lakon tentang Punakawan Bagong Labuh

Bagong Labuh     
Di sebuah rumah kecil disuatu desa, nampak duduk santai, Ki Lurah Bagong  dengan wajah cemberut  sepertinya ada  yang sedang di pikirkan. Duduk didepannya,  istri yang setia. Dewi  Bagonowati. Mereka membicarakan keadaan beban rumah tangganya yang terasa semakin berat. Sampai  sekarang ini Ki Lurah Bagong, belum memiliki rumah sendiri.Dewi Bagonowati sudah banyak menasehati suaminya agar  jangan iri hati pada kedua kakaknya, nanti menjadikan sakit hati. Walaupun apa yang terjadi Istri Bagong sudah merasa bahagia walau tinggal di sebuah rumah gubug kecil.
Rama Semar sudah punya rumah sendiri, di padukuhan Klampis Ireng, kedua kakaknya Ki Lurah Gareng dan Ki Lurah Petruk,juga sudah memiliki rumah pula. Ki Lurah Gareng  memiliki rumah di Karang Kadempel, sedangkan Petruk di Pecuk Pecukilan.Rumah mereka memiliki kebun dan sawah, sehingga mereka bisa bercocok tanam. Bagong pengin seperti  mereka,  rumah mereka anugerah dari para bendoronya. Rumah Semar di Klampis Ireng anugerah dari Prabu Pandu. Sedangkan  rumah Ki Lurah Gareng dan Ki Lurah Petruk, anugerah dari Arjuna. Pemberian anugerah  pada mereka, sebagai penghargaan atas prestasi mereka selama mengabdi pada keluarga Pandawa. Sedangkan rumah untuk Bagong sudah pernah dijanjikan oleh Arjuna, namun sampai sekarang belum ada kelanjutannya Bagong akhirnya pergi ke kaki Gunung Mahameru, bertapa minta anugerah dewa.
Sudah beberapa hari ini Bagong tidak berangkat kerja di Madukara. Hal ini yang membuat Arjuna dan Para Punakawan mengkhawatirkan keselamatan Bagong.
Ketika Arjuna dan para Punakawan datang ke rumah Bagong.Mereka menanyakan keadaan Bagong, apakah ia sakit, atau karena apa. Dewi Bagonowati memohonkan maaf suaminya, karena Kangmas Bagong tidak bisa mengikuti Bendoro  Arjuna. Mas Bagong sudah beberapa hari yang lalu pergi bertapa di Gunung Mahameru. Karena sebelumnya Bagong pernah mimpi kedatangan Bathara Indra agar bertapa di kaki Gunung Mahameru, untuk menjaga ketentraman  dunia.Arjunapun memakluminya. Akhinya Arjuna dengan diiringi para Punakawan meninggalkan rumah Bagong dan kembali Ke Madukara.
Sesampai  di Madukara ,Arjuna  menerima kedatangan  Resi Mandraguna dari negeri Atasangin. Sang Resi meramalkan bahwa Negeri Indraprasta termasuk Madukara  akan mengalami pagebluk, atau wabah penyakit, Pagi sakit ,malam mati, malam sakit, pagi mati. Sangat mengerikan.Arjuna prihatin sekali bila rakyatnya akan mengalami kejadian itu.
Tiba-tiba datanglah dewi Wara Srikandi, melaporkan bahwa Dewi Wara Sembadra telah diculik oleh seorang raksasa. Arjuna menjadi gusar.Resi Mandraguna menenangkan hati Arjuna. Sang Resi bersedia juga mengatasi soal hilangnya Dewi Sembadra. Sang Resi Mandraguna  memberi jalan keluar, rakyat Indraprasta termasuk Madukara akan terhindar dari bencana tersebut termasuk juga hilangnya Dewi Sembadra, akan segera  kembali ke Madukara  apabila ada tumbal berupa manusia bayang-bayang. Rupanya Arjuna sudah terkena Aji Gendam Resi Mandraguna, sehingga Arjuna sudah tidak bisa berpikir jernih. Semua perintah Resi Mandraguna selalu dipatuhi.
Arjuna hanya diam terpaku, Arjuna tahu yang dimaksud manusia bayang-bayang adalah Bagong. Sedang Bagong  sedang bertapa di Gunung Mahameru. Terdengar kabar, Prabu Sri Bathara Kresna juga telah pergi dari Dwarawati.Resi Mandraguna pun pergi ke Dwarawati  dan minta  Samba mencari Bagong dan dibekakah di Dwarawati, agar Prabu Sri Bathara Kresna segera timbul kembali di Dwarawati. Samba dan Pasukan Dwarawati berangkat mencari Bagong.
Dari Dwarawati Resi Mandraguna juga pergi ke Indraprasta menemui Prabu Puntadewa. Dengan tujuan yang sama pula. Namun Prabu Puntadewa tidak mempedulikannya. Prabu Puntadewa bahkan mengutus Raden Gatutkaca, Antasena dan Antareja mencari keberadaan Bagong agar dapat diselamatkan dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab.
Sementara itu Arjuna, diiringi Para Punakawan menuju Gunung Mahameru, untuk membawa Bagong  kembali ke Madukara.
Di kaki Gunung Mahameru, Arjuna dan Para Punakawan sedang mencari  Bagong. Akhirnya mereka menemukan Bagong yang sedang bertapa. Arjuna memaksa Bagong segera bangun dari tapanya. Namun Bagong tetap bersemedi dan tidak mau di bangunkan. Para punakawan mengingatkan, kepada Arjuna jangan mengganggu orang yang sedang bertapa.Arjuna mendengar itu malah menjadi marah, ia menghunus keris Pulanggeni dan Bagong di tarik dari tempatnya, tiba-tiba keris Pulanggeni yang dibawa oleh Arjuna hilang dan Bagong pun sirna, berubah menjadi bayang-bayang.
Arjuna semakin marah, Arjuna memerintahkan Semar, Gareng dan Petruk, untuk mengejar  bayangan Bagong, Namun bayangan Bagong cepat menghilang di kegelapan hutan. Semar mencari  bayangannya yang menjadi Bagong. Namun bayangan Bagong tidak bisa diketemukan lagi.  Sejak bayangan Semar menjadi Bagong, Semar tidak punya bayangan lagi. Akhirnya Arjuna beserta para Punakawan meninggalkan hutan, dan kembali ke Madukara.
Di tengah hutan, bayangan Semar yang bernama Bagong, menjadi bingung, apakah nanti bisa kembali menjadi Bagong lagi  atau kembali menjadi bayangan Semar. Bagong memohon pertolongan Dewa. Turunlah Bathara Indra mendekati bayangan Bagong, Oleh Bathara Indra dibangunkannya  bayangan itu menjadi Bagong lagi.Bathara Indra bercerita bahwa waktu Bagong bertapa, kemudian kedatangan Arjuna, sebenarnya Bathara Indra yang melepaskan Bagong dari tangan Arjuna, dan Pusaka Pulanggeni juga Bathara Indra yang mengambilnya.
Selesai memberikan pertolongan, Bathara Indra memberikan aji panglimunan.Apabila ada bahaya mengancam, maka Bagong bisa menghilang dan tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui keberadaan Bagong. Bathara Indra juga menitipkan pusaka keris Pulanggeni milik Arjuna. Kemudian diminta nya Bagong pergi kepertapaan Jatisaraya, tempat dimana Begawan Padmadenta tinggal. Setelah banyak berpesan Bathara Indra pulang ke Kahyangan. Bagong melanjutkan perjalanannya ke Pertapaan Jatisaraya.
Kini Bagong berjalan  seorang diri dan  Bagong semakin takut, ketika melihat hutan semakin lama semakin lebat dan angker. Belum hilang keraguan itu, Bagong dikejutkan dengan suara langkah kaki seseorang dan  tiba-tiba pula terdengar suara teriakan minta tolong. Bagong berjalan ke arah asal suara. Bukan main terkejutnya ketika  melihat seorang raksasa  sedang memanggul seorang wanita. Bagong terkejut ketika  melihat wanita itu, tak lain adalah Dewi Sembadra istri Bendoro Arjuna. Bagong segera menghadang  jalannya raksasa. Bagong berusaha menolong Dewi Sembadra.Dengan sekuat tenaga Bagong melawan raksasa. Tanpa diduga, Bagong dengan keris Pulanggeni milik Arjuna dapat mengalahkan raksasa, Raksasa melarikan diri  dan  Bagong   berhasil merebut Dewi Wara Sembadra dari raksasa.Bagong sepertinya pernah bertemu raksasa itu, tetapi lupa, dimana mereka pernah bertemu. Dewi Sembadra  mengucapkan terimakasih pada Bagong, karena Bagong telah menyelamatkan hidupnya. Bagong dan  Dewi Sembadra melanjutkan perjalanan kepertapaan Jatisaraya.
Setelah beberapa lama berjalan, Bagong dan Dewi Sembadra telah  sampai di pertapaan Jatisaraya. Disanalah Bagong bertemu dengan Begawan Padmadenta,Sang Begawan meminta Bagong dan Dewi Sembadra untuk tinggal di pertapaan Jatisaraya. Bagong baru tahu kalau Begawan Padmadenta berwajah raksasa. Dipertapan Jatisaraya, mereka bertemu dengan kesatria Pandawa, Gatutkaca, Antasena dan Antareja, yang sudah beberapa hari ini tinggal di Pertapaan Jatisaraya. Para Kesatria Pandawa akan menjaga keselamatan Bagong dan Dewi Sembadra. Bagong dan Dewi Sembadra pun tinggal di pertapaan Jatisaraya.
Sementara itu di Pertapan Ukirahtawu, Begawan Abiyasa sedang menerima kedatangan cucu kesayangannya, Abimanyu. Abimanyu ke pertapaan Ukirahtawu  diiringi Punakawan,Semar ,Gareng dan Petruk. Begawan Abiyasa, mengatakan bahwa Indraprasta  akan mengalami mendung yang tebal. Namun akan menjadi terang kembali, setelah Bagong selamat dari kejaran orang orang yang tidak bertanggung jawab.Jadi justru Bagong harus diselamatkan,jangan sampai dibekakah. Mendengar itu Abimanyu merasa lega, dan segera berpamitan pada eyangnya. Resi Abiyasa meminta agar Abimanyu langsung ke Indraprasta karena ayahnda Abimanyu, Arjuna sedang  berada disana bersama Saudara-saudaranya.
Dalam perjalanan ke Indraprasta,mereka  harus melewati hutan angker yang banyak binatang buasnya. Abimanyu berpapasan dengan pasukan raksasa. Para raksasa menyerang Abimanyu. Abimanyu dibantu para Punakawan  melawan para raksasa. Kelihatannya Abimanyu  hampir hampir tidak bisa menahan serangan para raksasa. Untunglah Gatutkaca dari  angkasa mengetahui keadaan adiknya sedang dikerubut para raksasa. Gatutkaca segera memporakporandakan pasukan raksasa.Raksasa banyak yang tewas dan yang masih hidup lari menyelamat kan diri. Abimanyu berterima kasih pada kakaknya, Gatutkaca yang telah membantu melawan Raksasa Mereka meneruskan perjalanan ke Pertapaan Jatisaraya.
Semetara itu pasukan  Dwarawati yang dipimpin  Samba  dan dikawal Patih Setyaki , sampai pula di hutan Jatisaraya.Mereka bermaksud mencari Bagong di Pertapaan Jatisaraya.  Mereka berpapasan dengan Gatutkaca dan Abimanyu. Samba segera turun dari kudanya, setelah melihat para punakawan. Samba menghardik para punakawan agar menyerahkan Bagong kepada Samba.  Raden Samba mencari Bagong untuk dibekakah di Dwarawati. Abimanyu dan Gatutkaca mendengar itu menjadi marah, Samba dan pasukannya disuruh kembali ke Dwarawati, dan jangan mengganggu Bagong. Karena usaha untuk menganiaya apa lagi mebunuh Bagong, adalah perbuatan yang sangat keji, walaupun dengan alasan apapun. Raden Samba menjadi berang, diperintahkannya pasukan Dwarawati  menyerang Gatutkaca dan Abimanyu. Melihat keadaan itu, Antasena dan Antareja pun segera membantu Gatutkaca dan Abimanyu untuk mengundurkan pasukan Dwarawati.
Patih Setyaki  pun membantu Samba melawan Gatutkaca dan Saudara-saudaranya. Pasukan Dwarawati akhirnya porak poranda. Pasukan Dwarawati terdesak mundur. Namun kelihatannya, Samba tidak pulang ke Dwarawati.  Samba mendatangi Begawan Padmadenta untuk bergabung dengan para satria Pandawa. Begawan Padmadenta menerima kehadiran Samba dan pasukannya.  Samba dan pasukannya juga dipersilakan untuk  mendirikan perkemahan. Sementara Samba membuat perkemahan, Abimanyu meneruskan perjalanannya ke Indraprasta diiringi para Punakawan kecuali Bagong. Sedangkan Gatutkaca, Antasena dan Antareja kembal ke pertapaan Jatisaraya, tinggal bersama Resi Padmadenta.
Sementara itu di Astinapura, Prabu Duryudana bergabung dengan Resi Mandraguna.Kini Resi Mandraguna berhasil mempersatukan banyak negara dan bermaksud  merebut Indraprasta, Dwarawati dan Mandura. Negara-negara itu harus mengakui Resi Mandraguna menjadi raja diraja di negeri Indraprasta, Sementara itu di Pertapaan Jatisaraya. Begawan Padmadenta sudah  mengetahui  gelagat Resi Mandra guna yang semakin  berbuat  onar di mana mana. Begawan Padmadenta meminta Bagong dan Dewi Sembadra agar pulang terlebih dulu  ke Indraprasta. Bagong membaca ajian panglimunan sehingga Bagong dan Dewi  Sembadra tidak  terlihat karena ada mega yang melindunginya.Mereka pergi bagaikan terbawa mega terbang ke Indraprasta.
Sang Begawan Padmadenta dan para putra Pandawa, Gatutkaca, Antasena dan Antareja, meninggalkan Pertapaan dan  berniat ke Indraprasta, untuk membebaskan Pandawa dari pengaruh Resi Mandraguna.Sementara itu Pasukan Dwarawati juga mengikuti kepergian sang Begawan Padmadenta Mereka menyatukan diri dengan Begawan Padmadenta, dan bergabung dengan Gatutkaca,Antasena dan Antareja. Istana Indraprasta kelihatan suram, Prabu Puntadewa menerima kehadiran Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura dan Patih Udawa dari Kerajaan Dwarawati dan juga dari  Keluarga Pandawa, Werkudara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa. Yang menjadi permasalahan adalah keinginan Resi Mandraguna mempersatukan seribu negara dalam kekuasaan nya, termasuk Indraprasta, Dwarawati dan Mandura, dibawah pengaruhnya.
Prabu Baladewa menyatakan tidak setuju kalau Mandura dipersatukan dibawah pimpinan Resi Mandraguna.Kalau perlu negara Indraprasta, Dwarawati dan Mandura harus bertahan dan tidak terikat dengan Resi Mandraguna, kalau perlu dengan perang. Namun Arjuna yang sudah terkena aji Gendam Resi Mandraguna tetap setuju dengan kehendak Resi Mandraguna, dan tetap mengadakan tumbal manusia bayang-bayang, demi menghilangkan  bencana wabah yang akan menimpa rakyatnya.
Belum lama mereka berembug  tiba-tiba datanglah Abimanyu bersama para punakawan, kecuali Bagong, menemui Arjuna. Abimanyu menyampaikan pesan Eyang Abiyasa, bahwa Indraprasta akan tertutup mendung yang amat tebal,tetapi tidak lama, setelah itu langit menjadi terang kembali kalau Bagong sudah kembali ke Indraprasta dengan selamat. Namun Arjuna tetap akan menyerahkan Bagong kepada Resi Mandraguna. Tidak lama kemudian datanglah Resi Mandraguna dengan segenap Kurawa  dan pasukannya.Resi Mandraguna tetap menunggu timbulnya Bagong untuk tumbal.
Tiba-tiba seperti ada deru angin memasuki pendapa Istana. Arjuna terkejut ketika dihadapannya tampak Bagong dan istrinya Dewi Sembadra. Bagong menyerahkan Dewi Sembadra dan pusaka Pulanggeni pada Arjuna. Dewi Sembadra menceritakan,sejak ia diculik raksasa sampai ditolong Bagong dan kembali Ke Madukara. Arjuna baru sadar, kelihatannya pengaruh aji Gendam Resi Mandraguna telah hilang.
Arjuna merasa berhutang budi pada Bagong. Karena Bagong telah berjasa  pada negara, maka ia akan melindungi keselamatan Bagong. Tetapi Bagong tetap ingin membela kepentingan rakyat,  ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Ia segera mendekati Resi Mandraguna dimintanya untuk membakar dirinya.  Resi Mandraguna merasa senang sekali karena Bagong telah menyerahkan diri.Terdengar suara gemuruh yang menakutkan sekali. Ternyata di luar Istana Indraprasta kedatangan seorang Resi Raksasa  yang bernana Begawan Padmadenta bersama Gatutkaca, Antasena, Antareja dan pasukan dari Dwarawati dipimpin Samba.Tiba-tiba Resi Mandraguna menyeret Bagong keluar Istana Indraprasta. Arjuna dan Werkudara serta para satria keluar mengikuti Bagong. Sesampai di luar Istana, Bagong telah diikat dan akan dibakar hidup-hidup di alun-alun Istana Indraprasta. Dihadapan ratusan prajurit dari Astina dan kerajaan mancanegara yang  akan menyaksikan  Pembakaran. Tiba-tiba Begawan Padmadenta diiringi Gatutkaca, Antasena dan Antareja langsung mendekati Bagong. Begawan Padmadenta berubah wujud menjadi rakasasa sebesar gunung anakan, untuk mengusir ribuan prajurit dari Astina dan mancanegara yang membuat geger alun-alun. Resi Mandraguna memerintahkan prajurit Astina dan mancanegara menyerang Indraprasta. Para Kesatria Pandawa segera mengusir para penyerang. Arjuna, Werkudara, dan para kesatria muda, memberikan perlawanan. Juga Prabu Baladewa, Patih Udawa,Setyaki, Samba tidak ketinggalan. Sementara itu Bagong telah diselamatkan oleh Gatutkaca. Resi Mandraguna dan Begawan Padmadenta yang berujud raksasa segunung anakan saling dorong mendorong, saling serang menyerang.
Tiba tiba Resi Padmadeta yang telah berubah menjadi Raksasa sebesar gunung anakan itu ternyata berubah menjadi Prabu Kresna. Resi Mandraguna menjadi Prabu Godakumara. Prabu Godakumara mau melarikan diri, tetapi dicegah  oleh  Anoman. Kemudian Prabu Godakumara di seret oleh Anoman dan  di masukkan kembali dalam gunung Kendalisada,tempat Anoman bertapa.Prabu Godakumara, adalah nama Prabu Dasamuka setelah dikurung dalam sebuah gunung dalam cerita Ramayana.Sedangkan Kala Megananda, yang menculik Dewi Sembadra kembali menjadi mega, setelah terkena senjata cakra baskara milik Prabu Bathara Kresna. Pasukan Astina dan Mancanegara bubar kocar kacir menghadapi para Kesatria Pandawa dan para Satria Mandura serta Dwarawati. Mereka pulang  kenegerinya.
Dengan adanya peristiwa ini Bagong semakin yakin, bahwa  pengabdian merupakan kepuasan batin tersendiri. yang tidak bisa ditukar dengan apapun, walaupun dengan rumah yang telah lama di idam idamkannya sekalipun. Bagong sudah tidak mengharapkan hadiah apapun dan dari siapapun.
 Semoga saja Arjuna tidak lupa lagi menganugrahkan sebuah rumah buat Bagong.
Cerita ini timbul setelah mencari rumah Ki Lurah Bagong tidak ada dimanapun. Yang ada cuma rumah Ki Lurah Gareng di Karang Kadempel Rumah Ki Lurah Petruk ada di Pecuk Pecukilan Rumah Ki Lurah Semar malah ada 3 : di Klampis Ireng, Karang Kabolotan dan di Karang Tumaritis.
 Ide cerita Wayang Wayang.                                      

               Selesai

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer