Lakon Keramat Murwakala

Murwakala

Lakon murwakala atau purwakala adalah kisah adicarita asli jawa, jaman sebelum jawa saka atau yang lebih dikenal dengan jaman jawa dwipa. lakon ini kemudian dituliskan kembali oleh para pujangga jawa baru yang lebih dikenal dengan lakon serat paramayoga ( nasehat bagi kaum muda) bagi para pedhalang.
murwa atau purwa sendiri berarti awal, sedangkan kala berarti waktu, jadi murwakala kurang lebih berarti awal waktu, atau awal mula jaman, dimana segala sesuatu baru ada. atau bisa juga disebut awal jaman, karena banyak pula yang menyebutkan bahwa wayang purwa ini merupakan simbol dimulainya abad saka, dimulainya perhitungan tarikh suryakala dalam rangkuman tahun Hindu.
jjika merunut kepada filsafat jawa, lakon purwakala ini sebenarnya lebih kepada bahasan tentang purwa dumadining menungsa atau kejadian awal dimana eksistensi manusia di dunia dan semua yang terlibat didalamnya, dan juga tentang inti dari kehidupan manusia atau yang disebut juga kawruh sejatining urip.
dalam lakon asli tentang murwakala, biasanya terdiri dari 3 bagian yaitu :
- bagian pertama menceritakan tentang kisah wayang purwa carangan atau kisah tentang para dewa di alam kedewaannya
- bagian kedua menceritakan tentang para dewa yang turun ke marcapada (dunia manusia), ditugaskan oleh batara guru untuk membantu para manusia dari kemarahan batara kala
- bagian ketiga berisi tentang alam kehidupan manusia yang diberi petunjuk oleh dhalang yang merupakan samaran batara whisnu tentang norma-norma dan nilai-nilai etis untuk meraih ketentraman hidup di dunia
kisah murwakala sendiri dimulai dari cerita lahirnya kalarandya atau yang lebih dikenal dengan nama batara kala.
syahdan, kala itu batara guru sedang langlang buana (sedang terbang sambil bercengkerama dan melihat-lihat dunia) dengan istrinya, yaitu dewi uma dengan mengendarai sapi handini. apa nyana, ternyata ditengah perjalanan, batara guru tergugah hasrat biologisnya terhadap sang dewi. karena rasa malu terhadap sapi handini, juga bukan merupakan waktu dan tempat yang wajar untuk berhubungan biologis, maka dengan berat hati, sang dewi uma menampik keinginan batara guru. karena ditampik oleh sang istri, maka jatuhlah sotyakama(  sperma yang bernilai tinggi/sakti) batara guru ke samodra dibawahnya.
sotyakama yang jatuh kedalam samodra ini membara di laut bagai bara api, seolah-olah menggambarkan nafsu dan amarah batara guru yang ditampik keinginannya oleh dewi uma.  dan karenanya, air samodra pun mendidih, menimbulkan bencana bagi para penghuninya. atas peristiwa tersebut, setelah batara guru dan dewi uma sampai di suralaya ( keratonnya para dewa ), batara guru mengutus batara brama (sang dewa api), untuk memusnahkan sotyakama. apa nyana, saat batara brama berusaha memusnahkan sotyakama, dalam sekejap mata justru sotyakama tersebut berubah menjadi janin dan dalam sekejap mata berubah menjadi bayi raksasa yang justru balik melawan batara brama. dalam hal ini batara brama kalah dan melarikan diri, kembali ke suralaya.
akhirnya batara guru pun mengakui kepada semua dewa yang sedang berembuk mengatasi bencana akibat sotyakama, bahwa bayi raksasa yang mengejar batara brama itu adalah anaknya sendiri. maka dipotonglah ari-ari si bayi raksasa tersebut dengan keris pusakanya, seketika itu juga si bayi raksasa berubah ujud menjadi raksasa remaja. ari-ari yang dipotong berubah menjadi beberapa lelembut ( mahluk halus, seperti setan, iblis,dll ). raksasa remaja tersebut diberi nama kalarandya. kedua gigi taringnya pun dipotong oleh batara guru, yang kemudian berubah menjadi sepasang keris pusaka bernama kalanadhah dan .kaladhente.
” heh danawa, wruhira ! salagune iya ingsun iki kang ayoga ing sira. sakmengko , sira ingsun patedhahi aran batara kala, amarga tumitahira ana ing marcapada mbeneri wayah candhikkala. sira ingsun paringi papan-padunungan ana ing nusatembini, lan sira bakal ingsun paringi pepancen kang minangka dadi memangsanira “
atau dalam terjemahannya kurang lebih adalah :
” hai raksasa, ketahuilah, sebenarnya aku adalah ayahmu, sekarang engkau kuberi nama batara kala, karena lahirmu di dunia ini bertepatan dengan senjakala. engkau kuberi tempat tinggal di nusatembini, dan engkau kuberi batasan apa-apa saja yang kelak boleh jadi makananmu.”
maka, setelah menerima sabda demikian dari sang batara guru, kalarandya kemudian pulang ke nusatembini. banyak orang meyakini bahwa nusatembini adalah pulau karimun jawa.
kelahiran kalarandya ini boleh dibilang salah kedaden atau lahir dengan proses yang salah, tidak wajar, karena bukan lahir dari gua garba (kandungan/rahim). kalarandya lahir hanya berasal dari sotyakama, dan hal itu menyebabkan dia berada diluar tatanan proses kehidupan dunia, diluar tataraning ngaurip (tingkat alam kehidupan manusia yang wajar). bukan golongan dewa pun bukan golongan manusia. hal ini menyebabkan kalarandya terkena kutuk sang hyang tunggal (sang pencipta), dan akan menyebabkan kekacauan dunia, berupa berbagai bencana, kejahatan, kesengsaraan bagi manusia.
atas peristiwa itu pula, batara guru sangat marah terhadap dewi uma. batara guru menganggap penolakan uma atas hasratnya-lah yang menyebabkan kekacauan dan aib tak terkira ini. maka batara guru kemudian mengutuk dewi uma menjadi raksesi (raksasa perempuan) yang kemudian diberi nama dewi durga. dewi durga inilah kemudian yang diktadirkan menjadi istri kalarandya.
kalarandya yg lahirnya di samodra, hanya mengenal samodra sebagai sumber makanannya. hal ini menyebabkan rusaknya ekosistem samodra. batara gangga, sang penguasa laut kemudian menegur kalarandya, bahwa tidak sepantasnya kalarandya merusak tempat lahirnya apalagi memakan sesama mahluk laut( karena kalarandya lahir di lautan, maka bisa juga disebut mahluk laut).
kemudian kalarandya pun menghadap batara guru, memohon agar bisa mendapatkan makanan yang hidup di daratan macapada juga.mendengar permintaan anaknya, batara guru pun bimbang, bingung bukan kepalang, karena nafsu makan kalarandya memang tak mudah dipuaskan. maka batara guru memanggil batara narada untuk dimintai nasehat. sayangnya batara narada pun sedang bertapa di permukaan samodra, dan dia tidak mau menghadap kecuali batara guru menjemput sendiri ke tempatnya bertapa.
setelah dijemput oleh batara guru, keduanya lalu terbang ke jonggringsaloka,untuk menemui kalarandya. hal pertama yg dilakukan batara narada adalah memberikan pakaian kepada kalarandya yang selalu telanjang sejak lahir.lalu batara guru memberi tahu kepada kalarandya mengenai apa saja dan waktu (sa’at atau orang jawa bilang sangat) makan yang diperbolehkan untuk kalarandya. kalarandya hanya boleh makan saat surya tumumpang arka ( tepat tengah hari, surya:matahari, tumumpang;diatas, arka:kepala)
namun kalarandya salah mengartikan kata-kata batara guru. maka tepat tengah hari, ditelannya sang batara surya (matahari), yang membuat dunia siang berubah menjadi gelap gulita. ketika diberitahu oleh batara guru bahwa dia keliru memahami ucapan sang ayah, kalarandya kemudian memuntahkan kembali batara surya dari dalam perutnya.hingga dunia siang kembali terang benderang. oleh karena cerita ini pulalah, jaman dahulu masyarakat jawa mengenal gerhana matahari sebagai peristiwa ditelannya batara surya oleh batara kala.
kemudian batara guru kembali menjelaskan perihal mahluk apa saja yanng boleh dimakan oleh kalarandya. kalarandya hanya boleh memakan manusia-manusia sukerta dan penganyam-anyam. tetapi batara narada melihat hal tersebut bisa menyebabkan goro-goro (kekacauan) di macapada. karena yang termasuk golongan sukerta dan penganyam-anyam tidak sedikit jumlahnya. maka batara narada memberikan nasehat tambahan kepada kalarandya tentang hakikat hidup, kawruh sejatining urip, dengan harapan kalarandya memahami artinya dan tidak menimbulkan goro-goro di marcapada akibat tak bisa mengontrol nafsu makannya.
kalarandya kemudian pulang ke nusatembini. akan tetapi batara guru masih was-was dengan kelakuan kalarandya yang tidak bisa mengerem hawa nafsunya. maka diutuslah batara wishnu (dewa kebenaran, penjaga kedamaian dan kesejahteraan dunia) untuk turun ke marcapada, mengawasi tindak tanduk kalarandya. maka turunlah dewa wishnu dengan istrinya, dewi sri, yang juga ditemani oleh batara narada dan sejumlah dewa lainnya.dewa wishnu menyamar sebagai dhalang, istrinya sebagai sindhen, dan dewa-dewa lainnya menyamar sebagai nayaga (penabuh gamelan).
wishnu menyamar sebagai ki dhalang kandha buwana (yang artinya dalang yg menceritakan perihal kehidupan di dunia), yang juga dikenal sebagai dhalang karungrungan (dalang yanng menyebarkan cinta kasih dan kedamaian). lakon yang dipentaskan oleh ki dhalang kandha buwana ini tidak jauh-jauh tentang kawruh sejatining urip, atau hakikat hidup. tentang bagaimana sebaiknya manusia hidup, apa inti dan tujuan sebuah kehidupan, bagaimana mengenali kesalahan dan memahami kebajikan. ajaran ini dimaksudkan kepada cangkupan yang lebih luas, bukan sekedar tentang bagaimana caranya agar manusia luput dari ancaman kalarandya(yang identik dengan kesengsaraan dan penderitaan), tapi lebih tentang bagaimana caranya para manusia juga bisa hamemayu hayuning buana ( menjaga kesejahteraan dunia ) yang bukan lagi hanya tugasnya para dewa.
demikianlah, pada akhirnya, meski tugas utama ki dhalang kandha buwana adalah meruwat orang-orang sukerta dan penganyam-anyam, sebagai dhalang karungrungan, ki dhalang kandha buana tetap saja mengajarkan kawruh sejatining urip kepada siapa saja yang mau mendengarkan.
syahdan, pada suatu ketika ki dhalang kandha buwana dan kawan-kawan sedang meruwat ki buyut dan istrinya, karena mereka termasuk golongan orang-orang sukerta. ki buyut dan istrinya terlahir masing-masing sebagai anak tunggal, mereka tidak memiliki saudara sekandung, atau dalam trah sukerta disebut ontang-anting bagi anak laki-laki, dan bagi anak perempuan disebut unting-unting. di tengah pertunjukan wayang purwa dengan lakon murwakala ini, menjelang tengah hari, datanglah lalang darma dan lalang darmi, dua anak kakak beradik ini sedang dikejar oleh kalarandya untuk dimakan, karena mereka pun termasuk golongan anak-anak sukerta yang disebut kedhana kedhini.
konon, lalang dharma dan lalang dharmi memang sebenarnya sedang berkelana mencari dhalang yang bisa meruwat mereka agar mereka lolos dari daftar makanan kalarandya. ditengah perjalanan mereka berdua, menjelang surya tumumpang arka, mereka bertemu dengan kalarandya. sadar bahaya yang mengancam, lalang darma dan lalang darmi bersembunyi di rumah terdekat. apa nyana, ternyata sang pemilik rumah termasuk golongan penganyam-anyam, karena rumahnya tidak memiliki tutup keyong, alias segitiga penutup di ujung-ujung atap. yang artinya si pemilik rumah tidak mengerjakan rumahnya dengan benar dan sempurna maka mereka termasuk golongan penganyam-anyam. tapi, karena rumah tersebut tanpa tutup keyong itu pula-lah lalang darma dan lalang darmi bisa meloloskan diri dari kejaran kalarandya. mereka melarikan diri lewat lubang tutup keyong yang menganga.
selama mengajar lalang darma dan lalang darmi, kalarandya telah memangsa banyak orang yang termasuk golongan penganyam-anyam. tapi kalarandya merasa belum kenyang sebelum memangsa anak-anak sukerta. melihat kalarandya yang datang di tempat ki buyut yang sedang berlangsung pertunjukan wayang, tentu saja penonton merasa sangat ketakutan. hal ini membuat ki dhalang kandha buwana merasa terganggu juga, sehingga ia menghentikan pertunjukannya, menyuruh kalarandya  untuk duduk tenang, ikut menyaksikan pertunjukan wayang yang sedang ia gelar, juga mengingatkan pada kalarandya jika waktu surya tumumpang arka telah lewat. yang artinya waktu kalarandya untuk makan sudah habis.
kemudian, ki dhalang kandha buwana melemparkan sebutir telur ke dalam mulut kalarandya yang tengah menguap lebar saat kalarandya mulai duduk dan menyaksikan pertunjukan wayang. karena sedang menguap, telur yang dilemparkan langsung tertelan dan masuk perut kalarandya, anehnya kalarandya langsung merasa kenyang dan nafsu makannya langsung hilang.ki dhalang lalu menentramkan hati kalarandya dan menyarankan kalarandya untuk terus melanjutkan menonton pertunjukan wayang yang sedang berkisah tentang “kawruh sejatining urip“. betapa terkejut kalarandya mendengar lakon tersebut. karena sejatinya itulah yang dijabarkan padanya oleh batara guru dan batara narada sebelum dia pulang ke nusatembini.
karena penasaran, kalarandya kemudian bertanya, siapa sebenarnya sosok dibalik ki dhalang kandha buwana ini. namun ki dhalang tidak menjawab pertanyaan kalarandya, tapi ki dhalang justru membeberkan kisah tentang siapa kalarandya sebenarnya, segala rahasia yang berkaitan dengan kalarandya, mulai dari proses kelahirannya yang tidak wajar, hingga ciri-ciri kelemahan kalarandya. kelemahan kalarandya yang berupa rajah kalacakra yang terdapat di dahi, dada dan punggung disentuh oleh ki dhalang kandha buwana. oleh karena hal tersebut, maka lenyaplah kalarandya, moksa (hilang bersama raganya) kembali ke alam kesempurnaan.
dalam cerita selanjutnya, kelak sosok batara kala atau kalarandya ini akan muncul kembali sebagai yaksadewa atau kaladewa yang akan membunuh resi hanoman yang sepanjang hidupnya menjaga gelembung-gelembung udara kejahatan agar tidak menyebar yang terus saja muncul dari jasad dasamuka yang terhimpit gunung mayangkara.
* demikian kisah tentang murwakala atau purwakala, konon, ini adalah kisah wayang tertua sebelum era jawa saka. merunut purwa atau murwa sendiri berarti awal. kisah ini diceritakan dan tersebar di era jawa dwipa atau era sebelum jawa saka. banyak teori yang mengatakan bahwa inilah sejatinya kisah asli dari tanah jawa sebelum mengenal adanya agama. mengingat tahun jawa saka sendiri identik dengan kehidupan agama Hindu, tahun saka atau yang kita tahu sebagai tahun hitungan dari agama Hindu sendiri, menurut beberapa kronik, adalah tarikh suryakala (perhitungan tahun kalender menurut sistem edar matahari) yang semula diambil dari tarikh jawa asli pranata mangsa yang kemudian diadopsi oleh brahmana Hindu yang berasal dari india ke tanah jawa yang bernama aji saka. kemudian dari aji saka inilah kita mengenal tahun jawa saka.
orang-orang sukerta atau anak-anak sukerta banyak sekali macamnya, ada beberapa kronik yang menuliskan dengan jumlah berbeda. mungkin diantara masyarakat kita yang beredar adalah yang umum saja, seperti ontang-anting, untang-unting, uger-uger lawang, kedhana kedhini, kembang sepasang, sendang kapit pancuran, pancuran kapit sendang, cukit dulit, gotong mayit, keblat papat, saramba, sarimpi, ipil-ipil, dampit, jampina dan sebagainya.
sementara golongan penganyam-anyam yaitu:
penganyam-anyam laki-laki adalah orang-orang yang melakukan suatu pekerjaan tapi tidak sempurna karena tergesa-gesa atau tidak selesai pekerjaannya, sehingga mesih ada kekurangan atau kesalahan yang berakibat mengganggu manfaat, fungsi dan hasil.
sementara golongan penganyam-anyam perempuan adalah mereka yang kurang berhati-hati dalam bekerja sehingga menyebabkan banyak kerugian materi.
sebenarnya, kalau mau dijabarkan satu-persatu, tidak bakalan habis waktu sepanjang hidup, karena sejatinya, inti dari kawruh sejatining urip itu tak pernah lepas dari nyinau, nggagas dan nyipta atau momot, momong dan hamemangkat. dan kalau sudah menyangkut hal tersebut, istilahnya, cerita sepanjang hayat hidup. mungkin lain kali akan ada bahasan lebih lanjut  :)
sumber : http://sejarah.kompasiana.com/lakon-murwakala.html
http://caritawayang.blogspot.co.id/murwakala.html

BATARA GURU MENETAPKAN JENIS MANGSA BATARA KALA

Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka dihadap Batara Narada dan para dewa lainnya. Mereka membicarakan perkembangan Pulau Jawa yang saat ini hanya memiliki dua orang penguasa saja, yaitu Batara Indra di Kahyangan Suralaya dan Sri Maharaja Balya di Kerajaan Medang Siwanda.

Tidak lama kemudian datanglah Batara Baruna, dewa penguasa lautan yang datang bersama Batara Kala, penguasa Pulau Nusakambangan. Batara Baruna melaporkan perbuatan Batara Kala yang terus-menerus memangsa ikan di laut, sehingga banyak binatang air menjadi korban. Batara Baruna meminta Batara Kala berhenti memangsa ikan karena jika hal itu terus dilakukan, maka jumlah ikan di lautan akan habis. Lagipula Batara Kala terlahir dari buih samudera, sehingga tidak sepantasnya memangsa sesama penghuni laut.

Atas laporan itu, Batara Kala pun memohon keadilan kepada Batara Guru untuk diberikan jenis makanan lain, karena jika ia tidak boleh memangsa ikan lantas bagaimana caranya untuk mengisi perut dan menambah tenaga?

Batara Guru pun memutuskan supaya Batara Kala memangsa manusia saja, yaitu mereka yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala. Sukerta adalah manusia yang boleh dimangsa karena kelahirannya, sedangkan Sengkala adalah manusia yang boleh dimangsa karena salah perbuatan.

Adapun yang termasuk golongan Sukerta antara lain: 
-    Ontang-anting, yaitu anak tunggal tanpa saudara 
-    Kedana-kedini, yaitu dua bersaudara laki-laki perempuan
-    Uger-uger lawang, yaitu dua bersaudara laki-laki
-    Kembang sepasang, yaitu dua bersaudara perempuan
-    Gotong mayit, yaitu tiga bersaudara jenis kelamin sama
-    Sendang kapit pancuran, yaitu tiga bersaudara yang perempuan di tengah
-    Pancuran kapit sendang, yaitu tiga bersaudara yang laki-laki di tengah
-    Saramba, yaitu empat bersaudara laki-laki semua
-    Serimpi, yaitu empat bersaudara perempuan semua
-    Pandawa, yaitu lima bersaudara laki-laki semua
-    Pandawi, yaitu lima bersaudara perempuan semua
-    Pipilan, yaitu lima bersaudara dengan satu laki-laki
-    Padangan, yaitu lima bersaudara dengan satu perempuan
-    Wungkus, yaitu anak yang lahir dalam bungkus
-    Wungkul, yaitu anak yang lahir tanpa ari-ari
-    Tiba sampir, yaitu anak yang lahir berkalung tali pusar
-    Tiba ungker, yaitu anak yang lahir tercekik tali pusar
-    Jempina, yaitu anak yang lahir sebelum waktunya
-    Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan
-    Wahana, yaitu anak yang lahir dalam keramaian
-    Julungwangi, yaitu anak yang lahir saat matahari terbit
-    Julungsungsang, yaitu anak yang lahir tengah hari
-    Julungsarab, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam
-    Julungpujud, yaitu anak yang lahir petang hari
-    Siwah, yaitu anak dengan keterbelakangan mental
-    Kresna, yaitu anak yang lahir berkulit hitam gelap
-    Wungle, yaitu anak yang lahir berkulit putih bule
-    Walika, yaitu anak yang memiliki taring
-    Wungkuk, yaitu anak yang punggungnya bungkuk
-    Dengkak, yaitu anak yang mendongak ke depan
-    Butun, yaitu anak yang mendongak ke belakang
-    Wujil, yaitu anak yang terlahir kerdil
-    Kembar, yaitu dua anak yang lahir sehari dengan kelamin sama
-    Dampit, yaitu dua anak yang lahir sehari dengan kelamin beda
-    Gondang kasih, yaitu dua anak lahir sehari berkulit putih dan hitam
-    Tawang gantungan, yaitu dua anak yang lahir beda hari 
-    Sukrenda, yaitu dua anak yang lahir terbungkus 

Sementara itu yang dimaksud golongan Sengkala, antara lain:
-    Orang yang tidak menutup pintu dan jendela pada saat senja
-    Orang yang tidur di dipan tanpa tikar
-    Orang yang tidur di kasur tanpa seprei
-    Orang yang punya sumur tepat di depan rumah
-    Orang yang punya sumur tepat di belakang rumah
-    Orang yang punya tanah pekarangan miring
-    Orang yang menggulingkan dandang saat menanak nasi
-    Orang yang menaruh dandang di tungku padahal belum mencuci beras
-    Orang yang mematahkan cobek
-    Orang yang tidak menyisakan beras di lumbung
-    Orang yang menyapu di malam hari
-    Orang yang mengelap kotoran dengan kain yang dipakai
-    Orang yang membuang sampah di kolong
-    Orang yang sering telanjang
-    Orang yang berdiri di depan pintu
-    Orang yang bergelantungan di pintu
-    Orang yang sering bertopang dagu
-    Orang yang sering berdiri dengan satu kaki
-    Orang yang suka bersiul
-    Orang yang suka menggigit kuku 
-    Orang yang memotong kuku malam hari
-    Orang yang makan sambil berjalan
-    Orang yang makan sambil tiduran
-    Orang yang duduk di atas bantal
-    Orang yang berjalan bertiga pada saat tengah hari tanpa bercakap-cakap
Dan banyak lagi yang lainnya.

Batara Kala sangat senang mendengar betapa banyak jenis manusia yang bisa dimangsanya itu. Batara Guru lalu menyerahkan sebuah pusaka berwujud golok, bernama Bedama yang harus digunakan Batara Kala untuk membunuh mangsanya terlebih dahulu sebelum dimakan. Batara Kala menerima senjata itu, kemudian mohon pamit kembali ke Pulau Jawa untuk mencari mangsa.

BATARA WISNU MENDAPAT TUGAS MENJADI JURU RUWAT

Setelah Batara Kala meninggalkan kahyangan, Batara Narada pun mengajukan keberatan atas apa yang menjadi keputusan Batara Guru tadi. Jika semua orang dengan ketentuan Sukerta dan Sengkala tersebut dimangsa oleh Batara Kala, maka penduduk Pulau Jawa akan berkurang banyak, bahkan seluruh manusia di dunia juga akan ikut habis.

Batara Guru menyadari kekeliruannya. Ia pun memanggil Batara Wisnu dan Batara Brahma untuk bersama-sama Batara Narada meruwat para manusia di Pulau Jawa yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala supaya terhindar dari ancaman Batara Kala. Batara Wisnu segera mengubah wujudnya menjadi seorang dalang bernama Ki Dalang Kandabuwana, sedangkan Batara Brahma menjadi penabuh gender wanita bernama Nyai Seruni, dan Batara Narada menjadi penabuh kendang bernama Panjak Kalunglungan. 

Batara Wisnu juga mengajak serta adik-adiknya yang lahir dari Batari Umaranti, yaitu Batara Mahadewa, Batara Cakra, dan Batara Asmara untuk menyamar sebagai para penabuh gamelan. Bersama-sama mereka lalu berangkat ke Pulau Jawa.

BATARA KALA MEMBERI NAMA KALABANG DAN KALAJENGKING

Sesampainya di Pulau Jawa, Batara Kala merasa letih dan beristirahat di bawah pohon asam. Ketika sedang tidur, tiba-tiba kakinya digigit seekor lipan. Seketika ia pun terbangun namun tidak marah melihat binatang itu, bahkan menjadikannya sebagai anak buah. Ia lalu memberi nama baru untuk lipan, yaitu Kalabang, artinya “kala yang berwarna merah”.

Batara Kala melanjutkan tidur. Tiba-tiba kakinya dicapit seekor ketunggeng yang kemudian menyuntikkan ekornya yang tajam. Batara Kala terbangun namun tidak marah, dan menjadikan ketunggeng sebagai anak buah. Ia lalu memberi nama baru untuk ketunggeng, yaitu Kalajengking, artinya “kala yang menungging.”

BATARA KALA HENDAK MEMANGSA BATARA GURU

Batara Kala memandang ke atas dan tiba-tiba melihat Batara Guru dan Batari Umaranti mengendarai Lembu Nandini sedang terbang di angkasa untuk meninjau keadaan Pulau Jawa. Kebetulan saat itu sedang tengah hari, dan mereka bertiga juga tidak bercakap-cakap, sehingga termasuk golongan Sengkala. Maka, Batara Kala pun segera terbang menghadang mereka bertiga.

Batara Guru heran mengapa Batara Kala ingin memakan dirinya. Batara Kala mengaku tidak peduli meskipun Batara Guru adalah ayahnya, yang jelas saat ini sudah masuk ke dalam golongan Sengkala sehingga boleh dimangsa. Batara Guru pasrah jika memang dirinya harus dimangsa oleh anak sendiri. Namun sebelumnya, ia ingin bermain tebak-tebakan lebih dulu dengan Batara Kala. Yang ia tanyakan adalah makna kalimat “Hong, eka egul, eka wancah, dwi srogi, tri nabi, sapta trisu cahya, astha pada.”

Batara Kala tidak bisa menjawabnya. Batara Guru pun menjelaskan makna kalimat tersebut secara panjang lebar, yaitu “satu ekor, satu tali hidung, dua tanduk, tiga pusar, tujuh mata, dan delapan kaki” yang tidak lain dalah penggambaran Batara Guru, Batari Umaranti, dan Lembu Nandini.

Setelah menerima penjelasan tersebut, Batara Kala bersiap memangsa mereka bertiga, akan tetapi saat itu matahari sudah agak condong ke barat sehingga Batara Guru berkata bahwa dirinya bertiga sudah bukan lagi golongan Sengkala sehingga tidak boleh dimangsa. Batara Kala merasa kalah cerdik dan tertunduk malu. Pada saat itulah Batara Guru secara cepat menuliskan rajah pada dahi, rongga mulut, dada, dan punggung Batara Kala. Ia kemudian berpesan bahwa barangsiapa bisa membaca tulisan rajah tersebut maka Batara Kala harus menghormatinya sebagai perwakilan Batara Guru.

Batara Kala mematuhi pesan tersebut dan kemudian berangkat melanjutkan perjalanan.

BATARA KALA MENGEJAR JAKA JATUSMATI

Tersebutlah seorang pemuda bernama Jaka Jatusmati, yang merupakan anak tunggal Nyai Prihatin dari Desa Medangkawit. Pada suatu hari ia mandi di Telaga Nirmala untuk menghilangkan nasib buruknya. Tiba-tiba muncul Batara Kala hendak memangsanya karena tahu kalau ia anak tunggal. Jaka Jatusmati pun berlari sekencang-kencangnya, dan Batara Kala selalu mengejar ke mana pun ia pergi.

Dalam pelariannya, Jaka Jatusmati banyak melewati orang-orang Sengkala, antara lain ada orang yang memasang atap rumah tapi tiangnya belum dikuatkan, ada orang yang merobohkan dandang saat menanak nasi, ada pula orang yang mematahkan cobek saat menggiling bumbu. Batara Kala yang tetap mengejar Jaka Jatusmati tidak memangsa orang-orang itu, tetapi mengutuk mereka akan kehilangan harta benda. Dengan demikian, menjadi mangsa Batara Kala tidak berarti harus mati badan, tetapi juga bisa mati sandang pangan.

Sampai akhirnya, ia pun melihat ada sebuah pertunjukan wayang di Desa Medangwantu, yang dimainkan oleh Ki Dalang Kandabuwana.

Orang yang mengadakan hajatan menanggap wayang tersebut bernama Buyut Wangkeng yang ingin mendamaikan anak dan menantunya, yaitu Rara Primpen dan Buyut Geduwal. Awalnya, Rara Primpen sejak menjadi pengantin tidak pernah mau melayani suaminya, bahkan sampai minta bercerai. Buyut Wangkeng pun menasihatinya dengan sabar, sehingga Rara Primpen akhirnya bersedia melanjutkan rumah tangga dengan Buyut Geduwal, asalkan sang ayah menanggap wayang untuknya. Maka, Buyut Wangkeng pun mengundang Ki Dalang Kandabuwana untuk mendalang di rumahnya.

BATARA KALA TUNDUK KEPADA KI DALANG KANDABUWANA

Jaka Jatusmati yang tiba di rumah Buyut Wangkeng segera menyusup ke atas panggung wayang dan berbaur dengan para penabuh gamelan. Batara Kala yang datang menyusul menjadi bengong karena tertarik melihat pertunjukan wayang, sehingga lupa kepada buruannya. Sebaliknya, para penonton langsung ketakutan dan berlarian ke segala arah begitu melihat ada raksasa tinggi besar tiba-tiba muncul di antara mereka.

Ki Dalang Kandabuwana pun menghentikan pentas dan menemui Batara Kala. Batara Kala meminta supaya pentas dilanjutkan karena ia sudah terlanjur suka. Ki Dalang Kandabuwana bersedia melanjutkannya asalkan Batara Kala membayar tebusan dengan cara menyerahkan senjata Bedama. Batara Kala pun menyerahkan senjata itu kepada Ki Dalang Kandabuwana.

Tiba-tiba Batara Kala melihat Jaka Jatusmati ikut menabuh gamelan dan ia pun menangkap pemuda itu untuk dimangsa. Akan tetapi, begitu teringat pada pesan Batara Guru, ia segera meminta kembali senjata Bedama dari tangan Ki Dalang Kandabuwana untuk menyembelih Jaka Jatusmati. Ki Dalang Kandabuwana bersedia menyerahkan Bedama, asalkan ditukar dengan Jaka Jatusmati. Batara Kala setuju, dan ia pun menyerahkan Jaka Jatusmati dan menerima Bedama.

Begitu menerima Bedama, Batara Kala baru ingat kalau Jaka Jatusmati sudah lepas dari tangannya. Ia pun meminta supaya pemuda itu diserahkan kepadanya. Ki Dalang Kandabuwana bersedia menyerahkannya asalkan ditukar dengan Bedama. Batara Kala lalu menyerahkan Bedama tersebut, dan ia pun menerima Jaka Jatusmati, begitu seterusnya.

Batara Kala semakin bingung. Ketika ia lengah dan mulutnya ternganga, tiba-tiba saja Ki Dalang Kandabuwana membaca tulisan rajah di rongga mulutnya, juga rajah-rajah lainnya di dahi, punggung, dan dada. Batara Kala heran ternyata orang yang dihadapinya ini bisa membaca tulisan-tulisan tersebut. Ki Dalang Kandabuwana juga menjelaskan nama-nama rajah tersebut, yaitu pada dahi disebut Sastra Carakabalik, pada rongga mulut disebut Sastra ing Telak, pada dada disebut Sastra Bedati, dan pada punggung disebut Sastra Trusing Gigir.

Seketika Batara Kala teringat bahwa jika ada orang yang bisa membaca tulisan rajah pada tubuhnya, maka ia harus dihormati sebagai wakil Batara Guru. Oleh sebab itu, Batara Kala lalu duduk bersimpuh di hadapan Ki Dalang Kandabuwana dengan sikap pasrah dan lemas tak bertenaga.

Ki Dalang Kandabuwana menjelaskan bahwa dirinya memang mendapat tugas untuk meruwat orang-orang yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala. Mereka yang sudah diruwat tidak boleh dimangsa oleh Batara Kala. Batara Kala menyatakan patuh terhadap ketentuan tersebut. Ia lalu mohon pamit kembali ke Pulau Nusakambangan.

KI DALANG KANDABUWANA MENGADAKAN RUWATAN MASSAL

Setelah Batara Kala pergi, Ki Dalang Kandabuwana dan para pengikutnya lalu mengadakan upacara Ruwatan terhadap orang-orang yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala. Setelah meruwat mereka, ia juga mengajarkan mantra penolak gangguan jahat Batara Kala yang berbentuk Tembang Prawiralalita, berbunyi:
Yamaraja – Jaramaya, Yamarani – Niramaya, Yasilapa – Palasiya, Yamidora – Radomiya, Yamidosa – Sadomiya, Yadayuda – Dayudaya, Yasiyaca – Cayasiya, Yasihama – Mahasiya.

Selain itu ia juga mengajarkan laku brata sebanyak lima perkara kepada masyarakat Jawa untuk menghindari ancaman Batara Kala, yaitu:
-    Puasa, menahan makan dan minum
-    Berjaga, tidak tidur sampai orang lain tidur
-    Membisu, mengurangi banyak bicara
-    Wahdat, mengurangi persetubuhan dengan jarak seratus hari, atau paling tidak empat puluh hari
-    Bersabar, mengurangi marah.

Setelah mengajarkan itu semua, Ki Dalang Kandabuwana kembali ke wujud Batara Wisnu dan kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka bersama para dewa lainnya untuk melaporkan bahwa tugas telah selesai dilaksanakan. Batara Guru menerima laporan tersebut dengan senang hati dan berpesan agar Batara Wisnu tetap waspada karena setiap saat Batara Kala bisa datang kembali untuk membuat kekacauan di Pulau Jawa.
http://albumkisahwayang.blogspot.co.id/murwakala.html

Hasil gambar untuk batara kala  Hasil gambar untuk batari durga
Tokoh Batara Kala dan Tokoh Batari Durga 
 Hasil gambar untuk wayang gambar dalang kandabuwana Hasil gambar untuk jakajatus wayang solo
Tokoh Dalang Kandabuwana dan Tokoh Jakajatus 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer