Lakon Seta Gugur

Resi Seta Gugur

Malam telah larut. Api pancaka sudah hampir padam. Api suci yang membakar kedua putra Wirata, Arya Utara dan Wratsangka, yang gugur sebagai prajurit gagah berani. Kesunyian malam mulai mencekam, bintang dilangit berkelipan menyebar, sebagian berkelompok membuat rasi. Menjadi pedoman bagi manusia atas arah mata angin diwaktu malam mati bulan, serta menjadi titi waktu kegiatan manusia sepanjang tahun, yang akan berulang dan terus berulang entah sampai kapan. Angin semilir menyebarkan bau harum bunga liar. Lebah malam terbang dengan dengung khasnya mencari bunga dan menghisap sari kembang.
Para prajurit yang letih dalam perang seharian memanfaatkan malam itu sebagai pemulihan tenaga yang esok hari peperangan pasti dilakoninya kembali. Dalam pikiran mereka berkecamuk pertanyaan, apakah besok masih dapat menikmati kembali terbenamnya matahari? Bagi para prajurit pihak Pandawa, kalah menang adalah darma. Kebajikan dalam membela kebenaran akan memberi kemukten dialam kelanggengan bila tewas, atau mendapatkan kedua duanya, dialam fana juga dialam baka nanti, bila nyawa masih belum terpisahkan dari raga.
Malam itu Resi Seta duduk gelisah. Rasa sasar sebelum mampu membalaskan dendam kematian adik adiknya masih terus berkecamuk. Sesal kenapa perang cepat berlalu hingga tak sempat dendam itu terlampiaskan saat itu juga.
“Belum lega rasaku sebelum aku dapat membekuk kedua manusia yang telah menyebabkan kematian kedua adikku”. Sayang, aturan perang  tidak mengijinkan perang diwaktu malam terus berlangsung.
Resi Seta terus terjaga, hingga ayam hutan berkokok untuk pertama kali barulah mata terpejam. Didalam mimpinya yang hanya sekejap, terlihat kedua adiknya tersenyum melambaikan tangannya. Mereka sangat bahagia, mengharap, bila saatnya ketiganya akan berkumpul kembali.

*********
Hari baru telah menjelang. Kembali hingar bingar membangunkan Seta dari tidur.
Hari itu gelar perang masih memakai formasi sehari lalu.
Belum matahari naik sejengkal campuh pertempuran berlangsung kembali. Kali ini Salya dan Durna disimpan agak kebelakang. Sebagai gantinya, Gardapati dan Wersaya , dua raja sekutu Kurawa di masukkan dalam barisan depan sebagai pengganti tombak kembar penggedor pertahanan lawan.
Dari pihak Randuwatangan, Werkudaa dan Arjuna menjadi pengganti posisi Utara dan Wratsangka untuk mengimbangi laju serang dua sayap Kurawa.
Dari jauh hujan panah sudah berlangsung. Seta dengan amukannya mencari biang kematian kedua adiknya. Direntangnya busur dan anak panah ditujukan kepada Salya, sayang luput dan hanya mengenai kereta perangnya yang kembali remuk.
Kartamarma dengan gagah berani menghadang, tetapi bukan tandingan Seta. Kembali nasib baik masih menaungi Kartamarma, hanya kendaraannya yang remuk, sementara Kartamarma selamat.


Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah

Bisma mencoba membantu, dilepas anak panah kearah Seta, terkena di dadanya, tetapi tidak tedas, bahkan anak panah patah berkeping.
Bukan main marah Seta, kembali ia mengamuk semakin liwung. Kali ini Durna sebagai sasaran anak panahnya, namun Duryudana membayangi, yang kemudian terkena anak panah Seta. Walau tidak terluka, Duryudana mundur kesakitan dengan menggandeng Durna menyingkir mencari selamat.
Sebagai Senapati utama dari kedua pihak, Bisma dan Seta kembali bertarung. Saling serang dengan gerakan yang semakin lama makin cepat. Seta yang sebenarnya memiliki kesaktian lebih tinggi dari Bisma tidak bisa lekas menyudahi pertempuran. Perhatiannya masih terpecah dengan rasa penasaran untuk membela kematian adik adiknya. Dengan sengaja Seta menggeser arena pertandingan mendekati Durna. Namun kesempatan itu tidak dapat ditemukannya. Durna sangat dilindungi, demikian juga dengan Salya, keduanya seakan dijauhkan dari dendam membara Seta.

*********

Hari berganti, pertempuran seakan tak hendak padam. Sudah berjuta prajurit tewas, tak terhitung lagi remuknya kereta perang dan bangkai kuda serta gajah kendaraan para prajurit petinggi. Bau anyir darah dan jasad yang mulai membusuk, mengundang burung burung pemakan bangkai terbang berkeliaran diatas arena pertempuran. Pertarungan kedua senapati linuwih hanya dapat dipisahkan oleh tenggelamnya matahari.

********

Hingga suatu hari, keseimbangan kekuatan keduanya mulai goyah, kelihatan Seta lebih unggul dari Bisma, secara fisik maupun kesaktian. Mulai merasa diatas angin Seta sesumbar“Hayo Bisma, keluarkan semua kesaktianmu, setidaknya aku akan mundur walaupun setapak”.
“Jangan merasa jadi lelaki sendirian dimuka bumi ini, lawan aku, hingga tetes darah penghabisan pun aku tak akan menyerah”. Bisma tidak mau kalah menyahut.
Tetapi apa daya, tenaga Seta yang sedikit lebih muda mampu terus mendesak pertahanan Bisma. Merasa terus terdesak, tak terasa posisi Bisma sampai hingga ketepi bengawan Gangga. Terjatuh ia dari tepi jurang bengawan yang kelewat luas dan dalam.
Tertegun Seta dibibir jurang, ditungguinya timbul Bisma ke permukaan air beberapa saat, namun hingga sekian lama jasad Bisma tak kunjung muncul.

***********

Diceritakan, Bisma yang terjerumus kedalam palung bengawan, ternyata tidak tewas. Samar terdengar ditelinganya sapaan seorang perempuan, “Dewabrata, inilah saat yang aku tunggu, kemarilah ngger. . . !” 
Dicarinya suara itu yang ternyata keluar dari mulut seorang wanita cantik dengan dandanan serba putih.
“Siapakah paduka sang dewi, yang mengerti nama kecil hamba. Pastilah paduka bukan manusia biasa. Malah dugaanku padukalah yang hendak menjemput hamba dari alam fana ini….” Dewabrata menjawab dengan seribu tanya.
Wanita itu menggeleng “ Bukan . . . , akulah Gangga ibumu”
“Benarkan itu, selamanya aku belum pernah melihatnya. Dan seumur hidup ini aku selalu merindukan wajah itu.”
“Ya, akulah ibumu ini”, sang dewi mendekat membelai anaknya. Ibu yang dahulu adalah seorang bidadari yang dipersunting Prabu Sentanu.
“Pantaslah kamu tidak mengenal wajah ibumu ini, karena aku telah meninggalkan kamu sewaktu masih bayi”. sambung Sang Batari.

********

Beginilah cerita singkatnya ngger anakku :
“Pada suatu hari ayah Prabu Sentanu, ayahmu, yaitu Prabu Pratipa sedang bertapa. Saat sudah mencapai hari matangnya semadi, aku duduk dipangkuan sang Prabu Pratipta, nyata kalau aku terpesona oleh aura sang prabu yang bersinar kemilau dan juga ketampanannya.
Dari kencantikan yang aku punya, sebenarnya Prabu Pratipa juga sangat terpesona denganku, namun tujuan utamanya  bukanlah jodoh  yang sang Prabu  dikehendaki. Maka Prabu Pratipa berjanji, bila dia mempunyai anak lelaki kelak, maka ia akan menjodohkannya dengan diriku, disaksikanlah janji itu oleh alam semesta.
Benar, takdir mempertemukan kembali aku  dengan anak Prabu Pratipa, Raja Muda Sentanu, ketika Sang Prabu sedang cengkerama berburu.
Demikianlah, aku dan ayahmu  saling jatuh cinta, dan kembali ke Astina bersama sama.
Sayang seribu kali sayang, ada satu permintaan ku yang diasa kelewat berat ketika diutarakan kepada ayahmu. Setiap aku melahirkan, maka anak itu harus dihanyutkan di bengawan Gangga.
Sekian lama ayahmu, Sentanu tidak dapat memutuskan persoalan yang maha berat baginya.
Asmara akhirnya mengalahkan logika. Kecantikanku yang selalu belalu dihadapannya setiap waktu, memancing gairah kelelakian Prabu Sentanu hingga disanggupinya permitaan yang satu itu.
Hari berganti, bulan berlalu dan tahun tahunpun susul menyusul menjelang. Lahir satu demi satu anak anakku. Belum sampai menyusu, bayi merah dihanyutkan di Bengawan Gangga. Hingga akhirnya lahir anakku yang ke sembilan. 
Anak yang lahir ini sangat mempesona Prabu Sentanu, dengan aura cahaya cemerlang, senyum cerah dan tingkah lucu meluluhkan cinta sang Sentanu terhadapku. Anak itu adalah kamu Dewabrata! Tambahan lagi kesadaran ayahmu  terhadap rasa kemanusiaan, mengalahkan cinta berlandas birahi terhadap diriku.
Pertengkaran sebab dari perbedaan pendapat berlangsung setelah itu dari hari kehari, hingga terucap kata kataku, bahwa aku harus meninggalkan Astina kembali ke alam kawidodaren”.
Demikan Sang Batari Gangga mengakhiri cerita masa lalunya.
Memang demikaian adanya. Prabu Sentanu saat ditinggal istrinya, sangat kesulitan mencarikan susuan untuk anaknya. Ratusan wanita tewas ketika mengharap dapat dipersunting Sang Prabu, sebagai ganti atas air susu yang dilahap putera kerajaan, Raden Dewabrata, atau Jahnawisuta alias Raden Ganggaya . Kelak Sang Sentanu dapat menemukan kembali pengganti ibu Dewabrata sekaligus istrinya, yaitu Dewi Durgandini, kakak Raden Durgandana yang ketika bertahta menggantikan ayahndanya  bergelar Sang Baginda Matswapati.
Durgandini sendiri mengalami cerita asmara rumit antara Palasara kakek moyang Pandawa, dan Sentanu.
Itulah kenapa Bisma Jahnawisuta, Sang Putra Bengawan, tidak pernah bertemu ibunya hingga saat Baratayuda tiba.
“Nah sekarang katakan, ada apa denganmu, kenapa kamu ada disini, anakku..?” sang Batari menyelidik atas peristiwa yang tak terduga ini.
Lalu Dewabrata menceritakan dari awal hingga ia terjerumus kedalam lautan.
“Pertolongan ibu sangat aku harapkan, agar aku tidak mendapat seribu malu atas tanggung jawab Negara yang telah dibebankan diatas pundak ini, ibu!”
“Baiklah, sekarang kembalilah ke medan pertempura, Aku bekali dengan senjata panah sakti bernama Cucuk Dandang, lepaskan kearah lawanmu”. Kasih ibu sekali ini memberikan tunjangan terhadap anak yang sedang dalam kesulitan.
Gembira sang Bisma menerima pusaka itu. Niat untuk berlama lama melepas kangen dengan sang ibu diurungkan. Segera ia memohon pamit.

********

Seta kembali mengamuk di palagan setelah yang ditunggu tidak juga timbul. Tandangnya membuat giris siapapun yang ada didekatnya. Namun tidak sampai separuh hari, kembali ia dikagetkan dengan kemunculan Bisma.
“ Seta, jangan kaget, aku telah kembali. Waspadalah, apa yang kau lihat?”Bisma datang dengan senyum lebar. Menggenggam busur serta anak panah ditangan, kali ini ia yakin dapat mengatasi kroda sang Seta.
“ Hmm . . . , Bisma, apakah kamu baru berguru kembali? Atau kamu kembali datang hendak menyerahkan nyawa?” Seta menyahut dengan masih menyimpan percaya diri yang besar.
Segera tanpa membuang waktu, Bisma merentang busur dengan terpasang anak panah Kyai Cucuk Dandang. Panah dengan bagian tajam berbentuk paruh burung gagak hitam, melesat dengan suara membahana dari busurnya, tembus dada hingga kejantung. Menggelegar tubuh sang resi terkena panah , jatuh kebumi seiring muncratnya darah dari dada sang satria.
Sorak sorai para Kurawa membelah langit senja. Dursasana terbahak kegirangan. Durmagati berceloteh riang. Kartamarma dan adipati Sindureja Jayadrata menari bersama, Srutayuda, Sudirga, Sudira dan saudara lainnya memainkan senjatanya seakan perang telah berakhir dengan kemenangan didepan mata.
Sementara itu, para Pendawa dan anak anaknya  mendekati Resi Seta yang berjuang melawan maut. Dengan lembut Arjuna memangku Seta dengan kasih. Perlahan Seta membuka mata, “Cucuku Pendawa . . . . . sudah tuntas … Perjuanganku sudah berakhir, tetaplah berjuang… kebenaran ada pada pihakmu . . . . . “
Kresna sangat marah dengan kematian Resi Seta, dihunusnya panah Cakrabaswara hendak ditujukan kepada Resi Bisma.
Waspada sang Resi Bisma, didatanginya Kresna sambil mengingatkan “Duh Pukulun Sang Wisnu yang aku hormati, apakah paduka Sang Kesawa hendak mengubah jalannya sejarah yang sudah ditetapkan. Bukankan sumpah dewi Amba, yang akan menjemput titah paduka adalah prajurit wanita”
Tersadar Kresna dengan perkataan itu, segera Kresna mundur dari peperangan.
Begitu pula Werkudara, melihat junjungannya tewas Werkudara mengamuk hebat, dicabutnya pohon randu besar dan disapunya para prajurit lawan didepannya hingga terpental bergelimpangan. Jadilah mereka korban yang tak sempat menghindar. Yang masih sempat berkelit melarikan diri kocar kacir mencari selamat.
Senja hari menyelamatkan barisan Kurawa hingga korban yang lebih besar terhindarkan.
Catatan:
Versi lain menyebutkan Seta tewas oleh panah Bargawastra, panah pusaka warisan guru Resi Bisma, Rama Parasu atau Rama Bargawa. Tidak ada pertemuan dengan Dewi Gangga sebelumnya ketika Bisma mengalahkan Seta.
Kembali Matswapati kehilangan putranya. Bahkan sekarang ketiga tiganya telah sirna. Kesedihannya sangat mendalam, hilang semua putra yang diharapkan menjadi penggantinya kelak. Pupus sudah harapan akan kejayaan penerus keluarga Matswa. Tetapi dasarnya ia adalah raja besar yang menggenggam sabda brahmana raja. Tak ada kata sesal yang terucap.
“Cucu-cucuku, jangan kamu semua merasa bersalah atas putusnya darah Matswa, aku masih punya satu harapan besar atas darah keturunanku. Lihatlah di Wirata, eyangmu Utari sudah mengandung jalan delapan bulan, anak dari Abimanyu, anakmu itu Arjuna !” Matswapati memberikan pijar sinar kepada Pandawa, agar rasa bersalah atas terlibatnya dengan dalam Wirata dalam perang.
“Bukankah keturunanku dan keturunanmu nanti sudah dijangka, akan menjadi raja besar setelah keduanya, Abimanyu dan Utari, mendapat anugrah menyatunya Batara Cakraningrat dan Batari Maninten?” Relakan eyang-eyangmu Seta, Utara dan Wratsangka menjalani darma sehingga dapat meraih surga. Aku puas dengan labuh mereka, yang nyata gagah berani menjalani perannya sebagai prajurit utama, yang gugur sebagai kusuma negara.”
Malam itu Matswapati memberikan nasihat pembekalan kepada pemuka pihak Pandawa yang hadir dalam sidang di pesanggrahan Randuwatangan, setelah upacara pembakaran jenasah Seta selesai dilakukan.
http://caritawayang.blogspot.co.id/resi-seta-gugur.html

Bharatayudha (1) Resi Seta Gugur

Dikisahkan, Bharatayuddha diawali dengan pengangkatan senapati agung atau pimpinan perang kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta sebagai pimpinan perang dengan pendamping di sayap kanan Arya Utara dan sayap kiri Arya Wratsangka. Ketiganya terkenal ketangguhannya dan berasal dari Kerajaan Wirata yang mendukung Pandawa. Pandawa menggunakan siasat perang Brajatikswa yang berarti senjata tajam. Sementara di pihak Kurawa mengangkat Bisma (Resi Bisma) sebagai pimpinan perang dengan pendamping Pendeta Drona dan prabu Salya, raja kerajaan Mandaraka yang mendukung Korawa. Bisma menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti “gunung samudra.”
Pasukan dari negara-negara baik yang mendukung Pandawa maupun yang mendukung Kurawa telah berdatangan di Tegal Kurusetra. Mereka telah mendirikan perkemahan-perkemah an.Malam ini mereka mulai berjaga jaga, karena esok hari Perang Barata Yuda, akan dimulai. Hati dan perasaaan mulai bergetar, mengapa harus berperang, yang akan mengorbankan banyak orang tewas, mengapa tidak memilih damai, berdasar kan pembagian tanah Astina yang telah dibagi secara adil oleh Resi Bisma waktu itu, Kembalikanlah Indraprasta ke Pandawa. Perda maian telah diajukan kepada Kurawa, namun ditolak.Besok pagi Bisma menjadi Panglima Perang Kurawa melawan Pandawa. Sementara itu Prabu Sri Bathara Kresna meminta Pandawa bersiap-siap memasuki medan laga Kurusetra. Seta ditun juk menjadi Senapati perang Pandawa. Sedang kan kedua adiknya Utara memimpin pasukan disayap kanan dan Wratsangka pendamping kiri, memimpin pasukan disayap kiri. Matahari mulai bersinar, suara sangkakala menyayat nya yat. Bergetar jiwa dan raga. Semua prajurit bersi ap berperang. Kedua belah pihak telah mengatur strategi perang.Resi Bisma telah memasuki me dan laga dan melayangkan beberapa senjata pada Perajurit Pandawa. Arjuna menangkis serangan senjata Bisma.Sementera itu kereta perang Bisma melaju cepat ketengah prajurit Pandawa. Resi Bisma bertemu dengan Abimanyu, dimintanya Abimanyu mundur saja, karena masih terlalu muda. Kereta Perang Resi Bisma bertemu dengan kereta perang Arjuna, yang di saisi Prabu Kresna.Resi Bisma memberi pesan agar Prabu Kresna memerintahkan Srikandi maju ke medan laga, Srikandi lah orang yang bisa menghantarkan kematian Resi Bisma. Sementara kereta perang Prabu Salya mengawal kereta perang Resi Bisma dari arah kiri. Sedangkan disebelah kanan kereta perang Resi Bisma disebelah kanan adalah Kereta perang Pandita Durna.Sementara itu Arjuna kehilangan daya juang, melihat senapati Astina adalah kakeknya yang sangat disayangi, Sejak masih kecil kakek Bisma menyayanginya. Disnilah timbul dialog antara Arjuna dan Prabu Kresna.Untuk menggugah kembali semangat Arjuna.Dialog ini dikenal dengan Bagawad Gita.
Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Sementara itu Rukmarata, putra Prabu Salya datang ke Kurukshetra untuk menonton jalannya perang. Meski bukan anggota pasukan perang, dan berada di luar garis peperangan, ia telah melanggar aturan perang, dengan bermaksud membunuh Resi Seta, Pimpinan Perang Pandawa. Rukmarata memanah Resi Seta namun panahnya tidak melukai sasaran. Setelah melihat siapa yang memanahnya, yakni seorang pangeran muda yang berada di dalam kereta di luar garis pertempuran, Resi Seta kemudian mendesak pasukan lawan ke arah Rukmarata. Setelah kereta Rukmarata berada di tengah pertempuran, Resi Seta segera menghantam dengan gada (pemukul) Kyai Pecatnyawa, hingga hancur berkeping-keping. Rukmarata, putera mahkota Mandaraka tewas seketika.
Kereta perang Resi Bisma bertemu Senapati Pandawa, Seta. Terjadilah adu panah antara Seta melawan Resi Bisma. Namun walaupun Bisma sudah berusia lanjut, ia masih lincah memainkan panah dan pedangnya. Keduanya masih berim bang. Sementara itu Werkudara dengan gadanya menyambar nyambar kepala Para Kurawa, Arjuna dengan panahnya melesat ke semua arah penjuru musuh,dan Nakula serta Sadewa membabat Kurawa dengan pedang kembarnya. Gatut kaca menyambar Nyambar-nyambar lawannya dari angkasa. Para Kurawa banyak yang ketakutan dengan kegesitan para Pandawa. Sementara Putera Wirata, Utara sebagai pendamping Senapati sayap Kanan dan Wratsangka disayap kiri terus melaju ketengah medan pertempuran. Resi Bisma merasa mulai terdesak. Resi Bisma meninggalkan medan laga. Resi Seta mengejarnya.Resi Bisma berlari ke Sungai Gangga dan masuk kedalam Sungai Gangga menemui ibunya. Resi Bisma pamit mati pada ibunya, Dewi Gangga merasa sedih, karena seingatnya Resi Bisma, yang sewaktu muda bernama Dewabrata, sampai sekarang hidupnya tidak pernah bahagia, Bisma mestinya yang ber tahta di Astina menggantikan ayahnya. Dewi Gangga memberikan cundrik. Resi Bisma berpamitan dan keluar dari sungai Gangga, ternyata di luar sudah ditunggu Seta. Resi Bisma meloncat dan menusukan cundrik di dada Seta, yang membuat Seta Gugur.

Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah
langit semburat merah

Dalam peperangan tersebut Arya Utara gugur di tangan Prabu Salya sedangkan Arya Wratsangka tewas oleh Pendeta Drona. Bisma dengan bersenjatakan Aji Nagakruraya, Aji Dahana, busur Naracabala, Panah kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Salukat berhadapan dengan Resi Seta yang bersenjata gada Kyai Lukitapati, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Pertarungan keduanya dikisahkan sangat seimbang dan seru, hingga akhirnya Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa.
https://wayang.wordpress.com/bharatayudha-1-resi-seta-gugur/

Resi Seta Gugur

Perang besar Baratayuda akan dimulai maka Prabu Suyudana mengangkat Resi Bisma sebagai mahasenapati. Di Tegal Kurusetra kedua barisan Pandawa dan barisan Kurawa saling berhadap-hadapan, barisan Pandawa dipimpin Utara. Wratsangka dan Seta sebagai senapati.
Utara perang tanding melawan Resi Bisma dan mati terbunuh. Wratsangka maju ke medan perang tetapi mengalami nasib yang sama terbunuh oleh Bisma.
Melihat adik-adik terbunuh Resi Seta sangat marah segera maju ke medan pertempuran melabrak Bisma, karena kehebatannya Bisma yang dibantu tujuh raja sekutu Kurawa terpaksa melarikan diri. Tiba-tiba Sentanu ayah Resi Bisma datang serta memberikan senjata yang luar biasa ampuhnya untuk membunuh musuh.
Sementara pangeran dari Mandraka, Rukmarata datang di pertempuran ia melepaskan panah ke arah Seta dan membuatnya jatuh berpura-pura mati. Maka Rukmarata mendekati dengan menantang, seketika Seta bangkit dan membunuhnya. 


Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang)
nggana bang sumirat, O —
Suram cahya surya bersedih
seperti menghidu lelayu
oleh hilang kemanisannya
kumal pucat wajahnya layu
darah merata membiru
di sekujur tubuh itu
angkasa berduka, lihatlah

langit semburat merah

Sekarang Bisma kembali ke medan perang dengan membawa senjata yang sakti dilepaskannya tepat mengenai sasaran seketika itu Seta gugur dan terjadi kegemparan yang hebat di kubu Pandawa.
Atas petunjuk Kresna, Dewi Wara Srikandi diangkat sebagai panglima perang untuk melawan Bisma, tetapi ia kalah karena mahir dalam olah perang. Pada saat itulah arwah Dewi Amba menjelma pada Srikandi, ia akan menyelesaikan perhitungan lama dengan Dewabrata. Selanjutnya Arjuna memberikan panah Pasopati kepada Srikandi untuk menghadapi Bisma yang sampai saat itu belum terkalahkan.
https://ceritawayangkulit.wordpress.com/resi-seta-gugur/

Di pesanggrahan diadakan pertemuan antara Prabu Matsuapati, Prabu Kresna,para Pandhawa, dan Dewi Wara Srikandi. Pokok bahasan dalam pertemuan adalah krida Resi Seta di palagan Kuruseta, serta menentukan tindak lanjut baratayuda. Prabu Matsuapati menyesali ketiga orang putranya yang telah mati. Raden Utara dan Raden Wratsangka telah mendahului mati di medan laga, kemudian disusul putranya yang pertama Resi Seta. Akhirnya Prabu Matsuapati meneguhkan hati dengan berkata:”Ketiga orang anakku laki-laki mati di medan laga . Mereka mati membela negara dan demi putra-putra Pandawa.Mereka mati suci. Anakku Seta, Utara, Wratsangka, aku berdoa semoga engkau diterima di surge. Anakku tinggal satu Utari.”
Prabu Matsuapati mulai berbicara tentang Resi Bisma. Ia bertanya kepada Prabu Kresna, siapa yang dapat diangkat menjadi Senapati Pandawa dan mampu melawan Resi Bisma. Prabu Kresna belum dapat menjawab seketika, dalam hati Prabu Kresna bercerita:
“Eyang Bisma, Eyang Maharsi Bisma putra Prabu Sentanudewa. Ketika masih muda Resi Bisma bernama Dewabrata. Sang Dewabrata putra tunggal Prabu Sentanudewa dengan Dewi Ganggawati. Prabu Sentanudewa ingin kawin lagi. Sang Prabu tergiur putri cantik janda Begawan Parasara yang bernama Dewi Durgandini. Lamaran Sang Prabu diterima dengan syarat: pertama, jika Dewi Durgandini berputra laki-laki, putranyalah yang berhak menggantikan Prabu Sentanudewa sebagai raja Astina, bukan Dewabrata. Kedua, kelak yang menduduki tahta Astina untuk selanjutnya juga bukan keturunan Dewabrata, melainkan anak cucu DewiDurgandini. Sang Dewabrata yang sangat cinta dan berbakti kepada orang tuanya itu ia mendukung terlaksananya perkawinan ayahnya dengan Dewi Durgandini. Untuk kepentingan itu Sang Dewabrata berjanji: pertama, Sang Dewabrata tidak berkehendak menjadi raja Astina menggantikan ayahnya. Kedua, tidak akan kawin untuk selama-lamanya (wahdat) dan akan hidup sebagai Brahmacarya di pertapaan.
Perkawinan Prabu Sentanudewa dengan Dewi Durgandani melahirkan putra dua orang yaitu Raden Citragada dan Raden Wicitrawirya. Kedua orang putra tersebut sangat disayang oleh orang tuanya dan oleh Sang Dewabrata.
Pada suatu hari negeri Kasi mengadakan sayembara merebutkan putri raja bertiga,yaitu Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika. Bentuk sayembara adalah memenangkan perang dengan dua orang raksasa, yaitu Wahmuka dan Arimuka. Telah banyak para raja dan satria mengikuti sayembara, tidak ketinggalan pula Sang Dewabrata. Para raja mancanegara menjadi heran melihat sang Dewabrata mengikuti sayembara, sebab mereka tahu bahwa Sang Dewabrata menjalani wahdat, untuk apa ia ikut sayembara. Para putrid raja juga bertanya-tanya, mau apa Dewabrata ikut-ikut sayembara. Para putri raja tidak menaruh simpati kepada Sang Dewabrata. Dewi Amba justru tertarik kepada seorang raja yang bernama Prabu Salwa. Sayembara berlangsung, para raja dan satria berganti-ganti melawan Wahmuka dan Arimuka, tetapi tak seorangpun dapat mengalahkannya. Tiba gilirannya Sang Dewabrata memasuki sayembara. Sang Dewabrata yang sakti itu dapat membunuh Wahmuka dan Arimuka. Maka dari itu ketiga orang putrid raja yaitu Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika menjadi boyongan Sang Dewabrata. Sang Dewabrata tahu bahwa banyak para raja yang mengingikan putri-putri itu menjadi boyongannya. Oleh karena itu Sang Dewabrata mengumumkan, siapa saja yang dapat mengalahkan Sang Dewabrata semua putrid akan diserahkan. Namun tidak ada seorangpun yang dapat mengungguli kesaktian Sang Dewabrata. Setelah semua permasalahan dapat diatasi oleh Sang Dewabrata, kereta angkasa telah siap mengankut putri-putri boyongan dibawa pulang ke Astina. Tanpa diduga oleh Sang Dewabrata putrid tertua, yaitu Dewi Amba mengeluarkan isi hatinya, bahwa ia telah menaruh cinta kepada Prabu Salwa. Dengan alasan itu Dewi Amba tidak mau diboyong ke Astina. Sang Dewabrata satria yang luhur budi mengabulkan permohonan Dewi Amba. Dengan besar hati Dewi Amba akan menemui Prabu Salwa. Dengan singkat Dewi Amba dapat menghadap Prabu Salwa, kemudian Dewi Amba menumpahkan rasa cinta kasih kepada Prabu Salwa. Sang raja yang juga menaruh cinta kepada Dewi Amba ia merasa gembira menerima ungkapannya. Tetapi Prabu Salwa merasa hina jika menerima Dewi Amba dan disarankan agar kembali kepada Dewabrata.
Dengan rasa sedih dan malu Dewi Amba menuju tempat Sang Dewabrata menunggu. Dengan hati berat dan kata tersendat-sendat Dewi Amba menyerahkan diri kepada Sang Dewabratauntuk diperistri. Tetapi Sang Dewabrata berteguh hati akan hidup sebagai maharsi, maka tuntutan Dewi Amba ditolak.
Sekali lagi, Sang Dewabrata tetap menolak. Walaupun menanggung malu Dewi Amba merayu agar Sang Dewabrata mau mengampu. Sang Dewabrata membentak dan menyuruh pergi Sang Dewi. Untuk menakut-nakut Sang Dewabratai Sang Dewi, Sang Dewabrata menarik busur panah. Sang Dewabrata tidak menyangka bahwa anak panah terlepas dari tangannya menembus dada Amba sehingga menemui ajalnya. Nyawa Dewi Amba berkata bahwa ia akan membalas sang Dewabrata dalam perang baratayuda dengan perantaraan prajurit wanita dari Pandawa.
Sang Dewabrata dengan dua orang putri boyongan naik kereta angkasa menuju Astina. Setelah sampai di Astina kedua orang putri boyongan dipersembahkan kepada ayahanda, selanjutnya Dewi Ambika dikawinkan dengan Raden Citragada, Dewi Ambalika dikawinkan dengan Raden Wicitrawirya. Adapun Sang Dewabrata meninggalkan Astina menjadi Brahmacarya dipertapaan Talkandha dengan sebutan Brahmana Resi Wara Bisma, artinya prajurit wahdat yang sangat sakti. Resi Bisma tidak akan kalah perang walaupun lawannya para dewa. Resi Bisma tidak akan dapat mati jika tidak atas permintaannya sendiri. Dewi Amba akan membalas Resi Bisma dalam perang Baratayuda dengan perantara prajurit wanita dari Pandawa”.
Setelah beberapa saat Prabu Kresna mengenang riwayat Resi Bisma maka munculah gagasan akan mengankat senapati putri.
Prabu Kresna segera menjawab pertanyaan Prabu Matsupati bahwa senopati Pandawa adalah Dewi Wara Srikandi. Ketika itu roh Dewi Amba telah melayang-layang dalam ruang pertemuan. Setelah ada ketetapan bahwa Dewi Wara Srikandi diangkat menjadi senapati maka roh Dewi Amba menyatu ke dalam raga Dewi Wara Srikandi. Prabu Kresna memberi petunjuk dan pesan-pesan seperlunya kepada prajurit Srikandi. Dengan semangat tinggi barisan prajurit Srikandi menuju ke medan laga menghadapi tantangan Resi Bisma. Dari jauh Resi Bisma telah melihat barisan prajurit wanita. Resi Bisma heran mengapa Pandawa mengerahkan prajurit wanita, padahal putra-putra Pandawa masih utuh belum ada yang kalah.
Para prajurit menghujani panah kepada Sang Resi, tetapi satupun tidak ada yang melukainya. Resi Bisma terus maju memecah belah barisan prajurit putri. Sampailah sudah Resi Bisma berhadapan dengan Sang Senapati, yaitu Dewi Wara Srikandi. Dewi Bisma memandang wajah Dewi Wara Srikandi terbayang Dewi Amba menagih janji. Sang Resi bersabda:”Cucuku Wara Srikandi, telah sampai pada saatnya, bahwa eyang akan mati. Cucuku, lepaskan panahmu ke ulu hatiku!”
Setelah Dewi Wara Srikandi mengambil sembah segera melepas panah Pasopati, tepat mengenai dada Sang Resi. Ampuhnya panah menjadikan Sang Resi jatuh ke tanah, luka parah menyebabkan Sang Resi menyerah. Para Pandawa dan Kurawa dating bersembah. Resi Bisma yang berlumuran darah minta kepada cucunya agar menyediakan bantal. Prabu Duryudana dengan cepat menyodorkan bantal dan guling yang indah-indah, tetapi Resi Bisma tidak mau menerima. Prabu Kresna tahu sasmita, kemudian ia member tahu kepada Raden Janaka mencari bantal yang terbuat dari potongan-potongan senjata yang diikat. Resi Bisma sangat gembira mengenakan bantal dari potongan-potongan senjata yang diikat. Raden Janaka dipuji karena kesatrianya. Selanjutnya Resi Bisma minta minum. Prabu Duryudana membawakan minuman segar dan enak. Resi Bisma tidak mau menerima. Raden Janaka menyampaikan sisa minuman kuda (komboran), maka diterimalah minuman itu oleh Sang Resi dengan senang hati. Yang terakhir Resi Bisma minta payung agung. Raden Werkudara tahu sasmita, ia segera mencabut pohon beringin yang besar. Para Kurawa mengira bahwa Raden werkudara akan mengamuk, maka para Kurawa bubar melarikan diri. Resi Bisma sangat memuja para Pandawa yang tahu diri. Setelah Resi Bisma dipayungi dengan pohon beringin yang rindang ia pamit kepada para Pandawa, ujarnya: “Duh cucuku Pandawa, kamupandai mengantar aku ke swarga loka. Cucuku Kresna dan para Pandawa, eyang pamit akan ke nirwana. Aku doakan Pandawa menang dalam baratayuda”. Setelah Resi Bisma menyampaikan kata-kata itu terhembuslah nafas terakhir, Resi Bisma gugur.
Daftar Pustaka
Bastomi, Suwaji.Gelis Kenal Wayang.2001.Surakarta:Pustaka Baru.
http://yuyunsaja.blogspot.co.id/resi-bisma-gugur.html
Hasil gambar untuk seta wayang solo  Hasil gambar untuk wayang utara solo  
Tokoh Raden Resi Seta, dan Tokoh Raden Utara yang gugur sebagai senopati serta
Hasil gambar untuk wratsangka wayang solo  
Tokoh Raden Wratsangka juga gugur sebagai senopati 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer