Lakon Dewa Amral/ Brahala Seta

Kisah bermula ketika dalam sebuah sidang para Dewa, Batara Guru sebagai pimpinan tiba-tiba membuat putusan. “Puntadewa telah melanggar paugeran. Ia harus menerima hukuman!”
Semua anggota DPD (Dewan Para Dewata) terkejut tapi tak berani membantah.
“Puntadewa harus dihukum mati!” demikian titah Batara Guru.
Para dewa clingak-clinguk saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran tapi tak ada satupun yang berani bersuara.
“Segera kirim utusan ke Negara Amarta!” Seru Batara guru.
Para dewa tak bisa berkata lain selain “sendhiko dhawuh” lalu diam tanpa kata.
Cukup lama ruang sidang diliputi kesenyapan hingga akhirnya tawa kekeh Batara Narada, orang kedua di Swargaloka, memecah keheningan.
“Heuheuheu… Saya mengerti apa yang Paduka baru saja sampaikan. Instruksi Paduka Hyang Batara Guru sangat jelas. Tetapi yang hamba tidak pahami adalah atas dasar apa, pasal paugeran mana yang Puntadewa langgar hingga ia pantas dihukum mati?”
Hyang Batara Guru agak malas mengingat pasal-pasal, lalu menjawab asal, “Karena namanya Puntadewa”
“Lho… lho… lho… Apa salahnya dia bernama Puntadewa?”
“Dia melanggar paugeran antara kadewatan dengan kamanungsan. Seorang manusia tidak boleh menggunakan nama dewa. Itu tidak etis dan berpotensi membingungkan birokrasi jagad raya”
“Heuheuheu…” kembali Narada terkekeh. “Apalah arti sebuah nama, Paduka Guru?! Bukankah secara biologis dalam diri Puntadewa mengalir darah  Batara Dharma?! Jadi secara administratif dia berhak menyandang nama dewa, meskipun wujudnya manusia. Lagipula nama itu diberikan atas petunjuk Hyang Tunggal sebagai lambang kejujuran dan keadilan. Heuheuheu…”
Mbuh ora weruh! Pokoknya manusia tidak boleh menggunakan nama dewa.” Batara Guru mulai emosi.
Batara Narada merendah, “Baiklah. Tapi apa ya harus dihukum mati? Bukankah sejak jadi raja, Puntadewa tak lagi menggunakan nama itu dan berganti nama Yudhistira?”
“Pokoknya aku, Batara Guru, sudah bersabda. Dan sabdaku harus terlaksana.”
“Wee… lhadalah! Cilaka! Cilaka!
Utusan para dewa segera menemui Pandawa untuk melaksanakan titah Dewata. Para Pandawa, yang telah bersumpah Tiji Tibeh (Mukti Siji Mukti Kabeh, Mati Siji Mati Kabeh), tak sampai hati menyaksikan kakak sulungnya dihukum sendirian. Para Pandawa lalu menawar hukuman. Jika memang Puntadewa harus dihukum mati, keempat saudaranya juga harus ikut mati. Mendengar pernyataan itu, Batara Guru memberikan keringanan hukuman. Puntadewa tidak jadi dihukum mati. Sebagai gantinya keempat saudaranya diasingkan ke kawah candradimuka.
Puntadewa merasakan kesedihan yang mendalam. Ia tak pernah membayangkan hidup sendirian. Sebagai raja, ia membutuhkan keempat saudaranya untuk memimpin rakyatnya. Ia mengadu pada Dewi Kunti, ibunya kandungnya, tentang putusan dewa yang dirasa tak adil. Dewi Kunti tak bisa menyarankan apa-apa selain mematuhi putusan para dewa, meskipun dalam hati Kunti tahu persis sejarah kecerobohan para dewa. Ia pun menemui Ponokawan untuk rerasan. Siapa tahu mereka punya penjelasan yang lebih masuk akal. Namun semua penjelasan tak ada yang melegakan. Puntadewa kalut. Ia bertekad menggugat, kalau perlu ia akan naik ke kayangan untuk menuntut keadilan.
Gunungan semesta tergelar
Fakta dan fitnah terjalin berkelindan
Macan di kiri, Banteng di kanan.
Keduanya siap bertarung habis-habisan.
Sementara di kiri kanan
ular-ular naga tertawa lebar.
Kesedihan yang teramat dalam rupanya membangkitkan energi mahadahsyat. Duka kehilangan orang-orang terkasih membuat seseorang kehilangan ketakutan atas apapun saja untuk dipertaruhkan. Ketika akal sehat tergulung emosi nan hebat, yang tersisa adalah nekat. Puntadewa pun ber-triwikrama. Tubuhnya menjelma raksasa tanpa tanding dan mendeklarasikan dirinya sebagai Prabu Batara Dewa Amral. Ia segera naik ke kayangan, melabrak birokrasi kadewatan. Siapapun yang menghalangi langkahnya diterjang tanpa ampun. Swargaloka porakporanda.
Singkat cerita, karena tak satupun aparat dewa yang mampu mengalahkan Dewa Amral, Batara Guru  meminta bantuan Pandawa yang disekap di kawah Candradimuka untuk menghadapi Dewa Amral. Seberapapun marah dan bencinya Puntadewa pada kesewenang-wenangan para dewa, ia tak sampai hati beradu tanding dengan saudaranya sendiri, apalagi sampai melukai. Akhirnya Dewa Amral kembali ke wujud semula.
https://maulinniam.wordpress.com/dewa-amral-ngoyak-kayangan/

SINOPSIS DEWA AMRAL

Dewi Kunthi yang menerima kedatangan putranya, yaitu Prabu Puntadewa, sangat bersedih hati, setelah mengetahui bahwa Raden Werkudara, Raden Harjuna beserta Raden Nakula dan Raden Sadewa ditarik ke Kahyangan Suralaya oleh para Dewa untuk dimasukkan kedalam Kawah Candradimuka.
Dewi Kunthi sangat menyesalkan perbuatan Prabu Puntadewa yang membiarkan adik-adiknya dibawa Para Dewa, lalu memarahinya dengan kecaman yang sangat pedas.
Prabu Puntadewa menyadari atas kesalahannya, kepalanya menjadi sangat pusing. Ketika tangannya mencoba memegang kepalanya, dengan tak sengaja, tangannya menyentuh Pustaka Jamus Kalimasada. Seketika itu berubahlah wujud Prabu Puntadewa menjadi Raksasa Besar Setinggi Gunung dan sangat menyeramkan, dengan nama Dewa Amral. Kemudian Dewa Amral menuju Kahyangan Suralaya hendak mengambil kembali adik-adiknya.
Dewa Amral sangat murka. Seisi Kahyangan dibuat porak poranda. Semua Dewa merasa panik dan lari tunggang langgang.
Bathara Narada yang mengetahui kejadian itu, berusaha untuk mengatasinya dan bertemu dengan Bala Srewu. Bala Srewu bersedia untuk menolongnya, asalkan diberi hadiah sebuah Kendaga yang berisi 4 (empat) orang Pandhawa. Atas saran Bathara Narada akhirnya Bathara Yamadipati memberikan Kendaga itu kepada Bala Srewu dan langsung ditelannya.
Balasrewu mencari Dewa Amral. Setelah keduanya bertemu maka peperanganpun tidak bisa dihindarkan. Kedua-duanya sangat sakti, sehingga peperangan berlangsung sangat lama. Ketika kepala Bala Srewu dibenturkan ke tanah, Kendaga lalu keluar dari mulutnya, akhirnya pecah dan munculah Raden Werkudara, Raden Harjuna, Raden Nakula dan Raden Sadewa.
Peperangan yang dahsyat itu sangat menggemparkan dunia. Setelah tak berujung dengan kemenangan dan kekalahan, akhirnya Dewa Amral babar menjadi Prabu Puntadewa dan Bala Srewu babar menjadi Prabu Sri Bathara Kresna.
http://sanggarnirmalasari.blogspot.co.id/sinopsis-dewa-amral_7.html

Menurut Ki Sutrisno, lakon Dewa Amral menceritakan tentang salah satu tokoh pendowo yaitu Puntadewa dalam upayanya mencarikan ampunan dan menebus dosa yang dilakukan kedua orang tuanya.
“Ceritanya ketika meninggal orang tua Puntadewa ini yaitu Prabu Pandu Dewanata itu masuk neraka. Sebagai anak pertama Puntadewa ini ingin menjadi anak yang sholeh, ingin menyuargakan (memasukkan dalam surga) orang tuanya. Waktu itu dia melakukan pertapaan sehingga menggegerkan kayangan. Kemudian bathara guru memanggil Puntadewa agar datang kekayangan,” kata Ki Romo Sutrisno kepada wartawan sebelum memulai pertunjukannya.
Sutrisno melanjutkan, tetapi yang datang malah adik-adiknya seperti Werkudara. Kemudian Puntadewa diingatkan oleh istrinya, adik-adiknya saja berjuang untuk menyelamatkan orang tuanya, tetapi Puntadewa justeru diam saja hanya bertapa.
“Akhirnya Puntadewa tergugah dan timbul amarah lalu menjelma menjadi buto (raksasa, Red) yang sangat besar dan menggugat kayangan agar memasukkan Pandu ke surga. Jadi Dewa Amral ini adalah jelmaan dari Puntadewa,” kata Sutrisno yang juga anggota DPRD Sragen dari PDIP ini.
http://www.timlo.net/baca/dewa-amral-gegerkan-alun-alun-sragen/
Hasil gambar untuk dewa amral solo Hasil gambar untuk dewa amral solo Hasil gambar untuk dewa amral solo 
Brahala Dewa Amral 
Hasil gambar untuk brahala bolo sewu solo Hasil gambar untuk brahala bolo sewu solo Hasil gambar untuk brahala bolo sewu solo Hasil gambar untuk brahala bolo sewu solo
Brahala Bala Srewu 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer