia bertugas membantu Duryodana sewaktu perang baratayuda. Karena terkena panah, kepala kuda lepas dan tubuh manusia terpisah. Bersatulah tubuh kuda dengan kepala manusia pemelihara kuda, oleh karena kesaktian minyak sangkal yang dibawanya. Wilarsraya ingin mengabdi di Negara Ngastina. Sri Kresna menyetujui, Puntadewa memberi surat pengantar untuk Parikesit, raja NgastinaSri Kresna, Kunthi, Drupadi dan para Pandhawa meneruskan perjalanan mereka. Tiba-tiba mereka melihat seorang nenek sedang menimba sumur. Setiap air yang ditimba sampai di atas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur lagi. Sri Kresna menanyainya. Nenek itu bernama Nyai Ruminta. Ia memberitahu, bahwa harta kekayaannya dimasukkan ke dalam sumur, sebab sejak perang Baratayuda akan dirampok oleh perajurit Korawa. Ia menjadi janda dan menjadi salah satu korban perang. Jika Pandhawa tidak dapat menemukan dan mengembalikan kekayaannya, pasti akan mendapat hukuman Tuhan. Sri Kresna sanggup mengembalikan harta kekayaan Nyai Ruminta. Nyai Ruminta disuruh minta bantuan orang se desa untuk mengisi sumur dengan air sampai penuh meluap-luap. Orang sedesa mengambil air dari berbagai sumur, dituangkan ke dalam sumur yang berisi harta kekayaan itu. Bersama luapan air sumur keluarlah barang-barang emas berlian dari dalam sumur. Sri Kresna minta agar harta itu untuk semua orang di desa Samahita.Sri Kresna dan Bima melanjutkan perjalanan, mengejar perjalanan saudara-saudaranya yang telah jauh berjalan.Perjalanan mereka tiba di tepi samodera. Sri Kresna membuang pusaka saktinya yang bernama Sekar Wijaya Mulya. Sekar Wijaya Mulya mendarat di pulau, kemudian tumbuh menjadi: 
(1) tempat bunga tumbuh menjadi pohon Kastuba (2) bunganya tumbuh menjadi pohon Kembang Wijaya Kusuma (3) tutupnya tumbuh menjadi empon-empon umbi-umbian. 
Perjalanan mereka tiba di sebuah rumah bertutup pintu di desa Padapa. Yang empunya rumah tidur di dalam. Bima dan Puntaewa mendekat, melihat orang yang telah tidak berkaku. Orang itu bernama Anggira, bekas abdi Gardhapati raja Singala. Ia korban perang Baratayuda yang masih hidup karena kebaikan seorang dukun dari desa Soka. Kunthi member aji Pameling. Drupadi memberi pusaka Sumbul Musthika yang bisa menghasilkan makan-makanan. Bima member aji Pagracut. Sri Kresna, Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa memberi doa puji keselamatan untuk Anggira.Mereka tiba di desa Soka, bertemu dengan Kuda Prewangan. Bima tahu, bahwa Kuda Prewangan itu jelmaan Dhang Hyang Drona, Arjuna segera melepaskan panah, kuda Prewangan musnah seketika. Didengar suara Drona, mengucap terimakasih atas kebaikan para Pandhawa.Orang-orang di desa Soka marah, para Pandhawa dikeroyok, tetapi mereka tidak mampu mengalahkan, meskipun para Pandhawa tidak melawannya. Bima menjelaskan dan minta maaf. Bima member ajaran kepada semua orang di desa Soka tentang hakikat pengabdian manusia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.Sri Kresna, Kunthi, Drupadi dan para Pandhawa selesai melakukan pemujaan berkeliling, lalu kembali ke kerajaan Ngastina. Selama dalam perjalanan Bima dan Kresna membicarakan amal bakti Dhang Hyang Drona.Raja Parikesit dan sanak saudaranya menjemput kedatangan mereka. Bima disambut tangis oleh dua cucunya. Danurwenda dan Sasi Kirana. Bima memberi nasihat banyak tentang hakikat dan kehidupan. Bima mengharap segala sikap Pandhawa selama hidup menjadi teladan bagi mereka berdua. Bima menghadiahkan aji kepada Danurwenda. Aji itu bernama Bandung Bandawasa, Ungkal Bener dan Blabak Pangantolantol. Kemudian memberikan gada Lukitamuka dan tombak Wilugarba kepada Sasi Kirana.Kunthi, Drupadi, Nakula, Sadewa, Arjuna, Puntadewa dan Bima muksa. Para anak cucu menyaksikan kemuksaan mereka. Kunthi berpakaian serba putih, naik ke candhi Rukmi, lalu bersamadi. Kemuksaan Kunthi ditandai oleh cahaya berbinar-binar menyambar Candhi Rukmi. Sukma dan raga Kunthi muksa.Drupadi berpakaian serba putih, naik ke Candhi Rukmi, lalu bersamadi. Kemuksaan Drupadi ditandai oleh sinar bundar seperti matahari berlubang berseri-seri.Nakula dan Sadewa bercuci diri di sungai Gangga, lalu mengenakan pakaian brahmana. Mereka masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan mereka ditandai oleh tiupan angin topan.Arjuna mandi di Sendhang Pangruwatan, lalu mengenakan pakaian brahmana. Arjuna masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan Arjuna kelihatan seolah-olah Arjuna naik dalam kereta yang nampak seperti cahaya berseri-seri. Kereta cahaya ditarik oleh seratus kuda, dikemudikan dewa dan dipayungi bidadari.Puntadewa (Darmakusuma) bersama anjing naik ke Candhi Rukmi. Anjing itu bernama Linggasraya, kemudian berubah menjadi dewa Darma setelah ia memberi tafsiran terhadap tulisan yang didapat dalam Kalimsada. Dewa Darma kembali ke kahyangan, Dewa Indra menjemput Puntadewa dengan kereta cahaya dari kahyangan. Puntadewa muksa bersama Dewa Indra.Bima berbincang-bincang dengan Sri Kresna. Sri Kresna tidak akan muksa bersama Pandhawa sebab berbeda amal baktinya. Atas saran Bima, Sri Kresna bertapa di laut pasir, di tepi samodera. Setelah mereka selesai berbicara masalah muksa, Sri Kresna masuk dalam Candhi Rukmi, lalu pergi ke laut pasir untuk mencari kemuksaan.Bima masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan Bima ditandai oleh suasana tenang dan sunyi.Para pandhawa telah muksa, raja Baladewa minta agar Candhi Rukmi dan Candhi Sekar dibakar segera.Prabu Kiswaka dan Wesi Aji datang, menyerang kerajaan Ngastina. Setyaki dan Sasi Kirana menyambut serangan musuh Prabu Kiswaka hancur dipukul Setyaki dengan gada Wesi Kuning, Wesi Aji hancur kena pukulan gada Lukitamuka.Parikesit, Baladewa, Patih Dwara, Patih Danurwenda dan para sanak saudara berkumpul, mendoakan, arwah para Pandhawa yang telah muksa ke alam baka.Tancep kayon.
http://bambangajisaka21.blogspot.co.id/pandawa-moksa.html


Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer