Lakon Antareja Gugur

Antareja gugur

Raja Duryodana dihadap oleh Patih Sakuni, Pendeta Drona, raja Baladewa, raja Salya, Karna, dan beberapa warga Korawa. Raja menyampaikan masalah ilham yang diperolehnya. Ilham itu menyatakan bahwa yang berhasil membangunkan Kresna dari tidur akan menang dalam perang Baratayuda. Raja minta kesediaan raja Baladewa untuk membangunkannya. Raja Baladewa menyanggupinya, lalu mohon diri, berangkat ke Dwarawati. Karna dan warga Korawa mengikutinya.
Di Negara Dwarawati, Satyaki, Satyaka, Emban Druwaja dan Patih Udawa menjaga Balai Kambang, tempat raja Kresna tidur. Raja Baladewa, Karna dan beberapa warga Korawa datang. Mereka ingin membangunkan Kresna. Para petugas penjaga tidak mengijinkannya. Terjadilah perkelahian. Satyaki mengamuk, warga Korawa dan Karna tidak mampu melawannya. Namun Baladewa mengamuk dengan membawa Nenggala sehingga Satyaki dan kawan-kawan menyingkir. Baladewa berhasil mendekati tempat tidur. Tetapi sewaktu akan membangunkan Kresna, senjata Cakra menyerang Baladewa. Baladewa lari dan bertahan di luar Negara Dwarawati. Prajurit Ngastina disuruh bersiap-siap di sekitar Negara Dwarawati.
Tersebutlah di Negara Jurang Parangsuh, Raja Locanadewa dihadap Dewamurti dan Patih Subagendra, tengah membicarakan kematian Raja Kalamungsa, ayah raja Locanadewa. Togog bercerita bahwa kematian ayah raja karena dibunuh oleh Arjuna, ksatria Madukara. Maka Raja Locanadewa ingin membunuh Arjuna, membalas kematian ayahnya. Para prajurit Jurang Parangsuh disiapkan, lalu berangkat ke Ngamarta. Raja berangkat lewat angkasa.
Raja Locanadewa bertemu Gathotkaca yang akan pergi ke Ngamarta. Mereka saling bertanya, namun kemudian Gathotkaca menghantam karena raja Raksasa itu ingin membunuh Arjuna. Locanadewa tidak mampu melawan Gathotkaca, lalu menyimpang jalan. Gathotkaca meneruskan perjalanan menuju Ngamarta.
Arjuna bersama panakawan berangkat ke Ngamarta. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan prajurit raksasa dari Jurang Parangsuh. Setelah mengerti maksud dan tujuan prajurit raksasa itu, Arjuna mengusirnya. Raksasa berhasil dimusnahkan, dan Arjuna meneruskan perjalanan ke Ngamarta.
Sementara itu di Negara Ngamarta, Puntadewa dihadap oleh Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, Patih Udakawana, Gathotkaca dan Antareja. Puntadewa bercerita tentang Kresna yang sedang bertapa, tidur di Balai Kambang, dan memberi tahu ilham yang diperolehnya. Setelah mereka merundingkan masak-masak, mereka berangkat ke Dwarawati hendak berusaha membangunkan Kresna.
Satyaki dan Satyaka sedang membicarakan Baladewa yang berusaha membangunkan Kresna. Kemudian Puntadewa datang bersama warga Pandhawa. Puntadewa menceritakan maksud kedatangannya. Satyaki mempersilakan warga Pandhawa untuk membangunkan Kresna tetapi tidak berhasil. Arjuna menghadap Semar, lalu menyatakan kesedihannya. Semar mengingatkan kedudukan Arjuna terhadap Kresna. Ibarat cincin, mereka sebagai bingkai dan permatanya. Maka sungguh mengherankan jika Arjuna tidak tahu tujuan tapa Kresna. Mendengar peringatan Semar itu Arjuna menjadi sadar, lalu berjalan mendekati Kresna. Ketika meraba badan Kresna terasa dingin, berarti tanpa sukma. Arjuna lalu mengheningkan cipta, berbadan halus, mengaku bernama Sukma Langgeng. Lalu Sukma Langgeng pun berangkat ke Suralaya.
Di Suralaya, Batara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Bathara Indra, Bathara Brahma dan beberapa dewa lain. Bathara Guru menanyakan gara-gara yang terjadi di Marcapada. Bathara Narada bercerita tentang Kresna yang tidur di Balai Kambang. Dikatakannya Kresna ingin memiliki kitab Jitabsara, Pakem Baratayuda. Batara Guru tergerak hatinya untuk mengarang kitab Jitabsara. Panyarikan diminta untuk menulis hasil pembicaraan mereka. Bathara Guru dan Bathara Narada merencanakan isi surat Pakem itu. Antara lain menulis tokoh yang gugur dalam perang Baratayuda yang akan terjadi nanti. Dhrestharastra dan Gendari harus mati. Seta gugur melawan Bisma, Bisma gugur melawan Srikandhi, dan seterusnya. Namun sewaktu hendak mencatat Baladewa dan Antareja, tempat tinta tumpah karena ditabrak lebah Lanceng Putih. Lebah hilang, datanglah sukma Kresna yang bernama Sukma Wicara.
Bathara Guru dan Bathara Narada menemui Sukma Wicara. Sukma Wicara ditanya alasannya menumpahkan tinta. Ia menjawab, tidak setuju Baladewa dimusuhkan Antareja. Antareja tidak akan terlawan oleh Baladewa. Bathara Guru menanyakan kesaktian Antareja dan cara menyingkirkannya. Dijawab bahwa Sukma Wicara telah mempunyai akal dan sanggup melaksanakannya, tetapi ia harus diberi Jitabsara. Bathara Guru menyanggupi permintaan Sukma Wicara, tetapi harus ditukar dengan Sekar Wijayakusuma. Setelah sepakat dengan perjanjian mereka, Sukma Wicara minta pamit.
Sepeninggal Sukma Wicara, Sukma Langgeng datang, menanyakan perihal Sukma Wicara. Bathara Guru bercerita tentang pembicaraannya dengan Sukma Wicara. Sukma Wicara telah pergi. Mendengar keterangan Bathara Guru itu, Sukma Langgeng cepat-cepat minta diri, lalu pergi mencari Sukma Wicara.
Sukma Langgeng berhasil menemukan Sukma Wicara. Ia minta kitab Jitabsara. Sukma Wicara tidak memberikannya, maka terjadilah pertikaian. Sukma Wicara lari, lalu masuk ke raganya. Sukma Langgeng mengejarnya. Sukma Langgeng juga masuk ke raganya.
Kresna terbangun dari tapa, dan Arjuna menemuinya. Mereka berunding tentang rencana menyingkirkan Antareja. Selanjutnya.Puntadewa dan saudara-saudara Pandhawa datang. Kresna bercerita kepada Puntadewa sesaudara tentang riwayat memperoleh Pakem Baratayuda. Ia akan berpihak pada Pandhawa. Kresna berbicara tentang Antareja, bahwa telah tersedia surga baginya. Pandhawa diminta keikhlasan hati mereka. Setelah mendengarkan keterangan Kresna, para Pandhawa menyerahkan nasib Antareja.
Kresna menemui Antareja di luar Bale Kambang. Antareja ditanya kesiapan perang Baratayuda. Antareja menyatakan siap, dan bercerita tentang kesaktian yang diperoleh dari Sang Hyang Antaboga. Ia memperoleh Taring Kencana. Manusia yang dijilat akan hancur. Bahkan jika dijilat bekas telapak kakinya, orang tersebut akan meninggal. Maka Korawa pasti hancur olehnya. Untuk membuktikan kesaktian itu, Antareja disuruh Kresna menjilat bekas telapak kaki yang ada didekatnya. Antareja pun menjilat bekas telapak kaki yang ternyata miliknya sendiri. Antareja mukswa, naik ke surga
http://tokoh-pewayangan.blogspot.co.id/antareja-gugur.html

Hasil gambar untuk lakon antareja gugur   Hasil gambar untuk lakon antareja gugur  
Tokoh Raden Antareja dan Tokoh Antareja Komik Gaya Surakarta 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer