Lakon Sinta Obong

Cerita Wayang Shinta Obong

Hasil gambar untuk wayang sinta obong
Ilustrasi Dewi Sinta ketika dibakar 
Alkisah sesudah lewat perjuangan berat, serta mengorbankan sedemikian banyak nyawa, akhirnya Ramapun mampu memenangkan pertempuran melawan Rahwana. Pertempuran antara mati dan hidup untuk memperoleh Shinta kembali. Pertempuran yang menguras waktu, tenaga, nyawa, dan pikiran.
Detik-detik saat Rama harus menerima kedatangan Shinta kembali, tiba-tiba muncullah sebersit kecurigaan dalam diri Rama tentang kesucian Shinta. Masihkan Shinta yang dia cintai belum ternoda oleh Rahwana, mengingat telah belasan tahun Rahwana menyekapnya di dalam istana Alengka. Sakit hati Shinta menyaksikan keraguan Rama, kekasih hatinya atas kesuciannya. Tak disangka, pria yang siang malam selalu dirindukannya begitu tega menyangsikan dirinya.
Akhirnya dengan tekad untuk membuktikan kesetiaannya, Shinta pun memutuskan untuk melakukan upacara obong. Upacara membakar diri. Ingin dia tunjukkan pada Rama, suaminya sekaligus kekasih hatinya bahwa dirinya selama ini masih suci belum tersentuh sedikitpun. Walau Rahwana terus membujuk dan merayunya!
Akhirnya, atas perintah Shinta, para punggawa istana menumpuk kayu hingga menggunung di halaman istana. Punggawa istana membakar tumpukan kayu tersebut. Sesaat kemudian, keluarlah api yang panas serta dahsyat. Banyak orang tidak berani mendekat karena panasnya api yang bergelora.
Shinta dengan langkah yang anggun dan gemulai, membusungkan dadanya, mendekati kobaran api yang makin lama makin membara. Shinta berdiri tenang di ujung tangga di dekat api yang berkobar. Dipandangnya satu demi satu orang yang hadir disana. Ketika tatapannya beradu dengan Rama,dipandangnya dengan tajam mata Rama...Ada yang menjerit dalam dada Shinta, kenapa masih juga Rama tidak percaya pada kesuciannya. Shinta tersenyum, meski luka dan pedih hatinya terasa. Beberapa orang yang melihatnya, menyayangkan bila tubuh mulus itu hancur lebur dimakan api. Hampir semua orang yang hadir berharap Shinta mengurungkan niatnya. Merekapun mengharapkan agar Rama memberikan perintah agar Shinta tidak lagi melanjutkan tindakan nekat itu. 
Saat api sudah membesar serta ada pada titik yang paling panas, Shinta melihat berkeliling sekali lagi lalu dengan hati yang mantap dia melompat ke arah api yang membesar! Sesaat saja, tumpukan kayu serta lidah api yang ganas itu menelan badannya yang indah.Api berkobar membumbung tinggi keangkasa. Rama terkesiap. Matanya berkaca-kaca. Bagaimanapun Shinta adalah istrinya.Belahan jiwanya. Tak tega dia melihat wanita yang dicintainya terbakar lebur bersama api. Seluruh orangpun berteriak, menahan nafas serta beberapa menutup mukanya tak kuasa melihat adegan itu
Beberapa waktu kemudian, ketika nyala api sudah menyurut, tiba-tiba tampaklah sesosok bayangan wanita cantik  berdiri tegap di tengah bara api yang berserak.Dialah Shinta ! Shinta tak terbakar tertembus api ! Shinta tetap utuh dengan senyum tersungging yang sama seperti ketika dia mulai terjun kedalam api! Yah, Shinta ! Dia masih hidup dengan tubuhnya yang bercahaya. Semua orang memandangnya ternganga tak percaya. Seketika itu pula, Rama langsung berlari menghambur memeluk sang istri tercinta. rama menangis dan menyesali keraguannya yang bodoh. Sungguh, nyatanya Shinta tetap masih melindungi cinta dan kesetiaannya.Sebuah kesetiaan yang tiada tara !
Pembuktian sudah dikerjakan. Shinta terus suci, hati serta badannya. Mungkin sesudah Shinta Obong, tak lagi ada lagi pembuktian kesetiaan seperti yang diperlihatkan oleh Shinta. Kesetiaan memanglah suatu hal yang mahal harganya. Dan tidak semua orang bisa melakukannya. 
http://nuradiwibowo02.blogspot.co.id/cerita-wayang-shinta-obong.html

Sinta Obong

Hasil gambar untuk wayang sinta obong
Ilustrasi Api Pembakaran dewi Sinta 
Setelah Ramawijaya dan anak buahnya berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Alengka, dan tewasnya Prabu Dasamuka dan Dewi Sinta dibebaskan, Ramawijaya kembali ke Ayodya.
Beberapa waktu setelah Ramawijaya menjadi raja di Ayodya, ia mendengar desas-desus, bahwa rakyat Ayodya tidak yakin akan kesucian Dewi Sinta, karena istri Rama itu 12 tahun lamanya berada dalam sekapan Prabu Dasamuka.
Keraguan rakyat Ayogya yang mempengaruhi Ramawijaya itu membuat Dewi Sinta merasa perlu untuk membuktikan kesuciannya. Kemudian Dewi Sinta minta agar dirinya dibakar hidup-hidup, dan bilamana tubuhnya tidak termakan api, berarti ia tetap suci, walaupun selama 12 tahun berada di dalam kekuasaan Dasamuka.
Ketika api mulai berkobar, Batara Agni melindungi tubuh dan pakaian Sinta, sehingga tidak hangus dijilat api.
Pada lakon ini juga diceritakan tentang Kapi Jembawan, seekor tua kera yang sedih karena rupanya yang buruk. Sesudah bertapa, Batara Narada datang menemuinya, dan mengatakan bahwa ujud sebagai kera sudah nasibnya. Namun, pada dewa berkenan akan memberikan keturunan yang mulya bagi Kapi Jembawan. Batara Narada lalu mengubah ujud Jembawan menjadi Laksmana tiruan, dan disuruh menjumpai Dewi Trijata di Alengka.
Dewi Trijata menyanbut kedatangan Laksamana tiruan dengan suka cita karena diam-diam ia memang jatuh cinta pada Laksmana. Terjadilah cumbu rayu di antara mereka.
Ketika kejadian ini dilaporkan Sri Rama, segera Laksama asli disuruh menjumpai Laksamana tiruan. Terjadilah perang tanding antara yang asli dengan yang tiruan, dan saat itu yang tiruan menjelma kembali menjadi Jembawan.
Rama kemudian memutuskan Jembawan menjadi suami Dewi Trijata, sebab itu memang sudah jodohnya.
https://wayang.wordpress.com/sinta-obong/

Sinta Obong

Hasil gambar untuk wayang sinta obong
Ilustrasi ketika dewi Sinta dibakar 
Sisa-sisa perang dahsyat masih terasa. Di sana-sini, terlihat gedung-gedung, kantor-kantor pemerintah, rumah-rumah penduduk, atau bangunan lain yang porak-poranda; hangus dan hancur berkeping-keping bercampur darah kering; darah para korban perang yang tak berdosa. Bau busuk mayat yang tak sempat terkubur menyengat hidung. Peristiwa tragis yang meluluh-lantakkan sendi-sendi peradaban dunia pewayangan baru saja berlangsung. Hampir dua bulan lamanya, para penduduk dipaksa hidup dalam ancaman desingan peluru, ledakan bom, atau dentuman meriam. Dampaknya benar-benar dahsyat. Dalam sekejap, bumi Alengka (nyaris) rata dengan tanah, kecuali kawasan-kawasan tertentu yang dinyatakan sebagai zona bebas perang.
Memang, perang yang menghebohkan itu berhasil menamatkan riwayat kekuasaan rezim Rahwana yang dikenal korup, lalim, bengis, dan sewenang-wenang. Namun, tidak lantas berarti situasi pascaperang menjadi lebih baik. Kondisi keamanan justru makin kacau. Perampokan dan penjambretan merajalela. Angka pengangguran melonjak drastis. Anak-anak terancam putus sekolah. Para gelandangan berkeliaran di sudut-sudut kota. Hal itu diperparah dengan sikap penguasa baru yang lamban dalam mengantisipasi perubahan.
Gunawan Wibisono yang telah ditahbiskan sebagai presiden baru dinilai tidak menunjukkan sikap sense of crisis. Dia justru makin bernafsu menghabisi kekuatan-kekuatan lama yang masih tersisa. Mantan-mantan pejabat beserta keluarganya diuber-uber. Mereka yang melakukan perlawanan langsung “tembak di tempat”. Semua wayang yang dicurigai sebagai antek rezim lama disikat tanpa diadili. Yang mengherankan, Penasihat Ramawijaya yang dulu dianggap sebagai sosok demokrat sejati, tidak berusaha meluruskan kebijakan-kebijakan sang presiden yang nyleneh dan berlebihan.
“Maaf, menurut pendapat saya, kebijakan Pak Gunawan benar-benar terlalu berlebihan. Main sikat seenaknya. Iya kalau benar, kalau salah sasaran? Apa justru tidak akan menjadi bumerang bagi kewibawaan beliau sendiri?” kata Jenderal Hanuman dengan jidat berkerut di ruang kerja Penasihat Ramawijaya yang sejuk.
“Sudahlah, Hanuman! Perang baru saja usai. Aku yakin, beliau masih memiliki idealisme untuk membangun negeri Alengka dengan caranya sendiri!” sahut Ramawijaya tanpa menatap sang jenderal.
“Tapi, Pak …”
“Sudahlah, sekarang urus saja pekerjaanmu! Gembleng itu para prajurit dengan baik! Negeri ini sangat membutuhkan prajurit-prajurit yang tangguh!”
“Siap, Pak! Tapi jika kebijakan Pak Gunawan terus dibiarkan, saya khawatir banyak rakyat yang makin tidak simpati. Apalagi, rakyat Alengka saat ini benar-benar hidup dalam kesulitan! Mereka butuh rasa aman, butuh pekerjaan, butuh penghidupan yang layak!”
“Ah, itu persoalan yang gampang diatasi! Pak Gun pasti sudah memiliki rencana yang matang untuk membikin rakyat negeri ini hidup makmur dan sejahtera! Oh, iya, Jenderal, bagaimana keadaan istriku, Shinta, di Taman Argasoka? Prajurit-prajuritmu masih setia menjaganya?”
“Tentu saja, Pak! Itu memang sudah menjadi kewajiban mereka! Tapi, maaf, kenapa Ibu ditempatkan di Taman Argasoka, tidak bersama Bapak?” jawab Hanuman balik bertanya.
“Sebelum aku mendapatkan bukti-bukti kesucian Shinta, aku memutuskan untuk pisah ranjang! Coba bayangkan Jenderal, berbulan-bulan lamanya Shinta disekap Rahwana! Siapa yang dapat menjamin kalau Shinta masih dalam keadaan suci?”
“Lantas, maksud Bapak?”
SINTA
“Aku ingin menguji kesucian Shinta lewat pati obong. Aku berharap, Shinta tetap hidup dan segar-bugar. Itu artinya, dia benar-benar perempuan suci dan terhormat! Namun jika meninggal, jelas dia telah ternoda. Lebih baik begitu daripada aku harus berdampingan dengan perempuan kotor!” jawab Ramawijaya dengan vokal yang berat dan tertahan. Hanuman tak bisa bereaksi apa-apa. Jenderal berbintang empat dari Kendalisada itu hanya bisa mengelus dada dan geleng-geleng kepala mendengar kenekadan junjungannya.
“Sudahlah Hanuman! Kamu tidak usah bengong seperti itu. Tolong sampaikan pada Shinta, dia harus membuktikan kesuciannya di tengah kobaran api!” tegas Ramawijaya.
“Ttt… tapi …”
“Sudahlah! Ini perintah, Jenderal! Sekaligus saya ingin memberikan contoh kepada rakyat bahwa menegakkan hukum itu tidak boleh pandang bulu!” Ah, menegakkan hukum apa rasa cemburu yang berlebihan? Gumam Hanuman pada dirinya sendiri.
Di tengah-tengah kondisi negeri yang kacau, Presiden Gunawan masih sibuk dengan kepentingan pribadinya; menghabisi mantan-mantan pejabat yang dianggap akan menjadi penghalang kekuasaannya. Demikian juga Ramawijaya. Penasihat Alengka itu bukannya meluruskan kebijakan sang presiden, melainkan justru memanjakan perasaan sentimentilnya; menguji kesetiaan sang istri melalui cara yang amat tidak populer; pati obong. Tampaknya, kedua elite negeri Alengka itu tengah mengalami euforia kemenangan perang, sehingga melupakan ribuan, bahkan jutaan rakyat yang tengah menantikan perbaikan nasib.
Jenderal Hanuman benar-benar seperti tengah berhadapan dengan buah simalakama. Nuraninya sebagai wayang yang akrab dengan rakyat benar-benar terluka menyaksikan para penguasa yang sibuk mementingkan dirinya sendiri. Namun, loyalitasnya sebagai jenderal tak memungkinkan dia untuk berkata “tidak” di depan atasan. Beberapa saat lamanya, Hanuman hanya bisa termangu. Kepalanya benar-benar puyeng berat.
“Maaf, Jenderal, sejak tadi kok melamun terus? Ada yang bisa saya bantu?” seloroh Trijatha secara tiba-tiba dari sudut Taman Argasoka yang rindang.
Hanuman blingsatan. Wajahnya memerah begitu melihat gadis Alengka yang diam-diam memikat hatinya itu. Di medan perang, Hanuman memang dikenal sebagai prajurit tangguh. Ratusan musuh bisa dia taklukkan hanya dalam hitungan detik. Namun, menghadapi seorang Trijatha, dia tampak gugup dan salah tingkah. Keringat dingin meleleh di sudut jidatnya.
“Eeem, nggak! Eee… saya mendapat perintah dari Penasihat Rama untuk menemui Dewi Shinta! Ada hal penting yang ingin kusampaikan!” sahut Hanuman tergagap.
“Oh, kalau begitu mari saya antar!” kata Trijatha sambil tersenyum ramah. Hati Hanuman makin berdenyar-denyar tak keruan.
“I..iyya, terima kasih!”
Begitu bertemu dengan Dewi Shinta, Hanuman segera menyampaikan perintah junjungannya. Tapi aneh! Dewi Shinta tidak menampakkan sikap nervous. Bahkan, ketulusan dan kepasrahan tampak memancar dari tatapan matanya yang cerah.
“Inilah saat yang aku tunggu Hanuman! Saya ingin menunjukkan, tidak hanya kepada Kanda Rama, tapi juga kepada dunia bahwa aku benar-benar perempuan suci! Seandainya aku mati, paling tidak aku sudah menunjukkan kesetiaan dan kepatuhan kepada lelaki yang aku cintai!” kata Shinta dengan bola mata berbinar-binar.
“Tapi, maaf, Bu, jangan lupa mohon petunjuk kepada Sang Pencipta!”
“Terima kasih, Hanuman! Pesan Sampeyan akan saya laksanakan!”
Pertemuan selesai. Dewi Shinta segera melakukan kontak dengan penasihat spiritualnya, Narada.
“Kamu tidak usah khawatir, Shinta! Kesucianmu akan sanggup memadamkan kobaran api. Seandainya kayu-kayu di hutan Alengka ini ditebangi untuk membakarmu, tubuhmu akan tetap segar-bugar! Yakinlah! Pasrahkan jiwa ragamu kepada Sang Pencipta!” kata Narada dengan vokalnya yang khas. Dewi Shinta semakin mantab. Nyalinya tumbuh berlipat-lipat.
Sementara itu, di alun-alun kota Alengka, para penduduk sudah tumpah-ruah mengerumuni tumpukan kayu kering. Baru kali ini mereka akan menyaksikan sebuah peristiwa langka yang mungkin tak akan pernah terulang sepanjang zaman; pati obong. Alun-alun seperti tak sanggup menampung luapan ribuan wayang yang datang secara bergelombang dari berbagai penjuru Alengka. Mereka lupa terhadap segala penderitaan hidup sehari-hari; tak peduli lagi terhadap kemiskinan yang menjerat dan menelikung nasib mereka. Ribuan pasang mata terpusat pada tumpukan kayu kering yang tak lama lagi akan digunakan untuk memanggang tubuh Dewi Shinta. Wartawan media cetak dan elektronik pun makin sibuk mengabadikan peristiwa yang akan menjadi bagian dari sejarah negeri Alengka pascaperang itu. Sesekali, mereka mengarahkan kamera ke wajah Penasihat Ramawijaya dan Presiden Gunawan Wibisana yang duduk di atas panggung kehormatan.
Maka, ribuan pasang mata pun terbelalak ketika menyaksikan tubuh seorang perempuan bergaun serba putih dengan rambut tergerai panjang berkelebat dari balik Taman Argasoka. Ya, dialah Dewi Shinta yang akan menjalani “eksekusi” pati obong. Dengan kawalan ketat para prajurit, perempuan itu tampak anggun melenggang menuju tumpukan kayu. Yang terjadi kemudian adalah teriakan dan pekik histeris dari mulut ratusan perempuan begitu tumpukan kayu yang telah disiram bensin itu disulut oleh seorang prajurit. Dalam sekejap, api pun berkobar menjilat dinding langit. Terdengar ledakan dan suara gemeretak dari pilar-pilar kayu yang terbakar. Alun-alun Alengka panas dan bergetar. Para penduduk terus merangsek dan merapat menuju kobaran api. Dalam benak mereka, tubuh Dewi Shinta telah hangus jadi abu.
Teriakan dan pekik histeris kian menjadi-jadi. Sebentar lagi, nama Dewi Shinta akan menjadi bagian dari sejarah masa lalu. Para penduduk Alengka tak bisa menyaksikan lagi aura keanggunan yang selalu memancar dari balik tubuh perempuan molek itu. Namun, bola mata para penduduk membelalak lebar ketika kobaran api makin menyusut. Mereka menyaksikan tubuh Dewi Shinta tetap segar-bugar, bahkan makin tampak cantik dan memesona. Mereka benar-benar tak percaya menyaksikan pemandangan menakjubkan itu. Mereka hanya bisa terpaku dengan mulut menganga ketika Dewi Shinta menggeliat dan berjalan anggun menuju panggung kehormatan. Penasihat Ramawijaya menyambut kedatangan perempuan suci dan terhormat itu dengan kebahagiaan yang sempurna.
“Wahai, rakyat Alengka! Ini bukti bahwa kami tidak main-main dalam menegakkan hukum. Siapa pun yang bersalah, entah itu melakukan korupsi, menipu, merampok, atau melakukan pelanggaran yang lain, akan kami tindak tegas tanpa pandang bulu! Kami ingin mewujudkan negeri Alengka yang damai, aman, adil, makmur, dan sejahtera!” kata Presiden Gunawan Wibisana dengan vokalnya yang serak dan berat. Rakyat Alengka bersorak. Aplaus meriah membahana ke seluruh penjuru langit.
“Ah, biasa! Penguasa baru memang suka mengumbar janji! Buktikan dong, jangan omong melulu!” celetuk seseorang dari pojok alun-alun di sela-sela tepuk-sorak yang membahana.
“Hus! Jangan keras-keras! Kedengaran anthek penguasa baru tahu rasa Sampeyan!” sahut yang lain.
“Ah, biarin! Kenyataannya memang begitu kok!”
“Hus, diam! Cerewet amat sih!” ***
Oleh : Sawali Tuhusetya
 Note : Gunawan Wibisana adalah tokoh yang terkenal dengan kebijaksanaannya, jika cerita tentang Wibisana di atas tidak sesuai dengan karakter Wibisana yang sesungguhnya mohon diabaikan saja, mungkin sang penulis hanya menyampaikan pikirannya atas kenyataan yang ada saat ini.
http://caritawayang.blogspot.co.id/sinta-obong.html

 Hasil gambar untuk wayang dewi sinta  Hasil gambar untuk wayang dewi sinta
Tokoh Dewi Sinta ketika mau dibakar(Kiri) dan Menjadi Ratu(Kanan) 
Mengisahkan saat Prabu Rama memasuki istana Alengka, bertemu dengan istrinya, Dewi Sinta.  Dewi Sinta
bersedih hati, mengapa suaminya sudah sedemikian  berubahnya kasih sayangnya pada dirinya. Hatinya sakit,
terlalu sakit. Selama 13 tahun dalam penantian, selama tigabelas tahun penuh penderitaan, dan selama
tigabelas
tahun pula mempertahankan kesuciannya dari sekapan Prabu Dasamuka.
Ternyata dirinya sudah tidak berharga lagi.Prabu Rama menduga bahwa ia sudah tidak suci lagi.  Sewaktu
Anoman duta, Prabu Rama menampakkan kasih sayang yang luar biasa, tetapi sekarang Dewi Sinta merasa
tidak berharga lagi. Oleh karena itu, Dewi Sinta minta pada Prabu Rama, untuk dibuatkan panggung  api,
untuk pati obong. Sinta akan melakukan pati obong.
Ternyata Prabu Rama memang kelihatannya sudah tidak ada rasa kasih sayang lagi. Ia tidak menolak 
permintaan Dewi Sinta untuk melakukan pati obong. Bahkan ia memerintahkan pada punggawa untuk
menyiapkan paggung untuk pati obong. Wibisana, Narpati Sugriwa, Anoman, Laksmana, serta beberapa
punggawa kerajaan Pancawati, sudah menasehati, agar Prabu Rama  bertindak bijaksana, dan mereka yakin
kalau kesetiaan Dewi Sinta tidak bisa diragukan lagi.
Dalam waktu tidak lama panggungpun sudah siap. Api sudah berkobar-kobar. Dewi Sinta sudah menaiki
tangga panggung. Panggung yang tinggi seperti bangunan menara. Sekarang ia berada diatas panggung,  
apinya berkobar-kobar menjulang setinggi menara, tempat dewi Sinta berdiri. Tanpa berpikir panjang lagi
Dewi Sinta meloncat kedalam api. Dewi Sinta merasa ikhlas melaksanakan pati obong, ia tak menyesal. Ia
lebih baik mati, daripada dituduh hina, apalagi yang menuduh suaminya yang tercinta.
Ternyata api tidak membakarnya. Api bagaikan air sendang yang mengaliri tubuhnya, terasa sejuk. Bathara
Brahma menolong Dewi Sinta dari panasnya api. Karena Dewi Sinta memang suci. Akhirnya Dewi Sinta
diterima kembali oleh Prabu Rama.
http://wysintaobong.blogspot.co.id/ramayana.html

Hasil gambar untuk wayang dewi sinta
Tokoh Dewi Sinta ketika muda 

Komentar

Wayang Kulit Gagrak Surakarta

Wayang Kulit Gagrak Surakarta
Jendela Dunianya Ilmu Seni Wayang

Jika Anda Membuang Wayang Kulit

Menerima Buangan Wayang Kulit bekas meski tidak utuh ataupun keriting, Jika anda dalam kota magelang dan kabupaten magelang silahkan mampir kerumah saya di jalan pahlawan no 8 masuk gang lalu gang turun, Jika anda luar kota magelang silahkan kirim jasa pos atau jasa gojek ke alamat sdr Lukman A. H. jalan pahlawan no 8 kampung boton balong rt 2 rw 8 kelurahan magelang kecamatan magelang tengah kota magelang dengan disertai konfirmasi sms dari bapak/ ibu/ sdr siapa dan asal mana serta penjelasan kategori wayang kulit bebas tanpa dibatasi gagrak suatu daerah boleh gaya baru, gaya lama, gaya surakarta, gaya yogyakarta, gaya banyumasan, gaya cirebonan, gaya kedu, gaya jawatimuran, gaya madura, gaya bali, maupun wayang kulit jenis lain seperti sadat, diponegaran, dobel, dakwah, demak, santri, songsong, klitik, krucil, madya dll

Postingan Populer